Jurnal Perempuan
  • TENTANG KAMI
    • Profil
    • Kontak
    • Laporan Tahunan
    • Demo Suara Ibu Peduli
    • Rilis JP
  • Jurnal Perempuan
    • Indonesian Feminist Journal
    • Kirim Tulisan
  • YJP PRESS
    • Buku Seri YJP Press
  • KAFFE
    • Booklet KAFFE
  • Podcast JP
    • Radio JP
  • Sahabat JP
    • Daftar Nama SJP
    • International Friends of JP
    • Blog SJP
    • Gathering SJP
  • Wacana Feminis
    • Tokoh Feminis
    • Cerpen/Puisi Feminis
  • Warta Feminis
  • Warung JP
    • Daftar Toko Buku
  • Toeti Heraty Scholarship
    • Biodata Penerima Beasiswa 2022
    • Biodata Penerima Beasiswa 2023
    • Biodata Penerima Beasiswa 2024
    • Biodata Penerima Beasiswa 2025
Wacana Feminis

Masnuah, Perempuan Penggerak yang Menjadi Sandaran

28/8/2025

 
PictureDok. Jurnal Perempuan
​Oleh: Hana Rusmalia
​
     ​“Semua korban kekerasan itu saya tampung sendiri di sini, dan mereka tidak tahu harus melakukan apa,” ucap Masnuah dengan penuh emosi. Perempuan yang akrab disapa Mak Nuk ini penulis temui di kediamannya di Demak, Jawa Tengah, pada Sabtu, 2 Agustus 2025. Sore itu, ia tengah sibuk mempersiapkan agenda bulanan Pasar Ngabei—salah satu komunitas yang ia prakarsai. Begitulah gambaran keseharian Siti Masnuah, padat dengan aktivitas pemberdayaan, advokasi, dan pendampingan masyarakat pesisir.

     ​Masnuah lahir dan besar di Demak. Lahir dari keluarga nelayan, Masnuah hanya sempat mengenyam pendidikan sampai Sekolah Dasar. Namun, ketekunan dan pengakuan publik atas kiprahnya membawanya kembali ke bangku pendidikan dari kejar paket hingga kuliah di usia kepala lima. Kesadaran sosialnya terpantik sebab ia sendiri berasal dari keluarga nelayan yang serba kekurangan dan jauh dari akses pendidikan dan ekonomi.

     Masyarakat Demak di pesisir utara Pulau Jawa mayoritas berprofesi sebagai nelayan. Namun seiring waktu, profesi ini kian terancam karena tantangan yang dihadapi kian berat. Masyarakat meyakini banjir rob yang sering kali terjadi dipicu oleh reklamasi besar-besaran di tanjung perbatasan Demak-Semarang serta menjamurnya pabrik-pabrik. Akhirnya, rumah-rumah warga pesisir mulai tenggelam, sumber pencaharian terganggu, dan ruang publik yang semakin menyempit. “Kalau ada yang bilang tol tercantik di Indonesia itu Semarang-Demak, ndedebus (omong kosong—red) itu. Tol itu justru merusak lingkungan warga,” pendapat Masnuah.

     Sejalan dengan itu, ia sendiri menyadari bahwa hingga saat ini perempuan masih berada dalam budaya patriarki. Budaya ini juga turut mendorong perempuan berada di garis rentan—tidak hanya menghadapi krisis lingkungan, tetapi juga meningkatnya kekerasan berbasis gender (KBG). Meskipun budaya patriarki terasa akan sulit dihapuskan, ia memiliki optimisme melalui kegiatan-kegiatan pemberdayaan komunitas. Salah satunya di Puspita Bahari, selain sebagai medium memberdayakan ia juga berharap komunitas ini juga menjadi embrio gerakan untuk mendobrak akar budaya patriarki, “Kami tidak akan bisa menghapus—mencabut akar patriarki itu. Tapi melalui pemberdayaan perempuan akan punya kesadaran akan kesempatan dan akses perlindungan,” tegas Masnuah.

     Di tengah situasi ini, Masnuah berdiri di garda terdepan. Gerakan yang ia bangun bermula dari kiprahnya mendirikan Puspita Bahari. Pada awalnya, ia hanya berfokus pada pemberdayaan perempuan nelayan melalui komunitas yang berlokasi di Desa Tambak Polo tersebut, tetapi kini Masnuah juga menjadi penggerak komunitas-komunitas lain, di antaranya Bank Sampah dan Pasar Rakyat Ngabei di Desa Jogoloyo dan permberdayaan nelayan di Desa Timbulsloko, Demak. Pemberdayaan ekonomi menjadi jantung gerakannya. Bersama puluhan anggota Puspita Bahari, ia membangun sistem koperasi dan produksi hasil laut olahan. Jejaringnya luas, dari komunitas lokal, lembaga swadaya masyarakat, hingga gerakan nasional.

     Pasar Ngabei—lahir untuk membangun pasar dengan harga makanan murah dan terjangkau—mengadopsi sistem pembayaran unik menggunakan koin hasil daur ulang limbah kertas. Ide ini lahir dari studi banding ke pasar rakyat di desa lain yang ia adopsi metode ATM (Amati-Tiru-Modifikasi). Ia mengajak kelompok perempuan di Demak untuk belajar langsung pada komunitas lain yang sudah sukses menjalankan program-program. Pasar diadakan sebulan sekali, diikuti oleh ibu-ibu di desa setempat, dan menjadi ruang pertemuan ekonomi sekaligus solidaritas masyarakat pesisir.

     Untuk membangun ekonomi kerakyatan yang baik, ia selalu memastikan keterlibatan masyarakat. “Jangan pakai pikiranmu sendiri. Ajak ngobrol dan libatkan masyarakat. Tanyakan kebutuhannya,” ujar Masnuah menekankan. Prinsip ini ia pegang untuk memastikan program yang dibangun berangkat dari kebutuhan warga, bukan dari individu. Masnuah dikenal sebagai orang yang mudah diterima oleh masyarakat. Kemampuannya berbaur membuatnya kerap menjadi pelopor ide-ide baru.

     ​Demikian juga yang dilakukannya di Desa Timbulsloko, desa yang ia temukan saat pandemi 2020 ini adalah satu wilayah paling parah terdampak rob. Desa yang dulunya subur, penuh dengan kebun dan sawah serta pepohonan kelapa kini perlahan menjelma menjadi desa mati. Warga hidup terisolasi, rumah tenggelam, akses jalan dan fasilitas publik terputus dan terendam laut. Bersama Puspita Bahari, Masnuah menggalang dana, menyalurkan sembako, memberdayakan para janda dan perempuan kepala keluarga, serta merawat korban kekerasan seksual—meski tanpa dukungan pemerintah. Pada 2020, rumah-rumah banyak ditinggikan, tetapi belum ada akses jalan. Baru pada tahun 2021, dibangunlah akses jalan kayu penghubung rumah lewat swadaya warga yang didukung penggalangan dana oleh Masnuah dan Puspita Bahari. Dari bantuan tersebut terkumpul dana Rp8,5 juta ditambah bantuan dua instansi pemerintah senilai Rp35 juta.
Picture
Dok. Jurnal Perempuan
     ​Di sepanjang jalan pengabdian, tantangan yang dihadapi tidak ringan. Pemerintah dan dinas terkait kerap kali beralasan “tidak memiliki anggaran” untuk korban KBG. Padahal para korban perlu untuk dibantu untuk mengembalikan semangat hidupnya. Masnuah pernah menerima titipan Anak Bermasalah Hukum (ABH) dari dinas sosial. Anak tersebut masih ada di usia SMP, tetapi sudah menjadi janda dengan satu anak. Anak itu dituduh membawa lari mobil ayah angkatnya, sehingga pihak dinas menitipkannya kepada Masnuah tanpa anggaran. Tanpa bantuan biaya, ia merawat dan mengajaknya beraktivitas hingga anak tersebut siap kembali kepada ibu angkatnya.

     Terkadang keadaan membawanya kepada suatu dilema etis, sehingga membuatnya menangis dan depresi karena penduduk sudah terlalu bergantung kepadanya. Bantuan memang berdatangan, termasuk ribuan kaleng susu diterimanya. Namun, ia ragu karena sumbernya berasal dari perusahaan yang turut mendorong kerusakan lingkungan yang bertentangan dengan nilai yang mereka yakini. Namun ia memutuskan untuk menerimanya sebab kebutuhan warga akan bantuan.

     Di sela-sela perjuangan, Puspita Bahari selalu memberikan dukungan terhadapnya, mendorongnya untuk istirahat dulu agar masalah di lapangan tidak sampai ini mempengaruhi psikis Masnuah. Meski pemerintah menerapkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di tengah wabah COVID-19, Masnuah dan komunitasnya tetap bergerak, karena mereka tahu ada orang yang lebih membutuhkan bantuan, “Kadang kami merasa sakit, tapi kami tahu ada orang yang lebih membutuhkan, bukan hanya sakit fisik, tapi juga sakit mental karena keadaan,” ungkapnya.

     Pengabdiannya tak berhenti disitu. Sejak tahun 2020, ia memprakarsai penggalangan dana pertama untuk pembangunan jalan kayu penghubung rumah-rumah di Timbulsloko, serta mengupayakan alat berat bego untuk meninggikan lahan makam yang terendam air. Prosesnya memakan waktu selama empat hari empat malam. Meski pada akhirnya tak bertahan lama dan tetap longsor dan ia merasa lelah karena usahanya tak membuahkan hasil yang maksimal, warga tetap menganggap kehadiran Masnuah sebagai cahaya bagi desa mereka. Mereka merasa memiliki teman, dan ada yang mendukung. Warga kerap menyebutnya ‘Malaikat Penyelamat’—sebutan yang ia rasa terlalu berlebihan. “Itu tidak baik buat saya, tidak baik juga buat warga,” ungkapnya.

     Bagi Masnuah, gerakan pesisir tidak hanya seputar ekonomi, tetapi juga tentang keadilan ekologis. Selama satu tahun terakhir, ia aktif mendorong pemberdayaan berupa penggunaan pembalut ramah lingkungan, mengurangi sampah laut, menginisiasi pengolahan hasil laut agar terbebas dari rentenir. Di sana, seluruh perempuannya telah beralih menggunakan pembalut kain semenjak bantuan Puspita Bahari. Hal itu berpengaruh bagi sustainability kehidupan dan mengurangi sampah yang ada di laut Timbulsloko.
Picture
Dok. Jurnal Perempuan

     Tahun ini, Masnuah semakin fokus melibatkan perempuan dalam berbagai kesempatan termasuk mengajaknya belajar di Puspita Bahari dengan fasilitator dari KIARA (Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan). Hasil tambak dibawa ke desa asal, lalu mereka belajar tentang pengorganisasian, pengolahan, dan pemasaran. Hasilnya, komunitas perempuan menjadi komunitas yang mandiri dan kini mereka telah memiliki kelompok swadaya mandiri agar bebas dari jeratan pinjaman bank. “Rasanya bahagia bisa ‘meracuni’ orang-orang untuk jadi agen perubahan,” ujarnya sambil tersenyum. Bowo Prasetyo (22)—akrab disapa Roni, seorang pemuda Timbulsloko mengatakan bahwa penduduk merasa senang dan terbantu dengan peran Masnuah sehingga ibu-ibu bisa mandiri dan mengurangi sampah pembalut.

     Di tengah keberhasilannya sebagai katalisator, Masnuah mengingat kembali perjalanan panjang gerakan pemberdayaan ini sejak 2005 di Morodemak, berkembang ke beberapa daerah pesisir, hingga akhirnya menjadi inisiator gerakan nasional dan diterima di kancah internasional meski minim dukungan pemerintah dan penolakan perusahaan-perusahaan. Perlahan timbul kepercayaan dan keteguhan hati bahwa gerakan ini memiliki akar yang sangat kuat karena dibangun atas dasar kegelisahan kolektif, bukan atas dasar program semata dan akan terus kokoh dan berkembang sepanjang generasi terus memupuk dan merawat dengan baik.

     Di Timbulsloko, anak nelayan yang bahkan tak bisa berenang ini justru kagum pada ibu-ibu Timbulsloko yang memiliki daya adaptasi tinggi, mau belajar berenang dan mencari penghidupan dalam menghadapi krisis. Mereka ingin menjadi orang yang mandiri dan tak bergantung pada pinjaman bank, “Maksute, kalo bingung itu jangan tengok-tengok (diam saja—red), mereka tetap bergerak gitu. Berusaha,” ucapnya. Di saat para laki-laki masih bingung, mereka sudah bergerak lebih dulu. Masnuah sadar, tantangan perempuan pesisir tidak sedikit: konstruksi patriarki, birokrasi yang lamban, dampak reklamasi pesisir, hingga perubahan iklim. Pandangan ini menghubungkan gerakan perempuan akar rumput dengan ekofeminisme: perlawanan terhadap kerusakan lingkungan berjalan seiring dengan perlawanan terhadap struktur patriarki yang membatasi perempuan. Masnuah percaya, keberanian perempuan untuk bergerak adalah kunci perubahan.

     Masnuah yakin setiap langkahnya bersumber dari keyakinannya pada Tuhan. Banyak kebaikan yang ia dapatkan, salah satunya adalah rumah yang saat ini ia tempati. Dari rumah sederhana yang ramah difabel, Masnuah menepati janjinya pada Tuhan untuk menjadi tempat yang terbuka bagi siapa saja yang membutuhkan. Ia tidak menganggap dirinya pahlawan, hanya seorang perempuan yang tidak bisa diam melihat ketidakadilan. Pesannya bagi para perempuan penggerak di luar sana: terus berjuang dan bersemangat. Yang kita hadapi mungkin tidaklah mudah—ada lelah, putus asa, bahkan tangis. Jika capek, istirahatlah sebentar, tetapi jangan pernah berhenti. Terus berjuang untuk hak-hak perempuan, perjuangan ini tidak bisa hanya bergantung pada keterwakilan pemimpin, karena toh meskipun mereka sesama perempuan belum tentu perspektif yang mereka punya sama dengan perempuan akar rumput.

     ​Bagi Masnuah, mengibadahkan hidup untuk masyarakat akar rumput berarti percaya bahwa Tuhan tidak pernah tidur. Ia yakin, Tuhan akan selalu membukakan jalan bagi orang-orang yang berderma demi kemaslahatan. “Jangan takut miskin,” ujarnya berulang kali, baik dalam forum formal maupun perbincangan sehari-hari.

Comments are closed.

    Author

    Feminis muda 

    Jurnal Perempuan
    ​terindeks di: 
    Picture

    RSS Feed

    Archives

    August 2025
    September 2021
    July 2021
    June 2021
    January 2021
    May 2020
    March 2020
    October 2019
    September 2019
    August 2019
    July 2019
    May 2019
    April 2019
    March 2019
    January 2019
    December 2018
    November 2018
    September 2018
    August 2018
    June 2018
    December 2017
    September 2017
    August 2017
    May 2017
    April 2017
    March 2017
    February 2017
    January 2017
    December 2016
    November 2016
    October 2016
    September 2016
    July 2016
    June 2016
    May 2016
    April 2016
    March 2016
    February 2016
    January 2016
    December 2015
    November 2015
    October 2015
    September 2015
    August 2015
    July 2015
    June 2015
    May 2015
    April 2015
    March 2015
    February 2015
    January 2015
    December 2014
    November 2014
    October 2014
    September 2014
    August 2014
    June 2014

    Categories

    All

    RSS Feed

Yayasan Jurnal Perempuan| Alamanda Tower, 25th Floor | Jl. T.B. Simatupang Kav. 23-24 Jakarta 12430 | Telp. +62 21 2965 7992 Fax. +62 21 2927 7888 | [email protected]
  • TENTANG KAMI
    • Profil
    • Kontak
    • Laporan Tahunan
    • Demo Suara Ibu Peduli
    • Rilis JP
  • Jurnal Perempuan
    • Indonesian Feminist Journal
    • Kirim Tulisan
  • YJP PRESS
    • Buku Seri YJP Press
  • KAFFE
    • Booklet KAFFE
  • Podcast JP
    • Radio JP
  • Sahabat JP
    • Daftar Nama SJP
    • International Friends of JP
    • Blog SJP
    • Gathering SJP
  • Wacana Feminis
    • Tokoh Feminis
    • Cerpen/Puisi Feminis
  • Warta Feminis
  • Warung JP
    • Daftar Toko Buku
  • Toeti Heraty Scholarship
    • Biodata Penerima Beasiswa 2022
    • Biodata Penerima Beasiswa 2023
    • Biodata Penerima Beasiswa 2024
    • Biodata Penerima Beasiswa 2025