Jurnal Perempuan
  • TENTANG KAMI
    • Profil
    • Kontak
    • Laporan Tahunan
    • Demo Suara Ibu Peduli
    • Rilis JP
  • Jurnal Perempuan
    • Indonesian Feminist Journal
    • Kirim Tulisan
  • YJP PRESS
    • Buku Seri YJP Press
  • KAFFE
    • Booklet KAFFE
  • Podcast JP
    • Radio JP
  • Sahabat JP
    • Daftar Nama SJP
    • International Friends of JP
    • Blog SJP
    • Gathering SJP
  • Wacana Feminis
    • Tokoh Feminis
    • Cerpen/Puisi Feminis
  • Warta Feminis
  • Warung JP
    • Daftar Toko Buku
  • Toeti Heraty Scholarship
    • Biodata Penerima Beasiswa 2022
    • Biodata Penerima Beasiswa 2023
    • Biodata Penerima Beasiswa 2024
    • Biodata Penerima Beasiswa 2025
Warta Feminis

Menyoroti Kisah Perempuan Pekerja: Industri Garmen dan Sepatu di Indonesia dan India

28/11/2023

 
PictureDok. Jurnal Perempuan
    Kamis (23/11) Trade Union Rights Centre (TURC) bersama dengan Institut für Ökonomie und Ökumene (SÜDWIND), African Women's Development and Communication Network (Femnet), dan Civil Initiatives for Development and Peace India (Cividep India) menggelar 2nd International Dialouge Forum yang bertajuk Her Health, Her Voice: Listen with us to Women Workers Talking about Osh in the Garment and Footwear Industry. Acara yang didanai oleh Federal Ministry for Economic Cooperation and Developmentof Germany (BMZ) membahas pentingnya penerapan Occupational Safety and Health (OSH) pada sektor industri garmen dan sepatu.

     Penerapan OSH penting dilakukan guna mendukung ketersediaan ruang laktasi, konseling, klinik kesehatan, toilet yang layak untuk perempuan, makanan sehat, dan keselamatan kerja. Acara ini menghadirkan empat kisah perempuan pekerja dari industri garmen dan sepatu dari Indonesia dan India.

     Kisah pertama adalah tentang seorang pekerja rumahan atau pekerja informal bernama Salma (50) yang berasal dari Jakarta, Indonesia. Salma telah menggeluti industri pembuatan sepatu lebih dari satu dekade. Kendati demikian, lama waktu bekerja nyatanya tidak sejalan dengan kesejahteraan yang ia dapatkan. Salma bercerita bahwa untuk memenuhi kebutuhan hidupnya ia harus bekerja pada beberapa tempat seperti kerja utama yaitu menjadi pekerja rumahan untuk pabrik sandal, menjual bakso, dan buruh cuci. Menurut Salma menjadi pekerja rumahan memiliki risiko yang tinggi; beban kerja yang berat; dan tidak adanya jam kerja yang pasti.

     Selama menjalani pekerjaan tersebut Salma telah melalui banyak permasalahan kesehatan, salah satunya adalah keguguran. Bahkan pekerjaan yang harus dibawa ke rumah juga berdampak pada anaknya yang kelima. Anak kelima Salma meninggal karena mengidap flek paru-paru pada usia bayi yang disebabkan paparan lem pembuatan sandal. Kendati terdapat sejumlah tantangan, pemberi kerja tidak memberikan cuti hamil, jaminan sosial, kontrak kerja, santunan kematian anak, apalagi bonus. Bahkan upah bulanan dibayarkan tidak tentu dengan alasan pemotongan karena kualitas produk yang dihasilkan.

     Kisah kedua adalah tentang seorang pekerja industri garmen bernama Babli (26) yang berasal dari Bangalore, India. Babli telah bekerja di industri garmen selama enam tahun. Selama Babli bekerja ia mengaku bahwa pabrik tidak memberikan cuti haid. Bahkan saat ia hamil 8 bulan, ia kesulitan mendapatkan akses fasilitas kesehatan, sementara rumah sakit berada jauh dari lokasi pabrik berada.

     Menurut Babli penting bagi pemberi kerja untuk menyediakan sistem kerja yang sesuai usia agar pekerjaan tidak membuat stres. Penting juga bagi pemberi kerja untuk menyediakan fasilitas yang memadai misalnya memberikan akses lift jika bekerja pada lantai atas. Sebab dalam kasus Babli terdapat banyak rekan kerjanya yang mengalami gangguan kesehatan seperti infeksi kandung kemih, sakit perut, sakit lambung, dan lainnya yang diakibatkan oleh akses tangga yang terlalu sering.

     Sementara itu kisah ketiga memiliki warna cerita yang agak berbeda. Kisah ini adalah tentang Evie (29) seorang pekerja pabrik. Menurut Evie selama ia bekerja dalam kondisi hamil ia diberikan tanda bandana agar diperlakukan khusus. Selama ia hamil pemberi kerja dan rekan kerja telah memberikan perlakuan khusus seperti mengingatkan untuk tidak terlalu lelah. Selain itu, juga ada fasilitas seperti pergi ke bidan, berobat, dan waktu istirahat setelah melahirkan (maternity leave) selama 3 bulan.

     Menurut Evie cuti melahirkan selama 3 bulan sudahlah cukup jika Hari Perkiraan Lahir (HPL) tidak mundur. Namun jika HPL mundur maka waktu cuti seharusnya bisa ditambah dikarenakan bayi yang masih terlalu kecil. Menurut Evie, situasi tempatnya bekerja perlu mempertahankan situasi saat ini, jika bisa ditingkatkan kembali.

     Sedikit saran darinya, “Pimpinan perlu memberikan waktu memerah ASI (Pumping) lebih lama karena jika ada yang ASI-nya susah keluar pasti panik kalau diberikan waktu pumping yang sangat singkat. Terkadang pimpinan tidak mengerti situasi-situasi semacam itu,” pungkas Evie.

     Kisah terakhir adalah tentang Seetha (36) seorang pekerja pabrik garmen dari Bangalore, India. Menurut Seetha dalam industri garmen terdapat target produksi yang tidak realistis dan untuk kesalahan kecil hukumannya sangat tidak manusiawi. Dengan kondisi demikian, Seetha dan rekan-rekannya mengalami gangguan kesehatan seperti leg pain, back pain, insomnia, stres, pusing, dan siklus menstruasi yang berantakan.

     Seetha mengaku bahwa pemberi kerja menyediakan dokter dan suster. Namun gangguan kesehatan tetap terjadi. Hal ini dikarenakan untuk memenuhi target produksi banyak pekerja yang menahan buang air kecil. Kondisi kesehatan diperparah karena kondisi kamar mandi yang kotor dan gelap. Hasilnya banyak dari pekerja yang mengalami alergi. Bagi Seetha untuk menunjang produksi yang maksimal manajemen pabrik harus berpihak pada kesehatan pekerja.

     Keempat kisah diatas merupakan cerminan masih minimnya keberpihakan pemberi kerja pada kesehatan pekerja. Dengan benyaknya diskusi dan pemaparan kisah pekerja seperti ini diharapkan dapat mampu mendorong perhatian pemberi kerja dan pemerintah untuk menyediakan fasilitas dan kebijakan yang pro terhadap kesehatan pekerja. (Iqraa Runi Aprilia)


Comments are closed.
    Jurnal Perempuan
    ​
    terindeks di:
    Picture

    Archives

    December 2025
    November 2025
    October 2025
    September 2025
    August 2025
    July 2025
    June 2025
    May 2025
    April 2025
    March 2025
    February 2025
    January 2025
    December 2024
    November 2024
    October 2024
    September 2024
    August 2024
    July 2024
    June 2024
    May 2024
    April 2024
    March 2024
    February 2024
    January 2024
    December 2023
    November 2023
    October 2023
    September 2023
    August 2023
    July 2023
    June 2023
    May 2023
    April 2023
    March 2023
    February 2023
    January 2023
    December 2022
    November 2022
    October 2022
    September 2022
    August 2022
    July 2022
    June 2022
    May 2022
    April 2022
    March 2022
    February 2022
    January 2022
    December 2021
    November 2021
    October 2021
    September 2021
    August 2021
    July 2021
    June 2021
    April 2021
    March 2021
    February 2021
    January 2021
    December 2020
    October 2020
    August 2020
    July 2020
    June 2020
    April 2020
    March 2020
    February 2020
    January 2020
    December 2019
    November 2019
    October 2019
    September 2019
    August 2019
    July 2019
    June 2019
    May 2019
    April 2019
    March 2019
    February 2019
    January 2019
    December 2018
    November 2018
    October 2018
    September 2018
    August 2018
    July 2018
    June 2018
    May 2018
    April 2018
    March 2018
    February 2018
    January 2018
    December 2017
    October 2017
    September 2017
    August 2017
    July 2017
    June 2017
    May 2017
    April 2017
    March 2017
    December 2016
    November 2016
    September 2016
    August 2016
    July 2016
    June 2016
    May 2016
    April 2016
    March 2016
    February 2016
    January 2016
    December 2015
    November 2015
    October 2015
    September 2015
    August 2015
    July 2015
    June 2015
    May 2015
    April 2015
    March 2015
    February 2015
    January 2015
    December 2014
    November 2014
    October 2014
    September 2014
    August 2014
    July 2014
    June 2014

    Categories

    All

    RSS Feed

Yayasan Jurnal Perempuan| Alamanda Tower, 25th Floor | Jl. T.B. Simatupang Kav. 23-24 Jakarta 12430 | Telp. +62 21 2965 7992 Fax. +62 21 2927 7888 | [email protected]
  • TENTANG KAMI
    • Profil
    • Kontak
    • Laporan Tahunan
    • Demo Suara Ibu Peduli
    • Rilis JP
  • Jurnal Perempuan
    • Indonesian Feminist Journal
    • Kirim Tulisan
  • YJP PRESS
    • Buku Seri YJP Press
  • KAFFE
    • Booklet KAFFE
  • Podcast JP
    • Radio JP
  • Sahabat JP
    • Daftar Nama SJP
    • International Friends of JP
    • Blog SJP
    • Gathering SJP
  • Wacana Feminis
    • Tokoh Feminis
    • Cerpen/Puisi Feminis
  • Warta Feminis
  • Warung JP
    • Daftar Toko Buku
  • Toeti Heraty Scholarship
    • Biodata Penerima Beasiswa 2022
    • Biodata Penerima Beasiswa 2023
    • Biodata Penerima Beasiswa 2024
    • Biodata Penerima Beasiswa 2025