Jurnal Perempuan
  • TENTANG KAMI
    • Profil
    • Kontak
    • Laporan Tahunan
    • Demo Suara Ibu Peduli
    • Rilis JP
  • Jurnal Perempuan
    • Indonesian Feminist Journal
    • Kirim Tulisan
  • YJP PRESS
    • Buku Seri YJP Press
  • KAFFE
    • Booklet KAFFE
  • Podcast JP
    • Radio JP
  • Sahabat JP
    • Daftar Nama SJP
    • International Friends of JP
    • Blog SJP
    • Gathering SJP
  • Wacana Feminis
    • Tokoh Feminis
    • Cerpen/Puisi Feminis
  • Warta Feminis
  • Warung JP
    • Daftar Toko Buku
  • Toeti Heraty Scholarship
    • Biodata Penerima Beasiswa 2022
    • Biodata Penerima Beasiswa 2023
    • Biodata Penerima Beasiswa 2024
    • Biodata Penerima Beasiswa 2025
Warta Feminis

Melampaui Stigma: Panduan Media untuk Menarasikan Aborsi Berperspektif HAM

9/2/2026

 
PictureDok. Jurnal Perempuan
     Peliputan isu aborsi di media Indonesia masih didominasi oleh stigma, framing kriminal, dan pendekatan moralistik yang menyederhanakan pengalaman perempuan. Realitas ini menjadi latar belakang peluncuran Panduan Media Menarasikan Aborsi Melampaui Stigma dan Kriminalitas yang diselenggarakan oleh Perkumpulan Samsara pada Senin (2/2/2026), di Jakarta.

     Panduan ini dirancang sebagai rujukan bagi jurnalis dan pekerja media agar mampu meliput isu aborsi secara lebih adil dan berperspektif hak asasi manusia. Acara  peluncuran panduan menghadirkan diskusi kritis mengenai praktik pemberitaan aborsi di Indonesia, tantangan yang dihadapi jurnalis, serta urgensi menghadirkan narasi yang tidak melanggengkan stigma terhadap perempuan.

Diksi Media yang Membentuk Persepsi

     Dalam sesi pemaparan awal, Dewi Purnama, Staf Advokasi Perkumpulan Samsara sekaligus tim penyusun panduan, memaparkan temuan awal mengenai pola pemberitaan aborsi di media arus utama. Ia menyoroti bahwa pemberitaan aborsi masih didominasi oleh beberapa kecenderungan utama, seperti framing kriminal, penekanan pada penangkapan dan penggerebekan, serta penyederhanaan aborsi sebagai pelanggaran hukum semata.

     ​“Istilah seperti pelaku aborsi, praktik aborsi ilegal, atau judul sensasional seperti ‘Perempuan Digerebek di Kos karena Aborsi’ terus direproduksi media,” ujar Dewi. Pola tersebut, lanjutnya, mempersempit pemahaman publik dan menempatkan perempuan sebagai objek kriminal, bukan sebagai subjek dengan pengalaman dan hak atas tubuhnya.

     “Aborsi sering diposisikan sebagai akibat dari kurangnya edukasi atau ketidaktahuan perempuan. Padahal, bahkan ketika informasi tersedia, kebutuhan akan aborsi tidak serta-merta hilang. Aborsi bukan sekadar akibat, tetapi juga pilihan dalam situasi tertentu,” tegas Dewi.

     Dari temuan tersebut, Samsara mengidentifikasi persoalan mendasar dalam pemberitaan aborsi adalah terkait dengan citra aborsi yang menakutkan, bias nilai, serta keterbatasan akses jurnalis terhadap narasumber utama. Situasi ini mendorong perlunya intervensi melalui panduan peliputan yang memberikan kerangka etis, perspektif HAM, serta melampaui stigma.

     Perspektif kritis terhadap praktik jurnalistik juga disampaikan oleh Nur Hidayah Perwitasari, jurnalis lepas dan Koordinator Divisi Kelompok Minoritas AJI Yogyakarta. Ia menegaskan bahwa persoalan aborsi jauh lebih kompleks dibandingkan sekadar isu moral dan kriminal.

     “Pemberitaan media sering menempatkan aborsi sebagai sesuatu yang ilegal dan berbahaya, padahal tidak semua aborsi demikian. Ada kasus kegagalan kontrasepsi, kondisi kesehatan, atau situasi medis yang memaksa perempuan berada pada pilihan sulit,” ujar Wita, panggilan Nur Hidayah Perwitasari.

​     Ia membagikan contoh kasus di Yogyakarta, ketika seorang perempuan dengan dua anak mengalami kegagalan kontrasepsi IUD. Kehamilan yang dilanjutkan justru berujung pada komplikasi serius dan kematian bayi. Kasus semacam ini, menurutnya, jarang mendapat ruang dalam pemberitaan.

     ​Wita juga mengingatkan bahwa keputusan melakukan aborsi bukanlah pilihan yang mudah bagi perempuan. Banyak perempuan mengalami tekanan psikologis, termasuk gejala post-abortion syndrome. Karena itu, peliputan aborsi harus dilakukan dengan empati dan kehati-hatian, termasuk dalam penggunaan bahasa, visual, dan perlindungan identitas narasumber.

     ​Dalam sesi diskusi, isu tumpang tindih regulasi aborsi di Indonesia juga menjadi sorotan. Ika Ayu Kristianingrum, Direktur Perkumpulan Samsara menilai bahwa kerangka hukum yang ada justru sering menutup akses terhadap layanan kesehatan seksual dan reproduksi. “Mindset menyelamatkan nyawa dalam konteks aborsi jarang dipercaya. Media seharusnya menjadi salah satu pilar untuk mendorong sikap kritis terhadap kebijakan,” ujarnya.
Picture
Dok. Jurnal Perempuan
Aborsi dan Ketidakadilan Gender

     Di sela peluncuran panduan, Jurnal Perempuan melakukan wawancara khusus dengan Ika Ayu, untuk menggali kaitan antara aborsi dan ketidakadilan gender. Bagi Ika Ayu, isu aborsi tidak bisa dilepaskan dari persoalan otonomi tubuh perempuan dalam sistem sosial yang masih patriarkal.

     “Kaitannya sangat kuat. Aborsi adalah soal siapa yang berhak menentukan tubuh perempuan. Norma yang dibentuk oleh patriarki sering kali mengambil alih keputusan itu, entah melalui pasangan, keluarga, tenaga medis, maupun negara,” ujarnya.

     Menurut Ika Ayu, ketika hak aborsi tidak diakui atau ditolak, yang terjadi bukan hanya pelanggaran hak kesehatan, tetapi juga pengingkaran terhadap kesetaraan gender. Tentang panduan bagi media, Ika menyadari tidak mudah menarasikan tentang aborsi di Indonesia, tetapi paling tidak, ada yang bisa dilakukan untuk mengetengahkan narasi melampaui stigma atas isu aborsi di tengah framing kriminalitas yang selama ini terjadi. 

Tentang Panduan Peliputan Media Menarasikan Aborsi

     Panduan Peliputan Media yang diluncurkan Perkumpulan Samsara memuat rujukan praktis dan etis bagi jurnalis, mulai dari pengetahuan dasar dan kerangka hukum aborsi, perspektif pemberitaan berbasis HAM, prinsip dasar peliputan yang mengutamakan keselamatan dan martabat perempuan, hingga panduan teknis seperti pemilihan narasumber, pilihan kata dan judul berita, pedoman visual dan ilustrasi, teknik pelaporan, serta perlindungan keamanan holistik bagi jurnalis dan narasumber. 

​     ​Dalam menyusun panduan ini, Perkumpulan Samsara telah melalui proses panjang, mulai dari diskusi intens, FGD dengan para jurnalis hingga review yang mendalam. Panduan ini dirancang untuk membantu media keluar dari narasi kriminal menuju pemberitaan yang lebih adil, empatik, dan berperspektif HAM. (Lisa Febriyanti)

Comments are closed.
    Jurnal Perempuan
    ​
    terindeks di:
    Picture

    Archives

    March 2026
    February 2026
    January 2026
    December 2025
    November 2025
    October 2025
    September 2025
    August 2025
    July 2025
    June 2025
    May 2025
    April 2025
    March 2025
    February 2025
    January 2025
    December 2024
    November 2024
    October 2024
    September 2024
    August 2024
    July 2024
    June 2024
    May 2024
    April 2024
    March 2024
    February 2024
    January 2024
    December 2023
    November 2023
    October 2023
    September 2023
    August 2023
    July 2023
    June 2023
    May 2023
    April 2023
    March 2023
    February 2023
    January 2023
    December 2022
    November 2022
    October 2022
    September 2022
    August 2022
    July 2022
    June 2022
    May 2022
    April 2022
    March 2022
    February 2022
    January 2022
    December 2021
    November 2021
    October 2021
    September 2021
    August 2021
    July 2021
    June 2021
    April 2021
    March 2021
    February 2021
    January 2021
    December 2020
    October 2020
    August 2020
    July 2020
    June 2020
    April 2020
    March 2020
    February 2020
    January 2020
    December 2019
    November 2019
    October 2019
    September 2019
    August 2019
    July 2019
    June 2019
    May 2019
    April 2019
    March 2019
    February 2019
    January 2019
    December 2018
    November 2018
    October 2018
    September 2018
    August 2018
    July 2018
    June 2018
    May 2018
    April 2018
    March 2018
    February 2018
    January 2018
    December 2017
    October 2017
    September 2017
    August 2017
    July 2017
    June 2017
    May 2017
    April 2017
    March 2017
    December 2016
    November 2016
    September 2016
    August 2016
    July 2016
    June 2016
    May 2016
    April 2016
    March 2016
    February 2016
    January 2016
    December 2015
    November 2015
    October 2015
    September 2015
    August 2015
    July 2015
    June 2015
    May 2015
    April 2015
    March 2015
    February 2015
    January 2015
    December 2014
    November 2014
    October 2014
    September 2014
    August 2014
    July 2014
    June 2014

    Categories

    All

    RSS Feed

Yayasan Jurnal Perempuan| Alamanda Tower, 25th Floor | Jl. T.B. Simatupang Kav. 23-24 Jakarta 12430 | Telp. +62 21 2965 7992 Fax. +62 21 2927 7888 | [email protected]
  • TENTANG KAMI
    • Profil
    • Kontak
    • Laporan Tahunan
    • Demo Suara Ibu Peduli
    • Rilis JP
  • Jurnal Perempuan
    • Indonesian Feminist Journal
    • Kirim Tulisan
  • YJP PRESS
    • Buku Seri YJP Press
  • KAFFE
    • Booklet KAFFE
  • Podcast JP
    • Radio JP
  • Sahabat JP
    • Daftar Nama SJP
    • International Friends of JP
    • Blog SJP
    • Gathering SJP
  • Wacana Feminis
    • Tokoh Feminis
    • Cerpen/Puisi Feminis
  • Warta Feminis
  • Warung JP
    • Daftar Toko Buku
  • Toeti Heraty Scholarship
    • Biodata Penerima Beasiswa 2022
    • Biodata Penerima Beasiswa 2023
    • Biodata Penerima Beasiswa 2024
    • Biodata Penerima Beasiswa 2025