Jurnal Perempuan
  • TENTANG KAMI
    • Profil
    • Kontak
    • Laporan Tahunan
    • Demo Suara Ibu Peduli
    • Rilis JP
  • Jurnal Perempuan
    • Indonesian Feminist Journal
    • Kirim Tulisan
  • YJP PRESS
    • Buku Seri YJP Press
  • KAFFE
    • Booklet KAFFE
  • Podcast JP
    • Radio JP
  • Sahabat JP
    • Daftar Nama SJP
    • International Friends of JP
    • Blog SJP
    • Gathering SJP
  • Wacana Feminis
    • Tokoh Feminis
    • Cerpen/Puisi Feminis
  • Warta Feminis
  • Warung JP
    • Daftar Toko Buku
  • Toeti Heraty Scholarship
    • Biodata Penerima Beasiswa 2022
    • Biodata Penerima Beasiswa 2023
    • Biodata Penerima Beasiswa 2024
    • Biodata Penerima Beasiswa 2025
Warta Feminis

Mengingat Teks, Melupakan Perempuan: Membaca Proklamasi dari Catatan Pinggiran

4/5/2026

 
PictureDok. Jurnal Perempuan
     Narasi besar tentang kelahiran Republik Indonesia kembali dipertanyakan dalam Dialog Republik “Lahirnya Negara Indonesia” yang diselenggarakan Forum 2045, UGM, dan Nalar Institute di Ballroom UC UGM, Yogyakarta, pada Kamis (30/4). Di tengah diskursus sejarah yang selama ini sarat dominasi tokoh laki-laki, forum ini menyoroti satu hal yang kerap luput: absennya perempuan dalam ingatan kolektif proklamasi. Agenda ini dihadiri oleh para ahli sebagai narasumber dan penanggap serta dihadiri juga oleh Prof. Dr. M. Baiquni, M.A. selaku Ketua Dewan Guru Besar UGM.


     Dra. Jaleswari Pramodhawardani, M. Hum. (Kepala Lab 45) memulai dengan statemen bahwa yang pantas disebut sebagai pelaku sejarah tidak hanya mereka yang membaca teks atau menandatangani dokumen, tetapi juga mereka yang bekerja di balik layar. Ia menyinggung bagaimana kerja perempuan sering ditempatkan sebagai pendukung, “Kerja perempuan sebagai pekerja pinggiran adalah bentuk ketidakadilan epistemik, maka dimana posisi kita?” Baginya selama pertanyaan itu masih hidup, selama itu republik akan tetap hidup.

     Hal ini sejalan dengan pemaparan Prof. Alimatul Qibtiyah, S.Ag., M.Si, Ph.D. seorang guru besar UIN Sunan Kalijaga yang membaca proklamasi sebagai teks historis berlapis. Ia menyoroti bahwa narasi proklamasi sejak awal dibangun dalam struktur yang maskulin, baik dalam tindakan verbal maupun nonverbal, mulai dari representasi tokoh hingga konstruksi simbolik yang mengabaikan kontribusi perempuan. 

     Perspektif ini diperkuat oleh Milda Longgeita Br. Pinem (Dosen PSdK Fisipol UGM) yang menyatakan bahwa masyarakat lebih mudah mengingat teks proklamasi dibandingkan mereka yang menjahit bendera. Pernyataan ini menjadi kritik atas cara sejarah diajarkan lebih menekankan produk akhir daripada proses dan aktor yang terlibat di dalamnya.

     Nada paling tajam dalam forum ini disampaikan oleh Okky Madasari yang membuka dengan frasa, “Proklamasi—hidup segan mati tak mau.” Ia mengkritik keras cara belajar sejarah yang tercerabut dari konteks, yang pada akhirnya hanya melahirkan depolitisasi dan romantisasi masa lalu. Padahal, menurutnya, problem republik hari ini justru terletak pada hal-hal yang nyata: ketimpangan ekonomi, pemusatan kekuasaan dalam bentuk oligarki yang merupakan kelanjutan dari logika kolonial, pelemahan demokrasi, hingga kriminalisasi warga—termasuk kasus pelajar di Kediri yang dipenjara pada Agustus 2025.

     Mengutip gagasan Benedict Anderson tentang bangsa sebagai imagined community, Okky menilai kekecewaan yang salah satunya termanifestasi dalam tagar #kaburajadulu tidak bisa dibaca semata sebagai krisis nasionalisme, melainkan sebagai respons atas kegagalan negara memenuhi kontrak sosialnya. Alih-alih menghadirkan perubahan, respons negara justru cenderung menyalahkan warganya. Dalam hal ini, ia menegaskan bahwa, “Kita tidak kekurangan tafsir sejarah, tapi kekurangan kebenaran politik.”

     Ia pun menawarkan arah yang lebih konkret: mengembalikan kedaulatan rakyat dalam praktik, memastikan negara kembali menjadi milik publik—bukan pemodal—mewujudkan keadilan sosial yang nyata, membangun ‘inklusivitas’, serta menjadikan proklamasi sebagai ingatan yang hidup dalam keseharian.
Picture
Dok. Jurnal Perempuan
     Dalam sesi tanggapan, Kalis Mardiasih menyampaikan kritik. Ia menyebut bahwa republik belum sepenuhnya hadir bagi perempuan dan anak. Akses terhadap sumber daya, ruang publik, hingga kebijakan masih menunjukkan ketimpangan yang signifikan. “Perempuan sering kali harus ‘urunan’ sendiri untuk memenuhi kebutuhan dasarnya,” ungkapnya. Kalis Mardiasih menyampaikan ketakutannya sudah muncul terhadap negara ketika Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) menolak banding publik atas penghapusan tragedi pemerkosaan 1998 dari narasi sejarah oleh Fadli Zon. 

     Kondisi ini juga tercermin dalam sektor kesehatan. Diah Saminarsih mengungkapkan bahwa sekitar 70 persen stakeholder kesehatan adalah perempuan, tetapi keterlibatan mereka dalam pengambilan kebijakan masih di bawah 30 persen. Sementara itu, Dhivana Anarchia Ria Lay melihat adanya pergeseran cara generasi muda membaca sejarah. Ia menilai bahwa pendekatan tekstual selama ini menyembunyikan banyak bagian yang tidak terlihat, termasuk kontribusi perempuan. “Sejarah menyimpan banyak yang tak terlihat, dan itu bisa kita baca dari konteks hari ini.”

     ​Forum ini juga menyinggung upaya penghapusan memori kolektif, termasuk kasus penghilangan narasi kekerasan terhadap perempuan dalam sejarah nasional. Hal ini menimbulkan kekhawatiran bahwa negara tidak hanya gagal mencatat perempuan, tetapi juga berpotensi menghapus jejaknya. Diskusi ini mengarah pada satu kesimpulan, yakni Indonesia tidak kekurangan tafsir sejarah, tetapi kekurangan keberanian untuk mengakui kebenaran yang tidak nyaman. (Hana Rusmalia)

Comments are closed.
    Jurnal Perempuan
    ​
    terindeks di:
    Picture

    Archives

    May 2026
    April 2026
    March 2026
    February 2026
    January 2026
    December 2025
    November 2025
    October 2025
    September 2025
    August 2025
    July 2025
    June 2025
    May 2025
    April 2025
    March 2025
    February 2025
    January 2025
    December 2024
    November 2024
    October 2024
    September 2024
    August 2024
    July 2024
    June 2024
    May 2024
    April 2024
    March 2024
    February 2024
    January 2024
    December 2023
    November 2023
    October 2023
    September 2023
    August 2023
    July 2023
    June 2023
    May 2023
    April 2023
    March 2023
    February 2023
    January 2023
    December 2022
    November 2022
    October 2022
    September 2022
    August 2022
    July 2022
    June 2022
    May 2022
    April 2022
    March 2022
    February 2022
    January 2022
    December 2021
    November 2021
    October 2021
    September 2021
    August 2021
    July 2021
    June 2021
    April 2021
    March 2021
    February 2021
    January 2021
    December 2020
    October 2020
    August 2020
    July 2020
    June 2020
    April 2020
    March 2020
    February 2020
    January 2020
    December 2019
    November 2019
    October 2019
    September 2019
    August 2019
    July 2019
    June 2019
    May 2019
    April 2019
    March 2019
    February 2019
    January 2019
    December 2018
    November 2018
    October 2018
    September 2018
    August 2018
    July 2018
    June 2018
    May 2018
    April 2018
    March 2018
    February 2018
    January 2018
    December 2017
    October 2017
    September 2017
    August 2017
    July 2017
    June 2017
    May 2017
    April 2017
    March 2017
    December 2016
    November 2016
    September 2016
    August 2016
    July 2016
    June 2016
    May 2016
    April 2016
    March 2016
    February 2016
    January 2016
    December 2015
    November 2015
    October 2015
    September 2015
    August 2015
    July 2015
    June 2015
    May 2015
    April 2015
    March 2015
    February 2015
    January 2015
    December 2014
    November 2014
    October 2014
    September 2014
    August 2014
    July 2014
    June 2014

    Categories

    All

    RSS Feed

Yayasan Jurnal Perempuan| Alamanda Tower, 25th Floor | Jl. T.B. Simatupang Kav. 23-24 Jakarta 12430 | Telp. +62 21 2965 7992 Fax. +62 21 2927 7888 | [email protected]
  • TENTANG KAMI
    • Profil
    • Kontak
    • Laporan Tahunan
    • Demo Suara Ibu Peduli
    • Rilis JP
  • Jurnal Perempuan
    • Indonesian Feminist Journal
    • Kirim Tulisan
  • YJP PRESS
    • Buku Seri YJP Press
  • KAFFE
    • Booklet KAFFE
  • Podcast JP
    • Radio JP
  • Sahabat JP
    • Daftar Nama SJP
    • International Friends of JP
    • Blog SJP
    • Gathering SJP
  • Wacana Feminis
    • Tokoh Feminis
    • Cerpen/Puisi Feminis
  • Warta Feminis
  • Warung JP
    • Daftar Toko Buku
  • Toeti Heraty Scholarship
    • Biodata Penerima Beasiswa 2022
    • Biodata Penerima Beasiswa 2023
    • Biodata Penerima Beasiswa 2024
    • Biodata Penerima Beasiswa 2025