Dok. Jurnal Perempuan Matahari hampir tenggelam, tetapi di sekitaran Boulevard Universitas Gadjah Mada masih dipenuhi perempuan-perempuan yang berasal dari beragam organisasi dan profesi sembari membaca alat-alat masak. Mulai dari panci, wajan, spatula, hingga cangkir kaleng memenuhi kedua tangan para perempuan tersebut. Bukan untuk memasak, alat-alat dapur ini dibawa ke jalan, digunakan untuk menyuarakan keresahan mereka atas Program Makan Bergizi Gratis (MBG), Jumat (26/9/2025). Para perempuan ini melampiaskan amarahnya atas ribuan anak yang menjadi korban keracunan makanan atas program nasional yang menghabiskan anggaran negara. Hanni sebagai salah satu panitia dalam aksi hari ini mengungkapkan bahwa aksi ini dipersiapkan dengan cepat. Bukan hanya itu, para perempuan ini juga melakukan aksi ini dengan gerakan kolektif. Mereka saling menyumbangkan sarana yang mereka miliki, mulai dari tikar, toa, makanan, hingga minuman. Para perempuan ini melakukan semuanya dengan cepat karena jumlah korban keracunan akibat MBG tidak bisa ditoleransi lagi. “Isu MBG ini sudah lama, dari awal diluncurkan programnya sudah bermasalah,” tutur Hanni. Ia menjelaskan keresahan yang sudah lama dan berlandaskan masalah yang sama ini akhirnya disepakati sebagai sebuah aksi untuk menghentikan Program MBG, bukan lagi mengevaluasinya. Tuntutan ini muncul karena korban dari MBG yang sudah sangat tinggi mengakibatkan kesedihan yang mendalam bagi para hati ibu yang harus membiarkan anaknya pergi ke sekolah dan mengonsumsi olahan MBG. Fitri sebagai salah satu ibu menyampaikan dalam orasinya bahwa ia tidak bisa membiarkan anak-anak harus menanggung program ambisi negara yang akhirnya meninggalkan kepentingan terbaik untuk anak. “Program Makan Bergizi Gratis sekarang mengorbankan anak. Anggarannya mengorbankan pendidikan anak-anak kita,” keluhnya. Bukan hanya mengorbankan sektor pendidikan, Kalis menjelaskan bahwa dalam hasil riset yang sudah dilakukan dan didapatkan oleh mereka Program MBG memanglah memakan banyak anggaran. “Jumlah Rp 1 triliun itu bisa untuk memperbaiki layanan satu puskesmas satu tahun,” jelasnya. Dengan logika yang sama, anggaran MBG baginya bisa digunakan untuk memperbaiki layanan kesehatan melalui fasilitas puskesmas di seluruh Indonesia. Selain mengorbankan sektor pendidikan dan kesehatan, Hanni menceritakan, banyak dari kawan ibu yang juga mengeluhkan anaknya yang dipaksa untuk makan makanan dalam program MBG. Padahal anak-anak tersebut memiliki alergi, seperti alergi putih telur dan laktosa. “Padahal itu ‘kan sering banget dipake (digunakan sebagai bahan dalam MBG—red),” kesalnya. Walau memiliki keluhan alergi tersebut, Hanni menceritakan bagaimana anak-anak tersebut tetap tidak boleh menolak MBG. Perkara ini menambah kekhawatiran para ibu, mereka mulai mempertanyakan apakah sekolah dan berani mau bertanggung jawab jika alerginya kumat. Kekhawatiran ini juga disampaikan oleh Anggi sebagai salah satu peserta aksi kali ini. Ia memilih turun ke jalan hari ini, membawa alat masaknya dan membunyikannya sekencang mungkin walau di tengah kehamilan sembilan bulan. “Saya nggak mau kalau anak saya nanti lahir harus ikut makan MBG,” ungkapnya. Bagi Anggi, program ini merupakan program yang tergesa-gesa demi memenuhi janji politis semata. Ia mengatakan bahwa negara hanya menjanjikan bahwa anak-anak Indonesia akan menjadi generasi emas, tetapi nutrisinya tak dipenuhi, anak-anak hanya dijadikan angka statistik. “Mereka (negara—red) lupa, satu anak itu ada nyawa, ada tangis, ada sedih, dan ada kerepotan orang tua. Mereka tidak peduli, mereka berjalan tanpa melihat dampaknya,” ungkapnya. “Ada pejabat yang mengatakan itu (anak keracunan makanan—red) karena belum terbiasa saja,” keluh Fitri dalam orasinya. Ketidakpedulian negara akan dampaknya ini sangatlah ia sayangkan. Fitri mengecam seluruh sikap nirempati para pejabat, musababnya angka keracunan anak akibat program MBG masih dibandingkan dengan angka yang belum keracunan. Baginya, ini tidaklah adil karena anak-anak ini merupakan penerus bangsa, bukan sekadar angka semata. Kalis Mardiasih selaku salah satu Pegiat Ibu Indonesia dan Penanggung Jawab aksi ini menjelaskan jika kekhawatiran para ibu ini bukan hanya hasil amarah dari rumah saja. Aksi ini juga merupakan keresahan para akademisi, ahli gizi, dan paham tentang kebutuhan anak. Ia mengakui bahwa para perempuan yang terlibat dalam aksi kali ini mempersiapkannya dengan matang dengan mengajak seluruh peneliti hingga jurnalis yang sudah menginvestigasi akan berlangsungnya program MBG. Di tengah aksi sedang berlangsung, para perempuan yang turun ke jalan ini tetaplah harus menanggung peran gandanya, sebagai rakyat yang resah dan sebagai ibu yang harus tetap membawa anaknya. Anak-anak ini sebagian ikut memegang alat masak dan yang lainnya bermain di “Pojok Anak” yang disediakan. Mereka menggambar, mewarnai, memasang puzzle, hingga meronce. “Kami menyediakan “Pojok Anak” agar para ibu yang tidak bisa meninggalkan anaknya di rumah atau menitipkannya di penitipan bisa tetap menyuarakan suaranya,” jelas Kalis. Nara, salah satu anak yang ikut turun aksi memilih untuk bermain di pojok anak, bertanggung jawab untuk mengajari anak-anak lainnya meronce. Bukan hanya mengajari anak-anak lain untuk meronce, Nara pun tak segan untuk membawa alat-alat mewarnai dan meroncenya untuk digunakan secara kolektif oleh anak-anak lain. Awalnya, Nara hanya ditawari ibunya untuk ikut turun aksi, tetapi baginya ini menjadi pengalaman yang unik dan menyenangkan. Ia bisa bertemu orang-orang baru hingga teman sekolahnya dahulu. “Aku bisa mendapatkan teman-teman baru di sini dan ini menjadi pengalaman pertamaku untuk ikut turun demo,” ujarnya. Walau ia bisa mendapatkan teman baru dan bermain, Nara mengungkapkan kesedihannya kala ia mendengarkan cerita tentang teman-temannya yang harus mengonsumsi MBG di sekolah. “Aku nggak dapet MBG, tapi teman-temanku yang dapat itu cerita kalau kadang mereka dapat makanan yang asam, bau, nggak enak gitu,” sedihnya. Bukan hanya mendengar keluhan dari teman-temannya, Nara setiap menonton berita pun semakin kesal melihat kegagalan MBG untuk memberikan makanan yang sehat dan bernutrisi. Nara berharap bahwa aksi ini bisa didengarkan oleh pemerintah. Harapan Nara bukanlah satu-satunya yang muncul dalam aksi kali ini. Hanni mengharapkan bahwa aksi kali ini bisa menjadi permulaan agar seluruh ibu dan perempuan di Indonesia bisa menyuarakan keresahannya. “Semoga aksi ini bisa ditiru oleh kota-kota besar lainnya, agar program MBG diteruskan,” tegasnya.
Harapan Hanni ini juga diinginkan oleh Kalis. Ia menyampaikan bahwa program MBG perlu disuarakan bersama dengan cara apa pun. Dalam pandangan Hanni, jika program MBG masih dilanjutkan ia tentunya akan merasakan sakit hati. Namun, ia yakin bahwa perempuan akan selalu bisa menunjukkan suaranya dalam melawan negara yang represif dan apatis. “Perempuan harus berani untuk melawan, cari cara untuk bersolidaritas. Gender tidak membatasi,” pungkasnya. (Ester Veny Novelia Situmorang) Comments are closed.
|
Jurnal Perempuan
terindeks di: Archives
January 2026
Categories |

RSS Feed