|
Oleh: Heppy Haloho Apa kabar hai puan hari ini? Apakah langkahmu tak lagi terhenti di seputar kasur, dapur, dan sumur? Apakah mimpimu tak lagi harus dikubur, demi keluarga tak hancur lebur? Ataukah kau masih harus susah tidur, memikirkan sakitmu yang kian subur? Apa kabar hai puan hari ini?
Apakah cerita lukamu tak lagi jadi cerpen erotis favorit di media-media? Apakah ceritamu tak lagi dijadikan lelucon di meja perkara? Ataukah sengsaramu masih juga dianggap sebagai sandiwara belaka? Apa kabar hai puan hari ini? Apakah tawamu tak lagi dirampas atas nama budaya & agama? Apakah susah payahmu mengandung kini diganjar dengan cinta? Ataukah kau masih dicibir para mertua dan tetangga, karena anaknya lalai jadi kepala? Sungguh, apa kabar hai puan hari ini? Apakah tak lagi diolok-olok kalau setara kau teriakkan? Apakah tak lagi kau dianggap pelayanan tanpa bayaran? Ataukah nasibmu masih dilarang dibicarakan? Apa kabar hai Puan hari ini? Apakah kau sudah boleh menjadi tuan atas diri? Apakah kau sudah tak harus membungkam diri? Ataukah kau masih harus menundukkan diri, pada mereka anak asuh patriarki? Apa kabar hai Puan hari ini? Mengapa tak kau angkat dagu dan tataplah dengan berani, Terbanglah dan kibarkan bendera perlawanan diri di rumah-rumah, di sekolah-sekolah, di parlemen hingga di kursi-kursi di mana suara kita dieksekusi. *** Heppy Haloho, adalah dosen tetap di Jurusan Ilmu Komunikasi, Universitas Kalbis. Sehari-hari ia aktif mengajar, meneliti, & melakukan pengabdian kepada masyarakat. Beberapa artikel tulisannya bisa ditemukan di google scholar Heppy Haloho. Belakangan ia juga aktif menulis puisi di blog pribadi di platform kompasiana. Baginya puisi adalah ungkapan jiwa, yang melaluinya kita bisa menyuarakan keresahan dan bertutur tentang banyak hal yang berkecambuk dalam diri. Melalui puisi, ia yakin bahwa ketidakadilan yang terjadi di mana-mana khususnya ketidakadilan yang dialami oleh perempuan juga dapat disuarakan. Comments are closed.
|
AuthorKumpulan Cerpen Archives
March 2026
Categories |
RSS Feed