Dok. Jurnal Perempuan Jakarta, 23 Mei 2026, PUSKAPA (Pusat Kajian dan Advokasi Perlindungan dan Kualitas Hidup Anak Universitas Indonesia) melangsungkan lokakarya bertajuk “Di Balik Pintu Rumah: Tersembunyinya Pekerja Rumah Tangga Anak” di Wahid Hasyim, Jakarta. Acara berlangsung secara sukarela dan berdasarkan persetujuan peserta. Sejak awal, peserta anak yang hadir tidak ditempatkan sebagai pendengar pasif, peserta anak memiliki posisi sebagai individu yang memiliki agensi atas dirinya sendiri. Kegiatan yang diselenggarakan oleh PUSKAPA mengajak peserta memahami realitas pekerja rumah tangga anak (PRT-A) melalui karakter bernama “Prita”. Melalui karakter tersebut, isu pekerja rumah tangga anak diperkenalkan secara dekat dan mudah dipahami. Lokakarya berlangsung secara interaktif. Anak-anak diajak merefleksikan apakah mereka pernah menemui “Prita” di lingkungan sekitar mereka. Pertanyaan itu dapat membuka ruang bagi berbagai pengalaman yang selama ini mungkin tersembunyi di balik kehidupan sehari-hari. Salah satu peserta dari Jakarta menceritakan tentang seorang anak yang ia temui menjelang masuk SMA yang memilih bekerja karena keterbatasan ekonomi dan kesempatan untuk belajar. Peserta lain juga berbagi bahwa di kampung halamannya terdapat banyak anak yang menjadi pekerja rumah tangga. Diskusi kemudian dilanjutkan dengan penayangan video mengenai pekerja rumah tangga anak yang menjadi “teman sebaya” bagi anak pemberi kerjanya. Melalui berbagai cerita dan pengalaman tersebut, isu pekerja rumah tangga anak dapat hadir sebagai kenyataan yang dekat dengan kehidupan anak-anak. Dalam sesi berikutnya, Beti dari JARAK menjelaskan sejumlah istilah yang berkaitan dengan pekerja anak. Ia memaparkan perbedaan antara anak yang bekerja (working children) dan pekerja anak (child labor), serta mengaitkannya dengan ketentuan dalam Undang-Undang Ketenagakerjaan. Sementara itu, Wina dari JALA PRT membagikan pengalaman hidupnya. Ia pertama kali bekerja pada usia 16 tahun untuk membantu perekonomian keluarga yang terlilit utang. Selama beberapa bulan, ia bekerja bersama saudaranya dengan upah Rp31 ribu pada tahun 1997. Pengalaman tersebut kemudian membawanya berpindah ke Jakarta untuk bekerja dengan upah Rp100 ribu per bulan. Kegiatan ini terdiri dari beberapa sesi, mulai dari pengenalan sosok Prita, bincang-bincang bersama JALA PRT, hingga sesi brainstorming untuk kampanye. Ruang ini patut dijadikan sebuah refleksi untuk kegiatan yang melibatkan anak, ruang yang diadakan PUSKAPA menunjukkan bagaimana anak-anak dapat dilibatkan secara bermakna dalam percakapan mengenai hak-hak anak dan keadilan sosial. Sepanjang kegiatan, anak-anak diajak untuk menyadari bahwa mereka memiliki kemampuan untuk membantu teman-teman sebaya yang menjadi pekerja rumah tangga anak. Mereka didorong untuk memahami bahwa perubahan tidak hanya dapat dilakukan oleh orang dewasa. Sebagai anak, mereka juga memiliki pemikiran, gagasan, dan suara yang layak didengar.
Kegiatan ini juga menempatkan batasan dan kenyamanan sebagai hal yang penting. Anak-anak diberi pemahaman bahwa ketika ada sesuatu yang dirasa tidak nyaman, baik bagi anak maupun orang dewasa, mereka dapat menyampaikannya dan bersama-sama mencari jalan tengah. Dalam ruang tersebut, kesalahan tidak diposisikan sebagai sesuatu yang harus dihukum, kesalahan akan dilihat sebagai kesempatan untuk belajar bersama. Alih-alih mengeksploitasi ide anak-anak, kegiatan ini memberi ruang bagi mereka untuk berdiskusi dengan teman sebaya, menyampaikan pandangan, menyusun ide-ide yang sangat out of the box dan menarik sehingga menunjukkan bahwa kepedulian terhadap keadilan dapat tumbuh sejak usia muda. Relasi yang terbangun pun menjadi lebih setara: orang dewasa hadir sebagai pendamping, sementara anak-anak hadir sebagai subjek yang memiliki pandangan dan pengalamannya. Pada sesi kampanye, peserta diajak memikirkan cara mendukung pemenuhan hak pekerja rumah tangga anak. Ide-ide tersebut—baik yang terdengar “biasa” hingga yang sangat menarik dan tidak pernah terpikir sebelumnya—didengarkan dengan sungguh-sungguh, baik oleh PUSKAPA maupun oleh sesama peserta. Melalui lokakarya ini, anak-anak memiliki kapasitas untuk berpikir, berpendapat, dan berkontribusi. Ketika suara anak-anak diberi tempat, anak-anak tidak hanya belajar mengenai keadilan bagi teman-temannya. Anak akan merasakan bahwa adalah suatu hal yang mungkin untuk menjadi bagian dari perubahan. Di saat yang sama, orang dewasa pun diajak untuk mendengarkan, belajar, dan mengakui bahwa gagasan-gagasan besar dapat datang dari mereka yang selama ini sering dianggap terlalu muda untuk didengar. (Putri Nurfitriani) Comments are closed.
|
Jurnal Perempuan
terindeks di: Archives
May 2026
Categories |

RSS Feed