Jurnal Perempuan
  • TENTANG KAMI
    • Profil
    • Kontak
    • Laporan Tahunan
    • Demo Suara Ibu Peduli
    • Rilis JP
  • Jurnal Perempuan
    • Indonesian Feminist Journal
    • Kirim Tulisan
  • YJP PRESS
    • Buku Seri YJP Press
  • KAFFE
    • Booklet KAFFE
  • Podcast JP
    • Radio JP
  • Sahabat JP
    • Daftar Nama SJP
    • International Friends of JP
    • Blog SJP
    • Gathering SJP
  • Wacana Feminis
    • Tokoh Feminis
    • Cerpen/Puisi Feminis
  • Warta Feminis
  • Warung JP
    • Daftar Toko Buku
  • Toeti Heraty Scholarship
    • Biodata Penerima Beasiswa 2022
    • Biodata Penerima Beasiswa 2023
    • Biodata Penerima Beasiswa 2024
    • Biodata Penerima Beasiswa 2025
Warta Feminis

Melawan Lupa, Merawat Resistensi: Mendengar Kembali Suara Perempuan di Pendidikan Publik 120

11/12/2025

 
PictureDok. Jurnal Perempuan
     Senin (8/12/25) lalu, Pendidikan Publik 120 Jurnal Perempuan dilangsungkan di Aula D Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya Jakarta. Pendidikan Publik 120 merupakan sebuah upaya membuka kembali halaman-halaman sejarah perempuan yang selama puluhan tahun diredam oleh rezim Orde Baru. Acara ini menegaskan bahwa melawan lupa bukan hanya tugas akademik, melainkan etika politik untuk merawat demokrasi.

     Direktur Eksekutif Yayasan Kurawal, Darmawan Triwibowo, mengingatkan bagaimana sejarah kerap ditulis para “pemenang” dan membuat suara rakyat menjadi tenggelam dalam narasi resmi negara. Penelitian Kurawal pada 2024 menemukan celah antara masyarakat sipil dan lembaga politik yang bersifat transaksional dan reaktif sehingga gagal menciptakan gagasan koheren dan tidak mampu membangun gerakan yang bermakna. Dalam konteks inilah Jurnal Perempuan memiliki potensi untuk mengisi celah pergerakan, bukan hanya dengan mencatat sejarah, tetapi aktif menolak lupa sampai semua suara terdengar.

     Wakil Dekan Fakultas Hukum Unika Atma Jaya, Feronica, menambahkan bahwa Pendidikan Publik 120 menjadi sebuah peringatan moral akan urgensi pengingatan sejarah yang mana perempuan harus menjadi bagian integral dalamnya. Ingatan bukan sekadar arsip, “Ia adalah arah masa depan,” tegasnya. Penegakan HAM mustahil dilepaskan dari pengalaman perempuan yang justru sering dipinggirkan negara.

     Direktur Eksekutif Yayasan Jurnal Perempuan, Abby Gina Boang Manalu, mempertegas bahwa rezim Orde Baru membatasi tubuh perempuan dalam kerangka pengetahuan yang sangat sempit. Namun, akan selalu ada “retakan kecil” tempat resistensi tumbuh, terutama melalui dokumentasi pengalaman personal yang menjadi arsip politik penting. Jurnal Perempuan 120 memperlihatkan bahwa perlawanan tidak hanya dilakukan di jalanan, tetapi juga melalui tulisan, memori, dan keberanian merawat pengalaman.

     Pidato kunci pada Pendidikan Publik 120 diisi oleh Gadis Arivia. Gadis Arivia memaparkan sepuluh tulisan yang menghuni JP 120, tulisan-tulisan tersebut merupakan gabungan dari riset akademik, penelitian berbasis Organisasi Masyarakat Sipil (OMS)), serta autoetnografi aktivis perempuan Orde Baru. Tulisan-tulisan tersebut menyingkap bagaimana peran perempuan dalam perjuangan bangsa dihapus dari narasi utama. Strategi propaganda Orde Baru yang membentuk ingatan kolektif anti-Gerwani dan menginstitusionalisasi ibuisme, juga mengungkap bagaimana perempuan di daerah seperti Sumba dan Bengkulu—yang meski tanpa label “aktivis”, tetap dapat melakukan perlawanan keseharian—ketangguhan OMS perempuan dari Aceh hingga Timor Leste menghadapi kekerasan negara, dan bagaimana demonstrasi Suara Ibu Peduli menjadi strategi kamuflase politik di bawah represi.

     Dari rangkaian narasi itu, Gadis merumuskan refleksi utama bahwa tubuh perempuan adalah arena politik. Memori berperan sebagai alat perlawanan, solidaritas menjadi metode bertahan hidup, dan feminisme Indonesia hidup sebagai warisan kolektif lintas generasi.
Picture
Dok. Jurnal Perempuan
     Dalam sesi diskusi, Nursyahbani Katjasungkana (Ketua Pengurus Asosiasi LBH APIK Indonesia) yang merupakan salah satu penulis dalam Jurnal Perempuan Edisi 120 membuka diskusi dengan membaca kembali kekerasan struktural Orde Baru—mulai dari pembasmian terhadap kelompok kiri hingga domestikasi perempuan. Pengalaman korban, termasuk pengalaman pribadinya, menunjukkan bahwa penindasan perempuan bukan luka individual, tetapi retakan besar yang terus berulang.  “Personal is political,” tegasnya.

     Sita Aripurnami, Direktur Eksekutif Women Research Institute—yang juga merupakan salah satu penulis di Jurnal Perempuan Edisi 120—menekankan bahwa kesadaran politik perempuan sering dimulai dari perasaan mengenai “ada sesuatu yang salah”. Autoetnografi, baginya, bukan catatan pribadi semata, melainkan alat kolektif untuk mendokumentasikan ketidakadilan. Gerakan perempuan Indonesia, dianalogikan seperti “jaringan anyaman” yang terus menegosiasikan strategi perubahan.

     Sementara itu, Asmin Fransiska dari Fakultas Hukum Unika Atma Jaya, membedah bagaimana hukum elitis Orde Baru digunakan sebagai alat rekayasa sosial ekonomi. Peran perempuan yang dikurung dalam ibuisme membuat mereka kehilangan tempat sebagai subjek politik, sementara praktik penegakan hukum yang bias gender terus melanggengkan pelanggaran HAM kepada perempuan.

     ​Nur Iman Subono sebagai Dewan Redaksi Jurnal Perempuan dan Pengajar Prodi Ketahanan Nasional, SPPB Universitas Indonesia, menutup pemaparan dengan menggarisbawahi bagaimana OMS perempuan daerah membangun resistensi melalui strategi kamuflase, kerja klandestin, dan solidaritas akar rumput. Dalam konteks poskolonial dan dekolonial, perempuan di daerah justru muncul sebagai subjek sejarah yang berdaya.
Picture
Dok. Jurnal Perempuan
     Terakhir, Marzuki Darusman (Jaksa Agung RI 1999-2001) menutup acara dengan refleksi. Menurutnya, pengalaman Orde Baru adalah masa ketika negara “memiliki” warganya. Ia mengingat praktik program KB yang menjadikan tubuh perempuan sebagai objek publik hingga pengalaman kelompok yang dikurung dalam kamp konsentrasi pasca-’65. Jurnal Perempuan, katanya, perlu mempercepat rekaman sejarah ini sebelum terlambat. Marzuki Darusman menawarkan satu arah baru: feminisme Indonesia harus bergerak dari sekadar politik identitas menuju konsep kemerdekaan, agar mampu membongkar praktik restriktif yang menjerat perempuan selama puluhan tahun.

     ​Acara ini memberikan sebuah refleksi bersama, melupakan berarti membuka ruang bagi kekerasan untuk terulang. Dengan begitu, refleksi ini menjadi pengingat bahwa sejarah perempuan bukan sekadar “sejarah pinggiran”, melainkan pusat perjuangan menegakkan demokrasi. Tugas hari ini adalah, memastikan bahwa ingatan—tentang luka, perlawanan, keberanian—tidak boleh hilang, agar akuntabilitas dan keadilan dapat sampai kepada semua. (Putri Nurfitriani)

Comments are closed.
    Jurnal Perempuan
    ​
    terindeks di:
    Picture

    Archives

    December 2025
    November 2025
    October 2025
    September 2025
    August 2025
    July 2025
    June 2025
    May 2025
    April 2025
    March 2025
    February 2025
    January 2025
    December 2024
    November 2024
    October 2024
    September 2024
    August 2024
    July 2024
    June 2024
    May 2024
    April 2024
    March 2024
    February 2024
    January 2024
    December 2023
    November 2023
    October 2023
    September 2023
    August 2023
    July 2023
    June 2023
    May 2023
    April 2023
    March 2023
    February 2023
    January 2023
    December 2022
    November 2022
    October 2022
    September 2022
    August 2022
    July 2022
    June 2022
    May 2022
    April 2022
    March 2022
    February 2022
    January 2022
    December 2021
    November 2021
    October 2021
    September 2021
    August 2021
    July 2021
    June 2021
    April 2021
    March 2021
    February 2021
    January 2021
    December 2020
    October 2020
    August 2020
    July 2020
    June 2020
    April 2020
    March 2020
    February 2020
    January 2020
    December 2019
    November 2019
    October 2019
    September 2019
    August 2019
    July 2019
    June 2019
    May 2019
    April 2019
    March 2019
    February 2019
    January 2019
    December 2018
    November 2018
    October 2018
    September 2018
    August 2018
    July 2018
    June 2018
    May 2018
    April 2018
    March 2018
    February 2018
    January 2018
    December 2017
    October 2017
    September 2017
    August 2017
    July 2017
    June 2017
    May 2017
    April 2017
    March 2017
    December 2016
    November 2016
    September 2016
    August 2016
    July 2016
    June 2016
    May 2016
    April 2016
    March 2016
    February 2016
    January 2016
    December 2015
    November 2015
    October 2015
    September 2015
    August 2015
    July 2015
    June 2015
    May 2015
    April 2015
    March 2015
    February 2015
    January 2015
    December 2014
    November 2014
    October 2014
    September 2014
    August 2014
    July 2014
    June 2014

    Categories

    All

    RSS Feed

Yayasan Jurnal Perempuan| Alamanda Tower, 25th Floor | Jl. T.B. Simatupang Kav. 23-24 Jakarta 12430 | Telp. +62 21 2965 7992 Fax. +62 21 2927 7888 | [email protected]
  • TENTANG KAMI
    • Profil
    • Kontak
    • Laporan Tahunan
    • Demo Suara Ibu Peduli
    • Rilis JP
  • Jurnal Perempuan
    • Indonesian Feminist Journal
    • Kirim Tulisan
  • YJP PRESS
    • Buku Seri YJP Press
  • KAFFE
    • Booklet KAFFE
  • Podcast JP
    • Radio JP
  • Sahabat JP
    • Daftar Nama SJP
    • International Friends of JP
    • Blog SJP
    • Gathering SJP
  • Wacana Feminis
    • Tokoh Feminis
    • Cerpen/Puisi Feminis
  • Warta Feminis
  • Warung JP
    • Daftar Toko Buku
  • Toeti Heraty Scholarship
    • Biodata Penerima Beasiswa 2022
    • Biodata Penerima Beasiswa 2023
    • Biodata Penerima Beasiswa 2024
    • Biodata Penerima Beasiswa 2025