Dok. Jurnal Perempuan Kondisi kekuatan global yang kian berubah, krisis lingkungan, transformasi ekonomi, serta dinamika sosial dan politik terus menjadi tantangan yang dihadapi masyarakat di berbagai wilayah. Kondisi tersebut menjadi perhatian dalam The 9th International Symposium of Jurnal Antropologi Indonesia (ISJAI 9) yang mengangkat tema “Pluriversal Futures in a Multipolarising World: Global South Perspectives” Kegiatan yang diselenggarakan oleh Departemen Antropologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI) ini berlangsung pada 4–7 Agustus 2026 di Kampus UI Depok. ISJAI ke-9 mempertemukan antropolog, akademisi, peneliti, aktivis, dan praktisi dari Indonesia maupun berbagai negara untuk membahas beragam tantangan global dan regional melalui perspektif antropologi serta mendorong pertukaran pengetahuan dari perspektif Global South.
Pada hari pertama pelaksanaan, Selasa (4/8), ISJAI ke-9 dibuka dengan menghadirkan dua pembicara, yakni Prof. Amita Baviskar dari Ashoka University dan Els Tieneke Rieke Katmo, Ph.D. dari Universitas Papua. Keduanya mengangkat pembahasan berbeda. Amita membahas dekolonisasi antropologi dan universitas dalam konteks India, sementara Els menyoroti produksi pengetahuan perempuan Papua serta relasinya dengan alam di tengah perubahan iklim dan perubahan lingkungan. Amita membuka sesi dengan membicarakan tentang dekolonisasi antropologi dan universitas melalui contoh pengalaman India. Ia mengajak peserta melihat bagaimana sejarah kolonial masih memengaruhi perkembangan disiplin ilmu, produksi pengetahuan, dan peran universitas dalam masyarakat setelah kolonial. Menurut Amita, dekolonisasi tidak berhenti ketika sebuah negara memperoleh kemerdekaan secara politik. Ia mengatakan bahwa dunia akademik juga mengalami masalah ini, terutama tentang siapa yang memiliki otoritas untuk menghasilkan pengetahuan yang dianggap penting. “Pertanyaan tentang dekolonisasi ialah sebagai pekerjaan yang hingga kini belum selesai,” ujar Amita. Ia menjelaskan bahwa setelah India memperoleh kemerdekaan pada 1947, universitas dimasukkan ke dalam rencana pembangunan negara. Diharapkan bahwa pendidikan tinggi akan menghasilkan siswa yang memiliki kemampuan untuk mendukung kemajuan ekonomi dan sosial. Akibatnya, nilai pengetahuan akademik biasanya didasarkan pada manfaatnya yang langsung terhadap pembangunan dan penyelesaian masalah masyarakat. Kondisi tersebut turut memengaruhi posisi antropologi. Antropologi berusaha memahami kehidupan masyarakat secara lebih kompleks, sementara ilmu sosial di India menghadapi tuntutan untuk menghasilkan pengetahuan yang dapat menjawab persoalan praktis, kata Amita. Selain itu, ia menyatakan bahwa garis yang membedakan antropologi dan sosiologi India kadang-kadang tidak jelas. Banyak peneliti antropologi yang menggunakan metode seperti etnografi bekerja di departemen sosiologi. Dia berpendapat bahwa perkembangan ini terkait dengan sejarah perkembangan ilmu sosial di India setelah kemerdekaan. Salah satu contoh yang disampaikan Amita berasal dari penelitiannya mengenai polusi udara dan asma pada anak-anak di Delhi. Studi awalnya berfokus pada hubungan antara polusi dan penyakit pernapasan. Namun, hasil penelitian di lapangan menunjukkan bahwa pengalaman anak-anak dengan asma tidak dapat dijelaskan hanya dengan hubungan sebab-akibat antara polusi dan penyakit. Pengalaman hidup anak-anak, keadaan sosial, dan faktor mental dan emosional semuanya memengaruhi cara mereka mengalami penyakit tersebut. Hasilnya menunjukkan bahwa pendekatan yang digunakan dalam antropologi berbeda dari pendekatan yang digunakan dalam bidang lain. “Kolaborator sains melihat peran ahli antropologi untuk memberikan warna lokal pada skrip yang sudah diterima,” ujar Amita. Akademisi asal India tersebut percaya bahwa hal ini dapat membatasi kontribusi antropologi dalam penelitian lintas disiplin. Dengan menggunakan pendekatan antropologi, kita dapat menemukan jawaban untuk masalah yang lebih kompleks tentang pengalaman masyarakat dan hubungan sosial yang tidak selalu terlihat melalui pendekatan yang berfokus pada diagnosis atau penyelesaian langsung. Amita juga berbicara tentang hubungan antropologi dengan sejarah India. Ia menunjukkan beberapa cara di mana pengetahuan antropologis dapat digunakan untuk mengelola masyarakat adat. Fokus pembangunan negara setelah kemerdekaan menimbulkan masalah baru tentang bagaimana penggunaan sumber daya alam dan pembangunan infrastruktur berdampak pada masyarakat adat dan lingkungan. Bagi Amita, dekolonisasi antropologi berarti terus meninjau hubungan antara pengetahuan, institusi akademik, negara, dan kekuasaan. “Kita bukan lagi pelayan bagi ekonomi. Kita adalah orang yang menunjukkan kebenaran kepada kekuasaan,” tutur Amita. Sementara itu, Els Tieneke Rieke Katmo dari Universitas Papua, berbicara tentang bagaimana perempuan Papua menghasilkan pengetahuan dan hubungannya dengan alam. Ia menekankan bahwa selama ini, kelompok yang memiliki kekuasaan, terutama laki-laki, sering mendominasi produksi pengetahuan. Sebaliknya, perempuan memiliki kedekatan dengan alam melalui aktivitas dan pengalaman sehari-hari mereka. “Perempuan punya fungsi berkaitan dengan alam. Kalau berkaitan dengan perempuan, saya ingin menjadikan perempuan tidak didominasi oleh laki-laki,” ujar Els. Els menghubungkan masalah ini dengan pembangunan Proyek Strategis Nasional (PSN) Papua, perubahan iklim, dan perubahan tutupan hutan dan lahan. Dia percaya bahwa kehidupan Perempuan Papua dapat dipengaruhi oleh perubahan lingkungan yang semakin tidak menentu. Pengalaman perempuan dalam berinteraksi dengan alam menjadi sumber penting untuk memahami perubahan tersebut, tetapi pengalaman ini belum selalu dimasukkan dalam proses pengambilan keputusan. Ia juga menekankan betapa pentingnya pendidikan untuk mengubah perspektif tentang relasi gender dan lingkungan. “Perubahan pola pikir itu selalu ditentukan oleh pendidikan yang dialami seorang masyarakat. Pendidikan gender dan perspektif itu penting,” katanya. Selanjutnya, Els berbagi pengalamannya selama penelitian di lapangan. Karena perhatian lebih banyak diberikan pada aktivitas di ruang publik yang dianggap sebagai ranah laki-laki, pengalaman perempuan dalam menghadapi masalah lingkungan sering kali tidak terlihat. Oleh sebab itu, perempuan turut menghadapi dampak kebakaran atau gangguan lingkungan melalui tanggung jawab keluarga dan kehidupan sehari-hari. Menurut Els, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa pengetahuan tentang lingkungan tidak hanya berasal dari aktivitas di ruang publik, tetapi juga dari bagaimana perempuan mengelola kehidupan sehari-hari. Akibatnya, ia menekankan betapa pentingnya memungkinkan Perempuan Papua untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan mereka agar perubahan lingkungan tidak semakin memperburuk kerentanan kelompok yang terdampak. Pembahasan Amita dan Els dalam sesi pembukaan menunjukkan beragam persoalan yang dapat dilihat melalui perspektif antropologi, mulai dari dekolonisasi pengetahuan hingga posisi perempuan dalam menghadapi perubahan lingkungan. Rangkaian ISJAI ke-9 kemudian berlanjut hingga 7 Agustus 2026 dengan berbagai agenda akademik dan kegiatan pendukung, termasuk sejumlah sesi pemutaran film yang menjadi bagian dari rangkaian simposium. (Alena Vionira) Comments are closed.
|
Jurnal Perempuan
terindeks di: Archives
September 2026
Categories |

RSS Feed