Dok. Jurnal Perempuan Pada Kamis (25/9/2025), telah diselenggarakan Pra Conference IMMAWATI International Conference dengan tema besar Transcending Boundaries, Reclaiming Space: Muslim Women Lead the Change. Kegiatan tersebut diselenggarakan melalui platform Zoom, dengan menghadirkan dua pemateri utama, yaitu, Nada Salsabila (Yayasan Jurnal Perempuan) yang membawakan topik Literasi Digital Feminis: Advokasi, Keamanan, dan Kesadaran Kritis dan Dwi Yuliawati (Head of Programmes UN Women Indonesia) dengan materi bertajuk Setarakah Ruang Digital Kita? Suara dan Kepemimpinan untuk Kesetaraan Gender di Era Digital. Kehadiran keduanya memberi warna berbeda, tetapi tetap dalam kerangka yang saling melengkapi mengenai tantangan sekaligus peluang perempuan dalam dunia digital. Dok. Jurnal Perempuan Matahari hampir tenggelam, tetapi di sekitaran Boulevard Universitas Gadjah Mada masih dipenuhi perempuan-perempuan yang berasal dari beragam organisasi dan profesi sembari membaca alat-alat masak. Mulai dari panci, wajan, spatula, hingga cangkir kaleng memenuhi kedua tangan para perempuan tersebut. Bukan untuk memasak, alat-alat dapur ini dibawa ke jalan, digunakan untuk menyuarakan keresahan mereka atas Program Makan Bergizi Gratis (MBG), Jumat (26/9/2025). Dok. Jurnal Perempuan Kajian Feminisme dan Filsafat (KAFFE) kembali menghadirkan diskusi yang menggugah dengan topik “Banalitas Negara dan Politik Seksualitas dalam Pandangan Filsafat Sejarah Feminis". Kegiatan yang diselenggarakan pada Jumat (19/9/2025) melalui Zoom Meeting ini bertujuan untuk menganalisis secara kritis bagaimana sejarah Indonesia masih direproduksi dengan tendensi totaliter dan bagaimana kekerasan masih dipraktikkan oleh aparatus yang menguat dalam masyarakat sipil. Diskusi ini menghadirkan Dr. Ruth Indiah Rahayu, seorang akademisi feminis dan peneliti INKRISPENA, sebagai narasumber utama yang membedah kompleksitas persoalan historiografi Indonesia dari lensa filsafat sejarah feminis. Dok. Jurnal Perempuan Annual Kartini Conference on Indonesian Feminisms atau KCIF kembali diselenggarakan untuk ketiga kalinya. 3rd Annual Kartini Conference on Indonesian Feminisms (KCIF2025) berlangsung secara online melalui Zoom pada 14-21 September 2025 dengan mengusung tema “Di Antara Badai Krisis Internal dan Eksternal: Masa Depan Feminisme dan Aktivisme Feminis.”. Acara ini diorganisasi oleh A Consortium for Plural and Inclusive Indonesian Feminisms, yang melibatkan tiga organisasi feminis, yaitu LETSS Talk, Kalyanamitra, dan Mitra Wacana. Beragam isu feminisme dan sosial akan menjadi tema sesi-sesi panel dalam KCIF2025. Dari isu krisis ekologi, energi terbarukan, maskulinitas dan politik, kekerasan gender dan seksual online, kanker payudara, feminisme lintas generasi, pekerja rumah tangga migran, buruh perempuan, kerja perawatan, kesehatan mental, disabilitas, pengungsi, masyarakat adat, lanjut usia, gerakan anti-tembakau, sastra dan film, perlindungan anak, hingga perkembangan gerakan feminisme, termasuk feminisme digital. Beberapa sesi dalam KCIF2025 akan dilengkapi dengan Juru Bahasa Isyarat agar bisa diakses oleh kawan-kawan Tuli. Dok. Jurnal Perempuan Pada Kamis (11/9/2025), Koalisi Masyarakat Sipil Melawan Impunitas mengadakan konferensi pers yang disiarkan langsung melalui kanal YouTube KontraS. Kegiatan ini sekaligus menandai langkah hukum penting yang ditempuh koalisi dengan mendaftarkan gugatan ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Jakarta terhadap Menteri Kebudayaan, Fadli Zon. Gugatan ini tercatat dengan nomor perkara 303/G/2025/PTUN/RI dan didaftarkan baik melalui sistem elektronik maupun secara langsung di PTUN Jakarta. Dok. Jurnal Perempuan Diskusi publik dengan judul Massa, Moralitas, dan Media: Membaca Demo dalam Perspektif Etika Publik merupakan ruang reflektif untuk menata ulang cara pikir kita dalam memahami hubungan antara massa, moralitas, dan media dalam peristiwa demonstrasi yang akhir-akhir ini terjadi di berbagai wilayah di Indonesia. Diskusi ini dilaksanakan secara daring (10/9/2025) oleh Übermensch Philosophy dan dipandu oleh Anicha Putri Br Ginting yang merupakan pegiat Übermensch. Pembicara pada diskusi ini adalah Dr. Soe Tjen Marching yang merupakan penulis buku dan dosen senior SOAS University of London, United Kingdom; serta Prof. Dr. Franz Magnis Suseno, SJ. yang merupakan guru besar Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Dok. Jurnal Perempuan “Anak saya yang masih duduk di bangku SMA terpaksa menggantikan peran papanya untuk mengerjakan kopra berton-ton. Padahal seharusnya ia fokus belajar, bukan memikul beban kerja orang dewasa. Saya berjanji pada anak-anak saya akan terus berjuang agar papa bisa pulang, karena ia tidak bersalah.” Kamaria (Wawancara via telepon 2/9/25) Dok. Jurnal Perempuan Pada Rabu (27/8/2025) pukul 13.00–14.00 WIB, Rumah KitaB menggelar diskusi publik bertajuk “DPR, Demokrasi, dan Perempuan: Merdeka untuk Siapa?” melalui siaran langsung di Instagram. Acara dipandu oleh Hesti Anugerah Restu yang membuka dengan refleksi perjalanan 80 tahun kemerdekaan Indonesia. Hesti menegaskan bahwa meski bangsa ini sudah lama merdeka, kesejahteraan rakyat, khususnya perempuan belum sepenuhnya terwujud. Ironisnya, perhatian publik justru tersita pada isu tunjangan fantastis DPR RI yang kontras dengan kondisi masyarakat yang masih berjuang memenuhi kebutuhan dasar. Diskusi menghadirkan tiga narasumber yaitu, Mutiara Ika Pratiwi dari Perempuan Mahardika, Savic Ali selaku aktivis 1998, serta Usman Hamid dari Amnesty International. |
Jurnal Perempuan
terindeks di: Archives
January 2026
Categories |








RSS Feed