|
Oleh: Novita Sari Seorang perempuan kurus melangkah hati-hati Sorot matanya berkisah bahwa hidup telah membawanya pergi jauh Di Sudung yang beratap terpal segala hidup kian berpendar Membawa langkah kaki melampaui jalan panjang Pada tiap semak dan hutan yang kian menghilang perlahan Dan tawa anak-anak garing yang tabah Seorang perempuan lain menggendong balita Mengajaknya menengok hidup yang dirakit orang-orang kota Tak sekali pun ia tatap dunia luar yang ingar Sebab dunia dalam dirinya penuh cemas dan tanda tanya Pokok kayu bulian telah lama mengering dan ranggas Musim paling buruk paling ganas telah lama menyiksa Nasib perempuan suku anak dalam Tak ada tanah tinggal Tak ada hidup yang benar-benar damai Pada telapak kaki yang berjalan mengikuti Ngelelai Di Balai Desa Pelakar Jaya Suara Mariam menggema Ia tidak menuntut macam-macam “Kami hanya minta sumur!” Ucapnya lantang Air bersih sebagai mata air penghidupan sulit didapat Hingga rusa, kancil, kijang, serta ikan-ikan pergi entah ke mana Hidup yang mendiami Mariam Bertabur rebutan lahan Ada yang mati terbunuh Disangka mencuri tandan sawit Sungguh, pialang hidup yang renta Mariam menyibak kenangan untuk kesekian Di tanah yang tak ia kenali ini Ia mengacungkan tangan; tegas dan bersahaja Seluruh sorot mata tertuju padanya Sementara perempuan lain mengangguk mengiya Dalam balut kain sepinggang Dan sebalik sumpah yang mengitari pergelangan Tubuh Mariam telah jauh berkelana Membawa sajak-sajak perjuangan Jambi, 7 Agustus 2025 *** Novita Sari lahir dan besar di Jambi. Alumni Sastra Indonesia Universitas Jambi, saat ini menjadi guru Bahasa Indonesia di Tanjung Jabung Barat. Pernah bergiat di dunia pendampingan kasus kekerasan terhadap perempuan selama 7 tahun di Jambi. Dapat dijumpai melalui laman instagram @nys.novitasari. Catatan Kaki
Comments are closed.
|
AuthorKumpulan Cerpen Archives
July 2026
Categories |
RSS Feed