Jurnal Perempuan
  • TENTANG KAMI
    • Profil
    • Kontak
    • Laporan Tahunan
    • Demo Suara Ibu Peduli
    • Rilis JP
  • Jurnal Perempuan
    • Indonesian Feminist Journal
    • Kirim Tulisan
  • YJP PRESS
    • Buku Seri YJP Press
  • KAFFE
    • Booklet KAFFE
  • Podcast JP
    • Radio JP
  • Sahabat JP
    • Daftar Nama SJP
    • International Friends of JP
    • Blog SJP
    • Gathering SJP
  • Wacana Feminis
    • Tokoh Feminis
    • Cerpen/Puisi Feminis
  • Warta Feminis
  • Warung JP
    • Daftar Toko Buku
  • Toeti Heraty Scholarship
    • Biodata Penerima Beasiswa 2022
    • Biodata Penerima Beasiswa 2023
    • Biodata Penerima Beasiswa 2024
    • Biodata Penerima Beasiswa 2025
Warta Feminis

Kondisi Makin Mendesak, Jaringan Masyarakat Sipil Tekan DPR RI Mengundangkan RUU PPRT

27/11/2025

 
PictureDok. Jurnal Perempuan
​     Pada Jumat (21/11/2025) lalu, Koalisi untuk UU PPRT menyelenggarakan Konferensi Pers “Serikat Buruh Dukung Pengesahan RUU PPRT”. Pada kesempatan ini, perwakilan koalisi mengabarkan pembaruan terkait Rancangan Undang-Undang Pelindungan Pekerja Rumah Tangga (RUU PPRT) yang—sayangnya—masih perlu diperjuangkan. Oleh karena itu, untuk mempercepat proses legislasinya, jaringan turut menggandeng serikat buruh guna semakin mendesak DPR RI, terutama Puan Maharani selaku pimpinan, dalam pengesahan RUU PPRT.

​     Jumisih dari JALA PRT menjadi narasumber pembuka dalam kegiatan lalu. Ia mengingatkan betapa lamanya proses pengesahan RUU PPRT, yaitu 21 tahun. Selama 21 tahun belakangan, RUU PPRT sudah keluar-masuk Prolegnas. Banyak sekali pembahasan yang akhirnya mengubah draf awal. Bahkan, perubahan ini sudah dilakukan sebanyak 66 kali revisi mulai dari tahun 2024 hingga 2025 ini.
 
​     Melihat fakta ini, tentu koalisi merasa political will dari DPR RI sangat kecil pada RUU ini. Padahal, RUU lain yang lebih kontroversial dan cenderung menguntungkan pihak berkuasa dengan mudah diundangkan, seperti UU Cipta Kerja maupun KUHAP 2025.
 
​     Meskipun RUU PPRT sudah berkali-kali melalui proses Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU), yaitu forum ketika Badan Legislasi (Baleg) DPR RI mengundang berbagai pemangku kepentingan untuk memberikan masukan terkait RUU yang sedang disusun, tetapi pengundangan masih terasa jauh. Seharusnya, setelah RDPU dilakukan, pembahasan masuk ke tingkat satu, lalu dirapatkan pada Sidang Paripurna, dan diketok palu. Nyatanya, pembahasan RUU PPRT justru berhenti di tengah jalan.
 
​     “Ketika kita mengontak DPR RI, jawabannya hanya disuruh menunggu,” keluh Jumisih.
 
​     Tidak dapat disangkal, RUU PPRT sangat urgen untuk disahkan. Indonesia tidak memiliki payung hukum yang melindungi PRT, padahal kurang-lebih terdapat 5 juta masyarakat Indonesia yang bekerja sebagai PRT. Berbagai kasus eksploitasi, kekerasan fisik, seksual, dan psikis, hingga represi hukum tidak juga menggerakkan DPR RI untuk mengundangkan RUU PPRT.
 
​     Di samping pelindungan hukum, RUU PPRT juga sangat penting untuk menyetarakan PRT dengan profesi lainnya, tidak hanya sebagai ‘pembantu’ atau ‘asisten’. Pengakuan PRT sebagai profesi yang layak ini penting untuk memperkuat kedudukan PRT di mata hukum, sosial, hingga ekonomi.
 
​     Selain itu, Dhia Al Uyun dari Serikat Pekerja Kampus (SPK) menegaskan dengan disahkannya RUU PPRT mendorong peningkatan pengakuan terhadap PRT dan pekerja di ranah domestik lainnya di tingkat kota maupun kabupaten.
 
​     Kasus kekerasan terhadap PRT menjelma selayaknya lingkaran setan—baik bagi mereka yang bekerja di dalam maupun luar negeri. Sebuah kasus disampaikan oleh Anna Wijayanti dari Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI): seorang PRT di dalam negeri bekerja dengan tidak layak, mendapat jam kerja berlebih, dengan upah yang sangat kecil. Lalu ia mencoba mendapat tempat kerja yang lebih manusiawi dengan merantau ke negara tetangga. Ternyata, ia malah terjerumus ke dalam rantai eksploitasi yang sama.
 
​     Hal ini membuat Anna bertanya-tanya, “Kalau di negara sendiri tidak bisa melindungi PRT, bagaimana kita mau berharap perlindungan di negara lain?”
 
​     Sebagai serikat yang berfokus pada buruh migran, SBMI memiliki harapan, yaitu ketika perempuan pekerja migran memutuskan kembali ke negara kita ini, mereka—yang sebelumnya diabaikan oleh negara tempat kerjanya—dapat terlindungi serta diakui hak dan perannya dalam ekonomi perawatan di Indonesia. Caranya adalah dengan mengundangkan RUU PPRT yang menjamin kedudukan mereka sebagai pekerja profesional.
 
​     Advokasi untuk menghadirkan payung hukum yang bisa melindungi perempuan dari kekerasan di dalam ruang privat memang sulit dilakukan. Hal ini bisa dilihat track record dari perjuangan UU Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan KDRT yang penuh halang dan rintang. Ruang privat masih dianggap sebagai ruang yang tidak dapat disentuh oleh hukum konvensional, tabu, rahasia, dan menjadi “urusan masing-masing”. Faktor itulah yang juga menghambat RUU PPRT yang akan “mengintervensi” ruang privat pemberi kerja.
 
​     Selain itu, absennya UU PPRT juga memerangkap PRT dalam kategori pekerja informal. Status kerja ini membuat pengaturan perjanjian kerja, gaji, bonus, jam kerja, dan jaminan sosial (BPJS Kesehatan dan Ketenagakerjaan) sesuai hukum yang berlaku menjadi tidak wajib.
 
​     Pun jika PRT mulai bekerja menggunakan agen—yang umumnya dinilai lebih profesional dan formal—mereka tetap rentan menjadi korban pelecehan seksual dan eksploitasi, baik selama rekrutmen, penempatan, masa kerja, bahkan setelah kembali ke daerah asal. Mengomentari hal ini, Abdul Gofur dari Federasi SERBUK, ketidakadilan ini bersumber dari patriarki. “Patriarki menempatkan kerja rumah tangga sebagai kerja alami perempuan. Ini membuat relasi kuasa tidak seimbang,” ujarnya.
 
​     ​Kerja domestik yang dilakukan oleh para PRT tidak dihitung dalam produk domestik bruto (PDB) sehingga tidak dihitung sebagai kerja produktif yang menghasilkan keuntungan ekonomi. Terkait ini, Evy dari SINDIKASI menyebut pengesahan RUU PPRT adalah batas minimum yang seharusnya dilakukan pemerintah untuk melindungi posisi dan martabat PRT. Ia juga memanggil solidaritas dari seluruh elemen masyarakat untuk turut serta melindungi kelompok PRT dari kekerasan, sembari terus mendorong pengesahan RUU PPRT.
 
​     Senada dengan Evy, perjuangan sosial dalam menuntut keadilan pada PRT juga digaungkan oleh Sabilar Rosyad dari FSPMI. “Negara tidak memandang hak warganya yang bekerja sebagai PRT,” ujarnya. Demikian, sebagai masyarakat sipil, sekali lagi kita perlu melakukan mekanisme “warga jaga warga” untuk melindungi PRT.
 
​     Sebagai penutup, Jumisih sekali lagi menegaskan bahwa jaringan harus terus mendesak pimpinan DPR RI, yakni Puan Maharani. Meskipun koalisi sudah melobi RUU PPRT ke banyak anggota DPR RI—dan sudah juga mendapat dukungan dari mereka—tetapi palu sidang tetap berada dalam genggaman Puan. Dalam kata lain, Puan-lah orang yang paling bertanggung jawab atas penundaaan maupun pengesahan RUU ini. Tanpa ketokan palu tersebut, RUU PPRT masih akan terombang-ambing, dan para PRT di luar sana akan tetap bekerja tanpa pelindungan hukum yang mumpuni. (Nada Salsabila)

Comments are closed.
    Jurnal Perempuan
    ​
    terindeks di:
    Picture

    Archives

    December 2025
    November 2025
    October 2025
    September 2025
    August 2025
    July 2025
    June 2025
    May 2025
    April 2025
    March 2025
    February 2025
    January 2025
    December 2024
    November 2024
    October 2024
    September 2024
    August 2024
    July 2024
    June 2024
    May 2024
    April 2024
    March 2024
    February 2024
    January 2024
    December 2023
    November 2023
    October 2023
    September 2023
    August 2023
    July 2023
    June 2023
    May 2023
    April 2023
    March 2023
    February 2023
    January 2023
    December 2022
    November 2022
    October 2022
    September 2022
    August 2022
    July 2022
    June 2022
    May 2022
    April 2022
    March 2022
    February 2022
    January 2022
    December 2021
    November 2021
    October 2021
    September 2021
    August 2021
    July 2021
    June 2021
    April 2021
    March 2021
    February 2021
    January 2021
    December 2020
    October 2020
    August 2020
    July 2020
    June 2020
    April 2020
    March 2020
    February 2020
    January 2020
    December 2019
    November 2019
    October 2019
    September 2019
    August 2019
    July 2019
    June 2019
    May 2019
    April 2019
    March 2019
    February 2019
    January 2019
    December 2018
    November 2018
    October 2018
    September 2018
    August 2018
    July 2018
    June 2018
    May 2018
    April 2018
    March 2018
    February 2018
    January 2018
    December 2017
    October 2017
    September 2017
    August 2017
    July 2017
    June 2017
    May 2017
    April 2017
    March 2017
    December 2016
    November 2016
    September 2016
    August 2016
    July 2016
    June 2016
    May 2016
    April 2016
    March 2016
    February 2016
    January 2016
    December 2015
    November 2015
    October 2015
    September 2015
    August 2015
    July 2015
    June 2015
    May 2015
    April 2015
    March 2015
    February 2015
    January 2015
    December 2014
    November 2014
    October 2014
    September 2014
    August 2014
    July 2014
    June 2014

    Categories

    All

    RSS Feed

Yayasan Jurnal Perempuan| Alamanda Tower, 25th Floor | Jl. T.B. Simatupang Kav. 23-24 Jakarta 12430 | Telp. +62 21 2965 7992 Fax. +62 21 2927 7888 | [email protected]
  • TENTANG KAMI
    • Profil
    • Kontak
    • Laporan Tahunan
    • Demo Suara Ibu Peduli
    • Rilis JP
  • Jurnal Perempuan
    • Indonesian Feminist Journal
    • Kirim Tulisan
  • YJP PRESS
    • Buku Seri YJP Press
  • KAFFE
    • Booklet KAFFE
  • Podcast JP
    • Radio JP
  • Sahabat JP
    • Daftar Nama SJP
    • International Friends of JP
    • Blog SJP
    • Gathering SJP
  • Wacana Feminis
    • Tokoh Feminis
    • Cerpen/Puisi Feminis
  • Warta Feminis
  • Warung JP
    • Daftar Toko Buku
  • Toeti Heraty Scholarship
    • Biodata Penerima Beasiswa 2022
    • Biodata Penerima Beasiswa 2023
    • Biodata Penerima Beasiswa 2024
    • Biodata Penerima Beasiswa 2025