Jurnal Perempuan
  • TENTANG KAMI
    • Profil
    • Kontak
    • Laporan Tahunan
    • Demo Suara Ibu Peduli
    • Rilis JP
  • Jurnal Perempuan
    • Indonesian Feminist Journal
    • Kirim Tulisan
  • YJP PRESS
    • Buku Seri YJP Press
  • KAFFE
    • Booklet KAFFE
  • Podcast JP
    • Radio JP
  • Sahabat JP
    • Daftar Nama SJP
    • International Friends of JP
    • Blog SJP
    • Gathering SJP
  • Wacana Feminis
    • Tokoh Feminis
    • Cerpen/Puisi Feminis
  • Warta Feminis
  • Warung JP
    • Daftar Toko Buku
  • Toeti Heraty Scholarship
    • Biodata Penerima Beasiswa 2022
    • Biodata Penerima Beasiswa 2023
    • Biodata Penerima Beasiswa 2024
    • Biodata Penerima Beasiswa 2025
Warta Feminis

Dari Rahim ke Statistik: Krisis Kesehatan Ibu dan Anak di Tanah Papua

9/2/2026

 
PictureDok. Jurnal Perempuan
     Angka-angka itu dingin, tetapi tubuh yang dikorbankan nyata. Di Tanah Papua, kehamilan masih menjadi ruang paling rawan bagi perempuan, bukan karena kodrat biologis semata, melainkan karena ketimpangan struktural yang terus dibiarkan. Diskusi publik bertajuk “Dari Rahim ke Statistik: Krisis Kesehatan Ibu dan Anak di Tanah Papua” yang diselenggarakan secara daring oleh Komunitas Anggrek Hitam pada Senin (2/2/2026) membuka kembali fakta yang menggelisahkan, rahim perempuan Papua masih diperlakukan sebagai statistik belum jadi  prioritas kebijakan.

     Papua terus menjadi sorotan nasional dalam isu kesehatan ibu dan anak, karena jurang ketimpangan yang mencolok dibandingkan wilayah lain di Indonesia. Dalam paparannya, dr. Arsen S. Krey, dokter sekaligus aktivis kesehatan, menegaskan bahwa Papua mencatat angka kematian ibu (Maternal Mortality Rate/MMR) tertinggi di Indonesia.
 
     Data resmi Badan Pusat Statistik (BPS) Papua menunjukkan bahwa pada tahun 2020, MMR Papua mencapai 500 kematian per 100.000 kelahiran hidup, jauh melampaui rata-rata nasional yang berada di angka 189 per 100.000 kelahiran hidup.
 
     Studi empiris juga menunjukkan lonjakan angka kematian ibu di Papua dari 289 menjadi 565 per 100.000 kelahiran hidup dalam rentang waktu 2017–2020. Bahkan hingga 2025, Papua masih tercatat sebagai wilayah dengan angka kematian ibu tertinggi di Asia Tenggara.
 
     Krisis serupa juga tampak pada angka kematian bayi (Infant Mortality Rate/IMR). Berdasarkan Sensus 2020, IMR Papua berada di angka 38 kematian per 1.000 kelahiran hidup, lebih dari dua kali lipat rata-rata nasional yang mencapai 16,85 per 1.000 kelahiran hidup. Salah satu faktor dominan yang berulang kali muncul adalah rendahnya tingkat pendidikan ibu, sebagaimana dicatat dalam berbagai jurnal obstetri dan ginekologi yang dirujuk dalam diskusi tersebut.
Picture
Dok. Jurnal Perempuan
Kompleksitas Perempuan Papua

     Data statistik hanya membuka pintu awal. Akar masalahnya berlapis. Sekitar 50 persen persalinan di Papua masih berlangsung di luar fasilitas kesehatan. Hambatan bahasa, rendahnya pendidikan ibu, lokasi geografis yang terpencil, serta minimnya pemeriksaan kehamilan (antenatal care/ANC) membuat kehamilan dan persalinan menjadi proses berisiko tinggi.
 
     Masalah kian kompleks ketika melihat kondisi sistem kesehatan. Di sejumlah wilayah Papua, 14,63 hingga 60 persen puskesmas tidak memiliki dokter, dengan situasi terburuk terjadi di Provinsi Papua Pegunungan, di mana 62,57 persen puskesmas beroperasi tanpa dokter.
 
     Hingga akhir 2024, tercatat lebih dari 120–250 puskesmas di Papua tidak memiliki tenaga dokter, sebuah kondisi yang jauh dari standar pelayanan kesehatan dasar.
 
     Bahasa juga menjadi penghalang yang sering luput dibicarakan. Dalam sesi tanya jawab, dr. Arsen menekankan bahwa komunikasi antara tenaga kesehatan dan pasien sangat menentukan keselamatan ibu dan bayi. Ketika dokter berasal dari luar Papua dan tidak memahami bahasa lokal, informasi medis kerap gagal dipahami pasien. Arsen menegaskan,  “Penting bagi Papua akan keberadaan tenaga kesehatan asli Papua yang memahami konteks budaya dan bahasa setempat.”
 
     Sementara itu, Angelina Djopari dari Perempuan Mahardika Manokwari menggarisbawahi dimensi kebijakan dan anggaran. Dana Otonomi Khusus (Otsus) yang semestinya menjadi instrumen perbaikan layanan kesehatan justru tidak transparan alokasinya. “Sampai hari ini kita tidak tahu dana itu ke mana, sementara kesehatan ibu dan anak tetap minim,” tegasnya. Dalam konteks Papua, kematian satu ibu berarti hilangnya satu generasi, sebuah kerugian sosial yang tak terukur angka.
 
     Ketimpangan gender membuat kehamilan dipandang sekadar proses alami, bukan kondisi yang membutuhkan perlindungan khusus. Perempuan hamil tetap bekerja berat di ladang hingga usia kehamilan lanjut, berangkat dari kepercayaan bahwa kerja fisik akan mempermudah persalinan, padahal justru meningkatkan risiko komplikasi.
Picture
Dok. Jurnal Perempuan
​Kasus Papua, Cermin Ketidakadilan Sistemik

     Diskusi ini menegaskan bahwa krisis kesehatan ibu dan anak di Papua tidak bisa dipersempit sebagai isu medis semata. Krisis ini berkelindan dengan kebijakan politik, ekonomi, adat istiadat, hingga relasi kuasa gender. Upaya penyelamatan harus bersifat menyeluruh, dari edukasi, distribusi tenaga kesehatan, hingga pengawasan anggaran dan keberanian politik untuk berpihak.
 
     Dalam paparan penutup, dr. Arsen Krey mengingatkan, peradaban orang Papua dimulai dari rahim mama-mama Papua.
 
     Di akhir diskusi, Putry E. Tanaty, moderator sekaligus penggagas acara menyimpulkan, selama rahim perempuan Papua terus diperlakukan sebagai angka statistik, krisis ini akan terus berulang. Tingginya angka kematian ibu, bayi dan stunting menunjukkan kegagalan sistemik, kebijakan yang tidak membumi dan layanan kesehatan yang timpang dan tubuh perempuan terutama perempuan hamil yang terus dipaksa bertahan tanpa perlindungan.
 
     Perempuan Papua termasuk yang hamil bekerja keras bukan karena pilihan bebas, tetapi sistem memaksa mereka menanggung beban ekonomi, sosial dan kesehatan sekaligus. Perubahan hanya mungkin terjadi jika keberpihakan diwujudkan secara nyata, akuntabilitas ditegakkan, dan setiap kehamilan diperlakukan sebagai tanggung jawab kolektif, bukan sekadar data tahunan. (Lisa Febriyanti)

Comments are closed.
    Jurnal Perempuan
    ​
    terindeks di:
    Picture

    Archives

    March 2026
    February 2026
    January 2026
    December 2025
    November 2025
    October 2025
    September 2025
    August 2025
    July 2025
    June 2025
    May 2025
    April 2025
    March 2025
    February 2025
    January 2025
    December 2024
    November 2024
    October 2024
    September 2024
    August 2024
    July 2024
    June 2024
    May 2024
    April 2024
    March 2024
    February 2024
    January 2024
    December 2023
    November 2023
    October 2023
    September 2023
    August 2023
    July 2023
    June 2023
    May 2023
    April 2023
    March 2023
    February 2023
    January 2023
    December 2022
    November 2022
    October 2022
    September 2022
    August 2022
    July 2022
    June 2022
    May 2022
    April 2022
    March 2022
    February 2022
    January 2022
    December 2021
    November 2021
    October 2021
    September 2021
    August 2021
    July 2021
    June 2021
    April 2021
    March 2021
    February 2021
    January 2021
    December 2020
    October 2020
    August 2020
    July 2020
    June 2020
    April 2020
    March 2020
    February 2020
    January 2020
    December 2019
    November 2019
    October 2019
    September 2019
    August 2019
    July 2019
    June 2019
    May 2019
    April 2019
    March 2019
    February 2019
    January 2019
    December 2018
    November 2018
    October 2018
    September 2018
    August 2018
    July 2018
    June 2018
    May 2018
    April 2018
    March 2018
    February 2018
    January 2018
    December 2017
    October 2017
    September 2017
    August 2017
    July 2017
    June 2017
    May 2017
    April 2017
    March 2017
    December 2016
    November 2016
    September 2016
    August 2016
    July 2016
    June 2016
    May 2016
    April 2016
    March 2016
    February 2016
    January 2016
    December 2015
    November 2015
    October 2015
    September 2015
    August 2015
    July 2015
    June 2015
    May 2015
    April 2015
    March 2015
    February 2015
    January 2015
    December 2014
    November 2014
    October 2014
    September 2014
    August 2014
    July 2014
    June 2014

    Categories

    All

    RSS Feed

Yayasan Jurnal Perempuan| Alamanda Tower, 25th Floor | Jl. T.B. Simatupang Kav. 23-24 Jakarta 12430 | Telp. +62 21 2965 7992 Fax. +62 21 2927 7888 | [email protected]
  • TENTANG KAMI
    • Profil
    • Kontak
    • Laporan Tahunan
    • Demo Suara Ibu Peduli
    • Rilis JP
  • Jurnal Perempuan
    • Indonesian Feminist Journal
    • Kirim Tulisan
  • YJP PRESS
    • Buku Seri YJP Press
  • KAFFE
    • Booklet KAFFE
  • Podcast JP
    • Radio JP
  • Sahabat JP
    • Daftar Nama SJP
    • International Friends of JP
    • Blog SJP
    • Gathering SJP
  • Wacana Feminis
    • Tokoh Feminis
    • Cerpen/Puisi Feminis
  • Warta Feminis
  • Warung JP
    • Daftar Toko Buku
  • Toeti Heraty Scholarship
    • Biodata Penerima Beasiswa 2022
    • Biodata Penerima Beasiswa 2023
    • Biodata Penerima Beasiswa 2024
    • Biodata Penerima Beasiswa 2025