Jurnal Perempuan
  • TENTANG KAMI
    • Profil
    • Kontak
    • Laporan Tahunan
    • Demo Suara Ibu Peduli
    • Rilis JP
  • Jurnal Perempuan
    • Indonesian Feminist Journal
    • Kirim Tulisan
  • YJP PRESS
    • Buku Seri YJP Press
  • KAFFE
    • Booklet KAFFE
  • Podcast JP
    • Radio JP
  • Sahabat JP
    • Daftar Nama SJP
    • International Friends of JP
    • Blog SJP
    • Gathering SJP
  • Wacana Feminis
    • Tokoh Feminis
    • Cerpen/Puisi Feminis
  • Warta Feminis
  • Warung JP
    • Daftar Toko Buku
  • Toeti Heraty Scholarship
    • Biodata Penerima Beasiswa 2022
    • Biodata Penerima Beasiswa 2023
    • Biodata Penerima Beasiswa 2024
    • Biodata Penerima Beasiswa 2025
Warta Feminis

Tanpa Pengakuan Negara, Eksistensi Masyarakat Adat Terus Tergerus

23/4/2026

 
PictureDok. Jurnal Perempuan
     Jakarta (21/4/2026), Perkumpulan HuMa Indonesia mengadakan diseminasi publik kajian kebijakan dengan tema “Mematikan yang Hidup: Labirin Politik Hukum Pengakuan Masyarakat Adat” di Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat. Melalui sambutan pembuka, Deputi Program HuMa, Erwin Dwi Kristianto, menegaskan bahwa hingga hari ini belum ada skema yang benar-benar mampu mewadahi masyarakat adat secara utuh. Pada praktiknya, sistem yang ada hari ini masih belum berpihak pada mereka yang termarginalkan.

     Diskusi yang dimoderatori oleh Joni Aswira Putra (SIEJ Indonesia) mempertegas bagaimana narasi pembangunan ekonomi terus-menerus dijadikan legitimasi untuk menekan masyarakat adat. Mekanisme hukum dan kebijakan yang ada seakan mencicil pengakuan, juga menahan yang esensial.
​
     Bimantara Adjie (Peneliti HuMa) memaparkan hasil risetnya yang bekerja sama dengan Kudu Komunikasi—perusahaan pengolah data—mengungkap bahwa pengakuan yang diberikan oleh negara bersifat reduktif. Komposisi Undang-Undang Kehutanan sendiri dinilai belum masih memiliki berbagai kekosongan. Belum lagi peraturan turunan yang bahkan setelah puluhan tahun belum sepenuhnya terisi. Situasi ini semakin kompleks setelah hadirnya perubahan paradigma melalui Undang-Undang Cipta Kerja yang menghapus batas kawasan hutan di tingkat provinsi dan memperkenalkan sistem perizinan terpadu satu pintu. Skema ini memang mempermudah investasi, tetapi pada saat yang sama membuka peluang eksploitasi yang lebih luas, termasuk pemutihan sawit di kawasan hutan.

     Dalam kondisi tersebut, suara masyarakat adat menjadi sangat kecil dalam proses pengambilan keputusan. Terlebih bagi perempuan adat yang dalam konteks ini menanggung beban berlapis. Bagi perempuan adat, hilangnya hutan bukan sekadar kehilangan ruang hidup, tetapi juga kehilangan sumber keberlangsungan hidup, sumber pengetahuan, dan sumber agensi kolektif. Belum lagi perihal regulasi yang tidak mengikut sertakan isu gender dan interseksionalitas—padahal merupakan isu yang amat krusial bagi kehidupan dan hak kolektif perempuan adat dengan berbagai lapisannya. 

     Britha Mahanani (Peneliti HuMa) dalam paparannya, menyoroti PP Nomor 55 Tahun 2025 sebagai turunan dari KUHP baru yang justru mereduksi kompleksitas hukum adat. Selain itu, ia melihat adanya pola formalisasi yang tidak berpihak yang mengakibatkan kedaulatan masyarakat adat justru berpindah ke tangan negara. Pengakuan terhadap masyarakat adat, dalam kerangka ini, menjadi bersyarat, berlapis, dan sektoral. Mereka diakui sebagai subjek hukum, tetapi tidak sepenuhnya diakui wilayah dan suaranya. Terlebih, mekanismenya tidak jelas, misalkan, ketika usulan dari masyarakat adat ditolak, bagaimana solusinya? Hal ini menjadikan seluruh proses menjadi sangat politis dan selalu berada di bawah kendali negara.

     Antonella (Peneliti HuMa) menambahkan bahwa hingga hari ini negara belum memandang eksistensi masyarakat adat sebagai hak bawaan. Keberadaan mereka terus-menerus dipertanyakan melalui administrasi formal. Masyarakat adat diberikan batasan eksistensi seperti keberadaan surat keputusan, yang justru nyatanya menempatkan masyarakat adat dalam posisi yang harus membuktikan diri kepada pemangku kebijakan. Pengakuan yang harusnya mendasar dan milik semua, berubah menjadi sesuatu yang sepenuhnya ditentukan oleh negara.

     Antonella menemukan bahwa dalam draf RUU Masyarakat Adat versi BKD, persoalan ini semakin terlihat. Pengakuan terhadap masyarakat adat memiliki kemungkinan untuk dievaluasi berulang kali dalam rentang waktu tertentu, misal 10-25 tahun. Hal ini memunculkan pertanyaan, mengapa harus ada evaluasi jika eksistensi mereka juga selalu dikebiri? 

     Kembali ditekankan juga, perspektif mengenai perempuan adat hampir tidak hadir. Menurut penelusurannya, kata “perempuan” dalam draf, hanya disebut tiga kali sepanjang dokumen. Kata “perempuan” yang hilang ini menandakan bahwa tidak adanya perhatian khusus bagi perempuan adat secara serius.

     Prof. Sulistyowati Irianto, Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Indonesia yang menjadi penanggap dalam diseminasi ini, menyebut situasi ini sebagai bentuk imperialisme negara terhadap hukum adat dan masyarakat adat. Ia menegaskan bahwa hukum adat tidak dapat direduksi menjadi teks semata. Hukum adat hidup melalui praktik sosial; melalui pelanggaran, penyelesaian, dan putusan yang dihasilkan oleh otoritas sosial. Di sanalah hukum benar-benar akan hadir sebagai “living law”. Namun dalam praktiknya, eksistensi masyarakat adat justru dibatasi oleh standar-standar formal seperti manuskrip kuno atau dokumen administratif. Batasan ini mengabaikan kenyataan bahwa hukum, sebagai bagian dari kebudayaan, akan terus bergerak, beradaptasi, dan berkembang.

     Dihadirkan juga Muhammad Nasir sebagai penanggap dari masyarakat adat Aceh yang mengingatkan bahwa hukum adat telah ada jauh sebelum hukum formal negara dibentuk. Pernyataan Pak Nasir mengungkap ironi mengenai hukum dan masyarakat adat yang telah hidup lebih dulu, malah harus mencari pengakuan dari sistem yang datang belakangan.

     ​Pengakuan seharusnya terasa memulihkan, mengakui, dan memeluk semua. Pengakuan harus utuh; dia tidak boleh bersyarat apalagi disekat. (Putri Nurfitriani)

Comments are closed.
    Jurnal Perempuan
    ​
    terindeks di:
    Picture

    Archives

    May 2026
    April 2026
    March 2026
    February 2026
    January 2026
    December 2025
    November 2025
    October 2025
    September 2025
    August 2025
    July 2025
    June 2025
    May 2025
    April 2025
    March 2025
    February 2025
    January 2025
    December 2024
    November 2024
    October 2024
    September 2024
    August 2024
    July 2024
    June 2024
    May 2024
    April 2024
    March 2024
    February 2024
    January 2024
    December 2023
    November 2023
    October 2023
    September 2023
    August 2023
    July 2023
    June 2023
    May 2023
    April 2023
    March 2023
    February 2023
    January 2023
    December 2022
    November 2022
    October 2022
    September 2022
    August 2022
    July 2022
    June 2022
    May 2022
    April 2022
    March 2022
    February 2022
    January 2022
    December 2021
    November 2021
    October 2021
    September 2021
    August 2021
    July 2021
    June 2021
    April 2021
    March 2021
    February 2021
    January 2021
    December 2020
    October 2020
    August 2020
    July 2020
    June 2020
    April 2020
    March 2020
    February 2020
    January 2020
    December 2019
    November 2019
    October 2019
    September 2019
    August 2019
    July 2019
    June 2019
    May 2019
    April 2019
    March 2019
    February 2019
    January 2019
    December 2018
    November 2018
    October 2018
    September 2018
    August 2018
    July 2018
    June 2018
    May 2018
    April 2018
    March 2018
    February 2018
    January 2018
    December 2017
    October 2017
    September 2017
    August 2017
    July 2017
    June 2017
    May 2017
    April 2017
    March 2017
    December 2016
    November 2016
    September 2016
    August 2016
    July 2016
    June 2016
    May 2016
    April 2016
    March 2016
    February 2016
    January 2016
    December 2015
    November 2015
    October 2015
    September 2015
    August 2015
    July 2015
    June 2015
    May 2015
    April 2015
    March 2015
    February 2015
    January 2015
    December 2014
    November 2014
    October 2014
    September 2014
    August 2014
    July 2014
    June 2014

    Categories

    All

    RSS Feed

Yayasan Jurnal Perempuan| Alamanda Tower, 25th Floor | Jl. T.B. Simatupang Kav. 23-24 Jakarta 12430 | Telp. +62 21 2965 7992 Fax. +62 21 2927 7888 | [email protected]
  • TENTANG KAMI
    • Profil
    • Kontak
    • Laporan Tahunan
    • Demo Suara Ibu Peduli
    • Rilis JP
  • Jurnal Perempuan
    • Indonesian Feminist Journal
    • Kirim Tulisan
  • YJP PRESS
    • Buku Seri YJP Press
  • KAFFE
    • Booklet KAFFE
  • Podcast JP
    • Radio JP
  • Sahabat JP
    • Daftar Nama SJP
    • International Friends of JP
    • Blog SJP
    • Gathering SJP
  • Wacana Feminis
    • Tokoh Feminis
    • Cerpen/Puisi Feminis
  • Warta Feminis
  • Warung JP
    • Daftar Toko Buku
  • Toeti Heraty Scholarship
    • Biodata Penerima Beasiswa 2022
    • Biodata Penerima Beasiswa 2023
    • Biodata Penerima Beasiswa 2024
    • Biodata Penerima Beasiswa 2025