Jurnal Perempuan
  • TENTANG KAMI
    • Profil
    • Kontak
    • Laporan Tahunan
    • Demo Suara Ibu Peduli
    • Rilis JP
  • Jurnal Perempuan
    • Indonesian Feminist Journal
    • Kirim Tulisan
  • YJP PRESS
    • Buku Seri YJP Press
  • KAFFE
    • Booklet KAFFE
  • Podcast JP
    • Radio JP
  • Sahabat JP
    • Daftar Nama SJP
    • International Friends of JP
    • Blog SJP
    • Gathering SJP
  • Wacana Feminis
    • Tokoh Feminis
    • Cerpen/Puisi Feminis
  • Warta Feminis
  • Warung JP
    • Daftar Toko Buku
  • Toeti Heraty Scholarship
    • Biodata Penerima Beasiswa 2022
    • Biodata Penerima Beasiswa 2023
    • Biodata Penerima Beasiswa 2024
    • Biodata Penerima Beasiswa 2025
Warta Feminis

Cerita dari Halmahera: Nikel, Kriminalisasi, dan Perlawanan Masyarakat Adat Maba Sangaji

4/9/2025

 
PictureDok. Jurnal Perempuan
     “Anak saya yang masih duduk di bangku SMA terpaksa menggantikan peran papanya untuk mengerjakan kopra berton-ton. Padahal seharusnya ia fokus belajar, bukan memikul beban kerja orang dewasa. Saya berjanji pada anak-anak saya akan terus berjuang agar papa bisa pulang, karena ia tidak bersalah.” Kamaria (Wawancara via telepon 2/9/25)

     Kamaria Malik, istri Nahrawi Salamudin, salah satu dari 11 masyarakat adat Maba Sangaji yang ditangkap. Cerita Kamaria adalah mula dari produksi kendaraan listrik yang kita puja untuk mengurangi polusi di kota, ternyata meninggalkan luka bagi masyarakat adat di Halmahera. Kamaria masih mengingat jelas hari ketika suami dan anaknya pamit untuk melihat tanah di sekitar operasi PT. Position. Tidak lama kemudian, ia mendengar kabar mengejutkan: suaminya bersama warga lain ditangkap aparat. “Dia berjuang untuk orang banyak, supaya ke depan masyarakat tidak takut,” tutur Kamaria. Baginya, perjuangan suaminya menjaga hutan dan sungai adat bukanlah tindak kriminal, melainkan kewajiban melindungi ruang hidup.

     Namun, penangkapan itu membuat kehidupan keluarga terguncang. Suaminya yang biasa membuat kopra kini tak lagi bisa bekerja. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan membiayai sekolah anak-anak, Kamaria berjualan kue. “Dulu kalau kerja tidak tenang, apa saya mampu menyekolahkan anak saya. Saya hidup dengan air mata,” katanya. Yang paling berat, anaknya yang masih duduk di bangku SMA terpaksa menggantikan peran ayahnya. Ia harus mengerjakan kopra dalam jumlah besar, padahal tugas utamanya adalah belajar. Kamaria berharap negara memberi keadilan bagi 11 pejuang lingkungan, agar anak-anak mereka bisa menata masa depan tanpa dihantui ketakutan dan kehilangan.
Picture
Dok. Jurnal Perempuan
     Cerita Kamaria menjadi bagian utuh dari ruang pertemuan solidaritas dalam acara “Nikel, Kriminalisasi, dan Krisis di Maluku Utara” yang diselenggarakan oleh JATAM sebagai bentuk keprihatinan atas kriminalisasi terhadap warga, termasuk 11 masyarakat adat Maba Sangaji. Acara ini digelar pada Senin (1/9/2025) bertempat di Resonansi (Rumah Belajar ICW). Kegiatan yang menampilkan pameran foto, kronik pertambangan nikel di Halmahera Timur, diskusi publik, serta panggung seni.
Picture
Dok. Jurnal Perempuan
     Dalam diskusi publik, Lukman Harun, kuasa hukum masyarakat adat Maba Sangaji, menceritakan rangkaian kriminalisasi yang bermula pada 15–16 Mei 2025 ketika warga menggelar ritual adat sebagai bentuk penolakan terhadap aktivitas tambang nikel PT. Position yang merusak hutan dan sungai adat. Ritual yang semestinya dilindungi sebagai ekspresi kultural dan hak konstitusional ini justru dibubarkan secara paksa oleh aparat. Sebanyak 27 orang warga ditangkap dan dibawa ke kantor polisi. Selanjutnya, pada 19 Mei 2025, dari 27 warga yang ditangkap, 11 orang ditetapkan sebagai tersangka. Mereka didakwa menggunakan pasal-pasal yang kerap dipakai untuk membungkam gerakan rakyat, yakni Undang-Undang (UU) Darurat No. 12 Tahun 1951, UU Minerba, dan KUHP.
 
     Bagi Lukman, tuduhan ini tidak hanya berlebihan, tetapi juga jelas merupakan bentuk kriminalisasi terhadap warga yang memperjuangkan hak atas tanah dan lingkungan hidup mereka. Memasuki 13 Agustus 2025, sidang kedua digelar di Pengadilan Negeri Soasio. Dalam kesempatan itu, Tim Advokasi Anti Kriminalisasi mengajukan eksepsi. Lukman menegaskan bahwa 11 warga yang duduk di kursi terdakwa bukanlah kriminal, melainkan pejuang lingkungan yang seharusnya dilindungi.
 
     Selain Lukman, paparan dilanjutkan oleh Surya Saluang, Peneliti Maluku Utara, tentang perubahan ruang hidup di Halmahera. Surya menekankan perbedaan Maluku Utara dengan Kalimantan. Jika Kalimantan bertumpu pada sungai, Maluku Utara berakar pada laut dan rempah dengan sejarah panjang Kie Raha. Namun, industrialisasi tambang nikel mengabaikan keterbatasan ruang ini, merampas tanah yang sempit, dan menyingkirkan warisan ekologis serta kultural masyarakat yang selama berabad-abad menopang hidup dengan laut dan rempah.
 
     Pada isu buruh, alienasi, dan refleksi feminis, Ruth Indiah Rahayu, Peneliti Buruh Nikel dan Industri Nikel, juga menyoroti bagaimana industrialisasi nikel mengubah relasi produksi dan reproduksi. Lebih jauh, Ruth menjelaskan bahwa waktu yang sebelumnya mengikuti ritme alam kini digantikan jam industri 24 jam tanpa henti. Perubahan ini menciptakan alienasi: tubuh dipaksa mengikuti tempo produksi kapital, sementara kehidupan sosial dan reproduktif rumah tangga tergeser, menambah beban terutama bagi perempuan.
 
     Di balik jeruji 11 warga Maba Sangaji, ada keluarga yang menunggu, anak-anak yang terancam kehilangan masa depan, dan istri yang memikul beban hidup sendirian. Namun, dari luka ini pula lahir tekad untuk terus berjuang. Suara mereka adalah pengingat bahwa keadilan ekologis tidak bisa ditunda, karena tanpa ruang hidup, tidak ada kehidupan. Kriminalisasi 11 warga Maba Sangaji bukan sekadar kasus hukum, tetapi cermin dari wajah negara yang gagal melindungi rakyatnya. Karena itu, solidaritas lintas gerakan harus diperkuat, agar suara masyarakat adat tidak lagi dibungkam oleh industri dan aparat. (Asterlita Tirsa Raha)
​

Comments are closed.
    Jurnal Perempuan
    ​
    terindeks di:
    Picture

    Archives

    January 2026
    December 2025
    November 2025
    October 2025
    September 2025
    August 2025
    July 2025
    June 2025
    May 2025
    April 2025
    March 2025
    February 2025
    January 2025
    December 2024
    November 2024
    October 2024
    September 2024
    August 2024
    July 2024
    June 2024
    May 2024
    April 2024
    March 2024
    February 2024
    January 2024
    December 2023
    November 2023
    October 2023
    September 2023
    August 2023
    July 2023
    June 2023
    May 2023
    April 2023
    March 2023
    February 2023
    January 2023
    December 2022
    November 2022
    October 2022
    September 2022
    August 2022
    July 2022
    June 2022
    May 2022
    April 2022
    March 2022
    February 2022
    January 2022
    December 2021
    November 2021
    October 2021
    September 2021
    August 2021
    July 2021
    June 2021
    April 2021
    March 2021
    February 2021
    January 2021
    December 2020
    October 2020
    August 2020
    July 2020
    June 2020
    April 2020
    March 2020
    February 2020
    January 2020
    December 2019
    November 2019
    October 2019
    September 2019
    August 2019
    July 2019
    June 2019
    May 2019
    April 2019
    March 2019
    February 2019
    January 2019
    December 2018
    November 2018
    October 2018
    September 2018
    August 2018
    July 2018
    June 2018
    May 2018
    April 2018
    March 2018
    February 2018
    January 2018
    December 2017
    October 2017
    September 2017
    August 2017
    July 2017
    June 2017
    May 2017
    April 2017
    March 2017
    December 2016
    November 2016
    September 2016
    August 2016
    July 2016
    June 2016
    May 2016
    April 2016
    March 2016
    February 2016
    January 2016
    December 2015
    November 2015
    October 2015
    September 2015
    August 2015
    July 2015
    June 2015
    May 2015
    April 2015
    March 2015
    February 2015
    January 2015
    December 2014
    November 2014
    October 2014
    September 2014
    August 2014
    July 2014
    June 2014

    Categories

    All

    RSS Feed

Yayasan Jurnal Perempuan| Alamanda Tower, 25th Floor | Jl. T.B. Simatupang Kav. 23-24 Jakarta 12430 | Telp. +62 21 2965 7992 Fax. +62 21 2927 7888 | [email protected]
  • TENTANG KAMI
    • Profil
    • Kontak
    • Laporan Tahunan
    • Demo Suara Ibu Peduli
    • Rilis JP
  • Jurnal Perempuan
    • Indonesian Feminist Journal
    • Kirim Tulisan
  • YJP PRESS
    • Buku Seri YJP Press
  • KAFFE
    • Booklet KAFFE
  • Podcast JP
    • Radio JP
  • Sahabat JP
    • Daftar Nama SJP
    • International Friends of JP
    • Blog SJP
    • Gathering SJP
  • Wacana Feminis
    • Tokoh Feminis
    • Cerpen/Puisi Feminis
  • Warta Feminis
  • Warung JP
    • Daftar Toko Buku
  • Toeti Heraty Scholarship
    • Biodata Penerima Beasiswa 2022
    • Biodata Penerima Beasiswa 2023
    • Biodata Penerima Beasiswa 2024
    • Biodata Penerima Beasiswa 2025