Dok. Jurnal Perempuan Pada Jumat (10/4/2026), Yayasan Jurnal Perempuan kembali menyelenggarakan KAFFE (Kajian Feminisme dan Filsafat) secara daring guna menghadirkan ruang diskusi atas dinamika gerakan perempuan hari ini. Dengan mengangkat tema “Membaca Fenomena ‘Gender War’ dan ‘Feminazi’”, kelas ini menghadirkan Dr. Abby Gina Boang Manalu, Pengajar Prodi Ilmu Filsafat Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia sekaligus Direktur Eksekutif Yayasan Jurnal Perempuan periode 2021–2025, sebagai pengampu. Diskusi dibuka oleh Pia sebagai moderator dengan refleksi atas maraknya istilah gender war (perang antargender) di ruang publik, khususnya di media sosial. Istilah ini kerap dilekatkan pada perempuan yang menyuarakan pengalaman atau kritik terhadap ketidakadilan—baik seksisme, rasisme, maupun perlakuan misoginis. Alih-alih dipahami sebagai respons atas ketidakadilan struktural, suara tersebut justru sering diposisikan sebagai ‘perang’ antargender. Materi dibuka oleh Abby dengan menegaskan bahwa fenomena ini tidak bisa dilepaskan dari backlash (serangan balik), yakni reaksi yang muncul ketika gerakan feminisme mulai menunjukkan kemajuan dalam pencapaian kesetaraan. Mengacu pada Susan Faludi (2006), alih-alih respons spontan, backlash memiliki pola berulang yang melanggengkan dominasi. Pemaparan Abby juga menyoroti bagaimana feminisme mengalami distorsi makna di ruang publik. Feminisme kerap direduksi menjadi gerakan ‘membenci laki-laki’, ‘anti pernikahan’, atau bahkan ‘anti-agama’. bell hooks (2021) dalam Feminism is For Everybody, meluruskan bahwa feminisme adalah gerakan untuk mengakhiri seksisme dan berbagai bentuk ketidakadilan berbasis gender—yang mengarah pada semua orang, bukan hanya perempuan. Label feminazi sendiri, sebagaimana dijelaskan dalam kelas, merupakan bentuk delegitimasi yang menyerang subjek yang berbicara (ad hominem), alih-alih mempertimbangkan argumennya. Perjuangan kesetaraan disamakan dengan ekstremisme, sehingga kritik terhadap sistem dianggap sebagai ancaman (legitimacy insult). Ketika seseorang menunjukkan ketidakadilan, ia kerap dianggap merusak suasana—dilabeli sensitif dan tidak kooperatif. Menurut Rosalind Gill (2007), label dan framing ini tumbuh di atas landasan sensibilitas postfeminis. Selain itu, gender war dipahami sebagai skenario yang menyederhanakan persoalan struktural menjadi konflik dua kubu yang seolah setara. Perempuan yang mengkritik ketidakadilan ditempatkan sebagai aggressor (penyerang), bukan sebagai orang yang merespons ketidakadilan. Mispersepsi tentang feminisme kerap muncul di media sosial, terutama ketika perempuan menyampaikan kontra-narasi terhadap perilaku misoginis. Bagi Abby, label diatas adalah wajah backlash kontemporer yang sering kali hadir melalui narasi-narasi klise, “perempuan sekarang sudah setara” atau “feminisme sudah tidak relevan”. Namun, ia justru mengabaikan fakta bahwa ketimpangan berbasis gender masih terjadi. Baik dalam bentuk kekerasan seksual yang setiap tahun terjadi, diskriminasi di tempat kerja, representasi politik yang rendah, maupun beban domestik yang timpang. Dengan demikian, narasi tersebut sejatinya tidak logis. Menariknya, backlash tidak selalu tampil terang-terangan dalam larangan. Ia juga bekerja secara halus melalui normalisasi dan apropriasi—membuat suara perempuan terdengar tidak sah lewat stigma, logika, dan narasi kebebasan. Dalam pola ini, nilai-nilai feminisme diadopsi secara dangkal dan dilepaskan dari muatan politisnya. Independent woman direduksi menjadi citra hedonis, sementara selfcare dipersempit menjadi konsumsi produk, bukan praktik keberdayaan yang selaras dengan feminisme. Feminisme direduksi menjadi ‘pilihan individu’, sementara kritiknya terhadap struktur sosial dianggap berlebihan. Feminisme dibuat tampak ‘terlalu serius’ sehingga membuat kita merasa bersalah dan mempertanyakan diri sendiri saat mengkritik. Akibatnya, muncul ilusi kebebasan yang melahirkan kontrol baru. Perempuan didorong untuk memenuhi standar tertentu atas tubuh dan identitasnya, sambil tetap merasa bahwa semua itu adalah pilihan pribadi. Standar baru ini mengakibatkan rasa tidak percaya diri sehingga perempuan merasa perlu mengoreksi tubuhnya, meski harus menanggung rasa sakit di bawah kontrol masyarakat. Femininitas tidak didefinisikan oleh peran sosial, tapi melalui kepemilikan tubuh yang ‘tepat’.
Dalam sesi tanya jawab, salah satu peserta mengangkat persoalan diskriminasi di tempat kerja yang kerap memunculkan anggapan bahwa laki-laki juga menjadi pihak yang dirugikan. Menanggapi hal ini, Abby menekankan pentingnya pendekatan empatik dalam advokasi, yakni dengan membantu laki-laki memahami pengalaman ketidakadilan secara analogis, tanpa mengaburkan fakta bahwa perempuan tetap berada dalam posisi yang lebih rentan secara struktural. Ia juga menyoroti isu cuti haid dan cuti hamil yang sering disalahpahami sebagai bentuk privilese. Menurutnya, kebijakan tersebut justru merupakan bare minimum yang bisa diusahakan oleh pemerintah atas kebutuhan biologis perempuan agar mereka tidak harus tersingkir dari dunia kerja. Abby menegaskan bahwa cuti bukanlah keuntungan, melainkan upaya dasar untuk menciptakan titik pijak yang lebih adil, mengingat pengalaman kehamilan dan reproduksi tidak pernah benar-benar terkompensasi. Ia juga merujuk pada beberapa riset Jurnal Perempuan yang menunjukkan bahwa perempuan usia reproduktif tetap rentan terpinggirkan, bukan karena kurangnya kapasitas atau pendidikan, melainkan karena sistem kerja yang tidak mengakomodasi realitas kehidupan mereka setelah menikah. Diskusi ditutup dengan penegasan bahwa feminisme adalah kerja panjang yang sunyi dan penuh resistensi. Backlash akan selalu hadir sebagai bagian dari dinamikanya, namun meski berjalan perlahan, kerja-kerja feminisme terus menunjukkan dampaknya—tentunya dengan berbekal pendekatan kritis, bertanya, dan bertahan dalam sistem yang belum sepenuhnya adil. Feminisme akan tetap hidup sejauh nalar kritis terus dipelihara dan keberanian bersuara tidak dihentikan. (Hana Rusmalia) Comments are closed.
|
Jurnal Perempuan
terindeks di: Archives
May 2026
Categories |

RSS Feed