|
Oleh: Heppy Haloho
Apa kabar hai puan hari ini? Apakah langkahmu tak lagi terhenti di seputar kasur, dapur, dan sumur? Apakah mimpimu tak lagi harus dikubur, demi keluarga tak hancur lebur? Ataukah kau masih harus susah tidur, memikirkan sakitmu yang kian subur? Oleh: Oka Rusmini
Tahun-tahun mengering. Air mata, masa lalu dan timbunan kebusukan menanam rohnya di tubuhku. Aku rajin merangkainya, kukalungkan di kepala. Tapi mana hatiku? Seorang perempuan rajin sekali menerkam tubuhku dengan mulutnya. Aku mulai menyusun menu. Di meja makan kusantap tubuhku, kuteguk air mataku. Seorang perempuan datang. Sebilah pedang di matanya, seratus tentara di mulutnya. Dia minta kakiku. Aku pun mulai pandai menanak hati, juga jantung, dengan sop darah yang kuisap dari permainan ini. Trotoar kuimpikan jadi kubur orang-orang yang akan datang tanpa jari. Mereka akan melumat tubuhku, seperti perempuan yang meminta tubuhku, juga keringat yang kusulam jadi kertas. Seorang lelaki dan seorang perempuan yang menanamku mulai menanam manusia baru. Tak ada lagi wajahku. Mereka menari-nari sendiri, dengan barisan anak-anak yang pandai melepaskan busur ke jantungku. Lelaki itu hanya bisa diam. Bahkan ikut menyantap tubuhku. Orang-orang datang dan memakiku. “Sebuah pementasan kaumainkan lagi.” Mereka menyulam darahku di atas batu. (Puisi “Kepompong”, dalam buku “Pandora”) Oleh: Dewi Nova
Negara tanpa suara migran Balita kehilangan puting induknya Kelaparan yang tak dimengerti Pemiskinan yang kehilangan narasi Sebab apa, perempuan dari gunung-gunung yang dikeruk, dari pantai-pantai yang hilang menuju rumah majikan yang jauh Melintas batas pulau, negara, bahasa, agama, dan budaya Sebagian besar menjadi budak, sebagian kecil saja dihargai sebagai pekerja, bukan karena konstitusi, melainkan kebaikan si pemberi kerja Seperti main ular tangga Antara diberi tangga atau ditelan ular Siapa yang menentukan? Oleh: Eli Yuliana
Aku tidak tahu, sejak kapan emak mulai mempunyai keinginan untuk pergi ke Malaysia. Yang pasti, sekarang hampir setiap hari ia selalu berkisah tentang keinginannya. Satu demi satu, emak mulai menyusun mimpi barunya. Mimpi membangun rumah, mimpi membeli tanah dan mimpi menyekolahkanku lebih tinggi. Kadang aku tak habis pikir dengan emak, di saat usianya yang memasuki 40 tahun, emak malah lebih banyak mempunyai mimpi. Oleh: Aya Canina
Kita dengar lagi hari ini kicau sumbang infotainment. Atas nama moral, kitalah penonton budiman itu. Dosa perempuan adalah sebagian dari iman dan di media sosial semua orang ialah tetangga; gemar bergotong royong dalam ghibah. Peringatan Pemicu: tulisan mengandung tindakan kekerasan seksual.
Oleh: Alya Fathinah Cermin berukuran 180x60 menampilkan sosok perempuan yang sedang bersiap. Perempuan bernama Gayatri itu memperhatikan baju dengan lengan ¾ berwarna putih dan rok coklat muda bawah lutut yang dikenakannya. Ia membolak-balikkan badannya, melihat kembali pakaian yang dikenakannya sembari memperhatikan rambutnya yang dikuncir kuda. Kemudian, ia juga mengambil tas ransel favoritnya untuk dicocokkan. Oleh: Paoina Bara Pa
Pasanglah telinga! Kata mereka tentang peranku Pasanglah mata! Melihat kebenaranku Kuyakin, tak sanggup jua kau kerjakan Tuduhan itu belenggu ketidakadilan Oleh: Akhiriyati Sundari
“Akhirnya kriwikan dadi grojogan, Mas,” ucapku sembari menerima uluran secangkir kopi tanpa gula buatan suamiku. Sore ini kami menggiring ujung hari dengan berbincang di sisi samping tempat kami tinggal, yang kami fungsikan sebagai beranda. Kendati hanya seluas tiga kali lima meter, suamiku cekatan menata nyaris di semua sisi. Didesainnya sebuah kolam ikan mini yang tidak ada ikannya di sudut tembok pembatas. Tampak hanya ada tiga lembar daun dan tangkai bunga teratai yang masih menguncup, mengapung di atas air. Sepoi angin mengembus ke wajahku. Segar. Oleh: Dewi Nova
Berjalanlah kakimu bumi tempat segala akar saling bertaut merawat batang memanggil burung menabur benih Oleh: Esty Pratiwi Lubarman Aku tidak mengenal nama Marry Wollstonecraft dalam sejarah bisu yang menuangkan secangkir keuntungan untuk perempuan kulit putih. Tapi, barangkali pernah tiba nama Drupadi yang setia dan menderita di tubuh mbokku yang tidak sempat membaca. Pernah kubisikkan teluh Calon Arang yang kepalanya dibakar akibat menjaga rahimnya. Pernah sekali, harus ku cangkul tubuhku untuk menemukan yang tersisa dari nestapa ketika kelahiran kami dirayakan dengan mantra dan air mata. |
AuthorKumpulan Cerpen Archives
March 2026
Categories |
RSS Feed