Jurnal Perempuan
  • TENTANG KAMI
    • Profil
    • Kontak
    • Laporan Tahunan
    • Demo Suara Ibu Peduli
    • Rilis JP
  • Jurnal Perempuan
    • Indonesian Feminist Journal
    • Kirim Tulisan
  • YJP PRESS
    • Buku Seri YJP Press
  • KAFFE
    • Booklet KAFFE
  • Podcast JP
    • Radio JP
  • Sahabat JP
    • Daftar Nama SJP
    • International Friends of JP
    • Blog SJP
    • Gathering SJP
  • Wacana Feminis
    • Tokoh Feminis
    • Cerpen/Puisi Feminis
  • Warta Feminis
  • Warung JP
    • Daftar Toko Buku
  • Toeti Heraty Scholarship
    • Biodata Penerima Beasiswa 2022
    • Biodata Penerima Beasiswa 2023
    • Biodata Penerima Beasiswa 2024
    • Biodata Penerima Beasiswa 2025
Warta Feminis

Narasi LBT di Indonesia: Haruskah Bernegosiasi Seumur Hidup?

8/4/2026

 
PictureDok. Jurnal Perempuan
     Selasa (31/3/2026), diskusi atas buku Saskia Wieringa berjudul Lesbian Biseksual dan Trans: Riwayat Gerakan Politik di Indonesia yang terbit pada November 2025 lalu diadakan di Auditorium Mochtar Riady Social and Political Research Center, Fakultas Ilmu Politik dan Sosial Universitas Indonesia (FISIP UI), Depok. Pada diskusi ini, Saskia membicarakan perihal catatan-catatan dan tuturan dari narator-narator di bukunya yang memperlihatkan bahwa kehidupan lesbian, biseksual, dan trans (LBT) di Indonesia tidak pernah berdiri dalam ruang yang sederhana. Mereka dipaksa untuk bergerak, berubah, dan bernegosiasi seumur hidupnya, baik dalam menjalin relasi, memahami diri, maupun bertahan hidup di tengah tekanan yang terus datang dari berbagai arah.

     Seiring dengan berjalannya waktu dan perkembangan dunia, LBT di Indonesia banyak mengalami perubahan. Dicatat dalam buku Saskia, misalnya, pada teman-teman lesbian, pola butch-femme (B-F) yang dulu nyaris menjadi kerangka dominan lesbian, kini tidak lagi menjadi satu-satunya pola relasi. Ada pergeseran menuju bentuk-bentuk yang lebih cair, termasuk identitas individu tanpa label tertentu. Perubahan ini tidak sama sekali menghapus B-F ataupun relasi lainnya, melainkan memperluas cara memahami relasi itu sendiri, bahkan memberikan sebuah pandangan baru bahwa seksualitas adalah cair dan tidak melulu bergantung pada heteronormativitas yang pada akhirnya sering kali mencederai relasi LBT sendiri. 

     Pada bukunya, Saskia juga mengungkap bahwa muncul praktik seperti butch-feminism dan upaya memaknai female masculinity sebagai sesuatu yang hidup dan dijalankan sehari-hari. Posisi femme pun tidak lagi ditempatkan sebagai lemah—layaknya pada relasi heteroseksual—melainkan sebagai subjek yang kuat, diinginkan, dan memiliki daya.

     Namun, terbukanya ruang-ruang kemungkinan yang cair ini berjalan berdampingan dengan menguatnya ketakutan sosial. Sejak sekitar 2015, Saskia mengungkap bahwa ada second sexual moral panic yang membentuk atmosfer yang mencekam. Narasi yang mengaitkan LGBTQIA+ dengan komunisme menyebar dan mengendap dalam kehidupan sehari-hari, hal ini membentuk pola kebencian yang terasa sistematis—bahkan selalu hadir dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan yang seolah “biasa”, tetapi sesungguhnya menguji, mengawasi dan mengancam keberadaan individu LGBTQIA+.

     Di tengah situasi di Indonesia, kekerasan pada LGBTQIA+ tidak hanya hadir sebagai pengecualian, melainkan sebagai pola. Saskia menekankan bahwa perempuan LBT mengalami pemerkosaan dan perjodohan paksa yang dibungkus dengan dalih “meluruskan” atau “mengembalikan fitrah” orientasi seksual. Praktik terapi konversi tetap berlangsung—bahkan secara sembunyi-sembunyi dan “halus”. Bahkan, praktik ini difasilitasi oleh pihak yang memiliki legitimasi profesional. Semua ini menunjukkan bagaimana tubuh dan kehidupan LBT di Indonesia terus menerus diintervensi, dianggap sebuah “aib” dan “ketidaknormalan”, alih-alih dihormati sebagai bagian dari kemanusiaan yang merdeka ataupun variasi dalam rasa cinta manusia.

     Terlebih, Saskia juga menuturkan pengalamannya dan narator-narator dalam bukunya terkait dengan agama. Dalam buku ini, agama hadir sebagai ruang yang sekaligus mengandung harapan dan luka mendalam. Agama yang dipahami sebagai milik semua, yang disebutkan sebagai sumber kedamaian dan rasa aman tanpa pilih kasih, justru muncul kontradiksi yang mana kekerasan seksual di ruang-ruang keagamaan kerap tidak diusut, sementara kehidupan LGBTQIA+ yang tidak melakukan kekerasan justru dipersekusi.

     Di titik ini, pertanyaan tentang keadilan dan kemanusiaan menjadi suatu titik refleksi mendalam. Peran serta dogma pun memberikan berbagai rasa tidak aman untuk LGBTQIA+ dalam bernafas. Selalu ada tuntutan tanpa kasih yang dibebankan pada individu LGBTQIA+, mulai dari represi atas pengetahuan dirinya, represi atas seksualitasnya, hingga pemaksaan yang dilandaskan dengan dogma tanpa kasih.

     Karya Saskia—yang dibaca sebagai biografi politik—mencoba menelusuri semua ini dengan cara yang berangkat dari pengalaman narator itu sendiri. Saskia berusaha untuk tidak memaksakan identitas, melainkan mendengarkan bagaimana individu mengidentifikasi dirinya. Dari situ, tampak bahwa kehidupan LBT adalah kehidupan yang terus bernegosiasi dengan kondisi ambivalensi: antara ingin terlihat dan kebutuhan untuk hidup aman, juga antara pengakuan diri dan risiko.

     Diskusi juga membuka pertanyaan-pertanyaan yang belum selesai. Seperti bagaimana memahami pandangan yang menganggap yang “berdosa” adalah praktik seksual, bukan orientasi—sementara pada akhirnya tetap mendorong individu untuk menolak dirinya sendiri dan hidup dalam penyangkalan?

     Dalam semua ini, menurut Saskia, visibilitas muncul sebagai sesuatu yang tidak sederhana. Visibilitas tentu dibutuhkan, karena sejatinya tanpa representasi, sulit membayangkan kehidupan yang lebih baik. Sulit pula bagi individu, terutama anak-anak, untuk berdamai dengan dirinya. Namun visibilitas juga akan membawa konsekuensi dalam situasi yang masih penuh penolakan—seperti di Indonesia.

     Buku Saskia, berbicara tentang tekanan yang dialami langsung dan nyata oleh narator-naratornya, tetapi Saskia juga hendak memberikan perspektif ketahanan dan harapan bagi individu LBT di Indonesia. Buku ini diharapkan dapat memberikan sebuah sudut pandang bagaimana solidaritas dibangun, bagaimana orang-orang terus hidup di tengah situasi yang mencekam—walaupun seharusnya LBT di Indonesia tidak harus mengalami semua ini hanya untuk bernapas dengan tenang. Saskia selalu mengingatkan bahwa keberadaan LBT bukanlah sesuatu yang perlu “diperbaiki” layaknya anggapan yang selalu ada. LBT ada, hidup, dan terus mencari ruang untuk diakui tanpa syarat.

     Saskia juga mengatakan bahwa, “Jika semua manusia adalah ciptaan, maka menolak keberadaan sebagian dari mereka berarti mempertanyakan penciptaan itu sendiri.” 

     Pada akhirnya, manakah yang dipercayai manusia: Tuhan yang penuh kasih dan perdamaian untuk semua ataukah saling tunjuk mana yang akan dimurka? Karena nyatanya, semua individu berhak untuk hidup tanpa syarat apapun, tanpa ancaman apapun, tanpa harus bernegosiasi dengan keadaan, dengan aman, nyaman dan penuh kasih. (Redaksi Jurnal Perempuan)

Comments are closed.
    Jurnal Perempuan
    ​
    terindeks di:
    Picture

    Archives

    March 2026
    February 2026
    January 2026
    December 2025
    November 2025
    October 2025
    September 2025
    August 2025
    July 2025
    June 2025
    May 2025
    April 2025
    March 2025
    February 2025
    January 2025
    December 2024
    November 2024
    October 2024
    September 2024
    August 2024
    July 2024
    June 2024
    May 2024
    April 2024
    March 2024
    February 2024
    January 2024
    December 2023
    November 2023
    October 2023
    September 2023
    August 2023
    July 2023
    June 2023
    May 2023
    April 2023
    March 2023
    February 2023
    January 2023
    December 2022
    November 2022
    October 2022
    September 2022
    August 2022
    July 2022
    June 2022
    May 2022
    April 2022
    March 2022
    February 2022
    January 2022
    December 2021
    November 2021
    October 2021
    September 2021
    August 2021
    July 2021
    June 2021
    April 2021
    March 2021
    February 2021
    January 2021
    December 2020
    October 2020
    August 2020
    July 2020
    June 2020
    April 2020
    March 2020
    February 2020
    January 2020
    December 2019
    November 2019
    October 2019
    September 2019
    August 2019
    July 2019
    June 2019
    May 2019
    April 2019
    March 2019
    February 2019
    January 2019
    December 2018
    November 2018
    October 2018
    September 2018
    August 2018
    July 2018
    June 2018
    May 2018
    April 2018
    March 2018
    February 2018
    January 2018
    December 2017
    October 2017
    September 2017
    August 2017
    July 2017
    June 2017
    May 2017
    April 2017
    March 2017
    December 2016
    November 2016
    September 2016
    August 2016
    July 2016
    June 2016
    May 2016
    April 2016
    March 2016
    February 2016
    January 2016
    December 2015
    November 2015
    October 2015
    September 2015
    August 2015
    July 2015
    June 2015
    May 2015
    April 2015
    March 2015
    February 2015
    January 2015
    December 2014
    November 2014
    October 2014
    September 2014
    August 2014
    July 2014
    June 2014

    Categories

    All

    RSS Feed

Yayasan Jurnal Perempuan| Alamanda Tower, 25th Floor | Jl. T.B. Simatupang Kav. 23-24 Jakarta 12430 | Telp. +62 21 2965 7992 Fax. +62 21 2927 7888 | [email protected]
  • TENTANG KAMI
    • Profil
    • Kontak
    • Laporan Tahunan
    • Demo Suara Ibu Peduli
    • Rilis JP
  • Jurnal Perempuan
    • Indonesian Feminist Journal
    • Kirim Tulisan
  • YJP PRESS
    • Buku Seri YJP Press
  • KAFFE
    • Booklet KAFFE
  • Podcast JP
    • Radio JP
  • Sahabat JP
    • Daftar Nama SJP
    • International Friends of JP
    • Blog SJP
    • Gathering SJP
  • Wacana Feminis
    • Tokoh Feminis
    • Cerpen/Puisi Feminis
  • Warta Feminis
  • Warung JP
    • Daftar Toko Buku
  • Toeti Heraty Scholarship
    • Biodata Penerima Beasiswa 2022
    • Biodata Penerima Beasiswa 2023
    • Biodata Penerima Beasiswa 2024
    • Biodata Penerima Beasiswa 2025