Jurnal Perempuan
  • TENTANG KAMI
    • Profil
    • Kontak
    • Laporan Tahunan
    • Demo Suara Ibu Peduli
    • Rilis JP
  • Jurnal Perempuan
    • Indonesian Feminist Journal
    • Kirim Tulisan
  • YJP PRESS
    • Buku Seri YJP Press
  • KAFFE
    • Booklet KAFFE
  • Podcast JP
    • Radio JP
  • Sahabat JP
    • Daftar Nama SJP
    • International Friends of JP
    • Blog SJP
    • Gathering SJP
  • Wacana Feminis
    • Tokoh Feminis
    • Cerpen/Puisi Feminis
  • Warta Feminis
  • Warung JP
    • Daftar Toko Buku
  • Toeti Heraty Scholarship
    • Biodata Penerima Beasiswa 2022
    • Biodata Penerima Beasiswa 2023
    • Biodata Penerima Beasiswa 2024
    • Biodata Penerima Beasiswa 2025
    • Biodata Penerima Beasiswa 2026
Cerpen/Puisi Feminis

Aral Melintang

5/7/2026

 
Oleh: Oktaviana Kale
Indo’ Ruaya menebar bunga di sepanjang mulut gua, menyapa sejumlah kakek dan nenek yang masih diingat namanya, lalu menutup salamnya dengan, “…dan semua yang tidur di dalam sana.” Kemudian ia memutar tutup botol, menuang air ke telapak tangan, dan mencipratkannya ke berbagai penjuru. 
​

Ruaya, yang tak henti-henti menguap, berdiri beberapa langkah di belakang ibunya dengan kedua tangan bertaut di depan perut sebagai sikap hormat. 
“Orang tuaku, para pendahuluku, kami datang lagi menjenguk. Jangan kira kami telah lupa!” Indo’ Ruaya berseru. Sambil meraba dinding luar gua, ia melanjutkan, “Kasihilah kami, keturunanmu ini. Kasihanilah kami semua di Tongkonan. Maafkanlah sekiranya kami bersalah. Jauhkanlah murka dari kami. Sebaliknya, tunjukkanlah yang semestinya kami lakukan. Ajari kami!”

Suasana hening sejenak. Kedua tangan Indo’ Ruaya masih melekat pada lembabnya permukaan gua. “Damai untuk kita semua,” bisiknya, memejamkan mata.

Sementara ibunya melanjutkan ritual, Ruaya malah terhanyut dalam tumpukan bunga di mulut gua. Lapis demi lapisnya yang membusuk adalah bukti terlalu seringnya kunjungan mereka. Bau asam proses dekomposisi pelan-pelan naik bersama udara pagi, menguar di lubang hidung. 

Sudah lama Ruaya ingin meminta izin membersihkan hamparan tersebut. Namun, ia mengkhawatirkan emosi dan perilaku ibunya yang akhir-akhir ini mustahil ditebak. 

Keganjilan yang ditunjukkan Indo’ Ruaya tidak hanya membingungkan anaknya, tetapi juga telah mengusik seisi desa. Mereka bilang, Indo’ Ruaya berubah menjadi sosok yang tak lagi mereka kenal. Belum pernah mereka menyaksikan perempuan yang mereka segani itu bertingkah seperti sekarang. 

***

Semua bermula ketika perempuan paruh baya itu terbangun pada suatu pagi buta dan langsung mencari tangga. 

Ruaya masih di atas pembaringannya. “Untuk apa?” tanyanya, belum sepenuhnya terjaga. 

“Mengecek atap,” ucap Indo’ Ruaya sembari membuka pintu mungil Tongkonan. Belum sempat anaknya menanggapi, ia sudah melompat ke bawah tangdo. 

Ruaya ditinggal ternganga. Atap rumah adat itu menjulang belasan meter. Ibunya belum pernah naik ke sana. Ada sesuatu yang memantik nyali ibunya sampai senekat itu. 

Dibantu beberapa lelaki yang menahan bagian bawah tangga, Indo’ Ruaya menyusuri jalinan bambu di atas sana. Penghuni desa yang berkumpul pun menyebar mengelilingi Tongkonan, bersiap menangkap kalau-kalau ia terjatuh. Bagaimanapun, Indo’ Ruaya adalah pencerita yang dipercayakan leluhur. Yang menurutnya mendesak, sudah pasti penting.  

Merapatkan sarungnya, Indo’ Ruaya naik dan turun tangga. Empat kali ia meminta para lelaki untuk menggeser tangga ke sisi yang berbeda agar dapat diperiksanya keseluruhan atap. Meski begitu, atap yang dikerubungi pakis tersebut tampaknya tak menyimpan petunjuk yang dicarinya. 

Setelah turun untuk terakhir kalinya, Indo’ Ruaya bergegas masuk ke dalam Tongkonan. Ruaya dan beberapa penatua kampung menyusulnya.

“Pagi-pagi kamu sudah bikin gaduh. Ada apa ini?” selidik salah seorang sepuh. 

“Aku bermimpi,” sahut Indo’ Ruaya. Keningnya bersandar pada satu lutut yang ditekuk. 

“Mimpi apa, Indo’?” Ruaya mendekat dan duduk di sisi ibunya.
 

Dengan suara bergetar, Indo’ Ruaya berkata, “Kakek buyutmu datang memarahiku. Ia menggetok-getok atap Tongkonan sampai berlubang, lalu membentakku dari atas sana. Suaranya menggelegar!” Imbuhnya kemudian, “Beliau mengamuk! Wajahnya merah, matanya melotot.”

​“Mengapa kakek buyut marah?” tanya Ruaya. 

“Aku tidak tahu. Kurasa, ada sesuatu yang lalai kulakukan. Atau, beliau ingin memperingatkan sesuatu. Aku tidak tahu pasti. Tadi kupikir mungkin ada pertanda di atas atap. Setelah kuperiksa, tak kutemukan apa pun.” 

Para penatua berembuk. Mereka akhirnya memutuskan tak ada yang perlu dikhawatirkan. Mungkin Indo’ Ruaya hanya merindukan kakeknya hingga beliau muncul dalam mimpi. Mungkin pula, itu sekadar bunga tidur yang tak punya arti khusus. 

Indo’ Ruaya ikut mengangguk. Katanya, “Tidak semua mimpi harus bermakna. Ada yang hanya melintas begitu saja.”

*** 

Menjelang senja, Ruaya tercengang mendapati ibunya berbungkus sarung di sudut tikar. 

“Indo’ sakit?” 

“Tidak.” 

Hening sebentar, kemudian ibunya berkata lagi, “Aku tidak bisa ma’ ulelean malam ini.”
 

Indo’ Ruaya belum pernah lalai duduk melingkar bersama anak-anak, sembari melantunkan cerita-cerita yang seolah tak pernah habis. Setiap selesai makan malam, ia akan memilih jaketnya yang terhangat dan bergegas ke tangdo. Bahkan saat sakit, ia tetap memaksakan diri.

​Baginya, kebajikan dari leluhur harus ditanamkan sedini mungkin dan tugasnyalah untuk menurunkan nilai-nilai ini melalui cerita. 


Ruaya berdehem. Siluet ibunya dari pojok ruangan terasa beku. “Apa yang harus kukatakan pada anak-anak?” 

Ia membayangkan wajah kecewa mereka. Malam ini, seharusnya ibunya menuntaskan kisah asal-usul padi. Ruaya sendiri tak sabar mendengarnya lagi, tak peduli walaupun itu sudah kesekian kali.
Ibunya seorang pencerita andal. Kisah yang sama dapat diulangnya berkali-kali dan orang-orang tetap khusyuk menyimak. 

“Kalau mau, kau bisa menggantikanku.” 

Ruaya menggeleng. “Biarkan saja mereka bermain di tangdo malam ini. Akan kubilang Indo’ sakit.”      

***

Malam itu, Indo’ Ruaya bermimpi untuk kali kedua. Seorang nenek yang wajahnya tak begitu dikenalnya datang menyapu sekeliling Tongkonan dan menuduhnya abai merawat rumah rumpun mereka. 
Pada malam-malam berikutnya, para leluhur bergantian menyambangi Indo’ Ruaya. Bahkan nenek moyang dari generasi yang jauh di atasnya ikut muncul. Kadang, mereka hanya menangis di tangdo, tanpa penjelasan.

Berhari-hari setelah mimpi pertama itu, barulah Indo’ Ruaya merasa menemukan sebab musababnya. Ia pun mulai mengumpulkan bunga-bungaan dari pekarangan serta menggunting tipis daun pandan untuk dicampurkan. 

“Indo’ hendak berziarah?” tanya Ruaya saat melihat ibunya meracik bunga. 

“Ya. Sepertinya leluhur minta dijenguk. Selepas tengah hari, aku akan ke gua. Kamu ikut.” 

Belum sempat Ruaya merespons, ibunya melanjutkan, “Semalam, ibu bermimpi lagi. Kakekmu datang. Beliau bertanya, mengapa kita jarang mengunjungi mereka.” 

Ruaya menurut saja waktu itu. Tak disangkanya, kunjungan itu lama-kelamaan berubah menjadi sesuatu yang lain. Seolah ibunya menunggu hari selesai hanya agar bisa ke gua lagi besoknya. Bunga di sekitar Tongkonan habis. Giliran tanaman di pekarangan rumah-rumah lain yang dipetikinya.

Mereka pun berangkat makin pagi, seolah waktu tak pernah cukup. Padahal, mereka bisa pergi kapan saja. “Gua itu tidak akan ke mana-mana,” pikir Ruaya. Ibunya selalu tak sabar ingin dekat-dekat leluhurnya. Kadang terlintas pikiran yang membuatnya ngeri, jangan-jangan ibunya ingin segera menyusul. Cepat-cepat ia mengusir pikiran tersebut. 

Jika hitungannya benar, ini hari ketigapuluh enam mereka ke gua. Ruaya sudah lelah. 

Pagi itu, sepulang dari gua, Ruaya mengumpulkan keberanian dan bertanya, “Apakah Indo’ masih dihantui mimpi-mimpi itu?”
Indo’ Ruaya tercenung sejenak sebelum menjawab, “Kita akan terus mengunjungi gua sampai para leluhur tenang di alam sana.” 

Ruaya terkulai. Ia paham maksud ibunya. Ia akan terus dibangunkan sebelum fajar, berjalan dalam gelap menuju gua, dan baru kembali ketika matahari mulai naik. 

***

Mendengar mimpi Indo’ Ruaya yang kian ganjil, seisi desa mulai meminta untuk mencari tahu yang sebenarnya sedang terjadi. Para tetua adat akhirnya memutuskan berkonsultasi dengan seorang penafsir mimpi.

Hasilnya menggemparkan seluruh kampung dan segenap rumpun keluarga Tongkonan. Menurut sang penafsir, leluhur mereka tengah memperingatkan datangnya tulah, walau tak dijelaskannya tulah seperti apa dan bagaimana mencegahnya. 

Sejak itu, suasana kampung berubah. Sementara orang-orang sibuk membicarakan kemungkinan-kemungkinan, Ruaya justru cemas melihat ibunya kian menarik diri dan meninggalkan rutinitasnya.

Seharian, Indo’ Ruaya duduk menatap kosong ke luar jendela Tongkonan dengan sarung menutupi bahunya. Jika tidak diingatkan makan oleh Ruaya, mungkin ia sanggup berpuasa berhari-hari.

Menyadari kondisi ini, Ruaya memaksakan diri menggantikan ibunya bercerita di tangdo. Ia merasa bertanggung jawab. Bagaimana tidak, seumur hidupnya, ia tumbuh bersama cerita-cerita ibunya. “Hanya sampai Indo’ sembuh dari mimpi buruknya,” tekadnya.

Seperti yang diduganya, ma’ ulelean tak semudah kelihatannya. Cerita-ceritanya tak pernah disambut seantusias ketika ibunya yang bertutur. 

Tak cukup bermodalkan tahu banyak cerita. Ruaya kesulitan menuntun pendengarnya masuk ke dunia yang ia bangun. Berbeda dengan ibunya yang mampu menautkan sejarah dan legenda. Bisa-bisanya sang ibu bercerita tentang neneknya yang harus bersembunyi setiap kali Heiho lewat. Lalu, dalam satu tarikan napas, ia mampu menghadirkan padi yang dapat berbicara layaknya manusia.  

“Kapan Indo’ mulai mendongeng lagi? Kasihan anak-anak. Mereka masih berkumpul setiap malam, berharap mendengar cerita.”
Ibunya terdiam. 

“Indo’?” tanya Ruaya hati-hati.

“Aku mendongeng karena leluhur mengizinkanku,” jawab Indo’ Ruaya pelan. “Aku hanya bisa bertutur saat terhubung dengan para pendahuluku. Sekarang mereka terasa jauh. Aku akan kembali mendongeng jika mereka kembali merestui.”

Ruaya menarik napas panjang. Ia sudah lama menahan sabar. “Kita sudah menemui mereka setiap hari, meminta wejangan, menanyakan apa yang mereka inginkan. Tidakkah Indo’ merasa itu semua sudah cukup? Mungkin sudah saatnya tenaga kita dipakai untuk mengurusi yang masih hidup, bukan terus mempertanyakan kehendak yang telah tiada.” 

Dari balik sarung yang menudungi kepalanya, Indo’ Ruaya menatap anaknya lekat. 

Ruaya bersiap menerima amarah, namun detik-detik berlalu tanpa ledakan. Ibunya hanya mempererat lilitan sarung di bahu.

“Nak, mengikuti ajaran dari buku-buku itu baik,” ucapnya kemudian. “Namun, mendengarkan petuah mereka yang lebih dahulu hidup juga baik. Pengetahuan datang dari segala arah, termasuk dari alam baka. Penafsir mengatakan leluhur kita sedang memperingatkan ancaman tulah. Bukankah juga penting untuk menyiapkan diri agar kita semua terhindar dari musibah?”

Ruaya memilih mengalah. Perdebatan tentang modernitas dan kepercayaan leluhur tak pernah benar-benar menemukan titik temu. “Lalu bagaimana dengan anak-anak itu?”

“Bukankah kau yang menggantikanku?”

“Sudah kucoba. Aku tak sebaik Indo’.” 

“Sudah saatnya kau mendekatkan diri dengan leluhurmu. Mungkin mereka juga akan membekali mulutmu dengan cerita. Kau bisa menjadi penerusku kalau aku sudah tak ada.” 

Ruaya menunduk. Tugas itu terasa terhormat sekaligus menakutkan.
Ia hendak meminta ibunya mengajarinya lebih sungguh-sungguh, tetapi niat itu dipendamnya lagi ketika dari tangdo terdengar derap langkah tergesa. 

Ruaya bergegas membuka pintu.

Di bawah sana, beberapa penatua mendongak ke arahnya. Di antara mereka berdiri seorang nenek tua yang tak dikenalnya. Sirih terselip di sudut mulut nenek.

“Di mana ibumu?” seru salah seorang penatua dengan napas memburu.

***

Nenek pengunyah sirih itu, orang pintar yang didatangkan para penatua, melangkah masuk ke Tongkonan dengan tenang. Setelah memberi salam singkat, ia meminta izin menyentuh kepala Indo’ Ruaya. Tangannya yang keriput berwarna oranye gelap hinggap perlahan di ubun-ubun Indo’ Ruaya. 

“Berat sekali hawa di sekitarmu,” gumamnya lirih. “Kepercayaan dari leluhur pasti besar di pundakmu. Bukankah begitu?”

Indo’ Ruaya tetap menunduk. Anggukannya lemah, nyaris tak terlihat. Dari tempatnya berdiri, Ruaya menyaksikan sosok ibu yang tak pernah ia lihat sebelumnya. Ibunya tampak ringkih. 

Sang nenek kemudian berdiri. Sirih dikeluarkannya dari mulut, lalu dengan gerakan terukur ia memuntahkan ludah merah ke empat penjuru mata angin.

Matanya terpejam, bibirnya berbisik pelan merapalkan mantra. 
Tak seorang pun berani bersuara. Waktu melambat. Semua menahan napas, menanti. 

Setelah mata sang nenek kembali terbuka, ia duduk menghadap para tuan rumah, melayangkan pandangnya kepada seluruh yang hadir. 
“Aku bisa merasakan bala sedang bergerak menuju rumah leluhur kalian ini,” ujarnya tegas. “Sesuatu yang buruk!” ucapnya. 

Gumaman mengiba terdengar memenuhi ruang berdinding papan tersebut. Beberapa orang saling berpandangan, yang lain menunduk, atau menutup wajah dengan telapak tangan. 

“Tenanglah,” lanjut sang nenek sambil mengangkat tangannya. “Selama kalian bersatu dan menjalankan ritual penolakan bala, musibah itu dapat dipatahkan sebelum tiba.”

“Sesungguhnya, musibah apa yang mengancam kami?” tanya Ruaya. Suaranya terdengar lebih berani daripada yang ia rasakan. 

“Wujudnya belum jelas. Hawanya masih jauh, tetapi jelas-jelas arahnya ke sini.” 

“Apakah itu tenung kiriman orang?” sela seorang penatua.

“Bisa jadi. Segala kemungkinan bisa terjadi,” jawabnya. “Sekali lagi, aku tidak dapat menyebutkannya dengan pasti. Yang paling penting, kalian harus bersiap menangkalnya sebelum bala itu mendekat.” 

Mulai hari itu, Tongkonan tak pernah benar-benar sepi. Kerabat dari berbagai penjuru berdatangan, memenuhi halaman dengan suara dan kesibukan. Setiap petunjuk sang nenek dijalankan dengan saksama. Ketepatan tiap langkah akan menentukan nasib mereka.

Hari pertama, mereka menanam hanjuang mengelilingi Tongkonan, lalu memperluas lingkarannya hingga batas desa. Hanjuang dipercaya dapat menolak bala. Setiap helai daunnya adalah tameng tak kasatmata.

Hari kedua, pondok-pondok dari bambu didirikan untuk upacara. Tiang ditancapkan kuat-kuat, tali diikat erat-erat, papan-papan disusun dan diperiksa ulang. Di tengah-tengah halaman, pohon pinang ditegakkan sebagai pusat ritual penyembelihan kerbau. 

Hari ketiga tiba dengan langit yang terasa lebih berat. Sejak pagi, orang-orang telah berkumpul. Seruan-seruan sakral dari pemimpin ritual mengalun panjang, bersahut-sahutan dengan gemerisik angin. 
Seekor kerbau dituntun ke tengah halaman untuk dikorbankan. 
Penyembelihan pun dilaksanakan. 

Di antara ratusan yang datang, di dalam salah satu pondok bambu, Ruaya menggenggam tangan ibunya erat-erat. Dalam hati, Ruaya memanjatkan doa, semoga setelah semua ini berakhir dan darah mengering, mimpi-mimpi itu berhenti, desa kembali tenang, dan ibunya pulih seperti sediakala. 

***

Berbulan-bulan telah berlalu semenjak upacara penolakan bala dilaksanakan. Kehidupan di Tongkonan perlahan kembali tenang. Indo’ Ruaya kembali tersenyum, kembali menyapa orang-orang di jalan, kembali menjadi pusat cerita setiap malam. 

Ruaya lega tak lagi harus berjalan dalam dinginnya subuh menuju tempat mayat-mayat bersemayam. Ia tak lagi menyaksikan ibunya menatap kosong selama berjam-jam. Bayang-bayang yang dulu menggantung di rumah itu seperti telah diusir bersama mantra dan darah. 

Di tengah ketenangan itu, ia telah meminta ibunya mengajarinya ma’ ulelean. Ia bertekad untuk benar-benar belajar sampai ceritanya semenarik cerita ibunya. Sore-sore mereka habiskan di tangdo, secangkir kopi di tangan, buku catatan di pangkuan Ruaya. Ibunya memperagakan cerita dan ia mencatatnya. 

Ruaya latihan bercerita di depan ibunya dan menerima koreksi terkait intonasi, jeda napas, hingga cara menatap pendengar.

“Rasakan!” pesan ibunya. “Jangan coba menghafal.” 

Sore itu, mereka sampai pada bagian cerita ketika leluhur mereka harus memindahkan Tongkonan dari satu bukit ke bukit lain, bersembunyi di balik rimba demi menghindari penjajah. 
Indo’ Ruaya sedang menjelaskan bagaimana rumah adat bukan sekadar kayu dan atap, melainkan tubuh yang menampung banyak generasi, ketika deru motor memotong kalimatnya.

Motor itu berhenti di halaman. Seorang pria berbaju batik turun, membuka helmnya, celingak-celinguk. Indo’ Ruaya lantas menyuruh anaknya menemui pria itu. 

“Ini benar Tongkonan Batti Rimbun?”

“Ya.” Ruaya penasaran. 

“Siapa yang bertanggung jawab di sini?” 

“Aku dan ibuku. Kami menjaga tempat ini atas kepercayaan segenap rumpun.”

Pria itu menyerahkan amplop cokelat. “Ada surat dari pengadilan. Gugatan atas tanah ini.”

Otak Ruaya tak mampu mencerna maksud lelaki itu. Gugatan. Pengadilan. Tanah ini. Tak ada yang masuk akal. 

“Gugatan bagaimana?” 

“Tanah ini tidak bersertifikat. Ada pihak yang mengklaim dan mengajukan perkara.”

“Tentu saja tidak bersertifikat!” tukas Ruaya. Napasnya mulai tak teratur. “Ini tanah adat! Milik bersama! Sudah ratusan tahun kami ada di sini!”

“Silakan baca suratnya. Sidang akan dijadwalkan. Jika tidak hadir, putusan tetap berjalan.”

“Persetan dengan sidang!” suara Ruaya pecah. “Tongkonan tempat yang sakral! Rumah leluhur kami. Tidak ada sejarahnya digugat.”

​“Saya hanya menyampaikan surat,” kata pria itu singkat. 

“Pengadilan tidak mungkin menggusur Tongkonan!” 

Pria itu menggeleng. “Sudah ada beberapa Tongkonan lain yang kalah perkara dan akhirnya diratakan setelah putusan.”

Diratakan.

Kata itu menancap lebih tajam daripada yang lain.

Motor pria itu kembali menyala. Halaman kembali sunyi. 

“Ruaya?” panggil ibunya dari tangdo. “Siapa itu?”

Ruaya menatap amplop di tangannya. Tangannya gentar menggenggamnya. Leluhurnya sudah memperingatkan tentang bala yang bergerak mendekat. Sebuah tulah.

“Ruaya? Ada apa? Apa itu?” ibunya memanggil-manggil. 

“Tulah, Indo’,” pikir Ruaya lantang-lantang. 

Bukan penyakit. Bukan ilmu hitam. Bukan roh gentayangan.

Melainkan kertas. Stempel. Tanda tangan.

Atas nama hukum.

***
Oktaviana Kale lahir dan tumbuh dalam adat istiadat Toraja. Sempat berdomisili di Jakarta dan Bali, kini penulis kembali tinggal di Toraja Utara dan aktif menjadi bagian dalam masyarakat adat Toraja.
​Catatan Kaki
  1. Indo’: ibu/mama; gelar kehormatan dalam bahasa Toraja untuk perempuan tua atau perempuan yang dihormati.
  2. Tangdo: ruang terbuka di depan Tongkonan, semacam teras.
  3. Penatua: tokoh masyarakat yang dihormati di komunitas adat Batak.
  4. Ma’ Ulelean: bercerita, mendongeng, berkata-kata.
  5. Tulah: bencana, wabah, atau malapetaka dahsyat yang dianggap sebagai hukuman dari Tuhan.
  6. ​Heiho: pasukan Indonesia yang dibentuk oleh tentara pendudukan Jepang di Indonesia pada masa Perang Dunia II.
  7.  Tenung: praktik ilmu hitam atau sihir yang digunakan untuk mencelakai, menyakiti, atau membunuh orang lain dari jarak jauh menggunakan kekuatan gaib.

Comments are closed.

    Author

    Kumpulan Cerpen 

    Archives

    July 2026
    June 2026
    March 2026
    June 2025
    October 2024
    July 2024
    November 2023
    July 2023
    March 2023
    September 2022
    August 2022
    July 2022
    April 2022
    October 2021
    September 2021
    August 2021
    June 2021
    November 2019
    October 2019
    September 2018
    June 2017
    February 2017
    October 2016
    August 2016
    June 2016
    April 2016
    February 2016

    Categories

    All

    RSS Feed

Yayasan Jurnal Perempuan| Alamanda Tower, 25th Floor | Jl. T.B. Simatupang Kav. 23-24 Jakarta 12430 | Telp. +62 21 2965 7992 Fax. +62 21 2927 7888 | [email protected]
  • TENTANG KAMI
    • Profil
    • Kontak
    • Laporan Tahunan
    • Demo Suara Ibu Peduli
    • Rilis JP
  • Jurnal Perempuan
    • Indonesian Feminist Journal
    • Kirim Tulisan
  • YJP PRESS
    • Buku Seri YJP Press
  • KAFFE
    • Booklet KAFFE
  • Podcast JP
    • Radio JP
  • Sahabat JP
    • Daftar Nama SJP
    • International Friends of JP
    • Blog SJP
    • Gathering SJP
  • Wacana Feminis
    • Tokoh Feminis
    • Cerpen/Puisi Feminis
  • Warta Feminis
  • Warung JP
    • Daftar Toko Buku
  • Toeti Heraty Scholarship
    • Biodata Penerima Beasiswa 2022
    • Biodata Penerima Beasiswa 2023
    • Biodata Penerima Beasiswa 2024
    • Biodata Penerima Beasiswa 2025
    • Biodata Penerima Beasiswa 2026