Jurnal Perempuan
  • TENTANG KAMI
    • Profil
    • Kontak
    • Laporan Tahunan
    • Demo Suara Ibu Peduli
    • Rilis JP
  • Jurnal Perempuan
    • Indonesian Feminist Journal
    • Kirim Tulisan
  • YJP PRESS
    • Buku Seri YJP Press
  • KAFFE
    • Booklet KAFFE
  • Podcast JP
    • Radio JP
  • Sahabat JP
    • Daftar Nama SJP
    • International Friends of JP
    • Blog SJP
    • Gathering SJP
  • Wacana Feminis
    • Tokoh Feminis
    • Cerpen/Puisi Feminis
  • Warta Feminis
  • Warung JP
    • Daftar Toko Buku
  • Toeti Heraty Scholarship
    • Biodata Penerima Beasiswa 2022
    • Biodata Penerima Beasiswa 2023
    • Biodata Penerima Beasiswa 2024
    • Biodata Penerima Beasiswa 2025
Cerpen/Puisi Feminis

Kepompong

12/3/2026

 
Oleh: Oka Rusmini

     Tahun-tahun mengering. Air mata, masa lalu dan timbunan kebusukan menanam rohnya di tubuhku. Aku rajin merangkainya, kukalungkan di kepala. Tapi mana hatiku? Seorang perempuan rajin sekali menerkam tubuhku dengan mulutnya. 
     Aku mulai menyusun menu. Di meja makan kusantap tubuhku, kuteguk air mataku. Seorang perempuan datang. Sebilah pedang di matanya, seratus tentara di mulutnya. Dia minta kakiku.
​
     Aku pun mulai pandai menanak hati, juga jantung, dengan sop darah yang kuisap dari permainan ini.
     Trotoar kuimpikan jadi kubur orang-orang yang akan datang tanpa jari. Mereka akan melumat tubuhku, seperti perempuan yang meminta tubuhku, juga keringat yang kusulam jadi kertas.
     Seorang lelaki dan seorang perempuan yang menanamku mulai menanam manusia baru. Tak ada lagi wajahku. Mereka menari-nari sendiri, dengan barisan anak-anak yang pandai melepaskan busur ke jantungku. 
     ​Lelaki itu hanya bisa diam. Bahkan ikut menyantap tubuhku. Orang-orang datang dan memakiku.  
     “Sebuah pementasan kaumainkan lagi.”
     Mereka menyulam darahku di atas batu.

(Puisi “Kepompong”, dalam buku “Pandora”)

PEREMPUAN itu menatap wajahnya di cermin. Bayangan masa lalu melintas timbul dan tenggelam menyusuri seluruh napasnya yang mulai terasa pendek. Masa kanak-kanaknya melintas tajam di seluruh aliran napasnya. Harum bunga, harum tanah, harum pohon menyusuri tubuhnya yang liat.
    “Anakmu perempuan.” Suara itu menggema ke seluruh ruangan. 
    “Biasanya jika yang pertama anak perempuan, sulit untuk mendapatkan anak lelaki.”
    “Ya.”
    “Sebaiknya mulai kaupikirkan mencari perempuan lain untuk memberi keturunan bagi keluarga kita. Kita butuh anak lelaki, sebagai penerus kebesaran keluarga ini,” suara-suara itu benar-benar mengisi seluruh pikiran Layang — ibuku, perempuan yang memuntahkan aku dari rahimnya. Perempuan yang tidak mengenalku. Bahkan aku tidak pernah tahu, apakah ibuku paham menjadi perempuan? Setelah kesadarannya pulih, Layang justru membahayakan orang-orang terdekatnya, bahkan bayi merah yang baru saja dimuntahkan dari tubuhnya, dililitkan pisau. Berkali-kali Layang membahayakan anak perempuannya. Sejak pikirannya menghilang, perempuan cantik itu digiring ke ruang khusus, kadang dirantai. 
***
    AKU — Kemuning. Nama yang kusuka, ibuku yang memberiku nama. Ibuku juga memberiku kalung yang tidak akan pernah hilang dari leherku, sayatan pisau melintang yang terus berbekas dan akan kubawai sampai mati. Waktu bayi, ibuku — Layang, mengiris leherku hampir putus, tapi aku tidak mati. Aku tidak suka perhiasan setelah ibuku menggoreskan leherku dengan warna merah yang mengelilingi leherku. Sebuah tanda, bahwa kelak hidupku pun mungkin tidak akan baik-baik saja. 
    Memang ada hidup yang baik-baik saja? 
    Aku terus tumbuh besar dengan pikiran-pikiranku sendiri. Menjadi anak perempuan apalagi sebagai si Sulung tidak mudah. Bapakku— Kaja, sibuk mengurus beragam bisnis, aku tak pernah mengenalnya dengan baik. Aku juga tidak tahu, apakah dia memiliki rasa cinta padaku? Aku tumbuh makin hari makin baik, mengurus beragam perusahaan kecil di desa — Sabrang.

    Desaku kecil, dengan aliran air yang jernih, desa yang menempatkan masyarakat sebagai aktor utama pembangunan dengan memanfaatkan potensi lokal secara mandiri. Halaman  dimanfaatkan dengan baik; ada cabai, bayam, kangkung, tomat, jahe, kencur, serai. Ketahanan pangan sesungguhnya dimulai dari rumah. Kemuning sangat menikmati kerja-kerja yang dilakukan perempuan-perempuan di desa Sabrang. 

***
    
SEBUAH petaka akhirnya mengetuk pintu.


    Kemuning selalu menjadi satu-satunya perempuan yang dilibatkan desa tempatnya tinggal, itu pun karena statusnya sebagai keturunan satu-satunya Kaja — lelaki terkaya di desanya. Lelaki yang membangun waduk, tempat ibadah, dan beragam fasilitas di desa. Lelaki yang memiliki hubungan baik dengan beragam tokoh-tokoh politik. Siapa yang berani menentang Kaja? Dengan duit berlimpah, tidak akan habis dimakan seribu keturunannya. Kaja adalah raja kecil. Keputusan Kaja adalah hukum di desanya.
    “Desa ini tidak akan maju jika tidak bisa dimanfaatkan secara ekonomis. Desa jadi tidak terlihat modern.” Suatu hari, seorang pemuda desa yang lama tinggal di kota mengajukan usul dalam rapat desa.
    “Maksudnya?”
    “Setiap tanah harus memiliki nilai ekonomis.”
    “Selama ini, tanah di desa ini sudah memiliki nilai ekonomis! Masyarakat desa bisa makan dan hidup dari tanah mereka sendiri. Minimal untuk kebutuhan sehari-hari. Apa yang kurang dengan desa ini?”
    “Desa harus berkembang lebih maju, ada penginapan, ada vila. Minimal kita ikut membuat masyarakat maju dengan membangun pariwisata. Ada turis yang bisa menikmati desa ini dengan baik. Ada uang masuk, dan investor…,” suara lelaki muda itu terdengar putus-putus tak berani menatap mata Kemuning. Ketika Kemuning akan berdebat, Kaja mencolek lengannya lembut.
    “Kemuning!” Kaja, menatap mata anak semata wayangnya dalam-dalam.
    “Kau dengarkan dulu, apa yang ingin disampaikan Kepala Desa. Dan anak muda itu, Saron namamu, ya? Dengarkan baik-baik, Kemuning. “Suara Kaja terdengar datar, Kemuning terdiam. Sambil menatap seluruh peserta rapat di Balai Desa. 

    Semua perempuan duduk di belakang lelaki-lelaki mereka. Menunduk, sesekali saja menatap mata Kemuning tanpa jiwa. Kemuning heran kenapa perempuan-perempuan itu hanya terdiam jika ada rapat di desa untuk merawat dan menjaga harmoni kehidupan di desa. Harmoni sesungguhnya adalah keseimbangan, kenapa yang terdengar hanya suara lelaki setiap ada rapat desa untuk mengambil beragam kebijakan. Ke mana larinya suara perempuan?
    Bukankah orang-orang yang konon mengambil keputusan bijak selalu mengusung konsep Tri Hita Karana — ajaran Hindu yang mengajarkan manusia untuk hidup harmonis dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam lingkungan. Konsep ini berasal dari bahasa Sansekerta yang terdiri dari tiga kata, yaitu "tri" yang berarti tiga, "hita" yang berarti kebahagiaan, dan "karana" yang berarti penyebab. Tri Hita Karana diwujudkan dalam tiga unsur. Parhayangan — hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhan .Pawongan — hubungan harmonis antara manusia dengan sesama manusia. Palemahan —  hubungan harmonis antara manusia dengan alam lingkungan. Ke mana larinya konsep itu? Bukankah desa berdaya jika penduduknya berdaya secara ekonomi, yang dimulai dari keluarga sebagai bagian yang terkecil dalam masyarakat. Desa ini berdaya karena perempuan.
    Terbayang ketika grubug, pandemi COVID-19, menghajar. Orang-orang tidak bisa makan. Siapa yang paling pontang-panting melanjutkan hidup: perempuan! 
    Ketika pariwisata tidak lagi bisa dijadikan pegangan hidup. Seluruh laki-laki yang bekerja di kota pulang ke desa, tanpa uang, dan bonus stres yang tidak jelas. Berapa perempuan yang dihajar suami karena suami kerjanya hanya mabuk, dan bergaya seolah masih bisa mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari. Tidak bisa membantu ekonomi keluarga, tetapi menuntut tetap bisa ngopi, merokok, dan makan. Siapa yang terkena imbas dari grubug itu? Perempuan! 
    Perempuan harus bertahan hidup, mencangkuli tubuh, juga tanah-tanah pekarangan desa, berkebun untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari agar anak-anak tetap bisa makan. Tak ada beras, ada pisang, dan beragam umbi. Bahkan masih sempat menjual hasil kebun berlimpah ke pasar ditukar dengan kebutuhan hidup yang lain. Semua itu dilakukan perempuan selama grubug yang tidak jelas itu.

    Sekarang? Para lelaki di balai desa dengan ringannya akan membangun pabrik air isi ulang dengan mengambil mata air yang berada dekat bukit. Demi kemajuan desa? Bagaimana kalau mata air itu akhirnya hanya bisa memenuhi kebutuhan orang-orang kota? Lalu, orang-orang desa tidak lagi bebas mengalirkan mata air itu ke rumah masing-masing. Air yang jernih dan wangi. Siapa investor yang tidak tertarik mengeruk keuntungan dari mata air di desa Sabrang. Membangun vila agar desa lebih terlihat modern? Bukit-bukit dirajah dan dinodai? Itu namanya modern? Merusak alam! Menghasilkan limbah?
    Apa yang akan didapat desa kecil tempat Kemuning tinggal? Desa mandiri yang berlimpah dengan bahan makanan. Semua dikelola dengan baik oleh perempuan-perempuan desa seusia ibunya. Perempuan-perempuan yang mandiri dan bisa mencukupi kebutuhan hidupnya sendiri. Perempuan berdaya yang mampu berkontribusi secara aktif, menginspirasi, mendidik, dan memimpin ketahanan pangan. Perempuan yang berperan dalam mewujudkan kesetaraan gender dan menghapus diskriminasi. Perempuan desa yang penuh percaya diri. Dengan ikut membangun saluran air, mencangkul, bertani, dan menjual hasil kebun dengan menyetir sendiri ke pasar. Kemuning merasa dengan memberdayakan perempuan, sesungguhnya desanya sedang membangun masa depan bangsa. Perempuan yang berdaya mampu memberikan dampak positif di berbagai aspek kehidupan, baik dalam keluarga, komunitas, hingga pembangunan yang lebih sehat, Kemuning juga mendukung perempuan untuk memanfaatkan transformasi digital dengan bersuara, berkarya, dan berbudaya. Perempuan harus menjadi pelaku aktif dalam pembangunan digital, tidak hanya sebagai konsumen, tetapi juga sebagai pencipta dan inovator. Salah satunya, mulai memasarkan beragam produksi rumahan di media sosial, mendirikan koperasi pangan. Orang-orang yang menjemput hasil pangan ke desanya.
    Petaka apa yang akan didatangkan orang-orang kota di desanya? Demi pariwisata? Menanam tembok-tembok di tebing. Merampas hutan. Dengan janji akan mempekerjakan orang-orang desa.
    Kemuning kukuh, tak lagi didengar suara Kaja.
    “Hidup perempuan itu, hanya perempuan yang tahu, Bapak. Aku telah kehilangan ibuku sejak bayi karena aku bukan laki-laki. Ibu menyerah pada hidup, melarungkan tubuhnya ke jurang. Aku bukan ibuku, sekali pun aku lahir dari tubuhnya. Aku sekolah tinggi untuk memahami hal-hal kecil. Bapak sudah tua, waktunya menikmati hidup. Uang penting, tetapi untuk apa jika uang menyandera hidup kita? Desa ini sudah maju, perempuan-perempuan manula masih bisa bekerja di rumahnya. Menghasilkan uang, mereka tumbuh sehat dan mandiri. Yang utama, mereka memegang uang, mandiri secara ekonomi, secara finansial dengan tetap tinggal di rumah mengurus anak-anak. Juga cucu. Bapak mau mereka jadi buruh hotel-hotel yang merusak ekosistem sosial, budaya, agama penduduk di sini?!” Kemuning berkata tegas.
    Orang-orang desa menatapnya. Perempuan-perempuan desa mulai mengangkat wajah. Memberi dukungan pada Kemuning. Kemuning terdiam, menatap satu-satu perempuan-perempuan desanya. Rasanya rindu sekali mendengar perempuan-perempuan itu memiliki suara!

Denpasar, 15 Maret 2025
***

Oka Rusmini lahir di Jakarta, 11 Juli 1967, bermukim di Denpasar, Bali. Bukunya yang telah terbit: Monolog Pohon (1997), Tarian Bumi (2000), Sagra (2001), Kenanga (2003), Patiwangi (2003), Warna Kita (2007), Pandora (2008), Tempurung (2010), Akar Pule (2012), Saiban (2014), Men Coblong (2019), Koplak (2019), dan Jerum (2020). Berbagai penghargaan telah diterimanya: Anugerah Sastra Kemendikbudristek  2003 dan 2012, Anugerah Sastra Tantular, Balai Bahasa  Provinsi Bali 2012, The S.E.A. Write Award  dari Kerajaan Thailand 2012, Kusala Sastra Khatulistiwa 2014, Ikon Berprestasi Indonesia kategori Seni dan Budaya 2017, CSR Indonesia Awards kategori Karsa Budaya Prima 2019, Bali Jani Nugraha dari Pemerintah Provinsi Bali 2019 Wikan Award  dari Yayasan Korpri Bali 2023, dan Penghargaan 40 tahun berkarya dari Pemerintah Indonesia Bidang Kebahasaan dan Kesastraan 2024.

Comments are closed.

    Author

    Kumpulan Cerpen 

    Archives

    March 2026
    June 2025
    October 2024
    July 2024
    November 2023
    July 2023
    March 2023
    September 2022
    August 2022
    July 2022
    April 2022
    October 2021
    September 2021
    August 2021
    June 2021
    November 2019
    October 2019
    September 2018
    June 2017
    February 2017
    October 2016
    August 2016
    June 2016
    April 2016
    February 2016

    Categories

    All

    RSS Feed

Yayasan Jurnal Perempuan| Alamanda Tower, 25th Floor | Jl. T.B. Simatupang Kav. 23-24 Jakarta 12430 | Telp. +62 21 2965 7992 Fax. +62 21 2927 7888 | [email protected]
  • TENTANG KAMI
    • Profil
    • Kontak
    • Laporan Tahunan
    • Demo Suara Ibu Peduli
    • Rilis JP
  • Jurnal Perempuan
    • Indonesian Feminist Journal
    • Kirim Tulisan
  • YJP PRESS
    • Buku Seri YJP Press
  • KAFFE
    • Booklet KAFFE
  • Podcast JP
    • Radio JP
  • Sahabat JP
    • Daftar Nama SJP
    • International Friends of JP
    • Blog SJP
    • Gathering SJP
  • Wacana Feminis
    • Tokoh Feminis
    • Cerpen/Puisi Feminis
  • Warta Feminis
  • Warung JP
    • Daftar Toko Buku
  • Toeti Heraty Scholarship
    • Biodata Penerima Beasiswa 2022
    • Biodata Penerima Beasiswa 2023
    • Biodata Penerima Beasiswa 2024
    • Biodata Penerima Beasiswa 2025