The Panturas at CRSL Land Festival 2025 | Dok. Yassifa Ariel Yassifa Ariel Delkaissa (Mahasiswa S-2 Filsafat, Universitas Gadjah Mada) Suara distorsi gitar Dongker pecah di udara lapangan terbuka itu, dan tubuhku—sebelum sempat berpikir—sudah ikut terhuyun mengikuti tempo. Antusiasme itu murni, hampir naluriah: getar bass yang menembus tulang dada, riff yang menguar ke langit malam, teriakan vokal yang seolah memanggil sesuatu dari dasar perut. Namun antusiasme itu tak pernah utuh. Ia selalu terbelah sejak detik pertama aku memasuki kerumunan dan mata-mata di sekitar dengan cepat menaksir: perempuan, di mana ia akan berdiri? Barisan depan, tempat riff-riff itu paling keras terasa di kulit, adalah pusaran lain sama sekali. Di sana, tubuh-tubuh laki-laki saling melempar, mendorong, membanting bahu dengan girang yang nyaris menyerupai amarah.
0 Comments
Dok. Dian Prawitasari Dian Prawitasari (Mahasiswa S-2 Kajian Gender, Universitas Indonesia) Beberapa bulan terakhir, kabar buruk tentang saudara-saudara kita datang silih berganti hampir tanpa jeda. Kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di berbagai daerah, memaksa banyak orang menghirup udara beracun dan mengalami gangguan pernapasan. Di saat yang sama, bencana alam melanda sejumlah wilayah. Banjir bandang di Sumatra membuat warga harus mengungsi, sementara korban jiwa terus bertambah bahkan di tempat pengungsian pasca gempa Nusa Tenggara Timur (NTT). Belum lagi kabar tentang penyintas kekerasan seksual di lingkungan pendidikan berbasis agama yang harus menerima kenyataan pahit karena pelaku telah bebas bersyarat. Setiap kali membuka media sosial, deretan kabar buruk seperti tidak pernah habis. Dok. Hana Rusmalia Hana Rusmalia (Mahasiswa S-1 Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta) Bagi perempuan, kedatangan menstruasi—atau yang kerap disamarkan sebagai ‘tamu bulanan’—adalah rutinitas yang niscaya, alarm biologis yang setia, penanda bahwa ada kehidupan lain yang terus berputar di dalam tubuh. Namun jujur, berapa banyak perempuan yang benar-benar menyambut hari pertama menstruasi dengan helaan napas legas dan waktu cukup untuk beristirahat? Setelah mencoba untuk mengikuti ritme tubuh selama masa menstruasi, saya merasa ‘menyambut’ masa menstruasi dengan beristirahat adalah hal yang penting. Kendati begitu, apa jadinya jika perempuan tidak mengikuti ritme alamiahnya sebab masa menstruasi yang berbenturan dengan tuntutan jadwal produktivitas yang konstan? Arsyad (2026) dalam tulisannya menggambarkan, nilai seorang manusia modern yang semakin sering diukur melalui angka, skor, dan ‘produktivitas’ akan membuatnya kehilangan ruang untuk merefleksikan nilai moral dan berempati. Tak dapat dipungkiri, pilihan untuk slowing down saat menstruasi seringkali memicu rasa bersalah. Kita merasa kalah, tertinggal, dan terpaksa datang memenuhi jadwal dengan tidak berdaya. Dok. Asada Nami (Shutterstock) Yasyfa Nadhira (Mahasiswa S-1 Ilmu Filsafat, Universitas Indonesia) “Belajar masak sana, nanti malu kalau udah nikah.” “Kamu sebagai calon ibu harus bisa urus rumah, jangan banyak ngeluh.” Di banyak keluarga, anak perempuan pertama tumbuh di dalam sebuah paradoks. Di satu sisi, ia diperlakukan sebagai seorang anak. Namun, pada saat yang sama, ia dituntut untuk memiliki “kedewasaan” yang bahkan belum tentu dimiliki oleh orang-orang dewasa di sekitarnya. Sejak usia dini, ia diajarkan untuk memahami kebutuhan orang lain, menjaga adik-adiknya, serta membantu pekerjaan domestik. Dalam banyak situasi, “kedewasaan” tersebut bukanlah privilese yang dapat dipilih secara sadar, melainkan tuntutan moral yang dilekatkan melalui kebiasaan sehari-hari. Dok. Annie Spratt (diambil dari Unsplash.com) Khairullah Arsyad (Mahasiswa Pascasarjana Universitas Hasanuddin) Refleksi atas keterasingan, intelektualitas, dan keadilan potensi manusia dalam dunia yang semakin utilitarian Dalam banyak ruang kehidupan modern, nilai manusia semakin sering diukur melalui angka, skor, dan produktivitas. Penilaian melalui tes, peringkat akademik, hingga sertifikasi profesional membentuk keyakinan bahwa hanya kecerdasan tertentu terutama yang bersifat numerik dan saintifik yang layak diakui. Mahasiswa yang tidak mencapai nilai minimal dalam Tes Potensi Akademik (TPA) atau kemampuan bahasa Inggris sering kali dianggap tidak cukup layak untuk memasuki ruang akademik, apalagi bersaing dalam dunia kerja. Karya Kolase Pribadi “Bersama Tanpa” | Dok. Davina Dachi Davina Dachi (Mahasiswa S-1 Ilmu Filsafat, Universitas Indonesia) “Kematian itu niscaya, lantas, buat apa bersedih?” Demikian ucapan yang sering dilontarkan kepada seseorang yang berduka akan kehilangan orang yang disayanginya. Tangisan dianggap tidak berguna. Duka dianggap harus hanya sesaat singkat. Mungkin saja bahwa pernyataan seperti itu bermaksud untuk membangun kembali kekuatan dalam menjalani masa-masa kelam ini. Akan tetapi, peristiwa berkabung menjadi sangat sempit dengan segala aturan yang disematkan padanya. Dok. Rumah Produksi Lisa Febriyanti (Magister Filsafat STF Driyarkara) Film pendek Selamat Ulang Tahun (2025) merupakan karya sinematik yang tenang tetapi mengguncang. Film ini membuka sebuah ruang perenungan tentang hukuman mati dilihat dari sudut pandang yang paling jarang dihadirkan: keluarga yang ditinggalkan. Alih-alih menampilkan peristiwa kejahatan atau proses peradilan, film ini memilih untuk tinggal dalam ruang domestik, mulai dari ruang dapur, ruang makan, ruang tidur, tempat keadilan negara membawa akibat kehilangan yang tak selesai. Melalui estetika dan dialog minimalis, film ini mengubah perayaan ulang tahun menjadi ritual berkabung. Melalui resensi ini, saya hendak menyoroti film yang diproduksi oleh LBH Masyarakat dan disutradarai oleh Ikhtiar Maulana dari perspektif simbolik visual, filsafat feminis dan politik kekuasaan. Proses desk verifikasi Musrenbang, 18 Desember 2025 | Dok. Ina Irawati Ina Irawati (Mahasiswa Magister Kajian Wanita di Universitas Brawijaya) Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) selama ini diposisikan sebagai ruang partisipasi warga dalam menentukan arah pembangunan daerah. Secara normatif, partisipasi masyarakat dalam perencanaan pembangunan telah diatur melalui Permendagri Nomor 86 Tahun 2017 tentang Tata Cara Perencanaan, Pengendalian, dan Evaluasi Pembangunan Daerah. Namun, regulasi tersebut belum secara eksplisit menjamin keterlibatan kelompok perempuan secara bermakna. Musrenbang Tematik Perempuan di Kota Malang menjadi bentuk kebijakan afirmasi untuk memastikan perempuan memiliki ruang khusus dalam proses perencanaan Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD). Setiap tahunnya forum ini didahului dengan Penyusunan Kamus Usulan RKPD, Sosialisasi Surat Edaran Walikota tentang Pedoman Musrenbang (kamus usulan), pra-Musrenbang, desk Verifikasi, Rekapitulasi usulan dan inputing Sistem Informasi Pemerintahan Daerah (SIPD) https://sipd-ri.kemendagri.go.id Dok. Metropolis (Tangkapan Layar Pribadi) Alifia Putri Yudanti (Mahasiswa S-2 Kajian Gender, Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan, Universitas Indonesia) Sebagai seorang antinatalis, saya memang tidak pernah membayangkan diri saya memiliki anak. Selain karena memiliki anak di masa sekarang bagaikan penyiksaan bagi si kecil, kehamilan dan persalinan bagi saya adalah pengalaman yang sangat melelahkan dan menyakitkan. Ditambah lagi, beban ini sepenuhnya ditanggung oleh perempuan. Kesadaran tersebut membuat saya merasa sangat dekat dengan gagasan Shulamith Firestone dalam The Dialectic of Sex: The Case For Feminist Revolution (1970) mengenai “revolusi biologis”, khususnya konsep reproduksi buatan (ex utero). Dok. Rumah Produksi Putri Nurfitriani (Mahasiswa S-2 Ilmu Filsafat, Universitas Indonesia) Ted Lasso (2021–2023) berkisah tentang seorang pelatih sepak bola Amerika Serikat asal Kansas yang tiba-tiba direkrut untuk melatih klub sepak bola Inggris, AFC Richmond. Masalahnya: Ted sama sekali tidak mengerti sepak bola Inggris. Bahkan Ted tak tahu aturan sepak bola Inggris seperti offsides, tak kenal nama pemain top Eropa, dan budaya Inggris pun membuatnya kagok. Ted yang optimis—atau mungkin terlalu optimis—dan the definition of the ray of sunshine, datang dengan keyakinan bahwa orang akan berkembang jika dipercaya. |
AuthorSahabat Jurnal Perempuan Archives
October 2026
Categories |










RSS Feed