Jurnal Perempuan
  • TENTANG KAMI
    • Profil
    • Kontak
    • Laporan Tahunan
    • Demo Suara Ibu Peduli
    • Rilis JP
  • Jurnal Perempuan
    • Indonesian Feminist Journal
    • Kirim Tulisan
  • YJP PRESS
    • Buku Seri YJP Press
  • KAFFE
    • Booklet KAFFE
  • Podcast JP
    • Radio JP
  • Sahabat JP
    • Daftar Nama SJP
    • International Friends of JP
    • Blog SJP
    • Gathering SJP
  • Wacana Feminis
    • Tokoh Feminis
    • Cerpen/Puisi Feminis
  • Warta Feminis
  • Warung JP
    • Daftar Toko Buku
  • Toeti Heraty Scholarship
    • Biodata Penerima Beasiswa 2022
    • Biodata Penerima Beasiswa 2023
    • Biodata Penerima Beasiswa 2024
    • Biodata Penerima Beasiswa 2025
    • Biodata Penerima Beasiswa 2026
Warta Feminis

Ketika Perempuan Berupaya Merebut Ruang Digital dengan Perlawanan yang Berbeda

15/9/2026

 
PictureDok. Jurnal Perempuan
     ​Ruang digital kerap kali menjanjikan kebebasan berekspresi, tetapi pada saat yang sama juga berisiko direproduksi menjadi arena baru bagi kekerasan struktural yang menyudutkan perempuan. Realitas ini menjadi sorotan kritis dalam Panel 6.40 4th Annual Kartini Conference on Indonesian Feminisms (KCIF 2026) bertajuk “Proses ‘Menjadi’ Pemimpin: Perempuan Melawan Kekerasan Struktural dalam Media Digital” yang diselenggarakan pada Jumat (11/9/2026) lalu secara daring.

     ​Diskusi diorganisir dan dipantik oleh Dr. Iklilah Muzayyanah Dini Fajriyah (Kajian Gender Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan, Universitas Indonesia) serta didampingi oleh Diah Irawaty, Ph.D. (Conference Chair). Sebanyak empat pemapar mempresentasikan refleksi mereka yang menggarisbawahi ragam taktik perlawanan perempuan terhadap bias struktural di dunia maya.

     ​Sesi dibuka oleh Iklilah yang menjelaskan bahwa dunia digital membawa dampak yang beragam bagi perempuan. Meski kemajuannya terus mengalami perkembangan pesat, tetapi perempuan juga berada dalam posisi yang terus menegosiasikan identitasnya dalam ruang digital. Mereka dapat pula menjadi korban, tetapi juga secara perlahan menciptakan dan membentuk kembali agensinya untuk merebut ruang tersebut.
​
     ​Pemaparan pertama disampaikan oleh Alifia Putri Yudanti, mahasiswa akhir Kajian Gender SPPB UI. Sebagai bagian dari redaksi Jurnal Perempuan, pemaparan Alifia membawa diskursus yang sangat lekat dengan napas advokasi jurnal ini, yakni mengangkat agensi Perempuan Kepala Keluarga (PEKKA) yang pernah terjerat penipuan cinta daring.
Menurutnya, situasi PEKKA berstatus “janda” yang menjadi korban penipuan cinta daring perlu ditelisik lebih lanjut karena selama ini mereka direduksi sebagai sosok yang haus cinta semata. Padahal, kerentanan mereka terbentuk dari akumulasi stigma masyarakat heteronormatif yang menempatkan perempuan tanpa pasangan lebih rendah hingga posisi sebagai kepala keluarga untuk menyokong kehidupan keluarga mereka.
Picture
Dok. Jurnal Perempuan
     ​Dalam situasi tersebut, pelaku penipuan cinta daring masuk dan menggunakan citra laki-laki ideal untuk melakukan kekerasan finansial, psikologis, dan seksual terhadap PEKKA. Akibatnya, kehidupan PEKKA pun harus kembali dinegosiasikan melalui agensinya sebagai pemimpin utama rumah tangga. Dua bentuk agensi menurut Ortner (2006) tersebut berupa kekuatan untuk merebut kembali ruang digital serta proyek untuk membangun kembali kehidupan jangka panjangnya. 

     ​Pemaparan kedua yang dibawakan oleh Febi Komala Dewi turut mengeksplorasi posisi berlapis perempuan Muslim Gen Z. Dalam paparan hasil risetnya, Febi menyoroti kompleksitas negosiasi iman dan pengambilan keputusan yang dihadapi kelompok ini ketika berhadapan dengan narasi patriarki yang teramplifikasi di media digital.

     ​Febi menekankan bahwa perempuan Muslim Gen Z melakukan refleksi kritis untuk merespons dan menegosiasikan kembali narasi-narasi tersebut. Misalnya, dalam narasi tentang bidadari yang dijanjikan kepada laki-laki di surga. Perempuan Muslim Gen Z tidak lagi menerima begitu saja narasi tersebut sebagai gambaran kenikmatan yang secara khusus diperuntukkan bagi laki-laki. Mereka justru mempertanyakan bagaimana narasi tersebut menempatkan perempuan dalam gambaran kehidupan akhirat—serta apakah kenikmatan dan kebahagiaan di surga harus dipahami melalui perspektif dan kepentingan laki-laki.

     ​Dari situasi individu, pemaparan kemudian beralih pada level komunitas. Roziqoh dari Institut Studi Islam Fahmina menjelaskan bahwa ruang digital juga menjadi arena bagi perempuan untuk menegaskan eksistensi dan kepemimpinannya. Dalam pendampingan Fahmina di Cirebon, Roziqoh memberikan ruang bagi ulama perempuan untuk berdakwah sekaligus menghadirkan narasi alternatif terhadap wacana patriarki yang selama ini banyak disuarakan oleh ulama laki-laki.

     ​Meski menghadapi berbagai hambatan, mulai dari keterbatasan kemampuan digital para ulama hingga algoritma media sosial yang cenderung mengutamakan konten kontroversial, kondisi tersebut tidak mengurangi upaya mereka untuk hadir di ruang digital. Melalui proses pendampingan tersebut, ruang digital justru dimanfaatkan sebagai arena untuk memperkuat eksistensi dan kepemimpinan ulama perempuan pesantren. Konten-konten ceramah mereka pun terus diproduksi dan disirkulasikan melalui media digital sehingga memperluas jangkauan suara dan otoritas keagamaan perempuan.

     ​Sejalan dengan hal tersebut, presentasi ditutup oleh Zahra Amin dari Mubadalah.id. Zahra membagikan pengalaman lembaganya dalam melawan narasi bias gender yang marak beredar di internet. Melalui kerja-kerja literasi digital, Mubadalah.id aktif membangun kepemimpinan perempuan dengan memproduksi dan menyebarluaskan kembali nilai-nilai serta pemikiran keislaman yang berakar pada prinsip kemanusiaan dan kesetaraan gender.

     ​Hambatan yang dihadapi pun serupa dengan berbagai media yang berupaya melawan arus dengan menghadirkan narasi alternatif. Admin Mubadalah.id yang seluruhnya perempuan kerap mengalami digital harassment, mulai dari perkataan kasar hingga ancaman, terutama ketika konten yang mereka produksi secara kritis menyoroti praktik-praktik yang diskriminatif dan destruktif. Meski begitu, mereka tetap teguh mempertahankan ruang digital sebagai arena untuk menyuarakan perspektif keislaman yang lebih adil, setara, dan sekaligus memperkuat posisi perempuan sebagai produsen pengetahuan serta wacana keagamaan.

     ​Setelah sesi pemaparan, sesi diskusi pun bergulir. Pertanyaan berfokus pada metode penelitian pemapar, yang mayoritas menggunakan penelitian feminis. Berbeda dengan penelitian kuantitatif maupun positivistik lainnya, penelitian feminis mengedepankan subjek sebagai pertimbangan utama penelitian. Alifia menjelaskan ia harus menghentikan proses pengambilan data melalui media sosial subjek, ketika subjek tersebut mengalami retraumatisasi. Begitu pula ketika salah satu subjeknya yang bekerja sebagai host livestreaming, memilih untuk diwawancarai melalui pesan WhatsApp sebab suaranya yang ia jaga untuk bekerja keesokan harinya.

     ​Selain itu, diskusi juga mengangkat pertanyaan mengenai kondisi struktural yang menjadi tantangan dalam mengadvokasi isu tersebut. Para pemapar menunjukkan situasi yang beragam, tetapi secara umum memperlihatkan bahwa ruang digital masih dibentuk dan bekerja dalam logika yang maskulin. Narasi-narasi patriarki yang merendahkan perempuan maupun mengeksploitasi kerentanan korban masih dengan mudah beredar, terutama karena karakter ruang digital yang terbuka, luas, dan minim batas. Kondisi ini menunjukkan bahwa perjuangan menghadirkan narasi yang lebih adil di ruang digital tidak hanya berhadapan dengan individu atau konten tertentu, tetapi juga dengan struktur dan mekanisme ruang digital yang memungkinkan narasi patriarki terus diproduksi dan disirkulasikan.

     ​Dengan begitu, panel ini memperlihatkan benang merah yang tegas bahwa “menjadi” pemimpin bagi perempuan di era digital bukanlah posisi yang hadir begitu saja, melainkan proses yang terus dinegosiasikan. Kepemimpinan tersebut dibangun melalui keberanian untuk mengartikulasikan suara, melawan eksploitasi dan narasi patriarki, serta membongkar kekerasan struktural yang masih bekerja di ruang digital. Setiap konten, suara, dan narasi alternatif menjadi bagian dari upaya merebut kembali ruang tersebut—satu piksel pada satu waktu. (Yassifa Ariel Delkaissa)

Comments are closed.
    Jurnal Perempuan
    ​
    terindeks di:
    Picture

    Archives

    September 2026
    August 2026
    July 2026
    June 2026
    May 2026
    April 2026
    March 2026
    February 2026
    January 2026
    December 2025
    November 2025
    October 2025
    September 2025
    August 2025
    July 2025
    June 2025
    May 2025
    April 2025
    March 2025
    February 2025
    January 2025
    December 2024
    November 2024
    October 2024
    September 2024
    August 2024
    July 2024
    June 2024
    May 2024
    April 2024
    March 2024
    February 2024
    January 2024
    December 2023
    November 2023
    October 2023
    September 2023
    August 2023
    July 2023
    June 2023
    May 2023
    April 2023
    March 2023
    February 2023
    January 2023
    December 2022
    November 2022
    October 2022
    September 2022
    August 2022
    July 2022
    June 2022
    May 2022
    April 2022
    March 2022
    February 2022
    January 2022
    December 2021
    November 2021
    October 2021
    September 2021
    August 2021
    July 2021
    June 2021
    April 2021
    March 2021
    February 2021
    January 2021
    December 2020
    October 2020
    August 2020
    July 2020
    June 2020
    April 2020
    March 2020
    February 2020
    January 2020
    December 2019
    November 2019
    October 2019
    September 2019
    August 2019
    July 2019
    June 2019
    May 2019
    April 2019
    March 2019
    February 2019
    January 2019
    December 2018
    November 2018
    October 2018
    September 2018
    August 2018
    July 2018
    June 2018
    May 2018
    April 2018
    March 2018
    February 2018
    January 2018
    December 2017
    October 2017
    September 2017
    August 2017
    July 2017
    June 2017
    May 2017
    April 2017
    March 2017
    December 2016
    November 2016
    September 2016
    August 2016
    July 2016
    June 2016
    May 2016
    April 2016
    March 2016
    February 2016
    January 2016
    December 2015
    November 2015
    October 2015
    September 2015
    August 2015
    July 2015
    June 2015
    May 2015
    April 2015
    March 2015
    February 2015
    January 2015
    December 2014
    November 2014
    October 2014
    September 2014
    August 2014
    July 2014
    June 2014

    Categories

    All

    RSS Feed

Yayasan Jurnal Perempuan| Alamanda Tower, 25th Floor | Jl. T.B. Simatupang Kav. 23-24 Jakarta 12430 | Telp. +62 21 2965 7992 Fax. +62 21 2927 7888 | [email protected]
  • TENTANG KAMI
    • Profil
    • Kontak
    • Laporan Tahunan
    • Demo Suara Ibu Peduli
    • Rilis JP
  • Jurnal Perempuan
    • Indonesian Feminist Journal
    • Kirim Tulisan
  • YJP PRESS
    • Buku Seri YJP Press
  • KAFFE
    • Booklet KAFFE
  • Podcast JP
    • Radio JP
  • Sahabat JP
    • Daftar Nama SJP
    • International Friends of JP
    • Blog SJP
    • Gathering SJP
  • Wacana Feminis
    • Tokoh Feminis
    • Cerpen/Puisi Feminis
  • Warta Feminis
  • Warung JP
    • Daftar Toko Buku
  • Toeti Heraty Scholarship
    • Biodata Penerima Beasiswa 2022
    • Biodata Penerima Beasiswa 2023
    • Biodata Penerima Beasiswa 2024
    • Biodata Penerima Beasiswa 2025
    • Biodata Penerima Beasiswa 2026