Jurnal Perempuan
  • TENTANG KAMI
    • Profil
    • Kontak
    • Laporan Tahunan
    • Demo Suara Ibu Peduli
    • Rilis JP
  • Jurnal Perempuan
    • Indonesian Feminist Journal
    • Kirim Tulisan
  • YJP PRESS
    • Buku Seri YJP Press
  • KAFFE
    • Booklet KAFFE
  • Podcast JP
    • Radio JP
  • Sahabat JP
    • Daftar Nama SJP
    • International Friends of JP
    • Blog SJP
    • Gathering SJP
  • Wacana Feminis
    • Tokoh Feminis
    • Cerpen/Puisi Feminis
  • Warta Feminis
  • Warung JP
    • Daftar Toko Buku
  • Toeti Heraty Scholarship
    • Biodata Penerima Beasiswa 2022
    • Biodata Penerima Beasiswa 2023
    • Biodata Penerima Beasiswa 2024
    • Biodata Penerima Beasiswa 2025
Warta Feminis

Jam Pasir Indonesia: Demokrasi, Ketimpangan, dan Masa Depan yang Dipertaruhkan

12/5/2026

 
PictureDok. Jurnal Perempuan
     ​Sebuah bangsa tidak runtuh dalam sehari, melainkan perlahan terkikis oleh ketimpangan yang dinormalisasi, demokrasi yang kehilangan substansi, dan pembangunan yang terus menuntut korban. Di tengah berbagai krisis yang saling bertaut itu, peluncuran buku Jam Pasir Indonesia: Menakar Masa Depan Indonesia dari Butir Kuasa dan Ketimpangan yang dilaksanakan pada hari Senin (4/5/2026), menghadirkan refleksi penting tentang arah perjalanan Indonesia menuju 2045.

     ​Buku yang disusun oleh para peneliti dan ahli dalam Laboratorium Indonesia 2045 (LAB 45) ini tidak sekadar membaca masa depan Indonesia secara optimistis. Sebaliknya, ia justru memperlihatkan retakan-retakan yang selama ini tersembunyi di balik narasi pertumbuhan, stabilitas, dan pembangunan nasional. Melalui dua belas topik yang membentang dari politik ekonomi, demokrasi, media, pertahanan, hingga krisis ekologis, buku ini mengajak kita mempertanyakan ulang: masa depan Indonesia sebenarnya sedang dibangun untuk siapa?
Picture
Dok. Jurnal Perempuan
     ​​Salah satu benang merah yang paling terasa dalam buku ini adalah paradoks demokrasi Indonesia. Setelah Reformasi 1998, demokrasi sering dipahami sebagai pencapaian final di mana pemilu rutin, kebebasan sipil, dan pergantian kekuasaan dianggap sebagai tanda kematangan politik. Namun, sebagaimana terlihat dalam pembahasan mengenai partai politik, media massa, hingga operasi informasi, demokrasi Indonesia justru sedang mengalami pendangkalan. Demokrasi berjalan secara prosedural, tetapi kehilangan daya emansipatorisnya.
 
     ​Partai politik semakin terlembaga sebagai mesin elektoral, bukan ruang artikulasi kepentingan rakyat. Media massa berada di bawah tekanan oligarki dan logika pasar. Sementara itu, generasi muda menghadapi ruang publik digital yang dipenuhi disinformasi, polarisasi, dan manipulasi opini. Dalam konteks ini, demokrasi tidak lagi bekerja sebagai arena deliberasi warga, melainkan sebagai manajemen stabilitas politik.
 
     ​Situasi tersebut mengingatkan pada kritik Wendy Brown (2015) terhadap neoliberalisme, yakni ketika demokrasi direduksi menjadi tata kelola administratif yang miskin imajinasi politik. Warga diposisikan sebagai konsumen politik, bukan subjek yang aktif menentukan arah kolektif bangsa. Akibatnya, partisipasi publik menjadi dangkal, sementara oligarki ekonomi dan politik semakin mengonsolidasikan kekuasaan.
 
     ​Namun, krisis demokrasi tidak hanya terlihat dalam institusi politik. Ia juga muncul dalam cara negara mengelola kehidupan. Pembahasan mengenai tingginya angka kematian ibu di Indonesia menjadi salah satu bagian paling penting dalam buku ini karena memperlihatkan bahwa pembangunan nasional sering kali gagal menyentuh persoalan paling mendasar, yaitu merawat kehidupan manusia.
 
     ​Di tengah klaim pertumbuhan ekonomi dan modernisasi, angka kematian ibu tetap menjadi kenyataan yang menghantui banyak perempuan Indonesia. Hal ini merupakan cerminan dari ketimpangan struktural yang lebih jauh dari persoalan teknis layanan kesehatan. Tubuh perempuan terus ditempatkan di pinggiran prioritas pembangunan. Negara tampak sigap dalam menjaga stabilitas fiskal, keamanan nasional, atau investasi, tetapi sering lamban ketika berhadapan dengan kerentanan hidup sehari-hari.
 
     ​Dalam perspektif filsafat politik, kondisi ini dapat dibaca melalui konsep biopolitics Michel Foucault (1978): negara modern mengelola populasi melalui regulasi kehidupan. Namun, sebagaimana dikembangkan Achille Mbembe (2003) melalui konsepnecropolitics, tidak semua kehidupan dianggap layak untuk dilindungi secara setara. Ada kelompok-kelompok yang secara sistematis dibiarkan rentan—perempuan miskin, masyarakat adat, warga di wilayah konflik, atau mereka yang hidup di kawasan ekstraktif.
 
     ​Karena itu, pembahasan mengenai Papua, pertahanan, dan Undang-Undang Intelijen Negara menjadi relevan untuk dibaca secara bersamaan. Negara modern semakin memperkuat aparatus keamanan dan pengawasan, tetapi pada saat yang sama gagal menghadirkan rasa aman yang substantif bagi warganya. Keamanan lebih sering dimaknai sebagai stabilitas politik ketimbang perlindungan terhadap kehidupan.
 
     ​Di sisi lain, buku ini juga memperlihatkan bagaimana persoalan ekonomi Indonesia menyimpan kerentanan yang cukup serius. Utang negara yang “aman di permukaan”, relasi fiskal dan moneter, hingga trajektori politik ekonomi Indonesia menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi nasional dibangun di atas fondasi yang rapuh. Ketimpangan sosial terus melebar, sementara pembangunan masih sangat bergantung pada ekstraksi sumber daya alam.
 
     ​Di sinilah persoalan ekologis menjadi penting. Bagian “Demokrasi yang (Tak Otomatis) Hijau” secara implisit menunjukkan bahwa demokrasi elektoral tidak dengan sendirinya menghasilkan keadilan ekologis. Pergantian rezim tidak selalu mengubah logika pembangunan yang eksploitatif. Hutan tetap dibuka, tambang terus diperluas, dan masyarakat lokal sering diposisikan sebagai hambatan pembangunan.
 
     ​Perspektif ekofeminisme membantu kita memahami bahwa krisis ekologis tidak pernah netral. Kerusakan lingkungan selalu terkait dengan relasi kuasa: siapa yang memperoleh keuntungan, siapa yang kehilangan ruang hidup, dan siapa yang dipaksa menanggung dampaknya. Dalam banyak kasus, perempuan justru menjadi kelompok yang paling merasakan dampak krisis ekologis karena mereka berada di garis depan reproduksi sosial, seperti mengurus air, pangan, kesehatan keluarga, hingga keberlangsungan komunitas.
 
     ​Karena itu, masa depan Indonesia tidak bisa hanya diukur melalui angka pertumbuhan ekonomi atau bonus demografi menuju 2045. Apakah pembangunan Indonesia sungguh mampu merawat kehidupan? Ataukah ia justru mempercepat krisis sosial dan ekologis yang semakin dalam?
 
     ​Metafora “jam pasir” dalam buku ini terasa sangat kuat. Jam pasir merupakan simbol waktu yang terus berjalan, sekaligus gambaran tentang distribusi kuasa yang timpang. Di bagian atas, kekuasaan ekonomi dan politik terus terkonsentrasi pada segelintir elite. Sementara di bagian bawah, masyarakat menghadapi akumulasi kerentanan, mulai dari ketidakpastian kerja, krisis ekologis, melemahnya demokrasi, hingga menurunnya kualitas hidup.
Picture
Dok. Jurnal Perempuan
     ​Pada akhirnya, buku Jam Pasir Indonesia mengingatkan bahwa masa depan dibentuk melalui keputusan-keputusan politik tentang siapa yang dianggap penting, siapa yang dilindungi, dan siapa yang dikorbankan atas nama pembangunan. Indonesia 2045 bukan sekadar proyek menuju negara maju, melainkan pertaruhan tentang nilai apa yang ingin dijadikan dasar kehidupan bersama.
 
     ​Jika demokrasi hanya menghasilkan stabilitas tanpa keadilan, pertumbuhan tanpa keberlanjutan, dan pembangunan tanpa kepedulian terhadap kehidupan, maka yang tersisa hanyalah kemajuan yang hampa. Serta, mungkin saja, di situlah jam pasir Indonesia sedang bergerak paling cepat. (Yasyfa Nadhira)
​

 
Daftar Pustaka
Brown, W. (2015). Undoing the Demos: Neoliberalism’s Stealth Revolution. Zone Books.
Foucault, M. (1978). The History of Sexuality, Volume 1: An Introduction (R. Hurley, Trans.). Vintage Books.
Mbembe, A. (2003). Necropolitics. Public Culture, 15(1), 11–40. https://doi.org/10.1215/08992363-15-1-11
​

Comments are closed.
    Jurnal Perempuan
    ​
    terindeks di:
    Picture

    Archives

    May 2026
    April 2026
    March 2026
    February 2026
    January 2026
    December 2025
    November 2025
    October 2025
    September 2025
    August 2025
    July 2025
    June 2025
    May 2025
    April 2025
    March 2025
    February 2025
    January 2025
    December 2024
    November 2024
    October 2024
    September 2024
    August 2024
    July 2024
    June 2024
    May 2024
    April 2024
    March 2024
    February 2024
    January 2024
    December 2023
    November 2023
    October 2023
    September 2023
    August 2023
    July 2023
    June 2023
    May 2023
    April 2023
    March 2023
    February 2023
    January 2023
    December 2022
    November 2022
    October 2022
    September 2022
    August 2022
    July 2022
    June 2022
    May 2022
    April 2022
    March 2022
    February 2022
    January 2022
    December 2021
    November 2021
    October 2021
    September 2021
    August 2021
    July 2021
    June 2021
    April 2021
    March 2021
    February 2021
    January 2021
    December 2020
    October 2020
    August 2020
    July 2020
    June 2020
    April 2020
    March 2020
    February 2020
    January 2020
    December 2019
    November 2019
    October 2019
    September 2019
    August 2019
    July 2019
    June 2019
    May 2019
    April 2019
    March 2019
    February 2019
    January 2019
    December 2018
    November 2018
    October 2018
    September 2018
    August 2018
    July 2018
    June 2018
    May 2018
    April 2018
    March 2018
    February 2018
    January 2018
    December 2017
    October 2017
    September 2017
    August 2017
    July 2017
    June 2017
    May 2017
    April 2017
    March 2017
    December 2016
    November 2016
    September 2016
    August 2016
    July 2016
    June 2016
    May 2016
    April 2016
    March 2016
    February 2016
    January 2016
    December 2015
    November 2015
    October 2015
    September 2015
    August 2015
    July 2015
    June 2015
    May 2015
    April 2015
    March 2015
    February 2015
    January 2015
    December 2014
    November 2014
    October 2014
    September 2014
    August 2014
    July 2014
    June 2014

    Categories

    All

    RSS Feed

Yayasan Jurnal Perempuan| Alamanda Tower, 25th Floor | Jl. T.B. Simatupang Kav. 23-24 Jakarta 12430 | Telp. +62 21 2965 7992 Fax. +62 21 2927 7888 | [email protected]
  • TENTANG KAMI
    • Profil
    • Kontak
    • Laporan Tahunan
    • Demo Suara Ibu Peduli
    • Rilis JP
  • Jurnal Perempuan
    • Indonesian Feminist Journal
    • Kirim Tulisan
  • YJP PRESS
    • Buku Seri YJP Press
  • KAFFE
    • Booklet KAFFE
  • Podcast JP
    • Radio JP
  • Sahabat JP
    • Daftar Nama SJP
    • International Friends of JP
    • Blog SJP
    • Gathering SJP
  • Wacana Feminis
    • Tokoh Feminis
    • Cerpen/Puisi Feminis
  • Warta Feminis
  • Warung JP
    • Daftar Toko Buku
  • Toeti Heraty Scholarship
    • Biodata Penerima Beasiswa 2022
    • Biodata Penerima Beasiswa 2023
    • Biodata Penerima Beasiswa 2024
    • Biodata Penerima Beasiswa 2025