Jurnal Perempuan
  • TENTANG KAMI
    • Profil
    • Kontak
    • Laporan Tahunan
    • Demo Suara Ibu Peduli
    • Rilis JP
  • Jurnal Perempuan
    • Indonesian Feminist Journal
    • Kirim Tulisan
  • YJP PRESS
    • Buku Seri YJP Press
  • KAFFE
    • Booklet KAFFE
  • Podcast JP
    • Radio JP
  • Sahabat JP
    • Daftar Nama SJP
    • International Friends of JP
    • Blog SJP
    • Gathering SJP
  • Wacana Feminis
    • Tokoh Feminis
    • Cerpen/Puisi Feminis
  • Warta Feminis
  • Warung JP
    • Daftar Toko Buku
  • Toeti Heraty Scholarship
    • Biodata Penerima Beasiswa 2022
    • Biodata Penerima Beasiswa 2023
    • Biodata Penerima Beasiswa 2024
    • Biodata Penerima Beasiswa 2025
Warta Feminis

Kekerasan dalam Pacaran: Mengenali Siklus, Mencegah Femisida Intim

23/2/2026

 
PictureDok. Jurnal Perempuan
     Kekerasan dalam pacaran sering dilihat sebagai konflik pribadi atau “drama remaja”. Namun, webinar perdana dari program Feminist in Law and Litigation (FILL) pada Sabtu (14/2/2026) lalu menegaskan sebaliknya: relasi romantis yang tidak sehat adalah manifestasi ketimpangan kuasa dalam struktur sosial dan budaya patriarki. Forum ini, diselenggarakan oleh Indonesia Legal Resource Center (ILRC) dan Lembaga Bantuan Hukum Rantai Keadilan Indonesia (LBH RaKeSia), membuka ruang diskusi kritis mengenai bentuk-bentuk kekerasan dalam pacaran yang cenderung disembunyikan atau dikesampingkan oleh diskursus publik.

     Direktur LBH RaKeSia, Dian Puspitasari, memperluas definisi kekerasan dalam pacaran dengan menegaskan bahwa bentuk-bentuknya tidak tunggal dan kerap tersembunyi. Kekerasan dapat hadir dalam wujud fisik, mental, ekonomi, maupun seksual. Jika kekerasan fisik relatif lebih mudah dikenali melalui luka atau tindakan agresif yang kasatmata, maka bentuk-bentuk kekerasan lainnya sering kali berlangsung tanpa saksi, tanpa bukti yang mudah diverifikasi, dan kerap disalahpahami sebagai bagian dari dinamika hubungan.
 
     Tekanan emosional yang terus-menerus, ancaman penyebaran foto atau video intim, pemaksaan untuk memenuhi kebutuhan ekonomi pasangan, hingga pelecehan seksual yang dibungkus dengan dalih cinta dan komitmen merupakan praktik kekerasan yang tak kalah merusak. Kalaupun korban menyadari adanya ketidakberesan, tidak mudah baginya untuk melepaskan diri. Rasa takut, ancaman, manipulasi psikologis, hingga kekhawatiran terhadap stigma sosial kerap menjadi penghalang.
 
     Sesi webinar juga menghadirkan pemaparan dari Corona Fatma Fianinda, S.Psi., M.Psi., Psikolog dari Unit Pelaksana Teknis Daerah Perlindungan Perempuan dan Anak (UPTD PPA) Kota Semarang. Dalam paparannya, Corona menegaskan bahwa laporan kasus kekerasan dalam pacaran menunjukkan angka yang cukup tinggi dan tidak dapat dipandang sebelah mata, terutama karena mayoritas korbannya adalah perempuan.
 
     Menurutnya, persoalan mendasar bukan semata pada tingginya angka kasus, melainkan pada ketidakmampuan banyak orang, termasuk korban, untuk mengenali apakah relasi yang dijalani masih berada dalam batas wajar atau sudah memasuki kategori hubungan yang beracun (toxic relationship). Banyak korban kebingungan membedakan antara konflik biasa dalam hubungan dan pola kekerasan yang sistematis. Akibatnya, proses pelaporan kerap tertunda, bahkan tidak pernah dilakukan.
 
     Pembicara terakhir dalam sesi webinar ini adalah Direktur Eksekutif ILRC, Siti Aminah Tardi. Dalam paparannya, Ami—sapaan akrabnya—mengurai bagaimana kekerasan dalam relasi pacaran kerap terselubung di balik narasi romantisme yang menormalisasi posesivitas, kecemburuan ekstrem, hingga kontrol berlebihan sebagai bentuk kasih sayang. Melalui tema Femisida Intim, Ami menegaskan bahwa pembunuhan oleh pasangan bukanlah peristiwa yang muncul secara tiba-tiba, melainkan puncak dari rangkaian kekerasan yang telah berlangsung sebelumnya.
Picture
Dok. Jurnal Perempuan
     Ia menjelaskan tentang siklus kekerasan yang sering terjadi dalam hubungan abusif. “Siklus kekerasan merupakan rangkaian proses ketegangan yang berlanjut ke kekerasan, lalu reda dengan fase bulan madu—berbaikan, meminta maaf, menunjukkan penyesalan—kemudian kembali lagi berputar ke fase ketegangan, dan seterusnya,” papar Ami. Pola berulang ini membuat korban terjebak dalam harapan bahwa pasangan akan berubah, sementara pada kenyataannya intensitas kekerasan justru cenderung meningkat dari waktu ke waktu.
 
     Menurut Ami, apabila siklus tersebut tidak dihentikan, risikonya dapat berujung pada femisida intim, yakni pembunuhan yang dilakukan oleh pasangan atau mantan pasangan.
 
     Mengenali pola siklus kekerasan menjadi langkah pertama untuk menghentikannya. Tanpa kemampuan membaca tanda-tanda ketegangan, eskalasi kekerasan, dan fase “bulan madu” yang kerap menipu, korban dan lingkungan sekitar mudah terjebak dalam ilusi bahwa relasi tersebut masih dapat diperbaiki tanpa perubahan. Dengan memahami pola tersebut, upaya penghentian tidak lagi bersifat reaktif setelah kekerasan terjadi, melainkan preventif, yakni dengan memutus rantai sebelum ia mencapai titik paling fatal.
 
     Diselenggarakan pada 14 Februari, bertepatan dengan peringatan Hari Kasih Sayang, webinar ini sekaligus menjadi ruang refleksi kritis tentang makna cinta itu sendiri. Di tengah perayaan romantisme, bunga, dan janji-janji manis, pertanyaan mendasar justru perlu diajukan: apakah cinta yang kita rayakan adalah cinta yang membuat kedua belah pihak bertumbuh, atau justru cinta yang membelenggu dan melukai?
 
     Tema “Kekerasan dalam Pacaran: Kenali dan Hentikan” menjadi pengingat bahwa cinta tidak boleh menjadi alasan untuk mentoleransi kontrol, intimidasi, atau kekerasan dalam bentuk apa pun. Pesan dari webinar ini adalah cinta yang sehat memberi ruang aman, saling menghormati, dan memungkinkan individu berkembang tanpa rasa takut. Sebaliknya, jika relasi dipenuhi oleh ketegangan yang berulang, manipulasi emosional, dan ancaman, maka yang dirayakan bukanlah kasih sayang, melainkan ilusi yang berpotensi membahayakan. (Lisa Febriyanti)

Comments are closed.
    Jurnal Perempuan
    ​
    terindeks di:
    Picture

    Archives

    March 2026
    February 2026
    January 2026
    December 2025
    November 2025
    October 2025
    September 2025
    August 2025
    July 2025
    June 2025
    May 2025
    April 2025
    March 2025
    February 2025
    January 2025
    December 2024
    November 2024
    October 2024
    September 2024
    August 2024
    July 2024
    June 2024
    May 2024
    April 2024
    March 2024
    February 2024
    January 2024
    December 2023
    November 2023
    October 2023
    September 2023
    August 2023
    July 2023
    June 2023
    May 2023
    April 2023
    March 2023
    February 2023
    January 2023
    December 2022
    November 2022
    October 2022
    September 2022
    August 2022
    July 2022
    June 2022
    May 2022
    April 2022
    March 2022
    February 2022
    January 2022
    December 2021
    November 2021
    October 2021
    September 2021
    August 2021
    July 2021
    June 2021
    April 2021
    March 2021
    February 2021
    January 2021
    December 2020
    October 2020
    August 2020
    July 2020
    June 2020
    April 2020
    March 2020
    February 2020
    January 2020
    December 2019
    November 2019
    October 2019
    September 2019
    August 2019
    July 2019
    June 2019
    May 2019
    April 2019
    March 2019
    February 2019
    January 2019
    December 2018
    November 2018
    October 2018
    September 2018
    August 2018
    July 2018
    June 2018
    May 2018
    April 2018
    March 2018
    February 2018
    January 2018
    December 2017
    October 2017
    September 2017
    August 2017
    July 2017
    June 2017
    May 2017
    April 2017
    March 2017
    December 2016
    November 2016
    September 2016
    August 2016
    July 2016
    June 2016
    May 2016
    April 2016
    March 2016
    February 2016
    January 2016
    December 2015
    November 2015
    October 2015
    September 2015
    August 2015
    July 2015
    June 2015
    May 2015
    April 2015
    March 2015
    February 2015
    January 2015
    December 2014
    November 2014
    October 2014
    September 2014
    August 2014
    July 2014
    June 2014

    Categories

    All

    RSS Feed

Yayasan Jurnal Perempuan| Alamanda Tower, 25th Floor | Jl. T.B. Simatupang Kav. 23-24 Jakarta 12430 | Telp. +62 21 2965 7992 Fax. +62 21 2927 7888 | [email protected]
  • TENTANG KAMI
    • Profil
    • Kontak
    • Laporan Tahunan
    • Demo Suara Ibu Peduli
    • Rilis JP
  • Jurnal Perempuan
    • Indonesian Feminist Journal
    • Kirim Tulisan
  • YJP PRESS
    • Buku Seri YJP Press
  • KAFFE
    • Booklet KAFFE
  • Podcast JP
    • Radio JP
  • Sahabat JP
    • Daftar Nama SJP
    • International Friends of JP
    • Blog SJP
    • Gathering SJP
  • Wacana Feminis
    • Tokoh Feminis
    • Cerpen/Puisi Feminis
  • Warta Feminis
  • Warung JP
    • Daftar Toko Buku
  • Toeti Heraty Scholarship
    • Biodata Penerima Beasiswa 2022
    • Biodata Penerima Beasiswa 2023
    • Biodata Penerima Beasiswa 2024
    • Biodata Penerima Beasiswa 2025