Dok. Jurnal Perempuan Dalam rangka merayakan Hari Perawatan dan Dukungan Internasional, kegiatan publik berjudul “Mengakui dan Meredistribusi: Feminisme, Kerja Perawatan, dan Keadilan Gender” yang merupakan program Yayasan Penabulu melalui proyek Care Connect dengan Yayasan Jurnal Perempuan sebagai penyelenggara telah dilaksanakan pada Senin (17/11/2025) lalu. Kegiatan dilaksanakan di Gedung IASTH, Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan (SPPB), Kampus Universitas Indonesia (UI) Salemba. Terdapat 2 sesi talkshow; pameran dari Yayasan Penabulu, Jurnal Perempuan, HWDI, Lovecare, Lemicare, Yayasan Pustaka Obor Indonesia, dan Yayasan Pulih; stand-up comedy oleh Sakdiyah Ma’ruf; dan pembacaan puisi oleh Dewi Nova Wahyuni. Kegiatan ini dipandu oleh Debra Yatim. Sambutan dari berbagai pihak turut membuka acara ini. Patricia Beata Kurnia mewakili Abby Gina Boang Manalu selaku Direktur Eksekutif Yayasan Jurnal Perempuan dan Dewi Komala Sari selaku Project Manager Penabulu Foundation menyatakan, kegiatan ini bertujuan untuk mengangkat suara pekerja perawatan yang tidak terdengar tetapi menopang kehidupan kita sehari-hari, serta meningkatkan kesadaran publik terkait kerja perawatan yang selama ini dipandang sebagai suatu kodrat dan bentuk bakti, bukan suatu bentuk kerja yang harus diapresiasi. Sue Wiebe yang merupakan First Secretary (Development) Kedutaan Besar Kanada di Indonesia turut menyampaikan bahwa kerja perawatan dapat mendukung kelangsungan hidup keluarga, memperkuat partisipasi ekonomi, bahkan merawat generasi penerus. Sebagai Direktur SPPB UI, Prof. Dr. Drs. Supriatna, M.T. menegaskan kolaborasi ini bukan hanya wujud komitmen bersama dalam mendukung kesetaraan gender, tetapi juga mencerminkan keberdayaan politik untuk memperkuat kajian akademik dan advokasi untuk memperkuat isu-isu kerja perawatan di Indonesia. Talkshow sesi pertama dengan tajuk “Kisah Caregiver” dipandu oleh Luviana yang merupakan Pimpinan Redaksi Konde.co. Narasumber pada talkshow sesi pertama ialah Evie Permata Sari (Lembaga Partisipasi Perempuan sekaligus perawat orang tua lansia), Felicia Soemarjono (@blajarblajar), Suratna (Direktur Rehabilitasi Sosial Lanjut Usia Kementerian Sosial), Adhi Santika (Persatuan Wredatama Republik Indonesia), dan Nurul Eka Hidayati (Konsorsium Pekerjaan Sosial Indonesia), dan Bonnie Medana Pahlavie (Kepala Seksi Kesehatan Usia Produktif dan Lanjut Usia, Kesehatan Jiwa, Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta). Evie menceritakan pengalamannya merawat ibunya yang berusia 85 tahun dan budenya yang berusia 102 tahun. Mereka berdua sama-sama berupaya menjadi sehat dengan berbagai rutinitas nyaman yang disukai, seperti berkebun. Sebagai pekerja NGO dan pekerja lepas, Evie memiliki waktu yang sangat fleksibel untuk melakukan kerja-kerja perawatan. Tantangan yang ia hadapi adalah perasaan khawatir jika hidup mereka yang dirawat sudah tidak lama lagi dan cara membagi waktu untuk bisa benar-benar hadir bagi keduanya. Isu emosional yang sering ditemui pada pekerja perawatan ialah stres berlebih dan kurangnya dukungan sosial, buka Felicia. Pengelolaan waktu, uang, tenaga, dan emosi untuk merawat anggota keluarga yang sakit harus benar-benar dibicarakan secara terbuka di hadapan keluarga agar semuanya tidak merasa terbebani. Sebagai seorang edukator, ia memilih Instagram sebagai media edukasi perawatan lansia, karena menurutnya orang Indonesia tidak suka membaca sehingga intervensi sebaiknya dilakukan dengan video konten edukasi yang berdurasi satu menit. Akan tetapi, pengikut di Instagram @blajarblajar masih sangat didominasi oleh perempuan. Dapat dikatakan laki-laki belum merasa perlu untuk bertanggung jawab pada kerja-kerja perawatan, tuturnya. Suratna menyambungkan talkshow pada isu lansia. Berdasarkan data, jumlah lansia akan selalu bertambah sehingga orang-orang dengan usia produktif harus siap untuk merawat lansia. Namun, banyak lansia tidak memiliki cukup uang untuk membayar perawat. Karena itu, jika dirasa sudah sangat membutuhkan perawat, biaya ini biasanya akan ditanggung oleh anak-anak dari lansia itu sendiri. Sampai saat ini, belum ada kurikulum dan sertifikasi pekerja perawatan bagi anggota keluarga yang nantinya akan merawat lansia dan disabilitas dan baru bisa diakses tahun depan di politeknik kesehatan (Poltekkes). Pengertian pekerja perawatan bagi masyarakat cenderung sebatas perawat dalam dimensi medis, padahal caregiver itu “Nurse ++”, tambah Adhi. Pekerja perawatan tetap dibutuhkan mulai dari orang yang kaya dan sehat sampai dengan miskin dan tidak sehat, tetapi dengan spesifikasi yang berbeda. Peran dalam sistem perawatan dapat dimulai dari tingkat diri sendiri, keluarga, kelompok masyarakat atau komunitas, dan institusi. Kita tidak boleh menyamaratakan pengaturan dalam sistem tersebut karena kondisi orang yang membutuhkan perawatan juga berbeda. “Pelatihan pada pekerja perawatan itu seharusnya multisektoral dan multidisiplin, serta sangat memerlukan literasi isu tentang kerentanan yang masuk ke dalam semua lini,” tuturnya. Sebagai seorang pekerja di Dinas Kesehatan, Bonnie menjamin upaya pemerintah DKI Jakarta dalam menyediakan perawatan untuk lansia yang berkelanjutan, yaitu dengan dibentuknya Pasukan Putih yang tersebar di seluruh wilayah Jakarta. Program ini baru berjalan di tahun 2025. Tujuan dari program ini memberikan perawatan kesehatan kepada semua warga Jakarta yang berusia lebih dari 18 tahun dan memiliki tingkat ketergantungan berat dan total. Pasukan Putih dilatih di Pusat Pelatihan Kesehatan Daerah agar dapat melakukan perawatan di wilayah masing-masing. Saat ini telah terdapat 44 puskesmas di tingkat kecamatan yang sudah ramah lansia. Bagi lansia yang benar-benar tidak bisa mobilisasi, Pasukan Putih yang akan mendatangi dan melayani mereka. Menutup sesi, Nurul menyampaikan bahwa menjadi caregiver adalah merawat harapan. Dalam hal ini, harapan bukan sekadar optimisme tapi juga ketahanan. Merawat anak berkebutuhan khusus adalah suatu kerja perawatan seumur hidup. Mereka sampai dewasa akan tetap memiliki kebutuhan khusus yang kita tidak bisa hentikan. Tantangan lainnya adalah kekhawatiran apa yang akan terjadi pada mereka, jika orang tua sudah tiada. Negara juga memiliki tanggung jawab pada para caregiver di mana negara seharusnya punya kebijakan yang jelas tentang caregiver. Talkshow sesi kedua dengan tajuk “Isu Perawatan bagi Disabilitas, Penyakit Berat, dan Kesehatan Mental” yang dipandu oleh Sonya Hellen Sinombor (wartawan Harian Kompas). Narasumber pada talkshow sesi kedua ialah Sylvia Adriana (Yayasan Pendidikan Kesehatan Mental), Dian Kartika Sari (Vanita Naraya dan Koalisi Perempuan Indonesia sekaligus penyintas kanker), Walin Hartati (Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia), Livia Iskandar (Yayasan Pulih), Riesta Aldilah (Indonesia Business Coalition for Women Empowerment), dan Hariati Sinaga (Dosen Prodi Kajian Gender, SPPB UI).
Membuka sesi, Sylvia menjelaskan tentang organisasinya. YPKM adalah organisasi yang berbasis “dari perawat untuk perawat” yang fokus pada edukasi, komunitas, dan pendampingan. Sayangnya, sampai saat ini, masyarakat cenderung lebih fokus pada orang yang sedang dirawat. Padahal pekerja perawatan juga mendapat tekanan seperti fisik, emosi, dan finansial, bahkan rasa bersalah ketika sedang mementingkan diri sendiri. Pekerja perawatan juga harus memahami bahwa mereka juga tetaplah manusia yang sedang berusaha semaksimal mungkin untuk merawat orang yang mereka sayangi sehingga masih punya keterbatasan dan bukanlah juru selamat, tuturnya. Menurutnya, empati yang perlu ditunjukkan kepada para pekerja perawatan adalah dengan menjadi pendengar yang baik dan menahan diri untuk tidak sembarang berkomentar, tidak perlu memberi masukan ketika tidak ditanya, dan memperhatikan bahasa agar tidak menggurui dan menyakiti. Pembicara selanjutnya, Dian Kartika Sari, adalah seorang penyintas kanker. Sebelumnya, ia merupakan perawat ibunya yang juga penyintas kanker. Melalui pengalaman tersebut, ia menyadari bahwa yang sebenarnya dibutuhkan perawat adalah seseorang yang dapat mendengarkannya dan teman untuk tertawa. Perlu adanya pendelegasian kerja perawatan pada keluarga dengan orang yang membutuhkan perawatan, misalnya siapa yang menjaga di rumah, mengantar berobat, dan sebagainya. Pasien kanker tidak boleh dibiarkan untuk sendiri. Pengambilan keputusan mereka juga tidak sebaiknya diintervensi, terlebih jika sebelumnya mereka telah memutuskan perawatan dan pengobatan apa yang mereka tempuh. Dian berpesan untuk para caregiver, “Secinta-cintanya sama yang dirawat, kita juga harus cinta sama diri sendiri.” Walin yang merupakan aktivis disabilitas menyatakan bahwa, saking banyaknya orang yang harus diurus, ia menjadi tidak adil bagi dirinya sendiri. Bagi penyandang disabilitas yang masih bisa mandiri, mereka harus didukung untuk berani mengambil keputusan. Misalnya, orang dengan disabilitas mental yang dapat memutuskan sendiri untuk menikah, penggunaan kontrasepsi, dan sebagainya. Mereka memang perlu didampingi, bukan diintervensi. Kehadiran mereka juga harus semakin bermakna, yakni jangan hanya sekadar datang tanpa benar-benar didengar pendapatnya. Pembicara selanjutnya, Livia Iskandar, menjabarkan tanda-tanda kelelahan pada perawat, yaitu perasaan seperti “bukan dirinya lagi”. Artinya, seorang caregiver telah kehilangan semangat dan tidak lagi berminat pada hal-hal yang sebelumnya ia sukai. Perawat sangat membutuhkan komunitas untuk saling memberikan dukungan, dan waktu untuk diri sendiri. Menurut Livia, yang dapat dilakukan pemerintah agar pelayanan kesehatan mental menjadi semakin mudah untuk diakses, salah satunya dengan mengalihfungsikan bangunan-bangunan milik pemerintah provinsi menjadi tempat pelayanan kesehatan mental. Dari sudut pandang bisnis, Riesta Aldilah yang akrab disapa Lala menerangkan upaya kerja sama IBCWE dengan banyak pihak dalam riset mengenai tuntutan dan urgensi kerja perawatan di masa depan. Hasilnya, 25 tahun ke depan, akan ada peningkatan drastis dalam hal perawatan anak, lansia, disabilitas, dan keluarga dengan sakit berat. Ditemukan juga bahwa sektor ekonomi perawatan akan meningkatkan ekonomi secara menyeluruh. Sayangnya, saat ini banyak perusahaan yang belum menyadari fakta bahwa karyawan yang sering dipandang tidak produktif karena melakukan kerja perawatan bisa jadi merupakan individu yang juga menghasilkan keuntungan besar bagi perusahaan. “Kebijakan yang bisa diambil oleh perusahaan yaitu dengan pengaturan kerja yang fleksibel,” tuturnya. Hariati turut membagikan perspektifnya sebagai orang yang pernah menjadi perawat bagi kedua orang tuanya. Menurutnya, pengalaman seseorang dalam melakukan kerja perawatan masih jarang untuk dibicarakan. Hal ini menandakan adanya batasan di mana tidak semua ruang mengizinkan orang untuk membicarakan pengalaman tersebut. Kerja perawatan masih dianggap berada dalam ranah privat sehingga selalu disebut sebagai urusan pribadi atau bahkan sekadar cerminan kasih sayang kepada orang tua yang sedang dirawat. Padahal, para pekerja perawatan ini sangat mungkin untuk kehabisan waktu dan tenaga untuk melakukan hal selain merawat. Kerja perawatan adalah fondasi keberlangsungan hidup yang selama ini luput dari perhatian negara maupun masyarakat. Para pekerja perawatan menghadapi beban fisik, emosional, dan finansial yang besar, tanpa dukungan struktural yang memadai. Cerita soal pengalaman mereka dalam kegiatan ini kembali menegaskan bahwa perawatan bukan sekadar urusan domestik, tetapi isu publik yang menuntut kebijakan jelas, sistem pendukung yang kuat, serta budaya sosial yang lebih empatik. (Dira Chaerani) Comments are closed.
|
Jurnal Perempuan
terindeks di: Archives
December 2025
Categories |

RSS Feed