Jurnal Perempuan
  • TENTANG KAMI
    • Profil
    • Kontak
    • Laporan Tahunan
    • Demo Suara Ibu Peduli
    • Rilis JP
  • Jurnal Perempuan
    • Indonesian Feminist Journal
    • Kirim Tulisan
  • YJP PRESS
    • Buku Seri YJP Press
  • KAFFE
    • Booklet KAFFE
  • Podcast JP
    • Radio JP
  • Sahabat JP
    • Daftar Nama SJP
    • International Friends of JP
    • Blog SJP
    • Gathering SJP
  • Wacana Feminis
    • Tokoh Feminis
    • Cerpen/Puisi Feminis
  • Warta Feminis
  • Warung JP
    • Daftar Toko Buku
  • Toeti Heraty Scholarship
    • Biodata Penerima Beasiswa 2022
    • Biodata Penerima Beasiswa 2023
    • Biodata Penerima Beasiswa 2024
    • Biodata Penerima Beasiswa 2025
Warta Feminis

Mother of The Sea: Sekolah Ekologi Pesisir dan Gerakan Kolektif Perempuan

25/8/2025

 
PictureDok. Jurnal Perempuan
     ​     Pondok Pesantren Attarbiyatul Wathoniyah (PATWA), Desa Martapada Kulon, Kabupaten Cirebon menjadi wadah penyelenggaraan Sekolah Ekologi Pesisir (SEP) pada 11–22 Juli 2025. Kegiatan ini merupakan inisiasi kolaboratif SALAM Institute ini melibatkan berbagai komunitas diantaranya Kurawal Foundation, Greenpeace Indonesia, Pusat Studi Agraria IPB, Sajogyo Institute, dan Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI). Secara garis besar, fokus utamanya dalam membedah isu ekologi pesisir dan tantangan yang dihadapi masyarakat pesisir di era global.

     Salah satu rangkaian paling menggugah perhatian adalah diskusi bersama Siti Masnuah (49), tokoh organisator perempuan nelayan yang selama lebih dari dua dekade membersamai komunitas kelompok nelayan Puspita Bahari. Sejak 2025, komunitas ini menjadi wadah bagi perempuan nelayan Demak untuk menemukan suaranya dalam menghadapi dinamika kehidupan pesisir (Sinombor, 2019). Duduk lesehan di antara para peserta, Masnuah berbicara lugas tetapi hangat dengan resonansi keibuan. Ia memaparkan persoalan yang dihadapi masyarakat pesisir, dari hasil laut yang tidak menentu, banjir rob yang menenggelamkan permukiman, hingga menyempitnya ruang hidup akibat industri. Beberapa perusahaan dinilai bekerja secara eksploitatif menggunakan sumber daya alam untuk bahan produksi, contohnya seperti penyerapan air tanah yang berlebihan. Hal ini berpengaruh besar terhadap kehidupan masyarakat nelayan di sekitarnya.

     “Hari ini, profesi nelayan tidak lagi menarik. Saya saja tidak ingin anak-anak saya jadi nelayan—terlalu berat dan penuh ketidakpastian,” ujarnya, disambut anggukan peserta SEP.

     Bagi nelayan perempuan, tantangan itu berlapis. Status perempuan sebagai nelayan acapkali menjelma semacam anomali—menyimpang, terpinggirkan. Masnuah menyorot bagaimana status perempuan nelayan kerap tidak diakui sehingga membuat mereka terhalang dari perlindungan kerja dan rentan mengalami kekerasan berbasis gender.  Stigma “perawan tua” mendorong perkawinan usia dini, sementara banjir rob memaksa banyak suami merantau, dan meninggalkan istri anak di desa. Kajian krisis iklim dan kekerasan berbasis gender (KBG) Komnas Perempuan membenarkan dampak serius dari hal itu, perempuan menghadapi tantangan yang lebih kompleks, mulai dari ancaman kelangsungan hidup, risiko KBG sebagai efek domino dari sulitnya ruang hidup, hingga kesulitan mengakses layanan kesehatan reproduksi (Fadilah, 2024).

     Dari keresahan itu kesadaran kolektif masyarakat pesisir pun tergerak. Masnuah, sebagai inisiator komunitas membagikan cara pengorganisasian yang dilakukan Puspita Bahari. Di antara langkah yang Puspita Bahari lakukan adalah mendirikan koperasi mandiri yang modalnya adalah murni dari hasil swadaya para perempuan, pengolahan hasil laut dan pemasarannya, hingga pembagian pembalut kain bagi perempuan penyintas banjir rob di Timbulsloko, Demak. Selain itu, mereka juga gencar mengadakan advokasi rutinan bagi masyarakat terdampak, bahkan pernah menggelar peragaan busana di desa Timbulsloko sebagai simbol perlawanan dan mitigasi krisis iklim.

     Salah satu rekam jejak Puspita Bahari terdokumentasi dalam buku ilustrasi “Banjir Rob” yang diterbitkan bersama mahasiswa dari University of Leeds, yang dapat diakses melalui tautan https://bit.ly/TidalFloodsBook. Kisah-kisah yang disajikan dalam buku ini diangkat dari kisah nyata kondisi perempuan nelayan di tiga desa: Morodemak, Margolinduk, dan Purworejo—meskipun nama-nama yang ditampilkan adalah nama samaran. Spirit “Rakyat Bantu Rakyat” dan “Perempuan Bantu Perempuan” menjadi napas perjuangan Puspita Bahari untuk terus berdampak membawa perubahan. Peran Puspita Bahari diakui hingga di level internasional dibuktikan melalui keterlibatan di World Forum of Fisher Peoples (WFFP) di Brazil pada November 2024.

     Sebuah kisah yang menggetarkan, Masnuah pernah menolak tawaran menjadi promotor sebuah proyek industrialisasi pesisir senilai lima miliar rupiah. Demi mempertahankan ekosistem tempatnya hidup dan bertumbuh, ia menolak. “Saat itu saya memilih untuk tidak serakah. Dan ternyata rezeki itu tetap datang, bahkan lebih dari cukup ketika kita mendahulukan kepentingan bersama,” ungkapnya sambil tersenyum. Ia tahu, industrialisasi ini akan berdampak buruk dalam jangka panjang. Sebab peristiwa itu, ia percaya bahwa perempuan nelayan harus mempunyai kemandirian ekonomi. Mereka tidak boleh ‘lapar’, agar tidak gampang dipengaruhi. Meski menolak tawaran tersebut, mereka tidak pernah kekurangan. Selalu akan datang keajaiban jika kita mendahulukan kepentingan bersama. Tidak lama setelah tawaran tersebut, datang bantuan untuk komunitas dan dirinya. Kini, di sela kesibukannya, Masnuah sedang menempuh pendidikan sarjana, “Saya sekarang kuliah semester 6—sama seperti kalian,” ucapnya dengan raut sumringah.

     Bagi Laili Salma (23), seorang peserta SEP asal Magelang yang tergabung dalam Coastal and Fisheries Community, pelajaran terpenting dari sesi ini adalah bahwa penguatan ekonomi perempuan nelayan tidak hanya soal tambahan penghasilan. “Gerakan kolektif komunitas seperti  koperasi sampai inisiatif pengolahan hasil laut membuat perempuan nelayan mandiri, punya ruang untuk berkreasi, dan lebih siap menghadapi kondisi sulit seperti  kerusakan lingkungan yang sering bikin aktivitas nelayan lumpuh. Solidaritas ini bahkan yang membuat mereka lebih berani menyuarakan hak dan mempengaruhi keputusan di tingkat desa sampai nasional,” katanya. Lili juga menambahkan bahwa di sisi lain, gerakan kolektif juga bisa menjadi wadah agar upaya ekonomi tidak berhenti di level individu, tapi bisa berkembang menjadi kekuatan bersama. Pada akhirnya, pengembangan ekonomi dan gerakan kolektif ini bisa saling melengkapi. 

     Kegiatan ini tidak hanya menampilkan cerita perjuangan dan dimensi personal sang aktor, tetapi juga menjadi pemahaman baru bagi peserta SEP 2025 yang konsen dalam isu lingkungan dan masyarakat adat bahwa persoalan lingkungan pesisir tak terpisahkan dari isu gender dan keadilan sosial. Sektor ekonomi menjadi pondasi bagi kemandirian masyarakat, sementara kolektivitas menjadi jembatan menuju perubahan sosial, lingkungan, dan kebijakan yang lebih adil bagi komunitas pesisir. (Hana Rusmalia)

Referensi
Fadilah, K. (2024, November 25). Komnas Perempuan Anggap Krisis Iklim Bikin Risiko Kekerasan Gender Meningkat. DetikNews.
Sinombor, S. H. (2019, February 27). Masnu’ah, Pelopor Komunitas Perempuan Nelayan. Kompas.Id.

Comments are closed.
    Jurnal Perempuan
    ​
    terindeks di:
    Picture

    Archives

    January 2026
    December 2025
    November 2025
    October 2025
    September 2025
    August 2025
    July 2025
    June 2025
    May 2025
    April 2025
    March 2025
    February 2025
    January 2025
    December 2024
    November 2024
    October 2024
    September 2024
    August 2024
    July 2024
    June 2024
    May 2024
    April 2024
    March 2024
    February 2024
    January 2024
    December 2023
    November 2023
    October 2023
    September 2023
    August 2023
    July 2023
    June 2023
    May 2023
    April 2023
    March 2023
    February 2023
    January 2023
    December 2022
    November 2022
    October 2022
    September 2022
    August 2022
    July 2022
    June 2022
    May 2022
    April 2022
    March 2022
    February 2022
    January 2022
    December 2021
    November 2021
    October 2021
    September 2021
    August 2021
    July 2021
    June 2021
    April 2021
    March 2021
    February 2021
    January 2021
    December 2020
    October 2020
    August 2020
    July 2020
    June 2020
    April 2020
    March 2020
    February 2020
    January 2020
    December 2019
    November 2019
    October 2019
    September 2019
    August 2019
    July 2019
    June 2019
    May 2019
    April 2019
    March 2019
    February 2019
    January 2019
    December 2018
    November 2018
    October 2018
    September 2018
    August 2018
    July 2018
    June 2018
    May 2018
    April 2018
    March 2018
    February 2018
    January 2018
    December 2017
    October 2017
    September 2017
    August 2017
    July 2017
    June 2017
    May 2017
    April 2017
    March 2017
    December 2016
    November 2016
    September 2016
    August 2016
    July 2016
    June 2016
    May 2016
    April 2016
    March 2016
    February 2016
    January 2016
    December 2015
    November 2015
    October 2015
    September 2015
    August 2015
    July 2015
    June 2015
    May 2015
    April 2015
    March 2015
    February 2015
    January 2015
    December 2014
    November 2014
    October 2014
    September 2014
    August 2014
    July 2014
    June 2014

    Categories

    All

    RSS Feed

Yayasan Jurnal Perempuan| Alamanda Tower, 25th Floor | Jl. T.B. Simatupang Kav. 23-24 Jakarta 12430 | Telp. +62 21 2965 7992 Fax. +62 21 2927 7888 | [email protected]
  • TENTANG KAMI
    • Profil
    • Kontak
    • Laporan Tahunan
    • Demo Suara Ibu Peduli
    • Rilis JP
  • Jurnal Perempuan
    • Indonesian Feminist Journal
    • Kirim Tulisan
  • YJP PRESS
    • Buku Seri YJP Press
  • KAFFE
    • Booklet KAFFE
  • Podcast JP
    • Radio JP
  • Sahabat JP
    • Daftar Nama SJP
    • International Friends of JP
    • Blog SJP
    • Gathering SJP
  • Wacana Feminis
    • Tokoh Feminis
    • Cerpen/Puisi Feminis
  • Warta Feminis
  • Warung JP
    • Daftar Toko Buku
  • Toeti Heraty Scholarship
    • Biodata Penerima Beasiswa 2022
    • Biodata Penerima Beasiswa 2023
    • Biodata Penerima Beasiswa 2024
    • Biodata Penerima Beasiswa 2025