Jurnal Perempuan
  • TENTANG KAMI
    • Profil
    • Kontak
    • Laporan Tahunan
    • Demo Suara Ibu Peduli
    • Rilis JP
  • Jurnal Perempuan
    • Indonesian Feminist Journal
    • Kirim Tulisan
  • YJP PRESS
    • Buku Seri YJP Press
  • KAFFE
    • Booklet KAFFE
  • Podcast JP
    • Radio JP
  • Sahabat JP
    • Daftar Nama SJP
    • International Friends of JP
    • Blog SJP
    • Gathering SJP
  • Wacana Feminis
    • Tokoh Feminis
    • Cerpen/Puisi Feminis
  • Warta Feminis
  • Warung JP
    • Daftar Toko Buku
  • Toeti Heraty Scholarship
    • Biodata Penerima Beasiswa 2022
    • Biodata Penerima Beasiswa 2023
    • Biodata Penerima Beasiswa 2024
    • Biodata Penerima Beasiswa 2025
Warta Feminis

Bunyikan Alat Masak, Para Perempuan dan Ibu Suarakan Keresahan Atas Kegagalan Program MBG

27/9/2025

 
PictureDok. Jurnal Perempuan
     Matahari hampir tenggelam, tetapi di sekitaran Boulevard Universitas Gadjah Mada masih dipenuhi perempuan-perempuan yang berasal dari beragam organisasi dan profesi sembari membaca alat-alat masak. Mulai dari panci, wajan, spatula, hingga cangkir kaleng memenuhi kedua tangan para perempuan tersebut. Bukan untuk memasak, alat-alat dapur ini dibawa ke jalan, digunakan untuk menyuarakan keresahan mereka atas Program Makan Bergizi Gratis (MBG), Jumat (26/9/2025).

     Para perempuan ini melampiaskan amarahnya atas ribuan anak yang menjadi korban keracunan makanan atas program nasional yang menghabiskan anggaran negara. Hanni sebagai salah satu panitia dalam aksi hari ini mengungkapkan bahwa aksi ini dipersiapkan dengan cepat. Bukan hanya itu, para perempuan ini juga melakukan aksi ini dengan gerakan kolektif. Mereka saling menyumbangkan sarana yang mereka miliki, mulai dari tikar, toa, makanan, hingga minuman.

     Para perempuan ini melakukan semuanya dengan cepat karena jumlah korban keracunan akibat MBG tidak bisa ditoleransi lagi. “Isu MBG ini sudah lama, dari awal diluncurkan programnya sudah bermasalah,” tutur Hanni. Ia menjelaskan keresahan yang sudah lama dan berlandaskan masalah yang sama ini akhirnya disepakati sebagai sebuah aksi untuk menghentikan Program MBG, bukan lagi mengevaluasinya.

     Tuntutan ini muncul karena korban dari MBG yang sudah sangat tinggi mengakibatkan kesedihan yang mendalam bagi para hati ibu yang harus membiarkan anaknya pergi ke sekolah dan mengonsumsi olahan MBG. Fitri sebagai salah satu ibu menyampaikan dalam orasinya bahwa ia tidak bisa membiarkan anak-anak harus menanggung program ambisi negara yang akhirnya meninggalkan kepentingan terbaik untuk anak. “Program Makan Bergizi Gratis sekarang mengorbankan anak. Anggarannya mengorbankan pendidikan anak-anak kita,” keluhnya.

     Bukan hanya mengorbankan sektor pendidikan, Kalis menjelaskan bahwa dalam hasil riset yang sudah dilakukan dan didapatkan oleh mereka Program MBG memanglah memakan banyak anggaran. “Jumlah Rp 1 triliun itu bisa untuk memperbaiki layanan satu puskesmas satu tahun,” jelasnya. Dengan logika yang sama, anggaran MBG baginya bisa digunakan untuk memperbaiki layanan kesehatan melalui fasilitas puskesmas di seluruh Indonesia.

     Selain mengorbankan sektor pendidikan dan kesehatan, Hanni menceritakan, banyak dari kawan ibu yang juga mengeluhkan anaknya yang dipaksa untuk makan makanan dalam program MBG. Padahal anak-anak tersebut memiliki alergi, seperti alergi putih telur dan laktosa. “Padahal itu ‘kan sering banget dipake (digunakan sebagai bahan dalam MBG—red),” kesalnya. Walau memiliki keluhan alergi tersebut, Hanni menceritakan bagaimana anak-anak tersebut tetap tidak boleh menolak MBG.

     Perkara ini menambah kekhawatiran para ibu, mereka mulai mempertanyakan apakah sekolah dan berani mau bertanggung jawab jika alerginya kumat. Kekhawatiran ini juga disampaikan oleh Anggi sebagai salah satu peserta aksi kali ini. Ia memilih turun ke jalan hari ini, membawa alat masaknya dan membunyikannya sekencang mungkin walau di tengah kehamilan sembilan bulan. “Saya nggak mau kalau anak saya nanti lahir harus ikut makan MBG,” ungkapnya.

     Bagi Anggi, program ini merupakan program yang tergesa-gesa demi memenuhi janji politis semata. Ia mengatakan bahwa negara hanya menjanjikan bahwa anak-anak Indonesia akan menjadi generasi emas, tetapi nutrisinya tak dipenuhi, anak-anak hanya dijadikan angka statistik. “Mereka (negara—red) lupa, satu anak itu ada nyawa, ada tangis, ada sedih, dan ada kerepotan orang tua. Mereka tidak peduli, mereka berjalan tanpa melihat dampaknya,” ungkapnya.

     ​“Ada pejabat yang mengatakan itu (anak keracunan makanan—red) karena belum terbiasa saja,” keluh Fitri dalam orasinya. Ketidakpedulian negara akan dampaknya ini sangatlah ia sayangkan. Fitri mengecam seluruh sikap nirempati para pejabat, musababnya angka keracunan anak akibat program MBG masih dibandingkan dengan angka yang belum keracunan. Baginya, ini tidaklah adil karena anak-anak ini merupakan penerus bangsa, bukan sekadar angka semata.
Picture
Dok. Jurnal Perempuan
     Kalis Mardiasih selaku salah satu Pegiat Ibu Indonesia dan Penanggung Jawab aksi ini menjelaskan jika kekhawatiran para ibu ini bukan hanya hasil amarah dari rumah saja. Aksi ini juga merupakan keresahan para akademisi, ahli gizi, dan paham tentang kebutuhan anak. Ia mengakui bahwa para perempuan yang terlibat dalam aksi kali ini mempersiapkannya dengan matang dengan mengajak seluruh peneliti hingga jurnalis yang sudah menginvestigasi akan berlangsungnya program MBG.

     ​Di tengah aksi sedang berlangsung, para perempuan yang turun ke jalan ini tetaplah harus menanggung peran gandanya, sebagai rakyat yang resah dan sebagai ibu yang harus tetap membawa anaknya. Anak-anak ini sebagian ikut memegang alat masak dan yang lainnya bermain di “Pojok Anak” yang disediakan. Mereka menggambar, mewarnai, memasang puzzle, hingga meronce. “Kami menyediakan “Pojok Anak” agar para ibu yang tidak bisa meninggalkan anaknya di rumah atau menitipkannya di penitipan bisa tetap menyuarakan suaranya,” jelas Kalis.

     Nara, salah satu anak yang ikut turun aksi memilih untuk bermain di pojok anak, bertanggung jawab untuk mengajari anak-anak lainnya meronce. Bukan hanya mengajari anak-anak lain untuk meronce, Nara pun tak segan untuk membawa alat-alat mewarnai dan meroncenya untuk digunakan secara kolektif oleh anak-anak lain.

     Awalnya, Nara hanya ditawari ibunya untuk ikut turun aksi, tetapi baginya ini menjadi pengalaman yang unik dan menyenangkan. Ia bisa bertemu orang-orang baru hingga teman sekolahnya dahulu. “Aku bisa mendapatkan teman-teman baru di sini dan ini menjadi pengalaman pertamaku untuk ikut turun demo,” ujarnya.

     ​Walau ia bisa mendapatkan teman baru dan bermain, Nara mengungkapkan kesedihannya kala ia mendengarkan cerita tentang teman-temannya yang harus mengonsumsi MBG di sekolah. “Aku nggak dapet MBG, tapi teman-temanku yang dapat itu cerita kalau kadang mereka dapat makanan yang asam, bau, nggak enak gitu,” sedihnya. Bukan hanya mendengar keluhan dari teman-temannya, Nara setiap menonton berita pun semakin kesal melihat kegagalan MBG untuk memberikan makanan yang sehat dan bernutrisi.

Picture
Dok. Jurnal Perempuan
     Nara berharap bahwa aksi ini bisa didengarkan oleh pemerintah. Harapan Nara bukanlah satu-satunya yang muncul dalam aksi kali ini. Hanni mengharapkan bahwa aksi kali ini bisa menjadi permulaan agar seluruh ibu dan perempuan di Indonesia bisa menyuarakan keresahannya. “Semoga aksi ini bisa ditiru oleh kota-kota besar lainnya, agar program MBG diteruskan,” tegasnya.

     Harapan Hanni ini juga diinginkan oleh Kalis. Ia menyampaikan bahwa program MBG perlu disuarakan bersama dengan cara apa pun. Dalam pandangan Hanni, jika program MBG masih dilanjutkan ia tentunya akan merasakan sakit hati. Namun, ia yakin bahwa perempuan akan selalu bisa menunjukkan suaranya dalam melawan negara yang represif dan apatis. “Perempuan harus berani untuk melawan, cari cara untuk bersolidaritas. Gender tidak membatasi,” pungkasnya. (Ester Veny Novelia Situmorang)

Comments are closed.
    Jurnal Perempuan
    ​
    terindeks di:
    Picture

    Archives

    January 2026
    December 2025
    November 2025
    October 2025
    September 2025
    August 2025
    July 2025
    June 2025
    May 2025
    April 2025
    March 2025
    February 2025
    January 2025
    December 2024
    November 2024
    October 2024
    September 2024
    August 2024
    July 2024
    June 2024
    May 2024
    April 2024
    March 2024
    February 2024
    January 2024
    December 2023
    November 2023
    October 2023
    September 2023
    August 2023
    July 2023
    June 2023
    May 2023
    April 2023
    March 2023
    February 2023
    January 2023
    December 2022
    November 2022
    October 2022
    September 2022
    August 2022
    July 2022
    June 2022
    May 2022
    April 2022
    March 2022
    February 2022
    January 2022
    December 2021
    November 2021
    October 2021
    September 2021
    August 2021
    July 2021
    June 2021
    April 2021
    March 2021
    February 2021
    January 2021
    December 2020
    October 2020
    August 2020
    July 2020
    June 2020
    April 2020
    March 2020
    February 2020
    January 2020
    December 2019
    November 2019
    October 2019
    September 2019
    August 2019
    July 2019
    June 2019
    May 2019
    April 2019
    March 2019
    February 2019
    January 2019
    December 2018
    November 2018
    October 2018
    September 2018
    August 2018
    July 2018
    June 2018
    May 2018
    April 2018
    March 2018
    February 2018
    January 2018
    December 2017
    October 2017
    September 2017
    August 2017
    July 2017
    June 2017
    May 2017
    April 2017
    March 2017
    December 2016
    November 2016
    September 2016
    August 2016
    July 2016
    June 2016
    May 2016
    April 2016
    March 2016
    February 2016
    January 2016
    December 2015
    November 2015
    October 2015
    September 2015
    August 2015
    July 2015
    June 2015
    May 2015
    April 2015
    March 2015
    February 2015
    January 2015
    December 2014
    November 2014
    October 2014
    September 2014
    August 2014
    July 2014
    June 2014

    Categories

    All

    RSS Feed

Yayasan Jurnal Perempuan| Alamanda Tower, 25th Floor | Jl. T.B. Simatupang Kav. 23-24 Jakarta 12430 | Telp. +62 21 2965 7992 Fax. +62 21 2927 7888 | [email protected]
  • TENTANG KAMI
    • Profil
    • Kontak
    • Laporan Tahunan
    • Demo Suara Ibu Peduli
    • Rilis JP
  • Jurnal Perempuan
    • Indonesian Feminist Journal
    • Kirim Tulisan
  • YJP PRESS
    • Buku Seri YJP Press
  • KAFFE
    • Booklet KAFFE
  • Podcast JP
    • Radio JP
  • Sahabat JP
    • Daftar Nama SJP
    • International Friends of JP
    • Blog SJP
    • Gathering SJP
  • Wacana Feminis
    • Tokoh Feminis
    • Cerpen/Puisi Feminis
  • Warta Feminis
  • Warung JP
    • Daftar Toko Buku
  • Toeti Heraty Scholarship
    • Biodata Penerima Beasiswa 2022
    • Biodata Penerima Beasiswa 2023
    • Biodata Penerima Beasiswa 2024
    • Biodata Penerima Beasiswa 2025