|
Oleh: Heppy Haloho
Apa kabar hai puan hari ini? Apakah langkahmu tak lagi terhenti di seputar kasur, dapur, dan sumur? Apakah mimpimu tak lagi harus dikubur, demi keluarga tak hancur lebur? Ataukah kau masih harus susah tidur, memikirkan sakitmu yang kian subur? Oleh: Oka Rusmini
Tahun-tahun mengering. Air mata, masa lalu dan timbunan kebusukan menanam rohnya di tubuhku. Aku rajin merangkainya, kukalungkan di kepala. Tapi mana hatiku? Seorang perempuan rajin sekali menerkam tubuhku dengan mulutnya. Aku mulai menyusun menu. Di meja makan kusantap tubuhku, kuteguk air mataku. Seorang perempuan datang. Sebilah pedang di matanya, seratus tentara di mulutnya. Dia minta kakiku. Aku pun mulai pandai menanak hati, juga jantung, dengan sop darah yang kuisap dari permainan ini. Trotoar kuimpikan jadi kubur orang-orang yang akan datang tanpa jari. Mereka akan melumat tubuhku, seperti perempuan yang meminta tubuhku, juga keringat yang kusulam jadi kertas. Seorang lelaki dan seorang perempuan yang menanamku mulai menanam manusia baru. Tak ada lagi wajahku. Mereka menari-nari sendiri, dengan barisan anak-anak yang pandai melepaskan busur ke jantungku. Lelaki itu hanya bisa diam. Bahkan ikut menyantap tubuhku. Orang-orang datang dan memakiku. “Sebuah pementasan kaumainkan lagi.” Mereka menyulam darahku di atas batu. (Puisi “Kepompong”, dalam buku “Pandora”) |
AuthorKumpulan Cerpen Archives
March 2026
Categories |
RSS Feed