Jurnal Perempuan
  • TENTANG KAMI
    • Profil
    • Kontak
    • Laporan Tahunan
    • Demo Suara Ibu Peduli
    • Rilis JP
  • Jurnal Perempuan
    • Indonesian Feminist Journal
    • Kirim Tulisan
  • YJP PRESS
    • Buku Seri YJP Press
  • KAFFE
    • Booklet KAFFE
  • Podcast JP
    • Radio JP
  • Sahabat JP
    • Daftar Nama SJP
    • International Friends of JP
    • Blog SJP
    • Gathering SJP
  • Wacana Feminis
    • Tokoh Feminis
    • Cerpen/Puisi Feminis
  • Warta Feminis
  • Warung JP
    • Daftar Toko Buku
  • Toeti Heraty Scholarship
    • Biodata Penerima Beasiswa 2022
    • Biodata Penerima Beasiswa 2023
    • Biodata Penerima Beasiswa 2024
    • Biodata Penerima Beasiswa 2025
Warta Feminis

Dipinggirkan hingga Dibungkam: Hilangnya Suara Perempuan Adat Dibahas dalam KAFFE Desember 2025

19/12/2025

 
PictureDok. Jurnal Perempuan
     Kajian Feminisme dan Filsafat (KAFFE) bertajuk “Gender di Ruang Adat: Membaca Ulang Aturan Peran dan Kekuasaan melalui Feminist Legal Theory” dilangsungkan via Zoom Meeting pada Kamis (18/12/2025). Kajian kali ini mengungkap peminggiran perempuan dalam ruang dengan kuasa yang ada di balik klaim pelestarian nilai dan identitas budaya, praktik hukum adat di berbagai wilayah Indonesia. KAFFE Desember 2025 mengundang Dr. Lidwina Inge Nurtjahyo selaku dosen di Fakultas Hukum Universitas Indonesia sebagai pengajar kelas.


     Dalam pemaparannya, Lidwina Inge Nurtjahyo menegaskan bahwa konstruksi gender dalam masyarakat adat bukan sekadar soal pembagian peran, melainkan tentang siapa yang berhak bersuara, didengar, dan menentukan keputusan. Ia menunjukkan bahwa dalam banyak komunitas adat, perempuan tidak hanya dibatasi pada ruang domestik, tetapi juga dikeluarkan dari proses pengambilan keputusan penting. Perempuan dibatasi mulai dari alih fungsi tanah hingga penyelesaian kasus kekerasan seksual.

     Ironisnya, ketika perempuan menjadi korban, pengalaman mereka justru sering diwakilkan oleh laki-laki dalam lingkarannya seperti ayah, paman, atau bahkan tokoh adat. “Korban tidak dihadirkan, tetapi kehormatannya diputuskan,” ujar Inge. ‘Digantinya’ suara perempuan ini kerap dilangsungkan dalam praktik penyelesaian adat yang berujung pada ganti rugi atau pernikahan antara korban dan pelaku, dengan dalih pemulihan nama baik keluarga dan komunitas.

     Diskusi berlangsung dengan mempertanyakan posisi living law atau hukum yang hidup di masyarakat, yang kini diakomodasi dalam KUHP baru. Pertanyaan mengarah pada kekhawatiran bahwa living law justru melahirkan lapis kerentanan baru bagi perempuan adat, terutama ketika aturan adat menyentuh tubuh, seksualitas, dan reproduksi perempuan.

     Menanggapi hal itu, Inge mengingatkan bahwa hukum—terutama hukum tidak tertulis—selalu bekerja melalui tafsir. Dalam masyarakat yang masih didominasi nilai patriarki, tafsir tersebut hampir selalu berpihak pada moralitas yang mengontrol tubuh perempuan. “Living law menurut siapa? Dan siapa yang menanggung akibatnya?” tegasnya.

     ​Diskusi juga memperdalam pembicaraan perihal kompleksitas pengalaman perempuan adat yang tidak seragam. Dalam sesi ini, peserta berbagi temuan lapangan tentang komunitas adat yang relatif egaliter dalam pembagian kerja, tetapi tetap menutup ruang pengambilan keputusan bagi perempuan. Dalam konteks ini, subordinasi bekerja secara halus dan tidak selalu melalui larangan eksplisit. Subordinasi nyatanya bekerja melalui normalisasi bahwa keputusan ‘penting’ adalah urusan laki-laki.
Picture
Dok. Jurnal Perempuan
     Isu lain yang dimunculkan adalah praktik keadilan restoratif dalam masyarakat adat, yang sering kali disalahartikan sekadar sampai pada perdamaian atau ganti rugi saja. Inge menegaskan bahwa keadilan restoratif seharusnya berpusat pada pemulihan korban dan tidak menghapus pertanggungjawaban pidana pelaku. Tanpa relasi kuasa yang setara, praktik ini justru berpotensi melanggengkan kekerasan yang akan memproduksi dan memposisikan perempuan menjadi korban berulang–tanpa ada penyelesaian dan akuntabilitas.

     Diskusi ditutup dengan refleksi bersama bahwa perjuangan perempuan adat tidak cukup ditempatkan sebagai isu turunan dari pengakuan masyarakat adat. Perspektif Feminist Legal Theory menjadi penting untuk membongkar mitos hukum yang netral dan memastikan bahwa Rancangan Undang-Undang Masyarakat Adat (RUU MA) tidak kembali mereproduksi ketimpangan gender dalam bahasa legal yang tampak sah. Tanpa mendengarkan suara perempuan adat secara langsung, hukum—baik adat maupun negara—akan terus mengambil paksa suara, tanpa pernah benar-benar berpihak. (Putri Nurfitriani)

Comments are closed.
    Jurnal Perempuan
    ​
    terindeks di:
    Picture

    Archives

    December 2025
    November 2025
    October 2025
    September 2025
    August 2025
    July 2025
    June 2025
    May 2025
    April 2025
    March 2025
    February 2025
    January 2025
    December 2024
    November 2024
    October 2024
    September 2024
    August 2024
    July 2024
    June 2024
    May 2024
    April 2024
    March 2024
    February 2024
    January 2024
    December 2023
    November 2023
    October 2023
    September 2023
    August 2023
    July 2023
    June 2023
    May 2023
    April 2023
    March 2023
    February 2023
    January 2023
    December 2022
    November 2022
    October 2022
    September 2022
    August 2022
    July 2022
    June 2022
    May 2022
    April 2022
    March 2022
    February 2022
    January 2022
    December 2021
    November 2021
    October 2021
    September 2021
    August 2021
    July 2021
    June 2021
    April 2021
    March 2021
    February 2021
    January 2021
    December 2020
    October 2020
    August 2020
    July 2020
    June 2020
    April 2020
    March 2020
    February 2020
    January 2020
    December 2019
    November 2019
    October 2019
    September 2019
    August 2019
    July 2019
    June 2019
    May 2019
    April 2019
    March 2019
    February 2019
    January 2019
    December 2018
    November 2018
    October 2018
    September 2018
    August 2018
    July 2018
    June 2018
    May 2018
    April 2018
    March 2018
    February 2018
    January 2018
    December 2017
    October 2017
    September 2017
    August 2017
    July 2017
    June 2017
    May 2017
    April 2017
    March 2017
    December 2016
    November 2016
    September 2016
    August 2016
    July 2016
    June 2016
    May 2016
    April 2016
    March 2016
    February 2016
    January 2016
    December 2015
    November 2015
    October 2015
    September 2015
    August 2015
    July 2015
    June 2015
    May 2015
    April 2015
    March 2015
    February 2015
    January 2015
    December 2014
    November 2014
    October 2014
    September 2014
    August 2014
    July 2014
    June 2014

    Categories

    All

    RSS Feed

Yayasan Jurnal Perempuan| Alamanda Tower, 25th Floor | Jl. T.B. Simatupang Kav. 23-24 Jakarta 12430 | Telp. +62 21 2965 7992 Fax. +62 21 2927 7888 | [email protected]
  • TENTANG KAMI
    • Profil
    • Kontak
    • Laporan Tahunan
    • Demo Suara Ibu Peduli
    • Rilis JP
  • Jurnal Perempuan
    • Indonesian Feminist Journal
    • Kirim Tulisan
  • YJP PRESS
    • Buku Seri YJP Press
  • KAFFE
    • Booklet KAFFE
  • Podcast JP
    • Radio JP
  • Sahabat JP
    • Daftar Nama SJP
    • International Friends of JP
    • Blog SJP
    • Gathering SJP
  • Wacana Feminis
    • Tokoh Feminis
    • Cerpen/Puisi Feminis
  • Warta Feminis
  • Warung JP
    • Daftar Toko Buku
  • Toeti Heraty Scholarship
    • Biodata Penerima Beasiswa 2022
    • Biodata Penerima Beasiswa 2023
    • Biodata Penerima Beasiswa 2024
    • Biodata Penerima Beasiswa 2025