Jurnal Perempuan
  • TENTANG KAMI
    • Profil
    • Kontak
    • Laporan Tahunan
    • Demo Suara Ibu Peduli
    • Rilis JP
  • Jurnal Perempuan
    • Indonesian Feminist Journal
    • Kirim Tulisan
  • YJP PRESS
    • Buku Seri YJP Press
  • KAFFE
    • Booklet KAFFE
  • Podcast JP
    • Radio JP
  • Sahabat JP
    • Daftar Nama SJP
    • International Friends of JP
    • Blog SJP
    • Gathering SJP
  • Wacana Feminis
    • Tokoh Feminis
    • Cerpen/Puisi Feminis
  • Warta Feminis
  • Warung JP
    • Daftar Toko Buku
  • Toeti Heraty Scholarship
    • Biodata Penerima Beasiswa 2022
    • Biodata Penerima Beasiswa 2023
    • Biodata Penerima Beasiswa 2024
    • Biodata Penerima Beasiswa 2025
Warta Feminis

Eco-ableism dan Ketimpangan Struktural: Membaca Inklusi Disabilitas dalam Krisis Lingkungan Hidup

26/1/2026

 
PictureDok. Jurnal Perempuan
     Diskursus lingkungan hidup kerap diposisikan sebagai isu teknis dan universal, seolah dampak krisis ekologis dirasakan secara setara oleh semua orang. Padahal, pengalaman krisis lingkungan selalu bersifat tidak netral. Ia beroperasi melalui relasi kuasa, struktur sosial, dan kategori identitas yang saling beririsan—termasuk gender dan disabilitas. Perspektif inilah yang mengemuka dalam webinar “Hambatan Inklusi Disabilitas pada Persoalan Lingkungan Hidup dalam Konteks Eco-ableism” yang diselenggarakan oleh Mubadalah.id, via Zoom pada hari Kamis (22/1/2026), Pukul 15.30–17.00 WIB, dengan menghadirkan Hari Kurniawan, S.H., C.M.C., seorang profesional hukum, konsultan, pelatih GEDSI serta purna komisioner KOMNAS HAM periode tahun 2022-2025.

     Hari Kurniawan mengawali paparan tentang masih dominannya paradigma lama yang memposisikan difabel sebagai persoalan individual, bukan sebagai produk interaksi antara individu dan lingkungan yang timpang tidak aksesibel. Paradigma ini melahirkan pendekatan charity-based yang menempatkan difabel sebagai objek belas kasihan, alih-alih subjek dengan pendekatan hak asasi manusia. Artinya, kegagalan negara dan masyarakat dalam menyediakan lingkungan yang inklusif merupakan bentuk pelanggaran hak, termasuk dalam kebijakan lingkungan dan kebencanaan. 

     ​Eco-ableism, sebagaimana dipaparkan oleh Hari Kurniawan, merupakan cara pandang dan praktik dalam wacana serta kebijakan lingkungan hidup yang dibangun di atas asumsi  “tubuh normal” sehingga secara sistemik mengecualikan dan memarginalkan difabel. Dalam perspektif ini, kebijakan dan aktivisme lingkungan sering kali gagal mempertimbangkan kebutuhan, keragaman dan pengalaman difabel, bahkan ketika tindakan tersebut dimaksudkan untuk melindungi bumi. ​
Picture
Dok. Jurnal Perempuan
     ​Berbagai praktik ekstraktif seperti pertambangan emas, pasir, dan batubara menunjukkan bagaimana kerusakan lingkungan—melalui paparan merkuri, sianida, timbal, maupun limbah beracun—tidak hanya merusak ekosistem, tetapi juga berkontribusi pada munculnya disabilitas fisik, intelektual, psikososial, dan gangguan perkembangan, sebagaimana ditemukan di Bogor, Klaten, hingga Lakardowo, Mojokerto. Kasus-kasus ini memperlihatkan bahwa persoalan lingkungan hidup tidak netral terhadap disabilitas, karena dampak ekologis yang tidak dikelola secara adil justru melahirkan ketidakmampuan baru dan memperparah kerentanan kelompok tertentu. 

     ​Diskursus lingkungan hidup sering kali gagal menangkap pengalaman perempuan difabel yang mengalami kerentanan berlapis. Hari Kurniawan menekankan bahwa perempuan difabel berada pada posisi yang sangat rentan dalam situasi krisis ekologis dan kebencanaan.

     ​​“Penyandang disabilitas itu sudah rentan, dan perempuan disabilitas mengalami kerentanan berlapis. Dalam situasi krisis lingkungan dan bencana, mereka sering tidak terlihat, tidak terdata, dan tidak dilibatkan,” tegasnya.
Picture
Dok. Jurnal Perempuan
     ​Oleh karena itu, membaca isu lingkungan melalui lensa difabel menjadi penting agar prinsip no one left behind dalam kerangka SDGs benar-benar diwujudkan, dengan melibatkan penyandang disabilitas secara bermakna dalam perumusan kebijakan, pengetahuan, dan praktik lingkungan hidup. “Difabel harus dilibatkan sejak perencanaan, pelaksanaan, sampai evaluasi kebijakan. Bukan sekadar diundang di akhir sebagai formalitas,” lanjutnya.

     ​Persoalan lain yang mengemuka adalah ketimpangan data difabel dalam kebijakan lingkungan dan kebencanaan. Absennya data bukan sekadar masalah teknis, melainkan cerminan dari siapa yang dianggap penting dalam perencanaan negara. “Sampai hari ini Indonesia tidak punya data disabilitas yang valid. Dalam banyak bencana, negara bahkan tidak tahu berapa difabel yang menjadi korban. Di shelter bencana Gunung Semeru ada lalu lalang difabel, terlihat jelas. Tapi kalau kami tidak melakukan pendataan mandiri, mereka tidak pernah tercatat,” ujarnya. Dalam perspektif feminis, ketiadaan data bukanlah netral, melainkan bentuk penghapusan struktural yang berdampak pada kebijakan yang terus mereproduksi eksklusi.

     ​Diskusi dengan peserta memperkuat analisis narasumber. Sejumlah peserta berbagi pengalaman tentang masih dijumpainya disabilitas mental yang terpasung (pratik institusionalisasi). Menanggapi hal itu Hari menyampaikan Kementerian Kesehatan punya program Indonesia Bebas Pasung 2015, tetapi masih banyak yang dipasung di masyarakat, tidak ada monitoring, termasuk di panti-panti sosial yang ada dikelola swasta itu juga tidak pernah dipantau secara serius oleh pemerintah. Hal ini pernah disampaikan di dalam CEDAW dan juga didukung oleh Komnas HAM

     ​Diskusi berlanjut ketika ada yang mempertanyakan peran pemerintah dalam isu lingkungan dan kebencanaan untuk difabel.  Hari menyampaikan yang dilakukan dengan pelatihan untuk peningkatan kapasitas oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) kurang lebih 2 tahun terakhir. Namun, kontinjensi bencana belum dirumuskan. Kontinjensi bencana itu perencanaan strategis untuk menghadapi situasi darurat atau bencana yang mungkin terjadi. Sangat disayangkan kerap saat bencana, difabel menjadi tidak terlihat, baik yang sebagai korban apalagi yang menjadi relawan. Ini menguatkan pentingnya penggalian data dan upaya rapid assessment saat bencana. Tanpa pelibatan difabel, bagaimana pemerintah dapat memahami kebutuhan mereka di shelter, termasuk di tahap rehab rekonstruksi? Demikian, saat ini pemerintah Indonesia masih pada tahap quasi partisipasi, bukan partisipasi bermakna.

     ​Isu lain yang juga didiskusikan terkait pentingnya support system keluarga untuk difabel bisa percaya diri dan berdaya. Juga, tentang pengupayaan  hak pendidikan bagi anak anak difabel yang lebih aksesibel. Masih banyak hambatan di sekolah inklusi yang masih mengandalkan Guru Pendamping Khusus (GBK), sementara Akomodasi Yang Layak (AYL) juga masih minim. 

     ​Di Perguruan Tinggi ada beberapa kampus yang sudah memiliki Pusat Layanan Disabilitas (PLD), yang pertama berada di UIN Sunan Kalijaga Yogyakar. Selain memberikan layanan untuk mahasiswa difabel, PLD juga berfungsi sebagai pusat riset dan kajian kebijakan terkait inklusi sosial. 

     ​Webinar ini menegaskan bahwa keadilan ekologis tidak dapat dicapai tanpa inklusi sosial dan keadilan gender. Selama kebijakan lingkungan masih dibangun di atas asumsi tubuh “normal” dan mengabaikan pengalaman difabel, agenda keberlanjutan akan terus timpang. Sebagaimana ditegaskan Hari Kurniawan, “Kita tidak bisa bicara keberlanjutan kalau masih ada kelompok yang ditinggalkan.” Membaca krisis lingkungan melalui perspektif feminis-disabilitas bukan hanya memperluas analisis, tetapi juga membuka kemungkinan politik ekologis yang lebih adil dan inklusif berbasis Hak Asasi Manusia. (Ina Irawati)

Comments are closed.
    Jurnal Perempuan
    ​
    terindeks di:
    Picture

    Archives

    January 2026
    December 2025
    November 2025
    October 2025
    September 2025
    August 2025
    July 2025
    June 2025
    May 2025
    April 2025
    March 2025
    February 2025
    January 2025
    December 2024
    November 2024
    October 2024
    September 2024
    August 2024
    July 2024
    June 2024
    May 2024
    April 2024
    March 2024
    February 2024
    January 2024
    December 2023
    November 2023
    October 2023
    September 2023
    August 2023
    July 2023
    June 2023
    May 2023
    April 2023
    March 2023
    February 2023
    January 2023
    December 2022
    November 2022
    October 2022
    September 2022
    August 2022
    July 2022
    June 2022
    May 2022
    April 2022
    March 2022
    February 2022
    January 2022
    December 2021
    November 2021
    October 2021
    September 2021
    August 2021
    July 2021
    June 2021
    April 2021
    March 2021
    February 2021
    January 2021
    December 2020
    October 2020
    August 2020
    July 2020
    June 2020
    April 2020
    March 2020
    February 2020
    January 2020
    December 2019
    November 2019
    October 2019
    September 2019
    August 2019
    July 2019
    June 2019
    May 2019
    April 2019
    March 2019
    February 2019
    January 2019
    December 2018
    November 2018
    October 2018
    September 2018
    August 2018
    July 2018
    June 2018
    May 2018
    April 2018
    March 2018
    February 2018
    January 2018
    December 2017
    October 2017
    September 2017
    August 2017
    July 2017
    June 2017
    May 2017
    April 2017
    March 2017
    December 2016
    November 2016
    September 2016
    August 2016
    July 2016
    June 2016
    May 2016
    April 2016
    March 2016
    February 2016
    January 2016
    December 2015
    November 2015
    October 2015
    September 2015
    August 2015
    July 2015
    June 2015
    May 2015
    April 2015
    March 2015
    February 2015
    January 2015
    December 2014
    November 2014
    October 2014
    September 2014
    August 2014
    July 2014
    June 2014

    Categories

    All

    RSS Feed

Yayasan Jurnal Perempuan| Alamanda Tower, 25th Floor | Jl. T.B. Simatupang Kav. 23-24 Jakarta 12430 | Telp. +62 21 2965 7992 Fax. +62 21 2927 7888 | [email protected]
  • TENTANG KAMI
    • Profil
    • Kontak
    • Laporan Tahunan
    • Demo Suara Ibu Peduli
    • Rilis JP
  • Jurnal Perempuan
    • Indonesian Feminist Journal
    • Kirim Tulisan
  • YJP PRESS
    • Buku Seri YJP Press
  • KAFFE
    • Booklet KAFFE
  • Podcast JP
    • Radio JP
  • Sahabat JP
    • Daftar Nama SJP
    • International Friends of JP
    • Blog SJP
    • Gathering SJP
  • Wacana Feminis
    • Tokoh Feminis
    • Cerpen/Puisi Feminis
  • Warta Feminis
  • Warung JP
    • Daftar Toko Buku
  • Toeti Heraty Scholarship
    • Biodata Penerima Beasiswa 2022
    • Biodata Penerima Beasiswa 2023
    • Biodata Penerima Beasiswa 2024
    • Biodata Penerima Beasiswa 2025