|
Oleh: Rainy M.P. Hutabarat
Peringatan pemicu: Cerpen ini memuat penggambaran adegan kekerasan seksual yang mungkin menimbulkan perasaan tidak nyaman maupun trauma bagi pembaca. Disarankan untuk membaca dengan kesadaran penuh dan mengambil jeda bila diperlukan. Kemarahan warga dusun reda oleh tekanan-tekanan hidup harian. Mereka harus bekerja keras agar dapur bisa terus berasap. Penghasilan buruh lepas harian sadap karet tergantung kehadiran dan volume lateks hasil sadapan. Langit-langit dusun itu berkabut hitam nama Bidadari dan Dewani, sebutlah namanya demikian. Keduanya perempuan remaja yang menjadi korban pembunuhan* dan pemerkosaan. Kedua kasus sudah empat bulan dilaporkan dan Polsek berulang kali mengatakan, “Tak ada saksi. Tak ada jejak apa pun, pelaku-pelaku macam hantu. Lenyap tak berbekas. Bidadari mengalami gangguan mental. Andaipun ia tak tewas, tapi dari pengalaman kami, orang dengan gangguan mental omongnya suka berubah-ubah. Tak bisa dipegang.” Oleh: Novita Sari Seorang perempuan kurus melangkah hati-hati
Sorot matanya berkisah bahwa hidup telah membawanya pergi jauh Di Sudung yang beratap terpal segala hidup kian berpendar Membawa langkah kaki melampaui jalan panjang Pada tiap semak dan hutan yang kian menghilang perlahan Dan tawa anak-anak garing yang tabah Oleh: Reki Remos Sineri Pagi selalu datang dengan suara burung nuri dan desir angin yang menyentuh pucuk-pucuk sagu. Dari rumah panggungnya di tepi kampung, Mara berdiri menghadap hutan. Kabut tipis menggantung di antara batang-batang kayu besi, seperti napas yang belum selesai dihembuskan. Di situlah batas itu berada—batas yang tak tertulis di peta, tetapi hidup di kepala dan dada setiap orang tua di kampungnya.
Mara tahu persis letaknya. Ia hafal lekuk akar besar yang menjalar seperti ular tua, hafal batu hitam yang separuh tenggelam di tanah, dan hafal pohon matoa yang kulitnya retak seperti telapak tangan ibunya. Sejak kecil ia diajak berjalan oleh ayahnya menyusuri jalur setapak, mendengarkan cerita tentang leluhur yang membuka ladang tanpa melukai hutan, tentang sungai yang tak pernah mengering karena dijaga seperti saudara. “Batas hutan bukan cuma garis,” kata ayahnya dulu. “Ia adalah janji.” Janji itu kini terasa berat di pundak Mara. Oleh: Rezya Agnesica Helena Sihaloho Pagi selalu datang dengan bunyi yang berbeda di kampung pesisir itu.
Tidak pernah benar-benar sama. Seolah-olah laut dan langit telah bersepakat menentukan nada yang akan membangunkan manusia-manusia kecil di tepi air. Kadang pagi hadir bersama desir angin laut dan bau asin yang menyentuh hidung seperti ingatan lama. Bau itu meresap ke kulit, rambut, dan kayu-kayu rumah, menandai bahwa mereka hidup di batas antara darat dan samudra. Pada pagi seperti itu, yang terdengar hanyalah debur ombak teratur, langkah nelayan menuruni tangga kayu, dan percakapan pelan yang menjaga ketenangan. Namun ada pagi yang datang dengan dentum. Dentum yang memecah cakrawala, membuat camar beterbangan dan anjing-anjing menggonggong tanpa arah. Dentum yang menyusup ke tulang, membuat anak-anak terbangun dengan mata membulat sebelum benar-benar sadar. Pagi itu, helikopter melintas rendah di atas garis pantai. Oleh: Oktaviana Kale Indo’ Ruaya menebar bunga di sepanjang mulut gua, menyapa sejumlah kakek dan nenek yang masih diingat namanya, lalu menutup salamnya dengan, “…dan semua yang tidur di dalam sana.” Kemudian ia memutar tutup botol, menuang air ke telapak tangan, dan mencipratkannya ke berbagai penjuru.
Ruaya, yang tak henti-henti menguap, berdiri beberapa langkah di belakang ibunya dengan kedua tangan bertaut di depan perut sebagai sikap hormat. |
AuthorKumpulan Cerpen Archives
July 2026
Categories |
RSS Feed