Jurnal Perempuan
  • TENTANG KAMI
    • Profil
    • Kontak
    • Laporan Tahunan
    • Demo Suara Ibu Peduli
    • Rilis JP
  • Jurnal Perempuan
    • Indonesian Feminist Journal
    • Kirim Tulisan
  • YJP PRESS
    • Buku Seri YJP Press
  • KAFFE
    • Booklet KAFFE
  • Podcast JP
    • Radio JP
  • Sahabat JP
    • Daftar Nama SJP
    • International Friends of JP
    • Blog SJP
    • Gathering SJP
  • Wacana Feminis
    • Tokoh Feminis
    • Cerpen/Puisi Feminis
  • Warta Feminis
  • Warung JP
    • Daftar Toko Buku
  • Toeti Heraty Scholarship
    • Biodata Penerima Beasiswa 2022
    • Biodata Penerima Beasiswa 2023
    • Biodata Penerima Beasiswa 2024
    • Biodata Penerima Beasiswa 2025
    • Biodata Penerima Beasiswa 2026
Warta Feminis

Persiapkan AFML 2026, OMS Rumuskan Agenda Pelindungan Pekerja Migran demi Mewujudkan Migrasi Aman

16/7/2026

 
PictureDok. Jurnal Perempuan
     ​Pelindungan terhadap pekerja migran di kawasan Asia Tenggara semakin sulit karena semakin banyaknya kemajuan teknologi digital dan munculnya cara baru yang merugikan pekerja migran. Persoalan tersebut menjadi pembahasan utama dalam CSO Regular Meeting bertajuk "Mempersiapkan Agenda Masyarakat Sipil dalam ASEAN Forum on Migrant Labour (AFML) 2026" yang diselenggarakan oleh Migrant CARE pada Jumat (3/7/2026) di Bangi Kopi, Jakarta. Pertemuan ini bertujuan mempersatukan organisasi masyarakat sipil Indonesia agar bisa mengenali isu-isu yang paling penting dan menyusun rekomendasi bersama yang akan dibawa ke dalam ASEAN Forum on Migrant Labour (AFML) 2026 di Filipina. Diskusi dipandu oleh Trisna Dwi Yuni Aresta dengan menghadirkan Dewi Amalia dari Asia Pacific Mission for Migrants, Gemilang dari Greenpeace Indonesia, Dios dari Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI), dan Ifa dari Human Rights Working Group (HRWG).

     Tema AFML tahun ini, "Protection of Migrant Workers from Irregular and Unsafe Migration Pathways", dinilai sesuai dengan perkembangan kasus perdagangan orang di kawasan Asia Tenggara. Praktik perekrutan pekerja migran kini semakin banyak memanfaatkan media sosial dan platform digital yang memberikan penawaran utama, yaitu pekerjaan bergaji tinggi. Namun, hal ini justru berujung pada penipuan di pusat-pusat penipuan daring (online scam compounds), kerja paksa, maupun tindak pidana perdagangan orang (TPPO).

     Dalam paparannya, Dewi Amalia menjelaskan bahwa perubahan cara eksploitasi tersebut membuat pelindungan terhadap pekerja migran tidak lagi cukup hanya fokus pada proses penempatan tenaga kerja. Menurutnya, pengalaman para pekerja migran di lapangan seharusnya menjadi dasar dalam membuat kebijakan daerah agar respons yang diberikan benar-benar mampu mengatasi masalah yang dihadapi para pekerja migran.

     “Sebutannya itu tukar kepala, begitu,” jelasnya.

     Selain soal perekrutan secara digital, pembicaraan juga membahas tingkat kesulitan dalam mengidentifikasi korban perdagangan orang. Salah satu hal yang sering terjadi sekarang adalah korban yang dipaksa mengajak orang lain untuk ikut agar bisa keluar dari tempat dimana mereka dieksploitasi. Kondisi tersebut membuat batas antara korban dan pelaku semakin tidak jelas, sehingga dibutuhkan pendekatan yang lebih mengutamakan kepentingan korban.

     Mengenai hal tersebut, Dios dari Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI) mengatakan bahwa identifikasi korban tidak dapat semata-mata menggunakan pendekatan hukum formal saja. Menurutnya, untuk menemukan akar dari masalah ini maka kita harus melihat kondisi yang menyebabkan seseorang terpaksa pindah hingga akhirnya terjebak dalam jaringan penindasan.

     "Kalau kita pakai kacamata yang lebih radikal, harusnya semua teman-teman kita yang ada di sana adalah korban," ujarnya.

     Pembahasan kemudian bergeser ke faktor-faktor yang mendorong masyarakat memilih jalur migrasi yang berisiko. Gemilang dari Greenpeace Indonesia menjelaskan bahwa migrasi yang tidak aman tidak bisa dipisahkan dari berbagai masalah struktural di tempat orang-orang itu tinggal. Kemiskinan, semakin sulitnya mendapatkan tanah, meningkatnya pengambilalihan ruang hidup, hingga terbatasnya pekerjaan yang layak, bisa membuat banyak orang tidak punya pilihan selain mencari kerja di luar negeri, meskipun mereka tahu ada risiko yang harus dihadapi.

     Pandangan itu semakin kuat karena beberapa pengalaman yang dibagikan oleh peserta dalam diskusi tersebut. Beberapa orang yang hadir menceritakan bahwa di beberapa wilayah, masyarakat sebenarnya sudah tahu bahaya jika bekerja di negara Kamboja atau Myanmar. Namun, tekanan ekonomi membuat mereka tetap pergi karena tidak ada pekerjaan lain yang bisa memenuhi kebutuhan hidup mereka.

     Persoalan lain yang menjadi perhatian ialah kurangnya penerapan komitmen-komitmen regional ASEAN mengenai pelindungan pekerja migran. Dios menjelaskan bahwa berbagai rekomendasi yang telah dihasilkan melalui ASEAN Forum on Migrant Labour selama bertahun-tahun belum sepenuhnya diterjemahkan menjadi kebijakan yang efektif di tingkat nasional maupun regional. Ia menyoroti belum adanya pedoman regional mengenai pelindungan pekerja migran yang direkrut melalui kanal digital, meskipun cara eksploitasi seperti ini terus berkembang di kawasan Asia Tenggara.

     Sementara itu, Ifa dari Human Rights Working Group (HRWG) menekankan pentingnya memperluas tanggung jawab dalam pencegahan perdagangan orang. Menurutnya, penanganan tidak cukup hanya fokus pada pelaku individu, tetapi juga harus mendorong perusahaan perekrutan serta platform digital yang menjadi media penyebaran informasi lowongan kerja palsu. Perkembangan algoritma media sosial dinilai ikut memperbesar paparan calon pekerja migran terhadap iklan-iklan perekrutan yang berpotensi menyesatkan sehingga negara perlu membangun regulasi yang lebih kuat terhadap platform digital.

     Diskusi juga menekankan pentingnya meningkatkan pelindungan di tingkat daerah. Penguatan pemerintah daerah, organisasi masyarakat sipil, komunitas keagamaan, hingga keluarga yang berpindah ke luar negeri dianggap sebagai langkah penting untuk mencegah masyarakat terlibat dalam praktik perekrutan yang berisiko. Berbagai pengalaman yang dilakukan menunjukkan bahwa masyarakat setempat biasanya adalah orang pertama yang mengetahui adanya perekrutan yang mencurigakan sebelum masalah itu berubah menjadi perdagangan orang.

     Selain itu, peserta menilai pelindungan pekerja migran tidak boleh berhenti ketika korban berhasil dipulangkan ke Indonesia. Korban juga membutuhkan pemulihan, peningkatan keterampilan, akses terhadap pekerjaan yang layak, serta dukungan ekonomi agar tidak kembali terjebak dalam siklus migrasi yang sama akibat tekanan ekonomi.

     Menutup diskusi, Dewi Amalia mengajak organisasi masyarakat sipil untuk mengangkat pengalaman nyata para pekerja migran ke berbagai forum penentu kebijakan daerah. 

     "Mari kita bawa apa yang terjadi di lapangan ini ke forum-forum seperti AFML, ke forum-forum yang membuat kebijakan dan mau mendengar apa yang kita sampaikan," ujarnya.

     Ia juga menekankan bahwa pelindungan para pekerja migran tidak bisa hanya bergantung pada kebijakan yang dibuat di tingkat nasional atau regional saja. "Yang paling harus kita lakukan adalah membangun kekuatan kita di akar rumput," tukasnya.

     Melalui CSO Regular Meeting ini, organisasi masyarakat sipil berharap rekomendasi yang akan dibawa ke ASEAN Forum on Migrant Labour 2026 mampu mendorong negara-negara ASEAN memperkuat pelindungan bagi pekerja migran, mulai dari aturan kelola perekrutan digital, penanganan korban perdagangan orang, hingga penguatan hak-hak pekerja migran sebagai bagian dari penghormatan terhadap hak asasi manusia. (Alena Vionira)

Comments are closed.
    Jurnal Perempuan
    ​
    terindeks di:
    Picture

    Archives

    August 2026
    July 2026
    June 2026
    May 2026
    April 2026
    March 2026
    February 2026
    January 2026
    December 2025
    November 2025
    October 2025
    September 2025
    August 2025
    July 2025
    June 2025
    May 2025
    April 2025
    March 2025
    February 2025
    January 2025
    December 2024
    November 2024
    October 2024
    September 2024
    August 2024
    July 2024
    June 2024
    May 2024
    April 2024
    March 2024
    February 2024
    January 2024
    December 2023
    November 2023
    October 2023
    September 2023
    August 2023
    July 2023
    June 2023
    May 2023
    April 2023
    March 2023
    February 2023
    January 2023
    December 2022
    November 2022
    October 2022
    September 2022
    August 2022
    July 2022
    June 2022
    May 2022
    April 2022
    March 2022
    February 2022
    January 2022
    December 2021
    November 2021
    October 2021
    September 2021
    August 2021
    July 2021
    June 2021
    April 2021
    March 2021
    February 2021
    January 2021
    December 2020
    October 2020
    August 2020
    July 2020
    June 2020
    April 2020
    March 2020
    February 2020
    January 2020
    December 2019
    November 2019
    October 2019
    September 2019
    August 2019
    July 2019
    June 2019
    May 2019
    April 2019
    March 2019
    February 2019
    January 2019
    December 2018
    November 2018
    October 2018
    September 2018
    August 2018
    July 2018
    June 2018
    May 2018
    April 2018
    March 2018
    February 2018
    January 2018
    December 2017
    October 2017
    September 2017
    August 2017
    July 2017
    June 2017
    May 2017
    April 2017
    March 2017
    December 2016
    November 2016
    September 2016
    August 2016
    July 2016
    June 2016
    May 2016
    April 2016
    March 2016
    February 2016
    January 2016
    December 2015
    November 2015
    October 2015
    September 2015
    August 2015
    July 2015
    June 2015
    May 2015
    April 2015
    March 2015
    February 2015
    January 2015
    December 2014
    November 2014
    October 2014
    September 2014
    August 2014
    July 2014
    June 2014

    Categories

    All

    RSS Feed

Yayasan Jurnal Perempuan| Alamanda Tower, 25th Floor | Jl. T.B. Simatupang Kav. 23-24 Jakarta 12430 | Telp. +62 21 2965 7992 Fax. +62 21 2927 7888 | [email protected]
  • TENTANG KAMI
    • Profil
    • Kontak
    • Laporan Tahunan
    • Demo Suara Ibu Peduli
    • Rilis JP
  • Jurnal Perempuan
    • Indonesian Feminist Journal
    • Kirim Tulisan
  • YJP PRESS
    • Buku Seri YJP Press
  • KAFFE
    • Booklet KAFFE
  • Podcast JP
    • Radio JP
  • Sahabat JP
    • Daftar Nama SJP
    • International Friends of JP
    • Blog SJP
    • Gathering SJP
  • Wacana Feminis
    • Tokoh Feminis
    • Cerpen/Puisi Feminis
  • Warta Feminis
  • Warung JP
    • Daftar Toko Buku
  • Toeti Heraty Scholarship
    • Biodata Penerima Beasiswa 2022
    • Biodata Penerima Beasiswa 2023
    • Biodata Penerima Beasiswa 2024
    • Biodata Penerima Beasiswa 2025
    • Biodata Penerima Beasiswa 2026