Kekerasan Simbolis Oleh Dr. Haryatmoko
|
Haryatmoko lulus dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta, pada 1984. Ia kemudian melanjutkan studi program Licentiate of Theology di Brussel, Belgia (1985–1988, 1990), dan pada saat bersamaan dia belajar ilmu-ilmu sosial di Institut d’Etudes Sociales, Paris (1988–1989). Pada 1993 ia menyelesaikan D.E.A (Diploma d’Etudes Approfondies) Antropologi dan Sejarah Agama-Agama di Universitas Sorbonne-Paris IV. Tahun 1996 secara bersamaan ia menyelesaikan doktor di bidang Antropologi dan Sejarah Agama-agama di Universitas Sorbonne-Paris IV dan Etika Politik (Moral Sosial) di Institut Catholique de Paris. Karya-karyanya antara lain adalah Etika Publik: Untuk Integritas Pejabat Publik dan Politisi, (Gramedia Pustaka Utama 2010, 2011; Kanisius, 2015, 2016), Membongkar Rezim Kepastian: Pemikiran Kritis Post-Strukturalis (Kanisius, 2016) dan Critical Discourse Analysis: Landasan Teori, Metodologi dan Penerapan (RajaGrafindo Perkasa, 2016, 2017). Saat ini Haryatmoko mengajar di Universitas Sanata Dharma.
|
Kekerasan Berbasis Gender Dalam Media: Analisis Wacana Kritis Atas Representasi Perempuan Dalam Pemberitaan dan Budaya
Pengampu: Dr. Haryatmoko Moderator: Putu Gadis Diskusi ini membahas bagaimana kekerasan simbolik berbasis gender dimediasi dan direproduksi oleh media, institusi, serta struktur sosial melalui bahasa, simbol, dan representasi. Mengacu pada pemikiran Pierre Bourdieu dan Michel Foucault, Haryatmoko menjelaskan bahwa kekerasan simbolik bekerja secara halus dan tidak disadari, sehingga korban cenderung menerima ketimpangan sebagai sesuatu yang wajar. Media massa dan media sosial memperkuat konstruksi bias gender melalui stereotip, eufemisme, dan standar eksklusif, yang kemudian menjadi pintu masuk bagi kekerasan psikologis dan fisik. Untuk membongkar dominasi ini, analisis wacana kritis menjadi alat penting dalam mengidentifikasi ketidakberesan sosial, hambatan struktural, serta strategi resistensi. Diskusi ini juga menyoroti pentingnya pendidikan kritis sejak dini dan pelatihan guru untuk mendorong kesadaran serta perlawanan terhadap kekerasan simbolik dalam kehidupan sehari-hari. AKSES BOOKLET |