Jurnal Perempuan
  • TENTANG KAMI
    • Profil
    • Kontak
    • Laporan Tahunan
    • Demo Suara Ibu Peduli
    • Rilis JP
  • Jurnal Perempuan
    • Indonesian Feminist Journal
    • Kirim Tulisan
  • YJP PRESS
    • Buku Seri YJP Press
  • KAFFE
    • Booklet KAFFE
  • Podcast JP
    • Radio JP
  • Sahabat JP
    • Daftar Nama SJP
    • International Friends of JP
    • Blog SJP
    • Gathering SJP
  • Wacana Feminis
    • Tokoh Feminis
    • Cerpen/Puisi Feminis
  • Warta Feminis
  • Warung JP
    • Daftar Toko Buku
  • Toeti Heraty Scholarship
    • Biodata Penerima Beasiswa 2022
    • Biodata Penerima Beasiswa 2023
    • Biodata Penerima Beasiswa 2024
    • Biodata Penerima Beasiswa 2025
Cerpen/Puisi Feminis

Perempuan Fajar

2/6/2026

 
Oleh: Ida Fitri

[Peringatan pemicu: Cerpen ini memuat penggambaran adegan kekerasan seksual yang mungkin menimbulkan perasaan tidak nyaman maupun trauma bagi pembaca. Disarankan untuk membaca dengan kesadaran penuh dan mengambil jeda bila diperlukan.]

     Aku berlindung pada Tuhan penguasa fajar, dari kejahatan perempuan-perempuan penyihir yang meniup pada buhul-buhulnya (Mirip terjemahan sebuah ayat dalam kitab suci).

     Dia menengadah, awan gelap sedikit menutupi permukaan bulan. “Gayong hanya boleh digunakan untuk membela diri,” kalimat Paknek Guru tak pernah sekali pun dia lupa. Dia kembali memandang ke arah laki-laki betubuh tegap berambut catam yang sedang tertawa keras bersama temannya. Kelima laki-laki itu adalah tentara yang ditempatkan di Pos Rancong untuk menjaga PT Lancang dari gangguan Gerakan Aceh Melawan. Mereka sedang minum kopi sambil bersenda gurau, tanpa sedikit rasa bersalah. Warung kopi Wak Yan memang dikenal warga sebagai tempat tongkrongan tentara Pos Rancong saat main ke kota Lhokseumawe. Dia tahu itu dan dengan menumpang salah satu motor orang kampungnya yang hendak ke kota dia sampai di situ. Para tentara itu saban jam 8 malam pasti pergi ke kota dengan labi-labi Nuh. Nuh akan mengantar mereka kembali saat tengah malam. Dia juga tahu mereka tak pernah membayar Nuh untuk itu.  
​

     ​“Kekuatan itu bisa mengutuk pemiliknya,” nasihat Paknek Guru lainnya yang selalu dia ingat. Dengan memusatkan pikiran pada laki-laki bernama Muchdi bin Purwoprandhono yang sedang tertawa keras itu, dari jarak dua puluh meter, dia mengangkat kaki kanannya, “La hawla wala quwwata illa billah!” Dihentakkan kakinya kuat-kuat menghantam bumi. Bila kali ini dia akan dikutuk, biarlah.

     ​Wajuwi yang bermata tajam dan beralis tebal sudah jadi primadona kampung jauh sebelum dia menjadi perempuan paling disegani karena menjadi murid terakhir Paknek Guru yang sakti dan ditakuti musuh-musuhnya. Paknek Guru bukan pesilat biasa melainkan juga penguasa tiga jenis ilmu gayong, tenaga dalam yang mengikuti kedikdayaan silat. Namun waktu juga yang meluruhkan Paknek Guru, dia meninggal di tempat tidurnya karena usia tua. Sebelum mangkat, dia telah menurunkan seluruh kesaktiannya pada sang murid terakhir.

     Wajuwi yang saat itu telah menjanda karena suaminya mati terkena malaria mulai sering didatangi orang kampung untuk meminta nasihat dan mencari obat alternatif, khususnya bagi mereka yang terserang penyakit duniawi, penyakit yang dikirim orang-orang dengki. Selain itu, pikiran bijak perempuan matang itu jua telah menyelamatkan banyak rumah tangga dari penceraian yang amat dibenci Tuhan. Konon Wajuwi bisa membuat laki-laki yang terpesona perempuan lain kembali ke hadapan istrinya sambil bersujud meminta maaf. Paknek Guru tidak hanya menurunkan ilmu gayong pada wanita berkaki jenjang itu tetapi juga ilmu pengasih. Oleh karena itu, orang kampung jadi sangat menghormati Wajuwi. Lebih-lebih keterampilannya bukan hanya dalam menguasai ilmu gaib dan pengobatan tradisional, jemari tirusnya juga lincah dalam meracik bumbu dan mengolah makanan. Jika ada kenduri perkawinan atau turun tanah di kampung, mereka selalu mengandalkan Wajuwi dalam meracik bumbu, bahkan dia pernah meracik bumbu untuk masak mirah dua ekor lembu. Dia mulai dijuluki Perempuan Fajar. Hanya Waled Nu dan muridnya yang tidak menyukai Wajuwi. Menurut mereka, praktik pengobatan Wajuwi dekat dengan menyekutukan Tuhan. Tuhan maha pemaaf, kecuali untuk mereka yang menyekutukannya. Saat Paknek Guru masih hidup, Waled Nu tak pernah mengusik laki-laki sakti itu. Namun, Wajuwi bukanlah sang gurunya.

     Karena menguasai ilmu gayong, Wajuwi lebih memilih hidup sendiri. Dari almarhum suaminya, dia tidak memiliki anak. Konon salah satu ilmu gayong yang dimilikinya, gayong api, membuat pemiliknya tidak boleh menggendong bayi. Kulit lembut bayi bisa gosong jika bersentuhan dengan telapak tangan mereka yang memiliki ilmu gayong api dalam tubuhnya. 

     Klien Wajuwi bukan hanya perempuan tetapi juga laki-laki, yang terkadang mengeluh kena sakit tali nyawa, yang lain mengeluh gatal reuhat di kaki atau ingin marah saja saat pulang ke rumah. Untuk kasus pertama, kadang penis bisa kembali normal setelah mereka mengubah posisi tempat tidur di kamar. Yang lainnya, harus diberi ramuan tanduk rusa. Gatal reuhat diselesaikan dengan ramuan daun ketepeng, yang marah-marah saat tiba di rumah dimintanya jangan langsung masuk begitu tiba di rumah melainkan ke kandang bebek dulu atau melihat pohon rambutan atau pohon mangga atau pohon apa saja yang berada di halaman rumah terlebih dahulu. Klien perempuan maupun laki-laki mengaku banyak yang sembuh setelah berkunjung ke rumah Wajuwi, padahal sebagian dari mereka hanya diajak bicara saja. Itulah tuah seoarang perempuan fajar. 

     Klien kadang menyalami uang ke tangan Wajuwi, yang lain membawa bahan makanan. Untuk mereka yang terlihat sangat miskin, Wajuwi akan berusaha mengembalikan uang mereka dengan berbagai cara, menyalami ke tangan anak mereka jika mereka membawa anak kecil atau memberikan secupak dua beras dengan alasan beras baru dari sawahnya. Semua orang tahu panen sawah hanya dua kali setahun di kampung, tidak mungkin setiap harinya ada beras baru.

     Belakangan Wajuwi kedatangan klien perempuan yang begitu mengganggunya, ada yang pingsan begitu mulai bicara, yang lain langsung mengamuk ketika membuka mulut, yang lain memilih bungkam sama sekali. Mulanya dia tidak menduga semua itu ada hubungannya dengan tentara-tentara yang tinggal di rumah dinas guru milik PT Lancang. Orang-orang menyebutnya Pos Rancong, barang siapa yang dibawa ke Pos Rancong berarti mati. Tiga dara klien Wajuwi keluar dari sana dalam keadaan tidak hidup dan tidak mati.

     “Bunuh aku saja,” kalimat pertama yang keluar dari mulut Fatma Salbia, dara enam belas tahun yang selalu bungkam saat dibawa orang tuanya. Mulutnya terkunci, matanya kosong, jiwanya mati, raganya layu. Mata kosong dan tubuh layu itu mendatangi Wajuwi hingga ke mimpinya, tak tahan, dikunjungilah Fatma Salbia di rumahnya. Dara itu mungkin tetap bungkam andai Wajuwi tidak merapal, “Allahumma innaka antal azizul Kabir. Wa anaa abduka adhoifudzaliiil. Alladzii laahaula wa laa quwwata illaabika. Allahumma sakhir lii Fatma Salbia bin Yusuf,” sebanyak seribu kali pada malam sebelumnya.

     Yang selama ini dibendung keluar laksana air bah melumat apa saja di depannya. Wajuwi memeluk dara berkulit sawo matang dan berbibir penuh itu. Bendungan yang jebol meluluhlantakkan hati, Fatma Salbia menceritakan bagaimana dia diminta datang  ke Pos Rancong oleh laki-laki bertubuh tegap yang sering dia lihat lewat di depan sekolahnya. Tubuh tegap yang membuat teman-teman Fatma Salbia, para anak dara yang belum tahu laki-laki tergila-gila. Lebih-lebih mata sayu berbulu lentik sungguh menggoda. Dengan cepat, Kopral Muchdi menjadi pujaan para anak dara berseragam abu putih. 

      Hati Fatma Salbia seperti terbang saat laki-laki itu memilih dirinya untuk diajak ke rumah dinas guru milik PT Lancang itu. Dara itu memang tidak bersekolah di SMA Taman Siswa milik perusahaan penambang gas alam itu, sekolah Taman Siswa hanya untuk anak-anak para karyawan perusahaan. Fatma Salbia sekolah di SMA biasa, yang sering dilewati para tentara Pos Rancong berjalan kaki. 

     Sepulang sekolah, Fatma Salbia datang ke salah satu rumah dinas guru itu bersama Rosmawa, kakak kelasnya yang sudah lama menjadi pacar tentara. Ada 10 bangunan rumah kopel, tiga di antaranya dipakai tentara yang lainnya kosong. Sejak memasuki rumah itu, Fatma Salbi langsung merasa tidak nyaman dengan guyonan dan tertawaan tentara lainnya, meski Rosmawa membisikkan itu hal biasa ke telinganya. Mereka menyebutnya barang baru, dia tidak suka itu.

     Kopral Muchdi memang langsung menemuinya, setelah basa-basi sebentar, laki-laki itu mengajaknya memasuki rumah kopel lainnya. Rumah itu kosong, Fatma Salbia yang tidak terbiasa berduaan saja dengan laki-laki dewasa yang bukan kerabatnya merasa semakin tidak nyaman. Lebih-lebih laki-laki itu membawanya langsung ke dalam kamar. Ada tempat tidur lipat di sana. Kopral Muchdi mengajaknya duduk dan tangannya mulai menyusup ke balik kemeja putih dara itu. Tubuh dara itu menciut ketakutan, tangannya mencoba menepis tangan kuat milik kopral tentara, “Jangan, aku tidak….” Kopral itu menangkap tangan Fatma Salbia sambil melumat bibir penuh sang dara yang mulai terisak. Perlawanan sang dara membuat kopral semakin birahi. Dilucuti sang dara sampai telanjang, tak dipedulikan mulut gadis itu yang memanggil temannya meminta tolong dengan suara lemah, sebenarnya dia juga telah merasai tubuh Rosmawa. Satu-dua dara di sekitar pos memang kerap datang untuk memberikan tubuh mereka untuk tentara. Mereka masih SMA, muda dan cantik, cukup menghibur dalam menghadapi tekanan ancaman penyerangan dari pihak Gerakan Aceh Melawan. Siang itu, di kamar rumah kopel itu Kopral Muchdi merenggut jiwa anak dara itu.

     Dara itu menggeleng-geleng kepala, “aku tidak tahu, aku tidak paham, dia menindihku, tolong bunuh saja aku!” Fatma Salbia tidak ingin membicarakan kejadian itu, dia benci kopral Muchdi, dia benci Rosmawa, dia benci ayahnya, dia benci ibunya, dia benci dirinya sendiri. Sekali lagi, Wajuwi memeluk erat tubuh layu itu dan membisikkan sesuatu ke telinga dara itu. Mata Fatma Salbia mendelik, ada energi lain menjalari tubuhnya. Sejak saat itu, Fatma Salbia mulai sering menemui Wajuwi. Dia juga yang menceritakan apa yang menimpa dua anak dara lainnya. Kemudian tiga dara klien Wajuwi mulai berteman, mereka semakin dekat, dan sering berkumpul di rumah Wajuwi. Mereka juga menemukan perempuan-perempuan korban tentara lainnya. Mereka sering menangis dan tertawa bersama di dapur rumah panggung itu. Namun dunia tak pernah sama lagi untuk mereka, Wajuwi menyadari itu, dan begitu korban keempat dari kopral Muchdi muncul di rumahnya, seorang anak dara yang bahkan masih memakai seragam biru putih, Wajuwi meneguhkan tekad, harus ada yang menghentikan para tentara itu. Mungkin dimulai dengan sang Kopral. 

     Untuk menjalankan rencananya, dia harus tahu nama orang tua kopral Muchdi. Itu bukan perkara sulit, Wa Nun, juru masak Pos Rancong bersedia mencari tahu itu. Wa Nun cukup dipercayai para tentara, bahkan ada yang terkadang memintanya memasakkan kari dari daging biawak yang meraka tangkap di hutan dekat pos. Orang Aceh tidak makan biawak, tetapi Wa Nun bersedia memasak untuk mereka. Bagi para tentara itu, Wa Nun sudah seperti kerabat sendiri. 

     Wa Nun sering diam-diam melihat apa yang dilakukan oleh tentara di rumah dinas guru itu. Terkadang mereka menyiksa para laki-laki tak berdaya, mencabut kuku-kuku mereka, memainkan penis mereka, bahkan ada yang tega memotong penis dan memasukkan dalam mulut si tawanan. Laki-laki itu dituduh camat Gerakan Aceh Melawan. Mulanya Wa Nun ingin berhenti sebagai tukang masak mereka, tetapi dia tak berani mengajukan pengunduran diri. Ada satu wajah yang dia kenal juga dibawa ke situ, wajah tetangganya yang sering membantunya saat dulu kekurangan uang untuk dikirim ke putranya yang sedang kuliah di Banda Aceh. Tawanan yang dibawa ke Pos biasanya setelah disiksa sampai mati atau setengah mati akan diangkut dengan mobil bak terbuka. Saat itu, Wa Nun belum tahu kalau para tawanan dibawa ke Bukit Seuntang atau Bukit Tengkorak untuk dikubur dalam satu lubang. 

     Wa Nun juga pernah melihat mereka mengerjai anak dara kampungnya. Bagi para tentara, Wa Nun sudah seperti kerabat, hanya sayangnya Wa Nun tidak bisa menganggap para tentara sebagai kerabatnya. Ketika Wajuwi memintanya mencari info tentang mereka, dia dengan senang melakukan itu. 

*** 

     “Kamu tidak bersalah, bukan kamu yang harus mati, melainkan bajingan itu.”

     Dia tak pernah melupakan kalimat yang dia bisikkannya ke telinga Fatma Sabia, pada hari ketika gadis itu membuka mulut dan menceritakan neraka yang sedang dijalaninya. Dia hanya menunggu waktu yang tepat dan waktu yang tepat itu adalah malam ini. 

Qaf Ha Ya Min Saf ….
Hai gayong si raja gayong
Benang si raja benang
Pedang Zulfikar …..

     Amalan gayong dirapal saban malam, maka kekuatan itu akan mendatangimu. 

     Begitu awan mendung menelan seluruh bulan, Kopral Muchdi jatuh ke lantai warung kopi, menggelepar seperti ayam baru disembelih. Teman-teman laki-laki itu terkejut, sontak mengokang senjata, waspada berlindung dengan membalikkan meja sebagai tameng, namun telinga mereka tak mendengar suara tembakan. Salah satu dari mereka memeriksa tubuh kopral Muchdi, tak ada lubang peluru, kecuali tubuh itu terus berguncang hebat dengan wajah melotot tegang. Tak ada obat bagi orang yang terkena gayong kecuali penyerang datang menghampiri dan mengusap wajah korban, memaafkannya sambil melafal mantra penyembuh.

     Dia yang berada dua puluh meter dari tempat itu, di balik bayang sebuah kios kembali menyelimuti tubuhnya dengan kain panjang, kemudian berpaling meninggalkan tempat itu, meninggalkan tubuh kejang sang kopral pemangsa anak dara. Jika karena ini dia akan dikutuk, biarlah.

     Pada saat yang sama, Waled Nu dan murid-muridnya sedang membakar rumah seorang perempuan yang mereka anggap penyekutu Tuhan, jenis dosa yang tak ada ampunan. Aku berlindung pada Tuhan penguasa fajar, dari kejahatan pendengki bila ia dengki (Al Falaq, Ayat 1 dan 5).

*** 
 
Ida Fitri (1981) lahir di Bireun. Karya-karyanya Air Mata Shakespeare (2016), Cemong (2017), Neraka yang Turun ke Kebun Kelapa (2023), Paya Nie (naskah awalnya dengan judul Tukang Intip meraih juara tiga pada Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2023) terbit Juni 2024. Paya Nie juga masuk dalam Shortlist Kusala Sastra Khatulistiwa 2025. 

Comments are closed.

    Author

    Kumpulan Cerpen 

    Archives

    March 2026
    June 2025
    October 2024
    July 2024
    November 2023
    July 2023
    March 2023
    September 2022
    August 2022
    July 2022
    April 2022
    October 2021
    September 2021
    August 2021
    June 2021
    November 2019
    October 2019
    September 2018
    June 2017
    February 2017
    October 2016
    August 2016
    June 2016
    April 2016
    February 2016

    Categories

    All

    RSS Feed

Yayasan Jurnal Perempuan| Alamanda Tower, 25th Floor | Jl. T.B. Simatupang Kav. 23-24 Jakarta 12430 | Telp. +62 21 2965 7992 Fax. +62 21 2927 7888 | [email protected]
  • TENTANG KAMI
    • Profil
    • Kontak
    • Laporan Tahunan
    • Demo Suara Ibu Peduli
    • Rilis JP
  • Jurnal Perempuan
    • Indonesian Feminist Journal
    • Kirim Tulisan
  • YJP PRESS
    • Buku Seri YJP Press
  • KAFFE
    • Booklet KAFFE
  • Podcast JP
    • Radio JP
  • Sahabat JP
    • Daftar Nama SJP
    • International Friends of JP
    • Blog SJP
    • Gathering SJP
  • Wacana Feminis
    • Tokoh Feminis
    • Cerpen/Puisi Feminis
  • Warta Feminis
  • Warung JP
    • Daftar Toko Buku
  • Toeti Heraty Scholarship
    • Biodata Penerima Beasiswa 2022
    • Biodata Penerima Beasiswa 2023
    • Biodata Penerima Beasiswa 2024
    • Biodata Penerima Beasiswa 2025