Dok. Annie Spratt (diambil dari Unsplash.com) Khairullah Arsyad (Mahasiswa Pascasarjana Universitas Hasanuddin) Refleksi atas keterasingan, intelektualitas, dan keadilan potensi manusia dalam dunia yang semakin utilitarian Dalam banyak ruang kehidupan modern, nilai manusia semakin sering diukur melalui angka, skor, dan produktivitas. Penilaian melalui tes, peringkat akademik, hingga sertifikasi profesional membentuk keyakinan bahwa hanya kecerdasan tertentu terutama yang bersifat numerik dan saintifik yang layak diakui. Mahasiswa yang tidak mencapai nilai minimal dalam Tes Potensi Akademik (TPA) atau kemampuan bahasa Inggris sering kali dianggap tidak cukup layak untuk memasuki ruang akademik, apalagi bersaing dalam dunia kerja.
2 Comments
Karya Kolase Pribadi “Bersama Tanpa” | Dok. Davina Dachi Davina Dachi (Mahasiswa S-1 Ilmu Filsafat, Universitas Indonesia) “Kematian itu niscaya, lantas, buat apa bersedih?” Demikian ucapan yang sering dilontarkan kepada seseorang yang berduka akan kehilangan orang yang disayanginya. Tangisan dianggap tidak berguna. Duka dianggap harus hanya sesaat singkat. Mungkin saja bahwa pernyataan seperti itu bermaksud untuk membangun kembali kekuatan dalam menjalani masa-masa kelam ini. Akan tetapi, peristiwa berkabung menjadi sangat sempit dengan segala aturan yang disematkan padanya. Dok. Rumah Produksi Lisa Febriyanti (Magister Filsafat STF Driyarkara) Film pendek Selamat Ulang Tahun (2025) merupakan karya sinematik yang tenang tetapi mengguncang. Film ini membuka sebuah ruang perenungan tentang hukuman mati dilihat dari sudut pandang yang paling jarang dihadirkan: keluarga yang ditinggalkan. Alih-alih menampilkan peristiwa kejahatan atau proses peradilan, film ini memilih untuk tinggal dalam ruang domestik, mulai dari ruang dapur, ruang makan, ruang tidur, tempat keadilan negara membawa akibat kehilangan yang tak selesai. Melalui estetika dan dialog minimalis, film ini mengubah perayaan ulang tahun menjadi ritual berkabung. Melalui resensi ini, saya hendak menyoroti film yang diproduksi oleh LBH Masyarakat dan disutradarai oleh Ikhtiar Maulana dari perspektif simbolik visual, filsafat feminis dan politik kekuasaan. Proses desk verifikasi Musrenbang, 18 Desember 2025 | Dok. Ina Irawati Ina Irawati (Mahasiswa Magister Kajian Wanita di Universitas Brawijaya) Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) selama ini diposisikan sebagai ruang partisipasi warga dalam menentukan arah pembangunan daerah. Secara normatif, partisipasi masyarakat dalam perencanaan pembangunan telah diatur melalui Permendagri Nomor 86 Tahun 2017 tentang Tata Cara Perencanaan, Pengendalian, dan Evaluasi Pembangunan Daerah. Namun, regulasi tersebut belum secara eksplisit menjamin keterlibatan kelompok perempuan secara bermakna. Musrenbang Tematik Perempuan di Kota Malang menjadi bentuk kebijakan afirmasi untuk memastikan perempuan memiliki ruang khusus dalam proses perencanaan Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD). Setiap tahunnya forum ini didahului dengan Penyusunan Kamus Usulan RKPD, Sosialisasi Surat Edaran Walikota tentang Pedoman Musrenbang (kamus usulan), pra-Musrenbang, desk Verifikasi, Rekapitulasi usulan dan inputing Sistem Informasi Pemerintahan Daerah (SIPD) https://sipd-ri.kemendagri.go.id Dok. Metropolis (Tangkapan Layar Pribadi) Alifia Putri Yudanti (Mahasiswa S-2 Kajian Gender, Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan, Universitas Indonesia) Sebagai seorang antinatalis, saya memang tidak pernah membayangkan diri saya memiliki anak. Selain karena memiliki anak di masa sekarang bagaikan penyiksaan bagi si kecil, kehamilan dan persalinan bagi saya adalah pengalaman yang sangat melelahkan dan menyakitkan. Ditambah lagi, beban ini sepenuhnya ditanggung oleh perempuan. Kesadaran tersebut membuat saya merasa sangat dekat dengan gagasan Shulamith Firestone dalam The Dialectic of Sex: The Case For Feminist Revolution (1970) mengenai “revolusi biologis”, khususnya konsep reproduksi buatan (ex utero). Dok. Rumah Produksi Putri Nurfitriani (Mahasiswa S-2 Ilmu Filsafat, Universitas Indonesia) Ted Lasso (2021–2023) berkisah tentang seorang pelatih sepak bola Amerika Serikat asal Kansas yang tiba-tiba direkrut untuk melatih klub sepak bola Inggris, AFC Richmond. Masalahnya: Ted sama sekali tidak mengerti sepak bola Inggris. Bahkan Ted tak tahu aturan sepak bola Inggris seperti offsides, tak kenal nama pemain top Eropa, dan budaya Inggris pun membuatnya kagok. Ted yang optimis—atau mungkin terlalu optimis—dan the definition of the ray of sunshine, datang dengan keyakinan bahwa orang akan berkembang jika dipercaya. Rumah adat masyarakat Sahu | Dok. Jeane Prescilia Pakka Jeane Prescilia Pakka (Mahasiswa S-2 Sosiologi Agama, Fakultas Teologi, Universitas Kristen Satya Wacana) Tubuh perempuan sejak lama menjadi ruang tempat berbagai tafsir sosial bertarung. Bukan hanya soal daging dan darah, melainkan simbol nilai, kehormatan, dan moralitas yang dikontrol oleh sistem budaya. Di banyak masyarakat tradisional, tubuh perempuan dianggap sebagai penanda keseimbangan sosial di mana tubuh yang harus dijaga, ditata, dan diawasi demi mempertahankan kehormatan komunitas. Namun, di balik penghormatan itu tersembunyi kuasa yang menundukkan. Perempuan disatu sisi dimuliakan, tetapi juga dibungkam oleh tafsir adat yang didominasi oleh suara laki-laki. Dok. Rumah Produksi Ester Veny Novelia Situmorang (Mahasiswa S-1 Filsafat, Universitas Gadjah Mada) Di tengah gedung bergaya futuristik, sebuah operasi persalinan tengah dilakukan oleh dua orang dokter perempuan. Dari ujung kepala hingga kaki, kedua dokter ini dibalut dengan pakaian medis berwarna merah, menyatu dengan warna darah yang keluar dari bekas hasil sayatan perut perempuan hamil yang perlu mereka selamatkan. Kedua dokter ini adalah Elliot dan Beverly Mantle, dua perempuan kembar yang memilih pekerjaan sebagai dokter kandungan dan membangun sebuah fasilitas kesehatan ibu hamil dan persalinan. Dok. Inun Fariha Nuhba Inun Fariha Nuhba (Mahasiswa S-2 Kajian Wanita, Universitas Brawijaya) Ketimpangan akses dan peran gender di komunitas marginal bukanlah sekadar isu sosial biasa, melainkan permasalahan struktural yang mencerminkan relasi kuasa yang timpang dalam masyarakat. Badan Pusat Statistik Indonesia mencatat Gender Inequality Index (GII) sebesar 0,447 pada tahun 2023, menurun 0,012 dari tahun sebelumnya. Angka ini menunjukkan adanya perbaikan, namun kesenjangan yang signifikan masih tetap ada dan nyata. Dalam konteks tersebut, transformasi sosial yang sensitif gender dan inklusif menjadi proses penting yang melibatkan pemberdayaan semua kelompok, khususnya perempuan, agar dapat berpartisipasi penuh dalam kehidupan sosial, ekonomi, dan pendidikan (Beauvoir, 2010). Dok. Jurnal Perempuan Khairullah Arsyad (Mahasiswa S2 Universitas Hasanuddin) Kita hidup dalam zaman yang penuh akan pergulatan globalisasi, persaingan akademik, dan tuntutan akan kesetaraan. Universitas, sebagai ruang berpikir kritis, seharusnya menjadi tempat yang aman dan adil bagi semua. Universitas, sebagai ruang berpikir dan pembentuk kesadaran kritis, tidak luput dari berbagai ketimpangan struktural dan budaya yang cenderung mempertahankan hierarki kuasa antara dosen dan mahasiswa, laki-laki dan perempuan, maupun antara lembaga dan individu. Di balik semangat meritokrasi dan prestasi, sering tersembunyi praktik-praktik eksklusi, diskriminasi, hingga kekerasan simbolik yang membatasi hak dan ruang aman, terutama bagi mahasiswa perempuan. |
AuthorSahabat Jurnal Perempuan Archives
March 2026
Categories |










RSS Feed