Jurnal Perempuan
  • TENTANG KAMI
    • Profil
    • Kontak
    • Laporan Tahunan
    • Demo Suara Ibu Peduli
    • Rilis JP
  • Jurnal Perempuan
    • Indonesian Feminist Journal
    • Kirim Tulisan
  • YJP PRESS
    • Buku Seri YJP Press
  • KAFFE
    • Booklet KAFFE
  • Podcast JP
    • Radio JP
  • Sahabat JP
    • Daftar Nama SJP
    • International Friends of JP
    • Blog SJP
    • Gathering SJP
  • Wacana Feminis
    • Tokoh Feminis
    • Cerpen/Puisi Feminis
  • Warta Feminis
  • Warung JP
    • Daftar Toko Buku
  • Toeti Heraty Scholarship
    • Biodata Penerima Beasiswa 2022
    • Biodata Penerima Beasiswa 2023
    • Biodata Penerima Beasiswa 2024
    • Biodata Penerima Beasiswa 2025
    • Biodata Penerima Beasiswa 2026
Warta Feminis

Membumikan Pendidikan Iklim untuk Kaum Muda

5/6/2026

 
PictureDok. Jurnal Perempuan
     Berbicara mengenai isu iklim, pelibatan seluruh lapisan masyarakat menjadi penting untuk dilakukan. Anak-anak hingga lansia, tanpa pandang bulu, kini menjadi korban bagi krisis iklim itu sendiri. Sayangnya, suara anak-anak dan kaum muda kerap kali diremehkan bahkan diabaikan dalam pengambilan keputusan maupun perencanaan dalam diskursus ini. 
​

      Berangkat dari keresahan itu, Pusat Kajian dan Advokasi Perlindungan dan Kualitas Hidup Anak Universitas Indonesia (PUSKAPA UI) bersama Australian National University (ANU), dengan dukungan Pemerintah Australia melalui program KONEKSI, meluncurkan Modul Kaum Muda: Lab Aksi Iklim dalam acara diseminasi bertajuk “Memperkuat Literasi Iklim Kritis dan Partisipasi Anak dan Kaum Muda untuk Keadilan Iklim”. Kegiatan ini diselenggarakan di Hotel Ashley Wahid Hasyim, Jakarta, pada Kamis (6/4/2026) dan menghadirkan perwakilan pemerintah, akademisi, organisasi masyarakat sipil, hingga subjek dari wilayah riset seperti Jakarta, Pekalongan, dan Pontianak.

     Namun, sebelum acara diskusi dimulai, terdapat pameran yang merupakan hasil olahan dari perwakilan kaum muda di tiga wilayah tersebut. Saya berkesempatan berbincang dengan tiga perwakilan komunitas muda dari Pontianak, Pekalongan, dan Jakarta Utara. Ketiganya menceritakan bagaimana krisis iklim hadir dalam bentuk yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Apis, perwakilan dari Pontianak menyoroti pencemaran Sungai Kapuas akibat industri ekstraktif seperti tambang dan perkebunan sawit. Menurutnya, kerusakan lingkungan menyebabkan suhu menjadi semakin ekstrem dan menurunnya kualitas Sungai Kapuas.
Picture
Dok. Jurnal Perempuan
         Sementara itu, Mubina dari Pekalongan bercerita tentang persoalan sampah dan krisis air bersih di wilayah pesisir yang terus terdampak rob. Air laut bahkan sampai menggenangi sawah yang menjadi mata pencaharian masyarakat. Adapun Rina dari Koja, Jakarta Utara, menceritakan bagaimana warga harus hidup berdampingan dengan perusahaan minyak dan gas milik negara yang aktivitasnya kerap menimbulkan polusi udara dan suara. Selain menghadapi polusi dan persoalan lingkungan, warga juga mengalami kesulitan mendapatkan air bersih sehingga harus membeli air menggunakan jerigen.

    
Acara pun dimulai dengan sambutan dari perwakilan Pemerintah Australia melalui KONEKSI, Ria Arif, menyampaikan bahwa kolaborasi Indonesia dan Australia mendorong lahirnya inovasi pembangunan yang inklusif, termasuk dalam isu perubahan iklim. Ia menilai riset yang dilakukan PUSKAPA UI penting karena tidak berhenti pada penelitian, tetapi juga menghadirkan dampak nyata bagi komunitas. Selain itu, upaya ini penting dilakukan untuk menghadirkan pengalaman hidup kelompok marginal, termasuk anak dan kaum muda, ke dalam riset dan implementasi kebijakan.

       
Sementara itu, perwakilan Bappenas, Endang Sulastri, menegaskan bahwa perubahan iklim adalah realitas yang sudah dirasakan saat ini. Menurutnya, Indonesia menghadapi tantangan ganda, yaitu bonus demografi menuju Indonesia Emas 2045 dan dampak perubahan iklim yang memperbesar kerentanan terhadap isu lingkungan, kesehatan, pendidikan, kesejahteraan keluarga, hingga kesehatan mental kaum muda melalui fenomena climate anxiety.

       
Hal senada disampaikan perwakilan Kemenko PMK, Woro Srihastuti Sulistyaningrum. Ia menyebut perubahan iklim berkaitan erat dengan pembangunan manusia dan kualitas hidup keluarga. Menurut Woro, pendidikan iklim tidak cukup hanya mengenalkan istilah ilmiah, tetapi juga harus membuka ruang partisipasi bermakna bagi anak dan kaum muda. Ia menambahkan bahwa pendidikan iklim perlu menjangkau seluruh kelompok anak, termasuk anak disabilitas, anak pesisir, dan anak dari komunitas marginal.
​
      
Dalam sesi pemaparan, tim PUSKAPA UI menjelaskan bahwa modul ini dikembangkan berdasarkan penelitian pada 2024 silam di tiga wilayah, yaitu Jakarta, Pekalongan, dan Pontianak dengan menggandeng perwakilan dari kaum muda dari latar belakang yang beragam. Ketiga wilayah dipilih karena memiliki pengalaman berbeda terkait dampak perubahan iklim, mulai dari banjir kronis, rob, polusi udara, hingga kabut asap.
Picture
Dok. Jurnal Perempuan
     Peneliti PUSKAPA UI, Widi Laras Sari, menjelaskan bahwa banyak anak muda sebenarnya mengalami dampak perubahan iklim setiap hari, tetapi tidak memiliki “bahasa politik” untuk memahami pengalaman tersebut sebagai bagian dari masalah struktural. “Mereka menganggap banjir mingguan, panas ekstrem, atau kabut asap sebagai sesuatu yang biasa, padahal itu memengaruhi kenyamanan hidup, belajar, dan kesehatan mereka,” jelasnya.

     
Temuan mereka menunjukkan bahwa pendidikan iklim yang ada selama ini masih berfokus pada sekolah formal, kota besar, dan sering kali bergantung pada akses digital. Akibatnya, banyak kaum muda dari komunitas marginal tidak terjangkau. Oleh karena itu, Modul Lab Aksi Iklim dirancang sebagai modul pendidikan nonformal yang dapat digunakan secara tatap muka dan mudah diakses, termasuk oleh kaum muda dengan kemampuan literasi yang beragam.
​
   
Modul ini terdiri dari lima fase pembelajaran. Fase pertama mengajak para kaum muda mengenali dan mendefinisikan perubahan lingkungan di sekitar mereka. Fase kedua membahas strategi adaptasi dan mitigasi perubahan iklim. Fase ketiga mengenalkan tata kelola dan kebijakan perubahan iklim, termasuk lembaga-lembaga yang dapat mereka ajak berdiskusi. Sementara itu, fase keempat mendorong mereka memahami hubungan antara pengalaman sehari-hari dengan hak-hak mereka sebagai manusia, anak, dan kaum muda. Pada fase terakhir, mereka diajak menyuarakan pendapat melalui berbagai medium, seperti surat, foto, atau bentuk ekspresi lainnya.
Picture
Dok. Jurnal Perempuan
     Tim peneliti PUSKAPA UI lainnya, Sheila Teiken, menjelaskan bahwa proses fasilitasi menunjukkan bagaimana perubahan iklim sering kali hadir secara perlahan dan dianggap normal oleh masyarakat. Di Pontianak, misalnya, banjir justru dipandang sebagian anak sebagai bagian dari keseharian dan ruang bermain. Namun, pengalaman tersebut berbeda bagi kelompok lain, termasuk teman-teman disabilitas.

     
“Perubahan iklim tidak dirasakan sama oleh semua orang. Teman netra, misalnya, menghadapi tantangan tambahan ketika jalan menjadi licin atau sulit menemukan tempat berteduh saat cuaca ekstrem,” jelas Sheila.

   
Menurutnya, pendidikan iklim perlu membantu kaum muda menghubungkan pengalaman pribadi dengan persoalan struktural. Dengan begitu, keresahan individu dapat berubah menjadi pemahaman kolektif. Hal ini karena sering kali masyarakat di daerah terdampak justru menganggap perubahan yang disebabkan oleh krisis iklim itu bukan menjadi suatu masalah. Padahal, perubahan hidup yang dialami oleh seorang individu pun bisa mengindikasikan adanya masalah besar yang perlu segera ditindak. 

    
Melalui peluncuran Modul Lab Aksi Iklim, PUSKAPA UI berharap pendidikan iklim dapat lebih dekat dengan pengalaman sehari-hari kaum muda dan kelompok marginal lainnya tidak lagi dipahami sebagai isu yang jauh atau abstrak. Sebab, bagi kaum muda di wilayah terdampak, perubahan iklim bukan sekadar data atau teori, melainkan kenyataan yang mereka hadapi setiap hari.

    
Namun, saat mendengar sesi pemaparan dan diskusi, saya melakukan beberapa refleksi dan catatan penting terhadap proses riset maupun fasilitasi ke depannya. Pembicaraan soal pelibatan anak dan kaum muda tidak dapat dilepaskan dari peran orang dewasa di sekitar mereka, terutama orang tua sebagai duty bearer terdekat. Dalam pemaparan dijelaskan bahwa kaum muda sering kali tidak memiliki ruang aman untuk menyuarakan keresahan mereka, bahkan di lingkungan keluarga sendiri. Ketika mencoba membicarakan persoalan lingkungan atau kebijakan, mereka kerap dianggap “belum mengerti urusan orang dewasa”. 

    
Situasi ini menunjukkan bahwa pendidikan iklim tidak cukup hanya menyasar anak dan kaum muda, tetapi juga perlu melibatkan orang tua dan komunitas di sekitar mereka agar tercipta ruang dialog yang lebih aman, suportif, dan setara. Tanpa perubahan cara pandang orang dewasa terhadap suara anak muda, partisipasi bermakna akan sulit terwujud karena anak dan kaum muda tetap ditempatkan sebagai objek. Artinya, masih terdapat relasi kuasa karena suara mereka sebagai subjek yang memiliki pengalaman, pengetahuan, dan hak masih tak diakomodasi oleh lingkungan terdekatnya.

     
Selain itu, isu gender juga menjadi sorotan penting dalam diskusi. Relasi gender yang timpang membuat kaum muda, khususnya perempuan, berada pada posisi yang lebih rentan menghadapi dampak krisis iklim. Sayangnya, sensitivitas terhadap beban kerja perempuan masih minim. Dalam sesi diskusi, dua peserta masih menitikberatkan solusi iklim pada kerja-kerja perempuan, seperti menyebutkan partisipasi kelompok PKK untuk mengelola bank sampah maupun upaya perempuan untuk mengatur keuangan keluarga agar laki-laki berhenti merokok. Padahal, perempuan selama ini telah memikul banyak pekerjaan domestik dan sosial yang masih belum mendapatkan pengakuan berarti.
​
     
Saya pun bersepakat dengan pemaparan salah satu peserta diskusi lainnya yang menitikberatkan permasalahan pada korporasi dan negara sebagai pihak yang paling bertanggung jawab atas terjadinya krisis iklim. Terlebih, jika ditarik melalui kacamata global, situasi ini diperparah oleh negara-negara Barat yang selama ini diuntungkan oleh industrialisasi dan ekstraksi sumber daya, tetapi justru membebankan dampak ekologisnya kepada negara-negara berkembang dan kepulauan kecil yang kontribusi emisi karbonnya jauh lebih rendah. Akibatnya, kelompok yang paling sedikit menyumbang kerusakan lingkungan justru menjadi pihak paling terdampak menghadapi bencana ekologis hingga hilangnya ruang hidup. (Alifia Putri Yudanti)

Comments are closed.
    Jurnal Perempuan
    ​
    terindeks di:
    Picture

    Archives

    July 2026
    June 2026
    May 2026
    April 2026
    March 2026
    February 2026
    January 2026
    December 2025
    November 2025
    October 2025
    September 2025
    August 2025
    July 2025
    June 2025
    May 2025
    April 2025
    March 2025
    February 2025
    January 2025
    December 2024
    November 2024
    October 2024
    September 2024
    August 2024
    July 2024
    June 2024
    May 2024
    April 2024
    March 2024
    February 2024
    January 2024
    December 2023
    November 2023
    October 2023
    September 2023
    August 2023
    July 2023
    June 2023
    May 2023
    April 2023
    March 2023
    February 2023
    January 2023
    December 2022
    November 2022
    October 2022
    September 2022
    August 2022
    July 2022
    June 2022
    May 2022
    April 2022
    March 2022
    February 2022
    January 2022
    December 2021
    November 2021
    October 2021
    September 2021
    August 2021
    July 2021
    June 2021
    April 2021
    March 2021
    February 2021
    January 2021
    December 2020
    October 2020
    August 2020
    July 2020
    June 2020
    April 2020
    March 2020
    February 2020
    January 2020
    December 2019
    November 2019
    October 2019
    September 2019
    August 2019
    July 2019
    June 2019
    May 2019
    April 2019
    March 2019
    February 2019
    January 2019
    December 2018
    November 2018
    October 2018
    September 2018
    August 2018
    July 2018
    June 2018
    May 2018
    April 2018
    March 2018
    February 2018
    January 2018
    December 2017
    October 2017
    September 2017
    August 2017
    July 2017
    June 2017
    May 2017
    April 2017
    March 2017
    December 2016
    November 2016
    September 2016
    August 2016
    July 2016
    June 2016
    May 2016
    April 2016
    March 2016
    February 2016
    January 2016
    December 2015
    November 2015
    October 2015
    September 2015
    August 2015
    July 2015
    June 2015
    May 2015
    April 2015
    March 2015
    February 2015
    January 2015
    December 2014
    November 2014
    October 2014
    September 2014
    August 2014
    July 2014
    June 2014

    Categories

    All

    RSS Feed

Yayasan Jurnal Perempuan| Alamanda Tower, 25th Floor | Jl. T.B. Simatupang Kav. 23-24 Jakarta 12430 | Telp. +62 21 2965 7992 Fax. +62 21 2927 7888 | [email protected]
  • TENTANG KAMI
    • Profil
    • Kontak
    • Laporan Tahunan
    • Demo Suara Ibu Peduli
    • Rilis JP
  • Jurnal Perempuan
    • Indonesian Feminist Journal
    • Kirim Tulisan
  • YJP PRESS
    • Buku Seri YJP Press
  • KAFFE
    • Booklet KAFFE
  • Podcast JP
    • Radio JP
  • Sahabat JP
    • Daftar Nama SJP
    • International Friends of JP
    • Blog SJP
    • Gathering SJP
  • Wacana Feminis
    • Tokoh Feminis
    • Cerpen/Puisi Feminis
  • Warta Feminis
  • Warung JP
    • Daftar Toko Buku
  • Toeti Heraty Scholarship
    • Biodata Penerima Beasiswa 2022
    • Biodata Penerima Beasiswa 2023
    • Biodata Penerima Beasiswa 2024
    • Biodata Penerima Beasiswa 2025
    • Biodata Penerima Beasiswa 2026