Jurnal Perempuan
  • TENTANG KAMI
    • Profil
    • Kontak
    • Laporan Tahunan
    • Demo Suara Ibu Peduli
    • Rilis JP
  • Jurnal Perempuan
    • Indonesian Feminist Journal
    • Kirim Tulisan
  • YJP PRESS
    • Buku Seri YJP Press
  • KAFFE
    • Booklet KAFFE
  • Podcast JP
    • Radio JP
  • Sahabat JP
    • Daftar Nama SJP
    • International Friends of JP
    • Blog SJP
    • Gathering SJP
  • Wacana Feminis
    • Tokoh Feminis
    • Cerpen/Puisi Feminis
  • Warta Feminis
  • Warung JP
    • Daftar Toko Buku
  • Toeti Heraty Scholarship
    • Biodata Penerima Beasiswa 2022
    • Biodata Penerima Beasiswa 2023
    • Biodata Penerima Beasiswa 2024
    • Biodata Penerima Beasiswa 2025
Warta Feminis

Ketika Rakyat Kehilangan Kepercayaan pada Elite: Pentingnya Gugatan Tanpa Kekerasan

15/9/2025

 
PictureDok. Jurnal Perempuan
     Diskusi publik dengan judul Massa, Moralitas, dan Media: Membaca Demo dalam Perspektif Etika Publik merupakan ruang reflektif untuk menata ulang cara pikir kita dalam memahami hubungan antara massa, moralitas, dan media dalam peristiwa demonstrasi yang akhir-akhir ini terjadi di berbagai wilayah di Indonesia. Diskusi ini dilaksanakan secara daring (10/9/2025) oleh Übermensch Philosophy dan dipandu oleh Anicha Putri Br Ginting yang merupakan pegiat Übermensch. Pembicara pada diskusi ini adalah Dr. Soe Tjen Marching yang merupakan penulis buku dan dosen senior SOAS University of London, United Kingdom; serta Prof. Dr. Franz Magnis Suseno, SJ. yang merupakan guru besar Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara.

     Franz Magnis Suseno yang biasa dipanggil Romo Magnis mengatakan bahwa saat ini Indonesia berada dalam suatu krisis, tetapi kita harus tetap menyadari, Indonesia dengan segala masalah yang terjadi, dapat dikatakan sukses jika dibandingkan dengan bangsa-bangsa lain. Banyak orang khawatir Indonesia akan terpecah belah, tetapi kenyataannya berbagai konflik bisa teratasi, misalnya di Aceh. Indonesia tidak hanya krisis baru-baru ini, melainkan sudah dari sekitar lima tahun yang lalu, tuturnya. Masalahnya, ada pada demokrasi negara ini. Romo Magnis menyatakan, apabila 60 persen rakyat mendapat kesan jika Indonesia hanyalah milik kalangan elite, rakyat berkemungkinan akan mencari ideologi selain Pancasila. Apabila Pancasila benar-benar tidak dijalankan sebagaimana mestinya, terutama sila kelima, “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”, kita berada dalam masalah yang besar.

     Berkaca pada berbagai demo besar yang telah terjadi, Romo Magnis menguraikan masalah yang dihadapi rakyat Indonesia. Kita memang memiliki DPR dan mengalami berbagai pemilu yang selalu berjalan dengan damai, sehingga rakyat seharusnya dapat menentukan pilihannya dengan matang. Akan tetapi, sering kali yang dipilih untuk menjadi wakil rakyat adalah orang yang sangat kaya, memiliki banyak sponsor, dan mengeluarkan uang yang sangat banyak selama proses pemilu, termasuk untuk menarik atensi rakyat. Dengan begini, ketika mereka sudah terpilih menjadi DPR, mereka akan melakukan apapun untuk “balik modal”, termasuk dengan cara korupsi.
     Partai-partai yang ada di masa sekarang pun tidak memiliki program yang mumpuni, sehingga rakyat tidak bisa memilih sebuah partai yang paling sesuai di antara banyaknya partai yang ada. Partai hanya berisi sekelompok tokoh yang cita-citanya bukan memajukan bangsa, tetapi menghasilkan keuntungan sebanyak-banyaknya untuk diri sendiri beserta pengikutnya. Pada akhirnya yang terjadi hari ini adalah rakyat kecil semakin merasa tidak diwakilkan dan menjadi semakin marah. 
    Demo serentak yang terjadi di berbagai wilayah di Indonesia yang berujung rusuh disebabkan oleh rakyat yang tidak percaya lagi kepada aparat, menurut Romo Magnis. Polisi yang harusnya menjadi sahabat dan pelindung rakyat, tetapi rakyat sudah tidak percaya lagi dengan mereka. Agar Indonesia dapat keluar dari krisis, pemerintah harus secara meyakinkan dapat membuktikan keadilan kepada rakyat dan mencegah terciptanya kediktatoran di negara ini. Oleh karena itu, demokrasi harus benar-benar dikembalikan dan dipulihkan, dan jangan biarkan militer mengambil alih negara ini. Kembalikan kondisi Indonesia di masa awal reformasi ketika rakyat benar-benar diwakili, HAM dijamin, dan cita-cita Pancasila dijaga. Dengan segala kekacauan yang terjadi di Indonesia, Romo Magnis tetap optimis masih ada harapan untuk Indonesia, karena dari waktu ke waktu, Indonesia selalu bisa keluar dari kesulitannya. 
    Soe Tjen Marching, yang biasa dipanggil Soe Tjen, memulai materinya dengan pentingnya demokrasi. Karena negara kita menganut sistem demokrasi, rakyat memiliki posisi teratas di suatu negara, sedangkan para pejabat berada dibawah rakyat, sehingga dapat dikatakan bahwa pejabat merupakan pegawai rakyat. Rakyat memiliki hak penuh untuk mengkritik pejabat dan pejabat memiliki kewajiban penuh untuk melayani rakyat. Dalam perspektif etika publik, pejabat harus bekerja untuk rakyat, mengesampingkan kepentingan pribadi, termasuk keluarga, dan orang-orang di dalam kelompoknya. 
    Yang terjadi pada Indonesia saat ini, pejabat elit justru bersekongkol antar sesamanya untuk memperoleh keuntungan. Soe Tjen menyatakan bahwa, pejabat sudah seharusnya bekerja dengan jujur dan transparan, serta melindungi publik dari segala bentuk manipulasi. Akan tetapi, jangankan meladeni rakyat, mendengar suara rakyat saja tidak mau. Pejabat elite justru memanfaatkan oknum untuk menyebar hoaks dan fitnah kepada rakyatnya sendiri, sehingga pendemo yang sedang memperjuangkan kepentingan rakyat, sering sekali difitnah sebagai antek asing. Pada awalnya, demo yang dilakukan selalu berjalan damai. Para demonstran akan saling bekerja sama untuk menangkap provokator. Rakyat yang sangat kooperatif itu masih saja difitnah, padahal yang sering menjadi provokator ialah oknum dari aparatus negara dan para pejabat itu sendiri, tuturnya. 
    Oposisi dari pejabat yang berkuasa saat ini sudah tidak ada. Yang terjadi hanyalah bagi-bagi kekuasaan kepada orang-orang di dalam kelompoknya. Saat ini praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) dinormalisasi, sedangkan orang yang jujur dianggap sok suci. Dewan Redaksi Jurnal Perempuan ini  memberikan contoh kondisi di Britania Raya yang sangat berkebalikan dengan di Indonesia. Di sana, wakil perdana menteri mengundurkan diri karena kurang dalam membayar pajak rumah keduanya. Walaupun ternyata hal tersebut merupakan kesalahpahaman, ia tetap memilih mundur. Hal yang kontras terjadi di Indonesia, di mana koruptor justru mendapat penghargaan, dan para pejabat sudah tidak punya malu untuk melakukan KKN.
     Menurut Soe Tjen, penjarahan yang dilakukan oleh pejabat yang selama ini melakukan korupsi jauh lebih besar jika dibandingkan dengan penjarahan yang dilakukan pada rumah beberapa pejabat publik beberapa waktu yang lalu, yang sebenarnya dicetuskan oleh provokator. 

     Di akhir sesi pemaparan materi, Soe Tjen mengingatkan, DPR bukanlah pejabat terelite, sehingga rakyat jangan terlalu fokus kepada mereka. Di atas DPR terdapat pejabat yang lebih elite, seperti presiden, wakil presiden, dan para menteri yang mendapat bayaran lebih tinggi. Kita sebagai rakyat berhak untuk marah kepada pejabat, karena kerja mereka sudah sangat kacau. 

    Setelah Romo Magnis dan Soe Tjen memaparkan materi, dibukalah sesi tanya jawab. Hal-hal yang ditanyakan oleh para peserta diskusi antara lain, cara mengevaluasi berbagai gerakan di Indonesia agar tidak menciptakan kediktatoran, makna nasionalisme terutama bagi kalangan minoritas, cara untuk menjembatani perbedaan pendapat dalam gerakan sosial, bagaimana jika ternyata penjarahan yang terjadi merupakan murni kemarahan demonstran, dan strategi kolektif sebagai rakyat yang dapat dilakukan untuk memperbaiki sistem negara tanpa menggunakan kekerasan. 
    Untuk menanggapi pertanyaan tersebut, Romo Magnis menyampaikan beberapa hal. Romo tetap memiliki harapan untuk Indonesia keluar dari segala masalah hal yang terjadi. Indonesia masih memiliki lembaga-lembaga negara yang berfungsi, meskipun lemah, sehingga rakyat bisa menuntutnya untuk memperbaiki diri. Yang terjadi sekarang, lembaga-lembaga tersebut sering kali menghindari dari masukan rakyat, terutama dalam hal merumuskan undang-undang. Pada akhirnya, kondisi negara akan tetap bergantung pada presiden dan wakil presiden. Apakah mereka mampu mengambil tindakan yang sesuai dengan harapan rakyat atau tidak. 
     Permasalahan Indonesia adalah tidak adanya oposisi dalam pemerintahan. Oposisi dianggap sebagai tindakan permusuhan padahal penting untuk menaruh perhatian pada hal-hal problematis yang kemudian dibawa ke ruang diskusi. Meskipun akan menimbulkan debat yang tajam, perbedaan pendapat seharusnya dapat terjadi tanpa adanya permusuhan. Kekerasan dalam demo memang harus selalu dihindari karena tidak akan menghasilkan keputusan yang menyelesaikan masalah, dan justru akan menimbulkan masalah lain kepada rakyat, seperti aparat yang dipersenjatai membalas serangan rakyat. Kekerasan bisa dicegah apabila para elit mau mendengarkan tuntutan rakyat dengan membuka ruang diskusi yang terbuka dan kritis. Jika militer mengambil alih kekuasaan di Indonesia, rakyat akan semakin rentan menjadi korban kekerasan aparat dan negara tidak akan kembali pada sistem yang lebih demokratis. Oleh karena itu, gerakan masyarakat harus mendapat dukungan dari civil society, dan seluruh pihak perlu menyuarakan keprihatinan terhadap kondisi politik yang terjadi.
    Di sisi lain, menurut Soe Tjen, cara untuk mencegah terjadinya kediktatoran dalam suatu negara hanya dapat dilakukan dengan rakyat yang terus mengawal jalannya negara. Memperbaiki negara memerlukan proses yang menuntut rakyat untuk terus bergerak. Para aparat yang dipersenjatai justru harus dibatasi geraknya, tidak boleh berbuat semaunya, dan bertugas untuk melindungi rakyat, bukan menyerang rakyatnya sendiri. Di masa kini, berbagai masalah seharusnya bisa diselesaikan melalui diskusi, bukan dengan angkat senjata. 
     Nasionalisme akan selalu berdampingan dengan humanisme. Populernya tagar #KaburAjaDulu sangat bisa dipahami karena banyak orang merasa putus asa dengan kondisi Indonesia saat ini, tetapi akan selalu ada harapan untuk Indonesia jika rakyat terus berusaha dan bergerak. Krisis demokrasi di Indonesia berakar pada lemahnya institusi, normalisasi korupsi, dan hilangnya oposisi yang sehat. Memperbaiki Indonesia memang merupakan proses yang harus dilakukan dengan rakyat yang terus mengawal jalannya negara dan elit politik membuka ruang diskusi terbuka yang kritis. Kekerasan harus dihindari karena hanya memperburuk keadaan. Aksi kolektif tanpa kekerasan menjadi cara lebih etis dan konstruktif. Harapan bagi Indonesia tetap ada selama keadilan sosial, kemanusiaan, dan demokrasi dijunjung bersama. (Dira Chaerani)​


Comments are closed.
    Jurnal Perempuan
    ​
    terindeks di:
    Picture

    Archives

    December 2025
    November 2025
    October 2025
    September 2025
    August 2025
    July 2025
    June 2025
    May 2025
    April 2025
    March 2025
    February 2025
    January 2025
    December 2024
    November 2024
    October 2024
    September 2024
    August 2024
    July 2024
    June 2024
    May 2024
    April 2024
    March 2024
    February 2024
    January 2024
    December 2023
    November 2023
    October 2023
    September 2023
    August 2023
    July 2023
    June 2023
    May 2023
    April 2023
    March 2023
    February 2023
    January 2023
    December 2022
    November 2022
    October 2022
    September 2022
    August 2022
    July 2022
    June 2022
    May 2022
    April 2022
    March 2022
    February 2022
    January 2022
    December 2021
    November 2021
    October 2021
    September 2021
    August 2021
    July 2021
    June 2021
    April 2021
    March 2021
    February 2021
    January 2021
    December 2020
    October 2020
    August 2020
    July 2020
    June 2020
    April 2020
    March 2020
    February 2020
    January 2020
    December 2019
    November 2019
    October 2019
    September 2019
    August 2019
    July 2019
    June 2019
    May 2019
    April 2019
    March 2019
    February 2019
    January 2019
    December 2018
    November 2018
    October 2018
    September 2018
    August 2018
    July 2018
    June 2018
    May 2018
    April 2018
    March 2018
    February 2018
    January 2018
    December 2017
    October 2017
    September 2017
    August 2017
    July 2017
    June 2017
    May 2017
    April 2017
    March 2017
    December 2016
    November 2016
    September 2016
    August 2016
    July 2016
    June 2016
    May 2016
    April 2016
    March 2016
    February 2016
    January 2016
    December 2015
    November 2015
    October 2015
    September 2015
    August 2015
    July 2015
    June 2015
    May 2015
    April 2015
    March 2015
    February 2015
    January 2015
    December 2014
    November 2014
    October 2014
    September 2014
    August 2014
    July 2014
    June 2014

    Categories

    All

    RSS Feed

Yayasan Jurnal Perempuan| Alamanda Tower, 25th Floor | Jl. T.B. Simatupang Kav. 23-24 Jakarta 12430 | Telp. +62 21 2965 7992 Fax. +62 21 2927 7888 | [email protected]
  • TENTANG KAMI
    • Profil
    • Kontak
    • Laporan Tahunan
    • Demo Suara Ibu Peduli
    • Rilis JP
  • Jurnal Perempuan
    • Indonesian Feminist Journal
    • Kirim Tulisan
  • YJP PRESS
    • Buku Seri YJP Press
  • KAFFE
    • Booklet KAFFE
  • Podcast JP
    • Radio JP
  • Sahabat JP
    • Daftar Nama SJP
    • International Friends of JP
    • Blog SJP
    • Gathering SJP
  • Wacana Feminis
    • Tokoh Feminis
    • Cerpen/Puisi Feminis
  • Warta Feminis
  • Warung JP
    • Daftar Toko Buku
  • Toeti Heraty Scholarship
    • Biodata Penerima Beasiswa 2022
    • Biodata Penerima Beasiswa 2023
    • Biodata Penerima Beasiswa 2024
    • Biodata Penerima Beasiswa 2025