Dok. Acha (Kajian Gender SPPB UI) Perbincangan soal iklim akan selalu relevan di zaman yang penuh dengan bencana ekologis. Kali ini, isu tersebut dibahas secara komprehensif dalam seminar “Dari Emansipasi ke Aksi Iklim: Memperkuat Kesetaraan Gender, Partisipasi, dan Kepemimpinan Perempuan dalam Aksi Iklim di Indonesia” yang diselenggarakan oleh Program Studi Kajian Gender SPPB UI bersama PINUS Indonesia pada Senin (27/4/2026). Dok. Jurnal Perempuan Feminisme Indonesia hari ini terdengar lebih nyaring dari sebelumnya. Hashtag (tagar) bersirkulasi cepat, testimoni bermunculan, dan wacana kesetaraan semakin hadir dalam ruang publik. Namun, di tengah visibilitas yang meningkat ini, apakah feminisme benar-benar semakin berdaya atau sekadar semakin terlihat? Diskusi publik bertajuk “Membaca Arah Keberlanjutan Feminisme Pasca-Reformasi: Kritik dan Praktik Kolektif” yang dilaksanakan pada Jumat (24/4/2026), memperlihatkan bahwa di balik ekspansi ruang gerak feminisme, terdapat kontradiksi yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Dok. Jurnal Perempuan “Sudah jatuh tertimpa tangga.” Aforisme klasik ini menjadi tajuk reflektif dalam diskusi Feminist in Law and Litigation (FILL) #2 bertajuk “Visum Berbayar Sebagai Pelanggaran Kewajiban Negara terhadap Hak Korban” yang diselenggarakan secara daring oleh Legal Resource Center untuk Keadilan Gender dan Hak Asasi Manusia (LRC-KJHAM) pada Sabtu (18/4/2026) pukul 14.00 WIB. Diskusi ini merespons fenomena krusial pada Februari 2026, dimana pendamping korban melaporkan bahwa sejumlah Pemerintah Daerah tidak lagi menanggung biaya visum korban kekerasan seksual. Diskusi ini menghadirkan para ahli, di antaranya Siti Aminah Tardi (Direktur ILRC), Della Belinda, S.Psi., M.Psi. (DP3AKB Jateng), Romauli Situmorang (Pembina Yayasan HANARA), Wity Muntari (Direktur LRC-KJHAM), dan Dian Puspitasari, S.H. (Direktur LBH RaKeSia). Dok. Jurnal Perempuan Jakarta (21/4/2026), Perkumpulan HuMa Indonesia mengadakan diseminasi publik kajian kebijakan dengan tema “Mematikan yang Hidup: Labirin Politik Hukum Pengakuan Masyarakat Adat” di Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat. Melalui sambutan pembuka, Deputi Program HuMa, Erwin Dwi Kristianto, menegaskan bahwa hingga hari ini belum ada skema yang benar-benar mampu mewadahi masyarakat adat secara utuh. Pada praktiknya, sistem yang ada hari ini masih belum berpihak pada mereka yang termarginalkan. Peranan Penting dan Agensi Perempuan Adat: Rekognisi Hak Kolektif dalam Kehidupan Perempuan Adat20/4/2026
Dok. Jurnal Perempuan Pada 16 April 2026, bertepatan dengan Hari Kebangkitan Perempuan Adat Nusantara, PEREMPUAN AMAN mengadakan diskusi publik bertajuk “Memahami Urgensi Hak Kolektif Perempuan Adat” di bilangan Jakarta Selatan. Diskusi ini diisi oleh Devi Anggraini (Ketua Umum PEREMPUAN AMAN), Kurniawati Hastuti Dewi (Peneliti BRIN), Purnawan D. Negara (Akademisi dari Universitas Widya Gama, Malang), Agung Wibowo (HuMa), dan Dahlia Madanih (Komnas Perempuan) serta dimoderatori oleh Arimbi Heroepotri (Eco_ADAT). Diskusi ini mempertemukan interseksi dari perspektif hukum, sosiologis, dan pengalaman empirik yang mengungkap bahwa pengakuan yang selama ini diberikan belum mampu menjangkau realitas perempuan adat sepenuhnya. Dok. Jurnal Perempuan Pada Jumat (10/4/2026), Yayasan Jurnal Perempuan kembali menyelenggarakan KAFFE (Kajian Feminisme dan Filsafat) secara daring guna menghadirkan ruang diskusi atas dinamika gerakan perempuan hari ini. Dengan mengangkat tema “Membaca Fenomena ‘Gender War’ dan ‘Feminazi’”, kelas ini menghadirkan Dr. Abby Gina Boang Manalu, Pengajar Prodi Ilmu Filsafat Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia sekaligus Direktur Eksekutif Yayasan Jurnal Perempuan periode 2021–2025, sebagai pengampu. Dok. Jurnal Perempuan Ketika seorang ibu kehilangan anaknya di lubang tambang yang dibiarkan menganga, tragedi itu adalah hasil dari serangkaian kelalaian yang diproduksi dan dibiarkan berulang. Menyebutnya sebagai kecelakaan ekologis adalah bentuk penyederhanaan yang justru mengaburkan sistem yang menempatkan tubuh perempuan, tubuh anak, dan tubuh bumi dalam relasi kuasa yang timpang. Dalam diskusi Deconstructing Indonesia bertajuk “Gender Dynamics in Local Communities: The Idea of Local Knowledge-Practice, Modernity and Power Relation” yang dilaksanakan pada Jumat (10/4/2026), Mai Jebing (Siti Maimunah) mengajak kita membaca ulang hubungan antara gender, pengetahuan lokal, dan modernitas melalui pengalaman-pengalaman konkret yang sering luput dari narasi pembangunan. Dok. Jurnal Perempuan Selasa (31/3/2026), diskusi atas buku Saskia Wieringa berjudul Lesbian Biseksual dan Trans: Riwayat Gerakan Politik di Indonesia yang terbit pada November 2025 lalu diadakan di Auditorium Mochtar Riady Social and Political Research Center, Fakultas Ilmu Politik dan Sosial Universitas Indonesia (FISIP UI), Depok. Pada diskusi ini, Saskia membicarakan perihal catatan-catatan dan tuturan dari narator-narator di bukunya yang memperlihatkan bahwa kehidupan lesbian, biseksual, dan trans (LBT) di Indonesia tidak pernah berdiri dalam ruang yang sederhana. Mereka dipaksa untuk bergerak, berubah, dan bernegosiasi seumur hidupnya, baik dalam menjalin relasi, memahami diri, maupun bertahan hidup di tengah tekanan yang terus datang dari berbagai arah. |
Jurnal Perempuan
terindeks di: Archives
May 2026
Categories |








RSS Feed