Dok. Jurnal Perempuan Dalam rangka memperingati Hari Perempuan Internasional, Legal Resources Center untuk Keadilan Jender dan Hak Asasi Manusia (LRC-KJHAM) di Semarang Jawa Tengah, menyelenggarakan diskusi Ngemper #103 (Ngobrol Bareng Perempuan) bertajuk “Membaca Buku Broken Strings: Kepingan Masa Muda yang Patah”, pada hari Senin (2/3/2026), pukul 13:00–14:00 WIB. Kegiatan ini disiarkan langsung melalui Instagram @lrckjham, dengan menghadirkan narasumber Donny Danardono (dosen Universitas Katolik Soegijapranata, Semarang) dan Nihayatul Mukharomah (Kepala Operasional LRC-KJHAM), dengan Nia Lishayati (LRC-KJHAM) sebagai host. Tubuh perempuan sering kali tidak pernah benar-benar menjadi miliknya sendiri. Ia bisa direndahkan karena dianggap tidak cukup putih, tidak cukup fasih berbahasa, tidak cukup modern. Namun pada saat yang sama, ia juga bisa dipuja karena dianggap eksotis, langka, dan berbeda. Di kedua situasi itu, perempuan tetap ditempatkan sebagai “yang Lain”—sebagai objek yang dimaknai oleh pandangan dominan. Pertanyaan inilah yang dibincangkan dalam diskusi Ngemper #103. Buku tersebut adalah memoar yang mengisahkan pengalaman Aurelie sebagai remaja 15 tahun yang mengalami manipulasi dan kekerasan seksual dalam relasi beracun dengan seorang lelaki bernama Bobby. Namun, diskusi ini tidak berhenti pada kisah pola relasi beracun. Ia bergerak lebih jauh—membaca pengalaman Aurelie sebagai pengalaman menjadi liyan.
Liyan: Identitas yang Dibentuk dari Perbedaan dan Kuasa Donny Danardono memulai pembacaan dengan meminjam pemikiran Jacques Derrida, seorang filsuf postmodernisme Prancis, tentang bagaimana identitas dibentuk melalui perbedaan. Dalam perspektif Derrida, makna tidak pernah hadir secara alamiah. Ia terbentuk melalui relasi pembeda—sesuatu bermakna karena ia bukan yang lain. Identitas manusia pun demikian. “Normal” hanya bermakna karena ada yang didefinisikan “tidak normal”. “Beradab” hanya mungkin karena ada yang dilabeli “tidak beradab”. Di sinilah konsep liyan (the Other) bekerja. Dalam memoarnya, Aurelie menuliskan pengalaman tumbuh di Brussel sebagai anak berdarah Indonesia dengan warna kulit yang tidak seputih teman-temannya dan logat bahasa Prancis yang disebutnya sebagai broken French. Ia menulis, “Seolah wajah dan suaraku sama-sama mengkhianatiku, mengingatkanku bahwa aku tak sepenuhnya cocok dengan dunia di sekitarku”. Sebagai anak dari keluarga dengan kondisi ekonomi terbatas, ia juga mengalami perundungan di sekolah baik secara psikis dan fisik. Di ruang sosial yang didominasi oleh orang Belgia, ia menjadi liyan—yang berbeda, yang tidak pas, yang direndahkan, ini menghancurkan kepercayaan dirinya. Namun pengalaman menjadi liyan tidak berhenti di sana. Ketika pindah ke Indonesia, identitasnya kembali dinegosiasikan. Tubuhnya yang dianggap “bule”, kulitnya yang lebih terang, dan logat bahasa Indonesianya yang patah-patah justru menjadi daya tarik. Ia memenangkan lomba bakat, masuk industri hiburan, dan menjadi pesohor, dengan membintangi iklan, sinetron, film layar lebar, bisa menafkahi ibu, adik dan neneknya. Apakah ini berarti ia tidak lagi menjadi liyan? Menurut Donny Danardono, tidak. Ia tetap liyan—hanya dalam bentuk berbeda. “Yang dibeli dari dirinya bukan kepribadiannya, tetapi tubuhnya yang dianggap eksotik,” tegasnya dalam diskusi. Ia dipuja, tetapi tetap sebagai objek. Direndahkan dan di eksotisasi adalah dua sisi dari mekanisme yang sama: perempuan tidak diposisikan sebagai subjek yang utuh. Grooming: Ketika Pujian Menjadi Pintu Masuk Kekerasan Relasi Aurelie dengan Bobby memperlihatkan bagaimana ke-liyan-an menjadi pintu masuk manipulasi. Donny Danardono menjelaskan bahwa kekerasan dalam buku ini tidak dimulai dengan pemaksaan fisik, melainkan dengan grooming—proses manipulasi psikologis yang perlahan membangun ketergantungan dan ketakutan. Salah satu kutipan yang dibacakan dalam diskusi berbunyi: “Kemurnianmu itu langka, kamu itu langka. Kamu tidak seperti gadis-gadis liar di luar sana.” Kalimat ini terdengar sebagai pujian. Namun ia membangun oposisi: perempuan lain “liar”, Aurelie “murni”. Dalam logika oposisi biner yang dijelaskan Derrida, kategori seperti ini selalu bersifat hierarkis. Satu ditempatkan lebih tinggi, yang lain direndahkan. Melalui pujian tersebut, Bobby membangun citra bahwa Aurelie istimewa—berbeda dari perempuan lain. Tetapi keistimewaan itu segera berubah menjadi kontrol. Ia mulai mengatur, membatasi, menciptakan ketakutan. Bahkan dalam buku diceritakan bahwa Aurelie menjadi lebih takut pada Bobby dibandingkan pada ibunya sendiri. Nihayatul Mukharomah menegaskan bahwa pola ini bukan cerita tunggal. Dalam praktik pendampingan, LRC-KJHAM menemukan banyak kasus child grooming, termasuk oleh figur otoritas seperti guru agama atau kyai. Dalam salah satu kasus, ajaran agama dipelintir untuk menakut-nakuti korban anak dan membenarkan relasi seksual yang berlangsung bertahun-tahun. Relasi kuasa—berbasis usia, gender, agama—menciptakan ketimpangan yang membuat korban sulit menyadari bahwa ia sedang mengalami kekerasan. Antara Hukum dan Struktur Patriarki Dalam sesi tanya jawab, muncul pertanyaan dari akun @Ima13456: apa yang dapat dilakukan ketika kita menemukan kasus “Aurelie lain” di sekitar kita? Nihayatul Mukharomah menekankan pentingnya pendekatan empatik, asesmen, konseling, dan ruang aman. Korban perlu diyakinkan bahwa ia memiliki hak atas keadilan dan pemulihan. Sementara itu, Donny Danardono mengingatkan bahwa perlawanan tidak selalu harus melalui jalur hukum. “Apa yang dilakukan Aurelie dengan menulis buku, itu juga sebuah perlawanan,” ujarnya. Ia mengkritik bahwa hukum—termasuk UU TPKS—penting untuk memproses pelaku, tetapi belum tentu menyentuh akar persoalan pada struktur patriarki yang terus mereproduksi pembedaan dan ketimpangan. Hukum bekerja pada level kasus, sementara patriarki bekerja pada level budaya dan makna. Dalam perspektif Derrida, selama oposisi biner seperti “perempuan baik/perempuan liar”, “murni/tidak murni”, “normal/menyimpang” terus direproduksi, diskriminasi akan terus menemukan bentuknya. Menulis sebagai Upaya Dekonstruksi Jika identitas dibentuk oleh bahasa, maka menulis sebagai upaya membongkar bahasa itu sendiri. Dengan menarasikan pengalaman, Aurelie yang lekat sebagai liyan, tidak lagi menerima begitu saja definisi yang dilekatkan padanya—sebagai anak miskin, sebagai perempuan eksotis, sebagai korban. Ia merebut kembali makna atas tubuh dan hidupnya. Diskusi Ngemper #103 ini menunjukkan bahwa membaca pun dapat menjadi tindakan politis. Membaca secara kritis berarti menyadari bagaimana kita, sering tanpa sadar, ikut memproduksi makna tentang liyan dan relasi dalam keseharian—melalui komentar tentang warna kulit, logat bicara, tubuh, atau cara berpakaian yang direndahkan maupun yang dipuja. Menjadi liyan bukan sekadar pengalaman individual. Ia adalah produk struktur sosial—kolonial, rasial, patriarkal. Namun sebagaimana ditunjukkan dalam diskusi ini, konstruksi itu bukan sesuatu yang tak tergoyahkan. Ia dapat digugat—melalui hukum, pendampingan, pendidikan kesadaran tubuh, dan juga melalui narasi. Membaca Broken Strings pada akhirnya bukan hanya tentang mengikuti kisah patah seorang remaja perempuan muda. Ia adalah undangan untuk membongkar cara kita memaknai konstruksi budaya patriarki terhadap tubuh perempuan. Dan dari sana, kita belajar kembali untuk berhenti menciptakan “yang lain”—dan lebih berani membangun relasi yang setara. (Ina Irawati) Comments are closed.
|
Jurnal Perempuan
terindeks di: Archives
March 2026
Categories |

RSS Feed