Dok. Jurnal Perempuan Peringatan Hari Perempuan Internasional yang diselenggarakan oleh Aliansi Perempuan Indonesia (API) bertempat di Taman Ismail Marzuki pada hari Minggu, (8/3/2026). Panggung Perempuan Bersatu menjadi ruang refleksi sekaligus aksi simbolik dari gerakan perempuan Indonesia. Melalui acara bertajuk “Perempuan Bersatu Melawan Penghancuran atas Tubuh”, API mendorong penggambaran realitas, perlawanan, dan harapan perempuan di tengah berbagai bentuk kekerasan dan eksploitasi yang masih berlangsung. Acara yang dihadiri beragam organisasi masyarakat sipil (OMS), komunitas seni, hingga aktivis perempuan ini dibuka dengan pertunjukan tari Rombel Sayur Lodeh dari Karang Taruna Tambora. Pertunjukan seni tersebut menjadi pembuka dari rangkaian panggung yang dirancang dalam tiga babak. Babak pertama menampilkan potret realitas kehidupan perempuan di ruang domestik, tempat kerja, ruang publik hingga dunia digital. Babak ini menegaskan bahwa berbagai persoalan yang dialami perempuan bukan sekadar pengalaman personal, melainkan persoalan sistemik yang berlapis. Babak kedua menegaskan perempuan sebagai subjek perubahan, perempuan tidak “jalan di tempat”, tetapi terus bergerak melalui advokasi, pendidikan, seni, gerakan komunitas, hingga perjuangan personal. Sementara babak ketiga menghadirkan harapan akan dunia yang lebih adil dan setara, sekaligus komitmen untuk menjaga api perjuangan bagi generasi berikutnya. Rangkaian panggung seni turut mengiringi setiap babak. Sebelum narasi di babak pertama menggema, komika Sakdiyah Ma’ruf tampil melalui stand-up comedy yang mengangkat tema kebahagiaan rakyat dan realitas sosial yang sering kali terasa “lucu”, tetapi bukan “lucu” yang menggembirakan, melainkan kelucuan tersebut berakar pada trauma kolektif. Ia menyinggung berbagai persoalan keseharian, mulai dari tekanan ekonomi hingga pengalaman perempuan yang hidup dalam dunia yang tidak aman.
Dalam materinya, Sakdiyah menyoroti bagaimana perempuan kerap harus menyesuaikan diri demi keamanan sederhana, misalnya mengenakan pakaian berlapis agar tidak menjadi sasaran pelecehan—yang sebetulnya tidak menjamin keamanan perempuan. Ia juga menyinggung stigma terhadap menstruasi, keterbatasan akses kesehatan reproduksi, hingga pengalaman kekerasan verbal maupun fisik yang banyak dialami perempuan. “Segala upaya untuk meminggirkan perempuan terjadi karena mereka takut pada kita,” ujarnya di hadapan audiens. Dalam tiga babak yang tergaung, pengalaman perempuan dikupas secara interseksional. Mulai dari hak atas tubuh perempuan sering dibungkam dan dikriminalisasi, terutama terkait akses aborsi. Tidak luput juga kondisi perempuan dengan disabilitas psikososial yang masih ada puluhan ribu perempuan disabilitas psikososial yang dikurung atau dirantai di tempat yang disebut sebagai ruang “penyembuhan”. Kekerasan terhadap individu dengan ragam gender juga dikupas pada panggung ini. Ada ratusan kasus kekerasan berbasis identitas gender dan seksualitas yang dialami komunitas terjadi tanpa perlindungan hukum yang memadai. Belum lagi, sejumlah kebijakan daerah dinilai justru memperkuat diskriminasi. Kasus kekerasan berbasis gender yang juga disoroti dalam kesempatan kali ini adalah femisida. Belakangan ini, berita soal femisida masih banyak ditemukan. Selain itu, korban femisida kerap kali disalahkan oleh publik, padahal tragedi tersebut merupakan persoalan struktural yang melibatkan ruang personal, publik, hingga kebijakan negara. Penghancuran tubuh perempuan akibat eksploitasi ekonomi juga cukup disoroti dalam kegiatan ini. Perempuan pekerja kerap menghadapi jam kerja panjang yang dianggap normal, sementara mereka tetap memikul tanggung jawab kerja domestik sehingga mereka memikul beban kerja ganda. itambah lagi, pada sektor kerja perawatan berbayar, kondisi pekerja rumah tangga masih sangat rentan terhadap kekerasan dan eksploitasi. Jumisih dari JALA PRT mendorong pengesahan Rancangan Undang-Undang Perlindungan Pekerja Rumah Tangga (RUU PPRT) yang telah diperjuangkan selama 22 tahun. Akibat tidak kunjung disahkan, banyak pekerja rumah tangga bekerja tanpa kepastian jam kerja, upah layak, maupun perlindungan hukum yang jelas. Sistem ekonomi yang fleksibel tanpa jaminan kerja semakin memperparah kerentanan perempuan pekerja. Banyak perempuan bekerja dalam kontrak pendek atau sektor informal tanpa kepastian penghasilan dan perlindungan hukum. Kondisi ini secara khusus juga berdampak pada perempuan queer yang kerap mengalami kekerasan berlapis sejak dari rumah, sekolah, hingga dunia kerja. Diskriminasi tersebut memberikan hambatan dalam mengakses pendidikan maupun pekerjaan. Peringatan Hari Perempuan Internasional tahun ini juga menggarisbawahi masalah yang dihadapi oleh perempuan adat. Mereka terus-menerus menghadapi ancaman perampasan tanah adat oleh proyek pembangunan dan konsesi industri. Padahal, tanah adat, hutan, laut, dan wilayah adat adalah sumber kehidupan masyarakat adat. Tanah bagi masyarakat adat adalah ibu yang harus dijaga. Menghadapi ancaman tersebut, RUU Masyarakat Adat yang seharusnya melindungi mereka malah mandek selama 16 tahun. Sebagai penutup, API menyatakan bahwa tema “Perempuan Bersatu Melawan Penghancuran atas Tubuh” dipilih sebagai respons terhadap berbagai kebijakan negara yang dinilai masih melanggengkan kekerasan terhadap tubuh perempuan. Dalam pernyataannya, API menyoroti tiga persoalan utama. Pertama, kontrol terhadap tubuh, reproduksi, dan seksualitas perempuan yang berkontribusi pada meningkatnya kasus femisida serta minimnya mekanisme negara untuk mencegah dan menangani kasus tersebut. Kedua, arah kebijakan ekonomi yang mendorong sistem kerja fleksibel tanpa kepastian kerja dan upah layak, yang menempatkan perempuan pekerja dalam kondisi rentan terhadap eksploitasi. Ketiga, proyek-proyek ekstraktif yang merampas tanah, air, dan hutan yang merupakan ruang hidup yang selama ini dikelola perempuan untuk menopang kehidupan keluarga dan komunitas. Melalui peringatan Hari Perempuan Internasional ini, API menegaskan bahwa perjuangan perempuan tidak hanya berbicara tentang kesetaraan, tetapi juga tentang mempertahankan tubuh, ruang hidup, dan martabat dari berbagai bentuk kekerasan struktural. (Putri Nurfitriani) Comments are closed.
|
Jurnal Perempuan
terindeks di: Archives
March 2026
Categories |

RSS Feed