Dok. Penerbit Sitti Nurliani Khanazahrah (Pendiri Rumah Kajian Filsafat Makassar, Pembina Komunitas Literasi Perempuan Makassar) Untuk pemesanan buku melalui pengembaraanpikiran.blogspot.com Tak bisa disangkal, kita hidup dalam dunia yang gemar memberi batas. Antara laki-laki dan perempuan, antara Muslim dan non-Muslim, antara yang disebut saleh dan yang dituduh sesat. Dalam realitas yang sarat sekat itu, buku ini hadir seperti hujan pertama yang menyapa tanah kering. Membawa harapan, menyuburkan dialog, dan merayakan perjumpaan.
0 Comments
Perjuangan Wollstonecraft: Melawan Pernikahan Dini dan Menuntut Hak Pendidikan Anak Perempuan25/6/2025 Dok. Penulis Khairullah Arsyad ( Mahasiswa S2 Universitas Hasanuddin) Pernikahan dini sebagaimana menjadi kenyataan pahit yang dialami oleh jutaan anak perempuan di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Di balik alasan adat, moralitas, dan kesopanan, praktik ini terus hidup dan merampas masa depan anak-anak yang seharusnya sedang duduk di bangku sekolah. Angin segar perlahan mendera dengan melihat data dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia yang menunjukkan bahwa angka perkawinan anak menurun menjadi 6,92 persen pada tahun 2023, melampaui target RPJMN sebesar 8,74 persen (Kemen PPPA, 2024). Namun, itu bukan salah satu alasan selesainya problematika pernikahan dini yang semakin hari timbul ke permukaan. Dok. Jihan Nur Salsabila Jihan Nur Salsabila (Mahasiswa S-1 UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta) Dalam realitas hari ini, kita dihadapkan pada kerusakan dan ketimpangan yang semakin menjalar setiap harinya. Hutan yang rimbun dengan pepohonan disulap menjadi tambang hanya dalam waktu yang singkat. Mesin-mesin besar mengeruk tanah sedalam-dalamnya, mencari untung di dasar bumi. Hewan-hewan kehilangan ruang hidupnya dan dipaksa musnah. Pabrik-pabrik besar mengirim limbahnya ke sungai-sungai sumber kehidupan. Kebutuhan pangan tidak lagi dihasilkan dari kebun sendiri, melainkan dari toko-toko yang disuplai oleh kapitalis. Perlahan, narasi tentang alam sebagai sumber kehidupan terasa semakin samar dalam keseharian. Dok. Ningdyah Lestari Ningdyah Lestari (Mahasiswa S-1 Ilmu Filsafat, Universitas Indonesia) Kekerasan seksual telah menjadi persoalan pelik yang menghantui berbagai sendi masyarakat Indonesia, tak terkecuali lingkungan pendidikan tinggi. Kampus, yang semestinya menjadi ladang ilmu dan ruang aman untuk tumbuh dan mengembangkan potensi, sering kali justru menjadi area praktik-praktik kekerasan yang tersembunyi di balik tabir akademik. Menurut data dari GoodStats, per 12 Desember 2024, kasus kekerasan seksual di ranah perguruan tinggi mencapai 78 persen dari total keseluruhan kasus yang termasuk dalam kategori "tiga dosa besar" pendidikan (kekerasan seksual, perundungan, dan intoleransi) antara tahun 2021–2024. Data ini menunjukkan bahwa perguruan tinggi menjadi lingkungan pendidikan dengan kasus kekerasan seksual terbanyak. Dok. Khairullah Arsyad Khairullah Arsyad (Mahasiswa S2 Universitas Hasanuddin) You adalah serial thriller psikologis yang tayang perdana di Lifetime pada 2018 sebelum pindah ke Netflix mulai Season 2. Serial ini diadaptasi dari novel berjudul sama, You (2014) karya Caroline Kepnes, dengan sekuelnya Hidden Bodies (2016) menjadi dasar Season 2. Dok. Gloria Sarah Saragih Gloria Sarah Saragih (Mahasiswa S1 Ilmu Filsafat, Universitas Indonesia) Di tengah dunia yang dikuasai kapitalisme, patriarki, rasisme, dan berbagai sistem penindasan lainnya, istirahat seringkali dipandang sebagai kemewahan atau kelemahan. Namun, bagi kelompok rentan, istirahat bukan sekadar jeda dari kerja, melainkan sebuah tindakan politis. Istirahat adalah bentuk perlawanan terhadap tekanan sistemik untuk terus berproduksi, beban ganda yang dihadapi oleh perempuan, norma-norma gender yang menindas, dan eksploitasi yang tidak berkesudahan. Istirahat melampaui kebutuhan personal dan memasuki ranah politis. Dengan beristirahat, bukan sekedar ketidakhadiran dari aktivitas, tetapi juga sebuah tindakan radikal melawan sistem yang mengkomodifikasi tubuh serta memperpetuasi kelelahan. Istirahat akan diposisikan sebagai elemen fundamental dari perawatan diri (self-care) dan keberlangsungan komunitas. Dok. Try Suriani Loit Tualaka Try Suriani Loit Tualaka (Mahasiswi Semester 7, Program Studi Ilmu Administrasi Negara, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Nusa Cendana. Try berasal dari Kota Soe, Kabupaten Timor Tengah Selatan). Masyarakat di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) dikenal dengan sapaan “Atoin Meto” atau “Atoin Pah Meto” yang merupakan sebutan bagi masyarakat TTS dalam bahasa Dawan (Uab Meto). Secara harfiah, “Atoin” berarti “orang”, “Pah” berarti “tanah”, dan “Meto” berarti “kering”. Jadi, Atoin Pah Meto dapat diartikan sebagai “orang yang tinggal di tanah yang kering” (Ethelbert et al., 2022). Atoin Meto terdiri dari berbagai sub-suku, termasuk suku Mollo (O'Enam), Amanatun (Onam), dan Amanuban (Banam) yang berada di Kabupaten TTS, serta suku Biboki, Insana, dan Miomafo yang terdapat di Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU). Selain itu, ada juga suku Kopas, Amfoang, Fatuleu, dan Sonba'i (Tualaka, 2018). Sebuah lukisan di Kolese St. Ignatius Jogjakarta. Dok. pribadi penulis Faiz Abimanyu Wiguna (Alumni S1 Ilmu Filsafat, Universitas Indonesia) Bayang-bayang menghantui belahan dunia selatan. Bayang-bayang kolonialisme Eropa di masa lalu. Bayang-bayang imperialisme, kapitalisme, dan neoliberalisme–“kolonialisme baru” hari ini. Perampasan tanah dan eksploitasi sumber daya berlanjut melalui subjugasi ekonomi, disokong oleh mesin perang imperial. Segelintir orang menikmati kekayaan berkat eksploitasi sebagian besar sesamanya yang hidup dalam kemiskinan. Sistem politik represif memastikan mekanisme negara yang korup tetap berjalan. Manusia menjadi sekadar roda gigi dalam mesin industri. Bukan hanya tubuh yang sekarat, jiwa kian memudar di tengah kehidupan yang tidak memanusiakan manusia. Di mana Tuhan di tengah-tengah semua ini? Dok. Panca Lintang D. P. Panca Lintang Dyah Paramitha (Mahasiswi S1 Filsafat, Universitas Gadjah Mada) Kekerasan menjalar dalam keseharian gang miskin kota. Moda bertahan hidup dalam negara yang dikendalikan oleh kapitalisme adalah uang, sedangkan akses kepada uang yang dapat menghidupi kami dengan layak adalah pemberi pekerjaan yang lebih berkuasa, dan mereka tidak menerima orang-orang tak bersekolah dan tak berijazah. Di manakah mencari pekerjaan yang layak di tengah riuhnya pergerakan hidup kota Jakarta dan tak ada lahan kosong tanpa real estate? Sementara perempuan hanya bisa diterima ketika mengurus pekerjaan rumah, dan pabrik-pabrik sudah penuh tak ada lowongan. Mengurus rumah dan anggota keluarga dengan gaji yang habis dimakan biaya listrik, sewa kontrakan, kebutuhan sekolah—menyulitkan kami memutar uang untuk membeli bahan pangan. Beras begitu mahal. Cabai begitu mahal. Gas begitu mahal. Meminjam uang pada saudara yang punya akses terhadap uang sudah tak bisa begitu diandalkan, tak terbayar pula utangnya. Berjualan juga tak begitu ada untungnya, yang ada memperbesar utang untuk modal. Kami terlilit pada utang bank plecit harian, koperasi pinjaman keliling, yang tak pernah selesai dilekang waktu. Tubuh perempuan muda menjadi laku di tengah kota yang riuh ini. Bukan dengan kesadaran yang benar-benar penuh kami bekerja sebagai penjaja tubuh, ini adalah pilihan mentok untuk mengakses uang paling menjanjikan, supaya laki-laki yang punya akses terhadap uang itu bisa menghidupi keseharian kami. Pilihan mentok untuk terburu-burunya hari yang harus dipenuhi perutnya dan kebutuhan lainnya. Kami adalah materi eksploitasi paling menggiurkan dalam pasar kapitalisme. Karenanya, utang negara yang sebenar-benarnya bukan pada negara lain, melainkan pada kami! Dian Aditya Ning Lestari (Mahasiswa S2 Kajian Gender, Universitas Hasanuddin) Nilai-nilai Kesetaraan Gender telah ada dalam Budaya Sulawesi Selatan sejak lama. Misalnya nilai-nilai “sipakatau, sipakalebi, sipakainge.”(1) Nilai-nilai ini mengandung kata “si” di depannya yang berarti “saling.” Ini menunjukkan budaya bilateral di Bugis-Makassar, yang menyetarakan posisi laki-laki dan perempuan. Selain itu, ada juga lima gender dalam Budaya Bugis, yaitu Oroane (Laki-Laki), Makkunrai (Perempuan), Calalai (perempuan yang seperti laki-laki), Calabai (laki-laki yang seperti perempuan) dan Bissu (non-gender).(2) |
AuthorSahabat Jurnal Perempuan Archives
March 2026
Categories |










RSS Feed