Jurnal Perempuan
  • TENTANG KAMI
    • Profil
    • Kontak
    • Laporan Tahunan
    • Demo Suara Ibu Peduli
    • Rilis JP
  • Jurnal Perempuan
    • Indonesian Feminist Journal
    • Kirim Tulisan
  • YJP PRESS
    • Buku Seri YJP Press
  • KAFFE
    • Booklet KAFFE
  • Podcast JP
    • Radio JP
  • Sahabat JP
    • Daftar Nama SJP
    • International Friends of JP
    • Blog SJP
    • Gathering SJP
  • Wacana Feminis
    • Tokoh Feminis
    • Cerpen/Puisi Feminis
  • Warta Feminis
  • Warung JP
    • Daftar Toko Buku
  • Toeti Heraty Scholarship
    • Biodata Penerima Beasiswa 2022
    • Biodata Penerima Beasiswa 2023
    • Biodata Penerima Beasiswa 2024
    • Biodata Penerima Beasiswa 2025
    • Biodata Penerima Beasiswa 2026
Cerpen/Puisi Feminis

Perempuan yang Menjaga Batas Hutan

5/7/2026

 
Oleh: ​Reki Remos Sineri
Pagi selalu datang dengan suara burung nuri dan desir angin yang menyentuh pucuk-pucuk sagu. Dari rumah panggungnya di tepi kampung, Mara berdiri menghadap hutan. Kabut tipis menggantung di antara batang-batang kayu besi, seperti napas yang belum selesai dihembuskan. Di situlah batas itu berada—batas yang tak tertulis di peta, tetapi hidup di kepala dan dada setiap orang tua di kampungnya.

Mara tahu persis letaknya. Ia hafal lekuk akar besar yang menjalar seperti ular tua, hafal batu hitam yang separuh tenggelam di tanah, dan hafal pohon matoa yang kulitnya retak seperti telapak tangan ibunya. Sejak kecil ia diajak berjalan oleh ayahnya menyusuri jalur setapak, mendengarkan cerita tentang leluhur yang membuka ladang tanpa melukai hutan, tentang sungai yang tak pernah mengering karena dijaga seperti saudara.

​“Batas hutan bukan cuma garis,” kata ayahnya dulu. “Ia adalah janji.”

Janji itu kini terasa berat di pundak Mara.
​
Sejak sebulan terakhir, orang-orang dari kota datang dengan sepatu mengkilap dan kertas-kertas penuh angka. Mereka berbicara tentang pembangunan, tentang jalan yang akan membelah bukit, tentang kebun besar yang menjanjikan kerja. Mereka menunjuk peta dan berkata, “Di sini kosong. Tanah negara.”

Mara ingin tertawa, tetapi yang keluar hanya napas panjang. Kosong, kata mereka. Padahal di sana ada kubur batu tempat neneknya disemayamkan. Di sana ada pohon tempat ibunya pertama kali belajar menokok sagu. Di sana ada sungai kecil yang pernah menyelamatkan adiknya dari haus saat mereka tersesat berburu.

Namun bagi negara, semua itu tak lebih dari sebidang tanah kosong.

***


Kepala kampung segera mengadakan pertemuan di balai adat. Laki-laki duduk melingkar, suara mereka berat dan terukur. Perempuan menyiapkan pinang dan air panas, mendengar dari belakang. Mara berdiri di ambang pintu, merasa ada sesuatu yang mendesak di dadanya.


“Kita harus bijak,” kata seorang tetua. “Anak-anak muda butuh kerja.”

“Benar,” sahut yang lain. “Kalau kita menolak, kita dianggap menghambat kemajuan.”

Mara menatap wajah-wajah itu. Ia tahu mereka bukan orang jahat. Mereka hanya lelah hidup dalam kekurangan. Harga kopra turun, ikan makin jauh, dan sekolah anak-anak butuh biaya. Tawaran perusahaan terdengar seperti pintu keluar.


Tapi pintu itu mengarah ke mana?


Malamnya, Mara berjalan sendiri menuju batas hutan. Bulan setengah menggantung di langit, menerangi jalan setapak. Ia berhenti di depan pohon matoa tua, menyentuh kulitnya yang kasar.


“Apa aku terlalu keras?” bisiknya.


Angin berdesir, daun-daun bergetar pelan. Di kejauhan terdengar suara burung malam. Mara menutup mata, mencoba mengingat suara ibunya.


“Perempuan juga penjaga tanah,” kata ibunya dulu, saat ia pertama kali ikut rapat adat dan disuruh duduk di belakang. “Kalau laki-laki lupa, perempuan yang mengingatkan.”


***


Keesokan harinya, alat-alat berat datang. Suaranya menggetarkan tanah. Anak-anak berlarian melihat dari jauh, mata mereka berbinar campur takut. Seorang pria berkemeja rapi mendekati kepala kampung sambil membawa map.


“Ini hanya survei awal,” katanya. “Tidak akan merusak apa-apa.”


Mara melangkah maju. Ia tak lagi berdiri di belakang.


“Batasnya di sana,” katanya tegas, menunjuk ke arah pohon matoa. “Kalian tidak boleh lewat.”


Pria itu tersenyum tipis. “Ibu siapa? Kami sudah bicara dengan kepala kampung.”


“Saya anak tanah ini,” jawab Mara. “Dan saya tahu di mana kubur leluhur kami berada.”


Beberapa perempuan mulai berdiri di sampingnya. Ada Ina Rumi yang rambutnya sudah memutih, ada Sari yang sedang menggendong bayi. Mereka tak banyak bicara, tetapi kehadiran mereka seperti akar-akar yang saling bertaut di bawah tanah.


“Kami tidak menolak kerja,” lanjut Mara, suaranya bergetar tetapi tak patah. “Kami menolak kehilangan.”


Kepala kampung terdiam. Ia menatap hutan, lalu menatap alat berat yang masih meraung pelan. Wajahnya menyimpan ragu.


“Beri kami waktu,” katanya akhirnya pada pria berkemeja rapi. “Kami harus bermusyawarah lagi.”


Pria itu terlihat tak puas, tetapi ia mengangguk. Alat-alat berat dimatikan. Suara hutan perlahan kembali—serangga, angin, dan detak jantung yang mulai tenang.


***


Malam itu, balai adat kembali penuh. Kali ini perempuan duduk di depan. Mara berdiri, tangannya dingin, tetapi matanya menyala.


“Kalau hutan dibuka,” katanya, “kita mungkin dapat uang. Tapi di mana anak-anak kita akan belajar tentang akar? Di mana mereka akan mengenal nama-nama pohon dalam bahasa kita? Kalau sungai keruh, siapa yang memberi mereka air?”


Seorang pemuda berdiri. “Tapi kami butuh kerja.”


“Kita bisa cari jalan lain,” jawab Mara. “Kebun kecil milik sendiri. Menjaga hutan, bukan menjualnya. Kita bisa tanam kembali sagu, kelola hasil hutan tanpa menebang semuanya. Kita tidak harus memilih antara lapar dan kehilangan.”


Percakapan malam itu panjang. Ada yang marah, ada yang menangis. Tetapi untuk pertama kalinya, suara perempuan tak lagi hanya bisik di dapur.


***


Beberapa hari kemudian, keputusan diumumkan. Kampung menolak pembukaan lahan besar-besaran. Mereka meminta kerja sama yang tidak merusak batas hutan, dengan syarat adat dihormati. Jika tidak, mereka siap bertahan.


Perusahaan itu pergi tanpa banyak kata. Mungkin mereka akan kembali dengan tawaran lain. Dunia luar tak pernah benar-benar menyerah. Tapi untuk sementara, hutan tetap utuh.


Suatu sore, Mara kembali berdiri di batas itu. Matahari turun perlahan, mewarnai langit dengan jingga lembut. Anak-anak bermain di dekat sungai, suara tawa mereka memantul di antara pepohonan.


Ina Rumi mendekat dan menepuk bahunya. “Kau berani,” katanya pelan.


Mara tersenyum tipis. “Saya hanya takut kehilangan.”


Ina Rumi tertawa kecil. “Takut yang baik. Takut yang menjaga.”


Mara memandang pohon matoa tua, batu hitam, dan akar-akar yang saling menyilang. Ia sadar perjuangan belum selesai. Akan ada peta-peta baru, janji-janji baru, mungkin juga ancaman. Tetapi kini ia tahu sesuatu: batas hutan bukan hanya garis di tanah. Ia adalah garis di hati.

Dan selama masih ada yang mengingat, batas itu tak akan mudah dihapus.

Angin sore kembali berdesir, membawa aroma tanah basah dan daun sagu. Mara menghirupnya dalam-dalam. Di dadanya, janji lama itu berdenyut pelan—janji untuk menjaga.


Ia bukan kepala kampung. Ia bukan pejabat. Ia hanya seorang perempuan yang berdiri di antara hutan dan dunia yang ingin menelannya.


Tetapi kadang, itu sudah cukup.

***
Reki Remos Sineri lahir di Sorong pada 28 Desember 1981 dan hidup bersama masyarakat adat Suku Mbaham-Matta di Kabupaten Fakfak. Ia aktif melakukan pendampingan di Kampung Brongkendik melalui kegiatan literasi untuk meningkatkan pendidikan anak. Ia juga terlibat dalam produksi film Henggi, Kavbari, serta film dokumenter Marhawah (2022) yang mendokumentasikan pengetahuan maestro dengan dukungan Direktorat Jenderal Kebudayaan.

Comments are closed.

    Author

    Kumpulan Cerpen 

    Archives

    July 2026
    June 2026
    March 2026
    June 2025
    October 2024
    July 2024
    November 2023
    July 2023
    March 2023
    September 2022
    August 2022
    July 2022
    April 2022
    October 2021
    September 2021
    August 2021
    June 2021
    November 2019
    October 2019
    September 2018
    June 2017
    February 2017
    October 2016
    August 2016
    June 2016
    April 2016
    February 2016

    Categories

    All

    RSS Feed

Yayasan Jurnal Perempuan| Alamanda Tower, 25th Floor | Jl. T.B. Simatupang Kav. 23-24 Jakarta 12430 | Telp. +62 21 2965 7992 Fax. +62 21 2927 7888 | [email protected]
  • TENTANG KAMI
    • Profil
    • Kontak
    • Laporan Tahunan
    • Demo Suara Ibu Peduli
    • Rilis JP
  • Jurnal Perempuan
    • Indonesian Feminist Journal
    • Kirim Tulisan
  • YJP PRESS
    • Buku Seri YJP Press
  • KAFFE
    • Booklet KAFFE
  • Podcast JP
    • Radio JP
  • Sahabat JP
    • Daftar Nama SJP
    • International Friends of JP
    • Blog SJP
    • Gathering SJP
  • Wacana Feminis
    • Tokoh Feminis
    • Cerpen/Puisi Feminis
  • Warta Feminis
  • Warung JP
    • Daftar Toko Buku
  • Toeti Heraty Scholarship
    • Biodata Penerima Beasiswa 2022
    • Biodata Penerima Beasiswa 2023
    • Biodata Penerima Beasiswa 2024
    • Biodata Penerima Beasiswa 2025
    • Biodata Penerima Beasiswa 2026