Jurnal Perempuan
  • TENTANG KAMI
    • Profil
    • Kontak
    • Laporan Tahunan
    • Demo Suara Ibu Peduli
    • Rilis JP
  • Jurnal Perempuan
    • Indonesian Feminist Journal
    • Kirim Tulisan
  • YJP PRESS
    • Buku Seri YJP Press
  • KAFFE
    • Booklet KAFFE
  • Podcast JP
    • Radio JP
  • Sahabat JP
    • Daftar Nama SJP
    • International Friends of JP
    • Blog SJP
    • Gathering SJP
  • Wacana Feminis
    • Tokoh Feminis
    • Cerpen/Puisi Feminis
  • Warta Feminis
  • Warung JP
    • Daftar Toko Buku
  • Toeti Heraty Scholarship
    • Biodata Penerima Beasiswa 2022
    • Biodata Penerima Beasiswa 2023
    • Biodata Penerima Beasiswa 2024
    • Biodata Penerima Beasiswa 2025
Warta Feminis

Perlawanan Gerakan Perempuan terhadap Kekerasan Struktural dan Simbolik: Panggung Perempuan Bersatu dalam Hari Perempuan Internasional

13/3/2026

 
PictureDok. Jurnal Perempuan
     Peringatan Hari Perempuan Internasional yang diselenggarakan oleh Aliansi Perempuan Indonesia (API) bertempat di Taman Ismail Marzuki pada hari Minggu, (8/3/2026). Panggung Perempuan Bersatu menjadi ruang refleksi sekaligus aksi simbolik dari gerakan perempuan Indonesia. Melalui acara bertajuk “Perempuan Bersatu Melawan Penghancuran atas Tubuh”, API mendorong penggambaran realitas, perlawanan, dan harapan perempuan di tengah berbagai bentuk kekerasan dan eksploitasi yang masih berlangsung.

     Acara yang dihadiri beragam organisasi masyarakat sipil (OMS), komunitas seni, hingga aktivis perempuan ini dibuka dengan pertunjukan tari Rombel Sayur Lodeh dari Karang Taruna Tambora. Pertunjukan seni tersebut menjadi pembuka dari rangkaian panggung yang dirancang dalam tiga babak.
​

     Babak pertama menampilkan potret realitas kehidupan perempuan di ruang domestik, tempat kerja, ruang publik hingga dunia digital. Babak ini menegaskan bahwa berbagai persoalan yang dialami perempuan bukan sekadar pengalaman personal, melainkan persoalan sistemik yang berlapis. Babak kedua menegaskan perempuan sebagai subjek perubahan, perempuan tidak “jalan di tempat”, tetapi terus bergerak melalui advokasi, pendidikan, seni, gerakan komunitas, hingga perjuangan personal. Sementara babak ketiga menghadirkan harapan akan dunia yang lebih adil dan setara, sekaligus komitmen untuk menjaga api perjuangan bagi generasi berikutnya.
Picture
Dok. Jurnal Perempuan
     Rangkaian panggung seni turut mengiringi setiap babak. Sebelum narasi di babak pertama menggema, komika Sakdiyah Ma’ruf tampil melalui stand-up comedy yang mengangkat tema kebahagiaan rakyat dan realitas sosial yang sering kali terasa “lucu”, tetapi bukan “lucu” yang menggembirakan, melainkan kelucuan tersebut berakar pada trauma kolektif. Ia menyinggung berbagai persoalan keseharian, mulai dari tekanan ekonomi hingga pengalaman perempuan yang hidup dalam dunia yang tidak aman.

     Dalam materinya, Sakdiyah menyoroti bagaimana perempuan kerap harus menyesuaikan diri demi keamanan sederhana, misalnya mengenakan pakaian berlapis agar tidak menjadi sasaran pelecehan—yang sebetulnya tidak menjamin keamanan perempuan. Ia juga menyinggung stigma terhadap menstruasi, keterbatasan akses kesehatan reproduksi, hingga pengalaman kekerasan verbal maupun fisik yang banyak dialami perempuan.

     “Segala upaya untuk meminggirkan perempuan terjadi karena mereka takut pada kita,” ujarnya di hadapan audiens.

     Dalam tiga babak yang tergaung, pengalaman perempuan dikupas secara interseksional. Mulai dari hak atas tubuh perempuan sering dibungkam dan dikriminalisasi, terutama terkait akses aborsi. Tidak luput juga kondisi perempuan dengan disabilitas psikososial yang masih ada puluhan ribu perempuan disabilitas psikososial yang dikurung atau dirantai di tempat yang disebut sebagai ruang “penyembuhan”. Kekerasan terhadap individu dengan ragam gender juga dikupas pada panggung ini. Ada ratusan kasus kekerasan berbasis identitas gender dan seksualitas yang dialami komunitas terjadi tanpa perlindungan hukum yang memadai. Belum lagi, sejumlah kebijakan daerah dinilai justru memperkuat diskriminasi.

     Kasus kekerasan berbasis gender yang juga disoroti dalam kesempatan kali ini adalah femisida. Belakangan ini, berita soal femisida masih banyak ditemukan. Selain itu, korban femisida kerap kali disalahkan oleh publik, padahal tragedi tersebut merupakan persoalan struktural yang melibatkan ruang personal, publik, hingga kebijakan negara.

     Penghancuran tubuh perempuan akibat eksploitasi ekonomi juga cukup disoroti dalam kegiatan ini. Perempuan pekerja kerap menghadapi jam kerja panjang yang dianggap normal, sementara mereka tetap memikul tanggung jawab kerja domestik sehingga mereka memikul beban kerja ganda. itambah lagi, pada sektor kerja perawatan berbayar, kondisi pekerja rumah tangga masih sangat rentan terhadap kekerasan dan eksploitasi.

     Jumisih dari JALA PRT mendorong pengesahan Rancangan Undang-Undang Perlindungan Pekerja Rumah Tangga (RUU PPRT) yang telah diperjuangkan selama 22 tahun. Akibat tidak kunjung disahkan, banyak pekerja rumah tangga bekerja tanpa kepastian jam kerja, upah layak, maupun perlindungan hukum yang jelas. Sistem ekonomi yang fleksibel tanpa jaminan kerja semakin memperparah kerentanan perempuan pekerja. Banyak perempuan bekerja dalam kontrak pendek atau sektor informal tanpa kepastian penghasilan dan perlindungan hukum. Kondisi ini secara khusus juga berdampak pada perempuan queer yang kerap mengalami kekerasan berlapis sejak dari rumah, sekolah, hingga dunia kerja. Diskriminasi tersebut memberikan hambatan dalam mengakses pendidikan maupun pekerjaan.

     Peringatan Hari Perempuan Internasional tahun ini juga menggarisbawahi masalah yang dihadapi oleh perempuan adat. Mereka terus-menerus menghadapi ancaman perampasan tanah adat oleh proyek pembangunan dan konsesi industri. Padahal, tanah adat, hutan, laut, dan wilayah adat adalah sumber kehidupan masyarakat adat. Tanah bagi masyarakat adat adalah ibu yang harus dijaga. Menghadapi ancaman tersebut, RUU Masyarakat Adat yang seharusnya melindungi mereka malah mandek selama 16 tahun.

     Sebagai penutup, API menyatakan bahwa tema “Perempuan Bersatu Melawan Penghancuran atas Tubuh” dipilih sebagai respons terhadap berbagai kebijakan negara yang dinilai masih melanggengkan kekerasan terhadap tubuh perempuan.

     Dalam pernyataannya, API menyoroti tiga persoalan utama. Pertama, kontrol terhadap tubuh, reproduksi, dan seksualitas perempuan yang berkontribusi pada meningkatnya kasus femisida serta minimnya mekanisme negara untuk mencegah dan menangani kasus tersebut. Kedua, arah kebijakan ekonomi yang mendorong sistem kerja fleksibel tanpa kepastian kerja dan upah layak, yang menempatkan perempuan pekerja dalam kondisi rentan terhadap eksploitasi. Ketiga, proyek-proyek ekstraktif yang merampas tanah, air, dan hutan yang merupakan ruang hidup yang selama ini dikelola perempuan untuk menopang kehidupan keluarga dan komunitas.

     Melalui peringatan Hari Perempuan Internasional ini, API menegaskan bahwa perjuangan perempuan tidak hanya berbicara tentang kesetaraan, tetapi juga tentang mempertahankan tubuh, ruang hidup, dan martabat dari berbagai bentuk kekerasan struktural. (Putri Nurfitriani)

Comments are closed.
    Jurnal Perempuan
    ​
    terindeks di:
    Picture

    Archives

    March 2026
    February 2026
    January 2026
    December 2025
    November 2025
    October 2025
    September 2025
    August 2025
    July 2025
    June 2025
    May 2025
    April 2025
    March 2025
    February 2025
    January 2025
    December 2024
    November 2024
    October 2024
    September 2024
    August 2024
    July 2024
    June 2024
    May 2024
    April 2024
    March 2024
    February 2024
    January 2024
    December 2023
    November 2023
    October 2023
    September 2023
    August 2023
    July 2023
    June 2023
    May 2023
    April 2023
    March 2023
    February 2023
    January 2023
    December 2022
    November 2022
    October 2022
    September 2022
    August 2022
    July 2022
    June 2022
    May 2022
    April 2022
    March 2022
    February 2022
    January 2022
    December 2021
    November 2021
    October 2021
    September 2021
    August 2021
    July 2021
    June 2021
    April 2021
    March 2021
    February 2021
    January 2021
    December 2020
    October 2020
    August 2020
    July 2020
    June 2020
    April 2020
    March 2020
    February 2020
    January 2020
    December 2019
    November 2019
    October 2019
    September 2019
    August 2019
    July 2019
    June 2019
    May 2019
    April 2019
    March 2019
    February 2019
    January 2019
    December 2018
    November 2018
    October 2018
    September 2018
    August 2018
    July 2018
    June 2018
    May 2018
    April 2018
    March 2018
    February 2018
    January 2018
    December 2017
    October 2017
    September 2017
    August 2017
    July 2017
    June 2017
    May 2017
    April 2017
    March 2017
    December 2016
    November 2016
    September 2016
    August 2016
    July 2016
    June 2016
    May 2016
    April 2016
    March 2016
    February 2016
    January 2016
    December 2015
    November 2015
    October 2015
    September 2015
    August 2015
    July 2015
    June 2015
    May 2015
    April 2015
    March 2015
    February 2015
    January 2015
    December 2014
    November 2014
    October 2014
    September 2014
    August 2014
    July 2014
    June 2014

    Categories

    All

    RSS Feed

Yayasan Jurnal Perempuan| Alamanda Tower, 25th Floor | Jl. T.B. Simatupang Kav. 23-24 Jakarta 12430 | Telp. +62 21 2965 7992 Fax. +62 21 2927 7888 | [email protected]
  • TENTANG KAMI
    • Profil
    • Kontak
    • Laporan Tahunan
    • Demo Suara Ibu Peduli
    • Rilis JP
  • Jurnal Perempuan
    • Indonesian Feminist Journal
    • Kirim Tulisan
  • YJP PRESS
    • Buku Seri YJP Press
  • KAFFE
    • Booklet KAFFE
  • Podcast JP
    • Radio JP
  • Sahabat JP
    • Daftar Nama SJP
    • International Friends of JP
    • Blog SJP
    • Gathering SJP
  • Wacana Feminis
    • Tokoh Feminis
    • Cerpen/Puisi Feminis
  • Warta Feminis
  • Warung JP
    • Daftar Toko Buku
  • Toeti Heraty Scholarship
    • Biodata Penerima Beasiswa 2022
    • Biodata Penerima Beasiswa 2023
    • Biodata Penerima Beasiswa 2024
    • Biodata Penerima Beasiswa 2025