|
Oleh: Soe Tjen Marching
Sarah, di jantung pasar rempah siluetmu semerbak madah tanganku menadah penaka mezbah saat kautukar murku dengan lada permata dengan buah ara Oleh: Ida Fitri
[Peringatan pemicu: Cerpen ini memuat penggambaran adegan kekerasan seksual yang mungkin menimbulkan perasaan tidak nyaman maupun trauma bagi pembaca. Disarankan untuk membaca dengan kesadaran penuh dan mengambil jeda bila diperlukan.] Aku berlindung pada Tuhan penguasa fajar, dari kejahatan perempuan-perempuan penyihir yang meniup pada buhul-buhulnya (Mirip terjemahan sebuah ayat dalam kitab suci). Dia menengadah, awan gelap sedikit menutupi permukaan bulan. “Gayong hanya boleh digunakan untuk membela diri,” kalimat Paknek Guru tak pernah sekali pun dia lupa. Dia kembali memandang ke arah laki-laki betubuh tegap berambut catam yang sedang tertawa keras bersama temannya. Kelima laki-laki itu adalah tentara yang ditempatkan di Pos Rancong untuk menjaga PT Lancang dari gangguan Gerakan Aceh Melawan. Mereka sedang minum kopi sambil bersenda gurau, tanpa sedikit rasa bersalah. Warung kopi Wak Yan memang dikenal warga sebagai tempat tongkrongan tentara Pos Rancong saat main ke kota Lhokseumawe. Dia tahu itu dan dengan menumpang salah satu motor orang kampungnya yang hendak ke kota dia sampai di situ. Para tentara itu saban jam 8 malam pasti pergi ke kota dengan labi-labi Nuh. Nuh akan mengantar mereka kembali saat tengah malam. Dia juga tahu mereka tak pernah membayar Nuh untuk itu. “Kekuatan itu bisa mengutuk pemiliknya,” nasihat Paknek Guru lainnya yang selalu dia ingat. Dengan memusatkan pikiran pada laki-laki bernama Muchdi bin Purwoprandhono yang sedang tertawa keras itu, dari jarak dua puluh meter, dia mengangkat kaki kanannya, “La hawla wala quwwata illa billah!” Dihentakkan kakinya kuat-kuat menghantam bumi. Bila kali ini dia akan dikutuk, biarlah. |
AuthorKumpulan Cerpen Archives
July 2026
Categories |
RSS Feed