Jurnal Perempuan
  • TENTANG KAMI
    • Profil
    • Kontak
    • Laporan Tahunan
    • Demo Suara Ibu Peduli
    • Rilis JP
  • Jurnal Perempuan
    • Indonesian Feminist Journal
    • Kirim Tulisan
  • YJP PRESS
    • Buku Seri YJP Press
  • KAFFE
    • Booklet KAFFE
  • Podcast JP
    • Radio JP
  • Sahabat JP
    • Daftar Nama SJP
    • International Friends of JP
    • Blog SJP
    • Gathering SJP
  • Wacana Feminis
    • Tokoh Feminis
    • Cerpen/Puisi Feminis
  • Warta Feminis
  • Warung JP
    • Daftar Toko Buku
  • Toeti Heraty Scholarship
    • Biodata Penerima Beasiswa 2022
    • Biodata Penerima Beasiswa 2023
    • Biodata Penerima Beasiswa 2024
    • Biodata Penerima Beasiswa 2025
    • Biodata Penerima Beasiswa 2026
Warta Feminis

ISJAI ke-9 Angkat Perspektif Global South untuk Memahami Masa Depan yang Pluriversal

10/8/2026

 
PictureDok. Jurnal Perempuan
     Kondisi kekuatan global yang kian berubah, krisis lingkungan, transformasi ekonomi, serta dinamika sosial dan politik terus menjadi tantangan yang dihadapi masyarakat di berbagai wilayah. Kondisi tersebut menjadi perhatian dalam The 9th International Symposium of Jurnal Antropologi Indonesia (ISJAI 9) yang mengangkat tema “Pluriversal Futures in a Multipolarising World: Global South Perspectives”

     Kegiatan yang diselenggarakan oleh Departemen Antropologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI) ini berlangsung pada 4–7 Agustus 2026 di Kampus UI Depok. ISJAI ke-9 mempertemukan antropolog, akademisi, peneliti, aktivis, dan praktisi dari Indonesia maupun berbagai negara untuk membahas beragam tantangan global dan regional melalui perspektif antropologi serta mendorong pertukaran pengetahuan dari perspektif Global South.

     Pada hari pertama pelaksanaan, Selasa (4/8), ISJAI ke-9 dibuka dengan menghadirkan dua pembicara, yakni Prof. Amita Baviskar dari Ashoka University dan Els Tieneke Rieke Katmo, Ph.D. dari Universitas Papua. Keduanya mengangkat pembahasan berbeda. Amita membahas dekolonisasi antropologi dan universitas dalam konteks India, sementara Els menyoroti produksi pengetahuan perempuan Papua serta relasinya dengan alam di tengah perubahan iklim dan perubahan lingkungan.

     Amita membuka sesi dengan membicarakan tentang dekolonisasi antropologi dan universitas melalui contoh pengalaman India. Ia mengajak peserta melihat bagaimana sejarah kolonial masih memengaruhi perkembangan disiplin ilmu, produksi pengetahuan, dan peran universitas dalam masyarakat setelah kolonial.

     Menurut Amita, dekolonisasi tidak berhenti ketika sebuah negara memperoleh kemerdekaan secara politik. Ia mengatakan bahwa dunia akademik juga mengalami masalah ini, terutama tentang siapa yang memiliki otoritas untuk menghasilkan pengetahuan yang dianggap penting.

     “Pertanyaan tentang dekolonisasi ialah sebagai pekerjaan yang hingga kini belum selesai,” ujar Amita.

     Ia menjelaskan bahwa setelah India memperoleh kemerdekaan pada 1947, universitas dimasukkan ke dalam rencana pembangunan negara. Diharapkan bahwa pendidikan tinggi akan menghasilkan siswa yang memiliki kemampuan untuk mendukung kemajuan ekonomi dan sosial. Akibatnya, nilai pengetahuan akademik biasanya didasarkan pada manfaatnya yang langsung terhadap pembangunan dan penyelesaian masalah masyarakat.

     Kondisi tersebut turut memengaruhi posisi antropologi. Antropologi berusaha memahami kehidupan masyarakat secara lebih kompleks, sementara ilmu sosial di India menghadapi tuntutan untuk menghasilkan pengetahuan yang dapat menjawab persoalan praktis, kata Amita.

     Selain itu, ia menyatakan bahwa garis yang membedakan antropologi dan sosiologi India kadang-kadang tidak jelas. Banyak peneliti antropologi yang menggunakan metode seperti etnografi bekerja di departemen sosiologi. Dia berpendapat bahwa perkembangan ini terkait dengan sejarah perkembangan ilmu sosial di India setelah kemerdekaan.

     Salah satu contoh yang disampaikan Amita berasal dari penelitiannya mengenai polusi udara dan asma pada anak-anak di Delhi. Studi awalnya berfokus pada hubungan antara polusi dan penyakit pernapasan. 

     Namun, hasil penelitian di lapangan menunjukkan bahwa pengalaman anak-anak dengan asma tidak dapat dijelaskan hanya dengan hubungan sebab-akibat antara polusi dan penyakit. Pengalaman hidup anak-anak, keadaan sosial, dan faktor mental dan emosional semuanya memengaruhi cara mereka mengalami penyakit tersebut. Hasilnya menunjukkan bahwa pendekatan yang digunakan dalam antropologi berbeda dari pendekatan yang digunakan dalam bidang lain.

     “Kolaborator sains melihat peran ahli antropologi untuk memberikan warna lokal pada skrip yang sudah diterima,” ujar Amita.

     Akademisi asal India tersebut percaya bahwa hal ini dapat membatasi kontribusi antropologi dalam penelitian lintas disiplin. Dengan menggunakan pendekatan antropologi, kita dapat menemukan jawaban untuk masalah yang lebih kompleks tentang pengalaman masyarakat dan hubungan sosial yang tidak selalu terlihat melalui pendekatan yang berfokus pada diagnosis atau penyelesaian langsung.

     Amita juga berbicara tentang hubungan antropologi dengan sejarah India. Ia menunjukkan beberapa cara di mana pengetahuan antropologis dapat digunakan untuk mengelola masyarakat adat. Fokus pembangunan negara setelah kemerdekaan menimbulkan masalah baru tentang bagaimana penggunaan sumber daya alam dan pembangunan infrastruktur berdampak pada masyarakat adat dan lingkungan.

     Bagi Amita, dekolonisasi antropologi berarti terus meninjau hubungan antara pengetahuan, institusi akademik, negara, dan kekuasaan.

     “Kita bukan lagi pelayan bagi ekonomi. Kita adalah orang yang menunjukkan kebenaran kepada kekuasaan,” tutur Amita.

     Sementara itu, Els Tieneke Rieke Katmo dari Universitas Papua, berbicara tentang bagaimana perempuan Papua menghasilkan pengetahuan dan hubungannya dengan alam. Ia menekankan bahwa selama ini, kelompok yang memiliki kekuasaan, terutama laki-laki, sering mendominasi produksi pengetahuan. Sebaliknya, perempuan memiliki kedekatan dengan alam melalui aktivitas dan pengalaman sehari-hari mereka.

     “Perempuan punya fungsi berkaitan dengan alam. Kalau berkaitan dengan perempuan, saya ingin menjadikan perempuan tidak didominasi oleh laki-laki,” ujar Els.

     Els menghubungkan masalah ini dengan pembangunan Proyek Strategis Nasional (PSN) Papua, perubahan iklim, dan perubahan tutupan hutan dan lahan. Dia percaya bahwa kehidupan Perempuan Papua dapat dipengaruhi oleh perubahan lingkungan yang semakin tidak menentu. Pengalaman perempuan dalam berinteraksi dengan alam menjadi sumber penting untuk memahami perubahan tersebut, tetapi pengalaman ini belum selalu dimasukkan dalam proses pengambilan keputusan.

     Ia juga menekankan betapa pentingnya pendidikan untuk mengubah perspektif tentang relasi gender dan lingkungan.

     “Perubahan pola pikir itu selalu ditentukan oleh pendidikan yang dialami seorang masyarakat. Pendidikan gender dan perspektif itu penting,” katanya.

     Selanjutnya, Els berbagi pengalamannya selama penelitian di lapangan. Karena perhatian lebih banyak diberikan pada aktivitas di ruang publik yang dianggap sebagai ranah laki-laki, pengalaman perempuan dalam menghadapi masalah lingkungan sering kali tidak terlihat. Oleh sebab itu, perempuan turut menghadapi dampak kebakaran atau gangguan lingkungan melalui tanggung jawab keluarga dan kehidupan sehari-hari. 

     Menurut Els, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa pengetahuan tentang lingkungan tidak hanya berasal dari aktivitas di ruang publik, tetapi juga dari bagaimana perempuan mengelola kehidupan sehari-hari. Akibatnya, ia menekankan betapa pentingnya memungkinkan Perempuan Papua untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan mereka agar perubahan lingkungan tidak semakin memperburuk kerentanan kelompok yang terdampak.

     ​Pembahasan Amita dan Els dalam sesi pembukaan menunjukkan beragam persoalan yang dapat dilihat melalui perspektif antropologi, mulai dari dekolonisasi pengetahuan hingga posisi perempuan dalam menghadapi perubahan lingkungan. Rangkaian ISJAI ke-9 kemudian berlanjut hingga 7 Agustus 2026 dengan berbagai agenda akademik dan kegiatan pendukung, termasuk sejumlah sesi pemutaran film yang menjadi bagian dari rangkaian simposium. (Alena Vionira)
​

Comments are closed.
    Jurnal Perempuan
    ​
    terindeks di:
    Picture

    Archives

    September 2026
    August 2026
    July 2026
    June 2026
    May 2026
    April 2026
    March 2026
    February 2026
    January 2026
    December 2025
    November 2025
    October 2025
    September 2025
    August 2025
    July 2025
    June 2025
    May 2025
    April 2025
    March 2025
    February 2025
    January 2025
    December 2024
    November 2024
    October 2024
    September 2024
    August 2024
    July 2024
    June 2024
    May 2024
    April 2024
    March 2024
    February 2024
    January 2024
    December 2023
    November 2023
    October 2023
    September 2023
    August 2023
    July 2023
    June 2023
    May 2023
    April 2023
    March 2023
    February 2023
    January 2023
    December 2022
    November 2022
    October 2022
    September 2022
    August 2022
    July 2022
    June 2022
    May 2022
    April 2022
    March 2022
    February 2022
    January 2022
    December 2021
    November 2021
    October 2021
    September 2021
    August 2021
    July 2021
    June 2021
    April 2021
    March 2021
    February 2021
    January 2021
    December 2020
    October 2020
    August 2020
    July 2020
    June 2020
    April 2020
    March 2020
    February 2020
    January 2020
    December 2019
    November 2019
    October 2019
    September 2019
    August 2019
    July 2019
    June 2019
    May 2019
    April 2019
    March 2019
    February 2019
    January 2019
    December 2018
    November 2018
    October 2018
    September 2018
    August 2018
    July 2018
    June 2018
    May 2018
    April 2018
    March 2018
    February 2018
    January 2018
    December 2017
    October 2017
    September 2017
    August 2017
    July 2017
    June 2017
    May 2017
    April 2017
    March 2017
    December 2016
    November 2016
    September 2016
    August 2016
    July 2016
    June 2016
    May 2016
    April 2016
    March 2016
    February 2016
    January 2016
    December 2015
    November 2015
    October 2015
    September 2015
    August 2015
    July 2015
    June 2015
    May 2015
    April 2015
    March 2015
    February 2015
    January 2015
    December 2014
    November 2014
    October 2014
    September 2014
    August 2014
    July 2014
    June 2014

    Categories

    All

    RSS Feed

Yayasan Jurnal Perempuan| Alamanda Tower, 25th Floor | Jl. T.B. Simatupang Kav. 23-24 Jakarta 12430 | Telp. +62 21 2965 7992 Fax. +62 21 2927 7888 | [email protected]
  • TENTANG KAMI
    • Profil
    • Kontak
    • Laporan Tahunan
    • Demo Suara Ibu Peduli
    • Rilis JP
  • Jurnal Perempuan
    • Indonesian Feminist Journal
    • Kirim Tulisan
  • YJP PRESS
    • Buku Seri YJP Press
  • KAFFE
    • Booklet KAFFE
  • Podcast JP
    • Radio JP
  • Sahabat JP
    • Daftar Nama SJP
    • International Friends of JP
    • Blog SJP
    • Gathering SJP
  • Wacana Feminis
    • Tokoh Feminis
    • Cerpen/Puisi Feminis
  • Warta Feminis
  • Warung JP
    • Daftar Toko Buku
  • Toeti Heraty Scholarship
    • Biodata Penerima Beasiswa 2022
    • Biodata Penerima Beasiswa 2023
    • Biodata Penerima Beasiswa 2024
    • Biodata Penerima Beasiswa 2025
    • Biodata Penerima Beasiswa 2026