Jurnal Perempuan
  • TENTANG KAMI
    • Profil
    • Kontak
    • Laporan Tahunan
    • Demo Suara Ibu Peduli
    • Rilis JP
  • Jurnal Perempuan
    • Indonesian Feminist Journal
    • Kirim Tulisan
  • YJP PRESS
    • Buku Seri YJP Press
  • KAFFE
    • Booklet KAFFE
  • Podcast JP
    • Radio JP
  • Sahabat JP
    • Daftar Nama SJP
    • International Friends of JP
    • Blog SJP
    • Gathering SJP
  • Wacana Feminis
    • Tokoh Feminis
    • Cerpen/Puisi Feminis
  • Warta Feminis
  • Warung JP
    • Daftar Toko Buku
  • Toeti Heraty Scholarship
    • Biodata Penerima Beasiswa 2022
    • Biodata Penerima Beasiswa 2023
    • Biodata Penerima Beasiswa 2024
    • Biodata Penerima Beasiswa 2025
    • Biodata Penerima Beasiswa 2026
Cerpen/Puisi Feminis

Noken dan Nyanyian Koreri di Tepi Laut

5/7/2026

 
Oleh: ​Rezya Agnesica Helena Sihaloho
Pagi selalu datang dengan bunyi yang berbeda di kampung pesisir itu.
Tidak pernah benar-benar sama. Seolah-olah laut dan langit telah bersepakat menentukan nada yang akan membangunkan manusia-manusia kecil di tepi air.

Kadang pagi hadir bersama desir angin laut dan bau asin yang menyentuh hidung seperti ingatan lama. Bau itu meresap ke kulit, rambut, dan kayu-kayu rumah, menandai bahwa mereka hidup di batas antara darat dan samudra. Pada pagi seperti itu, yang terdengar hanyalah debur ombak teratur, langkah nelayan menuruni tangga kayu, dan percakapan pelan yang menjaga ketenangan.

Namun ada pagi yang datang dengan dentum. Dentum yang memecah cakrawala, membuat camar beterbangan dan anjing-anjing menggonggong tanpa arah. Dentum yang menyusup ke tulang, membuat anak-anak terbangun dengan mata membulat sebelum benar-benar sadar.


​Pagi itu, helikopter melintas rendah di atas garis pantai.
Awalnya hanya dengung tipis di kejauhan, seperti lebah besar tersesat di langit. Lalu semakin mendekat, semakin berat. Udara yang semula jernih terasa menegang.

“Ma… itu apa?” suara Yafet terdengar dari dalam rumah, masih parau oleh sisa tidur.

Maria tidak langsung menjawab. Ia mengenali suara itu bahkan sebelum bentuknya tampak. Tubuhnya lebih dulu tahu daripada pikirannya.


Helikopter muncul dari balik bukit, bergerak rendah seakan menyentuh pucuk kelapa. Suara baling-balingnya mengaduk udara, memukul atap seng dan daun kelapa, lalu menggulung turun ke permukaan laut.


Air yang semula tenang bergetar oleh kecemasan yang tak terlihat. Permukaan yang tadi memantulkan cahaya merah muda kini berkerut seperti kulit merinding.


Beberapa perahu kecil yang bersiap melaut berhenti. Para nelayan mendongak tanpa suara, hanya mengikuti benda itu dengan tatapan waspada.


Di dalam rumah terdengar langkah kecil tergesa.


“Mama!” Lidia muncul di ambang pintu. “Dia lewat lagi.”


Maria menoleh. Kedua anaknya berdiri berdekatan, tanpa sadar saling menggenggam tangan.


“Masuk dulu,” kata Maria pelan, lebih tenang daripada degup jantungnya. “Jangan berdiri di depan.”


Helikopter melintas tepat di atas kampung. Dinding kayu berderit halus, seng bergetar, pasir pantai terangkat tipis.


Suara itu bukan sekadar bising. Ia membawa kemungkinan. Razia. Pengejaran. Kabar buruk.


Yafet menutup telinganya. “Mama, kenapa selalu pagi?”


“Karena pagi orang-orang mulai bergerak,” jawab Maria, berusaha menjelaskan tanpa menambah takut.


Baling-baling masih berputar sebelum perlahan menjauh ke arah barat. Gema suaranya menggantung beberapa detik, seperti bayangan yang enggan pergi.


Ombak kembali pada ritmenya. Namun di antara riaknya ada getar yang hanya bisa dirasakan oleh dada yang terlalu sering terkejut.

Maria kembali duduk di beranda.

Rumah kayu itu menghadap laut, bertumpu pada tiang-tiang tua yang menghitam oleh waktu dan garam. Dari celah lantai, aroma laut naik bercampur dengan kayu tua dan sisa asap tungku.


Ia menyukai waktu sebelum matahari benar-benar tinggi. Saat itu, laut terasa seperti sahabat yang diam dan mendengarkan.


Namun pagi ini, bahkan laut pun menahan napas.


Di pangkuannya, noken setengah jadi terhampar. Jemarinya bergerak terlatih, menyatukan serat demi serat. Setiap simpul kecil seperti doa yang tak diucapkan.


Tangan itu pernah digenggam Natalius ketika mereka berjalan di pantai pada tahun pertama pernikahan. Waktu itu bunyi pagi hanyalah ombak dan tawa. Kini tangan itu bekerja sendiri, kuat dan sabar.

Lidia duduk di sampingnya. “Sudah pergi, Ma?”

“Sudah.”


“Dia cari siapa?”


Maria terdiam sesaat. “Mama tidak tahu. Yang penting kita tetap di rumah dan jaga diri.”


Yafet masih berdiri di ambang pintu, memandang langit yang kembali kosong. “Kalau dia datang lagi?”


Maria tersenyum tipis, memanggilnya mendekat. “Kalau datang lagi, kita tetap lakukan yang biasa. Kita makan. Kita belajar. Kita berdoa.”


Di sampingnya tergeletak buku kecil lusuh, catatan tangan almarhum ayahnya tentang pelayaran leluhur, tentang Koreri
 dan Mansar Mananarmakeri yang diyakini membawa zaman kebaikan. 

Maria memandang buku itu sejenak, lalu kembali menenun.

Helikopter melintas sekali lagi di kejauhan sebelum benar-benar hilang. Kali ini suaranya lebih samar, seperti gema yang ditelan langit.


Di dalam rumah, Lidia dan Yafet masih saling menggenggam tangan, tetapi tidak lagi menutup telinga. Mereka tak lagi menangis setiap suara asing datang dari langit. Ketakutan telah menjadi bagian dari keseharian, seperti pasang surut laut. Tubuh kecil mereka sudah belajar membedakan bunyi-bunyian, termasuk bunyi yang perlu diwaspadai.


Maria memperhatikan mereka dengan sudut matanya.


Seharusnya, anak-anak terbangun oleh bau sarapan dan cahaya matahari, bukan oleh bunyi mesin yang menegangkan dada.

Ia kembali menenun.

Hidup tak bisa ditunda hanya karena bunyi yang menggetarkan.

Jika ia berhenti setiap kali suara itu datang, noken tak akan selesai, ikan tak akan dijemur, anak-anak tak akan belajar.

Maka ia tetap duduk menghadap laut, membiarkan pagi berjalan.

Matahari naik lebih tinggi. Cahaya memantul di air. Nelayan kembali mendorong perahu.

Kampung bergerak lagi, seolah tak ada yang melintas tadi.


Namun Maria tahu, di dalam dada setiap orang, gema itu masih ada.

Dan ia menenun lebih rapat dari biasanya, memastikan bahwa apa pun yang datang dari langit, darat, dan laut ini tetap memiliki simpul yang tak mudah terlepas.

***


Helikopter itu akhirnya menghilang di balik lengkung bukit, meninggalkan langit yang tampak bersih seolah tak pernah dilintasi apa pun. Namun, ketenangan yang tersisa bukan ketenangan yang utuh. Ia seperti kain yang pernah sobek lalu dijahit kembali, rapi dari jauh, tetapi masih terasa bekasnya ketika disentuh.


Maria memandang laut lebih lama dari biasanya. Ombak telah kembali pada iramanya yang setia. Perahu-perahu kecil kembali bergerak perlahan. Anak-anak mulai berlarian di pasir, seolah suara tadi hanya mimpi yang terlalu keras.


Ia tahu, kampung ini selalu belajar kembali berdiri setelah setiap getaran.


Dan mungkin, itulah sebabnya orang-orang tua di kampung sering berkata bahwa orang Biak adalah pelaut ulung dari Papua.


Bukan hanya karena mereka pandai membaca angin dan arus, tetapi karena mereka terbiasa hidup di antara ketidakpastian.


Leluhur mereka mengarungi samudra luas, menyusuri pesisir Papua hingga ke pulau-pulau jauh. Mereka tidak selalu berlayar di laut yang ramah. Ombak tinggi dan badai datang tanpa janji. Namun mereka tetap berangkat, tetap menantang cakrawala, karena laut bukan sekadar ruang mencari makan.


Laut adalah ruang identitas.


Di kampung itu, anak-anak belajar berenang sebelum mereka lancar membaca. Tubuh kecil mereka terbiasa dengan air asin, dengan arus yang kadang lembut, kadang keras. Anak lelaki diajarkan mengikat tali, menambal perahu, membaca arah matahari dan warna langit. Anak perempuan diajarkan menenun, mengolah hasil laut, dan mengenali musim ikan dari perubahan angin.


Kehidupan bergerak mengikuti ritme laut.


Malam hari, sebelum listrik desa menyala, para lelaki tua duduk di pasir, menunjuk rasi bintang sambil mengajarkan anak-anak lelaki tentang arah dan jarak. Mereka menyebut nama bintang dalam bahasa lama yang kini jarang terdengar. Nama-nama yang terasa berat di lidah generasi muda, tetapi sarat makna.


Perempuan-perempuan menyiapkan sagu bakar, mengupas keladi, sambil mendengarkan cerita dan menggendong bayi. Sesekali mereka ikut menambahkan potongan kisah, mengoreksi ingatan para lelaki, atau tertawa kecil ketika cerita lama dibumbui ulang.


Api kecil menyala di antara gelap dan luasnya laut. Percikannya seperti bintang yang jatuh ke pasir. Di antara cahaya temaram itu, cerita berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya seperti pusaka yang tak tertulis. Tidak ada buku pelajaran yang mencatatnya, tetapi setiap anak yang duduk di situ menyimpannya di dalam dada.


Maria tumbuh di antara cerita-cerita seperti itu.


Ayahnya gemar bercerita di tepi pantai saat senja. Suaranya dalam dan pelan, seolah takut mengganggu laut yang sedang berubah warna menjadi jingga dan ungu.


Ia tidak hanya bercerita tentang perjalanan leluhur yang mengarungi samudra, tetapi juga tentang Koreri yang muncul di tanah Biak pada tahun 1930 hingga 1940-an. Tentang keyakinan akan datangnya Mansar Mananarmakeri, sosok penyelamat yang membawa kemakmuran setelah masa-masa gelap. Tentang harapan bahwa suatu hari tanah menjadi subur kembali, hidup menjadi adil, dan penderitaan berakhir.


Sebagai anak kecil, Maria selalu membayangkan sosok itu datang dari arah cakrawala, berjalan di atas air yang berkilau. Namun ayahnya tak pernah menekankan rupa atau bentuk. Yang ia tekankan adalah makna.


“Koreri bukan hanya tentang seseorang yang datang,” kata ayahnya suatu kali, sambil menatap laut yang perlahan gelap. “Koreri tentang keyakinan bahwa kita tidak ditakdirkan untuk terus-menerus menderita.”


Semangat itu pernah membangkitkan keberanian melawan pendudukan Jepang. Orang-orang yang tampak sederhana menyimpan keberanian yang tak bisa diukur dengan senjata. Mereka percaya bahwa penderitaan tidak abadi, bahwa ada masa ketika segala sesuatu akan dipulihkan.


Seiring perubahan zaman, Koreri perlahan surut dari ruang ibadah dan ruang publik. Namun jejaknya tetap bertahan dalam ingatan kolektif masyarakat. Cerita itu hidup dalam percakapan keluarga, dalam doa-doa sunyi yang dinaikkan sebelum tidur, dalam nyanyian lama yang kadang dilantunkan pelan ketika menenun atau mendayung.


Maria masih bisa mengingat ayahnya mengucapkan satu kalimat yang selalu ia ulang.


“Yang dicari orang-orang Koreri bukan kuasa,” katanya suatu malam. “Mereka hanya ingin hidup yang layak dan aman.”


Dulu, ketika hidup masih terasa sederhana, kata aman terdengar biasa saja. Aman berarti bisa melaut tanpa takut. Aman berarti anak-anak bisa bermain sampai gelap tanpa dipanggil tergesa. Aman berarti tidur lelap tanpa terbangun oleh suara asing.


Kini kalimat itu terasa semakin berat bagi Maria.


Konflik yang tak kunjung selesai membuat kata aman terasa seperti barang mewah. Sesuatu yang dibicarakan, tetapi jarang benar-benar dirasakan. Sesuatu yang selalu tampak dekat di cakrawala, tetapi tak pernah benar-benar tiba di pantai.


Maria membiarkan pandangannya tenggelam pada garis biru yang tak berujung.


Ia membayangkan leluhurnya berdiri di atas perahu kayu, membaca bintang dengan tenang meski angin tak selalu bersahabat. Mungkin menjadi pelaut ulung bukan berarti tidak pernah takut, melainkan tetap berlayar meski rasa itu menerpa.


Dan di tengah bunyi-bunyi yang datang dari langit dan darat, Maria tahu satu hal.


Jika laut telah mengajarkan mereka bertahan dari badai, maka konflik pun tak akan menjadi akhir dari cerita mereka.


Selama ingatan tentang siapa mereka tetap hidup, selama cerita terus diwariskan, selama perempuan masih menenun dan anak-anak masih diajarkan membaca arah, maka kampung ini belum kehilangan dirinya.


***


Namun laut yang mengajarkan keberanian itu juga yang suatu hari mengambil sesuatu yang tak pernah kembali.


Natalius, suaminya, hilang ketika memeriksa jaring ikan di teluk kecil.


Hari itu laut sebenarnya tenang. Tidak ada tanda badai. Matahari bersinar cerah dan angin bertiup lembut, cukup untuk membuat layar perahu mengembang tanpa memaksa. Natalius berangkat dengan senyum biasa, seperti pagi-pagi sebelumnya. Ia membawa bekal sagu dan ikan bakar yang dibungkus daun. Sebelum turun ke perahu, ia sempat mencium dahi Maria.


“Jangan tunggu lama-lama,” katanya ringan.


Ia bahkan bercanda dengan Lidia, menjanjikan akan membawa pulang ikan kakap besar. “Kalau besar sekali, kita bakar sama-sama,” ujarnya sambil mengedipkan mata.


Tidak ada yang terasa ganjil.


Namun sore menjelang, perahunya ditemukan terombang-ambing tanpa orang di dalamnya.


Seorang nelayan lain yang pertama kali melihatnya berteriak memanggil warga. Perahu itu masih utuh. Jaringnya masih tergulung rapi. Bekalnya tersisa setengah.


Natalius tidak ada.


Ada kabar tentang operasi keamanan di hutan dekat pantai. Ada desas-desus tentang kelompok bersenjata yang melintas. Ada suara tembakan samar dari arah bukit, meski tak ada yang benar-benar bisa memastikan dari mana asalnya.


Tak ada kepastian.


Tak ada tubuh untuk dikuburkan.


Tak ada jawaban.


Kampung mendadak menjadi sunyi dengan cara yang berbeda. Orang-orang bicara dengan suara lebih pelan. Beberapa menepuk bahu Maria. Beberapa menghindari tatapannya karena tak tahu harus berkata apa.


Hari-hari setelah itu terasa seperti berjalan di air setinggi dada. Semua dilakukan dengan susah payah. Setiap langkah terasa berat, setiap napas seperti harus ditarik lebih dalam dari biasanya.


Maria menunggu berminggu-minggu. Setiap kali ada perahu mendekat, jantungnya berdegup lebih cepat. Setiap kabar dari kampung sebelah membuatnya waspada. Jika ada yang menyebut nama Natalius dalam percakapan, ia langsung menoleh.


“Barang kali dia ditahan,” bisik seseorang suatu hari.


“Barang kali dia bersembunyi,” kata yang lain.


Barang kali
. Kata itu menjadi pengganti kepastian.


Namun waktu berjalan tanpa memberi kejelasan.


Sejak hari itu, laut tak lagi sekadar ruang mencari nafkah. Laut menyimpan kehilangan yang tak bernama. Setiap ombak yang datang seperti membawa pertanyaan yang tak pernah dijawab. Kadang Maria berdiri lama di tepi air, memandang garis cakrawala yang tak berubah, seolah berharap suatu titik kecil akan muncul dan mendekat.


Maria menjadi kepala keluarga.


Ia bangun lebih pagi dari sebelumnya. Membantu menarik jaring bersama para nelayan lain, meski beberapa dari mereka memandangnya dengan iba. Ia menjemur ikan asin, lalu menenun noken untuk dijual ke pasar distrik yang berjarak dua jam perjalanan.


Perjalanan itu tidak mudah. Jalan tanah kadang berlumpur. Ia harus mengangkat noken berisi ikan asin dan hasil kebun, berjalan bersama perempuan-perempuan lain yang juga membawa beban masing-masing.


Ia belajar tawar-menawar dengan pedagang besar. Belajar menahan diri ketika harga ditawar terlalu rendah. Belajar menghitung sisa uang dan memutuskan mana yang harus dibeli lebih dulu, beras atau minyak tanah, sabun atau gula.


Ia belajar menahan air mata ketika anak-anak bertanya tentang ayah mereka.


“Papa pulang kapan?” tanya Yafet suatu malam.


Maria menatap wajah kecil itu lama. “Papa ada dalam tangan Tuhan,” jawabnya pelan.


Jawaban itu bukan kepastian. Tetapi di kampung yang hidup dengan ketidakpastian, iman sering menjadi satu-satunya pegangan.


Di sela-sela pekerjaan, ia mengurus Lidia dan Yafet yang tumbuh dalam bayang-bayang bunyi tembakan. Anak-anak yang terlalu cepat belajar arti waspada.


Di kampung, perempuan memanggul beban sunyi. Ada yang kehilangan suami, ada yang kehilangan anak remaja, ada yang tubuhnya dilukai dalam kekacauan.


Susan, perempuan muda yang diperkosa saat baku tembak di dekat dermaga, kini lebih sering duduk memandangi cakrawala. Ombak datang dan pergi, tetapi traumanya menetap. Setiap suara keras membuat tubuhnya menegang. Ia jarang berbicara dan lebih sering menyendiri.


Maria sering duduk di sampingnya tanpa banyak kata. Kadang hanya memegang tangannya. Kadang berdoa dalam hati.


“Tuhan, pulihkan dia,” bisiknya suatu sore.


Konflik menjelma menjadi ketakutan, kemiskinan, dan luka yang tak selalu terlihat.


Perempuan dan anak menjadi yang paling rentan. Tubuh mereka mudah dikorbankan, suara mereka sering diabaikan, dan masa depan mereka menjadi taruhan yang tidak pernah mereka pilih.


***


Suatu sore, Lidia duduk di pasir bersama Maria. Perahu-perahu kecil kembali dari laut, layar terkembang tertiup angin senja. Langit berwarna jingga dan ungu, indah sekaligus menyayat.


“Mama,” tanya Lidia perlahan, “kalau kita bangsa pelaut yang kuat, kenapa kita masih takut?”


Pertanyaan itu sederhana, tetapi dalam.


Maria menatap laut yang luas. Ombak memecah karang dengan suara teratur, seperti napas panjang.


“Karena kuat bukan berarti tidak takut,” jawabnya. “Leluhur kita berlayar bukan karena laut selalu tenang, tapi karena tahu ke mana harus menuju.”


Lidia memikirkan jawaban itu lama. Lalu bertanya lagi, “Apakah Mansar Mananarmakeri akan datang dari laut?”


Maria tersenyum tipis. Ia teringat cerita ayahnya, teringat harapan tentang zaman pemulihan.


“Mungkin penyelamat itu bukan satu orang,” katanya pelan. “Mungkin hadir dalam keberanian kita sendiri.”


Pertanyaan itu membuat Maria merenung sepanjang malam.


Ia membuka Alkitab kecil dan membaca Mazmur dengan suara pelan.

“Tuhan adalah terang dan keselamatanku, kepada siapa aku harus takut?”

Ia memejamkan mata dan membayangkan murid-murid yang ketakutan di tengah badai, ketika perahu mereka dihantam ombak dan angin mengamuk. Di tengah kecemasan itu, Yesus berdiri dan berkata, “Tenanglah.” Seketika laut menjadi diam.


Maria tahu laut di hadapannya tidak selalu akan tenang. Ia tahu konflik tak berhenti hanya karena doa. Tetapi ia percaya Tuhan tidak meninggalkan mereka.


Dalam hati, ia merasa Koreri dan imannya berjalan beriringan. Harapan akan zaman baik dan iman kepada Tuhan bertemu dalam satu titik, yaitu keyakinan bahwa penderitaan bukan akhir cerita.


***


Beberapa bulan kemudian, fasilitator dari kota datang mengadakan pertemuan di gereja dekat pantai.


Maria awalnya ragu datang. Luka yang terlalu lama dipendam sering terasa lebih aman daripada dibuka. Namun, ia tahu diam terlalu lama hanya membuat luka mengendap dan mengeras.


Di sana, ia mendengar kata-kata yang jarang diucapkan di kampungnya:
trauma, kekerasan berbasis gender, ketahanan komunitas. Kata-kata itu terasa asing, tetapi anehnya seperti sedang menyebut luka yang selama ini mereka sembunyikan.


Ketika fasilitator mengatakan bahwa perempuan dan anak adalah kelompok paling terdampak, Maria merasa seperti ada cermin diletakkan tepat di depan wajahnya.Ia merasa seperti ada cermin yang diletakkan di depannya.


“Perempuan bukan hanya korban,” kata salah satu fasilitator. “Perempuan juga penjaga kehidupan.”


Maria teringat ayat dalam Amsal tentang perempuan bijaksana yang membangun rumahnya dengan tangannya sendiri. Ia juga teringat cerita Koreri tentang masa pemulihan.


Kelompok dukungan pun dibentuk.


Mereka mulai rutin bertemu. Berbagi cerita. Menangis bersama. Belajar mengenali tanda trauma pada anak. Mendampingi korban kekerasan yang ingin melapor.


Kelas belajar untuk anak-anak dibuka di balai dekat pantai. Lidia membantu mengajar huruf-huruf pertama kepada anak-anak yang lebih kecil. Yafet menggambar kapal besar dengan layar putih dan menulis di bawahnya,
Dokter dari Laut.


Suara anak membaca bercampur dengan debur ombak. Tawa mereka menjadi semacam perlawanan sunyi terhadap ketakutan.


Namun badai tak selalu bisa dihindari.


Suatu malam, aparat datang melakukan pemeriksaan. Lelaki-lelaki dikumpulkan di lapangan dekat dermaga. Perempuan dan anak-anak menunggu dengan cemas, berdiri berkelompok di bawah lampu yang temaram.


Maria berdiri memeluk Yafet. Dalam hati ia berdoa, Tuhan, lindungi mereka.


Beberapa hari kemudian, jalur distribusi logistik ditutup. Harga beras melonjak. Anak-anak mulai kekurangan gizi. Seorang remaja perempuan dinikahkan dini demi rasa aman dan sedikit uang.


Maria marah. Bukan marah yang berteriak, tetapi marah yang diam dan mendalam. Marah karena anak-anak harus menanggung konsekuensi dari keputusan yang tidak pernah mereka buat.


Konflik merembes ke dapur, ke ruang tidur, ke masa depan.


Ia semakin yakin bahwa perjuangan mereka bukan tentang memilih kubu, tetapi tentang memastikan perempuan dan anak tidak terus menjadi korban.


***


Tahun-tahun berlalu.


Konflik belum sepenuhnya reda, tetapi kelompok perempuan semakin solid. Mereka menyurati pemerintah daerah. Mereka membangun kebun bersama. Mereka mengumpulkan dana kecil untuk membantu korban.


Lidia melanjutkan sekolah. Yafet semakin mantap ingin menjadi dokter.

Suatu Minggu pagi, gereja penuh. Pendeta berkhotbah tentang badai dan iman.

Maria menatap salib kayu dan merasa hatinya tidak lagi selemah dulu.

Suatu pagi, laut benar-benar tenang. Tak ada bunyi helikopter. Tak ada kabar penembakan.

Maria berdiri di tepi pantai dengan noken baru di bahunya.


Anak-anak berlarian di pasir. Perahu-perahu kecil kembali berlayar.

Pandangannya terhenti pada pertemuan langit dan laut, seolah mencari jawaban yang tak pernah selesai.

Papua mungkin dikenal sebagai tanah konflik yang panjang. Namun tanah dan laut ini juga menyimpan daya hidup yang tak mudah dipatahkan.


Selama perempuan terus menenun kehidupan, pengetahuan, dan keberanian, selama anak-anak masih berani bermimpi, masa depan belum tenggelam.


Koreri
tak lagi hanya legenda. Ia hidup dalam tindakan kecil yang menjaga kehidupan.


Maria mengangkat wajahnya ke langit.


Harapan memang rapuh seperti perahu kecil di tengah samudra. Tetapi selama ada yang berani mengemudi dan membaca arah angin, pelayaran akan terus berlangsung.


Dan di tepi laut itu, perempuan-perempuan Biak tetap menjaga kehidupan, sebagai penenun, pengingat, dan penunjuk arah bagi generasi yang sedang belajar berlayar tanpa takut, meski langit kadang masih menyimpan bunyi.


****

Rezya Agnesica Helena Sihaloho​ adalah peneliti dengan latar belakang pendidikan sarjana Hubungan Internasional dan magister Ketahanan Nasional, dengan karya akhir pada kedua jenjang berfokus pada isu Papua. Saat ini aktif sebagai Ketua Divisi Pendidikan, Kampanye, dan Pencegahan di Women and Child Resilience.

Catatan Kaki
  1. Koreri: dalam bahasa Biak berarti “kita berganti kulit”, yang bermakna kiasan untuk mencapai kehidupan baru yang bahagia, makmur, dan bebas dari penderitaan serta penjajahan.
  2. Mansar Mananarmakeri: figur mitologis penting dalam budaya dan kepercayaan masyarakat Biak, Papua, yang diyakini menemukan rahasia Koreri (hidup abadi/kehidupan baru)

Comments are closed.

    Author

    Kumpulan Cerpen 

    Archives

    July 2026
    June 2026
    March 2026
    June 2025
    October 2024
    July 2024
    November 2023
    July 2023
    March 2023
    September 2022
    August 2022
    July 2022
    April 2022
    October 2021
    September 2021
    August 2021
    June 2021
    November 2019
    October 2019
    September 2018
    June 2017
    February 2017
    October 2016
    August 2016
    June 2016
    April 2016
    February 2016

    Categories

    All

    RSS Feed

Yayasan Jurnal Perempuan| Alamanda Tower, 25th Floor | Jl. T.B. Simatupang Kav. 23-24 Jakarta 12430 | Telp. +62 21 2965 7992 Fax. +62 21 2927 7888 | [email protected]
  • TENTANG KAMI
    • Profil
    • Kontak
    • Laporan Tahunan
    • Demo Suara Ibu Peduli
    • Rilis JP
  • Jurnal Perempuan
    • Indonesian Feminist Journal
    • Kirim Tulisan
  • YJP PRESS
    • Buku Seri YJP Press
  • KAFFE
    • Booklet KAFFE
  • Podcast JP
    • Radio JP
  • Sahabat JP
    • Daftar Nama SJP
    • International Friends of JP
    • Blog SJP
    • Gathering SJP
  • Wacana Feminis
    • Tokoh Feminis
    • Cerpen/Puisi Feminis
  • Warta Feminis
  • Warung JP
    • Daftar Toko Buku
  • Toeti Heraty Scholarship
    • Biodata Penerima Beasiswa 2022
    • Biodata Penerima Beasiswa 2023
    • Biodata Penerima Beasiswa 2024
    • Biodata Penerima Beasiswa 2025
    • Biodata Penerima Beasiswa 2026