Jurnal Perempuan
  • TENTANG KAMI
    • Profil
    • Kontak
    • Laporan Tahunan
    • Demo Suara Ibu Peduli
    • Rilis JP
  • Jurnal Perempuan
    • Indonesian Feminist Journal
    • Kirim Tulisan
  • YJP PRESS
    • Buku Seri YJP Press
  • KAFFE
    • Booklet KAFFE
  • Podcast JP
    • Radio JP
  • Sahabat JP
    • Daftar Nama SJP
    • International Friends of JP
    • Blog SJP
    • Gathering SJP
  • Wacana Feminis
    • Tokoh Feminis
    • Cerpen/Puisi Feminis
  • Warta Feminis
  • Warung JP
    • Daftar Toko Buku
  • Toeti Heraty Scholarship
    • Biodata Penerima Beasiswa 2022
    • Biodata Penerima Beasiswa 2023
    • Biodata Penerima Beasiswa 2024
    • Biodata Penerima Beasiswa 2025
    • Biodata Penerima Beasiswa 2026
Warta Feminis

Melampaui Representasi: Kepemimpinan Kolektif Perempuan Akar Rumput di Gresik

3/7/2026

 
PictureDok. Jurnal Perempuan
​     Dalam diskursus pembangunan di Indonesia, kepemimpinan perempuan hampir selalu dibicarakan melalui bahasa representasi. Pertanyaan yang diajukan berulang kali adalah berapa banyak perempuan menjadi kepala daerah, anggota legislatif, atau menduduki jabatan strategis dalam birokrasi. Cara pandang semacam ini secara tidak langsung menyamakan kepemimpinan dengan posisi formal, seolah-olah seseorang baru dapat disebut pemimpin ketika memperoleh legitimasi institusional. Akibatnya, pengalaman perempuan yang membangun perubahan sosial dari luar struktur kekuasaan sering kali luput dari perhatian, bahkan tidak dianggap sebagai praktik kepemimpinan.

​     ​Keterbatasan perspektif inilah yang menjadi titik berangkat diskusi Feminist Thesis & Dissertation Talk (FTDT) Chapter #31 yang diselenggarakan LETSS Talk pada hari Sabtu (27/6/2026). Dalam forum tersebut, Iva Hasanah mempresentasikan tesisnya yang berjudul Dinamika Kepemimpinan Perempuan Akar Rumput dan Perlawanan Stigmatisasi Gender (Studi Kasus Sekolah Perempuan Gresik, Jawa Timur). Alih-alih mempertanyakan bagaimana perempuan memperoleh kekuasaan formal, penelitian ini justru mengajukan pertanyaan tentang bagaimana kepemimpinan lahir dari mereka yang bahkan sejak awal tidak diakui memiliki otoritas sosial.
 
​     Hal tersebut penting karena selama ini perempuan akar rumput lebih sering hadir sebagai objek pembangunan daripada subjek politik. Mereka dikenal melalui kategori-kategori administratif, seperti keluarga miskin, penerima bantuan sosial, penyandang disabilitas, atau ibu rumah tangga, yang seluruhnya mendeskripsikan kekurangan, dan bukan kapasitas. Dalam bahasa pembangunan, mereka menjadi kelompok sasaran, sementara dalam praktik sosial, mereka kerap diposisikan sebagai pihak yang membutuhkan pertolongan. Maka dari itu, penelitian Iva membalik logika tersebut. Ia menunjukkan bahwa kelompok yang paling sering dipandang sebagai penerima kebijakan justru mampu menjadi produsen perubahan sosial.
 
​     Melalui studi kasus Sekolah Perempuan Gresik, Iva memperlihatkan bahwa kepemimpinan perempuan tidak tumbuh dari jabatan, melainkan dari proses panjang pembentukan kesadaran kritis. Sekolah Perempuan tidak dibangun sebagai ruang pelatihan keterampilan semata, tetapi juga sebagai ruang pedagogis tempat perempuan membaca ulang pengalaman hidupnya sendiri. Kemiskinan, subordinasi dalam keluarga, perkawinan anak, kekerasan berbasis gender, hingga keterbatasan akses terhadap layanan publik tidak lagi dipahami sebagai nasib individual, melainkan sebagai persoalan struktural yang dapat diubah melalui tindakan kolektif.
 
​     Di sinilah letak kontribusi penting penelitian tersebut. Kepemimpinan tidak dipahami sebagai kualitas personal yang melekat pada individu tertentu, tetapi sebagai relasi sosial yang lahir melalui proses saling belajar, saling menguatkan, dan saling mengorganisasi. Temuan ini sekaligus menggeser paradigma kepemimpinan yang selama ini didominasi imajinasi heroik tentang seorang figur yang memimpin dari depan. Dalam pengalaman perempuan akar rumput di Gresik, perubahan justru berlangsung ketika tidak ada satu orang pun yang mengklaim dirinya sebagai pusat perubahan.
 
​     Hal ini tampak dari narasi para informan yang berulang kali menolak menyebut keberhasilan advokasi sebagai hasil kerja individual. Ketika mendampingi korban kekerasan, memperjuangkan akses BPJS bagi warga miskin, atau mengawal usulan dalam Musrenbang, jawaban yang muncul hampir selalu serupa, yaitu pekerjaan tersebut dilakukan secara bersama-sama. Seorang perempuan mungkin menjadi wajah yang tampak di ruang publik, tetapi kerja politik sesungguhnya berlangsung melalui jejaring solidaritas yang memungkinkan pengetahuan, keberanian, dan tanggung jawab didistribusikan secara kolektif. Kepemimpinan, dengan demikian, bukanlah soal siapa yang paling menonjol, melainkan bagaimana komunitas membangun kapasitas untuk bertindak bersama.
 
​     Perspektif tersebut menjadi semakin signifikan ketika dikaitkan dengan persoalan stigmatisasi gender yang menjadi fokus penelitian. Iva menunjukkan bahwa perempuan-perempuan anggota Sekolah Perempuan tidak hanya menghadapi satu bentuk marginalisasi. Mereka mengalami persinggungan antara kemiskinan, rendahnya pendidikan, norma patriarkal, hingga identitas keagamaan dan posisi sebagai kelompok minoritas. Kompleksitas inilah yang membuat stigma bekerja secara berlapis. Namun, penelitian ini tidak berhenti pada deskripsi mengenai ketertindasan. Temuan yang justru mengemuka adalah bagaimana stigma diolah menjadi sumber solidaritas politik. Pengalaman dipandang bodoh, tidak layak berbicara, atau sekadar pelengkap dalam ruang publik menjadi titik temu yang memungkinkan perempuan membangun kesadaran kolektif mengenai ketidakadilan yang mereka alami.
 
​     Dalam konteks tersebut, pendidikan kritis memperoleh makna yang jauh lebih luas daripada sekadar transfer pengetahuan. Pendidikan menjadi proses pembentukan subjek politik. Perempuan yang semula mengaku gemetar ketika memasuki kantor desa perlahan mampu menyampaikan pendapat dalam forum Musrenbang, bernegosiasi dengan aparatur pemerintah, bahkan mengadvokasi penghentian praktik perkawinan anak di komunitasnya. Bukan hanya keterampilan berbicara di depan publik yang perlahan berubah, melainkan cara mereka memaknai diri sendiri sebagai warga negara yang memiliki hak untuk menentukan arah pembangunan.
 
​     ​Diskusi FTDT #31 pada akhirnya menawarkan refleksi yang relevan bagi praktik pemberdayaan perempuan di Indonesia. Selama ini, keberhasilan pemberdayaan sering diukur melalui indikator ekonomi atau peningkatan partisipasi perempuan dalam lembaga formal. Penelitian Iva mengingatkan bahwa ukuran tersebut belum tentu menangkap perubahan yang paling fundamental, yakni transformasi relasi kuasa yang memungkinkan perempuan berpindah dari posisi objek menjadi subjek politik. Dari perspektif ini, kepemimpinan bukanlah tujuan akhir dari pemberdayaan, melainkan konsekuensi dari tumbuhnya kesadaran kritis dan tindakan kolektif.
Picture
Dok. Jurnal Perempuan
​     ​Di tengah kecenderungan demokrasi yang semakin menonjolkan figur individual dan personalisasi kepemimpinan, pengalaman perempuan akar rumput di Gresik menawarkan pelajaran yang berbeda. Kepemimpinan tidak selalu lahir dari panggung kekuasaan, melainkan dapat bertumbuh dari ruang-ruang yang selama ini dianggap remeh: dari lingkar belajar di atas tikar, dari percakapan antartetangga, dari keberanian mengajukan pertanyaan di balai desa, hingga dari solidaritas yang dibangun oleh perempuan-perempuan yang selama ini justru diposisikan sebagai mereka yang tidak memiliki suara. Justru dari ruang-ruang itulah demokrasi memperoleh maknanya yang paling substantif. (Yasyfa Nadhira

Comments are closed.
    Jurnal Perempuan
    ​
    terindeks di:
    Picture

    Archives

    July 2026
    June 2026
    May 2026
    April 2026
    March 2026
    February 2026
    January 2026
    December 2025
    November 2025
    October 2025
    September 2025
    August 2025
    July 2025
    June 2025
    May 2025
    April 2025
    March 2025
    February 2025
    January 2025
    December 2024
    November 2024
    October 2024
    September 2024
    August 2024
    July 2024
    June 2024
    May 2024
    April 2024
    March 2024
    February 2024
    January 2024
    December 2023
    November 2023
    October 2023
    September 2023
    August 2023
    July 2023
    June 2023
    May 2023
    April 2023
    March 2023
    February 2023
    January 2023
    December 2022
    November 2022
    October 2022
    September 2022
    August 2022
    July 2022
    June 2022
    May 2022
    April 2022
    March 2022
    February 2022
    January 2022
    December 2021
    November 2021
    October 2021
    September 2021
    August 2021
    July 2021
    June 2021
    April 2021
    March 2021
    February 2021
    January 2021
    December 2020
    October 2020
    August 2020
    July 2020
    June 2020
    April 2020
    March 2020
    February 2020
    January 2020
    December 2019
    November 2019
    October 2019
    September 2019
    August 2019
    July 2019
    June 2019
    May 2019
    April 2019
    March 2019
    February 2019
    January 2019
    December 2018
    November 2018
    October 2018
    September 2018
    August 2018
    July 2018
    June 2018
    May 2018
    April 2018
    March 2018
    February 2018
    January 2018
    December 2017
    October 2017
    September 2017
    August 2017
    July 2017
    June 2017
    May 2017
    April 2017
    March 2017
    December 2016
    November 2016
    September 2016
    August 2016
    July 2016
    June 2016
    May 2016
    April 2016
    March 2016
    February 2016
    January 2016
    December 2015
    November 2015
    October 2015
    September 2015
    August 2015
    July 2015
    June 2015
    May 2015
    April 2015
    March 2015
    February 2015
    January 2015
    December 2014
    November 2014
    October 2014
    September 2014
    August 2014
    July 2014
    June 2014

    Categories

    All

    RSS Feed

Yayasan Jurnal Perempuan| Alamanda Tower, 25th Floor | Jl. T.B. Simatupang Kav. 23-24 Jakarta 12430 | Telp. +62 21 2965 7992 Fax. +62 21 2927 7888 | [email protected]
  • TENTANG KAMI
    • Profil
    • Kontak
    • Laporan Tahunan
    • Demo Suara Ibu Peduli
    • Rilis JP
  • Jurnal Perempuan
    • Indonesian Feminist Journal
    • Kirim Tulisan
  • YJP PRESS
    • Buku Seri YJP Press
  • KAFFE
    • Booklet KAFFE
  • Podcast JP
    • Radio JP
  • Sahabat JP
    • Daftar Nama SJP
    • International Friends of JP
    • Blog SJP
    • Gathering SJP
  • Wacana Feminis
    • Tokoh Feminis
    • Cerpen/Puisi Feminis
  • Warta Feminis
  • Warung JP
    • Daftar Toko Buku
  • Toeti Heraty Scholarship
    • Biodata Penerima Beasiswa 2022
    • Biodata Penerima Beasiswa 2023
    • Biodata Penerima Beasiswa 2024
    • Biodata Penerima Beasiswa 2025
    • Biodata Penerima Beasiswa 2026