Jurnal Perempuan
  • TENTANG KAMI
    • Profil
    • Kontak
    • Laporan Tahunan
    • Demo Suara Ibu Peduli
    • Rilis JP
  • Jurnal Perempuan
    • Indonesian Feminist Journal
    • Kirim Tulisan
  • YJP PRESS
    • Buku Seri YJP Press
  • KAFFE
    • Booklet KAFFE
  • Podcast JP
    • Radio JP
  • Sahabat JP
    • Daftar Nama SJP
    • International Friends of JP
    • Blog SJP
    • Gathering SJP
  • Wacana Feminis
    • Tokoh Feminis
    • Cerpen/Puisi Feminis
  • Warta Feminis
  • Warung JP
    • Daftar Toko Buku
  • Toeti Heraty Scholarship
    • Biodata Penerima Beasiswa 2022
    • Biodata Penerima Beasiswa 2023
    • Biodata Penerima Beasiswa 2024
    • Biodata Penerima Beasiswa 2025
Warta Feminis

Negara Mengabai, Korban Terbebani: Visum Gratis sebagai Hak Konstitusional

27/4/2026

 
PictureDok. Jurnal Perempuan
     “Sudah jatuh tertimpa tangga.” Aforisme klasik ini menjadi tajuk reflektif dalam diskusi Feminist in Law and Litigation (FILL) #2 bertajuk “Visum Berbayar Sebagai Pelanggaran Kewajiban Negara terhadap Hak Korban” yang diselenggarakan secara daring oleh Legal Resource Center untuk Keadilan Gender dan Hak Asasi Manusia (LRC-KJHAM) pada Sabtu (18/4/2026) pukul 14.00 WIB. Diskusi ini merespons fenomena krusial pada Februari 2026, dimana pendamping korban melaporkan bahwa sejumlah Pemerintah Daerah tidak lagi menanggung biaya visum korban kekerasan seksual. Diskusi ini menghadirkan para ahli, di antaranya Siti Aminah Tardi (Direktur ILRC), Della Belinda, S.Psi., M.Psi. (DP3AKB Jateng), Romauli Situmorang (Pembina Yayasan HANARA), Wity Muntari (Direktur LRC-KJHAM), dan Dian Puspitasari, S.H. (Direktur LBH RaKeSia).

     Layanan Visum et Repertum dan Visum et Psikiatrikum (VeP) merupakan instrumen fundamental dalam pemenuhan hak atas kebenaran dan keadilan. Dalam ranah pidana, hasil visum menjadi determinan penentu pasal yang diterapkan serta besaran restitusi. Sementara dalam ranah perdata, ia krusial dalam menentukan biaya pemulihan korban. Forum ini hadir sebagai ruang belajar bersama, berbagi pengetahuan dan pengalaman pendamping korban dalam mendorong pemenuhan akses keadilan dan pemulihan korban.

     Siti Aminah Tardi (Direktur ILRC) menekankan bahwa pelayanan kesehatan untuk kepentingan hukum harus dilihat dari perspektif Hak Asasi Manusia. Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa akses terhadap layanan ini masih bergantung pada komitmen politik pemerintah daerah yang sangat fluktuatif. Prosedur birokrasi yang terlalu ketat—seperti kewajiban adanya surat pengantar dari Kepolisian atau UPTD PPA—seringkali memaksa korban untuk mengakses visum secara mandiri demi mengejar efektivitas waktu.

     ​Ironisnya, hal ini juga diperparah oleh kebijakan Pemerintah Daerah (Pemda) yang tidak lagi mengalokasikan anggaran untuk layanan visum, padahal UU No. 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan secara eksplisit menyatakan bahwa Pemerintah Pusat dan Daerah bertanggung jawab atas biaya pelayanan kedokteran untuk kepentingan hukum (Pasal 154 dan 155).
Picture
Dok. Jurnal Perempuan
     ​Pentingnya visum dalam perspektif emansipatoris terlihat nyata dalam beberapa advokasi lapangan. Kasus AJ, contohnya, yaitu seorang korban KDRT yang berhasil memenangkan gugatan rekonvensi di Pengadilan Agama untuk biaya pemulihan selama dua tahun berkat hasil pemeriksaan medis dan psikologis. Begitu pula pada kasus AA, bukti psikologis dari dokter jiwa selama 15 tahun digunakan untuk mendorong Majelis Hakim memberikan perlindungan khusus bagi korban. Namun, tantangan besar masih membayangi, seperti pada kasus KP, dimana keterlambatan hasil pemeriksaan psikologis hampir menghapuskan hak korban untuk melapor karena masa daluwarsa.

     Wity Muntari (Direktur LRC-KJHAM) bersama Della Belinda (DP3AKB Jateng) menyoroti bahwa ketidakhadiran negara dalam mengalokasikan anggaran untuk visum bukan hanya problem administratif, melainkan bentuk pengabaian sistematis terhadap hak korban. Sebaran lokasi rumah sakit yang tidak merata serta belum adanya lembaga negara yang menghitung kerugian dampak psikis secara presisi dalam ranah perdata menunjukkan celah perlindungan yang lebar.

     Sebagai penutup, diskusi yang dipandu oleh Nur Laela Hafizoh ini menegaskan bahwa tanpa jaminan akses visum yang bebas biaya dan bebas hambatan birokrasi, pemulihan bagi perempuan korban kekerasan akan terus terhambat oleh beban finansial yang seharusnya menjadi tanggung jawab publik. (Hana Rusmalia)

Comments are closed.
    Jurnal Perempuan
    ​
    terindeks di:
    Picture

    Archives

    May 2026
    April 2026
    March 2026
    February 2026
    January 2026
    December 2025
    November 2025
    October 2025
    September 2025
    August 2025
    July 2025
    June 2025
    May 2025
    April 2025
    March 2025
    February 2025
    January 2025
    December 2024
    November 2024
    October 2024
    September 2024
    August 2024
    July 2024
    June 2024
    May 2024
    April 2024
    March 2024
    February 2024
    January 2024
    December 2023
    November 2023
    October 2023
    September 2023
    August 2023
    July 2023
    June 2023
    May 2023
    April 2023
    March 2023
    February 2023
    January 2023
    December 2022
    November 2022
    October 2022
    September 2022
    August 2022
    July 2022
    June 2022
    May 2022
    April 2022
    March 2022
    February 2022
    January 2022
    December 2021
    November 2021
    October 2021
    September 2021
    August 2021
    July 2021
    June 2021
    April 2021
    March 2021
    February 2021
    January 2021
    December 2020
    October 2020
    August 2020
    July 2020
    June 2020
    April 2020
    March 2020
    February 2020
    January 2020
    December 2019
    November 2019
    October 2019
    September 2019
    August 2019
    July 2019
    June 2019
    May 2019
    April 2019
    March 2019
    February 2019
    January 2019
    December 2018
    November 2018
    October 2018
    September 2018
    August 2018
    July 2018
    June 2018
    May 2018
    April 2018
    March 2018
    February 2018
    January 2018
    December 2017
    October 2017
    September 2017
    August 2017
    July 2017
    June 2017
    May 2017
    April 2017
    March 2017
    December 2016
    November 2016
    September 2016
    August 2016
    July 2016
    June 2016
    May 2016
    April 2016
    March 2016
    February 2016
    January 2016
    December 2015
    November 2015
    October 2015
    September 2015
    August 2015
    July 2015
    June 2015
    May 2015
    April 2015
    March 2015
    February 2015
    January 2015
    December 2014
    November 2014
    October 2014
    September 2014
    August 2014
    July 2014
    June 2014

    Categories

    All

    RSS Feed

Yayasan Jurnal Perempuan| Alamanda Tower, 25th Floor | Jl. T.B. Simatupang Kav. 23-24 Jakarta 12430 | Telp. +62 21 2965 7992 Fax. +62 21 2927 7888 | [email protected]
  • TENTANG KAMI
    • Profil
    • Kontak
    • Laporan Tahunan
    • Demo Suara Ibu Peduli
    • Rilis JP
  • Jurnal Perempuan
    • Indonesian Feminist Journal
    • Kirim Tulisan
  • YJP PRESS
    • Buku Seri YJP Press
  • KAFFE
    • Booklet KAFFE
  • Podcast JP
    • Radio JP
  • Sahabat JP
    • Daftar Nama SJP
    • International Friends of JP
    • Blog SJP
    • Gathering SJP
  • Wacana Feminis
    • Tokoh Feminis
    • Cerpen/Puisi Feminis
  • Warta Feminis
  • Warung JP
    • Daftar Toko Buku
  • Toeti Heraty Scholarship
    • Biodata Penerima Beasiswa 2022
    • Biodata Penerima Beasiswa 2023
    • Biodata Penerima Beasiswa 2024
    • Biodata Penerima Beasiswa 2025