Jurnal Perempuan
  • TENTANG KAMI
    • Profil
    • Kontak
    • Laporan Tahunan
    • Demo Suara Ibu Peduli
    • Rilis JP
  • Jurnal Perempuan
    • Indonesian Feminist Journal
    • Kirim Tulisan
  • YJP PRESS
    • Buku Seri YJP Press
  • KAFFE
    • Booklet KAFFE
  • Podcast JP
    • Radio JP
  • Sahabat JP
    • Daftar Nama SJP
    • International Friends of JP
    • Blog SJP
    • Gathering SJP
  • Wacana Feminis
    • Tokoh Feminis
    • Cerpen/Puisi Feminis
  • Warta Feminis
  • Warung JP
    • Daftar Toko Buku
  • Toeti Heraty Scholarship
    • Biodata Penerima Beasiswa 2022
    • Biodata Penerima Beasiswa 2023
    • Biodata Penerima Beasiswa 2024
    • Biodata Penerima Beasiswa 2025
Warta Feminis

KAFFE April 2026: Mengurai Backlash terhadap Feminisme

15/4/2026

 
PictureDok. Jurnal Perempuan
     Pada Jumat (10/4/2026), Yayasan Jurnal Perempuan kembali menyelenggarakan KAFFE (Kajian Feminisme dan Filsafat) secara daring guna menghadirkan ruang diskusi atas dinamika gerakan perempuan hari ini. Dengan mengangkat tema “Membaca Fenomena ‘Gender War’ dan ‘Feminazi’”, kelas ini menghadirkan Dr. Abby Gina Boang Manalu, Pengajar Prodi Ilmu Filsafat Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia sekaligus Direktur Eksekutif Yayasan Jurnal Perempuan periode 2021–2025, sebagai pengampu.
​

     Diskusi dibuka oleh Pia sebagai moderator dengan refleksi atas maraknya istilah gender war (perang antargender) di ruang publik, khususnya di media sosial. Istilah ini kerap dilekatkan pada perempuan yang menyuarakan pengalaman atau kritik terhadap ketidakadilan—baik seksisme, rasisme, maupun perlakuan misoginis. Alih-alih dipahami sebagai respons atas ketidakadilan struktural, suara tersebut justru sering diposisikan sebagai ‘perang’ antargender.

     ​Materi dibuka oleh Abby dengan menegaskan bahwa fenomena ini tidak bisa dilepaskan dari backlash (serangan balik), yakni reaksi yang muncul ketika gerakan feminisme mulai menunjukkan kemajuan dalam pencapaian kesetaraan. Mengacu pada Susan Faludi (2006), alih-alih respons spontan, backlash memiliki pola berulang yang melanggengkan dominasi. Pemaparan Abby juga menyoroti bagaimana feminisme mengalami distorsi makna di ruang publik. Feminisme kerap direduksi menjadi gerakan ‘membenci laki-laki’, ‘anti pernikahan’, atau bahkan ‘anti-agama’. bell hooks (2021) dalam Feminism is For Everybody, meluruskan bahwa feminisme adalah gerakan untuk mengakhiri seksisme dan berbagai bentuk ketidakadilan berbasis gender—yang mengarah pada semua orang, bukan hanya perempuan.
Picture
Dok. Jurnal Perempuan
     Label feminazi sendiri, sebagaimana dijelaskan dalam kelas, merupakan bentuk delegitimasi yang menyerang subjek yang berbicara (ad hominem), alih-alih mempertimbangkan argumennya. Perjuangan kesetaraan disamakan dengan ekstremisme, sehingga kritik terhadap sistem dianggap sebagai ancaman (legitimacy insult). Ketika seseorang menunjukkan ketidakadilan, ia kerap dianggap merusak suasana—dilabeli sensitif dan tidak kooperatif. Menurut Rosalind Gill (2007), label dan framing ini tumbuh di atas landasan sensibilitas postfeminis. Selain itu, gender war dipahami sebagai skenario yang menyederhanakan persoalan struktural menjadi konflik dua kubu yang seolah setara. Perempuan yang mengkritik ketidakadilan ditempatkan sebagai aggressor (penyerang), bukan sebagai orang yang merespons ketidakadilan.

     Mispersepsi tentang feminisme kerap muncul di media sosial, terutama ketika perempuan menyampaikan kontra-narasi terhadap perilaku misoginis. Bagi Abby, label diatas adalah wajah backlash kontemporer yang sering kali hadir melalui narasi-narasi klise, “perempuan sekarang sudah setara” atau “feminisme sudah tidak relevan”. Namun, ia justru mengabaikan fakta bahwa ketimpangan berbasis gender masih terjadi. Baik dalam bentuk kekerasan seksual yang setiap tahun terjadi, diskriminasi di tempat kerja, representasi politik yang rendah, maupun beban domestik yang timpang. Dengan demikian, narasi tersebut sejatinya tidak logis.

     Menariknya, backlash tidak selalu tampil terang-terangan dalam larangan. Ia juga bekerja secara halus melalui normalisasi dan apropriasi—membuat suara perempuan terdengar tidak sah lewat stigma, logika, dan narasi kebebasan. Dalam pola ini, nilai-nilai feminisme diadopsi secara dangkal dan dilepaskan dari muatan politisnya. Independent woman direduksi menjadi citra hedonis, sementara selfcare dipersempit menjadi konsumsi produk, bukan praktik keberdayaan yang selaras dengan feminisme. Feminisme direduksi menjadi ‘pilihan individu’, sementara kritiknya terhadap struktur sosial dianggap berlebihan. Feminisme dibuat tampak ‘terlalu serius’ sehingga membuat kita merasa bersalah dan mempertanyakan diri sendiri saat mengkritik.
Picture
Dok. Jurnal Perempuan
     Akibatnya, muncul ilusi kebebasan yang melahirkan kontrol baru. Perempuan didorong untuk memenuhi standar tertentu atas tubuh dan identitasnya, sambil tetap merasa bahwa semua itu adalah pilihan pribadi. Standar baru ini mengakibatkan rasa tidak percaya diri sehingga perempuan merasa perlu mengoreksi tubuhnya, meski harus menanggung rasa sakit di bawah kontrol masyarakat. Femininitas tidak didefinisikan oleh peran sosial, tapi melalui kepemilikan tubuh yang ‘tepat’.

     Dalam sesi tanya jawab, salah satu peserta mengangkat persoalan diskriminasi di tempat kerja yang kerap memunculkan anggapan bahwa laki-laki juga menjadi pihak yang dirugikan. Menanggapi hal ini, Abby menekankan pentingnya pendekatan empatik dalam advokasi, yakni dengan membantu laki-laki memahami pengalaman ketidakadilan secara analogis, tanpa mengaburkan fakta bahwa perempuan tetap berada dalam posisi yang lebih rentan secara struktural. 

     ​Ia juga menyoroti isu cuti haid dan cuti hamil yang sering disalahpahami sebagai bentuk privilese. Menurutnya, kebijakan tersebut justru merupakan bare minimum yang bisa diusahakan oleh pemerintah atas kebutuhan biologis perempuan agar mereka tidak harus tersingkir dari dunia kerja. Abby menegaskan bahwa cuti bukanlah keuntungan, melainkan upaya dasar untuk menciptakan titik pijak yang lebih adil, mengingat pengalaman kehamilan dan reproduksi tidak pernah benar-benar terkompensasi.

     Ia juga merujuk pada beberapa riset Jurnal Perempuan yang menunjukkan bahwa perempuan usia reproduktif tetap rentan terpinggirkan, bukan karena kurangnya kapasitas atau pendidikan, melainkan karena sistem kerja yang tidak mengakomodasi realitas kehidupan mereka setelah menikah.

     Diskusi ditutup dengan penegasan bahwa feminisme adalah kerja panjang yang sunyi dan penuh resistensi. Backlash akan selalu hadir sebagai bagian dari dinamikanya, namun meski berjalan perlahan, kerja-kerja feminisme terus menunjukkan dampaknya—tentunya dengan berbekal pendekatan kritis, bertanya, dan bertahan dalam sistem yang belum sepenuhnya adil. Feminisme akan tetap hidup sejauh nalar kritis terus dipelihara dan keberanian bersuara tidak dihentikan. (Hana Rusmalia)

Comments are closed.
    Jurnal Perempuan
    ​
    terindeks di:
    Picture

    Archives

    May 2026
    April 2026
    March 2026
    February 2026
    January 2026
    December 2025
    November 2025
    October 2025
    September 2025
    August 2025
    July 2025
    June 2025
    May 2025
    April 2025
    March 2025
    February 2025
    January 2025
    December 2024
    November 2024
    October 2024
    September 2024
    August 2024
    July 2024
    June 2024
    May 2024
    April 2024
    March 2024
    February 2024
    January 2024
    December 2023
    November 2023
    October 2023
    September 2023
    August 2023
    July 2023
    June 2023
    May 2023
    April 2023
    March 2023
    February 2023
    January 2023
    December 2022
    November 2022
    October 2022
    September 2022
    August 2022
    July 2022
    June 2022
    May 2022
    April 2022
    March 2022
    February 2022
    January 2022
    December 2021
    November 2021
    October 2021
    September 2021
    August 2021
    July 2021
    June 2021
    April 2021
    March 2021
    February 2021
    January 2021
    December 2020
    October 2020
    August 2020
    July 2020
    June 2020
    April 2020
    March 2020
    February 2020
    January 2020
    December 2019
    November 2019
    October 2019
    September 2019
    August 2019
    July 2019
    June 2019
    May 2019
    April 2019
    March 2019
    February 2019
    January 2019
    December 2018
    November 2018
    October 2018
    September 2018
    August 2018
    July 2018
    June 2018
    May 2018
    April 2018
    March 2018
    February 2018
    January 2018
    December 2017
    October 2017
    September 2017
    August 2017
    July 2017
    June 2017
    May 2017
    April 2017
    March 2017
    December 2016
    November 2016
    September 2016
    August 2016
    July 2016
    June 2016
    May 2016
    April 2016
    March 2016
    February 2016
    January 2016
    December 2015
    November 2015
    October 2015
    September 2015
    August 2015
    July 2015
    June 2015
    May 2015
    April 2015
    March 2015
    February 2015
    January 2015
    December 2014
    November 2014
    October 2014
    September 2014
    August 2014
    July 2014
    June 2014

    Categories

    All

    RSS Feed

Yayasan Jurnal Perempuan| Alamanda Tower, 25th Floor | Jl. T.B. Simatupang Kav. 23-24 Jakarta 12430 | Telp. +62 21 2965 7992 Fax. +62 21 2927 7888 | [email protected]
  • TENTANG KAMI
    • Profil
    • Kontak
    • Laporan Tahunan
    • Demo Suara Ibu Peduli
    • Rilis JP
  • Jurnal Perempuan
    • Indonesian Feminist Journal
    • Kirim Tulisan
  • YJP PRESS
    • Buku Seri YJP Press
  • KAFFE
    • Booklet KAFFE
  • Podcast JP
    • Radio JP
  • Sahabat JP
    • Daftar Nama SJP
    • International Friends of JP
    • Blog SJP
    • Gathering SJP
  • Wacana Feminis
    • Tokoh Feminis
    • Cerpen/Puisi Feminis
  • Warta Feminis
  • Warung JP
    • Daftar Toko Buku
  • Toeti Heraty Scholarship
    • Biodata Penerima Beasiswa 2022
    • Biodata Penerima Beasiswa 2023
    • Biodata Penerima Beasiswa 2024
    • Biodata Penerima Beasiswa 2025