Dok. Jurnal Perempuan Selasa (31/3/2026), diskusi atas buku Saskia Wieringa berjudul Lesbian Biseksual dan Trans: Riwayat Gerakan Politik di Indonesia yang terbit pada November 2025 lalu diadakan di Auditorium Mochtar Riady Social and Political Research Center, Fakultas Ilmu Politik dan Sosial Universitas Indonesia (FISIP UI), Depok. Pada diskusi ini, Saskia membicarakan perihal catatan-catatan dan tuturan dari narator-narator di bukunya yang memperlihatkan bahwa kehidupan lesbian, biseksual, dan trans (LBT) di Indonesia tidak pernah berdiri dalam ruang yang sederhana. Mereka dipaksa untuk bergerak, berubah, dan bernegosiasi seumur hidupnya, baik dalam menjalin relasi, memahami diri, maupun bertahan hidup di tengah tekanan yang terus datang dari berbagai arah. Dok. Jurnal Perempuan Bencana sering kali tampak datang tiba-tiba, tetapi dampaknya tidak pernah benar-benar netral. Ia menyentuh masyarakat secara tidak merata, mengikuti jejak ketimpangan sosial yang telah lama ada. Dalam banyak situasi krisis, perempuan—terutama perempuan dari komunitas akar rumput—menghadapi kerentanan yang berlapis. Namun di saat yang sama, mereka juga menjadi pihak yang pertama bergerak menjaga kehidupan komunitas tetap berjalan. Dok. Jurnal Perempuan Tahun 2026 menjadi awal pemberlakuan KUHP dan KUHAP baru setelah 3 tahun masa transisi. Pemberlakuan ini menjadi reformasi dalam sistem hukum pidana Indonesia yang berupaya mengadaptasi perkembangan nilai masyarakat serta menyesuaikan dengan konstitusi dan HAM. Hal ini berdampak besar pada penanganan Kekerasan Berbasis Gender terhadap Perempuan (KBGtP). Untuk itu, Indonesian Legal Resource Center (ILRC) dan Legal Resources Center untuk Keadilan Jender dan Hak Asasi Manusia (LRC KJHAM) menyelenggarakan diskusi publik pada Selasa (10/3/2026) lalu sebagai ruang refleksi terhadap kemajuan dari perumusan KUHP lama, serta kekurangan dari KUHP baru yang masih perlu dikritisi. Dok. Jurnal Perempuan Peringatan Hari Perempuan Internasional yang diselenggarakan oleh Aliansi Perempuan Indonesia (API) bertempat di Taman Ismail Marzuki pada hari Minggu, (8/3/2026). Panggung Perempuan Bersatu menjadi ruang refleksi sekaligus aksi simbolik dari gerakan perempuan Indonesia. Melalui acara bertajuk “Perempuan Bersatu Melawan Penghancuran atas Tubuh”, API mendorong penggambaran realitas, perlawanan, dan harapan perempuan di tengah berbagai bentuk kekerasan dan eksploitasi yang masih berlangsung. Dok. Jurnal Perempuan Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan meluncurkan Catatan Tahunan (CATAHU) 2025 pada Jumat, (6/3/2026) di Jakarta. Laporan tahunan ini diterbitkan dalam rangka memperingati Hari Perempuan Internasional setiap 8 Maret serta menjadi instrumen pemantauan terhadap situasi Kekerasan Berbasis Gender terhadap Perempuan (KBGtP) di Indonesia Dok. Jurnal Perempuan Dalam rangka memperingati Hari Perempuan Internasional, Legal Resources Center untuk Keadilan Jender dan Hak Asasi Manusia (LRC-KJHAM) di Semarang Jawa Tengah, menyelenggarakan diskusi Ngemper #103 (Ngobrol Bareng Perempuan) bertajuk “Membaca Buku Broken Strings: Kepingan Masa Muda yang Patah”, pada hari Senin (2/3/2026), pukul 13:00–14:00 WIB. Kegiatan ini disiarkan langsung melalui Instagram @lrckjham, dengan menghadirkan narasumber Donny Danardono (dosen Universitas Katolik Soegijapranata, Semarang) dan Nihayatul Mukharomah (Kepala Operasional LRC-KJHAM), dengan Nia Lishayati (LRC-KJHAM) sebagai host. Dok. Jurnal Perempuan Puasa tentunya dilakukan oleh banyak orang, tetapi apakah makna dari puasa itu? Apakah memang hanya untuk menunaikan kewajiban semata? Pertanyaan ini direfleksikan dalam kajian Club “Salam” melalui tema “Puasa Sebagai Sekolah Integritas: Fondasi Moral Pancasila bagi Demokrasi yang Bermartabat” pada Minggu (1/3/2026) di Jakarta. Acara ini mengundang Musdah Mulia (pendiri Muslimah Reformis Foundation), Alif Iman Nurlambang (Praktisi Sosial), serta dimoderatori oleh Rizkia Permata R.A. (Suluh Perempuan). Di sini, kita diajak untuk memaknai kembali ibadah puasa sebagai proses pendidikan karakter, tanggung jawab, kesadaran diri, dan moralitas kehidupan sebagai fondasi utama demokrasi. Dok. Jurnal Perempuan Krisis iklim sering dibicarakan dalam angka. Kenaikan suhu global, deforestasi, emisi karbon, atau frekuensi bencana disajikan dalam angka-angka yang terus meningkat. Namun di balik statistik itu, ada pengalaman yang luput dari sorotan media arus utama, yaitu pengalaman perempuan adat yang hidup di garis depan kerusakan ekologis. Itulah yang menjadi pokok bahasan dalam webinar Climate Course Collaboration (CCC) bertajuk “Krisis Iklim dan Ketimpangan Gender: Pengalaman Perempuan Adat yang Jarang Kamu Dengar di Media”, yang diadakan oleh 360 Youth Force Indonesia pada Sabtu (28/2/2026) lalu. Dok. Jurnal Perempuan Kekerasan dalam pacaran sering dilihat sebagai konflik pribadi atau “drama remaja”. Namun, webinar perdana dari program Feminist in Law and Litigation (FILL) pada Sabtu (14/2/2026) lalu menegaskan sebaliknya: relasi romantis yang tidak sehat adalah manifestasi ketimpangan kuasa dalam struktur sosial dan budaya patriarki. Forum ini, diselenggarakan oleh Indonesia Legal Resource Center (ILRC) dan Lembaga Bantuan Hukum Rantai Keadilan Indonesia (LBH RaKeSia), membuka ruang diskusi kritis mengenai bentuk-bentuk kekerasan dalam pacaran yang cenderung disembunyikan atau dikesampingkan oleh diskursus publik. Dok. Jurnal Perempuan Dalam rangka menyongsong 100 tahun perjalanan Saparinah Sadli, Prodi Kajian Gender Departemen Kajian Stratejik, Ketahanan, dan Keamanan Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan Universitas Indonesia (SPPB UI) menyelenggarakan kuliah bertajuk “Feminist Political Ecology as A Convening Space in Challenging Times” yang dibawakan Prof. Rebecca Elmhirst dari University of Brighton, Inggris pada Rabu (4/2/2026) lalu. |
Jurnal Perempuan
terindeks di: Archives
March 2026
Categories |










RSS Feed