Dok. Jurnal Perempuan Selasa (31/3/2026), diskusi atas buku Saskia Wieringa berjudul Lesbian Biseksual dan Trans: Riwayat Gerakan Politik di Indonesia yang terbit pada November 2025 lalu diadakan di Auditorium Mochtar Riady Social and Political Research Center, Fakultas Ilmu Politik dan Sosial Universitas Indonesia (FISIP UI), Depok. Pada diskusi ini, Saskia membicarakan perihal catatan-catatan dan tuturan dari narator-narator di bukunya yang memperlihatkan bahwa kehidupan lesbian, biseksual, dan trans (LBT) di Indonesia tidak pernah berdiri dalam ruang yang sederhana. Mereka dipaksa untuk bergerak, berubah, dan bernegosiasi seumur hidupnya, baik dalam menjalin relasi, memahami diri, maupun bertahan hidup di tengah tekanan yang terus datang dari berbagai arah. Seiring dengan berjalannya waktu dan perkembangan dunia, LBT di Indonesia banyak mengalami perubahan. Dicatat dalam buku Saskia, misalnya, pada teman-teman lesbian, pola butch-femme (B-F) yang dulu nyaris menjadi kerangka dominan lesbian, kini tidak lagi menjadi satu-satunya pola relasi. Ada pergeseran menuju bentuk-bentuk yang lebih cair, termasuk identitas individu tanpa label tertentu. Perubahan ini tidak sama sekali menghapus B-F ataupun relasi lainnya, melainkan memperluas cara memahami relasi itu sendiri, bahkan memberikan sebuah pandangan baru bahwa seksualitas adalah cair dan tidak melulu bergantung pada heteronormativitas yang pada akhirnya sering kali mencederai relasi LBT sendiri.
Pada bukunya, Saskia juga mengungkap bahwa muncul praktik seperti butch-feminism dan upaya memaknai female masculinity sebagai sesuatu yang hidup dan dijalankan sehari-hari. Posisi femme pun tidak lagi ditempatkan sebagai lemah—layaknya pada relasi heteroseksual—melainkan sebagai subjek yang kuat, diinginkan, dan memiliki daya. Namun, terbukanya ruang-ruang kemungkinan yang cair ini berjalan berdampingan dengan menguatnya ketakutan sosial. Sejak sekitar 2015, Saskia mengungkap bahwa ada second sexual moral panic yang membentuk atmosfer yang mencekam. Narasi yang mengaitkan LGBTQIA+ dengan komunisme menyebar dan mengendap dalam kehidupan sehari-hari, hal ini membentuk pola kebencian yang terasa sistematis—bahkan selalu hadir dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan yang seolah “biasa”, tetapi sesungguhnya menguji, mengawasi dan mengancam keberadaan individu LGBTQIA+. Di tengah situasi di Indonesia, kekerasan pada LGBTQIA+ tidak hanya hadir sebagai pengecualian, melainkan sebagai pola. Saskia menekankan bahwa perempuan LBT mengalami pemerkosaan dan perjodohan paksa yang dibungkus dengan dalih “meluruskan” atau “mengembalikan fitrah” orientasi seksual. Praktik terapi konversi tetap berlangsung—bahkan secara sembunyi-sembunyi dan “halus”. Bahkan, praktik ini difasilitasi oleh pihak yang memiliki legitimasi profesional. Semua ini menunjukkan bagaimana tubuh dan kehidupan LBT di Indonesia terus menerus diintervensi, dianggap sebuah “aib” dan “ketidaknormalan”, alih-alih dihormati sebagai bagian dari kemanusiaan yang merdeka ataupun variasi dalam rasa cinta manusia. Terlebih, Saskia juga menuturkan pengalamannya dan narator-narator dalam bukunya terkait dengan agama. Dalam buku ini, agama hadir sebagai ruang yang sekaligus mengandung harapan dan luka mendalam. Agama yang dipahami sebagai milik semua, yang disebutkan sebagai sumber kedamaian dan rasa aman tanpa pilih kasih, justru muncul kontradiksi yang mana kekerasan seksual di ruang-ruang keagamaan kerap tidak diusut, sementara kehidupan LGBTQIA+ yang tidak melakukan kekerasan justru dipersekusi. Di titik ini, pertanyaan tentang keadilan dan kemanusiaan menjadi suatu titik refleksi mendalam. Peran serta dogma pun memberikan berbagai rasa tidak aman untuk LGBTQIA+ dalam bernafas. Selalu ada tuntutan tanpa kasih yang dibebankan pada individu LGBTQIA+, mulai dari represi atas pengetahuan dirinya, represi atas seksualitasnya, hingga pemaksaan yang dilandaskan dengan dogma tanpa kasih. Karya Saskia—yang dibaca sebagai biografi politik—mencoba menelusuri semua ini dengan cara yang berangkat dari pengalaman narator itu sendiri. Saskia berusaha untuk tidak memaksakan identitas, melainkan mendengarkan bagaimana individu mengidentifikasi dirinya. Dari situ, tampak bahwa kehidupan LBT adalah kehidupan yang terus bernegosiasi dengan kondisi ambivalensi: antara ingin terlihat dan kebutuhan untuk hidup aman, juga antara pengakuan diri dan risiko. Diskusi juga membuka pertanyaan-pertanyaan yang belum selesai. Seperti bagaimana memahami pandangan yang menganggap yang “berdosa” adalah praktik seksual, bukan orientasi—sementara pada akhirnya tetap mendorong individu untuk menolak dirinya sendiri dan hidup dalam penyangkalan? Dalam semua ini, menurut Saskia, visibilitas muncul sebagai sesuatu yang tidak sederhana. Visibilitas tentu dibutuhkan, karena sejatinya tanpa representasi, sulit membayangkan kehidupan yang lebih baik. Sulit pula bagi individu, terutama anak-anak, untuk berdamai dengan dirinya. Namun visibilitas juga akan membawa konsekuensi dalam situasi yang masih penuh penolakan—seperti di Indonesia. Buku Saskia, berbicara tentang tekanan yang dialami langsung dan nyata oleh narator-naratornya, tetapi Saskia juga hendak memberikan perspektif ketahanan dan harapan bagi individu LBT di Indonesia. Buku ini diharapkan dapat memberikan sebuah sudut pandang bagaimana solidaritas dibangun, bagaimana orang-orang terus hidup di tengah situasi yang mencekam—walaupun seharusnya LBT di Indonesia tidak harus mengalami semua ini hanya untuk bernapas dengan tenang. Saskia selalu mengingatkan bahwa keberadaan LBT bukanlah sesuatu yang perlu “diperbaiki” layaknya anggapan yang selalu ada. LBT ada, hidup, dan terus mencari ruang untuk diakui tanpa syarat. Saskia juga mengatakan bahwa, “Jika semua manusia adalah ciptaan, maka menolak keberadaan sebagian dari mereka berarti mempertanyakan penciptaan itu sendiri.” Pada akhirnya, manakah yang dipercayai manusia: Tuhan yang penuh kasih dan perdamaian untuk semua ataukah saling tunjuk mana yang akan dimurka? Karena nyatanya, semua individu berhak untuk hidup tanpa syarat apapun, tanpa ancaman apapun, tanpa harus bernegosiasi dengan keadaan, dengan aman, nyaman dan penuh kasih. (Redaksi Jurnal Perempuan) Comments are closed.
|
Jurnal Perempuan
terindeks di: Archives
March 2026
Categories |

RSS Feed