Jurnal Perempuan
  • TENTANG KAMI
    • Profil
    • Kontak
    • Laporan Tahunan
    • Demo Suara Ibu Peduli
    • Rilis JP
  • Jurnal Perempuan
    • Indonesian Feminist Journal
    • Kirim Tulisan
  • YJP PRESS
    • Buku Seri YJP Press
  • KAFFE
    • Booklet KAFFE
  • Podcast JP
    • Radio JP
  • Sahabat JP
    • Daftar Nama SJP
    • International Friends of JP
    • Blog SJP
    • Gathering SJP
  • Wacana Feminis
    • Tokoh Feminis
    • Cerpen/Puisi Feminis
  • Warta Feminis
  • Warung JP
    • Daftar Toko Buku
  • Toeti Heraty Scholarship
    • Biodata Penerima Beasiswa 2022
    • Biodata Penerima Beasiswa 2023
    • Biodata Penerima Beasiswa 2024
    • Biodata Penerima Beasiswa 2025
Warta Feminis

Tahun Ketiga Toeti Heraty Scholarship: Mendukung Pembaruan Pendidikan yang Berkeadilan Gender

2/8/2024

 
PictureDok. Jurnal Perempuan
     Pada Rabu (31/7/2024) acara peluncuran dan diskusi publik Toeti Heraty Scholarship (THS) Angkatan Ketiga Tahun 2024 diselenggarakan secara daring melalui platform Zoom Meeting dan Live Streaming YouTube Video Jurnal Perempuan. Acara ini dihadiri oleh Ketua Yayasan Toeti Heraty Rooseeno yakni Migni M. Noerhadi, Direktur Eksekutif Yayasan Jurnal Perempaun yakni Abby Gina Boang Manalu, Dewan Pengawas Yayasan Jurnal Perempuan yakni Darwin C. Noerhadi, Tokoh Feminis Indonesia sekaligus Pendiri Yayasan Jurnal Perempuan yakni Gadis Arivia, dan dipandu oleh Koordinator Toeti Heraty Scholarship 2024 yakni Ayom Mratita Purbandani. Kegiatan ini juga dihadiri oleh berbagai tokoh pendidikan, aktivis perempuan, anggota dewan yayasan, akademisi, Sahabat Jurnal Perempuan, dan 10 penerima beasiswa THS 2024 yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia, program studi, dan latar belakang aktivisme.

     Acara ini bertujuan untuk menyoroti pentingnya dukungan terhadap pendidikan tinggi bagi perempuan dan minoritas gender, serta mempromosikan nilai-nilai feminisme dan aktivisme gender dalam konteks pendidikan. Peluncuran program beasiswa ini juga menandai langkah penting dalam mendorong keterlibatan perempuan di dunia pendidikan tinggi, yang sering kali masih menghadapi berbagai hambatan struktural dan kultural.

     Dalam sambutannya, Abby Gina menerangkan bahwa hadirnya THS 2024 dalam mendukung pendidikan formal utamanya pada pendidikan tinggi dapat menjadi salah satu cara untuk membebaskan perempuan dari penindasan struktural, memungkinkan mereka untuk menentukan nasib sendiri dengan lebih otonom, bisa lebih terlibat dalam dunia publik, dan mendorong kesetaraan gender di Indonesia.

     Abby Gina juga menambahkan bahwa hingga hari ini hambatan keterlibatan perempuan dalam pendidikan, khususnya pendidikan tinggi masih banyak kita rasakan, sehingga sangat relevan untuk kita bicarakan dan berinvestasi pada pendidikan tinggi perempuan. Meskipun sudah banyak upaya yang dilakukan dalam mendorong perempuan meraih pendidikan tinggi, masih ada tantangan bagi perempuan yang hidup di tengah masyarakat yang patriarki, masih banyak pandangan-pandangan misoginis bahwa perempuan memiliki kapasitas yang lebih rendah dari pada laki-laki dalam keterlibatan di dalam ilmu pengetahuan. Selain itu, ada juga peran atau kerja perawatan yang hanya dilekatkan kepada perempuan sehingga satu dan lain hal mempengaruhi bagaimana perempuan terlibat secara utuh di dunia pendidikan tinggi.
​

     Para penerima beasiswa juga diberikan kesempatan untuk berbagi pengalaman mereka. Mereka menceritakan perjalanan panjang yang mereka lalui untuk meraih beasiswa ini, termasuk tantangan dan hambatan yang dihadapi. Salah satu penerima, Try Suriani, mengungkapkan, “Dukungan yang kami terima melalui beasiswa ini sangat berarti. Ini bukan hanya soal bantuan finansial, tetapi juga pengakuan atas usaha dan ketekunan kami dalam memperjuangkan pendidikan tinggi dan kesetaraan gender.”
​
Picture
Dok. Jurnal Perempuan
     Pesan yang disampaikan oleh para penerima menegaskan bahwa beasiswa ini merupakan langkah cemerlang menuju perubahan yang lebih besar dalam kehidupan mereka dan masyarakat sekitar.

     Program beasiswa THS tidak hanya memberikan dukungan finansial, tetapi juga berfungsi sebagai pengakuan terhadap usaha dan perjuangan perempuan dalam mencapai pendidikan tinggi. Melalui beasiswa ini, para penerima diharapkan dapat menjadi agen perubahan yang memberdayakan perempuan lainnya untuk mengejar impian mereka. Dalam sesi diskusi publik, Gadis Arivia sebagai pemateri menegaskan, “Pendidikan adalah hak setiap individu, dan kita harus memastikan bahwa tidak ada satu pun yang terpinggirkan dalam proses ini,” ujarnya.

     Dalam diskusi tersebut, pentingnya inklusi gender dalam pendidikan juga menjadi topik yang krusial. Para panelis membahas bagaimana pendidikan harus bebas dari bias gender dan stereotip, serta pentingnya representasi perempuan dalam kurikulum. “Kita perlu menciptakan suasana belajar yang aman dan inklusif di dalam kelas, di mana setiap siswa merasa dihargai dan memiliki kesempatan yang sama untuk berkontribusi,” tambah Gadis Arivia. Hal ini sejalan dengan upaya untuk menghilangkan stereotip negatif yang sering kali melekat pada perempuan dalam konteks pendidikan.

     Gadis Arivia mengajak audiens bersama-sama menyoroti beragam masalah pendidikan tinggi di Indonesia, seperti kekerasan seksual, biaya pendidikan yang sangat mahal, hierarki dalam pendidikan, putus sekolah, ketimpangan kelas dalam dunia pendidikan, yang berpengaruh pada laporan menurunnya posisi Indonesia dalam sistem pendidikan yang dilakukan oleh Programme for International Student Assessment (PISA), kemudian laporan tentang skandal guru besar yang dibahas oleh media Tempo, adanya jurnal predator yang dilakukan oleh guru besar, sampai politisi yang diberikan predikat guru besar tanpa kontribusi pada ilmu pengetahuan.

     Gadis Arivia menerangkan terkait kontribusi perspektif feminis yang bisa menumbuhkan atau menguatkan dunia pendidikan. Perspektif feminis melihat 4 poin dalam analisa gender seperti, melihat pencapaian keberhasilan berdasarkan gender baik berdasarkan kuantitas maupun yang dilihat pengalaman berdasarkan gender, kemudian sosialisasi gender, serta pembentukkan identitas gender. Banyak perempuan yang berprestasi di sekolah tetapi di dunia kerja mereka adalah yang paling banyak tertinggal. Artinya pendidikan saja tidak cukup, berbeda dengan laki-laki. Hal tersebut menjadi penting untuk melihat pencapaian maupun keberhasilan.

     Pengalaman berdasarkan gender adalah penting, misalnya terkait pengontrolan perilaku dan tubuh perempuan, ekspektasi perempuan terkait moral, juga kekerasan dan pelecehan seksual. Sosialisasi gender melihat bahwa perempuan kurang memiliki kebebasan di sekolah, perempuan lebih dikontrol oleh orang tua dan guru, yang mengakibatkan adanya keterbatasan pilihan terhadap pemberdayaan perempuan. Terakhir, pembentukan identitas gender seperti sekolah yang mendukung identitas tradisional feminin, pemaksaan seragam sekolah berbasis agama tertentu, hingga mengawasi perilaku seksual siswi. Gadis Arivia juga menambahkan berdasarkan survei wawancara yang dilakukan Setara Institute (2023), terdapat indikasi peningkatan jumlah pelajar yang intoleransi yang mana berdampak pada pembentukan identitas gender.

     Gadis Arivia menyoroti terkait keterbelakangan sistem pengajaran, kurikulum, dan silabus di institusi pendidikan Indonesia. Kemudian memberikan rekomendasi situs terkait “Gender Justice in Teaching” untuk mengingat kelompok-kelompok yang teropresi. Lalu “Gender Bias Test” untuk melihat kecenderungan melihat bias-bias gender di dalam kelas sehingga murid merasa aman berada di kelas tersebut. Di dalam kurikulum dan silabus sekolah seharusnya juga mengikutsertakan pembelajaran terkait inklusivitas hingga stereotip gender, sehingga sebagai tenaga pendidik dan murid bisa kritis menyuarakan kebutuhan dan perspektifnya. Pendekatan transformatif dalam pendidikan ditekankan, di mana pendidikan tidak hanya dilihat sebagai transfer pengetahuan, tetapi juga sebagai proses yang memperhatikan kebutuhan individu dan menciptakan kesetaraan.

     Kepedulian pendidikan dalam hal ini pendidikan moral seharusnya dapat mengajarkan bagaimana kita dapat bersikap bebas untuk berekspresi dan menggunting keterkungkungan untuk bisa melihat persoalan secara jernih dan tepat. Kepedulian pendidikan menjadi penting untuk melihat persoalan gender, ras, kelas, seksualitas, kompleksitas relasi maskulinitas dan feminitas, toxic masculinity di perguruan tinggi, dan berbagai kondisi yang mengakibatkan banyaknya pelecehan seksual di sekolah. Pendidikan feminis menekankan selain memperhatikan empat poin penting tadi, tetapi juga harus memperhatikan bagaimana kita mengembalikan kepedulian di dalam pendidikan kita. Ketika kepedulian hadir dalam pendidikan, maka demokrasi yang sehat juga hadir di dalam negara.
​

     Pemaparan Gadis Arivia dalam diskusi publik memberikan wawasan mendalam tentang pentingnya pendidikan tinggi bagi perempuan sebagai bagian dari upaya memperjuangkan kesetaraan gender dan memberdayakan perempuan dalam berbagai aspek kehidupan. Pesan ini diharapkan dapat menginspirasi lebih banyak pihak untuk terlibat dalam upaya mewujudkan pendidikan yang inklusif dan berkeadilan gender. (Putu Gadis Arvia)
​

Comments are closed.
    Jurnal Perempuan
    ​
    terindeks di:
    Picture

    Archives

    December 2025
    November 2025
    October 2025
    September 2025
    August 2025
    July 2025
    June 2025
    May 2025
    April 2025
    March 2025
    February 2025
    January 2025
    December 2024
    November 2024
    October 2024
    September 2024
    August 2024
    July 2024
    June 2024
    May 2024
    April 2024
    March 2024
    February 2024
    January 2024
    December 2023
    November 2023
    October 2023
    September 2023
    August 2023
    July 2023
    June 2023
    May 2023
    April 2023
    March 2023
    February 2023
    January 2023
    December 2022
    November 2022
    October 2022
    September 2022
    August 2022
    July 2022
    June 2022
    May 2022
    April 2022
    March 2022
    February 2022
    January 2022
    December 2021
    November 2021
    October 2021
    September 2021
    August 2021
    July 2021
    June 2021
    April 2021
    March 2021
    February 2021
    January 2021
    December 2020
    October 2020
    August 2020
    July 2020
    June 2020
    April 2020
    March 2020
    February 2020
    January 2020
    December 2019
    November 2019
    October 2019
    September 2019
    August 2019
    July 2019
    June 2019
    May 2019
    April 2019
    March 2019
    February 2019
    January 2019
    December 2018
    November 2018
    October 2018
    September 2018
    August 2018
    July 2018
    June 2018
    May 2018
    April 2018
    March 2018
    February 2018
    January 2018
    December 2017
    October 2017
    September 2017
    August 2017
    July 2017
    June 2017
    May 2017
    April 2017
    March 2017
    December 2016
    November 2016
    September 2016
    August 2016
    July 2016
    June 2016
    May 2016
    April 2016
    March 2016
    February 2016
    January 2016
    December 2015
    November 2015
    October 2015
    September 2015
    August 2015
    July 2015
    June 2015
    May 2015
    April 2015
    March 2015
    February 2015
    January 2015
    December 2014
    November 2014
    October 2014
    September 2014
    August 2014
    July 2014
    June 2014

    Categories

    All

    RSS Feed

Yayasan Jurnal Perempuan| Alamanda Tower, 25th Floor | Jl. T.B. Simatupang Kav. 23-24 Jakarta 12430 | Telp. +62 21 2965 7992 Fax. +62 21 2927 7888 | [email protected]
  • TENTANG KAMI
    • Profil
    • Kontak
    • Laporan Tahunan
    • Demo Suara Ibu Peduli
    • Rilis JP
  • Jurnal Perempuan
    • Indonesian Feminist Journal
    • Kirim Tulisan
  • YJP PRESS
    • Buku Seri YJP Press
  • KAFFE
    • Booklet KAFFE
  • Podcast JP
    • Radio JP
  • Sahabat JP
    • Daftar Nama SJP
    • International Friends of JP
    • Blog SJP
    • Gathering SJP
  • Wacana Feminis
    • Tokoh Feminis
    • Cerpen/Puisi Feminis
  • Warta Feminis
  • Warung JP
    • Daftar Toko Buku
  • Toeti Heraty Scholarship
    • Biodata Penerima Beasiswa 2022
    • Biodata Penerima Beasiswa 2023
    • Biodata Penerima Beasiswa 2024
    • Biodata Penerima Beasiswa 2025