Cerita Cinta Tanpa Batas: Peluncuran Buku “Kamarina Rindu Cinta” dan Diskusi Literasi Inklusif21/1/2026
Dok. Jurnal Perempuan Dalam rangka memperingati Hari Braille Internasional, Yayasan Mitra Netra menyelenggarakan diskusi dan peluncuran novel “Kamarina Rindu Cinta” karya Firliana Purwanti di Jakarta pada Rabu (14/1/2026). Selain berbentuk fisik, buku ini diluncurkan dalam bentuk audio digital dengan format Digital Accessible Information System (DAISY) dan E-PUB yang aksesibel bagi pembaca disabilitas netra. Acara ini mengundang Dina Lorenza (pekerja seni sekaligus Anggota DPR RI Fraksi Partai Demokrat), Aria Indrawati (Humas Yayasan Mitra Netra) serta dimoderatori oleh Hadianti Ramadhani, seorang digital content creator dan penulis disabilitas netra. Dalam novelnya, Firliana Purwanti mengisahkan perempuan bernama Kamarina yang berani memulai kembali hidup dan cinta dengan latar lintas budaya dan negara setelah bercerai pada usia 37 tahun. Melalui kisah ini, Firliana ingin membongkar stigma negatif terhadap janda yang sering kali menjebak perempuan dalam ketakutan untuk meninggalkan pernikahan yang penuh kekerasan. Dengan menunjukkan bagaimana hidup setelah perceraian itu juga bisa menyenangkan, Firliana berharap perempuan dan setiap pembaca lainnya dapat menemukan kekuatan untuk menyuarakan pengalamannya dan mengambil keputusan bagi kehidupannya. Peluncuran buku yang aksesibel bagi pembaca disabilitas netra menjadi upaya Firliana dalam mewujudkan keadilan dan menghormati martabat manusia. Baginya, buku seharusnya tidak memiliki batas penglihatan. Ia sadar bahwa upaya untuk meningkatkan kepekaan terhadap disabilitas netra membutuhkan perubahan perspektif dari lingkungan sekitar dalam mengakomodasi kebutuhan mereka. Aria Indrawati menyoroti pentingnya kolaborasi antara penulis, penerbit, dan lembaga literasi untuk memperluas dan mempermudah akses literasi yang inklusif sebab itulah hak dan kebutuhan yang harus dipenuhi. Ia menegaskan bahwa literasi inklusif merupakan langkah penting dalam memahami keberagaman dalam masyarakat secara bermakna. Baginya, inklusivitas bukanlah hal rumit, yang penting adalah kemauan dan kesadaran yang peka terhadap keberagaman sejak awal proses penerbitan. Dina Lorenza menegaskan bahwa akses literasi bagi penyandang disabilitas merupakan mandat konstitusional. Ia melihat bahwa dunia seni di Indonesia sudah mulai memperhitungkan disabilitas netra, meskipun masih diwujudkan secara perorangan seperti yang dilakukan oleh Firliana. Dengan ragamnya seni yang ada, seperti seni peran, tari, musik, dan lain sebagainya, ia melihat potensi besar dalam mengadakan acara-acara sosial yang mana penyandang disabilitas dapat berpartisipasi penuh dalam kehidupan budaya dan sastra. Para narasumber menutup diskusi dengan menegaskan harapan mereka terhadap literasi di Indonesia yang lebih inklusif. Mereka berharap bahwa penyandang disabilitas tidak hanya menjadi objek, melainkan subjek aktif dalam seni. Dengan keberagaman yang dimilikinya, disabilitas netra memiliki imajinasi yang lebih luas dalam menuliskan cerita. Dengan bentuk pengalaman yang berbeda, disabilitas netra memiliki kekuatan untuk mendeskripsikan sesuatu secara unik dan lebih “vivid”. Mereka dapat membawa perspektif baru dalam cara mereka mengalami dunia yang mungkin belum terlalu diangkat dalam dunia literasi. Oleh karena itu, diskusi ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi disabilitas netra untuk terus berkarya, serta harapan akan penganekaragaman dan diversifikasi pekerjaan disabilitas netra yang semakin bertumbuh.
Acara ini mengingatkan bagaimana inklusivitas merupakan kepentingan yang perlu diperjuangkan bersama-sama. Setiap orang memiliki cerita yang berhak untuk didengar. Oleh karena itu, perjuangan dimulai dari berbagi kekuatan dengan sesama dan saling memberdayakan setiap orang tanpa terkecuali. Tidak ada hak yang boleh dilupakan. (Davina Dachi) Comments are closed.
|
Jurnal Perempuan
terindeks di: Archives
January 2026
Categories |

RSS Feed