<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" >

<channel><title><![CDATA[Jurnal Perempuan - Cerpen/Puisi Feminis]]></title><link><![CDATA[https://www.jurnalperempuan.org/cerpenpuisi-feminis]]></link><description><![CDATA[Cerpen/Puisi Feminis]]></description><pubDate>Fri, 09 Oct 2026 15:43:57 +0700</pubDate><generator>Weebly</generator><item><title><![CDATA[Langit-langit Dusun Berkabut Hitam Bidadari dan Dewani]]></title><link><![CDATA[https://www.jurnalperempuan.org/cerpenpuisi-feminis/langit-langit-dusun-berkabut-hitam-bidadari-dan-dewani]]></link><comments><![CDATA[https://www.jurnalperempuan.org/cerpenpuisi-feminis/langit-langit-dusun-berkabut-hitam-bidadari-dan-dewani#comments]]></comments><pubDate>Tue, 21 Jul 2026 07:58:36 GMT</pubDate><category><![CDATA[Uncategorized]]></category><guid isPermaLink="false">https://www.jurnalperempuan.org/cerpenpuisi-feminis/langit-langit-dusun-berkabut-hitam-bidadari-dan-dewani</guid><description><![CDATA[Oleh:&nbsp;Rainy M.P. HutabaratPeringatan pemicu: Cerpen ini memuat penggambaran adegan kekerasan seksual yang mungkin menimbulkan perasaan tidak nyaman maupun trauma bagi pembaca. Disarankan untuk membaca dengan kesadaran penuh dan mengambil jeda bila diperlukan.Kemarahan warga dusun reda oleh tekanan-tekanan hidup harian. Mereka harus bekerja keras agar dapur bisa terus berasap. Penghasilan buruh lepas harian sadap karet&nbsp; tergantung kehadiran dan volume lateks hasil&nbsp; sadapan.&nbsp;La [...] ]]></description><content:encoded><![CDATA[<div class="paragraph"><strong>Oleh:&nbsp;<span><span style="font-weight:700">Rainy M.P. Hutabarat</span></span><br /></strong><br /><em><span><span>Peringatan pemicu: Cerpen ini memuat penggambaran adegan kekerasan seksual yang mungkin menimbulkan perasaan tidak nyaman maupun trauma bagi pembaca. Disarankan untuk membaca dengan kesadaran penuh dan mengambil jeda bila diperlukan.</span></span></em><br /><br /><span><span>Kemarahan warga dusun reda oleh tekanan-tekanan hidup harian. Mereka harus bekerja keras agar dapur bisa terus berasap. Penghasilan buruh lepas harian sadap karet&nbsp; tergantung kehadiran dan volume lateks hasil&nbsp; sadapan.&nbsp;</span></span><br /><br /><span><span>Langit-langit dusun itu berkabut hitam nama Bidadari dan Dewani, sebutlah namanya demikian. Keduanya perempuan remaja yang menjadi korban pembunuhan* dan pemerkosaan.&nbsp;&nbsp;&nbsp;<br />&#8203;</span></span><br /><span><span>Kedua kasus sudah empat bulan dilaporkan dan Polsek berulang kali mengatakan, &ldquo;Tak ada saksi. Tak ada jejak apa pun, pelaku-pelaku macam hantu. Lenyap tak berbekas. Bidadari mengalami gangguan mental. Andaipun ia tak tewas, tapi dari pengalaman kami, orang dengan gangguan mental omongnya suka berubah-ubah. Tak bisa dipegang.&rdquo;</span></span><br /><br /></div>  <div>  <!--BLOG_SUMMARY_END--></div>  <div class="paragraph"><span><span>Catatan-catatan ini rupanya cukup membuat Polsek beralasan menutup&nbsp; kedua kasus.&nbsp; Warga dusun sudah beberapa kali datang menemani kedua orang tua Bidadari dan Dewani di saat rehat kerja yang sesak dan tak nyaman. Dari dusun ke Polsek butuh waktu sekitar tiga jam pergi-pulang dengan angkutan kota yang jarang lewat. Hanya beberapa warga bermotor butut berboncengan. Kemewahan waktu bagi mereka. Dan, untung saja ada petugas di Kantor Polsek saat itu. Polsek biasanya jarang ditempati.&nbsp;</span></span><br /><br /><span><span>Pesan Polsek itu merupakan isyarat agar warga dusun ikhlas saja.&nbsp;</span></span><br /><br /><span><span>Dewani diperkosa di kebun warga di malam gelap, dikepung pepohonan besar dan suara-suara jangkrik yang bersahutan. Bahkan tak satu pun bintang berkedip di langit. Katanya, &ldquo;Penjahatnya laki-laki berbadan besar, berbaju hitam, wajahnya ditutup kain dan topi hitam. Tenaganya sangat kuat. Mulut saya disumpal kain. Suaranya juga tak saya kenal.&rdquo;&nbsp;&nbsp;</span></span><br /><br /><span><span>Dewani tidak dibunuh penjahat bejat karena perlawanannya dirasa tak keras sehingga maskulinitasnya tidak terganggu. Sedangkan Bidadari diperkosa, disiksa hingga tewas dan mayatnya disembunyikan, hanya selisih dua minggu dengan pemerkosaan Dewani.&nbsp; Dari jejak-jejak di sekujur tubuhnya, tampaknya ia melawan sekuat-kuat tenaga. Beberapa kancing depan bajunya tanggal dan lengan kiri baju robek. Mulutnya disumpal&nbsp; kain berbau busuk, lehernya dicekik dan diikat dengan tali rafia. Ibunya pernah bercerita, &ldquo;Kalau relaps tenaganya bisa berlipat-lipat hingga tembok kayu kamarnya ikut bergetar.&rdquo; Mayat Bidadari ditemukan di petang hari di kebun tetangganya oleh warga dusun yang&nbsp; ramai-ramai mencarinya. Mayatnya ditimbun reranting pohon kering dan dedaun pisang. Saat kejadian, ayahnya lagi menyadap karet. Adik lelakinya bersekolah dan ia sendirian di rumah. Karena ia disabilitas mental, kedua orang tuanya tak menyekolahkannya. Ibunya pun sedang mengantar beberapa jenis gorengan masakannya untuk dijual tetangga yang buka lapak di kompleks sekolahan. Dusun sepi karena orang-orang dewasa bekerja sebagai buruh lepas harian sadap karet, petani sambilan di kebun sendiri, pengelola atau pekerja di warung-warung tenda dan kios-kios. Ibunya tidak memburuh untuk menjaga Bidadari.</span></span><br /><br /><span><span>Kedua orang tua Bidadari dan Dewani sudah lama curiga pada warung-warung tenda dan kios-kios rokok dan makanan ringan yang buka 24 jam setiap hari dan layanan seks atau teman kencan yang berjalan senyap di sana. Namun mereka sungkan bicara. Saban malam&nbsp; irama musik dangdut terdengar mendayu-dayu dari kejauhan. Pekerja seks datang dan pergi, sekadar singgah untuk meminjam tempat.&nbsp;</span></span><br /><br /><span><span>Kehadiran perkebunan karet swasta membuka peluang kerja-kerja lainnya bagi warga sekitar dan pendatang yang menganggur, miskin, atau orang-orang yang datang mencari uang tanpa kerja keras. Preman-preman muncul dari mana saja untuk mengeruk untung. Tiap bulan mereka mengutip uang keamanan dan parkir kendaraan bermotor yang singgah. Juga tunjangan hari raya dan sumbangan lainnya, pun komisi untuk setiap transaksi seks atau kencan. Warga desa tahu, preman-preman itu pelindung warung-warung tenda dan kios-kios sekaligus pendukung Kades. Secara ekonomi warga dusun tidak dirugikan, justru untung karena lalu-lintas manusia jadi ramai. Sebagian perempuan dusun bekerja membantu di warung-warung tenda milik warga dusun juga. Atau membuka kios rokok dan makanan ringan. Tak seorang pun warga dusun yang menjadi sekuriti, mandor atau staf kantor perkebunan karena umumnya tak selesai sekolah menengah pertama. Walau tetap miskin, hidup terasa aman dengan penghasilan rutin dari memburuh, ditambah hasil-hasil kebun mereka yang kurang terawat dan terus menurun akibat serangga-serangga penyerbuk hilang, serta tanah yang kian tercemar pestisida. Perkebunan hanya menyediakan bak-bak air bersih bagi warga dusun untuk kebutuhan sehari-hari, dan selesailah persoalan.</span></span><br /><br /><span><span>Kasus Bidadari dan Dewani&nbsp; tak memaksa para pengurus dusun untuk rapat. Ibu kedua korban juga menolak jika putri-putri mereka diperbincangkan warga dusun dalam rapat. &ldquo;Hati Dewani akan tersiksa, ia pasti dengar. Kami tak mau menambah deritanya, traumanya jadi kambuh,&rdquo; kata ibunya. Ibu Bidadari menyatakan, &ldquo;Mau berusaha apa lagi? Bidadari sudah tewas.&rdquo; Kata-katanya lugas namun nadanya pasrah. Bila terjadi kegentingan biasanya digelar rapat pengurus dusun. Selalu dadakan. Kerja-kerja sebagai buruh sadap lepas harian, mengurus warung-warung tenda dan kios-kios, memaksa warga menolak menjadi pengurus atau ikut rapat umum warga dusun. Perempuan-perempuan pun tak ada yang bersedia karena juga memburuh atau mengerjakan tugas-tugas rumah tangga yang tak habis-habisnya. Biasanya mereka menitipkan suara ke warga (laki-laki) yang datang.&nbsp;</span></span><br /><br /><span><span>Malam itu, Pak Timbul dan Pak Bangkit, ayah Bidadari dan Dewani, memaksakan langkah-langkah mereka menuju rumah Kepala Dusun. Mereka sudah janjian sebelumnya. Mereka ingin mendesak Kepala Dusun agar memikirkan kebijakan lain untuk mencegah kejahatan seksual berulang.</span></span><br /><br /><span><span>Begitu duduk di kursi tamu, Pak Timbul langsung bersuara, &ldquo;Bagaimana kalau membatasi jam buka warung dan kios? Kita semua tahu yang berjalan di sana saban hari. Anak-anak kita bisa terpapar hal-hal yang tak sehat. Dusun kita tak aman lagi.&rdquo;</span></span><br /><br /><span><span>Dua lelaki lain warga dusun kebetulan juga hadir saat itu.</span></span><br /><br /><span><span>&ldquo;Setuju sama Pak Timbul!&rdquo; sambut Pak Bangkit. &ldquo;Demi keamanan, sebaiknya tak buka 24 jam. Kita&nbsp; tidak melarang.&rdquo;</span></span><br /><br /><span><span>&ldquo;Para pemilik warung tenda dan kios banyak warga dusun kita. Dusun kita pasti pecah dan berkelahi. Mereka didukung preman, orang-orang perkebunan, Pak Kades dan Polsek. Semua yang punya kuasa dan wewenang memihak mereka. Juga, sebagian besar warga dusun kita. Semuanya juga urusan perut,&rdquo; Kepala Dusun menanggapi. &ldquo;Saya kira, cara terbaik untuk melindungi remaja-remaja kita, melarang pulang malam sendirian. Jemput saja mereka.&rdquo;</span></span><br /><br /><span><span>&ldquo;Tak pernah terjadi perkelahian dan kejahatan di sana. Suara musiknya saja tak mengganggu warga. Tak ada alasan curiga. Penjahat-penjahat kelamin bisa datang dari mana saja. Semua yang bekerja di warung-warung dan kios-kios itu karena duit. Yang dipungli juga bukan kita. Soal pekerjaan sembunyi-sembunyi, sudahlah, itu urusan pribadi. Jangan ganggu kerja-kerja orang lain walau bagi kita itu kerja tak halal dan dilarang peraturan. Pro-kontra sudah sejak dulu-dulu. Tak usahlah masuk ke situ. Mereka kan kerja cari uang di masa susah seperti sekarang. Sejauh ini kita aman-aman saja.&rdquo;</span></span><br /><br /><span><span>&ldquo;Polsek berulang kali bilang tak ada bukti-bukti ditinggalkan pelaku!&rdquo;</span></span><br /><br /><span><span>Pak Timbul mengeraskan suaranya, &ldquo;Dusun kita perlu punya CCTV! Keamanan dikawal warga tak kuat untuk luasan dusun kita. Jumlahnya juga terbatas. Saya saja kalau giliran jaga suka ketiduran di Pos Ronda.&nbsp; Siapa bisa menjamin kejahatan serupa tak berulang?&rdquo;&nbsp;</span></span><br /><br /><span><span>&ldquo;Saya tak mau&nbsp; dibebani iuran CCTV. Alat ini tak masuk anggaran dusun pun desa.&rdquo;&nbsp;&nbsp;</span></span><br /><br /><span><span>&ldquo;Listrik masih suka </span><span>byar pet. </span><span>Urusan listrik, negara kita kekurangan daya. Saat ini, tiap kota putus listrik bergiliran. Mana bisa CCTV bekerja baik?&rdquo;&nbsp;</span></span><br /><br /><span><span>&ldquo;TV di rumah hampir tak pernah disetel karena sinyal payah, layar berpasir-pasir. Hape tak semua warga punya. Dusun kita memang miskin, terpencil, tak dikenal kayak tak&nbsp; masuk peta daerah.&rdquo;</span></span><br /><br /><span><span>&ldquo;Pekerjaan&nbsp; begitu-begitu sudah sejak zaman nabi-nabi!&rdquo;</span></span><br /><br /><span><span>Tak ada hasil dari percakapan itu. Saat pulang, Pak Timbul dan Pak Bangkit berjalan bersisian dengan kepala tertunduk. Kata Pak Bangkit nada sungkan, &ldquo;Pekerjaan&nbsp; begitu-begitu juga ada di hotel-hotel atau di tempat-tempat lain yang mentereng. Tak ada orang yang tahu. Kencan juga bisa lewat hape. Transaksi bisa&nbsp;</span><span><em>online</em>. </span><span>Yang di depan mata kita, itu baru yang terlihat.&rdquo; Pak Timbul diam saja.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;</span></span><br /><br /><span><span>Di kamarnya, Dewani&nbsp; terus mengurung diri. Meringkuk di tempat tidur atau berdiri di depan jendela, memandang ke pekarangan dengan tatapan tanpa cahaya. Ia hanya mendapat layanan medis di Puskemas Kecamatan untuk keperluan laporan ke Polsek. Orang tuanya membujuk-bujuk agar berhenti menangis, kembali tekun belajar dan diajak mengurus kebun kesayangannya agar pulih. &ldquo;Allah tidak mencobai melampaui kekuatanmu, Nak. Hari-hari gelapmu pasti berlalu, masih ada esok yang terang,&rdquo; bujuk ibunya. Ia tak naik kelas karena susah belajar, harus memulihkan dirinya sendiri, menyingkirkan bayangan-bayangan hitam di kepalanya.&nbsp;</span></span><br /><br /><span><span>Seks di dusun itu tak punya kata, rahasia yang tak dipercakapkan di ruang publik. Kejahatan seksual yang dialami keluarga adalah aib, kasus ditutup tembok tebal karena deraan rasa malu.&nbsp; Mungkin kejahatan seksual yang lain pernah terjadi di dusun itu. Tetapi karena tidak ada yang tewas, tak terjadi kegemparan. Kejahatan seksual menjadi kabut hitam di langit-langit dusun. Tiada atau ada, entahlah. Kebisuan yang menakutkan.&nbsp;</span></span><br /><span><span>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;</span></span><br /><span><span>---<br /><br />Glosarium: &nbsp; &nbsp;&nbsp;</span></span><br /><span><span><strong>Polsek</strong> &ndash; Polisi Sektor&nbsp;</span></span><br /><span><span><strong>Kades</strong> &ndash; Kepala Desa&nbsp;</span></span><br /><span><span><strong>CCTV</strong> &ndash; Closed Circuit Television</span></span><br /><span><span><strong>*Femisida:</strong> pembunuhan berbasis gender</span></span><br /><br />---<br /><br /><strong><span><span>Rainy Hutabarat&nbsp;</span></span></strong><br /><span><span>Komisioner Komnas Perempuan (2020-2025), cerpenis. Kolom-kolom bahasanya dipublikasikan di Kompas dan majalah Tempo. Ia anggota Pokja Komisi Kesehatan dan Disabilitas-Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia.</span></span></div>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Perempuan Suku Anak Dalam]]></title><link><![CDATA[https://www.jurnalperempuan.org/cerpenpuisi-feminis/perempuan-suku-anak-dalam]]></link><comments><![CDATA[https://www.jurnalperempuan.org/cerpenpuisi-feminis/perempuan-suku-anak-dalam#comments]]></comments><pubDate>Sat, 04 Jul 2026 17:47:50 GMT</pubDate><category><![CDATA[Uncategorized]]></category><guid isPermaLink="false">https://www.jurnalperempuan.org/cerpenpuisi-feminis/perempuan-suku-anak-dalam</guid><description><![CDATA[Oleh:&nbsp;Novita Sari  Seorang perempuan kurus melangkah hati-hatiSorot matanya berkisah bahwa hidup telah membawanya pergi jauhDi Sudung yang beratap terpal segala hidup kian berpendarMembawa langkah kaki melampaui jalan panjangPada tiap semak dan hutan yang kian menghilang perlahanDan tawa anak-anak garing yang tabah      Seorang perempuan lain menggendong balitaMengajaknya menengok hidup yang dirakit orang-orang kotaTak sekali pun ia tatap dunia luar yang ingarSebab dunia dalam dirinya penuh [...] ]]></description><content:encoded><![CDATA[<div class="paragraph"><strong>Oleh:&nbsp;<span style="font-weight:700">Novita Sari</span></strong><br /></div>  <div class="paragraph"><span><span>Seorang perempuan kurus melangkah hati-hati</span></span><br /><span><span>Sorot matanya berkisah bahwa hidup telah membawanya pergi jauh</span></span><br /><span><span>Di </span><span>Sudung</span><span> yang beratap terpal segala hidup kian berpendar</span></span><br /><span><span>Membawa langkah kaki melampaui jalan panjang</span></span><br /><span><span>Pada tiap semak dan hutan yang kian menghilang perlahan</span></span><br /><span><span>Dan tawa anak-anak garing yang tabah</span></span></div>  <div>  <!--BLOG_SUMMARY_END--></div>  <div class="paragraph"><span><span>Seorang perempuan lain menggendong balita</span></span><br /><span><span>Mengajaknya menengok hidup yang dirakit orang-orang kota</span></span><br /><span><span>Tak sekali pun ia tatap dunia luar yang ingar</span></span><br /><span><span>Sebab dunia dalam dirinya penuh cemas dan tanda tanya</span></span><br /><span><span>&nbsp;</span></span><br /><span><span>Pokok kayu </span><span>bulian</span><span> telah lama mengering dan ranggas</span></span><br /><span><span>Musim paling buruk paling ganas telah lama menyiksa</span></span><br /><span><span>Nasib perempuan suku anak dalam</span></span><br /><span><span>Tak ada tanah tinggal</span></span><br /><span><span>Tak ada hidup yang benar-benar damai</span></span><br /><span><span>&nbsp;</span></span><br /><span><span>Pada telapak kaki yang berjalan mengikuti </span><span>Ngelelai</span></span><br /><span><span>Di Balai Desa Pelakar Jaya&nbsp;</span></span><br /><span><span>Suara Mariam menggema</span></span><br /><span><span>Ia tidak menuntut macam-macam</span></span><br /><span><span>&ldquo;Kami hanya minta sumur!&rdquo;</span></span><br /><span><span>Ucapnya lantang</span></span><br /><span><span>&nbsp;</span></span><br /><span><span>Air bersih sebagai mata air penghidupan sulit didapat</span></span><br /><span><span>Hingga rusa, kancil, kijang, serta ikan-ikan pergi entah ke mana</span></span><br /><span><span>Hidup yang mendiami Mariam&nbsp;</span></span><br /><span><span>Bertabur rebutan lahan</span></span><br /><span><span>Ada yang mati terbunuh</span></span><br /><span><span>Disangka mencuri tandan sawit</span></span><br /><span><span>Sungguh, pialang hidup yang renta</span></span><br /><span><span>&nbsp;</span></span><br /><span><span>Mariam menyibak kenangan untuk kesekian</span></span><br /><span><span>Di tanah yang tak ia kenali ini</span></span><br /><span><span>Ia mengacungkan tangan; tegas dan bersahaja</span></span><br /><span><span>Seluruh sorot mata tertuju padanya</span></span><br /><span><span>Sementara perempuan lain mengangguk mengiya</span></span><br /><span><span>&nbsp;</span></span><br /><span><span>Dalam balut kain sepinggang</span></span><br /><span><span>Dan sebalik sumpah yang mengitari pergelangan</span></span><br /><span><span>Tubuh Mariam telah jauh berkelana</span></span><br /><span><span>Membawa sajak-sajak perjuangan</span></span><br /><br /><span><span>Jambi, 7 Agustus 2025</span></span><br /></div>  <div class="paragraph">***<br />&#8203;<span><span style="font-weight:700">Novita Sari</span><span> lahir dan besar di Jambi. Alumni Sastra Indonesia Universitas Jambi, saat ini menjadi guru Bahasa Indonesia di Tanjung Jabung Barat. Pernah bergiat di dunia pendampingan kasus kekerasan terhadap perempuan selama 7 tahun di Jambi. Dapat dijumpai melalui laman instagram @nys.novitasari.</span></span><br /></div>  <div class="paragraph"><strong>Catatan Kaki</strong><br /><ol><li><span><span>Sudung</span><span>: gubuk yang biasanya terletak di ladang atau sawah.</span></span><br /></li><li><span><span></span></span><span><span>Bulian</span><span>: pohon ulin sebagai pohon endemik Kalimantan dan Sumatra yang terkenal sangat kuat, keras, dan tahan lama.</span></span><br /></li><li><span><span></span></span>Ngelelai<span style="background-color: transparent;">: nama laki-laki yang menjadi perwakilan rombongan Suku Anak Dalam Jambi.</span>&#8203;</li></ol></div>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Perempuan yang Menjaga Batas Hutan]]></title><link><![CDATA[https://www.jurnalperempuan.org/cerpenpuisi-feminis/perempuan-yang-menjaga-batas-hutan]]></link><comments><![CDATA[https://www.jurnalperempuan.org/cerpenpuisi-feminis/perempuan-yang-menjaga-batas-hutan#comments]]></comments><pubDate>Sat, 04 Jul 2026 17:44:30 GMT</pubDate><category><![CDATA[Uncategorized]]></category><guid isPermaLink="false">https://www.jurnalperempuan.org/cerpenpuisi-feminis/perempuan-yang-menjaga-batas-hutan</guid><description><![CDATA[Oleh:&nbsp;&#8203;Reki Remos Sineri  Pagi selalu datang dengan suara burung nuri dan desir angin yang menyentuh pucuk-pucuk sagu. Dari rumah panggungnya di tepi kampung, Mara berdiri menghadap hutan. Kabut tipis menggantung di antara batang-batang kayu besi, seperti napas yang belum selesai dihembuskan. Di situlah batas itu berada&mdash;batas yang tak tertulis di peta, tetapi hidup di kepala dan dada setiap orang tua di kampungnya.Mara tahu persis letaknya. Ia hafal lekuk akar besar yang menjala [...] ]]></description><content:encoded><![CDATA[<div class="paragraph"><strong>Oleh:&nbsp;&#8203;Reki Remos Sineri</strong></div>  <div class="paragraph"><span><span>Pagi selalu datang dengan suara burung nuri dan desir angin yang menyentuh pucuk-pucuk sagu. Dari rumah panggungnya di tepi kampung, Mara berdiri menghadap hutan. Kabut tipis menggantung di antara batang-batang kayu besi, seperti napas yang belum selesai dihembuskan. Di situlah batas itu berada&mdash;batas yang tak tertulis di peta, tetapi hidup di kepala dan dada setiap orang tua di kampungnya.</span></span><br /><br /><span><span>Mara tahu persis letaknya. Ia hafal lekuk akar besar yang menjalar seperti ular tua, hafal batu hitam yang separuh tenggelam di tanah, dan hafal pohon matoa yang kulitnya retak seperti telapak tangan ibunya. Sejak kecil ia diajak berjalan oleh ayahnya menyusuri jalur setapak, mendengarkan cerita tentang leluhur yang membuka ladang tanpa melukai hutan, tentang sungai yang tak pernah mengering karena dijaga seperti saudara.<br /></span></span><br />&#8203;<span><span>&ldquo;Batas hutan bukan cuma garis,&rdquo; kata ayahnya dulu. &ldquo;Ia adalah janji.&rdquo;</span></span><br /><span><span><br />Janji itu kini terasa berat di pundak Mara.</span></span>&#8203;</div>  <div>  <!--BLOG_SUMMARY_END--></div>  <div class="paragraph"><span><span>Sejak sebulan terakhir, orang-orang dari kota datang dengan sepatu mengkilap dan kertas-kertas penuh angka. Mereka berbicara tentang pembangunan, tentang jalan yang akan membelah bukit, tentang kebun besar yang menjanjikan kerja. Mereka menunjuk peta dan berkata, &ldquo;Di sini kosong. Tanah negara.&rdquo;<br /></span></span><br /><span><span>Mara ingin tertawa, tetapi yang keluar hanya napas panjang. Kosong, kata mereka. Padahal di sana ada kubur batu tempat neneknya disemayamkan. Di sana ada pohon tempat ibunya pertama kali belajar menokok sagu. Di sana ada sungai kecil yang pernah menyelamatkan adiknya dari haus saat mereka tersesat berburu.<br /></span></span><br /><span><span>Namun bagi negara, semua itu tak lebih dari sebidang tanah kosong.</span></span><br /><span><span style="font-weight:700"><br />***</span></span><br /><span><span><br />Kepala kampung segera mengadakan pertemuan di balai adat. Laki-laki duduk melingkar, suara mereka berat dan terukur. Perempuan menyiapkan pinang dan air panas, mendengar dari belakang. Mara berdiri di ambang pintu, merasa ada sesuatu yang mendesak di dadanya.</span></span><br /><span><span><br />&ldquo;Kita harus bijak,&rdquo; kata seorang tetua. &ldquo;Anak-anak muda butuh kerja.&rdquo;</span></span><br /><span><span>&ldquo;Benar,&rdquo; sahut yang lain. &ldquo;Kalau kita menolak, kita dianggap menghambat kemajuan.&rdquo;</span></span><br /><span><span><br />Mara menatap wajah-wajah itu. Ia tahu mereka bukan orang jahat. Mereka hanya lelah hidup dalam kekurangan. Harga kopra turun, ikan makin jauh, dan sekolah anak-anak butuh biaya. Tawaran perusahaan terdengar seperti pintu keluar.</span></span><br /><span><span><br />Tapi pintu itu mengarah ke mana?</span></span><br /><span><span><br />Malamnya, Mara berjalan sendiri menuju batas hutan. Bulan setengah menggantung di langit, menerangi jalan setapak. Ia berhenti di depan pohon matoa tua, menyentuh kulitnya yang kasar.</span></span><br /><span><span><br />&ldquo;Apa aku terlalu keras?&rdquo; bisiknya.</span></span><br /><span><span><br />Angin berdesir, daun-daun bergetar pelan. Di kejauhan terdengar suara burung malam. Mara menutup mata, mencoba mengingat suara ibunya.</span></span><br /><span><span><br />&ldquo;Perempuan juga penjaga tanah,&rdquo; kata ibunya dulu, saat ia pertama kali ikut rapat adat dan disuruh duduk di belakang. &ldquo;Kalau laki-laki lupa, perempuan yang mengingatkan.&rdquo;</span></span><br /><span><span style="font-weight:700"><br />***</span></span><br /><span><span><br />Keesokan harinya, alat-alat berat datang. Suaranya menggetarkan tanah. Anak-anak berlarian melihat dari jauh, mata mereka berbinar campur takut. Seorang pria berkemeja rapi mendekati kepala kampung sambil membawa map.</span></span><br /><span><span><br />&ldquo;Ini hanya survei awal,&rdquo; katanya. &ldquo;Tidak akan merusak apa-apa.&rdquo;</span></span><br /><span><span><br />Mara melangkah maju. Ia tak lagi berdiri di belakang.</span></span><br /><span><span><br />&ldquo;Batasnya di sana,&rdquo; katanya tegas, menunjuk ke arah pohon matoa. &ldquo;Kalian tidak boleh lewat.&rdquo;</span></span><br /><span><span><br />Pria itu tersenyum tipis. &ldquo;Ibu siapa? Kami sudah bicara dengan kepala kampung.&rdquo;</span></span><br /><span><span><br />&ldquo;Saya anak tanah ini,&rdquo; jawab Mara. &ldquo;Dan saya tahu di mana kubur leluhur kami berada.&rdquo;</span></span><br /><span><span><br />Beberapa perempuan mulai berdiri di sampingnya. Ada Ina Rumi yang rambutnya sudah memutih, ada Sari yang sedang menggendong bayi. Mereka tak banyak bicara, tetapi kehadiran mereka seperti akar-akar yang saling bertaut di bawah tanah.</span></span><br /><span><span><br />&ldquo;Kami tidak menolak kerja,&rdquo; lanjut Mara, suaranya bergetar tetapi tak patah. &ldquo;Kami menolak kehilangan.&rdquo;</span></span><br /><span><span><br />Kepala kampung terdiam. Ia menatap hutan, lalu menatap alat berat yang masih meraung pelan. Wajahnya menyimpan ragu.</span></span><br /><span><span><br />&ldquo;Beri kami waktu,&rdquo; katanya akhirnya pada pria berkemeja rapi. &ldquo;Kami harus bermusyawarah lagi.&rdquo;</span></span><br /><span><span><br />Pria itu terlihat tak puas, tetapi ia mengangguk. Alat-alat berat dimatikan. Suara hutan perlahan kembali&mdash;serangga, angin, dan detak jantung yang mulai tenang.</span></span><br /><span><span style="font-weight:700"><br />***</span></span><br /><span><span><br />Malam itu, balai adat kembali penuh. Kali ini perempuan duduk di depan. Mara berdiri, tangannya dingin, tetapi matanya menyala.</span></span><br /><span><span><br />&ldquo;Kalau hutan dibuka,&rdquo; katanya, &ldquo;kita mungkin dapat uang. Tapi di mana anak-anak kita akan belajar tentang akar? Di mana mereka akan mengenal nama-nama pohon dalam bahasa kita? Kalau sungai keruh, siapa yang memberi mereka air?&rdquo;</span></span><br /><span><span><br />Seorang pemuda berdiri. &ldquo;Tapi kami butuh kerja.&rdquo;</span></span><br /><span><span><br />&ldquo;Kita bisa cari jalan lain,&rdquo; jawab Mara. &ldquo;Kebun kecil milik sendiri. Menjaga hutan, bukan menjualnya. Kita bisa tanam kembali sagu, kelola hasil hutan tanpa menebang semuanya. Kita tidak harus memilih antara lapar dan kehilangan.&rdquo;</span></span><br /><span><span><br />Percakapan malam itu panjang. Ada yang marah, ada yang menangis. Tetapi untuk pertama kalinya, suara perempuan tak lagi hanya bisik di dapur.</span></span><br /><span><span style="font-weight:700"><br />***</span></span><br /><span><span><br />Beberapa hari kemudian, keputusan diumumkan. Kampung menolak pembukaan lahan besar-besaran. Mereka meminta kerja sama yang tidak merusak batas hutan, dengan syarat adat dihormati. Jika tidak, mereka siap bertahan.</span></span><br /><span><span><br />Perusahaan itu pergi tanpa banyak kata. Mungkin mereka akan kembali dengan tawaran lain. Dunia luar tak pernah benar-benar menyerah. Tapi untuk sementara, hutan tetap utuh.</span></span><br /><span><span><br />Suatu sore, Mara kembali berdiri di batas itu. Matahari turun perlahan, mewarnai langit dengan jingga lembut. Anak-anak bermain di dekat sungai, suara tawa mereka memantul di antara pepohonan.</span></span><br /><span><span><br />Ina Rumi mendekat dan menepuk bahunya. &ldquo;Kau berani,&rdquo; katanya pelan.</span></span><br /><span><span><br />Mara tersenyum tipis. &ldquo;Saya hanya takut kehilangan.&rdquo;</span></span><br /><span><span><br />Ina Rumi tertawa kecil. &ldquo;Takut yang baik. Takut yang menjaga.&rdquo;</span></span><br /><span><span><br />Mara memandang pohon matoa tua, batu hitam, dan akar-akar yang saling menyilang. Ia sadar perjuangan belum selesai. Akan ada peta-peta baru, janji-janji baru, mungkin juga ancaman. Tetapi kini ia tahu sesuatu: batas hutan bukan hanya garis di tanah. Ia adalah garis di hati.</span></span><br /><span><span>Dan selama masih ada yang mengingat, batas itu tak akan mudah dihapus.</span></span><br /><span><span><br />Angin sore kembali berdesir, membawa aroma tanah basah dan daun sagu. Mara menghirupnya dalam-dalam. Di dadanya, janji lama itu berdenyut pelan&mdash;janji untuk menjaga.</span></span><br /><span><span><br />Ia bukan kepala kampung. Ia bukan pejabat. Ia hanya seorang perempuan yang berdiri di antara hutan dan dunia yang ingin menelannya.</span></span><br /><span><span><br />Tetapi kadang, itu sudah cukup.</span></span><br /></div>  <div class="paragraph">***<br /><span><span><strong>Reki Remos Sineri</strong> lahir di Sorong pada 28 Desember 1981 dan hidup bersama masyarakat adat Suku Mbaham-Matta di Kabupaten Fakfak. Ia aktif melakukan pendampingan di Kampung Brongkendik melalui kegiatan literasi untuk meningkatkan pendidikan anak. Ia juga terlibat dalam produksi film </span><span>Henggi, Kavbari,</span><span> serta film dokumenter </span><span>Marhawah </span><span>(2022) yang mendokumentasikan pengetahuan maestro dengan dukungan Direktorat Jenderal Kebudayaan.</span></span><br /></div>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Noken dan Nyanyian Koreri di Tepi Laut]]></title><link><![CDATA[https://www.jurnalperempuan.org/cerpenpuisi-feminis/noken-dan-nyanyian-koreri-di-tepi-laut]]></link><comments><![CDATA[https://www.jurnalperempuan.org/cerpenpuisi-feminis/noken-dan-nyanyian-koreri-di-tepi-laut#comments]]></comments><pubDate>Sat, 04 Jul 2026 17:34:07 GMT</pubDate><category><![CDATA[Uncategorized]]></category><guid isPermaLink="false">https://www.jurnalperempuan.org/cerpenpuisi-feminis/noken-dan-nyanyian-koreri-di-tepi-laut</guid><description><![CDATA[Oleh:&nbsp;&#8203;Rezya Agnesica Helena Sihaloho  Pagi selalu datang dengan bunyi yang berbeda di kampung pesisir itu.Tidak pernah benar-benar sama. Seolah-olah laut dan langit telah bersepakat menentukan nada yang akan membangunkan manusia-manusia kecil di tepi air.Kadang pagi hadir bersama desir angin laut dan bau asin yang menyentuh hidung seperti ingatan lama. Bau itu meresap ke kulit, rambut, dan kayu-kayu rumah, menandai bahwa mereka hidup di batas antara darat dan samudra. Pada pagi seper [...] ]]></description><content:encoded><![CDATA[<div class="paragraph"><strong>Oleh:&nbsp;&#8203;Rezya Agnesica Helena Sihaloho</strong></div>  <div class="paragraph"><span><span>Pagi selalu datang dengan bunyi yang berbeda di kampung pesisir itu.</span></span><br /><span><span>Tidak pernah benar-benar sama. Seolah-olah laut dan langit telah bersepakat menentukan nada yang akan membangunkan manusia-manusia kecil di tepi air.<br /></span></span><br /><span><span>Kadang pagi hadir bersama desir angin laut dan bau asin yang menyentuh hidung seperti ingatan lama. Bau itu meresap ke kulit, rambut, dan kayu-kayu rumah, menandai bahwa mereka hidup di batas antara darat dan samudra. Pada pagi seperti itu, yang terdengar hanyalah debur ombak teratur, langkah nelayan menuruni tangga kayu, dan percakapan pelan yang menjaga ketenangan.</span></span><br /><span><span><br />Namun ada pagi yang datang dengan dentum. Dentum yang memecah cakrawala, membuat camar beterbangan dan anjing-anjing menggonggong tanpa arah. Dentum yang menyusup ke tulang, membuat anak-anak terbangun dengan mata membulat sebelum benar-benar sadar.</span></span><br /><span><span><br />&#8203;Pagi itu, helikopter melintas rendah di atas garis pantai.</span></span></div>  <div>  <!--BLOG_SUMMARY_END--></div>  <div class="paragraph"><span><span>Awalnya hanya dengung tipis di kejauhan, seperti lebah besar tersesat di langit. Lalu semakin mendekat, semakin berat. Udara yang semula jernih terasa menegang.</span></span><br /><br /><span><span>&ldquo;Ma&hellip; itu apa?&rdquo; suara Yafet terdengar dari dalam rumah, masih parau oleh sisa tidur.</span></span><br /><span><span><br />Maria tidak langsung menjawab. Ia mengenali suara itu bahkan sebelum bentuknya tampak. Tubuhnya lebih dulu tahu daripada pikirannya.</span></span><br /><span><span><br />Helikopter muncul dari balik bukit, bergerak rendah seakan menyentuh pucuk kelapa. Suara baling-balingnya mengaduk udara, memukul atap seng dan daun kelapa, lalu menggulung turun ke permukaan laut.</span></span><br /><span><span><br />Air yang semula tenang bergetar oleh kecemasan yang tak terlihat. Permukaan yang tadi memantulkan cahaya merah muda kini berkerut seperti kulit merinding.</span></span><br /><span><span><br />Beberapa perahu kecil yang bersiap melaut berhenti. Para nelayan mendongak tanpa suara, hanya mengikuti benda itu dengan tatapan waspada.</span></span><br /><span><span><br />Di dalam rumah terdengar langkah kecil tergesa.</span></span><br /><span><span><br />&ldquo;Mama!&rdquo; Lidia muncul di ambang pintu. &ldquo;Dia lewat lagi.&rdquo;</span></span><br /><span><span><br />Maria menoleh. Kedua anaknya berdiri berdekatan, tanpa sadar saling menggenggam tangan.</span></span><br /><span><span><br />&ldquo;Masuk dulu,&rdquo; kata Maria pelan, lebih tenang daripada degup jantungnya. &ldquo;Jangan berdiri di depan.&rdquo;</span></span><br /><span><span><br />Helikopter melintas tepat di atas kampung. Dinding kayu berderit halus, seng bergetar, pasir pantai terangkat tipis.</span></span><br /><span><span><br />Suara itu bukan sekadar bising. Ia membawa kemungkinan. Razia. Pengejaran. Kabar buruk.</span></span><br /><span><span><br />Yafet menutup telinganya. &ldquo;Mama, kenapa selalu pagi?&rdquo;</span></span><br /><span><span><br />&ldquo;Karena pagi orang-orang mulai bergerak,&rdquo; jawab Maria, berusaha menjelaskan tanpa menambah takut.</span></span><br /><span><span><br />Baling-baling masih berputar sebelum perlahan menjauh ke arah barat. Gema suaranya menggantung beberapa detik, seperti bayangan yang enggan pergi.</span></span><br /><span><span><br />Ombak kembali pada ritmenya. Namun di antara riaknya ada getar yang hanya bisa dirasakan oleh dada yang terlalu sering terkejut.</span></span><br /><span><span>Maria kembali duduk di beranda.</span></span><br /><span><span><br />Rumah kayu itu menghadap laut, bertumpu pada tiang-tiang tua yang menghitam oleh waktu dan garam. Dari celah lantai, aroma laut naik bercampur dengan kayu tua dan sisa asap tungku.</span></span><br /><span><span><br />Ia menyukai waktu sebelum matahari benar-benar tinggi. Saat itu, laut terasa seperti sahabat yang diam dan mendengarkan.</span></span><br /><span><span><br />Namun pagi ini, bahkan laut pun menahan napas.</span></span><br /><span><span><br />Di pangkuannya, <em>noken </em>setengah jadi terhampar. Jemarinya bergerak terlatih, menyatukan serat demi serat. Setiap simpul kecil seperti doa yang tak diucapkan.</span></span><br /><span><span><br />Tangan itu pernah digenggam Natalius ketika mereka berjalan di pantai pada tahun pertama pernikahan. Waktu itu bunyi pagi hanyalah ombak dan tawa. Kini tangan itu bekerja sendiri, kuat dan sabar.</span></span><br /><span><span>Lidia duduk di sampingnya. &ldquo;Sudah pergi, Ma?&rdquo;</span></span><br /><span><span><br />&ldquo;Sudah.&rdquo;</span></span><br /><span><span><br />&ldquo;Dia cari siapa?&rdquo;</span></span><br /><span><span><br />Maria terdiam sesaat. &ldquo;Mama tidak tahu. Yang penting kita tetap di rumah dan jaga diri.&rdquo;</span></span><br /><span><span><br />Yafet masih berdiri di ambang pintu, memandang langit yang kembali kosong. &ldquo;Kalau dia datang lagi?&rdquo;</span></span><br /><span><span><br />Maria tersenyum tipis, memanggilnya mendekat. &ldquo;Kalau datang lagi, kita tetap lakukan yang biasa. Kita makan. Kita belajar. Kita berdoa.&rdquo;</span></span><br /><span><span><br />Di sampingnya tergeletak buku kecil lusuh, catatan tangan almarhum ayahnya tentang pelayaran leluhur, tentang <em>Koreri</em></span><span>&nbsp;dan <em>Mansar Mananarmakeri</em></span><span>&nbsp;yang diyakini membawa zaman kebaikan.&nbsp;<br /><br /></span></span><span><span>Maria memandang buku itu sejenak, lalu kembali menenun.</span></span><br /><span><span><br />Helikopter melintas sekali lagi di kejauhan sebelum benar-benar hilang. Kali ini suaranya lebih samar, seperti gema yang ditelan langit.</span></span><br /><span><span><br />Di dalam rumah, Lidia dan Yafet masih saling menggenggam tangan, tetapi tidak lagi menutup telinga. Mereka tak lagi menangis setiap suara asing datang dari langit. Ketakutan telah menjadi bagian dari keseharian, seperti pasang surut laut. Tubuh kecil mereka sudah belajar membedakan bunyi-bunyian, termasuk bunyi yang perlu diwaspadai.</span></span><br /><span><span><br />Maria memperhatikan mereka dengan sudut matanya.</span></span><br /><span><span><br />Seharusnya, anak-anak terbangun oleh bau sarapan dan cahaya matahari, bukan oleh bunyi mesin yang menegangkan dada.<br /><br /></span></span><span><span>Ia kembali menenun.</span></span><br /><span><span><br />Hidup tak bisa ditunda hanya karena bunyi yang menggetarkan.<br /><br /></span></span><span><span>Jika ia berhenti setiap kali suara itu datang, noken tak akan selesai, ikan tak akan dijemur, anak-anak tak akan belajar.</span></span><br /><span><span><br />Maka ia tetap duduk menghadap laut, membiarkan pagi berjalan.</span></span><br /><span><span>Matahari naik lebih tinggi. Cahaya memantul di air. Nelayan kembali mendorong perahu.</span></span><br /><span><span><br />Kampung bergerak lagi, seolah tak ada yang melintas tadi.</span></span><br /><span><span><br />Namun Maria tahu, di dalam dada setiap orang, gema itu masih ada.<br /><br /></span></span><span><span>Dan ia menenun lebih rapat dari biasanya, memastikan bahwa apa pun yang datang dari langit, darat, dan laut ini tetap memiliki simpul yang tak mudah terlepas.</span></span><br /><span><span style="font-weight:700"><br />***</span></span><br /><span><span><br />Helikopter itu akhirnya menghilang di balik lengkung bukit, meninggalkan langit yang tampak bersih seolah tak pernah dilintasi apa pun. Namun, ketenangan yang tersisa bukan ketenangan yang utuh. Ia seperti kain yang pernah sobek lalu dijahit kembali, rapi dari jauh, tetapi masih terasa bekasnya ketika disentuh.</span></span><br /><span><span><br />Maria memandang laut lebih lama dari biasanya. Ombak telah kembali pada iramanya yang setia. Perahu-perahu kecil kembali bergerak perlahan. Anak-anak mulai berlarian di pasir, seolah suara tadi hanya mimpi yang terlalu keras.</span></span><br /><span><span><br />Ia tahu, kampung ini selalu belajar kembali berdiri setelah setiap getaran.</span></span><br /><span><span><br />Dan mungkin, itulah sebabnya orang-orang tua di kampung sering berkata bahwa orang Biak adalah pelaut ulung dari Papua.</span></span><br /><span><span><br />Bukan hanya karena mereka pandai membaca angin dan arus, tetapi karena mereka terbiasa hidup di antara ketidakpastian.</span></span><br /><span><span><br />Leluhur mereka mengarungi samudra luas, menyusuri pesisir Papua hingga ke pulau-pulau jauh. Mereka tidak selalu berlayar di laut yang ramah. Ombak tinggi dan badai datang tanpa janji. Namun mereka tetap berangkat, tetap menantang cakrawala, karena laut bukan sekadar ruang mencari makan.</span></span><br /><span><span><br />Laut adalah ruang identitas.</span></span><br /><span><span><br />Di kampung itu, anak-anak belajar berenang sebelum mereka lancar membaca. Tubuh kecil mereka terbiasa dengan air asin, dengan arus yang kadang lembut, kadang keras. Anak lelaki diajarkan mengikat tali, menambal perahu, membaca arah matahari dan warna langit. Anak perempuan diajarkan menenun, mengolah hasil laut, dan mengenali musim ikan dari perubahan angin.</span></span><br /><span><span><br />Kehidupan bergerak mengikuti ritme laut.</span></span><br /><span><span><br />Malam hari, sebelum listrik desa menyala, para lelaki tua duduk di pasir, menunjuk rasi bintang sambil mengajarkan anak-anak lelaki tentang arah dan jarak. Mereka menyebut nama bintang dalam bahasa lama yang kini jarang terdengar. Nama-nama yang terasa berat di lidah generasi muda, tetapi sarat makna.</span></span><br /><span><span><br />Perempuan-perempuan menyiapkan sagu bakar, mengupas keladi, sambil mendengarkan cerita dan menggendong bayi. Sesekali mereka ikut menambahkan potongan kisah, mengoreksi ingatan para lelaki, atau tertawa kecil ketika cerita lama dibumbui ulang.</span></span><br /><span><span><br />Api kecil menyala di antara gelap dan luasnya laut. Percikannya seperti bintang yang jatuh ke pasir. Di antara cahaya temaram itu, cerita berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya seperti pusaka yang tak tertulis. Tidak ada buku pelajaran yang mencatatnya, tetapi setiap anak yang duduk di situ menyimpannya di dalam dada.</span></span><br /><span><span><br />Maria tumbuh di antara cerita-cerita seperti itu.</span></span><br /><span><span><br />Ayahnya gemar bercerita di tepi pantai saat senja. Suaranya dalam dan pelan, seolah takut mengganggu laut yang sedang berubah warna menjadi jingga dan ungu.</span></span><br /><span><span><br />Ia tidak hanya bercerita tentang perjalanan leluhur yang mengarungi samudra, tetapi juga tentang <em>Koreri </em>yang muncul di tanah Biak pada tahun 1930 hingga 1940-an. Tentang keyakinan akan datangnya Mansar Mananarmakeri, sosok penyelamat yang membawa kemakmuran setelah masa-masa gelap. Tentang harapan bahwa suatu hari tanah menjadi subur kembali, hidup menjadi adil, dan penderitaan berakhir.</span></span><br /><span><span><br />Sebagai anak kecil, Maria selalu membayangkan sosok itu datang dari arah cakrawala, berjalan di atas air yang berkilau. Namun ayahnya tak pernah menekankan rupa atau bentuk. Yang ia tekankan adalah makna.</span></span><br /><span><span><br />&ldquo;<em>Koreri </em>bukan hanya tentang seseorang yang datang,&rdquo; kata ayahnya suatu kali, sambil menatap laut yang perlahan gelap. &ldquo;<em>Koreri </em>tentang keyakinan bahwa kita tidak ditakdirkan untuk terus-menerus menderita.&rdquo;</span></span><br /><span><span><br />Semangat itu pernah membangkitkan keberanian melawan pendudukan Jepang. Orang-orang yang tampak sederhana menyimpan keberanian yang tak bisa diukur dengan senjata. Mereka percaya bahwa penderitaan tidak abadi, bahwa ada masa ketika segala sesuatu akan dipulihkan.</span></span><br /><span><span><br />Seiring perubahan zaman, <em>Koreri</em> perlahan surut dari ruang ibadah dan ruang publik. Namun jejaknya tetap bertahan dalam ingatan kolektif masyarakat. Cerita itu hidup dalam percakapan keluarga, dalam doa-doa sunyi yang dinaikkan sebelum tidur, dalam nyanyian lama yang kadang dilantunkan pelan ketika menenun atau mendayung.</span></span><br /><span><span><br />Maria masih bisa mengingat ayahnya mengucapkan satu kalimat yang selalu ia ulang.</span></span><br /><span><span><br />&ldquo;Yang dicari orang-orang <em>Koreri </em>bukan kuasa,&rdquo; katanya suatu malam. &ldquo;Mereka hanya ingin hidup yang layak dan aman.&rdquo;</span></span><br /><span><span><br />Dulu, ketika hidup masih terasa sederhana, kata aman terdengar biasa saja. Aman berarti bisa melaut tanpa takut. Aman berarti anak-anak bisa bermain sampai gelap tanpa dipanggil tergesa. Aman berarti tidur lelap tanpa terbangun oleh suara asing.</span></span><br /><span><span><br />Kini kalimat itu terasa semakin berat bagi Maria.</span></span><br /><span><span><br />Konflik yang tak kunjung selesai membuat kata aman terasa seperti barang mewah. Sesuatu yang dibicarakan, tetapi jarang benar-benar dirasakan. Sesuatu yang selalu tampak dekat di cakrawala, tetapi tak pernah benar-benar tiba di pantai.</span></span><br /><span><span><br />Maria membiarkan pandangannya tenggelam pada garis biru yang tak berujung.</span></span><br /><span><span><br />Ia membayangkan leluhurnya berdiri di atas perahu kayu, membaca bintang dengan tenang meski angin tak selalu bersahabat. Mungkin menjadi pelaut ulung bukan berarti tidak pernah takut, melainkan tetap berlayar meski rasa itu menerpa.</span></span><br /><span><span><br />Dan di tengah bunyi-bunyi yang datang dari langit dan darat, Maria tahu satu hal.</span></span><br /><span><span><br />Jika laut telah mengajarkan mereka bertahan dari badai, maka konflik pun tak akan menjadi akhir dari cerita mereka.</span></span><br /><span><span><br />Selama ingatan tentang siapa mereka tetap hidup, selama cerita terus diwariskan, selama perempuan masih menenun dan anak-anak masih diajarkan membaca arah, maka kampung ini belum kehilangan dirinya.</span></span><br /><span><span style="font-weight:700"><br />***</span></span><br /><span><span><br />Namun laut yang mengajarkan keberanian itu juga yang suatu hari mengambil sesuatu yang tak pernah kembali.</span></span><br /><span><span><br />Natalius, suaminya, hilang ketika memeriksa jaring ikan di teluk kecil.</span></span><br /><span><span><br />Hari itu laut sebenarnya tenang. Tidak ada tanda badai. Matahari bersinar cerah dan angin bertiup lembut, cukup untuk membuat layar perahu mengembang tanpa memaksa. Natalius berangkat dengan senyum biasa, seperti pagi-pagi sebelumnya. Ia membawa bekal sagu dan ikan bakar yang dibungkus daun. Sebelum turun ke perahu, ia sempat mencium dahi Maria.</span></span><br /><span><span><br />&ldquo;Jangan tunggu lama-lama,&rdquo; katanya ringan.</span></span><br /><span><span><br />Ia bahkan bercanda dengan Lidia, menjanjikan akan membawa pulang ikan kakap besar. &ldquo;Kalau besar sekali, kita bakar sama-sama,&rdquo; ujarnya sambil mengedipkan mata.</span></span><br /><span><span><br />Tidak ada yang terasa ganjil.</span></span><br /><span><span><br />Namun sore menjelang, perahunya ditemukan terombang-ambing tanpa orang di dalamnya.</span></span><br /><span><span><br />Seorang nelayan lain yang pertama kali melihatnya berteriak memanggil warga. Perahu itu masih utuh. Jaringnya masih tergulung rapi. Bekalnya tersisa setengah.</span></span><br /><span><span><br />Natalius tidak ada.</span></span><br /><span><span><br />Ada kabar tentang operasi keamanan di hutan dekat pantai. Ada desas-desus tentang kelompok bersenjata yang melintas. Ada suara tembakan samar dari arah bukit, meski tak ada yang benar-benar bisa memastikan dari mana asalnya.</span></span><br /><span><span><br />Tak ada kepastian.</span></span><br /><span><span><br />Tak ada tubuh untuk dikuburkan.</span></span><br /><span><span><br />Tak ada jawaban.</span></span><br /><span><span><br />Kampung mendadak menjadi sunyi dengan cara yang berbeda. Orang-orang bicara dengan suara lebih pelan. Beberapa menepuk bahu Maria. Beberapa menghindari tatapannya karena tak tahu harus berkata apa.</span></span><br /><span><span><br />Hari-hari setelah itu terasa seperti berjalan di air setinggi dada. Semua dilakukan dengan susah payah. Setiap langkah terasa berat, setiap napas seperti harus ditarik lebih dalam dari biasanya.</span></span><br /><span><span><br />Maria menunggu berminggu-minggu. Setiap kali ada perahu mendekat, jantungnya berdegup lebih cepat. Setiap kabar dari kampung sebelah membuatnya waspada. Jika ada yang menyebut nama Natalius dalam percakapan, ia langsung menoleh.</span></span><br /><span><span><br />&ldquo;Barang kali dia ditahan,&rdquo; bisik seseorang suatu hari.</span></span><br /><span><span><br />&ldquo;Barang kali dia bersembunyi,&rdquo; kata yang lain.</span></span><br /><span><span><br />Barang kali</span><span>. Kata itu menjadi pengganti kepastian.</span></span><br /><span><span><br />Namun waktu berjalan tanpa memberi kejelasan.</span></span><br /><span><span><br />Sejak hari itu, laut tak lagi sekadar ruang mencari nafkah. Laut menyimpan kehilangan yang tak bernama. Setiap ombak yang datang seperti membawa pertanyaan yang tak pernah dijawab. Kadang Maria berdiri lama di tepi air, memandang garis cakrawala yang tak berubah, seolah berharap suatu titik kecil akan muncul dan mendekat.</span></span><br /><span><span><br />Maria menjadi kepala keluarga.</span></span><br /><span><span><br />Ia bangun lebih pagi dari sebelumnya. Membantu menarik jaring bersama para nelayan lain, meski beberapa dari mereka memandangnya dengan iba. Ia menjemur ikan asin, lalu menenun noken untuk dijual ke pasar distrik yang berjarak dua jam perjalanan.</span></span><br /><span><span><br />Perjalanan itu tidak mudah. Jalan tanah kadang berlumpur. Ia harus mengangkat noken berisi ikan asin dan hasil kebun, berjalan bersama perempuan-perempuan lain yang juga membawa beban masing-masing.</span></span><br /><span><span><br />Ia belajar tawar-menawar dengan pedagang besar. Belajar menahan diri ketika harga ditawar terlalu rendah. Belajar menghitung sisa uang dan memutuskan mana yang harus dibeli lebih dulu, beras atau minyak tanah, sabun atau gula.</span></span><br /><span><span><br />Ia belajar menahan air mata ketika anak-anak bertanya tentang ayah mereka.</span></span><br /><span><span><br />&ldquo;Papa pulang kapan?&rdquo; tanya Yafet suatu malam.</span></span><br /><span><span><br />Maria menatap wajah kecil itu lama. &ldquo;Papa ada dalam tangan Tuhan,&rdquo; jawabnya pelan.</span></span><br /><span><span><br />Jawaban itu bukan kepastian. Tetapi di kampung yang hidup dengan ketidakpastian, iman sering menjadi satu-satunya pegangan.</span></span><br /><span><span><br />Di sela-sela pekerjaan, ia mengurus Lidia dan Yafet yang tumbuh dalam bayang-bayang bunyi tembakan. Anak-anak yang terlalu cepat belajar arti waspada.</span></span><br /><span><span><br />Di kampung, perempuan memanggul beban sunyi. Ada yang kehilangan suami, ada yang kehilangan anak remaja, ada yang tubuhnya dilukai dalam kekacauan.</span></span><br /><span><span><br />Susan, perempuan muda yang diperkosa saat baku tembak di dekat dermaga, kini lebih sering duduk memandangi cakrawala. Ombak datang dan pergi, tetapi traumanya menetap. Setiap suara keras membuat tubuhnya menegang. Ia jarang berbicara dan lebih sering menyendiri.</span></span><br /><span><span><br />Maria sering duduk di sampingnya tanpa banyak kata. Kadang hanya memegang tangannya. Kadang berdoa dalam hati.</span></span><br /><span><span><br />&ldquo;Tuhan, pulihkan dia,&rdquo; bisiknya suatu sore.</span></span><br /><span><span><br />Konflik menjelma menjadi ketakutan, kemiskinan, dan luka yang tak selalu terlihat.</span></span><br /><span><span><br />Perempuan dan anak menjadi yang paling rentan. Tubuh mereka mudah dikorbankan, suara mereka sering diabaikan, dan masa depan mereka menjadi taruhan yang tidak pernah mereka pilih.</span></span><br /><span><span style="font-weight:700"><br />***</span></span><br /><span><span><br />Suatu sore, Lidia duduk di pasir bersama Maria. Perahu-perahu kecil kembali dari laut, layar terkembang tertiup angin senja. Langit berwarna jingga dan ungu, indah sekaligus menyayat.</span></span><br /><span><span><br />&ldquo;Mama,&rdquo; tanya Lidia perlahan, &ldquo;kalau kita bangsa pelaut yang kuat, kenapa kita masih takut?&rdquo;</span></span><br /><span><span><br />Pertanyaan itu sederhana, tetapi dalam.</span></span><br /><span><span><br />Maria menatap laut yang luas. Ombak memecah karang dengan suara teratur, seperti napas panjang.</span></span><br /><span><span><br />&ldquo;Karena kuat bukan berarti tidak takut,&rdquo; jawabnya. &ldquo;Leluhur kita berlayar bukan karena laut selalu tenang, tapi karena tahu ke mana harus menuju.&rdquo;</span></span><br /><span><span><br />Lidia memikirkan jawaban itu lama. Lalu bertanya lagi, &ldquo;Apakah Mansar Mananarmakeri akan datang dari laut?&rdquo;</span></span><br /><span><span><br />Maria tersenyum tipis. Ia teringat cerita ayahnya, teringat harapan tentang zaman pemulihan.</span></span><br /><span><span><br />&ldquo;Mungkin penyelamat itu bukan satu orang,&rdquo; katanya pelan. &ldquo;Mungkin hadir dalam keberanian kita sendiri.&rdquo;</span></span><br /><span><span><br />Pertanyaan itu membuat Maria merenung sepanjang malam.</span></span><br /><span><span><br />Ia membuka Alkitab kecil dan membaca Mazmur dengan suara pelan.</span></span><br /><span><span>&ldquo;Tuhan adalah terang dan keselamatanku, kepada siapa aku harus takut?&rdquo;</span></span><br /><span><span><br />Ia memejamkan mata dan membayangkan murid-murid yang ketakutan di tengah badai, ketika perahu mereka dihantam ombak dan angin mengamuk. Di tengah kecemasan itu, Yesus berdiri dan berkata, &ldquo;Tenanglah.&rdquo; Seketika laut menjadi diam.</span></span><br /><span><span><br />Maria tahu laut di hadapannya tidak selalu akan tenang. Ia tahu konflik tak berhenti hanya karena doa. Tetapi ia percaya Tuhan tidak meninggalkan mereka.</span></span><br /><span><span><br />Dalam hati, ia merasa Koreri dan imannya berjalan beriringan. Harapan akan zaman baik dan iman kepada Tuhan bertemu dalam satu titik, yaitu keyakinan bahwa penderitaan bukan akhir cerita.</span></span><br /><span><span style="font-weight:700"><br />***</span></span><br /><span><span><br />Beberapa bulan kemudian, fasilitator dari kota datang mengadakan pertemuan di gereja dekat pantai.</span></span><br /><span><span><br />Maria awalnya ragu datang. Luka yang terlalu lama dipendam sering terasa lebih aman daripada dibuka. Namun, ia tahu diam terlalu lama hanya membuat luka mengendap dan mengeras.</span></span><br /><span><span><br />Di sana, ia mendengar kata-kata yang jarang diucapkan di kampungnya: </span><span>trauma, kekerasan berbasis gender, ketahanan komunitas</span><span>. Kata-kata itu terasa asing, tetapi anehnya seperti sedang menyebut luka yang selama ini mereka sembunyikan.</span></span><br /><span><span><br />Ketika fasilitator mengatakan bahwa perempuan dan anak adalah kelompok paling terdampak, Maria merasa seperti ada cermin diletakkan tepat di depan wajahnya.Ia merasa seperti ada cermin yang diletakkan di depannya.</span></span><br /><span><span><br />&ldquo;Perempuan bukan hanya korban,&rdquo; kata salah satu fasilitator. &ldquo;Perempuan juga penjaga kehidupan.&rdquo;</span></span><br /><span><span><br />Maria teringat ayat dalam Amsal tentang perempuan bijaksana yang membangun rumahnya dengan tangannya sendiri. Ia juga teringat cerita <em>Koreri </em>tentang masa pemulihan.</span></span><br /><span><span><br />Kelompok dukungan pun dibentuk.</span></span><br /><span><span><br />Mereka mulai rutin bertemu. Berbagi cerita. Menangis bersama. Belajar mengenali tanda trauma pada anak. Mendampingi korban kekerasan yang ingin melapor.</span></span><br /><span><span><br />Kelas belajar untuk anak-anak dibuka di balai dekat pantai. Lidia membantu mengajar huruf-huruf pertama kepada anak-anak yang lebih kecil. Yafet menggambar kapal besar dengan layar putih dan menulis di bawahnya, </span><span>Dokter dari Laut</span><span>.</span></span><br /><span><span><br />Suara anak membaca bercampur dengan debur ombak. Tawa mereka menjadi semacam perlawanan sunyi terhadap ketakutan.</span></span><br /><span><span><br />Namun badai tak selalu bisa dihindari.</span></span><br /><span><span><br />Suatu malam, aparat datang melakukan pemeriksaan. Lelaki-lelaki dikumpulkan di lapangan dekat dermaga. Perempuan dan anak-anak menunggu dengan cemas, berdiri berkelompok di bawah lampu yang temaram.</span></span><br /><span><span><br />Maria berdiri memeluk Yafet. Dalam hati ia berdoa, Tuhan, lindungi mereka.</span></span><br /><span><span><br />Beberapa hari kemudian, jalur distribusi logistik ditutup. Harga beras melonjak. Anak-anak mulai kekurangan gizi. Seorang remaja perempuan dinikahkan dini demi rasa aman dan sedikit uang.</span></span><br /><span><span><br />Maria marah. Bukan marah yang berteriak, tetapi marah yang diam dan mendalam. Marah karena anak-anak harus menanggung konsekuensi dari keputusan yang tidak pernah mereka buat.</span></span><br /><span><span><br />Konflik merembes ke dapur, ke ruang tidur, ke masa depan.</span></span><br /><span><span><br />Ia semakin yakin bahwa perjuangan mereka bukan tentang memilih kubu, tetapi tentang memastikan perempuan dan anak tidak terus menjadi korban.</span></span><br /><span><span style="font-weight:700"><br />***</span></span><br /><span><span><br />Tahun-tahun berlalu.</span></span><br /><span><span><br />Konflik belum sepenuhnya reda, tetapi kelompok perempuan semakin solid. Mereka menyurati pemerintah daerah. Mereka membangun kebun bersama. Mereka mengumpulkan dana kecil untuk membantu korban.</span></span><br /><span><span><br />Lidia melanjutkan sekolah. Yafet semakin mantap ingin menjadi dokter.</span></span><br /><span><span>Suatu Minggu pagi, gereja penuh. Pendeta berkhotbah tentang badai dan iman.</span></span><br /><span><span><br />Maria menatap salib kayu dan merasa hatinya tidak lagi selemah dulu.</span></span><br /><span><span>Suatu pagi, laut benar-benar tenang. Tak ada bunyi helikopter. Tak ada kabar penembakan.</span></span><br /><span><span><br />Maria berdiri di tepi pantai dengan noken baru di bahunya.</span></span><br /><span><span><br />Anak-anak berlarian di pasir. Perahu-perahu kecil kembali berlayar.</span></span><br /><span><span>Pandangannya terhenti pada pertemuan langit dan laut, seolah mencari jawaban yang tak pernah selesai.</span></span><br /><span><span><br />Papua mungkin dikenal sebagai tanah konflik yang panjang. Namun tanah dan laut ini juga menyimpan daya hidup yang tak mudah dipatahkan.</span></span><br /><span><span><br />Selama perempuan terus menenun kehidupan, pengetahuan, dan keberanian, selama anak-anak masih berani bermimpi, masa depan belum tenggelam.</span></span><br /><span><span><em><br />Koreri </em>tak lagi hanya legenda. Ia hidup dalam tindakan kecil yang menjaga kehidupan.</span></span><br /><span><span><br />Maria mengangkat wajahnya ke langit.</span></span><br /><span><span><br />Harapan memang rapuh seperti perahu kecil di tengah samudra. Tetapi selama ada yang berani mengemudi dan membaca arah angin, pelayaran akan terus berlangsung.</span></span><br /><span><span><br />Dan di tepi laut itu, perempuan-perempuan Biak tetap menjaga kehidupan, sebagai penenun, pengingat, dan penunjuk arah bagi generasi yang sedang belajar berlayar tanpa takut, meski langit kadang masih menyimpan bunyi.</span></span><br /><br /><span><span style="font-weight:700">****</span><br /><br /><span></span></span><strong>Rezya Agnesica Helena Sihaloho&#8203;</strong><span><span> adalah peneliti dengan latar belakang pendidikan sarjana Hubungan Internasional dan magister Ketahanan Nasional, dengan karya akhir pada kedua jenjang berfokus pada isu Papua. Saat ini aktif sebagai Ketua Divisi Pendidikan, Kampanye, dan Pencegahan di Women and Child Resilience.</span></span><br /><br /><span style="font-weight:700">Catatan Kaki</span><ol><li>Koreri: dalam bahasa Biak berarti &ldquo;kita berganti kulit&rdquo;, yang bermakna kiasan untuk mencapai kehidupan baru yang bahagia, makmur, dan bebas dari penderitaan serta penjajahan.</li><li>Mansar Mananarmakeri: figur mitologis penting dalam budaya dan kepercayaan masyarakat Biak, Papua, yang diyakini menemukan rahasia Koreri (hidup abadi/kehidupan baru)</li></ol></div>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Aral Melintang]]></title><link><![CDATA[https://www.jurnalperempuan.org/cerpenpuisi-feminis/aral-melintang]]></link><comments><![CDATA[https://www.jurnalperempuan.org/cerpenpuisi-feminis/aral-melintang#comments]]></comments><pubDate>Sat, 04 Jul 2026 17:18:04 GMT</pubDate><category><![CDATA[Uncategorized]]></category><guid isPermaLink="false">https://www.jurnalperempuan.org/cerpenpuisi-feminis/aral-melintang</guid><description><![CDATA[Oleh: Oktaviana Kale  Indo&rsquo; Ruaya menebar bunga di sepanjang mulut gua, menyapa sejumlah kakek dan nenek yang masih diingat namanya, lalu menutup salamnya dengan, &ldquo;&hellip;dan semua yang tidur di dalam sana.&rdquo; Kemudian ia memutar tutup botol, menuang air ke telapak tangan, dan mencipratkannya ke berbagai penjuru.&nbsp;&#8203;Ruaya, yang tak henti-henti menguap, berdiri beberapa langkah di belakang ibunya dengan kedua tangan bertaut di depan perut sebagai sikap hormat.&nbsp;      [...] ]]></description><content:encoded><![CDATA[<div class="paragraph"><strong>Oleh: Oktaviana Kale</strong></div>  <div class="paragraph"><span><span style="color:rgb(13, 13, 13)"><em>Indo</em>&rsquo;</span><span style="color:rgb(13, 13, 13)"> Ruaya menebar bunga di sepanjang mulut gua, menyapa sejumlah kakek dan nenek yang masih diingat namanya, lalu menutup salamnya dengan, &ldquo;&hellip;dan semua yang tidur di dalam sana.&rdquo; Kemudian ia memutar tutup botol, menuang air ke telapak tangan, dan mencipratkannya ke berbagai penjuru.&nbsp;<br />&#8203;</span></span><br /><span><span style="color:rgb(13, 13, 13)">Ruaya, yang tak henti-henti menguap, berdiri beberapa langkah di belakang ibunya dengan kedua tangan bertaut di depan perut sebagai sikap hormat.&nbsp;</span></span></div>  <div>  <!--BLOG_SUMMARY_END--></div>  <div class="paragraph" style="text-align:left;"><span><span style="color:rgb(13, 13, 13)">&ldquo;Orang tuaku, para pendahuluku, kami datang lagi menjenguk. Jangan kira kami telah lupa!&rdquo; </span><span style="color:rgb(13, 13, 13)"><em>Indo</em>&rsquo;</span><span style="color:rgb(13, 13, 13)"> Ruaya berseru. Sambil meraba dinding luar gua, ia melanjutkan, &ldquo;Kasihilah kami, keturunanmu ini. Kasihanilah kami semua di Tongkonan. Maafkanlah sekiranya kami bersalah. Jauhkanlah murka dari kami. Sebaliknya, tunjukkanlah yang semestinya kami lakukan. Ajari kami!&rdquo;</span></span><br /><br /><span><span style="color:rgb(13, 13, 13)">Suasana hening sejenak. Kedua tangan </span><span style="color:rgb(13, 13, 13)"><em>Indo</em>&rsquo;</span><span style="color:rgb(13, 13, 13)"> Ruaya masih melekat pada lembabnya permukaan gua. &ldquo;Damai untuk kita semua,&rdquo; bisiknya, memejamkan mata.</span></span><br /><br /><span><span style="color:rgb(13, 13, 13)">Sementara ibunya melanjutkan ritual, Ruaya malah terhanyut dalam tumpukan bunga di mulut gua. Lapis demi lapisnya yang membusuk adalah bukti terlalu seringnya kunjungan mereka. Bau asam proses dekomposisi pelan-pelan naik bersama udara pagi, menguar di lubang hidung.&nbsp;</span></span><br /><br /><span><span style="color:rgb(13, 13, 13)">Sudah lama Ruaya ingin meminta izin membersihkan hamparan tersebut. Namun, ia mengkhawatirkan emosi dan perilaku ibunya yang akhir-akhir ini mustahil ditebak.&nbsp;</span></span><br /><br /><span><span style="color:rgb(13, 13, 13)">Keganjilan yang ditunjukkan </span><span style="color:rgb(13, 13, 13)">Indo&rsquo;</span><span style="color:rgb(13, 13, 13)"> Ruaya tidak hanya membingungkan anaknya, tetapi juga telah mengusik seisi desa. Mereka bilang, </span><span style="color:rgb(13, 13, 13)">Indo&rsquo;</span><span style="color:rgb(13, 13, 13)"> Ruaya berubah menjadi sosok yang tak lagi mereka kenal. Belum pernah mereka menyaksikan perempuan yang mereka segani itu bertingkah seperti sekarang.&nbsp;</span></span><br /><br /><span><span style="color:rgb(13, 13, 13); font-weight:700">***</span></span><br /><br /><span><span style="color:rgb(13, 13, 13)">Semua bermula ketika perempuan paruh baya itu terbangun pada suatu pagi buta dan langsung mencari tangga.&nbsp;</span></span><br /><br /><span><span style="color:rgb(13, 13, 13)">Ruaya masih di atas pembaringannya. &ldquo;Untuk apa?&rdquo; tanyanya, belum sepenuhnya terjaga.&nbsp;</span></span><br /><br /><span><span style="color:rgb(13, 13, 13)">&ldquo;Mengecek atap,&rdquo; ucap </span><span style="color:rgb(13, 13, 13)"><em>Indo</em>&rsquo;</span><span style="color:rgb(13, 13, 13)"> Ruaya sembari membuka pintu mungil Tongkonan. Belum sempat anaknya menanggapi, ia sudah melompat ke bawah </span><span style="color:rgb(13, 13, 13)">tangdo</span><span style="color:rgb(13, 13, 13)">.&nbsp;</span></span><br /><br /><span><span style="color:rgb(13, 13, 13)">Ruaya ditinggal ternganga. Atap rumah adat itu menjulang belasan meter. Ibunya belum pernah naik ke sana. Ada sesuatu yang memantik nyali ibunya sampai senekat itu.&nbsp;</span></span><br /><br /><span><span style="color:rgb(13, 13, 13)">Dibantu beberapa lelaki yang menahan bagian bawah tangga, </span><span style="color:rgb(13, 13, 13)"><em>Indo</em>&rsquo;</span><span style="color:rgb(13, 13, 13)"> Ruaya menyusuri jalinan bambu di atas sana. Penghuni desa yang berkumpul pun menyebar mengelilingi Tongkonan, bersiap menangkap kalau-kalau ia terjatuh. Bagaimanapun, </span><span style="color:rgb(13, 13, 13)"><em>Indo</em>&rsquo;</span><span style="color:rgb(13, 13, 13)"> Ruaya adalah pencerita yang dipercayakan leluhur. Yang menurutnya mendesak, sudah pasti penting.&nbsp;&nbsp;</span></span><br /><br /><span><span style="color:rgb(13, 13, 13)">Merapatkan sarungnya, </span><span style="color:rgb(13, 13, 13)"><em>Indo</em>&rsquo;</span><span style="color:rgb(13, 13, 13)"> Ruaya naik dan turun tangga. Empat kali ia meminta para lelaki untuk menggeser tangga ke sisi yang berbeda agar dapat diperiksanya keseluruhan atap. Meski begitu, atap yang dikerubungi pakis tersebut tampaknya tak menyimpan petunjuk yang dicarinya.&nbsp;</span></span><br /><br /><span><span style="color:rgb(13, 13, 13)">Setelah turun untuk terakhir kalinya, </span><span style="color:rgb(13, 13, 13)"><em>Indo</em>&rsquo;</span><span style="color:rgb(13, 13, 13)"> Ruaya bergegas masuk ke dalam Tongkonan. Ruaya dan beberapa </span><span style="color:rgb(13, 13, 13)">penatua</span><span style="color:rgb(13, 13, 13)"> </span><span style="color:rgb(13, 13, 13)">kampung menyusulnya.</span></span><br /><br /><span><span style="color:rgb(13, 13, 13)">&ldquo;Pagi-pagi kamu sudah bikin gaduh. Ada apa ini?&rdquo; selidik salah seorang sepuh.&nbsp;</span></span><br /><br /><span><span style="color:rgb(13, 13, 13)">&ldquo;Aku bermimpi,&rdquo; sahut </span><span style="color:rgb(13, 13, 13)">Indo&rsquo;</span><span style="color:rgb(13, 13, 13)"> Ruaya. Keningnya bersandar pada satu lutut yang ditekuk.&nbsp;</span></span><br /><br /><span><span style="color:rgb(13, 13, 13)">&ldquo;Mimpi apa, </span><span style="color:rgb(13, 13, 13)">Indo&rsquo;</span><span style="color:rgb(13, 13, 13)">?&rdquo; Ruaya mendekat dan duduk di sisi ibunya.<br />&nbsp;</span></span><br /><span><span style="color:rgb(13, 13, 13)">Dengan suara bergetar, </span><span style="color:rgb(13, 13, 13)"><em>Indo</em>&rsquo;</span><span style="color:rgb(13, 13, 13)"> Ruaya berkata, &ldquo;Kakek buyutmu datang memarahiku. Ia menggetok-getok atap Tongkonan sampai berlubang, lalu membentakku dari atas sana. Suaranya menggelegar!&rdquo; Imbuhnya kemudian, &ldquo;Beliau mengamuk! Wajahnya merah, matanya melotot.&rdquo;</span></span><br /><br /><span><span style="color:rgb(13, 13, 13)">&#8203;&ldquo;Mengapa kakek buyut marah?&rdquo; tanya Ruaya.&nbsp;</span></span><br /><br /><span><span style="color:rgb(13, 13, 13)">&ldquo;Aku tidak tahu. Kurasa, ada sesuatu yang lalai kulakukan. Atau, beliau ingin memperingatkan sesuatu. Aku tidak tahu pasti. Tadi kupikir mungkin ada pertanda di atas atap. Setelah kuperiksa, tak kutemukan apa pun.&rdquo;&nbsp;</span></span><br /><br /><span><span style="color:rgb(13, 13, 13)">Para </span><span style="color:rgb(13, 13, 13)">penatua </span><span style="color:rgb(13, 13, 13)">berembuk. Mereka akhirnya memutuskan tak ada yang perlu dikhawatirkan. Mungkin </span><span style="color:rgb(13, 13, 13)"><em>Indo</em>&rsquo;</span><span style="color:rgb(13, 13, 13)"> Ruaya hanya merindukan kakeknya hingga beliau muncul dalam mimpi. Mungkin pula, itu sekadar bunga tidur yang tak punya arti khusus.&nbsp;</span></span><br /><br /><span><span style="color:rgb(13, 13, 13)"><em>Indo</em>&rsquo;</span><span style="color:rgb(13, 13, 13)"> Ruaya ikut mengangguk. Katanya</span><span>,</span><span style="color:rgb(13, 13, 13)"> &ldquo;Tidak semua mimpi harus bermakna. Ada yang hanya melintas begitu saja.&rdquo;</span></span><br /><br /><span><span style="color:rgb(13, 13, 13); font-weight:700">***&nbsp;</span></span><br /><br /><span><span style="color:rgb(13, 13, 13)">Menjelang senja, Ruaya tercengang mendapati ibunya berbungkus sarung di sudut tikar.&nbsp;</span></span><br /><br /><span><span style="color:rgb(13, 13, 13)">&ldquo;</span><span style="color:rgb(13, 13, 13)"><em>Indo</em>&rsquo;</span><span style="color:rgb(13, 13, 13)"> sakit?&rdquo;&nbsp;</span></span><br /><br /><span><span style="color:rgb(13, 13, 13)">&ldquo;Tidak.&rdquo;&nbsp;</span></span><br /><br /><span><span style="color:rgb(13, 13, 13)">Hening sebentar, kemudian ibunya berkata lagi, &ldquo;Aku tidak bisa </span><span style="color:rgb(13, 13, 13)">ma&rsquo; ulelean</span><span style="color:rgb(13, 13, 13)"> malam ini.&rdquo;<br />&nbsp;</span></span><br /><span><span style="color:rgb(13, 13, 13)"><em>Indo</em>&rsquo;</span><span style="color:rgb(13, 13, 13)"> Ruaya belum pernah lalai duduk melingkar bersama anak-anak, sembari melantunkan cerita-cerita yang seolah tak pernah habis. Setiap selesai makan malam, ia akan memilih jaketnya yang terhangat dan bergegas ke </span><em><span style="color:rgb(13, 13, 13)">tangdo</span></em><span style="color:rgb(13, 13, 13)">. Bahkan saat sakit, ia tetap memaksakan diri. <br /><br />&#8203;Baginya, kebajikan dari leluhur harus ditanamkan sedini mungkin dan tugasnyalah untuk menurunkan nilai-nilai ini melalui cerita.&nbsp;</span></span><br /><br /><span><span style="color:rgb(13, 13, 13)">Ruaya berdehem. Siluet ibunya dari pojok ruangan terasa beku. &ldquo;Apa yang harus kukatakan pada anak-anak?&rdquo;&nbsp;</span></span><br /><br /><span><span style="color:rgb(13, 13, 13)">Ia membayangkan wajah kecewa mereka. Malam ini, seharusnya ibunya menuntaskan kisah asal-usul padi. Ruaya sendiri tak sabar mendengarnya lagi, tak peduli walaupun itu sudah kesekian kali</span><span>.</span></span><br /><span><span style="color:rgb(13, 13, 13)">Ibunya seorang pencerita andal. Kisah yang sama dapat diulangnya berkali-kali dan orang-orang tetap khusyuk menyimak.&nbsp;</span></span><br /><br /><span><span style="color:rgb(13, 13, 13)">&ldquo;Kalau mau, kau bisa menggantikanku.&rdquo;&nbsp;</span></span><br /><br /><span><span style="color:rgb(13, 13, 13)">Ruaya menggeleng. &ldquo;Biarkan saja mereka bermain di </span><em><span style="color:rgb(13, 13, 13)">tangdo</span></em><span style="color:rgb(13, 13, 13)"> malam ini. Akan kubilang </span><span style="color:rgb(13, 13, 13)">Indo&rsquo;</span><span style="color:rgb(13, 13, 13)"> sakit.&rdquo; </span><span>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;</span></span><br /><br /><span><span style="color:rgb(13, 13, 13); font-weight:700">***</span></span><br /><br /><span><span style="color:rgb(13, 13, 13)">Malam itu, </span><span style="color:rgb(13, 13, 13)"><em>Indo</em>&rsquo;</span><span style="color:rgb(13, 13, 13)"> Ruaya bermimpi untuk kali kedua. Seorang nenek yang wajahnya tak begitu dikenalnya datang menyapu sekeliling Tongkonan dan menuduhnya abai merawat rumah rumpun mereka.&nbsp;</span></span><br /><span><span style="color:rgb(13, 13, 13)">Pada malam-malam berikutnya, para leluhur bergantian menyambangi </span><span style="color:rgb(13, 13, 13)"><em>Indo</em>&rsquo;</span><span style="color:rgb(13, 13, 13)"> Ruaya. Bahkan nenek moyang dari generasi yang jauh di atasnya ikut muncul. Kadang, mereka hanya menangis di </span><em><span style="color:rgb(13, 13, 13)">tangdo</span></em><span style="color:rgb(13, 13, 13)">, tanpa penjelasan.</span></span><br /><br /><span><span style="color:rgb(13, 13, 13)">Berhari-hari setelah mimpi pertama itu, barulah </span><span style="color:rgb(13, 13, 13)"><em>Indo</em>&rsquo; </span><span style="color:rgb(13, 13, 13)">Ruaya merasa menemukan sebab musababnya. Ia pun mulai mengumpulkan bunga-bungaan dari pekarangan serta menggunting tipis daun pandan untuk dicampurkan.&nbsp;</span></span><br /><br /><span><span style="color:rgb(13, 13, 13)">&ldquo;</span><span style="color:rgb(13, 13, 13)"><em>Indo</em>&rsquo;</span><span style="color:rgb(13, 13, 13)"> hendak berziarah?&rdquo; tanya Ruaya saat melihat ibunya meracik bunga.&nbsp;</span></span><br /><br /><span><span style="color:rgb(13, 13, 13)">&ldquo;Ya. Sepertinya leluhur minta dijenguk. Selepas tengah hari, aku akan ke gua. Kamu ikut.&rdquo;&nbsp;</span></span><br /><br /><span><span style="color:rgb(13, 13, 13)">Belum sempat Ruaya merespons, ibunya melanjutkan, &ldquo;Semalam, ibu bermimpi lagi. Kakekmu datang. Beliau bertanya, mengapa kita jarang mengunjungi mereka.&rdquo;&nbsp;</span></span><br /><br /><span><span style="color:rgb(13, 13, 13)">Ruaya menurut saja waktu itu. Tak disangkanya, kunjungan itu lama-kelamaan berubah menjadi sesuatu yang lain. Seolah ibunya menunggu hari selesai hanya agar bisa ke gua lagi besoknya. Bunga di sekitar Tongkonan habis. Giliran tanaman di pekarangan rumah-rumah lain yang dipetikinya.</span></span><br /><br /><span><span style="color:rgb(13, 13, 13)">Mereka pun berangkat makin pagi, seolah waktu tak pernah cukup. Padahal, mereka bisa pergi kapan saja. &ldquo;Gua itu tidak akan ke mana-mana,&rdquo; pikir Ruaya. Ibunya selalu tak sabar ingin dekat-dekat leluhurnya. Kadang terlintas pikiran yang membuatnya ngeri, jangan-jangan ibunya ingin segera menyusul. Cepat-cepat ia mengusir pikiran tersebut.&nbsp;</span></span><br /><br /><span><span style="color:rgb(13, 13, 13)">Jika hitungannya benar, ini hari ketigapuluh enam mereka ke gua. Ruaya sudah lelah.&nbsp;</span></span><br /><br /><span><span style="color:rgb(13, 13, 13)">Pagi itu, sepulang dari gua, Ruaya mengumpulkan keberanian dan bertanya, &ldquo;Apakah </span><span style="color:rgb(13, 13, 13)"><em>Indo</em>&rsquo;</span><span style="color:rgb(13, 13, 13)"> masih dihantui mimpi-mimpi itu?&rdquo;</span></span><br /><span><span style="color:rgb(13, 13, 13)"><em>Indo</em>&rsquo;</span><span style="color:rgb(13, 13, 13)"> Ruaya tercenung sejenak sebelum menjawab, &ldquo;Kita akan terus mengunjungi gua sampai para leluhur tenang di alam sana.&rdquo;&nbsp;</span></span><br /><br /><span><span style="color:rgb(13, 13, 13)">Ruaya terkulai. Ia paham maksud ibunya. Ia akan terus dibangunkan sebelum fajar, berjalan dalam gelap menuju gua, dan baru kembali ketika matahari mulai naik.&nbsp;</span></span><br /><br /><span><span style="color:rgb(13, 13, 13)">***</span></span><br /><br /><span><span style="color:rgb(13, 13, 13)">Mendengar mimpi </span><span style="color:rgb(13, 13, 13)"><em>Indo</em>&rsquo;</span><span style="color:rgb(13, 13, 13)"> Ruaya yang kian ganjil, seisi desa mulai meminta untuk mencari tahu yang sebenarnya sedang terjadi. Para tetua adat akhirnya memutuskan berkonsultasi dengan seorang penafsir mimpi.</span></span><br /><br /><span><span style="color:rgb(13, 13, 13)">Hasilnya menggemparkan seluruh kampung dan segenap rumpun keluarga Tongkonan. Menurut sang penafsir, leluhur mereka tengah memperingatkan datangnya tulah</span><span style="color:rgb(13, 13, 13)">, walau tak dijelaskannya tulah seperti apa dan bagaimana mencegahnya.&nbsp;</span></span><br /><br /><span><span style="color:rgb(13, 13, 13)">Sejak itu, suasana kampung berubah. Sementara orang-orang sibuk membicarakan kemungkinan-kemungkinan, Ruaya justru cemas melihat ibunya kian menarik diri dan meninggalkan rutinitasnya.</span></span><br /><br /><span><span style="color:rgb(13, 13, 13)">Seharian, </span><span style="color:rgb(13, 13, 13)"><em>Indo</em>&rsquo;</span><span style="color:rgb(13, 13, 13)"> Ruaya duduk menatap kosong ke luar jendela Tongkonan dengan sarung menutupi bahunya. Jika tidak diingatkan makan oleh Ruaya, mungkin ia sanggup berpuasa berhari-hari.</span></span><br /><br /><span><span style="color:rgb(13, 13, 13)">Menyadari kondisi ini, Ruaya memaksakan diri menggantikan ibunya bercerita di </span><em><span style="color:rgb(13, 13, 13)">tangdo</span></em><span style="color:rgb(13, 13, 13)">. Ia merasa bertanggung jawab. Bagaimana tidak, seumur hidupnya, ia tumbuh bersama cerita-cerita ibunya. &ldquo;Hanya sampai </span><span style="color:rgb(13, 13, 13)">Indo&rsquo;</span><span style="color:rgb(13, 13, 13)"> sembuh dari mimpi buruknya,&rdquo; tekadnya.</span></span><br /><br /><span><span style="color:rgb(13, 13, 13)">Seperti yang diduganya, </span><em><span style="color:rgb(13, 13, 13)">ma&rsquo; ulelean</span></em><span style="color:rgb(13, 13, 13)"> tak semudah kelihatannya. Cerita-ceritanya tak pernah disambut seantusias ketika ibunya yang bertutur.&nbsp;</span></span><br /><br /><span><span style="color:rgb(13, 13, 13)">Tak cukup bermodalkan tahu banyak cerita. Ruaya kesulitan menuntun pendengarnya masuk ke dunia yang ia bangun. Berbeda dengan ibunya yang mampu menautkan sejarah dan legenda. Bisa-bisanya sang ibu</span><span> </span><span style="color:rgb(13, 13, 13)">bercerita tentang neneknya yang harus bersembunyi setiap kali Heiho</span><span style="color:rgb(13, 13, 13)"> lewat. Lalu,</span><span> </span><span style="color:rgb(13, 13, 13)">dalam satu tarikan napas, ia mampu menghadirkan padi yang dapat berbicara layaknya manusia.&nbsp;&nbsp;</span></span><br /><br /><span><span style="color:rgb(13, 13, 13)">&ldquo;Kapan </span><span style="color:rgb(13, 13, 13)"><em>Indo</em>&rsquo;</span><span style="color:rgb(13, 13, 13)"> mulai mendongeng lagi? Kasihan anak-anak. Mereka masih berkumpul setiap malam, berharap mendengar cerita.&rdquo;</span></span><br /><span><span style="color:rgb(13, 13, 13)">Ibunya terdiam.&nbsp;</span></span><br /><br /><span><span style="color:rgb(13, 13, 13)">&ldquo;</span><span style="color:rgb(13, 13, 13)"><em>Indo</em>&rsquo;</span><span style="color:rgb(13, 13, 13)">?&rdquo; tanya Ruaya hati-hati.</span></span><br /><br /><span><span style="color:rgb(13, 13, 13)">&ldquo;Aku mendongeng karena leluhur mengizinkanku,&rdquo; jawab </span><span style="color:rgb(13, 13, 13)"><em>Indo</em>&rsquo;</span><span style="color:rgb(13, 13, 13)"> Ruaya pelan. &ldquo;Aku hanya bisa bertutur saat terhubung dengan para pendahuluku. Sekarang mereka terasa jauh. Aku akan kembali mendongeng jika mereka kembali merestui.&rdquo;</span></span><br /><br /><span><span style="color:rgb(13, 13, 13)">Ruaya menarik napas panjang. Ia sudah lama menahan sabar. &ldquo;Kita sudah menemui mereka setiap hari, meminta wejangan, menanyakan apa yang mereka inginkan. Tidakkah </span><span style="color:rgb(13, 13, 13)"><em>Indo</em>&rsquo;</span><span style="color:rgb(13, 13, 13)"> merasa itu semua sudah cukup? Mungkin sudah saatnya tenaga kita dipakai untuk mengurusi yang masih hidup, bukan terus mempertanyakan kehendak yang telah tiada.&rdquo;&nbsp;</span></span><br /><br /><span><span style="color:rgb(13, 13, 13)">Dari balik sarung yang menudungi kepalanya, </span><span style="color:rgb(13, 13, 13)"><em>Indo</em>&rsquo;</span><span style="color:rgb(13, 13, 13)"> Ruaya menatap anaknya lekat.&nbsp;</span></span><br /><br /><span><span style="color:rgb(13, 13, 13)">Ruaya bersiap menerima amarah, namun detik-detik berlalu tanpa ledakan. Ibunya hanya mempererat lilitan sarung di bahu.</span></span><br /><br /><span><span style="color:rgb(13, 13, 13)">&ldquo;Nak, mengikuti ajaran dari buku-buku itu baik,&rdquo; ucapnya kemudian. &ldquo;Namun, mendengarkan petuah mereka yang lebih dahulu hidup juga baik. Pengetahuan datang dari segala arah, termasuk dari alam baka. Penafsir mengatakan leluhur kita sedang memperingatkan ancaman tulah. Bukankah juga penting untuk menyiapkan diri agar kita semua terhindar dari musibah?&rdquo;</span></span><br /><br /><span><span style="color:rgb(13, 13, 13)">Ruaya memilih mengalah. Perdebatan tentang modernitas dan kepercayaan leluhur tak pernah benar-benar menemukan titik temu. &ldquo;Lalu bagaimana dengan anak-anak itu?&rdquo;</span></span><br /><br /><span><span style="color:rgb(13, 13, 13)">&ldquo;Bukankah kau yang menggantikanku?&rdquo;</span></span><br /><br /><span><span style="color:rgb(13, 13, 13)">&ldquo;Sudah kucoba. Aku tak sebaik </span><span style="color:rgb(13, 13, 13)"><em>Indo</em>&rsquo;</span><span style="color:rgb(13, 13, 13)">.&rdquo;&nbsp;</span></span><br /><br /><span><span style="color:rgb(13, 13, 13)">&ldquo;Sudah saatnya kau mendekatkan diri dengan leluhurmu. Mungkin mereka juga akan membekali mulutmu dengan cerita. Kau bisa menjadi penerusku kalau aku sudah tak ada.&rdquo;&nbsp;</span></span><br /><br /><span><span style="color:rgb(13, 13, 13)">Ruaya menunduk. Tugas itu terasa terhormat sekaligus menakutkan.</span></span><br /><span><span style="color:rgb(13, 13, 13)">Ia hendak meminta ibunya mengajarinya lebih sungguh-sungguh, tetapi niat itu dipendamnya lagi ketika dari </span><em><span style="color:rgb(13, 13, 13)">tangdo</span></em><span style="color:rgb(13, 13, 13)"> terdengar derap langkah tergesa.&nbsp;</span></span><br /><br /><span><span style="color:rgb(13, 13, 13)">Ruaya bergegas membuka pintu.</span></span><br /><br /><span><span style="color:rgb(13, 13, 13)">Di bawah sana, beberapa </span><em><span style="color:rgb(13, 13, 13)">penatua </span></em><span style="color:rgb(13, 13, 13)">mendongak ke arahnya. Di antara mereka berdiri seorang nenek tua yang tak dikenalnya. Sirih terselip di sudut mulut nenek.</span></span><br /><br /><span><span style="color:rgb(13, 13, 13)">&ldquo;Di mana ibumu?&rdquo; seru salah seorang </span><em><span style="color:rgb(13, 13, 13)">penatua</span></em><span style="color:rgb(13, 13, 13)"> dengan napas memburu.</span></span><br /><br /><span><span style="color:rgb(13, 13, 13)">***</span></span><br /><br /><span><span style="color:rgb(13, 13, 13)">Nenek pengunyah sirih itu, orang pintar yang didatangkan para </span><span style="color:rgb(13, 13, 13)">penatua</span><span style="color:rgb(13, 13, 13)">, melangkah masuk ke Tongkonan dengan tenang. Setelah memberi salam singkat, ia meminta izin menyentuh kepala </span><span style="color:rgb(13, 13, 13)"><em>Indo</em>&rsquo;</span><span style="color:rgb(13, 13, 13)"> Ruaya. Tangannya yang keriput berwarna oranye gelap hinggap perlahan di ubun-ubun</span><span style="color:rgb(13, 13, 13)"> <em>Indo</em>&rsquo;</span><span style="color:rgb(13, 13, 13)"> Ruaya.&nbsp;</span></span><br /><br /><span><span style="color:rgb(13, 13, 13)">&ldquo;Berat sekali hawa di sekitarmu,&rdquo; gumamnya lirih. &ldquo;Kepercayaan dari leluhur pasti besar di pundakmu. Bukankah begitu?&rdquo;</span></span><br /><br /><span><span style="color:rgb(13, 13, 13)"><em>Indo</em>&rsquo; </span><span style="color:rgb(13, 13, 13)">Ruaya tetap menunduk. Anggukannya lemah, nyaris tak terlihat. Dari tempatnya berdiri, Ruaya menyaksikan sosok ibu yang tak pernah ia lihat sebelumnya. Ibunya tampak ringkih.&nbsp;</span></span><br /><br /><span><span style="color:rgb(13, 13, 13)">Sang nenek kemudian berdiri. Sirih dikeluarkannya dari mulut, lalu dengan gerakan terukur ia memuntahkan ludah merah ke empat penjuru mata angin.</span></span><br /><br /><span><span style="color:rgb(13, 13, 13)">Matanya terpejam, bibirnya berbisik pelan merapalkan mantra.&nbsp;</span></span><br /><span><span style="color:rgb(13, 13, 13)">Tak seorang pun berani bersuara. Waktu melambat. Semua menahan napas, menanti.&nbsp;</span></span><br /><br /><span><span style="color:rgb(13, 13, 13)">Setelah mata sang nenek kembali terbuka, ia duduk menghadap para tuan rumah, melayangkan pandangnya kepada seluruh yang hadir.&nbsp;</span></span><br /><span><span style="color:rgb(13, 13, 13)">&ldquo;Aku bisa merasakan bala sedang bergerak menuju rumah leluhur kalian ini,&rdquo; ujarnya tegas. &ldquo;Sesuatu yang buruk!&rdquo; ucapnya.&nbsp;</span></span><br /><br /><span><span style="color:rgb(13, 13, 13)">Gumaman mengiba terdengar memenuhi ruang berdinding papan tersebut. Beberapa orang saling berpandangan, yang lain menunduk, atau menutup wajah dengan telapak tangan.&nbsp;</span></span><br /><br /><span><span style="color:rgb(13, 13, 13)">&ldquo;Tenanglah,&rdquo; lanjut sang nenek sambil mengangkat tangannya. &ldquo;Selama kalian bersatu dan menjalankan ritual penolakan bala, musibah itu dapat dipatahkan sebelum tiba.&rdquo;</span></span><br /><br /><span><span style="color:rgb(13, 13, 13)">&ldquo;Sesungguhnya, musibah apa yang mengancam kami?&rdquo; tanya Ruaya. Suaranya terdengar lebih berani daripada yang ia rasakan.&nbsp;</span></span><br /><br /><span><span style="color:rgb(13, 13, 13)">&ldquo;Wujudnya belum jelas. Hawanya masih jauh, tetapi jelas-jelas arahnya ke sini.&rdquo;&nbsp;</span></span><br /><br /><span><span style="color:rgb(13, 13, 13)">&ldquo;Apakah itu </span><em><span style="color:rgb(13, 13, 13)">tenung</span><span style="color:rgb(13, 13, 13)"> </span></em><span style="color:rgb(13, 13, 13)">kiriman orang?&rdquo; sela seorang </span><em><span style="color:rgb(13, 13, 13)">penatua</span></em><span style="color:rgb(13, 13, 13)">.</span></span><br /><br /><span><span style="color:rgb(13, 13, 13)">&ldquo;Bisa jadi. Segala kemungkinan bisa terjadi,&rdquo; jawabnya. &ldquo;Sekali lagi, aku tidak dapat menyebutkannya dengan pasti. Yang paling penting, kalian harus bersiap menangkalnya sebelum bala itu mendekat.&rdquo;&nbsp;</span></span><br /><br /><span><span style="color:rgb(13, 13, 13)">Mulai hari itu, Tongkonan tak pernah benar-benar sepi. Kerabat dari berbagai penjuru berdatangan, memenuhi halaman dengan suara dan kesibukan. Setiap petunjuk sang nenek dijalankan dengan saksama. Ketepatan tiap langkah akan menentukan nasib mereka.</span></span><br /><br /><span><span style="color:rgb(13, 13, 13)">Hari pertama, mereka menanam hanjuang mengelilingi Tongkonan, lalu memperluas lingkarannya hingga batas desa. Hanjuang dipercaya dapat menolak bala. Setiap helai daunnya adalah tameng tak kasatmata.</span></span><br /><br /><span><span style="color:rgb(13, 13, 13)">Hari kedua, pondok-pondok dari bambu didirikan untuk upacara. Tiang ditancapkan kuat-kuat, tali diikat erat-erat, papan-papan disusun dan diperiksa ulang. Di tengah-tengah halaman, pohon pinang ditegakkan sebagai pusat ritual penyembelihan kerbau.&nbsp;</span></span><br /><br /><span><span style="color:rgb(13, 13, 13)">Hari ketiga tiba dengan langit yang terasa lebih berat. Sejak pagi, orang-orang telah berkumpul. Seruan-seruan sakral dari pemimpin ritual mengalun panjang, bersahut-sahutan dengan gemerisik angin.&nbsp;</span></span><br /><span><span style="color:rgb(13, 13, 13)">Seekor kerbau dituntun ke tengah halaman untuk dikorbankan.&nbsp;</span></span><br /><span><span style="color:rgb(13, 13, 13)">Penyembelihan pun dilaksanakan.&nbsp;</span></span><br /><br /><span><span style="color:rgb(13, 13, 13)">Di antara ratusan yang datang, di dalam salah satu pondok bambu, Ruaya menggenggam tangan ibunya erat-erat. Dalam hati, Ruaya memanjatkan doa, semoga setelah semua ini berakhir dan darah mengering, mimpi-mimpi itu berhenti, desa kembali tenang, dan ibunya pulih seperti sediakala.&nbsp;</span></span><br /><br /><span><span style="color:rgb(13, 13, 13)">***</span></span><br /><br /><span><span style="color:rgb(13, 13, 13)">Berbulan-bulan telah berlalu semenjak upacara penolakan bala dilaksanakan. Kehidupan di Tongkonan perlahan kembali tenang. </span><span style="color:rgb(13, 13, 13)"><em>Indo</em>&rsquo;</span><span style="color:rgb(13, 13, 13)"> Ruaya kembali tersenyum, kembali menyapa orang-orang di jalan, kembali menjadi pusat cerita setiap malam.&nbsp;</span></span><br /><br /><span><span style="color:rgb(13, 13, 13)">Ruaya lega tak lagi harus berjalan dalam dinginnya subuh menuju tempat mayat-mayat bersemayam. Ia tak lagi menyaksikan ibunya menatap kosong selama berjam-jam. Bayang-bayang yang dulu menggantung di rumah itu seperti telah diusir bersama mantra dan darah.&nbsp;</span></span><br /><br /><span><span style="color:rgb(13, 13, 13)">Di tengah ketenangan itu, ia telah meminta ibunya mengajarinya </span><span style="color:rgb(13, 13, 13)">ma&rsquo; ulelean</span><span style="color:rgb(13, 13, 13)">. Ia bertekad untuk benar-benar belajar sampai ceritanya semenarik cerita ibunya. Sore-sore mereka habiskan di </span><em><span style="color:rgb(13, 13, 13)">tangdo</span></em><span style="color:rgb(13, 13, 13)">, secangkir kopi di tangan, buku catatan di pangkuan Ruaya. Ibunya memperagakan cerita dan ia mencatatnya.&nbsp;</span></span><br /><br /><span><span style="color:rgb(13, 13, 13)">Ruaya latihan bercerita di depan ibunya dan menerima koreksi terkait intonasi, jeda napas, hingga cara menatap pendengar.</span></span><br /><br /><span><span style="color:rgb(13, 13, 13)">&ldquo;Rasakan!&rdquo; pesan ibunya. &ldquo;Jangan coba menghafal.&rdquo;&nbsp;</span></span><br /><br /><span><span style="color:rgb(13, 13, 13)">Sore itu, mereka sampai pada bagian cerita ketika leluhur mereka harus memindahkan Tongkonan dari satu bukit ke bukit lain, bersembunyi di balik rimba demi menghindari penjajah.&nbsp;</span></span><br /><span><span style="color:rgb(13, 13, 13)"><em>Indo</em>&rsquo;</span><span style="color:rgb(13, 13, 13)"> Ruaya sedang menjelaskan bagaimana rumah adat bukan sekadar kayu dan atap, melainkan tubuh yang menampung banyak generasi, ketika deru motor memotong kalimatnya.</span></span><br /><br /><span><span style="color:rgb(13, 13, 13)">Motor itu berhenti di halaman. Seorang pria berbaju batik turun, membuka helmnya, celingak-celinguk.</span><span style="color:rgb(13, 13, 13)"> <em>Indo</em>&rsquo;</span><span style="color:rgb(13, 13, 13)"> Ruaya lantas menyuruh anaknya menemui pria itu.&nbsp;</span></span><br /><br /><span><span style="color:rgb(13, 13, 13)">&ldquo;Ini benar Tongkonan Batti Rimbun?&rdquo;</span></span><br /><br /><span><span style="color:rgb(13, 13, 13)">&ldquo;Ya.&rdquo; Ruaya penasaran.&nbsp;</span></span><br /><br /><span><span style="color:rgb(13, 13, 13)">&ldquo;Siapa yang bertanggung jawab di sini?&rdquo;&nbsp;</span></span><br /><br /><span><span style="color:rgb(13, 13, 13)">&ldquo;Aku dan ibuku. Kami menjaga tempat ini atas kepercayaan segenap rumpun.&rdquo;</span></span><br /><br /><span><span style="color:rgb(13, 13, 13)">Pria itu menyerahkan amplop cokelat. &ldquo;Ada surat dari pengadilan. Gugatan atas tanah ini.&rdquo;</span></span><br /><br /><span><span style="color:rgb(13, 13, 13)">Otak Ruaya tak mampu mencerna maksud lelaki itu. Gugatan. Pengadilan. Tanah ini. Tak ada yang masuk akal.&nbsp;</span></span><br /><br /><span><span style="color:rgb(13, 13, 13)">&ldquo;Gugatan bagaimana?&rdquo;&nbsp;</span></span><br /><br /><span><span style="color:rgb(13, 13, 13)">&ldquo;Tanah ini tidak bersertifikat. Ada pihak yang mengklaim dan mengajukan perkara.&rdquo;</span></span><br /><br /><span><span style="color:rgb(13, 13, 13)">&ldquo;Tentu saja tidak bersertifikat!&rdquo; tukas Ruaya. Napasnya mulai tak teratur. &ldquo;Ini tanah adat! Milik bersama! Sudah ratusan tahun kami ada di sini!&rdquo;</span></span><br /><br /><span><span style="color:rgb(13, 13, 13)">&ldquo;Silakan baca suratnya. Sidang akan dijadwalkan. Jika tidak hadir, putusan tetap berjalan.&rdquo;</span></span><br /><br /><span><span style="color:rgb(13, 13, 13)">&ldquo;Persetan dengan sidang!&rdquo; suara Ruaya pecah. &ldquo;Tongkonan tempat yang sakral! Rumah leluhur kami. Tidak ada sejarahnya digugat.&rdquo;</span></span><br /><br /><span><span style="color:rgb(13, 13, 13)">&#8203;&ldquo;Saya hanya menyampaikan surat,&rdquo; kata pria itu singkat.&nbsp;</span></span><br /><br /><span><span style="color:rgb(13, 13, 13)">&ldquo;Pengadilan tidak mungkin menggusur Tongkonan!&rdquo;&nbsp;</span></span><br /><br /><span><span style="color:rgb(13, 13, 13)">Pria itu menggeleng. &ldquo;Sudah ada beberapa Tongkonan lain yang kalah perkara dan akhirnya diratakan setelah putusan.&rdquo;</span></span><br /><br /><span><span style="color:rgb(13, 13, 13)"><em>Diratakan.</em></span></span><br /><br /><span><span style="color:rgb(13, 13, 13)">Kata itu menancap lebih tajam daripada yang lain.</span></span><br /><br /><span><span style="color:rgb(13, 13, 13)">Motor pria itu kembali menyala. Halaman kembali sunyi.&nbsp;</span></span><br /><br /><span><span style="color:rgb(13, 13, 13)">&ldquo;Ruaya?&rdquo; panggil ibunya dari </span><em><span style="color:rgb(13, 13, 13)">tangdo</span></em><span style="color:rgb(13, 13, 13)">. &ldquo;Siapa itu?&rdquo;</span></span><br /><br /><span><span style="color:rgb(13, 13, 13)">Ruaya menatap amplop di tangannya. Tangannya gentar menggenggamnya. Leluhurnya sudah memperingatkan tentang bala yang bergerak mendekat. Sebuah <em>tulah</em>.</span></span><br /><br /><span><span style="color:rgb(13, 13, 13)">&ldquo;Ruaya? Ada apa? Apa itu?&rdquo; ibunya memanggil-manggil.&nbsp;</span></span><br /><br /><span><span style="color:rgb(13, 13, 13)">&ldquo;<em>Tulah</em>, </span><span style="color:rgb(13, 13, 13)"><em>Indo</em>&rsquo;</span><span style="color:rgb(13, 13, 13)">,&rdquo; pikir Ruaya lantang-lantang.&nbsp;</span></span><br /><br /><span><span style="color:rgb(13, 13, 13)">Bukan penyakit. Bukan ilmu hitam. Bukan roh gentayangan.</span></span><br /><br /><span><span style="color:rgb(13, 13, 13)">Melainkan kertas. Stempel. Tanda tangan.</span></span><br /><br /><span><span style="color:rgb(13, 13, 13)">Atas nama hukum.</span></span><br /><br />***<br /><span><span style="color:rgb(13, 13, 13); font-weight:700">Oktaviana Kale</span><span style="color:rgb(13, 13, 13)"> lahir dan tumbuh dalam adat istiadat Toraja. Sempat berdomisili di Jakarta dan Bali, kini penulis kembali tinggal di Toraja Utara dan aktif menjadi bagian dalam masyarakat adat Toraja.</span></span><br />&#8203;<strong>Catatan Kaki</strong><ol><li><span><span>Indo&rsquo;</span><span>:</span><span> </span><span>ibu/mama; gelar kehormatan dalam bahasa Toraja untuk perempuan tua atau perempuan yang dihormati.</span></span></li><li><span><span>Tangdo</span><span>:</span><span> </span><span>ruang terbuka di depan Tongkonan, semacam teras. </span></span></li><li><span><span>Penatua: tokoh masyarakat yang dihormati di komunitas adat Batak.</span></span></li><li><span><span>Ma&rsquo; Ulelean</span><span>:</span><span> </span><span>bercerita, mendongeng, berkata-kata.</span></span></li><li>Tulah: bencana, wabah, atau malapetaka dahsyat yang dianggap sebagai hukuman dari Tuhan.</li><li><span><span>&#8203;</span></span><span><span>Heiho: pasukan Indonesia yang dibentuk oleh tentara pendudukan Jepang di Indonesia pada masa Perang Dunia II.</span></span></li><li><span><span>&nbsp;</span><span>Tenung</span><span>: praktik ilmu hitam atau sihir yang digunakan untuk mencelakai, menyakiti, atau membunuh orang lain dari jarak jauh menggunakan kekuatan gaib.</span></span></li></ol></div>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Daur]]></title><link><![CDATA[https://www.jurnalperempuan.org/cerpenpuisi-feminis/daur]]></link><comments><![CDATA[https://www.jurnalperempuan.org/cerpenpuisi-feminis/daur#comments]]></comments><pubDate>Tue, 02 Jun 2026 03:05:29 GMT</pubDate><category><![CDATA[Uncategorized]]></category><guid isPermaLink="false">https://www.jurnalperempuan.org/cerpenpuisi-feminis/daur</guid><description><![CDATA[Oleh: Soe Tjen MarchingSarah,di jantung pasar rempah&nbsp;&nbsp;siluetmu semerbak madah&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;tanganku menadah penaka mezbahsaat kautukar murku dengan lada&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;permata dengan buah ara      &#8203;Kau ajak aku&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;hijrah&nbsp;dari&nbsp;Mesir&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&mdash; menguap dupa&nbsp [...] ]]></description><content:encoded><![CDATA[<div class="paragraph"><strong>Oleh: Soe Tjen Marching<br /><br /></strong>Sarah,<br />di jantung pasar rempah&nbsp;<br />&nbsp;siluetmu semerbak madah&nbsp;<br />&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;tanganku menadah penaka mezbah<br />saat kautukar murku dengan lada&nbsp;<br />&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;permata dengan buah ara<br /></div>  <div>  <!--BLOG_SUMMARY_END--></div>  <div class="paragraph">&#8203;Kau ajak aku<br />&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;hijrah&nbsp;<br />dari&nbsp;<strong>Mesir</strong>&nbsp;&nbsp;<br />&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&mdash; menguap dupa&nbsp;<br />&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;berbagai Tuhan warni-warna<br />&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;dari purnama, badut, anjing sampai kuda<br />&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;sesaji bulanan<br />&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;dicicil mirip arisan&nbsp;<br />&nbsp;<br />menuju&nbsp;<strong>Kanaan</strong><br />&mdash; tanah perjanjian<br />Esa yang Maha&nbsp;<br />tak bisa dikelakar<br />apalagi digambar<br />namun titahnya&nbsp;<br />lebih mengerikan&nbsp;<br />dari jagal kesurupan&nbsp;<br />overdosis obat cacingan<br />&nbsp;<br />kuduk kita meremang<br />&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;saat suami mendengar<br />&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;mandat Sang Esa<br />&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;menggiring putra&nbsp;<br />&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;ke altar hampa<br />&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;untuk digorok lehernya<br />&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;laiknya jailangkung haus darah<br />&nbsp;<br />&nbsp;<br />Sarah,<br />kuumpankan domba&nbsp;<br />paling gemuk agar&nbsp;<br />suami yang kebelet menggorok&nbsp;<br />bisa melampiaskan nafsunya&nbsp;<br />dan melepas sang Putra<br />&nbsp;<br />Namun hari itu tiba,<br />terik matamu&nbsp;<br />mengobar bara<br />&nbsp;<br />pantulan ragu dan iba<br />menggapai-gapai mohon selamat&nbsp;<br />semua kau bakar lantak<br />kau campakkan aku dan Ismail<br />ke pusar Sahara<br />&nbsp;<br />kau tak lagi sudi sepiring berdua<br />lalu kau tak rela serumah berdua<br />walau kita sudah sepeli berdua<br />&nbsp;<br />menjadi istri<br />&nbsp;Sang Khalilullah<br />&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;lebih bergengsi&nbsp;<br />&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;daripada&nbsp;bersaudara<br />&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;dengan perempuan&nbsp;<br />&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;yang sudah bosan<br />&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;jaga imej sang suami<br />&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;untuk tampil jadi Nabi<br />&nbsp;<br />&nbsp;menjadi istri pengabdi<br />&nbsp;&nbsp;&nbsp;lebih elegan<br />&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;daripada berintiman<br />&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;perempuan&nbsp;<br />&nbsp;yang terlalu berani<br />&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;menyintai sesama<br />&nbsp;<br />&nbsp;<br />*<br /></div>  <div class="paragraph" style="text-align:right;">Kini kita menjelma<br />&nbsp;dalam negeri tujuh setan desa<br />&nbsp;&nbsp;menyalibkan perempuan<br />&nbsp;di halaman rumah<br />mengulitinya&nbsp;<br />dengan meriah<br /><br />&nbsp;bentala penuh kelapa<br />menjelma ladang kepala<br />&nbsp;kawan-kawanku<br />&nbsp;&nbsp;dituai<br />&nbsp;laskar juru selamatmu<br />berakidah Abraham dahulu<br />&nbsp;begitu yakin<br />penyucian<br />memerlukan&nbsp;<br />penyembelihan<br />&nbsp;<br />kalian bertakwa&nbsp;<br />Ketuhanan<br />berdaulat memperkosa&nbsp;<br />Kemanusiaan<br />&nbsp;<br />&nbsp;<br />&nbsp;<br />Sarah,<br />&nbsp;terik matamu&nbsp;<br />terfirman angkara<br />&nbsp;<br />&nbsp;<br />ragu dan iba<br />&nbsp;terakhir kali meregang nyawa&nbsp;<br />memohon dalam senyapmu<br />kau cekik satu per satu<br /><br />&nbsp;<br />&nbsp;<br />&nbsp;<br />tak sudi&nbsp;<br />mencari<br />kambing pengganti<br />pasukan loreng mengutus<br />&nbsp;kau, tanpa sela<br />&nbsp;melempar batu pertama&nbsp;<br />&nbsp;&nbsp;diiringi serbuan maki<br />mengoyak waras Bumi:<br />&nbsp;<br /><strong>&ldquo;GERWANI!&rdquo;<br /><br />&#8203;***</strong><br /></div>  <div class="paragraph"><strong>Soe Tjen Marching</strong>&nbsp;adalah dosen Senior di Studi Asia Tenggara di SOAS University of London. Selain sebagai dosen, Soe Tjen juga seorang komponis dan penulis. Selain diterbitkan di Indonesia, buku-bukunya telah diterbitkan di beberapa negara di Eropa dan Britania. Puisi di atas adalah versi panjang dari puisi yang sudah dimuat dalam kumpulan puisi Soe Tjen yang diterbitkan Teroka Press, berjudul&nbsp;<em>Tiga Kitab.</em><br /></div>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Perempuan Fajar]]></title><link><![CDATA[https://www.jurnalperempuan.org/cerpenpuisi-feminis/perempuan-fajar]]></link><comments><![CDATA[https://www.jurnalperempuan.org/cerpenpuisi-feminis/perempuan-fajar#comments]]></comments><pubDate>Tue, 02 Jun 2026 03:00:26 GMT</pubDate><category><![CDATA[Uncategorized]]></category><guid isPermaLink="false">https://www.jurnalperempuan.org/cerpenpuisi-feminis/perempuan-fajar</guid><description><![CDATA[Oleh: Ida Fitri[Peringatan pemicu: Cerpen ini memuat penggambaran adegan kekerasan seksual yang mungkin menimbulkan perasaan tidak nyaman maupun trauma bagi pembaca.&nbsp;Disarankan untuk membaca dengan kesadaran penuh dan mengambil jeda bila diperlukan.]&nbsp; &nbsp; &nbsp;Aku berlindung pada Tuhan penguasa fajar, dari kejahatan perempuan-perempuan penyihir yang meniup pada buhul-buhulnya (Mirip terjemahan sebuah ayat dalam kitab suci).&nbsp; &nbsp; &nbsp;Dia menengadah, awan gelap sedikit menu [...] ]]></description><content:encoded><![CDATA[<div class="paragraph"><strong>Oleh: Ida Fitri<br /></strong><br /><em><span>[Peringatan pemicu: Cerpen ini memuat penggambaran adegan kekerasan seksual yang mungkin menimbulkan perasaan tidak nyaman maupun trauma bagi pembaca.&nbsp;</span></em><em><span>Disarankan untuk membaca dengan kesadaran penuh dan mengambil jeda bila diperlukan.]</span></em><br /><br /><em><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;Aku berlindung pada Tuhan penguasa fajar, dari kejahatan perempuan-perempuan penyihir yang meniup pada buhul-buhulnya (Mirip terjemahan sebuah ayat dalam kitab suci).</span></em><br /><br /><em>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</em><span>Dia menengadah, awan gelap sedikit menutupi permukaan bulan. &ldquo;<em>Gayong</em>&nbsp;hanya boleh digunakan untuk membela diri,&rdquo; kalimat Paknek Guru tak pernah sekali pun dia lupa. Dia kembali memandang ke arah laki-laki betubuh tegap berambut catam yang sedang tertawa keras bersama temannya. Kelima laki-laki itu adalah tentara yang ditempatkan di Pos Rancong untuk menjaga PT Lancang dari gangguan Gerakan Aceh Melawan. Mereka sedang minum kopi sambil bersenda gurau, tanpa sedikit rasa bersalah. Warung kopi Wak Yan memang dikenal warga sebagai tempat tongkrongan tentara Pos Rancong saat main ke kota Lhokseumawe. Dia tahu itu dan dengan menumpang salah satu motor orang kampungnya yang hendak ke kota dia sampai di situ. Para tentara itu saban jam 8 malam pasti pergi ke kota dengan labi-labi Nuh. Nuh akan mengantar mereka kembali saat tengah malam. Dia juga tahu mereka tak pernah membayar Nuh untuk itu. &nbsp;<br />&#8203;</span><br /><em>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</em>&#8203;<span>&ldquo;Kekuatan itu bisa mengutuk pemiliknya,&rdquo; nasihat Paknek Guru lainnya yang selalu dia ingat. Dengan memusatkan pikiran pada laki-laki bernama Muchdi bin Purwoprandhono yang sedang tertawa keras itu, dari jarak dua puluh meter, dia mengangkat kaki kanannya, &ldquo;<em>La hawla wala quwwata illa billah!</em>&rdquo; Dihentakkan kakinya kuat-kuat menghantam bumi. Bila kali ini dia akan dikutuk, biarlah.</span><br /><br /></div>  <div>  <!--BLOG_SUMMARY_END--></div>  <div class="paragraph"><em>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</em>&#8203;Wajuwi yang bermata tajam dan beralis tebal sudah jadi primadona kampung jauh sebelum dia menjadi perempuan paling disegani karena menjadi murid terakhir Paknek Guru yang sakti dan ditakuti musuh-musuhnya. Paknek Guru bukan pesilat biasa melainkan juga penguasa tiga jenis ilmu&nbsp;<em>gayong</em>, tenaga dalam yang mengikuti kedikdayaan silat. Namun waktu juga yang meluruhkan Paknek Guru, dia meninggal di tempat tidurnya karena usia tua. Sebelum mangkat, dia telah menurunkan seluruh kesaktiannya pada sang murid terakhir.<br /><br /><em>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</em>Wajuwi yang saat itu telah menjanda karena suaminya mati terkena malaria mulai sering didatangi orang kampung untuk meminta nasihat dan mencari obat alternatif, khususnya bagi mereka yang terserang penyakit duniawi, penyakit yang dikirim orang-orang dengki. Selain itu, pikiran bijak perempuan matang itu jua telah menyelamatkan banyak rumah tangga dari penceraian yang amat dibenci Tuhan. Konon Wajuwi bisa membuat laki-laki yang terpesona perempuan lain kembali ke hadapan istrinya sambil bersujud meminta maaf. Paknek Guru tidak hanya menurunkan ilmu&nbsp;<em>gayong</em>&nbsp;pada wanita berkaki jenjang itu tetapi juga ilmu pengasih. Oleh karena itu, orang kampung jadi sangat menghormati Wajuwi. Lebih-lebih keterampilannya bukan hanya dalam menguasai ilmu gaib dan pengobatan tradisional, jemari tirusnya juga lincah dalam meracik bumbu dan mengolah makanan. Jika ada kenduri perkawinan atau turun tanah di kampung, mereka selalu mengandalkan Wajuwi dalam meracik bumbu, bahkan dia pernah meracik bumbu untuk masak mirah dua ekor lembu. Dia mulai dijuluki Perempuan Fajar. Hanya Waled Nu dan muridnya yang tidak menyukai Wajuwi. Menurut mereka, praktik pengobatan Wajuwi dekat dengan menyekutukan Tuhan. Tuhan maha pemaaf, kecuali untuk mereka yang menyekutukannya. Saat Paknek Guru masih hidup, Waled Nu tak pernah mengusik laki-laki sakti itu. Namun, Wajuwi bukanlah sang gurunya.<br /><br /><em>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</em>Karena menguasai ilmu&nbsp;<em>gayong</em>, Wajuwi lebih memilih hidup sendiri. Dari almarhum suaminya, dia tidak memiliki anak. Konon salah satu ilmu&nbsp;<em>gayong</em>&nbsp;yang dimilikinya,&nbsp;<em>gayong</em>&nbsp;api, membuat pemiliknya tidak boleh menggendong bayi. Kulit lembut bayi bisa gosong jika bersentuhan dengan telapak tangan mereka yang memiliki ilmu&nbsp;<em>gayong</em>&nbsp;api dalam tubuhnya.&nbsp;<br /><br /><em>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</em>Klien Wajuwi bukan hanya perempuan tetapi juga laki-laki, yang terkadang mengeluh kena sakit tali nyawa, yang lain mengeluh gatal&nbsp;<em>reuhat</em>&nbsp;di kaki atau ingin marah saja saat pulang ke rumah. Untuk kasus pertama, kadang penis bisa kembali normal setelah mereka mengubah posisi tempat tidur di kamar. Yang lainnya, harus diberi ramuan tanduk rusa. Gatal&nbsp;<em>reuhat</em>&nbsp;diselesaikan dengan ramuan daun ketepeng, yang marah-marah saat tiba di rumah dimintanya jangan langsung masuk begitu tiba di rumah melainkan ke kandang bebek dulu atau melihat pohon rambutan atau pohon mangga atau pohon apa saja yang berada di halaman rumah terlebih dahulu. Klien perempuan maupun laki-laki mengaku banyak yang sembuh setelah berkunjung ke rumah Wajuwi, padahal sebagian dari mereka hanya diajak bicara saja. Itulah tuah seoarang perempuan fajar.&nbsp;<br /><br /><em>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</em>Klien kadang menyalami uang ke tangan Wajuwi, yang lain membawa bahan makanan. Untuk mereka yang terlihat sangat miskin, Wajuwi akan berusaha mengembalikan uang mereka dengan berbagai cara, menyalami ke tangan anak mereka jika mereka membawa anak kecil atau memberikan secupak dua beras dengan alasan beras baru dari sawahnya. Semua orang tahu panen sawah hanya dua kali setahun di kampung, tidak mungkin setiap harinya ada beras baru.<br /><br /><em>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</em>Belakangan Wajuwi kedatangan klien perempuan yang begitu mengganggunya, ada yang pingsan begitu mulai bicara, yang lain langsung mengamuk ketika membuka mulut, yang lain memilih bungkam sama sekali. Mulanya dia tidak menduga semua itu ada hubungannya dengan tentara-tentara yang tinggal di rumah dinas guru milik PT Lancang. Orang-orang menyebutnya Pos Rancong, barang siapa yang dibawa ke Pos Rancong berarti mati. Tiga dara klien Wajuwi keluar dari sana dalam keadaan tidak hidup dan tidak mati.<br /><br /><em>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</em>&ldquo;Bunuh aku saja,&rdquo; kalimat pertama yang keluar dari mulut Fatma Salbia, dara enam belas tahun yang selalu bungkam saat dibawa orang tuanya. Mulutnya terkunci, matanya kosong, jiwanya mati, raganya layu. Mata kosong dan tubuh layu itu mendatangi Wajuwi hingga ke mimpinya, tak tahan, dikunjungilah Fatma Salbia di rumahnya. Dara itu mungkin tetap bungkam andai Wajuwi tidak merapal, &ldquo;<em>Allahumma innaka antal azizul Kabir. Wa anaa abduka adhoifudzaliiil. Alladzii laahaula wa laa quwwata illaabika. Allahumma sakhir lii Fatma Salbia bin Yusuf</em>,&rdquo; sebanyak seribu kali pada malam sebelumnya.<br /><br /><em>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</em>Yang selama ini dibendung keluar laksana air bah melumat apa saja di depannya. Wajuwi memeluk dara berkulit sawo matang dan berbibir penuh itu. Bendungan yang jebol meluluhlantakkan hati, Fatma Salbia menceritakan bagaimana dia diminta datang&nbsp; ke Pos Rancong oleh laki-laki bertubuh tegap yang sering dia lihat lewat di depan sekolahnya. Tubuh tegap yang membuat teman-teman Fatma Salbia, para anak dara yang belum tahu laki-laki tergila-gila. Lebih-lebih mata sayu berbulu lentik sungguh menggoda. Dengan cepat, Kopral Muchdi menjadi pujaan para anak dara berseragam abu putih.&nbsp;<br /><br /><em>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</em>&nbsp;Hati Fatma Salbia seperti terbang saat laki-laki itu memilih dirinya untuk diajak ke rumah dinas guru milik PT Lancang itu. Dara itu memang tidak bersekolah di SMA Taman Siswa milik perusahaan penambang gas alam itu, sekolah Taman Siswa hanya untuk anak-anak para karyawan perusahaan. Fatma Salbia sekolah di SMA biasa, yang sering dilewati para tentara Pos Rancong berjalan kaki.&nbsp;<br /><br /><em>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</em>Sepulang sekolah, Fatma Salbia datang ke salah satu rumah dinas guru itu bersama Rosmawa, kakak kelasnya yang sudah lama menjadi pacar tentara. Ada 10 bangunan rumah kopel, tiga di antaranya dipakai tentara yang lainnya kosong. Sejak memasuki rumah itu, Fatma Salbi langsung merasa tidak nyaman dengan guyonan dan tertawaan tentara lainnya, meski Rosmawa membisikkan itu hal biasa ke telinganya. Mereka menyebutnya barang baru, dia tidak suka itu.<br /><br /><em>&nbsp; &nbsp; &nbsp;Kopral Muchdi memang langsung menemuinya, setelah basa-basi sebentar, laki-laki itu mengajaknya memasuki rumah kopel lainnya. Rumah itu kosong, Fatma Salbia yang tidak terbiasa berduaan saja dengan laki-laki dewasa yang bukan kerabatnya merasa semakin tidak nyaman. Lebih-lebih laki-laki itu membawanya langsung ke dalam kamar. Ada tempat tidur lipat di sana. Kopral Muchdi mengajaknya duduk dan tangannya mulai menyusup ke balik kemeja putih dara itu. Tubuh dara itu menciut ketakutan, tangannya mencoba menepis tangan kuat milik kopral tentara, &ldquo;Jangan, aku tidak&hellip;.&rdquo; Kopral itu menangkap tangan Fatma Salbia sambil melumat bibir penuh sang dara yang mulai terisak. Perlawanan sang dara membuat kopral semakin birahi. Dilucuti sang dara sampai telanjang, tak dipedulikan mulut gadis itu yang memanggil temannya meminta tolong dengan suara lemah, sebenarnya dia juga telah merasai tubuh Rosmawa. Satu-dua dara di sekitar pos memang kerap datang untuk memberikan tubuh mereka untuk tentara. Mereka masih SMA, muda dan cantik, cukup menghibur dalam menghadapi tekanan ancaman penyerangan dari pihak Gerakan Aceh Melawan. Siang itu, di kamar rumah kopel itu Kopral Muchdi merenggut jiwa anak dara itu.<br /></em><br /><em>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</em>Dara itu menggeleng-geleng kepala, &ldquo;aku tidak tahu, aku tidak paham, dia menindihku, tolong bunuh saja aku!&rdquo; Fatma Salbia tidak ingin membicarakan kejadian itu, dia benci kopral Muchdi, dia benci Rosmawa, dia benci ayahnya, dia benci ibunya, dia benci dirinya sendiri. Sekali lagi, Wajuwi memeluk erat tubuh layu itu dan membisikkan sesuatu ke telinga dara itu. Mata Fatma Salbia mendelik, ada energi lain menjalari tubuhnya. Sejak saat itu, Fatma Salbia mulai sering menemui Wajuwi. Dia juga yang menceritakan apa yang menimpa dua anak dara lainnya. Kemudian tiga dara klien Wajuwi mulai berteman, mereka semakin dekat, dan sering berkumpul di rumah Wajuwi. Mereka juga menemukan perempuan-perempuan korban tentara lainnya. Mereka sering menangis dan tertawa bersama di dapur rumah panggung itu. Namun dunia tak pernah sama lagi untuk mereka, Wajuwi menyadari itu, dan begitu korban keempat dari kopral Muchdi muncul di rumahnya, seorang anak dara yang bahkan masih memakai seragam biru putih, Wajuwi meneguhkan tekad, harus ada yang menghentikan para tentara itu. Mungkin dimulai dengan sang Kopral.&nbsp;<br /><br /><em>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</em>Untuk menjalankan rencananya, dia harus tahu nama orang tua kopral Muchdi. Itu bukan perkara sulit, Wa Nun, juru masak Pos Rancong bersedia mencari tahu itu. Wa Nun cukup dipercayai para tentara, bahkan ada yang terkadang memintanya memasakkan kari dari daging biawak yang meraka tangkap di hutan dekat pos. Orang Aceh tidak makan biawak, tetapi Wa Nun bersedia memasak untuk mereka. Bagi para tentara itu, Wa Nun sudah seperti kerabat sendiri.&nbsp;<br /><br /><em>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</em>Wa Nun sering diam-diam melihat apa yang dilakukan oleh tentara di rumah dinas guru itu. Terkadang mereka menyiksa para laki-laki tak berdaya, mencabut kuku-kuku mereka, memainkan penis mereka, bahkan ada yang tega memotong penis dan memasukkan dalam mulut si tawanan. Laki-laki itu dituduh camat Gerakan Aceh Melawan. Mulanya Wa Nun ingin berhenti sebagai tukang masak mereka, tetapi dia tak berani mengajukan pengunduran diri. Ada satu wajah yang dia kenal juga dibawa ke situ, wajah tetangganya yang sering membantunya saat dulu kekurangan uang untuk dikirim ke putranya yang sedang kuliah di Banda Aceh. Tawanan yang dibawa ke Pos biasanya setelah disiksa sampai mati atau setengah mati akan diangkut dengan mobil bak terbuka. Saat itu, Wa Nun belum tahu kalau para tawanan dibawa ke Bukit Seuntang atau Bukit Tengkorak untuk dikubur dalam satu lubang.&nbsp;<br /><br /><em>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</em>Wa Nun juga pernah melihat mereka mengerjai anak dara kampungnya. Bagi para tentara, Wa Nun sudah seperti kerabat, hanya sayangnya Wa Nun tidak bisa menganggap para tentara sebagai kerabatnya. Ketika Wajuwi memintanya mencari info tentang mereka, dia dengan senang melakukan itu.&nbsp;<br /><br />***&nbsp;<br /><br /><em>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</em>&ldquo;Kamu tidak bersalah, bukan kamu yang harus mati, melainkan bajingan itu.&rdquo;<br /><br /><em>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</em>Dia tak pernah melupakan kalimat yang dia bisikkannya ke telinga Fatma Sabia, pada hari ketika gadis itu membuka mulut dan menceritakan neraka yang sedang dijalaninya. Dia hanya menunggu waktu yang tepat dan waktu yang tepat itu adalah malam ini.&nbsp;<br /><br /><em>Qaf Ha Ya Min Saf &hellip;.</em><br /><em>Hai gayong si raja gayong</em><br /><em>Benang si raja benang</em><br /><em>Pedang Zulfikar &hellip;..<br /></em><br /><em>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</em>Amalan&nbsp;<em>gayong</em>&nbsp;dirapal saban malam, maka kekuatan itu akan mendatangimu.&nbsp;<br /><br /><em>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</em>Begitu awan mendung menelan seluruh bulan, Kopral Muchdi jatuh ke lantai warung kopi, menggelepar seperti ayam baru disembelih. Teman-teman laki-laki itu terkejut, sontak mengokang senjata, waspada berlindung dengan membalikkan meja sebagai tameng, namun telinga mereka tak mendengar suara tembakan. Salah satu dari mereka memeriksa tubuh kopral Muchdi, tak ada lubang peluru, kecuali tubuh itu terus berguncang hebat dengan wajah melotot tegang. Tak ada obat bagi orang yang terkena&nbsp;<em>gayong</em>&nbsp;kecuali penyerang datang menghampiri dan mengusap wajah korban, memaafkannya sambil melafal mantra penyembuh.<br /><br /><em>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</em>Dia yang berada dua puluh meter dari tempat itu, di balik bayang sebuah kios kembali menyelimuti tubuhnya dengan kain panjang, kemudian berpaling meninggalkan tempat itu, meninggalkan tubuh kejang sang kopral pemangsa anak dara. Jika karena ini dia akan dikutuk, biarlah.<br /><br /><em>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</em>Pada saat yang sama, Waled Nu dan murid-muridnya sedang membakar rumah seorang perempuan yang mereka anggap penyekutu Tuhan, jenis dosa yang tak ada ampunan.&nbsp;<em>Aku berlindung pada Tuhan penguasa fajar, dari kejahatan pendengki bila ia dengki (Al Falaq, Ayat 1 dan 5).</em><br /><br />***&nbsp;<br />&nbsp;<br /><strong>Ida Fitri</strong>&nbsp;(1981) lahir di Bireun. Karya-karyanya Air Mata Shakespeare (2016), Cemong (2017), Neraka yang Turun ke Kebun Kelapa (2023), Paya Nie (naskah awalnya dengan judul Tukang Intip meraih juara tiga pada Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2023) terbit Juni 2024. Paya Nie juga masuk dalam Shortlist Kusala Sastra Khatulistiwa 2025.&nbsp;<br /></div>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Puan Hari Ini]]></title><link><![CDATA[https://www.jurnalperempuan.org/cerpenpuisi-feminis/puan-hari-ini]]></link><comments><![CDATA[https://www.jurnalperempuan.org/cerpenpuisi-feminis/puan-hari-ini#comments]]></comments><pubDate>Thu, 12 Mar 2026 07:04:37 GMT</pubDate><category><![CDATA[Uncategorized]]></category><guid isPermaLink="false">https://www.jurnalperempuan.org/cerpenpuisi-feminis/puan-hari-ini</guid><description><![CDATA[Oleh:&nbsp;Heppy HalohoApa kabar hai puan hari ini?Apakah langkahmu tak lagi terhenti di seputar kasur, dapur, dan sumur?Apakah mimpimu tak lagi harus dikubur, demi keluarga tak hancur lebur?Ataukah kau masih harus susah tidur, memikirkan sakitmu yang kian subur?      Apa kabar hai puan hari ini?Apakah cerita lukamu tak lagi jadi cerpen erotis favorit di media-media?Apakah ceritamu tak lagi dijadikan lelucon di meja perkara?Ataukah sengsaramu masih juga dianggap sebagai sandiwara belaka?Apa kaba [...] ]]></description><content:encoded><![CDATA[<div class="paragraph"><strong>Oleh:&nbsp;<span><span>Heppy Haloho</span></span></strong><br /><br /><span><span>Apa kabar hai puan hari ini?</span></span><br /><span><span>Apakah langkahmu tak lagi terhenti di seputar kasur, dapur, dan sumur?</span></span><br /><span><span>Apakah mimpimu tak lagi harus dikubur, demi keluarga tak hancur lebur?</span></span><br /><span><span>Ataukah kau masih harus susah tidur, memikirkan sakitmu yang kian subur?</span></span></div>  <div>  <!--BLOG_SUMMARY_END--></div>  <div class="paragraph"><span><span>Apa kabar hai puan hari ini?</span></span><br /><span><span>Apakah cerita lukamu tak lagi jadi cerpen erotis favorit di media-media?</span></span><br /><span><span>Apakah ceritamu tak lagi dijadikan lelucon di meja perkara?</span></span><br /><span><span>Ataukah sengsaramu masih juga dianggap sebagai sandiwara belaka?<br /></span></span><br /><span><span>Apa kabar hai puan hari ini?</span></span><br /><span><span>Apakah tawamu tak lagi dirampas atas nama budaya &amp; agama?</span></span><br /><span><span>Apakah susah payahmu mengandung kini diganjar dengan cinta?</span></span><br /><span><span>Ataukah kau masih dicibir para mertua dan tetangga, karena anaknya lalai jadi kepala?<br /></span></span><br /><span><span>Sungguh, apa kabar hai puan hari ini?</span></span><br /><span><span>Apakah tak lagi diolok-olok kalau setara kau teriakkan?</span></span><br /><span><span>Apakah tak lagi kau dianggap pelayanan tanpa bayaran?</span></span><br /><span><span>Ataukah nasibmu masih dilarang dibicarakan?</span></span><br /><span><span>Apa kabar hai Puan hari ini?</span></span><br /><br /><span><span>Apakah kau sudah boleh menjadi tuan atas diri?</span></span><br /><span><span>Apakah kau sudah tak harus membungkam diri?</span></span><br /><span><span>Ataukah kau masih harus menundukkan diri, pada mereka anak asuh patriarki?<br />&#8203;</span></span><br /><span><span>Apa kabar hai Puan hari ini?</span></span><br /><span><span>Mengapa tak kau angkat dagu dan tataplah dengan berani,</span></span><br /><span><span>Terbanglah dan kibarkan bendera perlawanan diri</span></span><br /><span><span>di rumah-rumah, di sekolah-sekolah, di parlemen hingga di kursi-kursi di mana suara kita dieksekusi.<br /><br /></span></span><br />***<br /><br /><span><span style="font-weight:700">Heppy Haloho, </span><span>adalah dosen tetap di Jurusan Ilmu Komunikasi, Universitas Kalbis. Sehari-hari ia aktif mengajar, meneliti, &amp; melakukan pengabdian kepada masyarakat. Beberapa artikel tulisannya bisa ditemukan di google scholar Heppy Haloho. Belakangan ia juga aktif menulis puisi di blog pribadi di platform kompasiana. Baginya puisi adalah ungkapan jiwa, yang melaluinya kita bisa menyuarakan keresahan dan bertutur tentang banyak hal yang berkecambuk dalam diri. Melalui puisi, ia yakin bahwa ketidakadilan yang terjadi di mana-mana khususnya ketidakadilan yang dialami oleh perempuan juga dapat disuarakan.</span></span></div>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Kepompong]]></title><link><![CDATA[https://www.jurnalperempuan.org/cerpenpuisi-feminis/kepompong]]></link><comments><![CDATA[https://www.jurnalperempuan.org/cerpenpuisi-feminis/kepompong#comments]]></comments><pubDate>Thu, 12 Mar 2026 07:01:10 GMT</pubDate><category><![CDATA[Uncategorized]]></category><guid isPermaLink="false">https://www.jurnalperempuan.org/cerpenpuisi-feminis/kepompong</guid><description><![CDATA[Oleh: Oka Rusmini&nbsp; &nbsp; &nbsp;Tahun-tahun mengering. Air mata, masa lalu dan timbunan kebusukan menanam rohnya di tubuhku. Aku rajin merangkainya, kukalungkan di kepala. Tapi mana hatiku? Seorang perempuan rajin sekali menerkam tubuhku dengan mulutnya.&nbsp;&nbsp; &nbsp; &nbsp;Aku mulai menyusun menu. Di meja makan kusantap tubuhku, kuteguk air mataku. Seorang perempuan datang. Sebilah pedang di matanya, seratus tentara di mulutnya. Dia minta kakiku.&#8203;&nbsp; &nbsp; &nbsp;Aku pun mula [...] ]]></description><content:encoded><![CDATA[<div class="paragraph"><strong>Oleh: Oka Rusmini</strong><br /><br /><em>&nbsp; &nbsp; &nbsp;<span><span>Tahun-tahun mengering. Air mata, masa lalu dan timbunan kebusukan menanam rohnya di tubuhku. Aku rajin merangkainya, kukalungkan di kepala. Tapi mana hatiku? Seorang perempuan rajin sekali menerkam tubuhku dengan mulutnya.&nbsp;</span></span><br /><span><span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;Aku mulai menyusun menu. Di meja makan kusantap tubuhku, kuteguk air mataku. Seorang perempuan datang. Sebilah pedang di matanya, seratus tentara di mulutnya. Dia minta kakiku.<br />&#8203;</span></span>&nbsp; &nbsp; &nbsp;<span><span>Aku pun mulai pandai menanak hati, juga jantung, dengan sop darah yang kuisap dari permainan ini.</span></span><br />&nbsp; &nbsp; &nbsp;<span><span>Trotoar kuimpikan jadi kubur orang-orang yang akan datang tanpa jari. Mereka akan melumat tubuhku, seperti perempuan yang meminta tubuhku, juga keringat yang kusulam jadi kertas.</span></span><br />&nbsp; &nbsp; &nbsp;<span><span>Seorang lelaki dan seorang perempuan yang menanamku mulai menanam manusia baru. Tak ada lagi wajahku. Mereka menari-nari sendiri, dengan barisan anak-anak yang pandai melepaskan busur ke jantungku.&nbsp;</span></span><br />&nbsp; &nbsp; &nbsp;&#8203;<span><span>Lelaki itu hanya bisa diam. Bahkan ikut menyantap tubuhku. Orang-orang datang dan memakiku.&nbsp;&nbsp;</span></span><br /><span><span></span></span></em><em>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</em><em><span><span>&ldquo;Sebuah pementasan kaumainkan lagi.&rdquo;</span></span><br /><span><span></span></span></em><em>&nbsp; &nbsp; &nbsp;</em><em><span><span>Mereka menyulam darahku di atas batu.</span></span><br /><br /><span><span>(Puisi &ldquo;Kepompong&rdquo;, dalam buku &ldquo;Pandora&rdquo;)</span></span></em><br /></div>  <div>  <!--BLOG_SUMMARY_END--></div>  <div class="paragraph"><span><span style="font-weight:700">PEREMPUAN</span><span> itu menatap wajahnya di cermin. Bayangan masa lalu melintas timbul dan tenggelam menyusuri seluruh napasnya yang mulai terasa pendek. Masa kanak-kanaknya melintas tajam di seluruh aliran napasnya. Harum bunga, harum tanah, harum pohon menyusuri tubuhnya yang liat.</span></span><br /><span></span><span><span>&nbsp;&nbsp; &nbsp;</span><span>&ldquo;Anakmu perempuan.&rdquo; Suara itu menggema ke seluruh ruangan.&nbsp;</span></span><br /><span></span><span><span>&nbsp;&nbsp; &nbsp;</span><span>&ldquo;Biasanya jika yang pertama anak perempuan, sulit untuk mendapatkan anak lelaki.&rdquo;</span></span><br /><span></span><span><span>&nbsp;&nbsp; &nbsp;</span><span>&ldquo;Ya.&rdquo;</span></span><br /><span></span><span><span>&nbsp;&nbsp; &nbsp;</span><span>&ldquo;Sebaiknya mulai kaupikirkan mencari perempuan lain untuk memberi keturunan bagi keluarga kita. Kita butuh anak lelaki, sebagai penerus kebesaran keluarga ini,&rdquo; suara-suara itu benar-benar mengisi seluruh pikiran Layang &mdash; ibuku, perempuan yang memuntahkan aku dari rahimnya. Perempuan yang tidak mengenalku. Bahkan aku tidak pernah tahu, apakah ibuku paham menjadi perempuan? Setelah kesadarannya pulih, Layang justru membahayakan orang-orang terdekatnya, bahkan bayi merah yang baru saja dimuntahkan dari tubuhnya, dililitkan pisau. Berkali-kali Layang membahayakan anak perempuannya. Sejak pikirannya menghilang, perempuan cantik itu digiring ke ruang khusus, kadang dirantai.&nbsp;</span></span><br /><span></span><span><span>***</span></span><br /><span></span><span><span>&nbsp;&nbsp; &nbsp;</span><span style="font-weight:700">AKU</span><span> &mdash; Kemuning. Nama yang kusuka, ibuku yang memberiku nama. Ibuku juga memberiku kalung yang tidak akan pernah hilang dari leherku, sayatan pisau melintang yang terus berbekas dan akan kubawai sampai mati. Waktu bayi, ibuku &mdash; Layang, mengiris leherku hampir putus, tapi aku tidak mati. Aku tidak suka perhiasan setelah ibuku menggoreskan leherku dengan warna merah yang mengelilingi leherku. Sebuah tanda, bahwa kelak hidupku pun mungkin tidak akan baik-baik saja.&nbsp;</span></span><br /><span></span><span><span>&nbsp;&nbsp; &nbsp;</span><span>Memang ada hidup yang baik-baik saja?&nbsp;</span></span><br /><span></span><span><span></span>&nbsp; &nbsp;&nbsp;<span>Aku terus tumbuh besar dengan pikiran-pikiranku sendiri. Menjadi anak perempuan apalagi sebagai si Sulung tidak mudah. Bapakku&mdash; Kaja, sibuk mengurus beragam bisnis, aku tak pernah mengenalnya dengan baik. Aku juga tidak tahu, apakah dia memiliki rasa cinta padaku? Aku tumbuh makin hari makin baik, mengurus beragam perusahaan kecil di desa &mdash; Sabrang.<br /><br /></span>&nbsp; &nbsp;&nbsp;<span>Desaku kecil, dengan aliran air yang jernih,</span><span style="color:rgb(71, 71, 71)">&nbsp;</span><span>desa yang menempatkan masyarakat sebagai aktor utama pembangunan dengan memanfaatkan potensi lokal secara mandiri. Halaman&nbsp; dimanfaatkan dengan baik; ada cabai, bayam, kangkung, tomat, jahe, kencur, serai. Ketahanan pangan sesungguhnya dimulai dari rumah. Kemuning sangat menikmati kerja-kerja yang dilakukan perempuan-perempuan di desa Sabrang.&nbsp;</span></span><br /><span></span><span><span>***</span></span><span><span><br />&nbsp;&nbsp; &nbsp;</span><span style="font-weight:700">SEBUAH</span><span> petaka akhirnya mengetuk pintu.</span></span><br /><br /><span></span><span><span>&nbsp;&nbsp; &nbsp;</span><span>Kemuning selalu menjadi satu-satunya perempuan yang dilibatkan desa tempatnya tinggal, itu pun karena statusnya sebagai keturunan satu-satunya Kaja &mdash; lelaki terkaya di desanya. Lelaki yang membangun waduk, tempat ibadah, dan beragam fasilitas di desa. Lelaki yang memiliki hubungan baik dengan beragam tokoh-tokoh politik. Siapa yang berani menentang Kaja? Dengan duit berlimpah, tidak akan habis dimakan seribu keturunannya. Kaja adalah raja kecil. Keputusan Kaja adalah hukum di desanya.</span></span><br /><span></span><span><span>&nbsp;&nbsp; &nbsp;</span><span>&ldquo;Desa ini tidak akan maju jika tidak bisa dimanfaatkan secara ekonomis. Desa jadi tidak terlihat modern.&rdquo; Suatu hari, seorang pemuda desa yang lama tinggal di kota mengajukan usul dalam rapat desa.</span></span><br /><span></span><span><span>&nbsp;&nbsp; &nbsp;</span><span>&ldquo;Maksudnya?&rdquo;</span></span><br /><span></span><span><span>&nbsp;&nbsp; &nbsp;</span><span>&ldquo;Setiap tanah harus memiliki nilai ekonomis.&rdquo;</span></span><br /><span></span><span><span>&nbsp;&nbsp; &nbsp;</span><span>&ldquo;Selama ini, tanah di desa ini sudah memiliki nilai ekonomis! Masyarakat desa bisa makan dan hidup dari tanah mereka sendiri. Minimal untuk kebutuhan sehari-hari. Apa yang kurang dengan desa ini?&rdquo;</span></span><br /><span></span><span><span>&nbsp;&nbsp; &nbsp;</span><span>&ldquo;Desa harus berkembang lebih maju, ada penginapan, ada vila. Minimal kita ikut membuat masyarakat maju dengan membangun pariwisata. Ada turis yang bisa menikmati desa ini dengan baik. Ada uang masuk, dan investor&hellip;,&rdquo; suara lelaki muda itu terdengar putus-putus tak berani menatap mata Kemuning. Ketika Kemuning akan berdebat, Kaja mencolek lengannya lembut.</span></span><br /><span></span><span><span>&nbsp;&nbsp; &nbsp;</span><span>&ldquo;Kemuning!&rdquo; Kaja, menatap mata anak semata wayangnya dalam-dalam.</span></span><br /><span></span><span><span>&nbsp;&nbsp; &nbsp;</span><span>&ldquo;Kau dengarkan dulu, apa yang ingin disampaikan Kepala Desa. Dan anak muda itu, Saron namamu, ya? Dengarkan baik-baik, Kemuning. &ldquo;Suara Kaja terdengar datar, Kemuning terdiam. Sambil menatap seluruh peserta rapat di Balai Desa.&nbsp;</span></span><br /><span></span><br /><span><span></span>&nbsp; &nbsp;&nbsp;<span>Semua perempuan duduk di belakang lelaki-lelaki mereka. Menunduk, sesekali saja menatap mata Kemuning tanpa jiwa. Kemuning heran kenapa perempuan-perempuan itu hanya terdiam jika ada rapat di desa untuk merawat dan menjaga harmoni kehidupan di desa. Harmoni sesungguhnya adalah keseimbangan, kenapa yang terdengar hanya suara lelaki setiap ada rapat desa untuk mengambil beragam kebijakan. Ke mana larinya suara perempuan?</span></span><br /><span></span><span><span>&nbsp;&nbsp; &nbsp;</span><span>Bukankah orang-orang yang konon mengambil keputusan bijak selalu mengusung konsep </span><span>Tri Hita Karana</span><span> &mdash;&nbsp;ajaran Hindu yang mengajarkan manusia untuk hidup harmonis dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam lingkungan.&nbsp;Konsep ini berasal dari bahasa Sansekerta yang terdiri dari tiga kata, yaitu "tri" yang berarti tiga, "hita" yang berarti kebahagiaan, dan "karana" yang berarti penyebab.&nbsp;</span><span>Tri Hita Karana</span><span> diwujudkan dalam tiga unsur. </span><span>Parhayangan</span><span> &mdash; hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhan .</span><span>Pawongan</span><span> &mdash; hubungan harmonis antara manusia dengan sesama manusia. </span><span>Palemahan</span><span> &mdash; &nbsp;hubungan harmonis antara manusia dengan alam lingkungan. Ke mana larinya konsep itu? Bukankah desa berdaya jika penduduknya berdaya secara ekonomi, yang dimulai dari keluarga sebagai bagian yang terkecil dalam masyarakat. Desa ini berdaya karena perempuan.</span></span><br /><span></span><span><span>&nbsp;&nbsp; &nbsp;</span><span>Terbayang ketika </span><span>grubug</span><span>, pandemi COVID-19, menghajar. Orang-orang tidak bisa makan. Siapa yang paling pontang-panting melanjutkan hidup: perempuan!&nbsp;</span></span><br /><span></span><span><span>&nbsp;&nbsp; &nbsp;</span><span>Ketika pariwisata tidak lagi bisa dijadikan pegangan hidup. Seluruh laki-laki yang bekerja di kota pulang ke desa, tanpa uang, dan bonus stres yang tidak jelas. Berapa perempuan yang dihajar suami karena suami kerjanya hanya mabuk, dan bergaya seolah masih bisa mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari. Tidak bisa membantu ekonomi keluarga, tetapi menuntut tetap bisa ngopi, merokok, dan makan. Siapa yang terkena imbas dari </span><span>grubug</span><span> itu? Perempuan!&nbsp;</span></span><br /><span></span><span><span>&nbsp;&nbsp; &nbsp;</span><span>Perempuan harus bertahan hidup, mencangkuli tubuh, juga tanah-tanah pekarangan desa, berkebun untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari agar anak-anak tetap bisa makan. Tak ada beras, ada pisang, dan beragam umbi. Bahkan masih sempat menjual hasil kebun berlimpah ke pasar ditukar dengan kebutuhan hidup yang lain. Semua itu dilakukan perempuan selama </span><span>grubug</span><span> yang tidak jelas itu.</span></span><br /><span></span><br /><span><span></span>&nbsp; &nbsp;&nbsp;<span>Sekarang? Para lelaki di balai desa dengan ringannya akan membangun pabrik air isi ulang dengan mengambil mata air yang berada dekat bukit. Demi kemajuan desa? Bagaimana kalau mata air itu akhirnya hanya bisa memenuhi kebutuhan orang-orang kota? Lalu, orang-orang desa tidak lagi bebas mengalirkan mata air itu ke rumah masing-masing. Air yang jernih dan wangi. Siapa investor yang tidak tertarik mengeruk keuntungan dari mata air di desa Sabrang. Membangun vila agar desa lebih terlihat modern? Bukit-bukit dirajah dan dinodai? Itu namanya modern? Merusak alam! Menghasilkan limbah?</span></span><br /><span></span><span><span>&nbsp;&nbsp; &nbsp;</span><span>Apa yang akan didapat desa kecil tempat Kemuning tinggal? Desa mandiri yang berlimpah dengan bahan makanan. Semua dikelola dengan baik oleh perempuan-perempuan desa seusia ibunya. Perempuan-perempuan yang mandiri dan bisa mencukupi kebutuhan hidupnya sendiri. Perempuan berdaya yang mampu berkontribusi secara aktif, menginspirasi, mendidik, dan memimpin ketahanan pangan.&nbsp;Perempuan yang berperan dalam mewujudkan kesetaraan gender dan menghapus diskriminasi.&nbsp;Perempuan desa yang penuh percaya diri. Dengan ikut membangun saluran air, mencangkul, bertani, dan menjual hasil kebun dengan menyetir sendiri ke pasar. Kemuning merasa dengan memberdayakan perempuan, sesungguhnya desanya sedang membangun masa depan bangsa. Perempuan yang berdaya mampu memberikan dampak positif di berbagai aspek kehidupan, baik dalam keluarga, komunitas, hingga pembangunan yang lebih sehat, Kemuning juga mendukung perempuan untuk memanfaatkan transformasi digital dengan bersuara, berkarya, dan berbudaya. Perempuan harus menjadi pelaku aktif dalam pembangunan digital, tidak hanya sebagai konsumen, tetapi juga sebagai pencipta dan inovator. Salah satunya, mulai memasarkan beragam produksi rumahan di media sosial, mendirikan koperasi pangan. Orang-orang yang menjemput hasil pangan ke desanya.</span></span><br /><span></span><span><span>&nbsp;&nbsp; &nbsp;</span><span>Petaka apa yang akan didatangkan orang-orang kota di desanya? Demi pariwisata? Menanam tembok-tembok di tebing. Merampas hutan. Dengan janji akan mempekerjakan orang-orang desa.</span></span><br /><span></span><span><span>&nbsp;&nbsp; &nbsp;</span><span>Kemuning kukuh, tak lagi didengar suara Kaja.</span></span><br /><span></span><span><span>&nbsp;&nbsp; &nbsp;</span><span>&ldquo;Hidup perempuan itu, hanya perempuan yang tahu, Bapak. Aku telah kehilangan ibuku sejak bayi karena aku bukan laki-laki. Ibu menyerah pada hidup, melarungkan tubuhnya ke jurang. Aku bukan ibuku, sekali pun aku lahir dari tubuhnya. Aku sekolah tinggi untuk memahami hal-hal kecil. Bapak sudah tua, waktunya menikmati hidup. Uang penting, tetapi untuk apa jika uang menyandera hidup kita? Desa ini sudah maju, perempuan-perempuan manula masih bisa bekerja di rumahnya. Menghasilkan uang, mereka tumbuh sehat dan mandiri. Yang utama, mereka memegang uang, mandiri secara ekonomi, secara finansial dengan tetap tinggal di rumah mengurus anak-anak. Juga cucu. Bapak mau mereka jadi buruh hotel-hotel yang merusak ekosistem sosial, budaya, agama penduduk di sini?!&rdquo; Kemuning berkata tegas.</span></span><br /><span></span><span><span>&nbsp;&nbsp; &nbsp;</span><span>Orang-orang desa menatapnya. Perempuan-perempuan desa mulai mengangkat wajah. Memberi dukungan pada Kemuning. Kemuning terdiam, menatap satu-satu perempuan-perempuan desanya. Rasanya rindu sekali mendengar perempuan-perempuan itu memiliki suara!</span></span><br /><span></span><br /><em><span><span>Denpasar, 15 Maret 2025</span></span></em><br /><span></span>***<br /><br /><span><span><strong>Oka Rusmini</strong> lahir di Jakarta, 11 Juli 1967, bermukim di Denpasar, Bali. Bukunya yang telah terbit: </span><span>Monolog Pohon </span><span>(1997), </span><span>Tarian Bumi </span><span>(2000), </span><span>Sagra</span><span> (2001), </span><span>Kenanga</span><span> (2003), </span><span>Patiwangi</span><span> (2003), </span><span>Warna Kita</span><span> (2007), </span><span>Pandora</span><span> (2008), </span><span>Tempurung</span><span> (2010), </span><span>Akar Pule </span><span>(2012), </span><span>Saiban</span><span> (2014), </span><span>Men Coblong</span><span> (2019), </span><span>Koplak</span><span> (2019), dan</span><span> Jerum</span><span style="font-weight:700"> </span><span>(2020). Berbagai penghargaan telah diterimanya: Anugerah Sastra Kemendikbudristek&nbsp; 2003 dan 2012, Anugerah Sastra Tantular, Balai Bahasa&nbsp; Provinsi Bali 2012, The S.E.A. Write Award&nbsp; dari Kerajaan Thailand 2012, Kusala Sastra Khatulistiwa 2014, Ikon Berprestasi Indonesia kategori Seni dan Budaya 2017, CSR Indonesia Awards kategori Karsa Budaya Prima 2019, </span><span>Bali Jani Nugraha </span><span>dari Pemerintah Provinsi Bali 2019 Wikan Award &nbsp;dari Yayasan Korpri Bali 2023, dan Penghargaan 40 tahun berkarya&nbsp;dari Pemerintah Indonesia Bidang Kebahasaan dan Kesastraan 2024.</span></span><br /><span></span></div>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Negara Tanpa Suara Migran: Pilpres 2024]]></title><link><![CDATA[https://www.jurnalperempuan.org/cerpenpuisi-feminis/negara-tanpa-suara-migran-pilpres-2024]]></link><comments><![CDATA[https://www.jurnalperempuan.org/cerpenpuisi-feminis/negara-tanpa-suara-migran-pilpres-2024#comments]]></comments><pubDate>Fri, 20 Jun 2025 09:23:57 GMT</pubDate><category><![CDATA[Uncategorized]]></category><guid isPermaLink="false">https://www.jurnalperempuan.org/cerpenpuisi-feminis/negara-tanpa-suara-migran-pilpres-2024</guid><description><![CDATA[Oleh: Dewi NovaNegara tanpa suara migran&nbsp;Balita kehilangan puting induknya&nbsp;Kelaparan yang tak dimengerti&nbsp;Pemiskinan yang kehilangan narasi&nbsp;Sebab apa, perempuan dari gunung-gunung yang dikeruk,&nbsp; dari pantai-pantai yang hilang&nbsp;menuju rumah majikan yang jauh&nbsp;Melintas batas pulau, negara, bahasa, agama, dan budaya&nbsp;Sebagian besar menjadi budak, sebagian kecil saja dihargai sebagai pekerja,&nbsp;bukan karena konstitusi, melainkan kebaikan si pemberi kerja&nbsp;S [...] ]]></description><content:encoded><![CDATA[<div class="paragraph"><strong>Oleh: Dewi Nova</strong><br /><br /><span><span>Negara tanpa suara migran&nbsp;</span></span><br /><span><span>Balita kehilangan puting induknya&nbsp;</span></span><br /><span><span>Kelaparan yang tak dimengerti&nbsp;</span></span><br /><span><span>Pemiskinan yang kehilangan narasi&nbsp;</span></span><br /><span><span>Sebab apa, perempuan dari gunung-gunung yang dikeruk,&nbsp; dari pantai-pantai yang hilang&nbsp;</span></span><br /><span><span>menuju rumah majikan yang jauh&nbsp;</span></span><br /><span><span>Melintas batas pulau, negara, bahasa, agama, dan budaya&nbsp;</span></span><br /><span><span>Sebagian besar menjadi budak, sebagian kecil saja dihargai sebagai pekerja,&nbsp;</span></span><br /><span><span>bukan karena konstitusi, melainkan kebaikan si pemberi kerja&nbsp;</span></span><br /><span><span>Seperti main ular tangga&nbsp;</span></span><br /><span><span>Antara diberi tangga atau ditelan ular&nbsp;</span></span><br /><span><span>Siapa yang menentukan?</span></span></div>  <div>  <!--BLOG_SUMMARY_END--></div>  <div class="paragraph"><span><span>Negara tanpa suara migran&nbsp;</span></span><br /><span><span>Kehilangan ketajaman&nbsp; pendengaran dan pandangan&nbsp;</span></span><br /><span><span>atas pemiskinan yang terus direproduksi&nbsp;</span></span><br /><span><span>Pembangunanisme yang membunuh&nbsp;</span></span><br /><span><span>ruang-ruang hidup jelata di gunung-gunung, pantai-pantai dan lapak-lapak di kota</span></span><br /><br /><span><span>Siapa akan bercerita?</span></span><br /><span><span>Setelah gunung dan laut begitu murah diprivatisasi&nbsp;</span></span><br /><span><span>Anak-anak perempuan, istri-istri yang muda menjadi komoditas selanjutnya&nbsp;</span></span><br /><br /><span><span>Siapa yang akan mendengar?&nbsp;</span></span><br /><span><span>Bila ribuan suara mereka hilang dan dihilangkan&nbsp;</span></span><br /><span><span>Karena disekap jam kerja&nbsp;</span></span><br /><span><span>Karena perubahan sistem yang tak dikabarkan&nbsp;</span></span><br /><span><span>Karena kecurangan setan buncit&nbsp;</span></span><br /><span><span>Negara tanpa suara migran&nbsp;</span></span><br /><span><span>Perahu kehilangan nakoda</span></span><br /><span><span>Bahtera yang diombang-ambing samudera neoliberalis&nbsp;</span></span><br /><br /><span><span>Gunung yang ranggas</span></span><br /><span><span>Pantai yang hilang&nbsp;</span></span><br /><span><span>Kota yang renta&nbsp;</span></span><br /><span><span>Kehilangan juru bicara&nbsp;</span></span><br /><br /><span><span>Tubuh yang diperbudak&nbsp;</span></span><br /><span><span>Pikiran yang disangkal</span></span><br /><span><span>Rahim yang dipertaruhkan&nbsp;</span></span><br /><span><span>Buruh yang tidak diakui-dilindungi sebagai pekerja</span></span><br /><span><span>Kehilangan suara&nbsp;</span></span><br /><br /><span><span>Negara tanpa suara migran&nbsp;</span></span><br /><span><span>bahtera kehilangan arah&nbsp;</span></span><br /><span><span>tenggelam dalam perut segelintir orang&nbsp;</span></span><br /><br /><span><span>Negara menyangkal kontrak politik&nbsp;</span></span><br /><span><span>Ia ada,&nbsp; karena rakyat pernah memberi dan mengakuinya&nbsp;</span></span><br /><br /><span><span>Negara tanpa suara migran&nbsp;</span></span><br /><span><span>Kerajaan yang segera musnah dimakan rayap ketamakan<br /><br />***</span></span><br /><br /><span><span style="font-weight:700">Dewi Nova,</span><span> puisi dan cerpennya tersebar di beberapa media massa. Buku yang diterbitkannya antara lain Burung-Burung Bersayap Air (Kumpulan puisi) dan Perempuan Kopi (Kumpulan cerita pendek). Puluhan pertunjukan puisi-puisi resistancenya Dewi bawakan di komunitas sastra, berbagai acara gerakan sosial dan badan-badan negara &ndash;UN Women, Uni Eropa, Kedubes Amerika Serikat, dan Komnas Perempuan.&nbsp; Dewi juga memberikan kelas menulis kreatif bagi serikat buruh, pekerja seks, komunitas difabel, dan LGBTIQ. Dewi dapat dihubungi melalui <a href="mailto:dewinova.wahyuni@gmail.com">dewinova.wahyuni@gmail.com</a></span></span></div>]]></content:encoded></item></channel></rss>