Jurnal Perempuan
  • TENTANG KAMI
    • Profil
    • Kontak
    • Laporan Tahunan
    • Demo Suara Ibu Peduli
    • Rilis JP
  • Jurnal Perempuan
    • Indonesian Feminist Journal
    • Kirim Tulisan
  • YJP PRESS
    • Buku Seri YJP Press
  • KAFFE
    • Booklet KAFFE
  • Podcast JP
    • Radio JP
  • Sahabat JP
    • Daftar Nama SJP
    • International Friends of JP
    • Blog SJP
    • Gathering SJP
  • Wacana Feminis
    • Tokoh Feminis
    • Cerpen/Puisi Feminis
  • Warta Feminis
  • Warung JP
    • Daftar Toko Buku
  • Toeti Heraty Scholarship
    • Biodata Penerima Beasiswa 2022
    • Biodata Penerima Beasiswa 2023
    • Biodata Penerima Beasiswa 2024
    • Biodata Penerima Beasiswa 2025
Warta Feminis

Melepaskan Feminisme dari Komodifikasi

14/11/2025

 
PictureDok. Jurnal Perempuan
     Diskusi publik pada tanggal 6 November 2025 yang bertajuk “Komodifikasi Feminisme: Antara Nilai dan Logika Pasar” merupakan diskusi terbuka hasil kolaborasi dari Economica Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) dan Komunitas Mahasiswa Filsafat Universitas Indonesia (KOMAFIL UI). Diskusi ini diisi oleh tiga pembicara: Ruth Indiah Rahayu (Ketua Ikatan Keluarga Alumni STF Driyarkara), Hariati Sinaga (Dosen Studi Kajian Gender UI), dan Asterlita Tirsa Raha (Founder Bhumi Perempuan dan Redaksi Jurnal Perempuan) dan dimoderatori oleh Faiz Abimanyu Wiguna (Asisten Pengajar Filsafat UI). 

     Pada diskusi ini, diungkap percakapan kritis tentang apakah feminisme sebagai gerakan yang berakar pada pembebasan dapat terperangkap dalam logika kapitalisme. Dalam sambutan pembuka dari perwakilan masing-masing pihak, semua sepakat bahwa seharusnya feminisme tidak semerta-merta menjadi komoditas dan terpengaruh dengan kapitalisme. Perlawanan terhadap patriarki harus mengakar dan bebas, tanpa ikatan komodifikasi.

     Acara dibuka dengan monolog dari Ruth Indiah Rahayu yang mempertanyakan perihal, “Mungkinkah feminisme dikomodifikasikan?” Ia menelusuri akar persoalan melalui kacamata Marxian: ketika nilai guna berubah menjadi nilai tukar, semua hal, bahkan kesadaran politis dapat menjadi komoditas. Dapat dilihat misalnya dari klaim ramah lingkungan milik sebuah produk, tetapi tidak bisa dilepaskan fakta bahwa ada pekerja perempuan yang diberi upah rendah atau hak yang tidak terpenuhi ketika menjadi pegawai produk ramah lingkungan tersebut. Menurut Ruth, hal ini merupakan fetisisme komoditas.

     “Bahkan klaim my body is my own bisa berubah menjadi fetisisme baru,” ujar Ruth, “ketika tubuh perempuan dijadikan sarana konsumsi dan penanda status sosial.” Fenomena ini, lanjutnya, memperlihatkan paradoks di zaman digital, perempuan merasa bebas berekspresi di media sosial, padahal kebebasan itu sadar atau tidak, sudah diatur oleh algoritma pasar, dan pada akhirnya akan rumit kelindannya dengan penghapusan objektifikasi terhadap perempuan.

     Faiz memulai diskusi dengan memberikan pertanyaan reflektif, apakah tokoh besar seperti Beyonce yang dikenal memiliki persona sebagai girl power serta feminis, atau mungkin Hillary Clinton dan Kamala Harris—maupun tokoh lain yang dianggap sebagai power perempuan dalam politik—adalah betul-betul feminis ataukah hanya ‘topeng’ saja untuk kepentingan pribadi?

     Hariati Sinaga menyoroti kelindan antara feminisme, digitalisasi, dan logika pasar. Menurutnya, narasi pemberdayaan perempuan kini kerap dijual sebagai produk demokratisasi yang bisa diakses siapa pun, padahal tanpa sadar tetap dikendalikan oleh logika pasar. “Transformasi digital memberi kesan semua orang bisa berpartisipasi,” katanya, “namun partisipasi itu berlangsung di dalam struktur pasar yang sama, hingga kita merasa empowered karena mendapat perhatian di media.” Ia menyebut kondisi ini sebagai bentuk “mediatisasi”, ketika perhatian dan keterlibatan menjadi komoditas baru. Dalam situasi seperti ini, feminisme kerap di-hijack sehingga menjadi bagian dari strategi pemasaran yang menampilkan “wajah progresif” kapitalisme.

     Sementara itu, Asterlita Tirsa Raha membawa persoalan ke konteks yang lebih lokal. Ia menyoroti bagaimana wacana pembangunan di wilayah timur Indonesia kerap digunakan untuk membungkus perluasan kapital. “Halmahera digambarkan sebagai daerah tertinggal, lalu kapitalisme datang membawa industri untuk menjadikannya ‘beradab’,” ujarnya.

     ​Namun, di balik narasi kemajuan, terjadi peminggiran terhadap pengetahuan dan solidaritas lokal. “Kenaikan ekonomi Maluku Utara bisa sampai 32 persen, tapi infrastruktur dan kesejahteraan tak ikut naik,” tambahnya. “Yang hadir justru hiperrealitas pembangunan, ada citra yang tidak sesuai dengan kenyataan.”
Picture
Dok. Jurnal Perempuan
     Ketiga pembicara sepakat bahwa perlawanan terhadap logika pasar menuntut strategi yang berakar pada solidaritas dan kesadaran kolektif, bukan sekadar simbol digital. Ruth menekankan perlunya merebut kembali konsep-konsep feminis yang telah diambil alih kapitalisme, seperti pemberdayaan perempuan dan collective care. Dengan tegas Ruth mengingatkan audiens untuk jangan 100 persen percaya dengan media—mengenai hal apapun. Audiens diimbau untuk selalu cross check apapun yang ditemui di media.

     Dalam sesi tanya jawab, menanggapi pertanyaan tentang ekspresi tubuh, Ruth menegaskan bahwa media sosial hanya memberi ilusi mengenai kebebasan ekspresi. Di balik klaim bebasnya, algoritma bekerja mengarahkan hasrat konsumsi. Seakan merasa bebas, tetapi tanpa sadar sedang dipasarkan oleh algoritma. Ruth mendorong perempuan untuk bebas berekspresi dalam relasi sosial yang riil di mana kebebasan tidak diselingkupi dengan engagement dan algoritma. Hariati menambahkan bahwa perlawanan tak harus spektakuler. Ia menekankan pentingnya ruang-ruang kecil yang terus tumbuh seperti, komunitas, jaringan perawatan, hingga solidaritas sehari-hari. “Bangun yang napasnya panjang, yang lingkupnya dianggap kecil, namun sebetulnya akan menjadi kesatuan yang besar, dan mengakar,” ujarnya. 

     ​Menjawab keresahan tentang emansipasi di tengah hegemoni pasar, Ruth mengakui bahwa politik elektoral pun kini menjadi komoditas. Ia menawarkan strategi degrowth memperlambat konsumsi dan menumbuhkan kemandirian ekonomi melalui jejaring lokal. Sementara Asterlita menutup dengan refleksi: “Ketika melihat perlawanan, harus dilihat berbagai variabel, hingga yang subtil sekali. Ada banyak cara melihat perlawanan dan keberhasilan, dan masing-masing berbeda. Jangan sampai seakan tidak ada hasil membuat kita jadi kerdil dan berhenti melawan,” tegasnya.

     Ajakan dari Ruth membekas hingga tuntas acara, “Kapitalisme tidak bisa dilawan secara langsung. Strateginya adalah memperlambat logika konsumsi, dengan cara hidup berkelanjutan, mencukupi diri sendiri, dan membangun jejaring lokal.” (Putri Nurfitriani)

Comments are closed.
    Jurnal Perempuan
    ​
    terindeks di:
    Picture

    Archives

    December 2025
    November 2025
    October 2025
    September 2025
    August 2025
    July 2025
    June 2025
    May 2025
    April 2025
    March 2025
    February 2025
    January 2025
    December 2024
    November 2024
    October 2024
    September 2024
    August 2024
    July 2024
    June 2024
    May 2024
    April 2024
    March 2024
    February 2024
    January 2024
    December 2023
    November 2023
    October 2023
    September 2023
    August 2023
    July 2023
    June 2023
    May 2023
    April 2023
    March 2023
    February 2023
    January 2023
    December 2022
    November 2022
    October 2022
    September 2022
    August 2022
    July 2022
    June 2022
    May 2022
    April 2022
    March 2022
    February 2022
    January 2022
    December 2021
    November 2021
    October 2021
    September 2021
    August 2021
    July 2021
    June 2021
    April 2021
    March 2021
    February 2021
    January 2021
    December 2020
    October 2020
    August 2020
    July 2020
    June 2020
    April 2020
    March 2020
    February 2020
    January 2020
    December 2019
    November 2019
    October 2019
    September 2019
    August 2019
    July 2019
    June 2019
    May 2019
    April 2019
    March 2019
    February 2019
    January 2019
    December 2018
    November 2018
    October 2018
    September 2018
    August 2018
    July 2018
    June 2018
    May 2018
    April 2018
    March 2018
    February 2018
    January 2018
    December 2017
    October 2017
    September 2017
    August 2017
    July 2017
    June 2017
    May 2017
    April 2017
    March 2017
    December 2016
    November 2016
    September 2016
    August 2016
    July 2016
    June 2016
    May 2016
    April 2016
    March 2016
    February 2016
    January 2016
    December 2015
    November 2015
    October 2015
    September 2015
    August 2015
    July 2015
    June 2015
    May 2015
    April 2015
    March 2015
    February 2015
    January 2015
    December 2014
    November 2014
    October 2014
    September 2014
    August 2014
    July 2014
    June 2014

    Categories

    All

    RSS Feed

Yayasan Jurnal Perempuan| Alamanda Tower, 25th Floor | Jl. T.B. Simatupang Kav. 23-24 Jakarta 12430 | Telp. +62 21 2965 7992 Fax. +62 21 2927 7888 | [email protected]
  • TENTANG KAMI
    • Profil
    • Kontak
    • Laporan Tahunan
    • Demo Suara Ibu Peduli
    • Rilis JP
  • Jurnal Perempuan
    • Indonesian Feminist Journal
    • Kirim Tulisan
  • YJP PRESS
    • Buku Seri YJP Press
  • KAFFE
    • Booklet KAFFE
  • Podcast JP
    • Radio JP
  • Sahabat JP
    • Daftar Nama SJP
    • International Friends of JP
    • Blog SJP
    • Gathering SJP
  • Wacana Feminis
    • Tokoh Feminis
    • Cerpen/Puisi Feminis
  • Warta Feminis
  • Warung JP
    • Daftar Toko Buku
  • Toeti Heraty Scholarship
    • Biodata Penerima Beasiswa 2022
    • Biodata Penerima Beasiswa 2023
    • Biodata Penerima Beasiswa 2024
    • Biodata Penerima Beasiswa 2025