Jurnal Perempuan
  • TENTANG KAMI
    • Profil
    • Kontak
    • Laporan Tahunan
    • Demo Suara Ibu Peduli
    • Rilis JP
  • Jurnal Perempuan
    • Indonesian Feminist Journal
    • Kirim Tulisan
  • YJP PRESS
    • Buku Seri YJP Press
  • KAFFE
    • Booklet KAFFE
  • Podcast JP
    • Radio JP
  • Sahabat JP
    • Daftar Nama SJP
    • International Friends of JP
    • Blog SJP
    • Gathering SJP
  • Wacana Feminis
    • Tokoh Feminis
    • Cerpen/Puisi Feminis
  • Warta Feminis
  • Warung JP
    • Daftar Toko Buku
  • Toeti Heraty Scholarship
    • Biodata Penerima Beasiswa 2022
    • Biodata Penerima Beasiswa 2023
    • Biodata Penerima Beasiswa 2024
    • Biodata Penerima Beasiswa 2025
Warta Feminis

Pentingnya Implementasi Kebijakan yang Melindungi Pelaku Kerja Perawatan dan Pekerja Migran

1/12/2023

 
PictureDok. Jurnal Perempuan
     Pada Sabtu (25/11/2023) yang lalu, Jurnal Perempuan menyelanggarakan Gathering Sahabat Jurnal Perempuan atau SJP Talks. Kali ini, narasumber yang dihadirkan adalah Wahyu Susilo, Direktur Migrant CARE dan Sahabat Jurnal Perempuan sejak tahun 2017. Sebelum memulai diskusi daring dengan tema kerja perawatan dan pekerja migran, Iqraa Runi selaku moderator membuka jalannya acara.

     Iqraa mengingatkan bahwa dalam kerja perawatan, para pelakunya tidak hanya bekerja dalam menciptakan lingkungan yang nyaman namun juga menyokong aspek psikologis, fisik, dan emosional orang maupun tempat yang mereka rawat. Sayanganya, banyak kerja-kerja perawatan yang tidak diakui secara finansial seperti ibu rumah tangga yang setiap harinya merawat rumah dan keluarga. Dalam hal pekerja migran, pekerja rumah tangga menempati posisi tertinggi banyaknya kerja perawatan yang dilakukan oleh warga negara Indonesia di luar negeri.

     Sedangkan angka tertinggi kedua ditempati oleh caregiver. Keduanya menunjukkan tingginya partisipasi perempuan yang bekerja sehingga kebutuhan akan house maid untuk mengerjakan pekerjaan domestik rumah tangga dan daycare untuk merawat anak mereka di jam kerja. Selain itu, tingginya kebutuhan akan caregiver disebabkan oleh tingginya angka kebutuhan merawat orang tua. Jika dibandingkan dengan negara maju, tempat pelayanan perawatan orang tua tidak semarak itu di Indonesia. Selain itu, stigma dari rumah jompo juga masih membebani orang tua dan keluarga mereka walaupun dibutuhkan.

     Acara dilanjutkan dengan pembukaan dari Abby Gina Boang Manalu selaku Direktur Eksekutif dari Yayasan Jurnal Perempuan. Setelah menyambut para Sahabat Jurnal Perempuan yang sudah hadir di SJP Talks, Abby mengingatkan bahwa kerja perawatan memiliki isu keadilan gender di dalamnya. Keadilan yang belum tercapai tersebut perlu mendapatkan pengakuan negara akan kerja-kerja perawatan yang ada. Selain itu, masyarakat dan organisasi-organisasi, seperti Lembaga Swadaya Masyarakat, juga perlu mendukung pemberdayaan dan pengakuan para pelaku kerja-kerja perawatan. Karena dengan adanya diskriminasi yang mereka alami, jaminan pekerjaan yang layak dan aman sulit untuk diwujudkan. Tidak hanya pekerja migran, tetapi para pelaku kerja perawatan di dalam negeri juga masih belum diakui.

     Walaupun sudah ada strategi terbaru dalam melindungi mereka, para pelaku kerja-kerja perawatan masih mengalami keterbatasan. Aplikasi pelaporan dan perlindungan para pekerja migran, misalnya, belum tentu dapat diakses jika mereka mengalami keterbatasan dalam mengakses internet. Belum lagi dengan aturan kerja di negara-negara yang berbeda yang membatasi mereka dalam berkomunikasi dan mengakses informasi dari ponsel pintar masing-masing.

     Wahyu Susilo kemudian memulai pemaparannya yang bertajuk Kerja Perawatan dan Migrasi Tenaga Kerja. Paparan dimulai dengan pentingnya kesadaran akan urgensi kerja perawatan. Utamanya setelah pandemi COVID-19 yang menyadarkan kita semua bahwa pelaku kerja-kerja perawatan sangatlah penting. Sayangnya, karena masih dilekatkan dengan pekerjaan perempuan, maka beban mereka semakin berat, terutama karena tidak adanya timbal balik yang seharusnya dapat diperbincangkan dalam ekonomi ketenagakerjaan. Wahyu juga menyampaikan bahwa ekonomi ketenagakerjaan sebenarnya sudah ada di dalam skema Sustainable Development Goals (SDGs) untuk mengakui dan memberi bayaran yang layak kepada para pelaku kerja perawatan. Sehingga masyarakat dan pemerintah Indonesia seharusny sudah mulai memberikan keadilan bagi para pelaku kerja-kerja perawatan.

     Dalam membicarakan pendapatan masyarakat di Indonesia, Wahyu memaparkan bahwa sebuah studi oleh Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) Indonesia memiliki potensi untuk naik dari posisi middle income trap. Akan tetapi, minimnya perhatian terhadap ekonomi dan kerja perawatan dapat menghambat pertumbuhan tersebut. Salah satu rintangan yang ada disebabkan oleh lambatnya proses legislasi Rancangan Undang-undang Perlindungan Pekerja Rumah Tangga (RUU PPRT).  Hal ini juga menunjukkan acuhnya negara terhadap parapelaku ekonomi dan kerja perawatan di Indonesia.

     Wahyu kemudian menyinggung naskah yang pernah dituliskannya untuk Jurnal Perempuan di tahun 1996. Maraknya dominasi perempuan disebutnya sebagai feminisasi pekerja migran Indonesia. Hilangnya pekerjaan di sektor pertanian dalam negeri membuat para pekerja perempuan harus bersaing dengan pekerja laki-laki dan mengalami diskriminasi upah. Selain itu, negara-negara yang meningkat kemakmurannya, seperti Saudi Arabia dan Malaysia, mengubah warga mereka menjadi enggan melakukan pekerjaan domestik rumah tangga. Sehingga permintaan pekerja migran dari Indonesia meningkat.

     Perlu diingat bahwa pekerja migran Indonesia juga meningkatkan perekonomian negara. Utamanya di masa-masa krisis pada tahun 1997-1998, mereka dianggap sebagai penyelamat kondisi ekonomi Indonesia. International Monetary Fund (IMF) merespons peningkatan tersebut dengan rekomendasi pembuatan kebijakan untuk mengelola tenaga kerja Indonesia. Sehingga penerimaan devisa dapat dikelola dengan baik dan meningkatkan kondisi finansial negara. Maka lahirlah Undang-undang No.39/2002 tentang Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia di Luar Negeri.

     Isu migrasi kemudian menjadi erat dengan Pembangunan. Hal tersebut disebabkan meningkatnya kondisi ekonomi negara akibat kegiatan migrasi. Secara internasional, Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) juga meningkatkan Global Compact for Migration (GCM) yang semakin mendorong tata kelola migrasi. GCM diharapkan mampu mendorong terwujudnya perlindungan pekerja migran yang rentan diskriminasi dan kekerasan.

     Kendati demikian, kebijakan-kebijakan yang ada di Indonesia masih sarat akan diskriminasi terhadap para pelaku kerja perawatan dan pekerja migran. Hal tersebut dikarenakan aturan-aturan yang ada lebih banyak menguntungkan perusahaan yang mengerahkan tenaga kerja. Perlindungan yang selama ini diidam-idamkan juga belum tercakup di dalam peraturan-peraturan mengenai pekerja migran Indonesia. Wahyu juga menyayangkan kurangnya kesiapan pemerintah pusat dan daerah dalam menerapkan kebijakan yang dapat memberdayakan para pekerja migran dan pelaku kerja perawatan lainnya.

     ​Di akhir pemaparannya, Wahyu berharap agar urgensi perlindungan pekerja migran dapat segera diterapkan. Sehingga mereka tidak hanya berperan untuk mendukung perekonomian negara, tetapi juga diakui oleh negara dan diberdayakan kondisinya. (Retno Daru Dewi G. S. Putri)

Comments are closed.
    Jurnal Perempuan
    ​
    terindeks di:
    Picture

    Archives

    January 2026
    December 2025
    November 2025
    October 2025
    September 2025
    August 2025
    July 2025
    June 2025
    May 2025
    April 2025
    March 2025
    February 2025
    January 2025
    December 2024
    November 2024
    October 2024
    September 2024
    August 2024
    July 2024
    June 2024
    May 2024
    April 2024
    March 2024
    February 2024
    January 2024
    December 2023
    November 2023
    October 2023
    September 2023
    August 2023
    July 2023
    June 2023
    May 2023
    April 2023
    March 2023
    February 2023
    January 2023
    December 2022
    November 2022
    October 2022
    September 2022
    August 2022
    July 2022
    June 2022
    May 2022
    April 2022
    March 2022
    February 2022
    January 2022
    December 2021
    November 2021
    October 2021
    September 2021
    August 2021
    July 2021
    June 2021
    April 2021
    March 2021
    February 2021
    January 2021
    December 2020
    October 2020
    August 2020
    July 2020
    June 2020
    April 2020
    March 2020
    February 2020
    January 2020
    December 2019
    November 2019
    October 2019
    September 2019
    August 2019
    July 2019
    June 2019
    May 2019
    April 2019
    March 2019
    February 2019
    January 2019
    December 2018
    November 2018
    October 2018
    September 2018
    August 2018
    July 2018
    June 2018
    May 2018
    April 2018
    March 2018
    February 2018
    January 2018
    December 2017
    October 2017
    September 2017
    August 2017
    July 2017
    June 2017
    May 2017
    April 2017
    March 2017
    December 2016
    November 2016
    September 2016
    August 2016
    July 2016
    June 2016
    May 2016
    April 2016
    March 2016
    February 2016
    January 2016
    December 2015
    November 2015
    October 2015
    September 2015
    August 2015
    July 2015
    June 2015
    May 2015
    April 2015
    March 2015
    February 2015
    January 2015
    December 2014
    November 2014
    October 2014
    September 2014
    August 2014
    July 2014
    June 2014

    Categories

    All

    RSS Feed

Yayasan Jurnal Perempuan| Alamanda Tower, 25th Floor | Jl. T.B. Simatupang Kav. 23-24 Jakarta 12430 | Telp. +62 21 2965 7992 Fax. +62 21 2927 7888 | [email protected]
  • TENTANG KAMI
    • Profil
    • Kontak
    • Laporan Tahunan
    • Demo Suara Ibu Peduli
    • Rilis JP
  • Jurnal Perempuan
    • Indonesian Feminist Journal
    • Kirim Tulisan
  • YJP PRESS
    • Buku Seri YJP Press
  • KAFFE
    • Booklet KAFFE
  • Podcast JP
    • Radio JP
  • Sahabat JP
    • Daftar Nama SJP
    • International Friends of JP
    • Blog SJP
    • Gathering SJP
  • Wacana Feminis
    • Tokoh Feminis
    • Cerpen/Puisi Feminis
  • Warta Feminis
  • Warung JP
    • Daftar Toko Buku
  • Toeti Heraty Scholarship
    • Biodata Penerima Beasiswa 2022
    • Biodata Penerima Beasiswa 2023
    • Biodata Penerima Beasiswa 2024
    • Biodata Penerima Beasiswa 2025