<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" >

<channel><title><![CDATA[Jurnal Perempuan - Cerpen/Puisi Feminis]]></title><link><![CDATA[https://www.jurnalperempuan.org/cerpenpuisi-feminis]]></link><description><![CDATA[Cerpen/Puisi Feminis]]></description><pubDate>Sun, 08 Mar 2026 14:29:10 +0700</pubDate><generator>Weebly</generator><item><title><![CDATA[Negara Tanpa Suara Migran: Pilpres 2024]]></title><link><![CDATA[https://www.jurnalperempuan.org/cerpenpuisi-feminis/negara-tanpa-suara-migran-pilpres-2024]]></link><comments><![CDATA[https://www.jurnalperempuan.org/cerpenpuisi-feminis/negara-tanpa-suara-migran-pilpres-2024#comments]]></comments><pubDate>Fri, 20 Jun 2025 09:23:57 GMT</pubDate><category><![CDATA[Uncategorized]]></category><guid isPermaLink="false">https://www.jurnalperempuan.org/cerpenpuisi-feminis/negara-tanpa-suara-migran-pilpres-2024</guid><description><![CDATA[Oleh: Dewi NovaNegara tanpa suara migran&nbsp;Balita kehilangan puting induknya&nbsp;Kelaparan yang tak dimengerti&nbsp;Pemiskinan yang kehilangan narasi&nbsp;Sebab apa, perempuan dari gunung-gunung yang dikeruk,&nbsp; dari pantai-pantai yang hilang&nbsp;menuju rumah majikan yang jauh&nbsp;Melintas batas pulau, negara, bahasa, agama, dan budaya&nbsp;Sebagian besar menjadi budak, sebagian kecil saja dihargai sebagai pekerja,&nbsp;bukan karena konstitusi, melainkan kebaikan si pemberi kerja&nbsp;S [...] ]]></description><content:encoded><![CDATA[<div class="paragraph"><strong>Oleh: Dewi Nova</strong><br /><br /><span><span>Negara tanpa suara migran&nbsp;</span></span><br /><span><span>Balita kehilangan puting induknya&nbsp;</span></span><br /><span><span>Kelaparan yang tak dimengerti&nbsp;</span></span><br /><span><span>Pemiskinan yang kehilangan narasi&nbsp;</span></span><br /><span><span>Sebab apa, perempuan dari gunung-gunung yang dikeruk,&nbsp; dari pantai-pantai yang hilang&nbsp;</span></span><br /><span><span>menuju rumah majikan yang jauh&nbsp;</span></span><br /><span><span>Melintas batas pulau, negara, bahasa, agama, dan budaya&nbsp;</span></span><br /><span><span>Sebagian besar menjadi budak, sebagian kecil saja dihargai sebagai pekerja,&nbsp;</span></span><br /><span><span>bukan karena konstitusi, melainkan kebaikan si pemberi kerja&nbsp;</span></span><br /><span><span>Seperti main ular tangga&nbsp;</span></span><br /><span><span>Antara diberi tangga atau ditelan ular&nbsp;</span></span><br /><span><span>Siapa yang menentukan?</span></span></div>  <div>  <!--BLOG_SUMMARY_END--></div>  <div class="paragraph"><span><span>Negara tanpa suara migran&nbsp;</span></span><br /><span><span>Kehilangan ketajaman&nbsp; pendengaran dan pandangan&nbsp;</span></span><br /><span><span>atas pemiskinan yang terus direproduksi&nbsp;</span></span><br /><span><span>Pembangunanisme yang membunuh&nbsp;</span></span><br /><span><span>ruang-ruang hidup jelata di gunung-gunung, pantai-pantai dan lapak-lapak di kota</span></span><br /><br /><span><span>Siapa akan bercerita?</span></span><br /><span><span>Setelah gunung dan laut begitu murah diprivatisasi&nbsp;</span></span><br /><span><span>Anak-anak perempuan, istri-istri yang muda menjadi komoditas selanjutnya&nbsp;</span></span><br /><br /><span><span>Siapa yang akan mendengar?&nbsp;</span></span><br /><span><span>Bila ribuan suara mereka hilang dan dihilangkan&nbsp;</span></span><br /><span><span>Karena disekap jam kerja&nbsp;</span></span><br /><span><span>Karena perubahan sistem yang tak dikabarkan&nbsp;</span></span><br /><span><span>Karena kecurangan setan buncit&nbsp;</span></span><br /><span><span>Negara tanpa suara migran&nbsp;</span></span><br /><span><span>Perahu kehilangan nakoda</span></span><br /><span><span>Bahtera yang diombang-ambing samudera neoliberalis&nbsp;</span></span><br /><br /><span><span>Gunung yang ranggas</span></span><br /><span><span>Pantai yang hilang&nbsp;</span></span><br /><span><span>Kota yang renta&nbsp;</span></span><br /><span><span>Kehilangan juru bicara&nbsp;</span></span><br /><br /><span><span>Tubuh yang diperbudak&nbsp;</span></span><br /><span><span>Pikiran yang disangkal</span></span><br /><span><span>Rahim yang dipertaruhkan&nbsp;</span></span><br /><span><span>Buruh yang tidak diakui-dilindungi sebagai pekerja</span></span><br /><span><span>Kehilangan suara&nbsp;</span></span><br /><br /><span><span>Negara tanpa suara migran&nbsp;</span></span><br /><span><span>bahtera kehilangan arah&nbsp;</span></span><br /><span><span>tenggelam dalam perut segelintir orang&nbsp;</span></span><br /><br /><span><span>Negara menyangkal kontrak politik&nbsp;</span></span><br /><span><span>Ia ada,&nbsp; karena rakyat pernah memberi dan mengakuinya&nbsp;</span></span><br /><br /><span><span>Negara tanpa suara migran&nbsp;</span></span><br /><span><span>Kerajaan yang segera musnah dimakan rayap ketamakan<br /><br />***</span></span><br /><br /><span><span style="font-weight:700">Dewi Nova,</span><span> puisi dan cerpennya tersebar di beberapa media massa. Buku yang diterbitkannya antara lain Burung-Burung Bersayap Air (Kumpulan puisi) dan Perempuan Kopi (Kumpulan cerita pendek). Puluhan pertunjukan puisi-puisi resistancenya Dewi bawakan di komunitas sastra, berbagai acara gerakan sosial dan badan-badan negara &ndash;UN Women, Uni Eropa, Kedubes Amerika Serikat, dan Komnas Perempuan.&nbsp; Dewi juga memberikan kelas menulis kreatif bagi serikat buruh, pekerja seks, komunitas difabel, dan LGBTIQ. Dewi dapat dihubungi melalui <a href="mailto:dewinova.wahyuni@gmail.com">dewinova.wahyuni@gmail.com</a></span></span></div>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Nama yang Tersisa]]></title><link><![CDATA[https://www.jurnalperempuan.org/cerpenpuisi-feminis/nama-yang-tersisa]]></link><comments><![CDATA[https://www.jurnalperempuan.org/cerpenpuisi-feminis/nama-yang-tersisa#comments]]></comments><pubDate>Fri, 20 Jun 2025 09:15:46 GMT</pubDate><category><![CDATA[Uncategorized]]></category><guid isPermaLink="false">https://www.jurnalperempuan.org/cerpenpuisi-feminis/nama-yang-tersisa</guid><description><![CDATA[Oleh: Eli Yuliana&nbsp; &nbsp; &nbsp;Aku tidak tahu, sejak kapan emak mulai mempunyai keinginan untuk pergi ke Malaysia. Yang pasti, sekarang hampir setiap hari ia selalu berkisah tentang keinginannya. Satu demi satu, emak mulai menyusun mimpi barunya. Mimpi membangun rumah, mimpi membeli tanah dan mimpi menyekolahkanku lebih tinggi. Kadang aku tak habis pikir dengan emak, di saat usianya yang memasuki 40 tahun, emak malah lebih banyak mempunyai mimpi.      &nbsp;&nbsp; &nbsp;Aku sering terdiam, [...] ]]></description><content:encoded><![CDATA[<div class="paragraph"><strong><span>Oleh: Eli Yuliana</span><br /></strong><br />&nbsp; &nbsp; &nbsp;<span>Aku tidak tahu, sejak kapan emak mulai mempunyai keinginan untuk pergi ke Malaysia. Yang pasti, sekarang hampir setiap hari ia selalu berkisah tentang keinginannya. Satu demi satu, emak mulai menyusun mimpi barunya. Mimpi membangun rumah, mimpi membeli tanah dan mimpi menyekolahkanku lebih tinggi. Kadang aku tak habis pikir dengan emak, di saat usianya yang memasuki 40 tahun, emak malah lebih banyak mempunyai mimpi.</span></div>  <div>  <!--BLOG_SUMMARY_END--></div>  <div class="paragraph" style="text-align:left;"><span>&nbsp;&nbsp; &nbsp;<span>Aku sering terdiam, saat emak mulai berbicara tentang keinginan barunya. Emak bilang, kalau emak ke Malaysia aku bisa minta apa saja. Apapun, akan ia penuhi. Aku hanya mendengarkan. Tidak menolak, tidak juga mengiyakan. Seperti sore ini, saat kita sama-sama duduk di depan televisi butut, lagi-lagi, emak mengutarakan keinginannya.</span></span><br /><br /><span>&nbsp;&nbsp; &nbsp;<span>&ldquo;Nong, Nong setuju enggak kalau emak ke Malaysia?&rdquo; Emak memandangku. Aku yang sedang memerhatikan siaran televisi mengalihkan pandangan. &ldquo;Nanti, Emak bisa belikan macam-macam untuk kamu, Nong. Tas baru, sepatu baru. juga pernak-pernik yang kamu inginkan semaunya.&rdquo; Emak menambahkan.</span></span><br /><br /><span>&nbsp;&nbsp; &nbsp;<span>Lagi-lagi, aku hanya bisa diam.</span></span><br /><br /><span>&nbsp;&nbsp; &nbsp;<span>&ldquo;Nong, emak omong sama kamu ini.&rdquo; Emak mengguncang bahuku.</span></span><br /><br /><span>&nbsp;&nbsp; &nbsp;<span>&ldquo;Kalau Emak pergi, aku di rumah dengan siapa?&rdquo; Aku bertanya enggan, sambil bangun menuju kamar mandi untuk mandi sore, meninggalkan emak yang masih banyak ingin bercerita.</span></span><br /><br /><span>&nbsp;&nbsp; &nbsp;<span>&ldquo;Kan ada ende*, Nong. Ende masih bisa menemani kamu setiap harinya. Lagipun, kamu sudah cukup besar untuk emak tinggalkan.&rdquo; Setengah berteriak, emak memberikan penjelasan. Aku sudah enggan berbicara banyak dengan emak.</span></span><br /><br /><span><span>***</span></span><br /><br /><span>&nbsp;&nbsp; &nbsp;<span>&ldquo;Mak, beberapa buku dan uang SPP sudah empat bulan belum dibayar. Sebentar lagi ujian,&rdquo; Aku mengemas beberapa buku untuk mata pelajaran esok hari. &ldquo;Biasanya kalau mau ulangan semester bayaran yang belum lunas harus dilunasi, Mak. Kalau tidak, biasanya kita diabsen satu- satu ditunjukan mana yang belum bayar. Mak?&rdquo; Aku mencolek emak, melihat emak tak bereaksi sedikitpun dengan ocehanku.</span></span><br /><br /><span>&nbsp;&nbsp; &nbsp;<span>Kebetulan, aku bersekolah di sekolah swasta. Jangan bayangkan sekolah swastaku adalah sekolah yang mahal dan bagus dengan banyak perlengkapan. Bukan. Bukan sekolah seperti itu. Sekolahku swasta murahan. Sebuah lembaga swasta, yang terkesan hidup segan mati tak mau. Jangan berharap bahwa saya terbebas dari biaya bulanan, karena dari uang kami itulah para guru honorer tersebut dibayar.</span></span><br /><br /><span>&nbsp;&nbsp; &nbsp;<span>Jangan membayangkan bahwa dari kami para pelajar itu membayar uang sekolah bulanan tepat waktu. Karena, hampir sebagian besar dari kami selalu menunggak biaya SPP. Tak hanya sebulan-</span></span><span><span>dua bulan, terkadang ada yang sampai hampir setahun. Bahkan, ada yang sampai lulus pun masih menunggak bayaran uang sekolah.</span></span><br /><br /><span>&nbsp;&nbsp; &nbsp;<span>&ldquo;Tuh, kalau emak kerja di Malaysia, bisa langsung kirim uang untuk bayar sekolah kamu.&rdquo;</span></span><br /><br /><span>&nbsp;&nbsp; &nbsp;<span>&ldquo;Apa harus ke sana dulu sampai aku bisa membayar uang sekolah, Mak? Bukannya selama ini kita juga bisa makan dan bayar sekolah tanpa harus pergi ke sana?&rdquo; Aku termangu dengan jawaban Emak. Lagi-lagi, ia mengungkit tentang keinginannya untuk ke Malaysia.</span></span><br /><br /><span>&nbsp;&nbsp; &nbsp;<span>&ldquo;Iya, tapi, kan emak enggak perlu capai-capai mikir seperti ini.&rdquo;</span></span><br /><br /><span>&nbsp;&nbsp; &nbsp;<span>&ldquo;Lho, jadi selama ini Emak sudah penat dan bosan mengurus aku dan ende? Dulu siapa yang nyuruh aku sekolah? Emak bukan? Emak yang ingin aku sekolah tinggi-tinggi biar aku enggak ngikutin jejak Emak jadi kuli?&rdquo;</span></span><br /><br /><span>&nbsp;&nbsp; &nbsp;<span>&ldquo;Emak ke Malaysia juga biar emak bisa menyekolahkanmu tinggi-tinggi.&rdquo;</span></span><br /><br /><span>&nbsp;&nbsp; &nbsp;<span>Aku diam. Malas berdebat lagi dengan emak kalau sudah mengungkit kepergiannya ke negeri tetangga. Selama ini aku memang masih bergeming dengan keputusan emak yang ingin menjadi pekerja migran. Aku tahu, beberapa tetanggaku pergi ke sana dan mereka hidup sukses setelahnya. Tapi, ah, entahlah&hellip; Aku sayang emak, aku tak mau jauh darinya. Di rumah hanya ada ende, ibunya emak yang sudah tua. Apakah emak tega meninggalkan kami berdua? Sementara bapak sudah menghadap-Nya sejak beberapa tahun lalu.</span></span><br /><br /><span>&nbsp;&nbsp; &nbsp;<span>Aku beranjak ke kamar tidur meninggalkan emak yang masih terdiam. Aku masuk ke kamar, mengunci pintu. Menyahut sekilas saja saat ende memanggilku untuk makan malam terlebih dahulu.</span></span><br /><br /><span>&nbsp;&nbsp; &nbsp;<span>Mimpi emak menyekolahkanku tinggi-tinggi bukan baru kemarin sore. Tapi, sejak ayahku masih hidup. Saya ingat, ketika saya masih duduk di SD menjelang kelulusan, ayah dan emak berbincang sangat serius. Mereka membicarakan akan ke mana setelah aku lulus SD waktu itu. Ayah, dengan sejuta mimpinya ingin sekali aku belajar sampai jenjang kuliah. Samar-samar, emak pun begitu mendukung keinginan ayah. Ayah sangat ingin aku masuk ke SMP favorit di kecamatan. Kata ayah, kalau aku sekolah di SMP Negeri, jalanku ke depannya akan mudah.</span></span><br /><br /><span>&nbsp;&nbsp; &nbsp;<span>Tapi, takdir manusia siapa nyana. Beberapa bulan sebelum lulus SD, ayahku meninggal. Mulanya, saya berkeras masuk ke SMP favorit seperti kemahuan almarhum ayah. Tapi, emak dengan banyak pertimbangan melarangku untuk melanjutkan di SMP favorit tersebut. Dengan berat hati, saya mau mengikuti keinginan emak. Belum setahun saya bersekolah, sekarang emak akan meninggalkanku. Sungguh, aku sangat keliru memahami emak.</span></span><br /><br /><span><span>***<br />&#8203;</span></span><br /><span>&nbsp;&nbsp; &nbsp;<span>&ldquo;Kalau bisa saya pinjam uang dulu, Wak. Untuk bayaran sekolah si Kasih.&rdquo;</span><br /><br />&nbsp;&nbsp; &nbsp;&#8203;<span>&ldquo;Kamu mau pinjam berapa?&rdquo;</span><br /><br />&nbsp;&nbsp; &nbsp;<span>&ldquo;Secukupnya, Wak. Sekalian untuk bekal si Kasih sama endenya Kasih di rumah beberapa bulan."</span><br /><br />&nbsp;&nbsp; &nbsp;"<span>Lima juta cukup?&rdquo;</span></span><br /><br /><span>&nbsp;&nbsp; &nbsp;<span>&ldquo;Cukuplah, Wak. Nanti kalau saya sudah di sana saya akan kirim lewat Uwak.&rdquo;</span></span><br /><br /><span>&nbsp;&nbsp; &nbsp;<span>Saya memasang telinga dekat-dekat ke pintu, mendengar perbincangan emak entah dengan siapa seorang lelaki yang tak kukenali. Tapi, emak memanggilnya uwak. Mungkinkah itu uwak Karim yang sudah dikenali umum menjadi perantara orang-orang di desa ini untuk dibawa ke Malaysia? Ah, aku tak menyangka emak akan senekat ini. Rupanya, tekad emak sudah semakin bulat untuk berangkat ke negeri tetangga.</span></span><br /><br /><span>&nbsp;&nbsp; &nbsp;<span>Uwak Karim dikenali sebagai calo di kampung kami. Aku tidak tahu sepak terjang uwak Karim, karena selama ini saya betul-betul tak ambil tahu.</span></span><br /><br /><span>&nbsp;&nbsp; &nbsp;<span>Aku duduk di tepi tempat tidur, mengais-ngaiskan kakiku di lantai semen yang masih kasar. Luluh sudah harapanku untuk mempertahankan emak supaya tak jadi berangkat, ada yang mengiris- ngiris ulu hatiku, perasaanku sayu tiba-tiba. &ldquo;Mak, setega itukah Emak meninggalkanku hanya dengan ende?&rdquo; Akhirnya aku terisak&hellip;</span></span><br /><br /><span><span>***</span></span><br /><br /><span>&nbsp;&nbsp; &nbsp;<span>Besoknya, aku membatu tak membuka suara dengan emak. Tak menjawab saat emak bertanya, tak menyahut pula saat emak mengarahkan perintah supaya aku menjamah nasi goreng kosong sarapan pagi seperti biasanya.</span></span><br /><br /><span>&nbsp;&nbsp; &nbsp;<span>&ldquo;Kasih,&rdquo;</span></span><br /><br /><span>&nbsp;&nbsp; &nbsp;<span>Aku membisu.</span></span><br /><br /><span>&nbsp;&nbsp; &nbsp;<span>&ldquo;Kasih,&rdquo; suara emak lembut. Aku tak beringsut.</span></span><br /><br /><span>&nbsp;&nbsp; &nbsp;<span>&ldquo;Kasih,&rdquo;</span></span><br /><br /><span>&nbsp;&nbsp; &nbsp;<span>Tak ada suara.</span></span><br /><br /><span>&nbsp;&nbsp; &nbsp;<span>&ldquo;Kasih! Emak memanggilmu, emak omong sama kamu. Kamu ini emak sekolahkan bukannya mengerti sopan!&rdquo; Suara emak meninggi.</span></span><br /><br /><span>&nbsp;&nbsp; &nbsp;<span>&ldquo;Kasih, tak baik berbuat begitu dengan emakmu,&rdquo; ende muncul dari kamarnya. &ldquo;Bicaralah dengan emakmu, ikhlaskan kepergiannya ke Malaysia, karena itu untuk kebaikanmu juga.&rdquo;</span></span><br /><br /><span>&nbsp;&nbsp; &nbsp;&#8203;<span>&ldquo;Bukankah tanpa kesepakatan maupun keikhlasanku, Emak akan pergi juga ke sana?&rdquo; Aku menjawab datar, entah kepada siapa, air mataku mengalir deras. Emak terdiam. Suaranya hilang begitu saja setelah tadi meneriaki aku sekuat-kuatnya.</span></span><br /><br /><span>&nbsp;&nbsp; &nbsp;<span>&ldquo;Aku berangkat dulu, Nde, Mak&rdquo; Aku mendekati emak dan ende, mengulurkan salam. Saat menyentuh tangan emak, emak langsung meraih tubuhku, memelukku erat-erat.</span></span><br /><br /><span>&nbsp;&nbsp; &nbsp;<span>&ldquo;Kasih, emak sayang Kasih. Kalau emak memaksa pergi, bukan emak tak menyayangi Kasih lagi, tapi emak ingin membahagiakan Kasih.&rdquo; Emak terisak, memelukku semakin kuat. Aku balas memeluk emak. Saya terdiam, tak menjawab apa pun kepada emak.</span></span><br /><br /><span>&nbsp;&nbsp; &nbsp;<span>&ldquo;Saya berangkat dulu, Mak. Nanti terlambat ke sekolah.&rdquo;</span></span><br /><br /><span><span>***</span></span><br /><br /><span>&nbsp;&nbsp; &nbsp;<span>Harinya sudah tiba, akhirnya meski dengan keterpaksaan aku merelakan emak berangkat ke Malaysia. Minggu pagi, emak sudah bersiap-siap, setelah malam sebelumnya emak memasukan beberapa lembar baju secukupnya saja. Aku memaksakan untuk tersenyum melepas kepergian emak.</span></span><br /><br /><span>&nbsp;&nbsp; &nbsp;<span>Mobil hitam milik uwak Karim sudah sampai di tepi jalan. Emak menyalami ende dan memeluknya, kemudian berganti memelukku juga menciumi wajahku. Wajah emak basah. Yah, akhirnya ketegaran emak luluh sudah saat akan berangkat meninggalkan kami. Para tetangga juga berdiri di depan rumah, menunggu emak untuk sekedar mengulurkan salam.</span></span><br /><br /><span>&nbsp;&nbsp; &nbsp;<span>Deru mobil uwak Karim dan asapnya baru saja meninggalkan kami semua. &ldquo;Nde, aku mau ke bukit sebentar.&rdquo;</span></span><br /><br /><span>&nbsp;&nbsp; &nbsp;<span>&ldquo;Jangan lama-lama.&rdquo;</span></span><br /><br /><span>&nbsp;&nbsp; &nbsp;<span>Entah apa yang ende ucapkan aku tak lagi mendengar. Aku sudah berlari menuju bukit yang tak jauh dari kampung. Aku berlari sekuat-kuatnya, ingin sampai ke atas bukit. Karena dari atas bukit itulah, aku bisa melihat mobil yang membawa emak meninggalkanku sampai tak terlihat lagi.</span></span><br /><br /><span>&nbsp;&nbsp; &nbsp;<span>&ldquo;Emak!&rdquo; Sampai di atas bukit, mobil uwak Karim masih bisa aku lihat, aku berteriak sekeras- kerasnya memanggil emak. &ldquo;Mak! Aku akan jadi anak baik, Mak. Menjaga ende dan rajin belajar!&rdquo; Aku melambai-lambaikan tangan. Saya yakin, emak tak mendengar suaraku.</span></span><br /><br /><span>&nbsp;&nbsp; &nbsp;<span>Samar-samar, mobil semakin mengecil dan tak terlihat. Suaraku, terbang dibawa angin. Dan bayangan emak, menari-nari di kepala. Aku lunglai. Matahari mulai naik di kepala dan terasa panasnya. Perlahan, saya menuruni bukit dengan perasaan tidak karuan. Terbayang bagaimana nanti emak di luar negeri sana. Tergambar juga, bagaimana aku hidup di sini nantinya.</span></span><br /><br /><span>&nbsp;&nbsp; &nbsp;<span>Ende sudah terlalu tua untuk mengurus keperluan rumah tangga. Kaki dan tangan sepuhnya tak lagi cekatan seperti dulu ketika aku kecil.</span></span><br /><br /><span>&nbsp;&nbsp; &nbsp;<span>Wajah ayah pun tiba-tiba muncul. Sebelum ia meninggal, keluarga kami baik-baik saja. Ayah bekerja di pabrik sebagai karyawan biasa. Gajinya tidak besar, tapi cukup menghidupi kami berempat. Ayah anak tunggal, kedua orang tuanya sudah tiada. Sementara, emak tiga&nbsp;</span></span><span><span>bersaudara. Dua saudara lelakinya kini berada di luar kota bersama keluarganya. Dan ende, ibu dari emak kini bersama kami.</span></span><br /><br /><span>&nbsp;&nbsp; &nbsp;<span>Kedua kakak emakku selalu mengungkit, jika emak anak bungsu, maka ia wajib menjaga ende. Begitulah. Setelah kepergian ayah, emak lintang pungkang menghidupi kami bertiga. Hingga akhirnya emak mencari jalan pintas. Menjadi pekerja migran.</span></span><br /><br /><span><span>***</span></span><br /><br /><span>&nbsp;&nbsp; &nbsp;<span>Sebentar lagi, saya naik ke kelas tiga sekolah menengah pertama. Tak pernah terbayangkan sebelumnya jika emak betul-betul meninggalkanku. Hariku-hariku terasa berat. Ende terlihat berjuang sangat keras. Ia yang tak pernah pergi ke kebun, kini kembali ke kebun mencari apa pun yang bisa untuk diolah. Kedua anak lelakinya, hanya sekali menjenguk saat Idulfitri tiba. Itu pun, hanya sebentar saja. Kabarnya, bisnis restoran keluarga mereka semakin lancar. Itu menjadi alasan mereka untuk tinggal berlama-lama di kampung halaman.</span></span><br /><br /><span>&nbsp;&nbsp; &nbsp;<span>Yang aku syukuri, mereka meninggalkan uang ketika datang waktu itu, meski tak banyak, itu bisa menyambung hidup kami. Rengekan ende meminta mereka untuk tinggal lebih lama di kampung tak dihiraukan. Sepertinya, mereka memang sudah tak kerasan lagi tinggal di kampung kami. Lebih tepatnya, di rumah kami yang sangat sederhana ini.</span></span><br /><br /><span><span>***</span></span><br /><br /><span>&nbsp;&nbsp; &nbsp;<span>Dua tahun berlalu.</span></span><br /><br /><span>&nbsp;&nbsp; &nbsp;<span>Setahun kepergian emak, ende pergi meninggalkanku untuk selamanya. Selama itu emak tak ada kabar, bahkan sampai dua tahun menjelang tak pernah sekalipun ia memberi kabar. Aku hanya berhasil menyelesaikan sekolah sampai kelas tiga sekolah menengah pertama, ijazahku sampai saat ini belum diambil karena belum membayar uang ujian dan masih menunggak SPP berbulan-bulan. Saya pun lupa, berapa bulan lagi uang sekolahku belum terbayarkan.</span></span><br /><br /><span>&nbsp;&nbsp; &nbsp;<span>Jangan ditanya bagaimana aku berjuang sendirian setelah ketiadaan ende. Dua anak lelaki ende datang ketika ende meninggal saja. Setelah itu, aku betul-betul menjadi sebatang kara.</span></span><br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; U<span>tang emak semakin menumpuk, ternyata uwak Karim selain seorang calo juga seorang rentenir. Sungguh, saya tidak tahu menahu tentang utang-piutang tersebut.</span></span><br /><br /><span>&nbsp;&nbsp; &nbsp;<span>Aku termangu memandangi emak yang baru pulang dua minggu lalu. Yah, emak memang sudah pulang, tapi ia seperti orang yang tak kukenali lagi. Emak ada, tapi hanya jasad dan namanya saja. Emak bukan lagi seorang pemimpi seperti awal-awal kepergiannya. Tak ada keterangan, tak ada pula membawa uang seperti keinginannya.</span></span><br /><span><span>"Mak, mau makan?"</span></span><br /><br /><span>&nbsp;&nbsp; &nbsp;<span>Begitulah, selama dua minggu ini saya berusaha berinteraksi dengan emak. Mengajaknya berbincang, menyuapinya dan terkadang mengajak jalan-jalan di sekitar rumah. Sesekali, saya bertanya juga kenapa emak tak pernah memberikan kabar berita kepadaku. Ada juga, saya bertanya kepada emak di mana dia ditempatkan bekerja. Ah, malangnya, sebanyak apapun soalan kutanya, emak pasti tidak menjawabnya.</span></span><br /><br /><br /><br /><span><span>*Ende: panggilan untuk nenek di Cilegon.</span></span><br /><br />***<br />&#8203;<br /><span><span style="font-weight:700">Eli Yuliana,</span><span> bloger yang sesekali menulis fiksi. Purna migran yang lebih sering menulis opini mengenai dunia tenaga kerja di Kompasiana. Tinggal di Jakarta. Bisa dihubungi di </span><a href="mailto:anazkia@gmail.com"><span style="font-weight:400">anazkia@gmail.com.</span></a></span></div>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Perempuan Itu Dirajam dan Ia Tidak Mati]]></title><link><![CDATA[https://www.jurnalperempuan.org/cerpenpuisi-feminis/perempuan-itu-dirajam-dan-ia-tidak-mati]]></link><comments><![CDATA[https://www.jurnalperempuan.org/cerpenpuisi-feminis/perempuan-itu-dirajam-dan-ia-tidak-mati#comments]]></comments><pubDate>Thu, 17 Oct 2024 09:05:42 GMT</pubDate><category><![CDATA[Uncategorized]]></category><guid isPermaLink="false">https://www.jurnalperempuan.org/cerpenpuisi-feminis/perempuan-itu-dirajam-dan-ia-tidak-mati</guid><description><![CDATA[Oleh: Aya CaninaKita dengar lagi hari ini kicau sumbang infotainment.Atas nama moral, kitalah penonton budiman itu.Dosa perempuan adalah sebagian dari imandan di media sosial semua orang ialah tetangga;gemar bergotong royong dalam ghibah.      Orang-orang ababil itu berpesta di kolom komentarmelempar batu dan kesucian yang saru.Dengan firman Tuhan sebagai kaptennya,mereka menyerang satu per satusampai puas, sampai klimaks.&nbsp;Di kuali raksasa ini, perempuanadalah kentang rebus yang menunggugil [...] ]]></description><content:encoded><![CDATA[<div class="paragraph"><strong>Oleh: Aya Canina<br /><br /></strong>Kita dengar lagi hari ini kicau sumbang <em>infotainment.</em><br />Atas nama moral, kitalah penonton budiman itu.<br />Dosa perempuan adalah sebagian dari iman<br />dan di media sosial semua orang ialah tetangga;<br />gemar bergotong royong dalam ghibah.<br /></div>  <div>  <!--BLOG_SUMMARY_END--></div>  <div class="paragraph">Orang-orang ababil itu berpesta di kolom komentar<br />melempar batu dan kesucian yang saru.<br />Dengan firman Tuhan sebagai kaptennya,<br />mereka menyerang satu per satu<br />sampai puas, sampai klimaks.<br />&nbsp;<br />Di kuali raksasa ini, perempuan<br />adalah kentang rebus yang menunggu<br />giliran dikunyah pasal-pasal seksis.<br />Dan orang-orang berjubah yang berkeringat<br />itu mati-matian mempertahankan peradaban<br />&nbsp;<br />Seperti kita, anak-anak patriarki<br />dengan jari-jari berlendir<br />di arena berdarah ini<br />menonton dan menikmati<br />seorang perempuan dirajam<br />oleh negara yang hahaha<br />dan netizen yang mulia akhlaknya.<br />&nbsp;<br />Tiap malam, tiap kita sedang bermimpi,<br />perempuan itu membasuh darahnya.<br />Ia tidak akan mati hari ini.<br />&nbsp;<br /><em>(2021)</em><br /></div>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Raja yang Kehilangan Tahta]]></title><link><![CDATA[https://www.jurnalperempuan.org/cerpenpuisi-feminis/raja-yang-kehilangan-tahta]]></link><comments><![CDATA[https://www.jurnalperempuan.org/cerpenpuisi-feminis/raja-yang-kehilangan-tahta#comments]]></comments><pubDate>Thu, 17 Oct 2024 08:55:15 GMT</pubDate><category><![CDATA[Uncategorized]]></category><guid isPermaLink="false">https://www.jurnalperempuan.org/cerpenpuisi-feminis/raja-yang-kehilangan-tahta</guid><description><![CDATA[Peringatan Pemicu: tulisan mengandung tindakan kekerasan seksual.Oleh:&nbsp;Alya Fathinah&nbsp;&nbsp; &nbsp; &nbsp;Cermin berukuran 180x60 menampilkan sosok perempuan yang sedang bersiap. Perempuan bernama Gayatri itu memperhatikan baju dengan lengan &frac34; berwarna putih dan rok coklat muda bawah lutut yang dikenakannya. Ia membolak-balikkan badannya, melihat kembali pakaian yang dikenakannya sembari memperhatikan rambutnya yang dikuncir kuda. Kemudian, ia juga mengambil tas ransel favoritnya [...] ]]></description><content:encoded><![CDATA[<div class="paragraph"><strong>Peringatan Pemicu</strong>: tulisan mengandung tindakan kekerasan seksual.<br /><strong>Oleh:&nbsp;Alya Fathinah</strong><br />&nbsp;<br />&nbsp; &nbsp; &nbsp;Cermin berukuran 180x60 menampilkan sosok perempuan yang sedang bersiap. Perempuan bernama Gayatri itu memperhatikan baju dengan lengan &frac34; berwarna putih dan rok coklat muda bawah lutut yang dikenakannya. Ia membolak-balikkan badannya, melihat kembali pakaian yang dikenakannya sembari memperhatikan rambutnya yang dikuncir kuda. Kemudian, ia juga mengambil tas ransel favoritnya untuk dicocokkan.</div>  <div>  <!--BLOG_SUMMARY_END--></div>  <div class="paragraph"><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span>&#8203;Lima menit berlalu, Gayatri masih berdiri di tempat dan melakukan hal yang sama. Merasa pakaiannya tidak menutupi memar yang ada di tangannya, ia pun mengambil kardigan lengan panjang senada dengan warna roknya sebelum akhirnya membawa sepotong roti dan pergi kuliah.<br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span>Setelah berpamitan kepada ibunya, Gayatri berjalan kaki menyusuri gang sepanjang 800 meter dan terus berjalan hingga berhenti ketika sampai di stasiun. Sama seperti biasanya, kondisi stasiun pada pagi hari ramai oleh penumpang dengan segala aktivitasnya. &nbsp;<br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span>Suara pengumuman kedatangan kereta KRL <em>Commuter Line </em>saling bersahutan. &nbsp;Meskipun harus rela berdesakan, tetapi Gayatri berhasil merangsek masuk ke kereta tujuannya. Ia pun kembali memutar lagu melalui <em>earphone</em>-nya sembari menikmati perjalanan yang penuh sesak itu.<br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span>Tiba-tiba ada sesuatu yang menyita perhatiannya. Ia melihat laki-laki paruh baya yang tidak jauh dari tempatnya berdiri menempelkan badannya kepada perempuan berjilbab biru di dekat pintu. Perempuan itu terlihat tidak nyaman, bahkan sudah beberapa kali mencoba mengubah posisi berdirinya. Akan tetapi, kondisi gerbong yang padat penumpang membuat dirinya tidak bisa berkutik sehingga laki-laki itu tetap melancarkan aksinya. Nahas, orang-orang di sekitar perempuan itu lebih memedulikan kepentingan mereka masing-masing.<br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span>Gayatri bingung harus melakukan apa. Ia ingin sekali menolong perempuan itu, tapi tidak tahu bagaimana caranya. Hingga akhirnya, kesempatan untuk menolong itu datang ketika kereta berhenti di stasiun berikutnya. Beberapa penumpang turun, tetapi lelaki paruh baya itu masih berdiri di tempat yang sama.<br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span>"Hai, kita ketemu di sini," ujar Gayatri sembari menarik tangan perempuan itu ke dekat tempatnya berdiri.<br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span>Perempuan itu tersentak kaget, tetapi langsung memberikan respons, "hai, <em>enggak</em>&nbsp;<em>nyangka</em>,&nbsp;ya,&nbsp;kita ketemu di sini. Kamu mau ke kampus?" jawab perempuan itu sembari berpindah ke tempat kosong dekat Gayatri.<br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span>Melihat keakraban Gayatri dan perempuan itu, lelaki paruh baya tadi berjalan, berpindah ke gerbong lain. Perempuan itu mengembuskan napas, meskipun Gayatri menyadari bahwa raut wajahnya masih terlihat tidak baik-baik saja. Gayatri pun mengusap punggung perempuan itu.<br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span>&ldquo;<em>Gimana</em>&nbsp;perasaan kamu sekarang? Ada yang bisa aku lakukan buat <em>ngebantu</em>&nbsp;kamu?&rdquo; tanya Gayatri.<br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span>Perempuan itu tidak langsung menjawab, melainkan memeluk tubuh Gayatri.<br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span>"Aku senang kamu membantu aku. <em>Makasih</em><em>,</em>&nbsp;ya," bisik perempuan itu lalu menguatkan pelukannya.<br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span>Namun, Gayatri melepaskan pelukan itu secara perlahan.<br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span>"Sama-sama, tapi maaf banget aku <em>enggak</em>&nbsp;terbiasa dipeluk orang lain secara tiba-tiba," jawab Gayatri.<br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span>"Oh, maaf tiba-tiba peluk kamu,&rdquo; jawab perempuan itu sambil melepaskan pelukannya, &ldquo;<em>kenalin</em>&nbsp;nama aku Aqila, namamu siapa?" lanjut perempuan itu sambil mengulurkan tangannya.<br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span>"Gayatri," jawab Gayatri singkat sembari menyambut uluran tangan Aqila.<br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span>Jabat tangan keduanya tidak berlangsung lama karena Gayatri langsung memejamkan matanya, terlihat pusing dengan napas yang berubah menjadi tidak teratur.<br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span>"Gayatri, kamu baik-baik <em>aja</em>?" tanya Aqila.<br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span>"Eh, baik kok cuma tiba-tiba pusing <em>aja</em>. Aku harus turun di stasiun berikutnya, kamu bakal turun di mana,&nbsp;nih?" kata Gayatri.<br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span>"Wah, sama <em>dong</em>, kampusku juga berhenti di stasiun itu. Kamu belum sarapan <em>kali</em><em>,</em>&nbsp;ya? <em>Gimana</em>&nbsp;kalau kita sarapan bareng <em>aja</em>? Setahuku,&nbsp;ketoprak di depan stasiun enak," ajak Aqila yang bersambut anggukan dari Gayatri.<br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span>Kereta pun berhenti di stasiun berikutnya. Gayatri dan Aqila turun dari kereta kemudian berjalan bersama menuju tukang ketoprak. Keduanya pun memesan menu yang sama, ketoprak ditambah telur ceplok dengan tingkat pedas sedang.<br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span>Gayatri dan Aqila mengobrol banyak hal, ternyata mereka berkuliah di kampus dan fakultas yang sama. Namun, Gayatri lebih tua dua tahun dibanding Aqila.<br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span>"Gayatri, Gayatri sudah aku cari ke&nbsp;mana-mana, ternyata kamu ada di sini," ujar seorang laki-laki seumuran mereka dengan sedikit berteriak.<br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span>Merasa namanya dipanggil, Gayatri menoleh dan menghampiri sumber suara, meninggalkan sepiring ketoprak yang sedang dimakannya. Ia melihat sosok laki-laki yang sebenarnya tidak ingin ia temui.<br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span>"Bisa <em>enggak</em>&nbsp;sehari <em>aja enggak</em>&nbsp;usah teriak sama <em>manggil</em>&nbsp;nama aku <em>kenceng</em>&nbsp;<em>kaya gitu</em>," tegas Gayatri dengan sedikit kesal.<br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span>Laki-laki itu bukan berubah menjadi lebih lembut, tetapi justru terlihat lebih kesal.<br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span>"Oh, sekarang udah berani ngelawan,&nbsp;ya?" bentak laki-laki itu sambil memegang tangan Gayatri. Beberapa orang yang sedang makan ketoprak sekilas memperhatikan keduanya sedangkan Aqila merasa familiar dengan wajah laki-laki itu, hingga memutuskan untuk menghampiri.<br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span>"Halo, Kak Raja!" sapa Aqila kepada laki-laki itu dengan sopan.<br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span>Raja melepaskan genggaman pada tangan Gayatri yang disambut embusan napas lega dari Gayatri.<br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span>"Hai, Aqila ya,&nbsp;kalau <em>enggak</em>&nbsp;salah? Lagi sarapan,&nbsp;nih?" jawab Raja dengan ramah.<br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span>"Iya, betul,&nbsp;Kak. Kakak sengaja mau ke kampus bareng Kak Gayatri?"<br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span>"Iya, kamu tahu <em>aja</em>,&nbsp;nih. Yuk, Gayatri, kita <em>otw</em>&nbsp;kampus, kelasnya sebentar lagi. Aqila, kita duluan,&nbsp;ya," kata Raja.<br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span>"Eh, sebentar aku bayar dulu makanannya," kata Gayatri, menghampiri penjual ketoprak. Sementara, Raja mengobrol dengan Aqila. Entah apa yang diobrolkan, tetapi keduanya terlihat akrab.<br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span>"Kami pamit,&nbsp;ya, Aqila<em>. See you soon</em>!" sambung Gayatri, meninggalkan Aqila dan ketopraknya yang tersisa setengah lagi.<br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span>Raja dan Gayatri berjalan menuju tempat parkir, mendatangi sepeda motor yang akan dikendarai oleh Raja.<br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span>"Kok kamu <em>enggak</em>&nbsp;bilang sih tadi ada adik tingkat kita di situ? Kamu sengaja ya,&nbsp;mau ngejelekin aku di depan dia?" ucap Raja dengan nada tingginya di tengah perjalanan.<br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span>"Ya kan aku juga <em>enggak</em>&nbsp;tahu kalau Aqila ternyata kenal sama kamu. Kamu kebiasaan <em>dateng-dateng</em>&nbsp;suka marah."<br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span>"Secara logika, <em>enggak</em>&nbsp;mungkin mahasiswa baru <em>enggak</em>&nbsp;tahu ketua BEM Fakultasnya. Jadi, menurut kamu salah aku,&nbsp;<em>gitu</em>? Harusnya kamu bilang atau kasih kode <em>kek</em>&nbsp;ada orang yang kenal sama aku. Kalau citra aku jelek <em>gimana</em>? Kamu mau tanggung jawab?" sambung Raja tidak mau kalah.<br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span>Gayatri memilih tidak melanjutkan percakapan itu. Memulai pagi dengan berdebat sudah pasti menurunkan <em>mood</em>-nya.<br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span>Raja pun mengendarai sepeda motornya dengan kencang, tanda suasana hatinya sedang tidak bagus. Setibanya di depan kelas, Haura menghampiri Gayatri kemudian menariknya menjauh dari teman-temannya yang lain.<br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span>"<em>Lo</em>&nbsp;kok <em>dateng</em>&nbsp;bareng si Raja,&nbsp;sih?" bisik Haura.<br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span>"Ya <em>gimana</em>&nbsp;lagi, tadi dia <em>nyamperin</em>&nbsp;ke stasiun," jawab Gayatri.<br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span>"<em>Lo</em>&nbsp;kan bisa <em>nolak</em>," kata Haura sembari mengangkat lengan kardigan Gayatri, "tuh&nbsp;kan tangan <em>lo</em>&nbsp;memar."<br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span>Gayatri menurunkan lengan kardigannya, "udah bukan karena dia kok, <em>lo</em>&nbsp;santai aja, oke?" sambung Gayatri, mencoba menenangkan sahabat satu-satunya itu.<br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span>Haura mendengus kesal oleh jawaban Gayatri. Ia tahu betul sahabatnya berada dalam hubungan yang tidak sehat, tetapi sayangnya berbagai nasihat Haura belum Gayatri dengarkan.<br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span>Mereka pun masuk ke dalam kelas. Hari itu, Gayatri dan teman-temannya melaksanakan tiga mata kuliah sehingga berkuliah sampai sore. Setelah selesai berkuliah, sebagian besar dari mereka kerja kelompok untuk menyelesaikan tugas yang dikumpulkan lusa.<br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span>"Tri, kelompok <em>lo</em>&nbsp;katanya kerja kelompok di kosan Raja,&nbsp;ya? Hati-hati. <em>Gue</em>&nbsp;<em>udah</em>&nbsp;titip ke temen sekelompok <em>lo</em>&nbsp;biar jagain <em>lo</em>&nbsp;dari laki-laki jahat itu. Kalau ada apa-apa, <em>lo</em>&nbsp;wajib telepon <em>gue</em>," bisik Haura sambil memperlihatkan nomornya yang sudah ada masuk kontak darurat HP Gayatri.<br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span>Kemudian, Haura menghampiri rombongan teman sekelompoknya sebelum akhirnya Raja mendatangi Gayatri. Gayatri, Raja, dan empat teman lainnya berjalan sambil mengobrol. Mereka hendak pergi ke arah parkiran motor.<br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span>"Gayatri dibonceng sama <em>gue aja</em>, ya," ujar Raja. Gayatri menyesali teman-temannya tidak ada yang membantah ucapannya itu.<br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span>Dengan terpaksa,&nbsp;Gayatri pun mengikuti perkataan Raja. Jarak kampus ke kosan Raja tidak terlalu jauh, tetapi Gayatri merasa Raja sengaja mengendarai motornya dengan lambat sehingga teman-temannya jauh berada di depan mereka.<br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span>Di tengah perjalanan, tangan kiri Raja menarik tangan Gayatri untuk memeluknya dari belakang. Gayatri sudah menolaknya berulang kali, tetapi Raja terus menariknya.<br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span>"Tangan kamu kok <em>enggak</em>&nbsp;bisa <em>diem</em>? <em>Udah</em><em>,</em>&nbsp;ya,&nbsp;sekarang <em>kaya gini</em>, aku <em>udah</em>&nbsp;lama <em>enggak</em>&nbsp;dipeluk pacar aku," kata Raja sambil kembali menarik tangan Gayatri. Gayatri hanya bisa menurut daripada keselamatannya dipertaruhkan. Setelah itu, Raja juga mengelus-ngelus tangan Gayatri.<br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span>Sesampainya di kosan Raja, keenam mahasiswa itu fokus berdiskusi untuk tugas kelompok mereka sambil diselingi mengobrol dan tak lupa mengisi perut dengan makanan. Di depan teman-temannya, perilaku maupun perkataan Raja ke Gayatri tidak aneh-aneh sehingga teman-temannya tidak menaruh kecurigaan. Akhirnya, mereka selesai mengerjakan tugas kelompok sekitar pukul 10 malam.<br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span>"Tri, <em>lo</em>&nbsp;mau <em>dianterin gue aja enggak</em>? Kayla kosannya di sebelah. Kebetulan kosan <em>gue</em>&nbsp;juga <em>deket</em>&nbsp;stasiun jadi bisa sekalian," Sultan menawarkan Gayatri.<br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span>"Iya <em>bener</em>,<em>&nbsp;gue</em>&nbsp;tinggal jalan kaki aja kok, <em>deket</em>," sambung Kayla.<br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span>Raja mendengar percakapan itu, "eh Gayatri <em>cewe</em><em>k</em><em>&nbsp;gue</em>,<em>&nbsp;gue</em>&nbsp;nanti yang <em>anterin</em>&nbsp;dia. Kalian pulang <em>aja</em>&nbsp;sana," ujar Raja sedikit marah.<br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span>Lagi-lagi Gayatri hanya bisa diam, tetapi ia tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.<br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span>Setelah teman-temannya pulang, Gayatri sudah berdiri di depan pintu kamar Raja. Ia juga sudah menggunakan sepatunya agar Raja segera mengantarkannya ke stasiun.<br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span>"Mau ke&nbsp;mana sih, kok <em>cepet-cepet</em>&nbsp;pengen pulang? Biasanya juga tidur di sini," bisik Raja, bernada menggoda.<br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span>Gayatri tidak menjawab ucapan Raja, ia melanjutkan panggilan videonya dengan Haura. Keduanya mengobrol tugas kelompok yang tadi dikerjakan. Namun, Gayatri memberikan isyarat butuh bantuan dengan mengangkat empat jarinya kemudian menutup dan membukanya secara bergantian.<br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span>&ldquo;Kamu teleponan sama siapa,&nbsp;sih? <em>Matiin</em>&nbsp;dong, ini kesempatan berdua kita <em>loh</em>,&rdquo; kata Raja.<br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span>Gayatri berpura-pura sudah melakukan panggilan tersebut sedangkan Haura mematikan suara panggilannya, &ldquo;aku mau pulang, <em>cepet anterin</em>&nbsp;aku atau aku <em>pake</em>&nbsp;ojol aja ini."<br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span>Raja menarik tangan Gayatri. Namun, kali ini Gayatri mencoba mempertahankan posisi. Keduanya saling menarik sambil sesekali mengeluarkan suara. Sama seperti biasanya, Raja tidak peduli dengan tangan Gayatri yang memerah akibat ditarik olehnya.<br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span>Sayangnya, tenaga Raja jauh lebih kuat. Gayatri pun terseret masuk ke kamar Raja. Setelah itu,&nbsp;Raja langsung mengunci kamarnya.<br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span>"Rileks <em>aja</em>, ya," ujar Raja memberikan aba-aba.<br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span>&ldquo;Aku <em>enggak</em>&nbsp;mau,&nbsp;ya,&rdquo; jawab Gayatri.<br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span>Kalimat Gayatri tidak Raja dengar. Raja justru melampiaskan hasratnya. Ia memulainya dengan mencium kening, mengelus pipi Gayatri sampai akhirnya mencium bibir dan lehernya. Gayatri berusaha memberontak, tetapi tidak berdaya. Raja juga menyingkirkan <em>handphone</em>&nbsp;yang sedari tadi dipegang Gayatri. <em>Handphone </em>yang sebenarnya masih tersambung panggilan video dengan Haura sehingga Haura bisa merekamnya untuk dijadikan barang bukti.<br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span>Lama-kelamaan Gayatri meneteskan air matanya. Raja menyadari air mata itu, kemudian mengusapnya dan tetap melanjutkan tindakan tak senonohnya. Tangan Raja mulai meraba anggota tubuh yang lain, melepaskan baju yang dipakainya sembari berusaha melepaskan kardigan yang dikenakan Gayatri.<br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span>Namun, di saat yang bersamaan, tiba-tiba terdengar suara ketukan pada pintu kamar Raja. Awalnya Raja tidak menggubris suara tersebut karena menganggap bukan kamarnya yang diketuk. Akan tetapi, suara ketukannya semakin lama justru semakin kencang. Raja mendengus kesal sebab untuk pertama kalinya ada orang yang mengganggu.<br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span>Ketika pintu terbuka, semua orang kaget. Orang yang berada di luar kamar kaget melihat Raja bertelanjang dada dengan wajah Gayatri yang sembab. Mereka juga melihat tangan Gayatri yang memar. Sementara, Raja dan Gayatri kaget melihat cukup banyak orang di depannya. Mereka melihat ada teman-temannya yang tadi kerja kelompok ditambah teman sejurusan yang lain, pengurus organisasinya Raja, dan beberapa adik tingkat yang &nbsp;satu kosan dengannya. Selain itu, beberapa penghuni kosan juga terlihat mengintip dari balik tirai jendelanya.<br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span>"Gila,&nbsp;ya,&nbsp;<em>lo</em>&nbsp;kagak ada kapoknya <em>nyakitin</em>&nbsp;sahabat <em>gue</em>," kata Haura dengan nada tinggi. Kemudian, ia memberikan jaket untuk Gayatri, juga masuk ke kamar Raja untuk mengambil <em>handphone</em>&nbsp;Gayatri.<br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span>&#8203;"Sekarang <em>udah</em>&nbsp;banyak saksi. Kita putus. Tolong jangan <em>ngancem-ngancem</em>&nbsp;lagi," Gayatri mengucapkan kalimatnya dengan bergetar. Raja hanya menunduk, tidak memberikan respons, tetapi tidak memperlihatkan wajah penyesalan.<br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span>Gayatri didampingi Haura berjalan menuju kamar adik tingkatnya. Sesampainya di sana, tangis Gayatri pecah, sang pemilik kamar langsung memberikan minum dan tisu kemudian meninggalkan keduanya. Sementara, Raja tetap berada di kamarnya lalu mengobrol dengan teman laki-laki sejurusannya dan pengurus organisasi yang dibawahinya. Tangis Gayatri berlangsung cukup lama. Memorinya kembali mengingat berbagai kejadian tak mengenakan yang disesalinya.<br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span>"<em>Ma..ka..sih ya u..dah se..la..me..tin</em>&nbsp;a..ku," ujar Gayatri dengan terbata-bata.<br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span>"Kembali kasih, Tri. <em>Lo</em>&nbsp;hari ini keren, <em>udah</em>&nbsp;berani <em>ngelawan</em>&nbsp;dan <em>gunain</em>&nbsp;strategi. Semoga mantan <em>lo</em>&nbsp;dapet hukuman,&nbsp;deh. Janji sama <em>gue</em><em>,</em>&nbsp;jangan pernah <em>balikan</em>&nbsp;sama tuh cowok," jawab Haura.<br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span>Gayatri hanya mengangguk, "eh tapi menurut <em>lo</em>&nbsp;kejadian ini <em>malu-maluin enggak</em><em>,</em>&nbsp;sih? <em>Gue</em>&nbsp;takut juga kalau videonya <em>kesebar</em>."<br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span>"Percaya <em>deh enggak</em>&nbsp;malu-maluin sama sekali. Kita <em>udah</em>&nbsp;<em>lakuin</em>&nbsp;hal yang <em>bener</em>&nbsp;kok. Masalah video yang jadi senjata Raja, <em>gue</em>&nbsp;yakin kalau <em>udah</em>&nbsp;banyak saksi dia <em>enggak</em>&nbsp;akan berkutik. <em>Gue</em>&nbsp;juga <em>udah</em>&nbsp;minta sama <em>cowo</em><em>k</em><em>-cowo</em><em>k</em>&nbsp;biar video itu dihapus pas mereka mediasi," jawab Haura.<br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span>Keduanya kembali berpelukan. Lalu Gayatri keluar dari kamar itu, sekitar tujuh orang menyambut kedatangan Gayatri.<br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span>"Terima kasih ya,&nbsp;teman-teman sudah mau datang. Maaf mengganggu waktu malam kalian," ujar Gayatri. Perkataannya disambut dengan berpelukan ramai-ramai.<br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span>Salah satu di&nbsp;antara mereka menghampiri Gayatri kemudian mengucapkan. "Kak Gayatri hari ini keren," ujar perempuan itu sambil memberikan selembar <em>sticky notes</em>&nbsp;bertuliskan 'kalau 10 menit <em>enggak</em>&nbsp;keluar, gedor <em>aja please</em>'!<br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span>"Aqila! Kita ketemu lagi! Ternyata kamu baca kode dari aku. Makasih,&nbsp;ya."<br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span>"Iya dari awal rombongan kakak datang buat kerja kelompok aku udah curiga, jadi aku pantau apalagi ada cekcok pas tinggal kalian berdua. Terus pas pintunya ketutup, aku sengaja lewat dan nemuin&nbsp;kertas ini," ungkap Aqila.<br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span>"<em>Okai</em>, makasih, ya. Aku sama temen-temen pamit dulu, ya! Kalian jaga diri dan kesehatan."<br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span>Gayatri, Haura, dan dua teman sejurusannya pergi. Malam ini Gayatri menginap di kosannya Haura.<br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span>Sejak kejadian itu, Raja kehilangan tahtanya. Diberhentikan secara tidak hormat dari posisinya dalam organisasi, mendapat sanksi sosial dari teman-temannya hingga mendapatkan sanksi akademik berupa skorsing. Haura setia menemani Gayatri untuk proses pelaporan ke kampus maupun pergi bersama ke psikolog. Terkait kondisi Gayatri, ia sudah jauh lebih baik setelah mendapatkan perawatan psikologis serta banyaknya dukungan kepadanya. Bahkan, Gayatri kemudian aktif memberikan edukasi melalui media sosial terkait pencegahan maupun penanganan kekerasan.<br />Kisah Gayatri hanya salah satu dari sekian banyak kisah hubungan pacaran yang toksik. Racunnya mungkin tidak terasa karena terlalu mencintai pasangan kita, tetapi memberikan dampak yang sangat besar. Kekerasan bukanlah hal yang bisa dinormalisasi apalagi jika dilakukan oleh pasangan yang berada dekat dengan kita. Jangan takut untuk bersuara, merencanakan strategi, dan melaporkan segala bentuk kekerasan!<br />&nbsp;<br />&nbsp;<br />&nbsp;<br />&nbsp;<strong>***<br />&#8203;</strong><br /><strong>Alya Fathinah</strong>, lahir pada tahun 2001. Sejak kecil senang menulis, meskipun bentuk tulisannya berbeda-beda. Hingga akhirnya berkecimpung menulis dalam bidang jurnalistik dan saat ini sedang menempuh gelar sarjana komunikasi di Universitas Padjajaran, Bandung. Senang mengobrol dan bisa dikontak di <a href="mailto:alyafathinahh@gmail.com"><u>alyafathinahh@gmail.com</u></a>. &nbsp;</div>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Jadi Puan Tidaklah Mudah]]></title><link><![CDATA[https://www.jurnalperempuan.org/cerpenpuisi-feminis/jadi-puan-tidaklah-mudah]]></link><comments><![CDATA[https://www.jurnalperempuan.org/cerpenpuisi-feminis/jadi-puan-tidaklah-mudah#comments]]></comments><pubDate>Tue, 16 Jul 2024 04:23:18 GMT</pubDate><category><![CDATA[Uncategorized]]></category><guid isPermaLink="false">https://www.jurnalperempuan.org/cerpenpuisi-feminis/jadi-puan-tidaklah-mudah</guid><description><![CDATA[Oleh: Paoina Bara Pa&nbsp;Pasanglah telinga! Kata mereka tentang &nbsp;perankuPasanglah mata! Melihat kebenarankuKuyakin, tak sanggup jua kau kerjakanTuduhan itu belenggu ketidakadilan      Para puan, duduk berbagiBangun pagi-pagi menuju dapur, mengerjakan peran politik keluargaMasak, cuci, pikul air, siapkan makan, menyuap,Menemani makan, cari kayu api, bersihkan rumah,Rawat anak-anak, mertua, ipar-ipar, keponakanMencari daun dan makanan ternakSampai diriku lupa kuberi makan dan minumMengejar w [...] ]]></description><content:encoded><![CDATA[<div class="paragraph"><strong>Oleh: Paoina Bara Pa</strong><br />&nbsp;<br />Pasanglah telinga! Kata mereka tentang &nbsp;peranku<br />Pasanglah mata! Melihat kebenaranku<br />Kuyakin, tak sanggup jua kau kerjakan<br />Tuduhan itu belenggu ketidakadilan<br /></div>  <div>  <!--BLOG_SUMMARY_END--></div>  <div class="paragraph">Para puan, duduk berbagi<br />Bangun pagi-pagi menuju dapur, mengerjakan peran politik keluarga<br />Masak, cuci, pikul air, siapkan makan, menyuap,<br />Menemani makan, cari kayu api, bersihkan rumah,<br />Rawat anak-anak, mertua, ipar-ipar, keponakan<br />Mencari daun dan makanan ternak<br /><br />Sampai diriku lupa kuberi makan dan minum<br />Mengejar waktu tuntaskan kerja<br />Siang hari, kembali hal yang sama sampai malam<br />Berputar tugas sehari, bulan dan tahun<br />Melayani tusukan atas nama tugas, tanpa peduli kelelahanku<br /><br />Rasa pahit hatiku&hellip;atas tuduhan, kau kerja apa?<br />Walau sakit, bangun kerjakan tugas dapur lalu tidur lagi, perintahmu<br />Aku lapar dalam sakitku, Aku menangis mengharap layanan<br />Bagi tubuh dan jiwa menahan beban<br />Aku malu dengan tuduhan aku tak ada kerja<br /><br />Saat berbaring dalam sakit<br />Di depan pintu kamar, kau berteriak sudah baik?<br />Merayap ke dapur siapkan makanan orang sehat<br />Mereka makan tanpa menyapaku dalam sakit<br />Menyisakan piring-gelas kotor untukku<br />Lalu pergi entah kemana, tapi dibungkus alasan mencari nafkah<br /><br />Lalu mereka datang dan bertanya, kerja apa saja?<br />&ldquo;Masak baru kau tidur lagi katanya&rdquo;<br />Terlalu kataku, sakit sekali, anggap tak ada harga karyaku<br />Tanganmu melayang mendarati tubuhku berkali-kali<br />Uangmu kau kuasai, menyuruhku kerja di pesta keluarga berhari-hari<br />Atas nama istrimu<br />Selingkuh lagi&hellip;<br /><br />Aku terkuras, terhisap atas nama kerja dan perawat keluarga<br />Aku menangis dalam sunyi<br />Entah bagaimana, aku tidak membalas demi cinta<br />Tiap kau sakit, aku tak beranjak dari tempat tidurmu<br />Membelai, menyuap, memijat, membersihkan tubuhmu<br /><br />Ku tanya diri, mengapa aku tak bisa marah dan membalas?<br />Agama telah mengajariku melayani jauh lebih baik dari dilayani<br />Penjaga tradisi mengamatiku tiap saat<br />Para puan sadari beratnya beban<br />Kristal putih deras mengalir<br />Jadi perempuan tidaklah mudah!<br />Jadi perempuan tidaklah mudah!<br /><br />Dan&hellip;rinduku dalam tanya, sampai kapan kau melakukannya?<br />Sampai kapan pun dia tak paham&hellip;<br />Aku merasa dalam kurungan beban kerja<br />Membenam rindu kapan bisa merdeka?<br /><br />Mengecap kekebasan dengan ketrampilanku<br />Aku memiliki uang, menjadi bos atas ekonomiku<br />Spirit diri mengganggu dengan tanya<br />Kapan kau keluar dari penjaramu?<br />Menderaku dengan rasa sakit dan gila<br />Air mata para puan membasahi wajah lagi<br />Desahan napas legakan hati, di ruang <em>sharing</em>&nbsp;hari ini<br /><br />Aku lanjutkan pendidikan di kampus, tanpa ijin padanya<br />Yang menyerangku dengan kuasanya<br />Nanti kau menginjakku, protes rendah dirinya<br />Dalam kepalan tangan keangkuhan<br />Kulawan, sampai aku menyelesaikan kuliahku<br />Mendapatkan pekerjaan sebagai guru honor<br />Mendayakanku, mengakhiri hubungan dengannya<br />Setuju akan gugatan cerai darinya<br /><br />Aku pun pamit pada penguasa<br />Aku mau jualan di sekolah dasar<br />Menjajakan pangan sehat dan bergizi<br />Merasakan pahitnya suara anak-anak<br />Aku lapar dan haus! Tanpa uang jajan&hellip;.<br />Belas kasih membuat ilmu datangku terkulai<br />Aku berarti dan berharga bagi dunia! Tegasnya<br /><br />Para puan, mengusulkan<br />Pendidikan puan pilihan<br />Mempersiapakan pendidikan setara bagi laki dan perempuan<br />Ruang kelas pribadiku&hellip;<br />Benih keadilan dan kesetaraan<br />Menabur dalam kelas rumah tangga<br /><br />Melawan penjaga kekerasan tidak mudah<br />Mulut mereka berbengkok<br />Mata mereka bersinar aneh<br />Tubuh mereka mogok agar aku menyerah<br />Aku siap berperang dengan para penjaga tradisi<br />Kebenaranku diharga bagi keadilan generasiku<br />&nbsp;&nbsp;<br />&nbsp;***<br />&#8203;<br /><em>Lasiana, 7 November 2023<br />Jam 5:30 WITA, saat masak.</em><br /></div>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Sumi Berangkat di Senja itu]]></title><link><![CDATA[https://www.jurnalperempuan.org/cerpenpuisi-feminis/sumi-berangkat-di-senja-itu]]></link><comments><![CDATA[https://www.jurnalperempuan.org/cerpenpuisi-feminis/sumi-berangkat-di-senja-itu#comments]]></comments><pubDate>Tue, 16 Jul 2024 04:14:34 GMT</pubDate><category><![CDATA[Uncategorized]]></category><guid isPermaLink="false">https://www.jurnalperempuan.org/cerpenpuisi-feminis/sumi-berangkat-di-senja-itu</guid><description><![CDATA[Oleh:&nbsp;Akhiriyati Sundari&nbsp; &nbsp; &nbsp;&ldquo;Akhirnya kriwikan dadi grojogan, Mas,&rdquo; ucapku sembari menerima uluran secangkir kopi tanpa gula buatan suamiku. Sore ini kami menggiring ujung hari dengan berbincang di sisi samping tempat kami tinggal, yang kami fungsikan sebagai beranda. Kendati hanya seluas tiga kali lima meter, suamiku cekatan menata nyaris di semua sisi. Didesainnya sebuah kolam ikan mini yang tidak ada ikannya di sudut tembok pembatas. Tampak hanya ada tiga lemb [...] ]]></description><content:encoded><![CDATA[<div class="paragraph"><strong>Oleh:&nbsp;Akhiriyati Sundari</strong><br /><br /><strong>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</strong>&ldquo;Akhirnya <em>kriwikan dadi grojogan</em>, Mas,&rdquo; ucapku sembari menerima uluran secangkir kopi tanpa gula buatan suamiku. Sore ini kami menggiring ujung hari dengan berbincang di sisi samping tempat kami tinggal, yang kami fungsikan sebagai beranda. Kendati hanya seluas tiga kali lima meter, suamiku cekatan menata nyaris di semua sisi. Didesainnya sebuah kolam ikan mini yang tidak ada ikannya di sudut tembok pembatas. Tampak hanya ada tiga lembar daun dan tangkai bunga teratai yang masih menguncup, mengapung di atas air. Sepoi angin mengembus ke wajahku. Segar.</div>  <div>  <!--BLOG_SUMMARY_END--></div>  <div class="paragraph">&nbsp; &nbsp; &nbsp;&ldquo;Masih soal Sumi?&rdquo; responsnya, sejurus kemudian meletakkan pantatnya duduk di sebelahku. Diletakkannya gawai miliknya di atas meja, usai <em>scroll</em>&nbsp;mengecek progres harian pekerjaannya sebagai seorang desain interior.<br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span>&ldquo;Iya. Apalagi kalau bukan itu?&rdquo; jawabku dengan nada tanya. Kami diam, jeda sejenak. Suamiku menghela napas berat. Nyaris semua tentang Sumi selalu aku kisahkan kepadanya. Sumi, teman sepermainan semasa kecil dulu di kampung. Nama yang di ingatanku hanya tersemat penderitaan di sebagian besar hidupnya kini.<br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span>&ldquo;Apa yang kamu sampaikan ke Sumi?&rdquo; tanya suamiku.<br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span>&ldquo;<em>Ndak</em>&nbsp;ada yang bisa kusampaikan, Mas. Selain harusnya ia berpisah saja dari Topo, suaminya. <em>Wong</em>&nbsp;sekarang malah kian ruwet dan membesar masalahnya. Sumi terlihat bimbang dan kalut. Tapi tidak tahu bagaimana mengatasinya. Ia takut suaminya kembali merundungnya. KDRT," aku bicara dengan rasa prihatin yang buntu.<br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span>Sumi Liem, nama aslinya. Ia warga keturunan. Terlahir dari bapak Cina, ibu Jawa. Kebetulan ia tinggal selisih tiga rumah dengan rumah keluargaku. Kami kerap bermain dan bersekolah bersama-sama. Kulitku yang cenderung legam dan kulitnya yang putih <em>glowing </em>menjadikan kami seperti dua anak yang datang dari dua dunia asing jauh. Sumi mewarisi hampir seratus persen ciri fisik dari bapaknya. Hanya hidung yang mirip ibunya, sedikit lebar dan besar. Anak-anak sekolah kami kadang merundungnya. Mengejek hidungnya yang mirip bongkok pelepah batang kelapa. Sumi kerap melawan. Tak jarang berakhir dengan perkelahian. Meski tubuhnya setipis papan tripleks, saking kerempengnya, kekuatan fisiknya rupanya bertolak belakang. Ia bisa sekuat baja. Karenanya ia selalu menang kelahi, sekalipun melawan anak laki-laki.<br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span>Keluarga Sumi tergolong kalangan <em>the have</em>, demikian kami mengistilahkannya dahulu. Keluarga berpunya. Orang tuanya membuka usaha studio foto dan penyewaan tenda, tarub, meja, kursi, dan alat-alat hajatan. Itungannya terbesar di sebuah kota kecil kabupaten. Tujuh kilometer dari rumah. Sumi anak tunggal. Namun hal itu tidak menjadikannya bak <em>princess</em>, sebagaimana imajinasi tentang Ratu Bidadari yang sering sama-sama kami baca dari majalah <em>Bobo</em>&nbsp;langganannya. Sumi satu-satunya anak yang langganan majalah itu. Orangtuanya lebih dari mampu untuk hanya sekadar membayar langganan majalah anak-anak termahal kala itu. Aku beruntung bisa <em>nebeng</em>, menuntaskan dahagaku membaca. Lebih tepatnya, takjub dengan gambar-gambar bagus di majalah itu.<br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span>Segala kebutuhan Sumi tercukupi. Sangat tercukupi dibandingkan dengan keluarga-keluarga lain di kampung kami. Ditambah lagi eyang Sumi yang tinggal satu rumah dengannya, adalah orang terpandang di kampung kami. Tanah sawah dan tegalannya banyak. Eyang Sumi menjabat lurah di desa kami. Tanah <em>bengkok</em>-nya sangat menjanjikan. Lantaran sifat dermawannya, eyang Sumi sangat dihormati dan disegani seluruh warga. Nyaris tidak ada yang kurang dari masa kecilnya. Kami berpisah ketika orangtua Sumi pindah ke Ibu Kota. Membuka bisnis di sana. Sumi diajaknya serta dan memulai sekolah SMP di sana.<br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span>Aku kehilangan sahabat riang dan baik hati seperti Sumi sejak saat itu. Meski setahun sekali Sumi pasti mudik saat Lebaran, kami tidak pernah leluasa bermain sama-sama karena tradisi Lebaran di keluarga terpandang eyang Sumi selalu saja padat. Selalu ada acara besar yang membuat Sumi harus terlibat di dalamnya. Kepergianku merantau ke lain provinsi selepas SMA dan jarang pulang, turut andil dalam membuat kami tidak pernah bisa bersua.<br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span>&ldquo;Hati-hati berbicara soal ini dengannya, Dik. Keprihatinan kita pada kondisi Sumi sewajarnya saja. Karena ini sudah urusan pribadi ia dan keluarganya,&rdquo; ucap suamiku membuyarkan jalan-jalannya ingatanku.<br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span>&ldquo;Ya tapi tetap saja Sumi harus dibantu, Mas. Dia tidak ada siapa-siapa sekarang. Hanya aku yang dianggapnya bisa menjadi <em>support system</em>-nya,&rdquo; sanggahku.<br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span>&ldquo;Benar, aku mengingatkan saja kalau-kalau kamu lupa. Masalah begini kan hampir selalu ada di seluruh keluarga di Indonesia,&rdquo; sahut suamiku cepat.<br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span>&ldquo;<em>Masalah keluarga Indonesia,</em>&rdquo; kami berucap serempak bersamaan. Ya, kami sering mengatakan kalimat itu setiap kali membahas peliknya persoalan keluarga di mana-mana. Tapi aku merasa kelu. Masalah Sumi terasa sangat serius lantaran ia sahabat baikku. Aku turut merasakan kepahitan yang ia alami. Jika dulu raut wajah Sumi putih <em>glowing</em>&nbsp;cantik khas warga keturunan, maka kini wajahnya putih pucat seperti mayat.<br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span>Suamiku diam. Biasanya ia akan begitu ketika perbincangan di antara kami kehabisan kalimat. Ia tahu aku reaksioner jika sudah menyangkut sahabatku itu. Ia sengaja membiarkan aku rusuh dengan pikiranku sendiri.<br />&nbsp;<br /><strong>MEI 1998</strong><br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span>Langit hitam menudungi Ibu Kota kala itu, awal dari penderitaan hidup Sumi. Sekurangnya demikian yang aku dengar tentang Sumi di kemudian hari. Keluarga Sumi porak-poranda. Kedua Orang Tuanya hangus terbakar saat api menyulut di bangunan rumah sekaligus pertokoan di mana mereka tinggal. Sumi diseret oleh orang-orang yang tak dikenalnya. Sumpah serapah dan caci maki lantaran matanya yang sipit menghujani telinganya. Sumi yang kukenal punya fisik sekuat baja, kala itu lunglai dalam kepungan massa. Tubuhnya koyak oleh hantaman fisik yang tak sanggup aku ceritakan. Ia ditemukan beberapa hari setelahnya di rumah sakit. Konon kawan-kawan aktivis di kampusnya berhasil menolongnya.<br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span>Namun sejak saat itu hidup Sumi <em>suwung</em>, lahir batinnya telah koyak. Ia menanggung luka sangat dalam dari sesuatu yang tidak pernah ia mengerti. Gejolak sosial yang hanya ia kenal lewat teori-teori ilmu sosial di bangku kuliahnya, tidak dinyana menghampiri hidupnya dan menghabisi tanpa ampun. Sumi dijemput pulang oleh keluarga eyangnya. Pulang ke kampungku dalam kondisi mental hancur dan depresi berat.<br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span>Beberapa waktu kemudian Sumi berbadan dua. Tragedi Mei itu ternyata membuat perutnya bunting. Tanpa tahu sesiapa dan bagaimana. Hanya ingat bahwa ada banyak laki-laki laknat dan durjana. Kengerian yang nyaris membuatnya gila. Keluarga eyang Sumi lalu menikahkannya dengan laki-laki yang dipilih dan dipaksa. Ada berkat atas imbalan materi sebagai syarat. Tentu saja si laki-laki yang kebetulan anak dari asisten rumah tangga keluarga eyang Sumi itu mau menikahi Sumi. Ia kaya mendadak sejak saat itu. Entah apa yang sedang coba diselamatkan oleh keluarga eyang Sumi terhadapnya. Nasib Sumi atau rasa malu dan kehormatan keluarga besar kepala desa.<br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span>Aku ingat, waktu itu aku berbicara di telepon dengan ibuku. Mengalirlah kisah itu dari mulut ibuku. Sumi dibawa pergi suaminya ke kota yang sama dengan kota di mana aku merantau bekerja. Berbekal harta dari eyang Sumi, sepasang pengantin paksa itu menanam kehidupan barunya. Tidak begitu menemui kesulitan selain merawat Sumi dalam kondisi depresi dan hamil. Mertua Sumi turut serta khusus untuknya. Suami Sumi tidak bekerja. Dukungan keuangan yang banyak itu membuatnya merasa aman. Termasuk mengamankan dirinya dari tanggung jawab atas Sumi yang dipasrahkan kepadanya. Suami Sumi menganggur. Lalu mata rantai kesengsaraaan Sumi itu benar-benar tidak bisa terputus.<br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span>Aku baru mengetahui saat aku pulang kampung, saat pernikahanku dihelat. Eyang Sumi meninggal sepekan sebelum hari pernikahanku. Rupanya &nbsp;&ldquo;<em>masalah keluarga Indonesia</em>&rdquo; itu berdengung riuh di antara para <em>perewangan</em>. Tak hanya didominasi oleh ibu-ibu di dapur, sekelompok kecil bapak-bapak yang menjaga <em>patehan</em>&nbsp;pun tak sepi dari bergosip. Semua mengarah ke peristiwa yang terjadi di keluarga eyang Sumi.<br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span>Keluarga eyang Sumi diguncang prahara karena persoalan warisan sepeninggal eyang Kepala Desa. Kerabat dekat kian merapat dan kerabat jauh kian mendekat. Semua sulit bersepakat. Ujungnya saling berebut. Tentu saja Sumi tidak kebagian. Orang-orang tidak peduli. Hanya mengingat bahwa Sumi membawa penyakit kejiwaan. Namun waktu itu justru aku lihat Sumi sudah tampak sehat. Dia datang menghadiri pernikahanku. Kami bahkan sempat berbincang cukup lama, hingga membuat janji untuk bertemu. Aku dan suamiku kebetulan tinggal tidak jauh dari rumahnya, di kota yang sama.<br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span>&ldquo;Aku sekarang bekerja di pabrik tekstil, Wigid. Libur hanya hari Minggu dan hari besar,&rdquo; Sumi membuka percakapan denganku saat aku bertandang ke rumahnya. Sebulan sesudah aku menikah. Sejujurnya aku tercengang melihat pemandangan di depanku. Sumi tinggal di sebuah rumah petak. Katanya mengontrak. Bukan rumah milik sendiri.<br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span>&ldquo;Suamimu?&rdquo; tanyaku bermaksud ingin tahu pekerjaan suaminya.<br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span>&ldquo;Mas Topo tidak bekerja. Kalau kutanya pasti langsung marah dan memakiku,&rdquo; wajahnya berubah suram. &ldquo;Dia membenciku. Katanya akulah yang menyebabkannya sengsara karena harus menikahiku.&rdquo;<br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span>&ldquo;Kenapa bisa begitu? Bukannya Topo sudah mendapatkan harta karena menikahimu?&rdquo; Aku menyela, tak paham. Aku mengenal Topo, suaminya. Dia dulu kakak kelas, dua tingkat di atas kami semasa di SD. Dia juga yang dulu pernah kena bogem mentah Sumi karena mengejek hidungnya yang seperti bongkok pelepah kelapa.<br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span>&ldquo;Ya &lsquo;kan karena dulu ada eyang. Semua dibiayai sama eyang. Sekarang eyang sudah <em>ndak</em>&nbsp;ada. Kami <em>ndak</em>&nbsp;punya apa-apa lagi. Yang ada selama ini hanya buat kesenangannya bermain judi di rumah pak Joko. Seharian juga dia betah di sana."<br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span>&ldquo;Ya tapi kalau membencimu bagaimana bisa kamu sampai punya anak lagi sama dia?&rdquo; Aku nyerocos bertanya wagu, teringat dia punya dua anak dari suaminya itu. Di depanku ini bahkan terlihat perut Sumi yang sedang membesar, hamil lagi. Sumi bersungut kesal ke arahku. Kutepok jidatku sendiri. Bodoh. Pertanyaanku dungu.<br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span>&ldquo;Awalnya dia baik padaku, Wigid. Dia dulu bilang suka padaku. Jadi aku juga mulai suka padanya. Aku lupa ber-KB. Makanya aku bunting,&rdquo; jawab Sumi. Keningku datar. Kugerakkan kedua bibirku ke dalam. Miris. Topo pasti tidak peduli soal alat kontrasepsi. Tapi bagaimana dengan biaya hidup mereka?<br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span>&ldquo;Kata mas Topo aku sudah jatuh miskin. Tidak ada yang bisa diharapkan dari keluargaku. Jadi aku harus bekerja sendiri untuk membiayai hidup. Aku tidak bisa menyuruhnya bekerja. Dia selalu mengungkit-ungkit masa lalu itu. Sakit banget rasanya, Gid,&rdquo; isak Sumi terdengar sepanjang ia bercerita. Sumi jadi pencari nafkah tunggal dengan bekerja di pabrik seharian. Ketiga anaknya ditinggal di kontrakan bersama suaminya. Entah, aku tidak sanggup membayangkan mengingat bagaimana perangai Topo. Apa mungkin dia bisa menjaga anak-anaknya ketika Sumi tidak ada karena pergi bekerja?<br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span>Begitulah. Sumi kerap menceritakan dirinya kepadaku. Semua situasi sulitnya. Aku mendengarnya, namun aku merasa tidak berdaya karena tidak bisa membantunya. Bulan-bulan berikutnya aku mulai jarang bercakap dengannya. Aku mulai disibukkan dengan kehadiran bayi mungil pertamaku.<br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span>Aku bersyukur suamiku sigap dan cekatan. Aku hanya perlu mengurus bayi kami saja. Seluruh pekerjaan rumah dia yang selesaikan, termasuk memasak dan mengurus pakaian. Pekerjaanku sudah lama aku tinggalkan sejak menikah. Praktis aku hanya di rumah. Sambil mencoba usaha kecil-kecilan dengan berjualan <em>online</em>.<br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span>Sesekali Sumi masih berkabar padaku lewat pesan singkat. Biasanya hanya mengabarkan jika kondisi anak-anaknya sehat. Ia tidak lagi bercerita tentang dirinya dan segala macam kesulitannya. Aku juga tidak menanyakan. Aku hanya menduga barangkali hidupnya telah berubah membaik. Sampai kemudian saat anakku sudah masuk usia sekolah pertamanya di TK, aku terkejut mendapati hal lain. Ketika itu aku tengah mengantar-jemput anakku. Rupanya kepala sekolah TK anakku selama ini tinggal di satu gang yang sama dengan Sumi. Dari Bu Kepala Sekolah aku jadi tahu bagaimana kondisi Sumi.<br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span>Tidak ada yang berubah membaik. Aku tidak menyangka sekian lama itu Sumi bertahan. Namun aku jadi tidak tahan. Kutemui Sumi di rumahnya. Dia tampak semakin kurus dan tirus. Rumah kontrakannya masih sama. Tidak terurus rapi dan kumuh. Aku menghela napas.<br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span>&ldquo;Kamu nggak cerita ke aku, Sum?&rdquo; suaraku serak mendapati kondisi Sumi sore itu. Dia dengan lemah sedang sibuk di dapur membuatkan bubur untuk anaknya. Anak pertamanya terbaring sakit. Kata Sumi sudah seminggu tidak sekolah. Dua anaknya yang lain sedang bermain di sekitar rumah. Anak terakhir Sumi mengalami <em>down syndrome</em>&nbsp;dan meninggal tak lama setelah dilahirkan. Aku menangis dalam hati. Rumah Sumi terasa sunyi. Terasa sepi.<br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span>&ldquo;Suamimu di mana?&rdquo; tanyaku.<br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span>&ldquo;Mas Topo pulang ke kampung. Sudah &nbsp;dua bulan ini. Katanya disuruh bantu saudaranya yang mandor proyek, ada perbaikan jalan di kecamatan sebelah. Tapi kata ibu mertuaku mas Topo <em>ndak</em>&nbsp;pernah kelihatan ada di kampung.&rdquo;<br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span>&ldquo;Lha? Berarti suamimu menghilang? Terus anak-anakmu sama siapa kalau kamu tinggal ke pabrik?&rdquo;<br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span>&ldquo;Aku sudah tidak bekerja di pabrik lagi. Aku sekarang ikut kerja di katering Bu Suprih, di mulut gang depan yang kamu lewati tadi kalau ke sini. Sebelahan sama rumah Bu Kepala Sekolah TK anakmu. Jadi anakku bisa tetap di rumah sambil kuawasi. Masih tertangani kok," wajah suram Sumi tidak bisa disembunyikan. Begitu pula warnanya yang putih pucat.<br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span>&ldquo;Kamu tidak bercerai saja, Sum? Topo itu hanya menambahi berat beban hidupmu. Bahkan bisa membuatmu sulit lagi kalau sewaktu-waktu dia kembali datang,&rdquo; aku berucap sambil geleng-geleng kepala. Ikut kesal dengan ulah suami Sumi. Di saat itulah Sumi mengatakan kalau ia tidak bisa mengandalkan siapa-siapa. Ia merasa hidup sendiri tanpa suami dan keluarga.<br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span>&ldquo;Aku pernah menyampaikan itu ke mas Topo. Karena aku sudah tidak kuat. Kalau saja waktu itu tidak ditolong oleh tetangga, mungkin aku sudah mati karena dihajar sama mas Topo. Anak-anak menjerit melihatku berdarah.&rdquo;<br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span>&ldquo;Sum, memangnya kenapa sampai Topo kasar begitu?&rdquo; Aku semakin emosional.<br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span>&#8203;&ldquo;Mas Topo marah. Lalu mengungkit-ungkit lagi masa lalu. Dia sepertinya dendam karena aku tidak mendapat warisan dari eyangku. Dia pernah bilang mau merebutnya dari pakde, bude, dan kerabatku. Kata ibu mertuaku, mereka sempat berantem hebat di kampung.&rdquo; Sorot mata Sumi redup.<br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span>&ldquo;Aku minta, Sum. Tolong kamu cerita ke aku kalau ada apa-apa, siapa tahu aku bisa bantu,&rdquo; desakku. &ldquo;Badan tinggal tulang sama kulit begini, bisa-bisanya kamu bertahan dan diam saja."<br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span>&ldquo;Wigid, rasa-rasanya aku sudah tidak sanggup berpikir apa-apa lagi. Bisaku ya hanya kerja dan kerja, juga ngurus anak-anak. Aku bahkan lupa kalau ada kamu,&rdquo; bibir Sumi bergetar ketika mengucap kalimat terakhir. Aku memeluknya. Sumi terisak tanpa suara.<br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span>Sore itu aku pulang dengan hati yang kuyu. Aku terus saja bercerita di depan suamiku. Tentang Sumi sahabatku. Tentang suaminya yang tidak peduli. Meninggalkan Sumi dan anak-anaknya dalam kondisi lemah. Juga diam-diam aku mengutuki diriku sendiri. Mengapa bisa &lsquo;kecolongan&rsquo; tidak tahu dengan nasib Sumi, dan tanpa aku bisa membantunya.<br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span>Sumi Liem adalah sahabat baikku. Dia tidak pernah marah. Cenderung pendiam tapi lembut. Aku tidak pernah bertanya satu kali pun atau mengungkit cerita tentang Mei 1998 yang membalik takdir hidupnya. Dari anak tunggal keluarga kaya dan berpendidikan tinggi, berbalik nol derajat menjadi sangat lemah dan miskin seperti sekarang. Ia harus banting tulang sendirian menghidupi diri dan anak-anaknya tanpa bantuan suami. Tanpa mengeluh, setidaknya di hadapanku.<br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span>Suamiku paham aku mudah sedih. Mudah terbawa perasaan. Direngkuhnya aku. Ditenangkan. &ldquo;Mas, katanya sesama perempuan harus <em>support</em>&nbsp;perempuan. Tapi aku bingung, aku merasa tidak mampu membantu Sumi. Kupikir Sumi baik-baik saja hanya karena dia tidak pernah bercerita lagi padaku tentang dirinya. Kupikir selama ini Sumi hanya fokus bekerja di pabrik. Arrghh&hellip;ternyata...&rdquo; suaraku isakku parau, terbenam di dekapannya. Entah mengapa aku merasa sangat pilu. Suamiku membaca pesan singkat di hapeku yang kusodorkan padanya. Pesan singkat dari bu Kepala Sekolah TK anakku. Mengabarkan bahwa Sumi baru saja ditemukan tewas di rumah kontrakan bersama anak-anaknya. Ada botol dan cairan mencurigakan di dekat mayat mereka.<br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span>Anakku tiba-tiba masuk ke kamar kami, kaget melihat kami berpelukan tidak biasa. Lebih-lebih melihatku berlinang air mata.<br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span>&ldquo;Ibu kenapa menangis?&rdquo; teriaknya.<br />&nbsp;<br />*****<br />&nbsp;<br /><em>kriwikan dadi grojogan</em>: sesuatu yang semula kecil menjadi besar.<br /><em>Perewangan</em>: sebutan untuk orang-orang yang membantu suatu hajatan di kampung<br /><em>Patehan</em>: sebutan untuk divisi konsumsi makan dan minum dalam suatu hajatan<br />&nbsp;<br />&nbsp;<br />&nbsp;<strong>BIODATA PENULIS</strong><br /><br />Akhiriyati Sundari adalah seorang guru dan kepala kerpustakaan di &ldquo;K.H. Asyhari Marzuqi&rdquo; Madrasah Aliyah Nurul Ummah (MANU) Kotagede, Yogyakarta. Pernah menulis cerpen yang dimuat di <em>Jurnal Perempuan</em>&nbsp;edisi 90. Berkhidmah di PW Fatayat NU DIY. Tinggal di Gejayan CT X Depok Sleman Yogyakarta. Bisa dihubungi di <em>andarindari@gmail.com</em></div>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Berjalanlah Terbanglah]]></title><link><![CDATA[https://www.jurnalperempuan.org/cerpenpuisi-feminis/berjalanlah-terbanglah]]></link><comments><![CDATA[https://www.jurnalperempuan.org/cerpenpuisi-feminis/berjalanlah-terbanglah#comments]]></comments><pubDate>Thu, 02 Nov 2023 03:50:10 GMT</pubDate><category><![CDATA[Uncategorized]]></category><guid isPermaLink="false">https://www.jurnalperempuan.org/cerpenpuisi-feminis/berjalanlah-terbanglah</guid><description><![CDATA[Oleh: Dewi NovaBerjalanlahkakimu bumitempat segala akar saling bertautmerawat batangmemanggil burung menabur benih      biar patriarki merantaimudunia meragukanmulelaki membuaimu&nbsp;Berjalanlahyang maha pembuat telah memberi tandadi rahimmudi ovarimudi uterusmu&nbsp;Berjalanlahterus berjalanterlibat menata norma dan hukum-hukumdalam arahan plasentadetak yang maha rahimdan suara-suara yang dibungkam&nbsp;Terbanglahsayapmu udaratempat setiap yang dimusnahkan kembali hidup&nbsp;biar para bapak me [...] ]]></description><content:encoded><![CDATA[<div class="paragraph"><strong>Oleh: Dewi Nova</strong><br /><br />Berjalanlah<br />kakimu bumi<br />tempat segala akar saling bertaut<br />merawat batang<br />memanggil burung menabur benih<br /></div>  <div>  <!--BLOG_SUMMARY_END--></div>  <div class="paragraph">biar patriarki merantaimu<br />dunia meragukanmu<br />lelaki membuaimu<br />&nbsp;<br />Berjalanlah<br />yang maha pembuat telah memberi tanda<br />di rahimmu<br />di ovarimu<br />di uterusmu<br />&nbsp;<br />Berjalanlah<br />terus berjalan<br />terlibat menata norma dan hukum-hukum<br />dalam arahan plasenta<br />detak yang maha rahim<br />dan suara-suara yang dibungkam<br />&nbsp;<br />Terbanglah<br />sayapmu udara<br />tempat setiap yang dimusnahkan kembali hidup<br />&nbsp;<br />biar para bapak menaklukanmu<br />hukum-hukum mengkerangkengmu<br />kitab-kitab menjinakanmu<br />&nbsp;<br />Terbanglah<br />melampaui harapan dan kontruksi<br />warnai langit dengan norma rahim<br />yang bersetia pada kehidupan dan menghidupkan<br />teduhkan langit dengan hukum-hukum uterus<br />yang memberi jalan pada keterhubungan dan kelestarian ciptaan<br />&nbsp;<br />Berjalanlah, terbanglah<br />merasuklah<br />pada hukum-hukum di atas ranjang<br />pada norma-norma di khalayak<br />pada peraturan-peraturan negara<br />&nbsp;<br />menyihir yang hierarki menjadi sejajar<br />menyulap jalan bapak menjadi jalan setiap<br />mengubah yang <em>privilege </em>menjadi kesejahteraan bersama<br />&nbsp;<br />Berjalanlah, terbanglah<br />di kamar-kamar percintaan<br />di ruang-ruang keluarga<br />di rumah-rumah perwakilan rakyat<br />di badan-badan negara<br />mengubah penyingkiran, pemusnahan, menjadi rahim bersama<br />mengelupas otoritas tunggal menjadi tunas napas kolektif<br />mengikis penguasa menjadi kuasa bersama<br />&nbsp;<br />Berjalanlah<br />Terbanglah<br />&nbsp;<br />&nbsp;<br /><em>Pamulang, 25 Juli 2023</em><br />&nbsp;<br /><br />&#8203;<br /><strong>TENTANG PENULIS</strong>&nbsp;<br /><br /><strong>Dewi Nova</strong>, bukunya antara lain <em>Burung Burung Bersayap Air, Perempuan Kopi, Akses Perempuan pada Keadilan</em>&nbsp;dan &nbsp;<em>Mengkreasi Bisnis yang Produktif dan Inklusif Keragaman Seksual. </em>Puisi, cerpen, liputan, dan esai sosial Dewi tersebar di media <em>online</em>. Dewi dapat dihubungi melalui <a href="mailto:dewinova.wahyuni@gmail.com"><u>dewinova.wahyuni@gmail.com</u></a>.<br />&nbsp;<br /></div>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Suri dan Rumah untuk Pulang]]></title><link><![CDATA[https://www.jurnalperempuan.org/cerpenpuisi-feminis/suri-dan-rumah-untuk-pulang]]></link><comments><![CDATA[https://www.jurnalperempuan.org/cerpenpuisi-feminis/suri-dan-rumah-untuk-pulang#comments]]></comments><pubDate>Thu, 02 Nov 2023 03:44:43 GMT</pubDate><category><![CDATA[Uncategorized]]></category><guid isPermaLink="false">https://www.jurnalperempuan.org/cerpenpuisi-feminis/suri-dan-rumah-untuk-pulang</guid><description><![CDATA[Oleh: Esty Pratiwi Lubarman&nbsp; &nbsp; &nbsp;Aku tidak mengenal nama Marry Wollstonecraft dalam sejarah bisu yang menuangkan secangkir keuntungan untuk perempuan kulit putih. Tapi, barangkali pernah tiba nama Drupadi yang setia dan menderita di tubuh mbokku yang tidak sempat membaca. Pernah kubisikkan teluh Calon Arang yang kepalanya dibakar akibat menjaga rahimnya. Pernah sekali, harus ku&nbsp;cangkul tubuhku untuk menemukan yang tersisa dari nestapa ketika kelahiran kami dirayakan dengan man [...] ]]></description><content:encoded><![CDATA[<div class="paragraph" style="text-align:left;"><br /><strong>Oleh: Esty Pratiwi Lubarman</strong><br /><br />&nbsp; &nbsp; &nbsp;Aku tidak mengenal nama Marry Wollstonecraft dalam sejarah bisu yang menuangkan secangkir keuntungan untuk perempuan kulit putih. Tapi, barangkali pernah tiba nama Drupadi yang setia dan menderita di tubuh mbokku yang tidak sempat membaca. Pernah kubisikkan teluh Calon Arang yang kepalanya dibakar akibat menjaga rahimnya. Pernah sekali, harus ku&nbsp;cangkul tubuhku untuk menemukan yang tersisa dari nestapa ketika kelahiran kami dirayakan dengan mantra dan air mata.<br /></div>  <div>  <!--BLOG_SUMMARY_END--></div>  <div class="paragraph"><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span><span>Di sini semua orang memindahkan peradaban, seolah memilih rumah baru dan meninggalkan yang usang. Padahal barangkali kekuasaan pecah di kening kami. Ini bukan sekadar nasib yang sering&nbsp;kali membawa kami bermimpi bahwa selalu ada hari besok untuk kehidupan yang lebih baik. Bukan! Wacana pemindahan ibu kota Indonesia, sudah sampai di seluruh pintu rumah kami.</span><br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span><span>Sepaku, Kalimantan Timur. Di sinilah aku lahir, tempat di mana aku belajar memahami situasi kami yang cukup terbelakang. Ketika aku kuliah dan mengharuskan ke kota, aku melihat banyak kesenjangan yang terjadi. Aku mengulik dan mempelajarinya, satu hal yang sangat mengusikku adalah ketimpangan peran perempuan di ranah sosial. Hal ini membawaku untuk merefleksi beberapa hal yang terjadi dalam hidupku. Mengapa banyak anak-anak perempuan seusiaku yang tinggal di daerahku banyak memutuskan menikah di usia yang relatif muda? Mengapa aku terus menerus melihat mamak dan mbokku mengurus hal-hal domestik ketika mereka bahkan baru saja pulang membantu mengurus lahan sawah milik kami? Sementara, aku melihat banyak anak laki-laki selalu diajarkan membuat alat produksi atau bahkan mereka dipaksa bekerja di luar rumah.</span><br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span><span>Sepanjang aku tinggal di sini, perkelahian di rumah tetanggaku menjadi hal biasa yang kami dengar. Atau bahkan tangisan anak-anak mereka yang ketakutan akibat melihat perkelahian itu. Hal lainnya yang sering&nbsp;kali menjadi gosip-gosip di lingkunganku ialah kehamilan tidak terencana yang dialami anak-anak gadis mereka.</span><br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span><span>Aku melihat wajah-wajah politik di pohon, di tiang listrik, dan di kayu yang tegak pada pinggir selokan. Aku melihat potret perempuan hanya sebagai pendukung di spanduk yang mereka tampilkan. Sementara, banyak gelisah yang berserakan di pundak para petani, anak-anak, dan mbokku. Kedatangan mereka sama dengan mesin penghacur hutan, aku tidak mengerti bekas luka apalagi yang akan tertinggal.</span><br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span><span>Situasi ini membuatku jengah, sejak kuliah aku mulai memikirkan bagaimana aku bisa memberikan pendidikan gratis untuk perempuan-perempuan di sini. Tentu ini juga sebagai salah satu cara menghilangkan rasa jenuh serta membangun kesadaran mereka. Banyak cara yang aku coba lakukan untuk bisa merealisasikan mimpiku. Setidaknya memberikan kebebasan perempuan untuk bisa memilih yang mereka senangi. Aku hanya sebagian kecil individu yang beruntung di tengah kondisi masyarakat yang sangat kesulitan.</span><br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span><span>Ketika lulus kuliah aku memutuskan kembali ke rumah yang selalu menungguku untuk pulang. Aku membangun les-lesan gratis untuk siapa&nbsp;pun, tidak terhalang oleh usia. Khususnya memberikan kesempatan bagi anak-anak dan perempuan. Banyak cara yang aku lakukan agar mereka tertarik dengan yang aku suguhkan. Aku sering&nbsp;kali memanggil tetangga-tetanggaku untuk sekadar masak-masak di rumah mbokku. Ya, setelah orang tuaku meninggal akibat penyakit yang menjadi momok di negeri ini, aku harus tinggal bersama mbokku. Aku membantu dia mengurus beberapa lahan peninggalan bapak dan memanfaatkannya sebagai sumber ekonomi kami.</span><br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span><span>&ldquo;Mbak Suri,&rdquo; ketika aku sedang asyik menuliskan soal untuk mereka membaca, kami kedatangan tamu.</span><br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span><span>&ldquo;Iya, Pak.&rdquo;</span><br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span><span>&ldquo;Bisa bicara sebentar?&rdquo;</span><br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span><span>Sudah kupastikan ini bukan orang-orang yang tinggal di daerah sini. Pakaiannya sangat rapi, aku tidak mengenali satu&nbsp;pun dari mereka.</span><br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span><span>&ldquo;Oh, bisa Pak.&rdquo; aku lekas menghampiri mereka dan mengajak mereka ke ruang tamu. Kebetulan mbok tidak ada di rumah dan aku sedikit kebingungan ada maksud apa orang-orang ini.</span><br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span><span>Perkenalan singkat mereka semakin membuatku kebingungan dan resah. Mereka adalah salah satu orang partai yang sering&nbsp;kali aku lihat balihonya di pinggir jalan. Aku seperti tahu pada akhirnya apa yang mereka inginkan. Akan tetapi ada perkataan yang cukup membuatku harus berpikir keras.</span><br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span><span>&ldquo;Kami mengetahui informasi tentang Mbak Suri dari Ketua RT, kebetulan kami sedang menawarkan masyarakat yang ingin terlibat dalam pemilihan umum sebentar lagi. Nah, kebetulan infonya juga Mbak ini sudah sarjana dan memang sangat berkontribusi di masyarakat ya. Mungkin salah satunya yang di depan tadi ya, Mbak, les-lesan. Memberikan wadah edukasi untuk masyarakat. Itu bagus sekali loh, Mbak.&rdquo;</span><br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span><span>&#8203;&ldquo;Kami ingin ada keterlibatan anak muda dan juga perempuan untuk dapat menyampaikan aspirasinya. Ya, tentu saja buat kemajuan kita bersama. Barangkali juga Mbak bisa mendorong masyarakat di sini supaya bisa ikut memilih dan terlibat dalam pemilihan umum nanti. Ya, karena tampaknya Mbak mampu melihat dari apa yang Mbak lakukan.&rdquo;</span><br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span><span>Sudah kupastikan ini persoalan politik! Sebenarnya ini yang kuhindari sejak saat kuliah. Tapi, ini soal peluang untuk bisa merealisasikan cita-citaku juga. Tapi, aku khawatir jika nantinya harus meninggalkan mbok dan rumahku.</span><br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span><span>&ldquo;Assalamualaikum,&rdquo; mbok sudah pulang dari pasar. Ia terlihat heran karena rumah kami jarang sekali kedatangan tamu kecuali ketika aku sedang mengumpulkan tetangga-tetangga untuk belajar.</span><br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span><span>Mbok tidak banyak berbicara dengan orang-orang ini. Ia memutuskan untuk ke dapur karena ia pikir mereka adalah tamuku dari kota. Aku kembali&nbsp;</span><em>ngobrol</em><span>&nbsp;dengan orang-orang ini. Aku tidak ingin terburu-buru untuk mengambil keputusan. Aku mengatakan mereka untuk bisa bertemu dua hari lagi.</span><br /><br /><span>***</span><br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span><span>&ldquo;Mbok, kalo Suri gak tinggal di rumah ini lagi gimana?&rdquo; aku bertanya dengan kekhawatiran yang menumpuk di keningku.</span><br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span><span>&ldquo;Loh, Suri mau pergi ke&nbsp;mana memangnya?&rdquo; ia menatap wajahku dan berhenti melipat pakaiannya.</span><br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span><span>&ldquo;Hmm, itu Mbok. Orang-orang yang kemarin ke sini. Dia nawarin kerjaan,&rdquo;aku bingung menjelaskan tawaran kemarin ke mbok seperti apa. Aku menyadari, dahulu ia tidak memiliki kesempatan yang sama untuk bisa mengenyam pendidikan seperti aku. Tapi&hellip;</span><br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span><span>&ldquo;Ya, ya. Mbok ada dengar kemarin dari dapur. Walaupun Mbok juga tidak banyak mengerti, tapi ku&nbsp;pikir ini kesempatanmu, Sur. Masih muda dan masih banyak jalan yang harus kamu lalui. Kalau memang niatmu baik, insya Allah gak ada yang bisa halangin kamu, Sur.&rdquo;</span><br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span><span>&ldquo;Mbok ini gak bisa baca tulis, Sur. Tapi Mbok bangga punya cucu yang pinter.&rdquo;</span><br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span><span>Aku mengelus tangannya, kurasakan kulitnya yang tua. Tapi aku masih merasakan semangat di wajahnya yang tidak pernah meninggalkan senyumnya sendiri.</span><br /><br /><span>***</span><br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span><span>Alam membawa kami menjadi individu yang kuat dan pemberani. Karena ia membawa kami pada ketenangan dan kenyamanan yang lain. Aku merasa ini adalah rumah, bukan sekadar bangunan tapi tempat aku merasa aman. Ini juga yang menguatkan aku untuk bisa membangun rumahku agar lebih baik lagi, agar kita bisa benar-benar mendapatkan hak yang adil sebagai manusia.</span><br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span><span>&ldquo;Untuk tawaran yang kemarin sepertinya saya belum bisa untuk terlibat dalam kerja-kerja partai. Tapi, saya punya tawaran yang lain, Pak.&rdquo; Aku tidak ingin ini terkesan sebagai permintaan agar kebebasan atas hak suara yang kugunakan pada pemilihan umum nanti diambil. Tapi aku ingin masyarakat di sini lebih sejahtera dan setara!</span><br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span><span>&ldquo;Hmm, apa itu, Mbak Suri?&rdquo;</span><br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span><span>&ldquo;Ya, walaupun saya tahu memang Bapak berasal dari satu partai. Tapi, saya ingin sekali barangkali Bapak atau teman-teman Bapak nantinya bisa memberikan pendidikan politik untuk masyarakat di sini. Ya, tujuannya agar masyarakat bisa sadar untuk pentingnya terlibat dalam pemilihan umum.&rdquo;</span><br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span><span>&ldquo;Yah, saya paham orang seperti Bapak ini lebih kompeten untuk bisa menyampaikan itu ketimbang saya yang hanya lulusan S1. Nanti biar saya bantu kumpulkan masyarakat di sini."</span><br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span><span>Ini adalah langkah taktisku agar bisa memajukan lingkunganku, aku meyakini dimulai dari pendidikan. Keterlibatan masyarakat penting untuk bisa menghadirkan bangsa yang memiliki ideologi kuat. Mungkin banyak hal yang akan kuhadapi kedepannya, tapi setidaknya aku memulai.</span><br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span><span>&ldquo;Itu tawaran menarik, Mbak Suri, nanti saya akan sampaikan dahulu ke teman-teman saya.&rdquo;</span><br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span><span>Aku tersenyum kecil. Ini adalah awal tapi aku sudah melakukan langkah yang baik untuk bisa melepaskan nasib yang nestapa tentang perempuan!</span><br /><br /><span>***</span><br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span><span>Hari berlalu, aku melihat cuaca tidak menentu. Katanya sedang terjadi perubahan cuaca yang ekstrem. Tapi, di sini aku melihat banyak anak-anak dan perempuan sudah bisa membaca dan mereka sangat peduli dengan pendidikan mereka sendiri. Setelah pembicaraan saat itu, banyak yang berubah di tempatku. Aku melihat banyak senyum di sini.</span><br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span><span>Aku diangkat menjadi Ketua RT karena masyarakat percaya akan perubahan yang dibutuhkan di sini. Les-lesan kecil yang kubangun sekarang sudah semakin masif dan banyak masyarakat yang datang. Aku memanfaatkan situasi ini untuk kemajuan masyarakat di sini, aku percaya harus ada perubahan. Aku mulai mengusahakan juga ada penyuluhan kesehatan setiap dua minggu sekali agar ibu hamil dan anak-anak di sini mendapatkan gizi yang baik.</span><br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span><span>Pendidikan politik yang kuusungkan juga berhasil, masyarakat mulai peduli untuk memberikan hak suara yang tepat. Pada pemilihan umum saat itu mereka berpartisipasi dengan sukarela. Sering&nbsp;kali pula mereka bertanya kepadaku tentang beberapa hal isu politik yang terjadi. Aku percaya kesadaran berpolitik harus dibangun, tidak cukup dengan wajah-wajah kekuasaan yang ditempel di pinggir jalan.</span><br /><br /><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</span><span>Barangkali benar, sejarah gagal menuliskan perempuan. Kami bukan ikan yang memuntahkan gelembung karang. Kami memegang belati untuk menggoreskan hidup dan mati pada setiap sayap anak-anak yang akan menemukan jalannya sendiri. Jika keberanian hanya kisah yang dibisikkan tetapi keberhasilan kami adalah tulang pribumi yang dituliskan dalam lontar-lontar. Tidak sekadar untuk dibacakan akan tetapi untuk ditanamkan dalam masing-masing diri kami.</span><br /><span>&nbsp;</span><br /><span>&nbsp;</span><br /><span>&#8203;</span><br /><strong>BIODATA PENULIS</strong><br /><br /><span>Esty Pratiwi Lubarman, lahir di Samarinda 28 November 1999. Alumni Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Mulawarman. Aktif di komunitas pegiat sastra bernama Mantra Etam dan komunitas penanganan korban kekerasan seksual sebagai sekretaris bernama Savrinadeya Support Group. Pada tahun 2019 pernah menerbitkan antologi puisi berjudul&nbsp;</span><em>Perempuan Dikekang Malam</em><span>. Pada tahun 2022 terlibat dalam penerbitan antologi puisi berjudul&nbsp;</span><em>Cermin Lain Di Balik Pintu Lamin</em><span>. Aktif menjadi kontributor di salah satu koran populer Kalimantan Timur bernama&nbsp;</span><em>Kaltim Post.&nbsp;</em><span>Beberapa tulisan lainnya juga dimuat di media online bernama Sketsa Unmul dan Korkal.</span></div>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Otak Selangkangan Selangkangan Otak]]></title><link><![CDATA[https://www.jurnalperempuan.org/cerpenpuisi-feminis/otak-selangkangan-selangkangan-oak]]></link><comments><![CDATA[https://www.jurnalperempuan.org/cerpenpuisi-feminis/otak-selangkangan-selangkangan-oak#comments]]></comments><pubDate>Mon, 31 Jul 2023 06:29:45 GMT</pubDate><category><![CDATA[Uncategorized]]></category><guid isPermaLink="false">https://www.jurnalperempuan.org/cerpenpuisi-feminis/otak-selangkangan-selangkangan-oak</guid><description><![CDATA[Oleh: Citra Benazir"Pakai baju yang tertutup rapi ya nduk, teman kerja bapakmu mau ke rumah sore nanti."&nbsp;Siapa yang pernah mendengar ucapan seperti ini?Siapa?&nbsp;Pasti perempuan sajaPerempuan saja kan&#8203;      Dibesarkan dengan pesan bahwa tubuh kami pembawa dosaDibesarkan untuk percaya bahwa tubuh kami bertanggung jawab atas tindakan orang lainDibesarkan dengan ancaman bahwa tubuh kami tidak boleh terlihat sama sekaliDibesarkan untuk percaya bahwa nilai dan harga diri kami hanya dilih [...] ]]></description><content:encoded><![CDATA[<div class="paragraph"><strong>Oleh: Citra Benazir</strong><br /><br /><span>"Pakai baju yang tertutup rapi ya </span><em><span>nduk</span></em><span>, teman kerja bapakmu mau ke rumah sore nanti."</span><br />&nbsp;<br /><span>Siapa yang pernah mendengar ucapan seperti ini?</span><br /><span>Siapa?</span><br />&nbsp;<br /><span>Pasti perempuan saja</span><br /><span>Perempuan saja kan</span><br />&#8203;</div>  <div>  <!--BLOG_SUMMARY_END--></div>  <div class="paragraph"><span>Dibesarkan dengan pesan bahwa tubuh kami pembawa dosa</span><br /><span>Dibesarkan untuk percaya bahwa tubuh kami bertanggung jawab atas tindakan orang lain</span><br /><span>Dibesarkan dengan ancaman bahwa tubuh kami tidak boleh terlihat sama sekali</span><br /><span>Dibesarkan untuk percaya bahwa nilai dan harga diri kami hanya dilihat dari seberapa tertutupnya tubuh kami</span><br />&nbsp;<br /><span>Bukan tanggung jawab kami untuk membersihkan pikiran kotor laki-laki</span><br /><span>Bukan tanggung jawab kami untuk menjaga kesucian iman laki-laki</span><br /><span>Bukan tanggung jawab kami untuk memikul beban dosa laki-laki</span><br /><span>Bukan tanggung jawab kami untuk mengangkat derajat laki-laki</span><br />&nbsp;<br /><span>Perempuan bukan permen</span><br /><span>"Cari cewek </span><em><span>tuh</span></em><span>&nbsp;yang masih tertutup </span><em><span>rapet</span></em><span>&nbsp;bungkusnya"</span><br />&nbsp;<br /><span>Perempuan bukan mainan</span><br /><span>"Yang buka segel </span><em><span>dong</span></em><span>, yang harus beli"</span><br />&nbsp;<br /><span>Punya otak </span><em><span>gak</span></em><span>&nbsp;sih </span><em><span>lo</span></em><span>?</span><br /><span>Atau kemaluanmu yang memalukan itu yang kamu pakai untuk berpikir?</span><br />&nbsp;<br /><br />&nbsp;<br /><strong><span>Citra Benazir,</span></strong><span>&nbsp;seorang penulis dan aktivis, yang memusatkan pekerjaan advokasinya untuk memerangi banyak ketidakadilan dan diskriminasi. Pendiri komunitas relawan, Tis The Lyfe dan penulis buku Pleasure Girls. Citra menulis sebagai bentuk perlawanannya sebagai seorang penyintas. Bersua dengan Citra melalui alamat email </span><a href="mailto:citrabenazir@gmail.com"><u><span>citrabenazir</span></u></a><a href="mailto:citrabenazir@gmail.com"><u><span>@gmail.com</span></u></a><br /></div>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Cahaya Matahari di Atas Bukit]]></title><link><![CDATA[https://www.jurnalperempuan.org/cerpenpuisi-feminis/cahaya-matahari-di-atas-bukit]]></link><comments><![CDATA[https://www.jurnalperempuan.org/cerpenpuisi-feminis/cahaya-matahari-di-atas-bukit#comments]]></comments><pubDate>Thu, 23 Mar 2023 10:08:13 GMT</pubDate><category><![CDATA[Uncategorized]]></category><guid isPermaLink="false">https://www.jurnalperempuan.org/cerpenpuisi-feminis/cahaya-matahari-di-atas-bukit</guid><description><![CDATA[Oleh: Alya Fathinah&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; &ldquo;Neng, sekarang mah cuaca panas banget ya,&rdquo; ujar penjual es jeruk sambil menyiapkan minuman pesananku.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; &ldquo;Iya, bener banget pak makanya aku juga beli es jeruk nih biar seger,&rdquo; aku menimpali ucapan sang bapak yang sok akrab.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; &ldquo;Alhamdulillah, itu rezeki buat bapak. Tapi yang sedih mah kalau tiba-tiba ujan deres jadi bapak teh harus cepet-cepet beresin roda, cari tempat yang teduh. [...] ]]></description><content:encoded><![CDATA[<div class="paragraph"><strong>Oleh: Alya Fathinah<br /></strong><br />&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; &ldquo;Neng, sekarang <em>mah </em>cuaca panas banget ya,&rdquo; ujar penjual es jeruk sambil menyiapkan minuman pesananku.<br /><br />&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; &ldquo;Iya, <em>bener</em> banget pak makanya aku juga beli es jeruk nih biar <em>seger</em>,&rdquo; aku menimpali ucapan sang bapak yang sok akrab.<br /><br />&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; &ldquo;<em>Alhamdulillah</em>, itu rezeki buat bapak. Tapi yang sedih <em>mah </em>kalau tiba-tiba <em>ujan deres</em> jadi bapak <em>teh</em> harus cepet-cepet beresin roda, cari tempat yang teduh. Abis <em>raat1</em> dagangan <em>enggak</em> laku <em>da mereun teu nyambung nya tiris-tiris minum es2,</em>&rdquo; keluh sang bapak tentang nasibnya.<br /><br />&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; &ldquo;<em>Atuh</em> <em>mun caang wae oge karunya tukang bajigur, sekoteng, bandrek icalanana teu laku-laku3,</em>&rdquo; jawabku sembari bercanda.</div>  <div>  <!--BLOG_SUMMARY_END--></div>  <div class="paragraph"><span>&nbsp;Bapak itu pun ikut tertawa mendengar jawabanku, &ldquo;ah neng&nbsp;</span><em>mah&nbsp;</em><span>bisaan jawabnya. Neng, ini es jeruknya,&rdquo; ujar bapak itu sambil memberiku sekantong es jeruk.</span><br /><br /><span>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Aku pun mengambil kantong tersebut lalu berkata, &ldquo;</span><em>makasih</em><span>&nbsp;pak! Semoga laris jualannya. Ini uangnya,&rdquo; jawabku sambil memberikan uang berwarna ungu dan menolak kembalian dari sang bapak. Semburat bulan sabit terlihat di wajah bapak itu, tak lupa ucapan terima kasih dan untaian doa diucapkannya.</span><br /><br /><span>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Aku pun menyempatkan diri minum di bangku taman sebelum harus mengendarai motor menuju kampus. Setelah menghabiskan es jeruk lalu membuang kemasannya ke tempat sampah, aku pun mempersiapkan diri untuk mengendarai motor. Sepanjang perjalanan aku jadi memikirkan percakapan singkat tadi. Aku menyadari perubahan cuaca yang drastis sebagai dampak perubahan iklim dirasakan oleh seluruh masyarakat kemudian seperti biasanya aku jadi berpikir variabel-variabel lain tentang perubahan cuaca.</span><br /><br /><span>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Hingga akhirnya&hellip;dug! Tiba-tiba aku hampir menabrak motor di depanku, tetapi untungnya aku berhasil menahannya. Sang pengendara hanya melirik ke arahku dan secara spontan aku pun meminta maaf.</span><br /><br /><span>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Aku tadi tidak sadar ternyata jalanan macet. Lagi-lagi penyebab kemacetannya adalah truk yang menabrak kendaraan roda dua. Jalan raya di wilayah ini memang sering dilewati truk dan cukup banyak belokan tajam sehingga kurang ramah pengendara. Ini masih sekitar jam 12 siang, jamnya orang kantoran istirahat untuk makan siang dan jamnya anak kuliahan sepertiku berangkat untuk kelas siang.</span><br /><br /><span>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Laju kendaraanku pun dipelankan, mengikuti kendaraan di depanku. Kulihat truk yang sedikit penyok dan motor yang lumayan hancur sudah dipindahkan ke pinggir jalan. Namun, tubuh korban yang sudah tertutupi koran masih tergeletak di jalanan dan yang membuat merinding darahnya masih bercucuran, menandakan kecelakaannya berat. Beberapa warga dan pengguna jalan turun untuk membantu mengevakuasi korban dan mengamankan pelaku. Tak lama kemudian, ambulans datang.</span><br /><br /><span>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Di bawah sinar matahari yang sangat terik puluhan kendaraan bermacet-macetan. Aku berusaha tetap menjalankan motorku agar tidak telat datang ke kampus. Setibanya di kampus aku tidak telat, masih ada sepuluh menit lagi sebelum kelas dimulai. Aku pun masuk ke kelas di lantai 2 yang ternyata sudah banyak teman-teman yang hadir. Sebagian dari mereka sudah membicarakan kecelakaan di jalan raya tadi, aku pun bergabung ke pembicaraan mereka.</span><br /><br /><span>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Tepat pada jam 1 siang, Pak Danar pun masuk ke ruang kelas lalu melanjutkan penjelasan mata kuliah yang diampunya. Beberapa menit kemudian, seseorang tiba-tiba mengetuk pintu kelas yang membuat seluruh pasang mata memandang ke arah tersebut serta menghentikan pematerian dari Pak Danar.</span><br /><br /><span>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; &ldquo;Permisi, Pak, maaf saya telat,&rdquo; ujar seorang mahasiswi yang baru saja membuka pintu. Wajahnya sedikit menunduk, tetapi nada bicaranya seakan tidak merasa bersalah. Pak Danar membalikkan badannya ke arah pintu sambil berkacak pinggang.</span><br /><br /><span>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; &ldquo;Apa saya boleh masuk kelas bapak?&rdquo; tanya perempuan itu tanpa menghiraukan respons nonverbal dari dosennya. Ia masih berada di luar kelas.</span><br /><br /><span>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; &ldquo;Kamu lagi, kamu lagi. Haduuuh, saya tuh&nbsp;</span><em>udah</em><span>&nbsp;</span><em>cape</em><span>&nbsp;lihat kamu yang selalu telat kelas saya! Saya lihat daftar presensi dulu ya,&rdquo; jawab Pak Danar dengan nada kesal. Namun, laki-laki setengah abad itu tetap merealisasikan kalimat yang diucapkan dengan mengambil catatan presensi yang ada di tasnya. &ldquo;Kalau dari catatan presensi ini, kamu sudah telat dua kali dan sekarang baru telat lima menit jadi hari ini kamu boleh masuk kelas saya, tapi kalau minggu depan kamu telat lagi mohon maaf kamu tidak boleh masuk kelas saya,&rdquo; jelas Pak Danar secara tegas.</span><br /><br /><span>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; &ldquo;Siap, pak!&rdquo; Jawab perempuan itu sedikit keras selayaknya seorang prajurit yang mematuhi perintah atasannya.</span><br /><br /><span>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Seisi kelas tertawa mendengar jawabannya. Bahkan, Pak Danar menggeleng-gelengkan kepalanya. Namun, berkat kejadian itu aku melihat rasa kantuk beberapa orang menghilang, padahal jam baru menunjukkan pukul 10 pagi.</span><br /><br /><span>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Aku tidak ingat siapa nama perempuan itu karena kami mahasiswa semester pertama yang baru saja tiga kali belajar tatap muka dan kelasnya setiap mata kuliah berbeda-beda. Perempuan itu masuk ke dalam kelas diiringi tatapan heran dari teman-teman. Ia duduk di sebelah kananku. Kulihat perempuan itu menggendong ransel berwarna hijau. Entah apa yang dibawanya, tetapi tubuh kecilnya terlihat berat membawa isi tas tersebut. Terdapat noda coklat dan merah muda pada celana kulot putih tulang yang ia gunakan. Kunciran rambutnya sudah tidak rapi ditambah keringat yang membasahi wajah manisnya seakan memperlihatkan bahwa ia tidak peduli dengan penampilannya.</span><br /><br /><span>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; &ldquo;Ini buat kamu,&rdquo; ujarku sambil memberikan selembar tisu kepadanya.</span><br /><br /><span>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; &ldquo;Nggak usah, terima kasih. Aku bawa sapu tangan&nbsp;</span><em>kok</em><span>,&rdquo; jawabnya sembari melambaikan tangannya lalu mengambil sapu tangan dari dalam tasnya.</span><br /><br /><span>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; "Kamu yang tadi ada di lokasi kecelakaan, kan?" Tanyaku.</span><br /><br /><span>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Perempuan itu masih mengelap keringatnya kemudian mengangguk dan memberi kode untuk menghadap ke depan, sebuah kode agar tidak melanjutkan percakapan.</span><br /><span>&nbsp;</span><br /><span>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Dua puluh menit setelah kedatangan perempuan itu, lima orang anak laki-laki datang terlambat, tetapi kali ini Pak Danar tidak mempersilakan mereka masuk kelas karena batas keterlambatan hanya lima belas menit.</span><br /><br /><span>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Kelas Pak Danar telah selesai, semua mahasiswa bergegas menghampiri temannya untuk pergi ke kantin sebelum mengikuti kelas berikutnya di ruangan yang berbeda. Aku pun menghampiri Putri yang duduk di bangku paling depan.</span><br /><br /><span>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; &ldquo;Eh, Put, yuk kita ke kantin!&rdquo; Ajakku.</span><br /><br /><span>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; &ldquo;Bentar dulu, aku&nbsp;</span><em>beresin</em><span>&nbsp;binder dulu, ya. Tumben amat nih anak&nbsp;</span><em>ambis4</em><span>&nbsp;duduk di belakang,&rdquo; jawab Putri.</span><br /><br /><span>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; &ldquo;Hahaha, jangan nyindir gitu dong, bos! Sekali-kali lah&nbsp;</span><em>nyobain</em><span>&nbsp;duduk di belakang,&rdquo; jawabku tak mau kalah. Kami pun berjalan menuju kantin.</span><br /><br /><span>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; &ldquo;Put, orang yang tadi duduk di sebelah kanan itu siapa?&rdquo; tanyaku ketika jalan.</span><br /><br /><span>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; &ldquo;Maksud kamu anak perempuan yang tadi telat?&rdquo; tanya Putri, memastikan. Aku pun menganggukkan kepala sebagai jawaban. &ldquo;Namanya Maharani, dia tuh termasuk anak aneh di angkatan kita.&rdquo;</span><br /><br /><span>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; &ldquo;Hah? Aneh? Emangnya kenapa?&rdquo; Aku masih bertanya-tanya.</span><br /><br /><span>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; &ldquo;Oh iya aku lupa, kamu enggak ikut ospek karena waktu itu lomba paduan suara di Eropa kan. Nah dia tuh selama ospek&nbsp;</span><em>enggak</em><span>&nbsp;pernah mau bareng nyari perlengkapan ospek sama teman-teman. Bahkan, diajakin berangkat dan pulang bareng aja enggak mau,&rdquo; jelas Putri.</span><br /><br /><span>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; &ldquo;Iya itu&nbsp;</span><em>mah&nbsp;</em><span>enggak aneh kali, mungkin emang cara komunikasi kalian aja yang salah,&rdquo; tanggapku.</span><br /><br /><span>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; &ldquo;Dia kan anak komunikasi, Ur, masa&nbsp;</span><em>enggak</em><span>&nbsp;mau diajak komunikasi sih. Tapi, anehnya sejak ospek dia itu ngambil sampah-sampah yang ada di lapangan setiap habis rangkaian acara, jadi banyak anak jurusan yang lihat juga. Dan lebih anehnya kebiasan&nbsp;</span><em>ngambil</em><span>&nbsp;sampah itu masih dia lakukan sampai sekarang,&rdquo; Putri mengucapkan kalimat terakhirnya dengan sedikit pelan sambil melihat keadaan sekitar.</span><br /><br /><span>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; &ldquo;Masa sih? Kamu&nbsp;</span><em>mah&nbsp;</em><span>gosip kali. Tapi kalau dipikir-pikir bagus juga sih, dia emang pencinta lingkungan kali,&rdquo; jawabku.</span><br /><br /><span>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; &ldquo;Kalau pun pencinta lingkungan harusnya ada batasannya juga, si Maharani&nbsp;</span><em>enggak</em><span>&nbsp;takut apa tubuhnya jadi bau. Informasi ini bukan gosip yaa. Kamu bisa buktiin nanti kalau di kantin&nbsp;</span><em>liat</em><span>&nbsp;dia membawa kumpulan plastik dari para pedagang,&rdquo; tegas Putri.</span><br /><br /><span>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Aku dan Putri akhirnya sampai di kantin lalu membeli batagor dan minuman dalam kemasan. Putri tiba-tiba menyikut lenganku, memberikan kode agar aku melihat ke sebelah kanan. Ternyata, di sana Maharani sedang berjalan dari satu warung ke warung lainnya kemudian membawa satu kantong kresek besar dari beberapa warung yang ada di kantin.&nbsp;</span><br /><br /><span>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Perkataan Putri benar, semua orang pun bisa melihat bahwa kantong yang dibawanya berisi sampah plastik yang sudah kering. Anehnya, setelah menerima kantong kresek itu Maharani memberikan sejumlah uang kepada para pemilik warung seperti membayar sampah yang ada di tangannya, entah transaksi apa yang dilakukan olehnya.</span><br /><br /><span>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Maharani berjalan membawa lima kantong kresek besar keluar kantin. Kulihat beberapa mahasiswa memperhatikannya, tetapi ia memilih melanjutkan langkahnya.</span><br /><br /><span>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; &ldquo;Aura, Putri, aku pergi duluan ya!&rdquo; Ujar Maharani ketika melewati kami.</span><br /><br /><span>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Aku dan Putri terdiam sejenak, kaget mendengar suara Maharani. Ia juga masih diam di tempatnya berdiri.</span><br /><br /><span>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; &ldquo;Oh iya, silakan. Hati-hati, ya!&rdquo; Jawabku, sedikit canggung.</span><br /><br /><span>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Maharani tersenyum lalu melanjutkan langkahnya keluar kantin. Ia pun berhenti di lapangan parkir yang tidak jauh dari kantin. Mobil bak bercat putih berhenti di depannya lalu sang sopir mengambil kantong kresek yang sebelumnya dipegang Maharani. Keduanya juga sempat mengobrol sebelum akhirnya pergi. Setelah itu Maharani mencuci tangannya dengan&nbsp;</span><em>hand sanitizer&nbsp;</em><span>dan jalan entah ke mana. Mobil tersebut tidak seperti mobil sampah yang kotor, bau, dan tidak terawat.</span><br /><br /><span>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Aku dan Putri mencari ruang kelas berikutnya setelah pesanan batagor kami selesai. Sepanjang perjalanan, Putri terus membicarakan Maharani yang ternyata mengenal dirinya, sedangkan aku terus berusaha meyakinkan Putri agar berpikir positif.</span><br /><br /><span>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Kelas kedua selesai di sore hari, tetapi aku harus berpisah dengan Putri karena harus latihan paduan suara. Latihan pun selesai sekitar jam 7 malam dan ketika aku akan pergi ke parkiran motor tiba-tiba hujan turun dengan deras. Alhasil, aku harus menunggu hujan reda. Menjengkelkan sekali.&nbsp;</span><br /><br /><span>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; "Nih buat kamu," seseorang menyodorkan tumbler kaca yang berisi teh hangat.&nbsp;</span><br /><br /><span>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Aku tidak langsung menerimanya, melainkan melihat dulu siapa pemilik tangan itu. Tanpa disangka, dia adalah&hellip;</span><br /><br /><span>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; "Maharani? Kok kamu ada di sini?"&nbsp;</span><br /><br /><span>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; "Hai, Aura. Tadi abis ngisi&nbsp;</span><em>workshop&nbsp;</em><span>organisasi anak-anak pencinta alam aja sih. Kebetulan mereka&nbsp;</span><em>nyediain</em><span>&nbsp;teh&nbsp;</span><em>anget</em><span>&nbsp;sama cemilan lainnya juga, ya udah deh aku bawa. Terima ya, kamu pasti kedinginan," kata Maharani sambil menyodorkan tumbler kaca miliknya.</span><br /><br /><span>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Aku pun menyeruput isi minuman tersebut, "makasih ya. Memangnya&nbsp;</span><em>workshop</em><span>&nbsp;tadi bahas apa?"&nbsp;</span><br /><br /><span>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; "Bahas cara mengelola sampah plastik terus dilanjut bikin&nbsp;</span><em>ecobrick&nbsp;</em><span>bareng-bareng," jawabnya.</span><br /><br /><span>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; "Wah, seru dong. Oh iya, tadi siang kamu membawa sampah juga berarti buat acara itu?" Entah kenapa aku tiba-tiba penasaran.</span><br /><br /><span>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; "Ternyata kamu&nbsp;</span><em>merhatiin</em><span>&nbsp;juga ya. Kalau itu aku&nbsp;</span><em>ngebantu</em><span>&nbsp;teman yang punya bank sampah. Dia masih kekurangan nasabah bank sampahnya terus aku bantu&nbsp;</span><em>sosialisasiin</em><span>&nbsp;ke para pemilik warung kantin karena dilihat-lihat mereka&nbsp;</span><em>ngehasilin</em><span>&nbsp;banyak sampah per harinya. Dan&nbsp;</span><em>enggak</em><span>&nbsp;nyangka respons mereka positif dan mau kerja sama. Jadi, uang yang aku kasih ke pemilik warung&nbsp;</span><em>tuh</em><span>&nbsp;uang penukaran sampah mereka," jelas Maharani.</span><br /><br /><span>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; "Wah, keren banget," komentarku.</span><br /><br /><span>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Lalu, obrolan kami pun mengalir di tengah hujan yang mulai kecil. Aku yang sudah tertarik pada isu lingkungan mendapat pencerahan dari Maharani terkait aksinya untuk menjaga lingkungan. Hingga akhirnya hujan reda, aku pun mengajak Maharani agar pulang&nbsp;</span><em>bareng</em><span>&nbsp;naik motor denganku.</span><br /><br /><span>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Ia menerima ajakanku. Kami menembus jalanan malam dengan aroma khas setelah hujan sambil mengobrol banyak hal. Terlihat orang-orang masih beraktivitas di jalan raya, mungkin mereka sama seperti kami yang terjebak hujan.&nbsp;</span><br /><br /><span>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; "Aura, aku mau minta tolong sama kamu buat ajakin teman-teman yang lain biar lebih peduli sama lingkungan," kata Maharani.</span><br /><br /><span>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; "Hah? Gimana?" Aku menjawab dengan sedikit berteriak seakan tidak mendengar kalimatnya.&nbsp;</span><br /><br /><span>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; "Aku mau kita ngajak teman-teman kita biar peduli lingkungan," ujar Maharani dengan suara yang keras hingga dilihat beberapa pengendara lainnya.</span><br /><br /><span>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Aku tertawa lalu melanjutkan, "kamu mau bayar berapa?"</span><br /><br /><span>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; "Ah,&nbsp;</span><em>nyebelin</em><span>. Aku jarang-jarang minta tolong," nada bicara Maharani lebih rendah. "Aku turun di gang depan sebelah kiri aja ya. Kosanku&nbsp;</span><em>enggak</em><span>&nbsp;terlalu jauh dari gang itu," lanjut Maharani sambil menunjuk gang yang dimaksud.&nbsp;</span><br /><br /><span>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Motor pun berhenti di tempat yang Maharani tunjukkan. Ia turun dari motorku.&nbsp;</span><br /><br /><span>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; "Terima kasih udah mau&nbsp;</span><em>nganterin</em><span>. Ini bayarannya, ya!" Ucap Maharani sambil memberikan sejumlah barang kepadaku.</span><br /><br /><span>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; "Makasih kembali. Eh&nbsp;</span><em>enggak</em><span>&nbsp;usah repot-repot ngasih&nbsp;</span><em>beginian</em><span>&nbsp;segala,"</span><br /><br /><span>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; "</span><em>Enggak</em><span>&nbsp;repot&nbsp;</span><em>kok</em><span>&nbsp;dan ini bukan sembarang&nbsp;</span><em>'beginian'</em><span>. Aku berharap tempat makan dan alat makannya&nbsp;</span><em>dipake</em><span>&nbsp;ya biar mengurangi sampah styrofoam dan plastik," jawab Maharani.</span><br /><br /><span>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Mau tidak mau aku pun menerima dua barang tersebut karena Maharani memasukkannya ke dalam tasku. Lalu, aku melanjutkan perjalanan menuju kosanku yang berjarak 200 meter lagi. Jika hari ini direfleksikan, bagiku menjadi satu hari penuh kejutan.&nbsp;&nbsp;</span><br /><br /><span>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Malam harinya aku&nbsp;</span><em>chatting-</em><span>an dengan Maharani, membicarakan apa yang akan kami lakukan untuk Bumi. Kami sepakat untuk mengajak teman-teman mengumpulkan sampah plastik yang ada di rumah atau kosan melalui&nbsp;</span><em>chat group</em><span>. Namun, sayang pada keesokan harinya tidak ada satu pun orang yang membawa sampah sesuai ajakan kami bahkan aku dikatakan aneh seperti Maharani oleh teman-teman terdekat.</span><br /><br /><span>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Lantas aku pun menjelaskan ini bukanlah hal yang aneh karena memang niatnya untuk Bumi. Sampah plastik yang sering kita hasilkan pun akan kembali ke Bumi dan baru bisa terurai ratusan hingga ribuan tahun lagi. Aku juga mengklarifikasi apa yang dilakukan Maharani bukanlah hal aneh, melainkan sesuatu yang bermanfaat untuk planet ini.&nbsp;</span><br /><br /><span>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; &ldquo;Halo, pagi teman-teman!&rdquo; Maharani menyapa seisi ruang kelas dengan ramah, seperti sebuah sihir berhasil membuat seluruh pasang mata langsung tertuju padanya.&nbsp;</span><br /><br /><span>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; &ldquo;Aku mau minta maaf karena selama ini kurang membuka diri sama kalian sampai mungkin terlihat aneh. Tapi, aku mau ngajak kalian buat ikut menjaga Bumi dengan menjadi nasabah bank sampah yang aku dan temanku kelola atau ikut menanam pohon di hutan besok hari,&rdquo; ujar Maharani.</span><br /><br /><span>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Aku pun memanfaatkan kesempatan dengan berdiri di samping Maharani, &ldquo;ayo siapa yang mau ikut menanam pohon? Aku tahu kalian punya keinginan buat menjaga Bumi juga daaan besok adalah saatnya. Yang besok mau ikut menanam pohon,&nbsp;</span><em>yuk</em><span>&nbsp;ngacung!&rdquo; ajakku.&nbsp;</span><br /><br /><span>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Sebagian teman-teman di kelas mengacungkan tangannya. Aku dan Maharani saling menatap dan tersenyum kemudian mengatakan terima kasih kepada teman-teman.&nbsp;</span><br /><br /><span>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Tak lama kemudian, Bu Nida masuk kelas dan menjelaskan materi perkuliahannya. Setelah kelas pun aku berupaya agar mengakrabkan Maharani dengan teman-teman yang lain dan ternyata mereka bisa akrab dalam waktu singkat.</span><br /><br /><span>-----</span><br /><br /><span>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Hari Sabtu pun tiba, hari yang kami tunggu untuk menanam pohon di sebuah bukit gundul yang biasanya sering longsor. Aku, Maharani, dan 5 orang teman Maharani sebagai tim utama penanaman pohon sudah tiba di tempat tersebut. Tiga puluh menit menunggu ternyata teman-teman kuliah yang kemarin diajak belum terlihat batang hidungnya sedikit pun. Aku dan Maharani merasa sedikit kecewa, lalu kami pun memulai kegiatan tanpa kehadiran mereka.</span><br /><br /><span>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Tiba-tiba dari jauh terdengar suara bising dan ternyata mereka datang dengan wajah sumringah untuk menepati janjinya. Aku dan Maharani pun senang dan kami menanam pohon dengan sukacita.&nbsp;</span><br /><br /><span>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Matahari sudah berada di atas kepala. Cahayanya menerangi kegiatan kami yang berusaha melindungi Bumi. Akhirnya, 35 pohon berhasil kami tanam dan kami makan bekal yang dibawa Maharani bersama-sama setelahnya. Tentu saja bekal tersebut tidak menggunakan produk plastik sedikit pun. Cahaya matahari di atas bukit menghangatkan obrolan kami yang capek setelah menanam pohon.</span><br /><br /><span>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Walaupun krisis iklim sering kali disepelekan karena setiap individu menganggap tidak terkena dampaknya, Maharani tidak demikian. Darinya aku belajar bahwa dampak krisis iklim pasti dirasakan oleh seluruh masyarakat tanpa memandang kelas sosial ekonomi. Misalnya saja anomali cuaca dan cuaca ekstrem yang melahirkan efek domino bagi berbagai aspek kehidupan. Dampak lainnya yakni kenaikan permukaan air laut dan penurunan permukaan air tanah, sektor pertanian, hingga penurunan kuantitas dan kualitas air yang digunakan sehari-hari.&nbsp;Semua dijelaskan oleh Maharani hingga aku benar-benar paham.</span><br /><br /><span>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Solusi yang bisa aku, Maharani, dan teman-teman lakukan adalah mulai mengurangi sampah, menanam pohon di lahan yang gundul serta mendukung upaya pemerintah mengurangi emisi karbon. Semoga apa yang kami lakukan dapat berpartisipasi dalam meningkatkan kondisi Bumi.</span><br /><span>&nbsp;</span><br /><br /><br /><span>&nbsp;</span><br /><strong>Alya Fathinah</strong><span>&nbsp;adalah mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Padjadjaran. Suka mengobrol, bercerita, dan kadang-kadang menulis. Cerpennya yang bertajuk&nbsp;</span><em>Niraksara&nbsp;</em><span>terbit di Jurnal Perempuan edisi 105. Saat ini lebih sering membuat tulisan berita yang dapat dibaca melalui wartakema.com. Jika ingin kenal lebih dekat, bisa dihubungi di&nbsp;</span><a href="mailto:alyafathinahh@gmail.com">alyafathinahh@gmail.com</a><span>.</span></div>]]></content:encoded></item></channel></rss>